Sunteți pe pagina 1din 5

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Amar Ma’ruf Nahi Munkar merupakan pilar dasar dari pilar-pilar akhlak yang mulia lagi agung.
Kewajiban menegakkan kedua hal itu adalah merupakan hal yang sangat penting dan tidak bisa
ditawar bagi siapa saja yang mempunyai kekuatan dan kemampuan melakukannya, oleh
karenanya Allah SWT mengutus sekalian Nabi dan Rosul ‘alaihimush sholatu wassalam.

Al Qur'an al karim dan As-Sunnah telah menjadikan rahasia kebaikan yang menjadikan umat
Islam istimewa adalah karena ia mengajak kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran, dan
beriman kepada Allah SWT.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang makalah ini penulis berinisiatif untuk membahas beberapa persoalan
dalam tema ini yaitu:

1. Apa Pengertian Amar Ma’ruf Nahi Munkar?

2. Bagaimana Hadis tentang perintah Amar Ma’ruf Nahi Munkar?

3. Bagaimana hikmah dari menjalankan Amar Ma’ruf Nahi Munkar?

C. Tujuan Penulisan

Dengan adanya tema dan penyusunan makalah ini diharapkan kepada para pembaca dan penulis
sendiri mampu memahami tentang pengertian, dan hadits, dan hikmah menjalankan Amar
Ma’ruf dan Nahi Mungkar. Sekaligus makalah ini dibuat untuk memenuhi tugas mata kuliah
penulis dalam bidang Hadits
BAB II

PEMBAHASAN

A. Pengertian Amar Ma’ruf Nahi Munkar


Amar Ma’ruf dan Nahi Mungkar berasal dari kata bahasa Arab ‫ األمر‬/ ‫ أمر‬merupakan mashdar
atau kata dasar dari fi’il atau kata kerja ‫ أمر‬yang artinya memerintah atau menyuruh. Jadi ‫ األمر‬/
‫ أمر‬artinya perintah. ‫ معروف‬artinya yang baik atau kebaikan / kebajikan. Sedangkan ‫األمر = المنكر‬
‫ القبيح‬yaitu perkara yang keji . Yang dimaksud amar ma’ruf adalah ketika engkau memerintahkan
orang lain untuk bertauhid kepada Allah, menaati-Nya, bertaqarrub kepada-Nya, berbuat baik
kepada sesama manusia, sesuai dengan jalan fitrah dan kemaslahatan . Atau makruf adalah setiap
pekerjaan (urusan yang diketahui dan dimaklumi berasal dari agama Allah dan syara’-Nya.
Termasuk segala yang wajib yang mandub. Makruf juga diartikan kesadaran, keakraban,
persahabatan, lemah lembut terhadap keluarga dan lain-lainnya.]
Sedang munkar adalah setiap pekerjaan yang tidak bersumber dari agama Allah dan syara’-Nya.
Setiap pekerjaan yang dipandang buruk oleh syara’, termasuk segala yang haram, segala yang
makruh, dan segala yang dibenci oleh Allah SWT. Allah berfirman QS. Al-Maidah ayat 2:

Artinya : “Tolong menolonglah kamu dalam berbuat kebajikan dan bertaqwalah, serta jangan
tolong menolong dalam hal dosa dan kejahatan dan bertakwalah kamu kepada Allah,
Sesungguhnya Allah Amat berat siksa-Nya” .
Termasuk tolong menolong ialah menyerukan kebajikan dan memudahkan jalan untuk kesana,
menutup jalan kejahatan dan permusuhan dengan tetap mempertimbangkan kemungkinan-
kemungkinan yang akan terjadi .
Agama Islam adalah agama yang sangat memperhatikan penegakan Amar Ma’ruf dan Nahi
Munkar. Amar Ma’ruf merupakan pilar dasar dari pilar-pilar akhlak yang mulia lagi agung.
Kewajiban menegakkan kedua hal itu adalah merupakan hal yang sangat penting dan tidak bisa
ditawar bagi siapa saja yang mempunyai kekuatan dan kemampuan melakukannya

B. Perintah Amar Ma’ruf Nahi Mungkar

Nabi Muhammad SAW bersabda:

‫ َم ْن َرأَى ِم ْن ُك ْم ُم ْنكَراً فَ ْليُ َغ ِي ِّْرهُ ِبيَ ِد ِه فَإِ ْن‬:ُ‫سلَّ َم يَقُ ْول‬ َ ‫صلَّى هللاُ َعلَ ْي ِه َو‬ َ ِ‫س ْو َل هللا‬ َ : ‫ي هللاُ َع ْنهُ قَا َل‬
ُ ‫س ِم ْعتُ َر‬ ِ ‫س ِع ْي ٍد ْال ُخد ِْري َر‬
َ ‫ض‬ َ ‫َع ْن أَ ِبي‬
‫ر َواهُ ُم ْس ِلم‬. َ ‫ان‬ ِ ‫ف اْ ِإل ْي َم‬ُ ‫ض َع‬ ْ َ ‫سانِ ِه فَإ ِ ْن لَ ْم يَ ْست َِط ْع فَ ِبقَ ْل ِب ِه َو ذَلِكَ أ‬
َ ‫لَ ْم يَ ْست َِط ْع فَ ِب ِل‬
Dari Abu Sa’id Al Khudri r.a berkata : Saya mendengar Rasulullah SAW bersabda : Barang
siapa diantara kamu sekalian melihat kemungkaran hendaklah ia mengubahnya dengan
tangannya (kekuasaannya). Jika ia tidak sanggup maka dengan lisannya (nasihat). Jika ia tidak
sanggup maka dengan hatinya, dan yang demikian itu adalah termasuk iman paling lemah.
Diriwayat kan oleh imam muslim.[2]

Hadis tersebut menerangkan tentang perintahkan untuk merespon segala bentuk kemunkaran
dengan melaksanakan upaya dan usaha perubahan. Merubah dari berbuat munkar menjadi
berbuat ma'ruf, atau setidaknya menghentikan perbuatan munkar tersebut. Tingkatan usaha-
usaha tersebut adalah:

1. merubah dengan tangan

Merubah kemunkaran dengan tangan dimaknai:

a. tangan yang sebenarnya/fisik (makna hakiki). Pengertian hakiki merubah kemunkaran


dengan tangan, misalnya seorang guru menjatuhkan hukuman fisik yang tidak membahayakan
kepada siswa yang melanggar tata tertib tingkat tinggi. Orangtua yang memukul anaknya yang
sudah aqil baligh karena meninggalkan shalat, dan contoh-contoh lainnya

b. merubah dengan kekuatan/kekuasaan yang dimilikinya (makna majazi/metafora).


Maksudnya melakukan menghentikan kemunkaran melalui kekuasaan yang dimiliki seseorang.
Misalnya pencabutan ijin usaha kepada perusahaan yang melakukan pelanggaran hukum, etika,
norma atau aturan agama. Misalnya menjual miras, menjual barang-barang hasil curian, dan
barang-barang haram lainnya. Seorang atasan memecat secara tidak hormat bawahannya yang
melakukan pelanggaran etika/moral keagamaan. Langkah perubahan dengan tangan atau
kekuasaan inimerupakan tingkatan upaya paling tertinggi.

2. Merubah dengan Lisan

Langkah menghentikan kemunkaran dengan lisan dilakukan apabila langkah pertama


(menghentikan dengan kekuatan) tidak dapat dilaksanakan. Merubah kemunkaran dengan lisan
dapat dilakukan dalam bentuk-bentuk yang bemacam-macam: dengan nasihat, gertakan, ucapan,
tulisan, pernyataan dan lain-lainnya.

Melakukan perubahan dengan cara lisan dilakukan dengan mempertimbangkan aspek-aspek


kepribadian dan kejiwaan mereka yang diajaknya. Karenanya, mengajak berbuat ma'ruf atau
menghentikan kemunkaran harus dilakukan dengan kebijaksanaan, memberikan nasihat yang
baik atau berdiskusi secara sehat. Allah berfirman:

‫سبِ ْي ِل ِه َوه َُو أَ ْعلَ ُم‬ َّ ‫سنُ إِ َّن َربَّكَ ه َُو أ َ ْعلَ ُم بِ َم ْن‬
َ ‫ض َل َع ْن‬ َ ‫سنَ ِة َو َجاد ِْل ُه ْم بِالَّتِ ْي ه‬
َ ْ‫ِي أَح‬ َ ‫ظ ِة ْال َح‬
َ ‫سبِ ْي ِل َربِِّكَ بِ ْال ِح ْك َم ِة َو ْال َم ْو ِع‬ ُ ْ‫اُد‬
َ ‫ع إِلَى‬
. َ‫بِ ْال ُم ْهتَ ِديْن‬
"Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan
bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui
tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang
mendapat petunjuk." (QS. al-Nahl: 125)

Berdasarka kepada ayat di atas, maka mengubah perbuatan munkar secara lisan harus dilakukan
secara lemah lembuh, sopan, dan menggunakan kata-kata atau cara yang baik juga argumen yang
kuat. Langkah ini merupakan hal yang penting agar mereka yang diajak untuk berbuat baik tidak
berlari atau menjauhi kita dan untuk menjaga lisan kita seperti yang perintahkan oleh Nabi.

ُ ‫ ا َ ََل ا َ ْخبِ ُركَ بِ َم ََلكش ُك ِلِّ ِه؟ قُ ْلتُ بَلَى يَا َر‬:‫سلَّ َم‬
َ‫ فَا َ َخذ‬.ِ‫س ْو ُل هللا‬ َ ُ‫صلَّى هللا‬
َ ‫علَ ْي ِه َو‬ َ ِ‫س ْو ُل هللا‬ ُ ‫ قَا َل َر‬:َ‫ي هللاُ َع ْنهُ قَال‬ َ ‫ض‬ِ ‫َع ْن ُمعَا ِذ ب ِْن َجبَ ٍل َر‬
‫ار َعلَى ُو ُج ْو ِه ِه ْم‬ ِ َّ‫اس فِ ْي الن‬ َّ ُ ْ
َ ‫ فَقَا َل ت َ ِكلَتْكَ ا ُ ُّمكَ َوه َْل َي ُكبُّ ال َّن‬.‫ف َعلَيْكَ َهذَا قُلتُ يَا نَبِ ْي هللاِ َواِنَّا لَ ُم َؤا َخذ ْونَ بِ َما نَتَ َكل ُم بِ ِه‬
َّ ‫سانِ ِه َو قَا َل ُك‬
َ ‫بِ ِل‬
‫رواه الترمذي وقال حديث حسن صحيح‬.‫صائِدَ اَل ِسنَتِ ِه ْم‬ ْ َّ
َ ‫َاخ ِر ِه ْم اَِل َح‬ ِ ‫ا َ ْو قَاَل َعلى َمن‬

Dari muadz bin jabal RA, Rosululah SAW bersabda maukah kamu aku beritahu tentang kunci
semua perkataan itu? Saya berkata : iya wahai rosululloh. Kemudian beliau memegang lidahnya
dan bersabda: jagalah ini! Lalu aku berkata: apakah kami akan dituntut karena apa yang kami
katakan? Maka beliau bersabda: kau kehilangan ibumu, dan bukanlah manusia dimasukkan ke
neraka atas batang hidungnya karena ulah lidahnya(ucapannya). Diriwayatkan oleh tirmidzi da
beliau berkata: hadtis ini hadits hasan lagi shohih.[3]

3. Merubah dengan Hati

Langkah-langkah menanggulangi kemunkaran dengan dua cara di atas memerlukan fasilitas dan
skills yang khusus. Jika fasilitas dan skills tersebut tidak dimiliki, tidak berarti bahwa upaya
penanggulangannya boleh ditinggalkan. Kewajiban tetap harus dilaksanakan, hanya saja
menggunakan kadar atau tingkatan usaha yang lebih ringan, yaitu dengan hati dalam artian
"ketidakridhaan hati terhadap kemunkaran" atau "berdo'a agar kemunkaran ituberhenti".[4]

Merubah dengan hati digambarkan oleh Rasulullah sebagai "selemah-lemahnya iman". Artinya
batas minimal menanggulangi kemunkaran adalah dilakukan dengan hati. Dengan demikian,
maka berdiam diri dan bersikap apatis terhadap kemunkaran merupakan langkah yang salah,
karena sikap yang demikian itu merupakan sikap yang "tidak peduli terhadap sesama mukmin".

Setiap orang memiliki kedudukan dan kekuatan sendiri-sendiri untuk mencegah kemungkaran.
Dengan kata lain, hadis tersebut menunjukkan bahwa umat Islam harus berusaha melaksanakan
amar ma’ruf nahi mungkar menurut kemampuannya, sekalipun hanya melalui hati.

Nabi Muhammad bersabda:

ِ ‫َما ِم ْن قَ ْو ٍم َع ِملُ ْوا ِب ْال َم َع‬


ٍ َ‫اصى َو فِ ْي ِه ْم َم ْن يَ ْقد ُِر ا َ ْن يُ ْن ِك َر َعلَ ْي ِه ْم فَلَ ْم يَ ْف َع ْل ا ََِّل ي ُْو ِشكُ ا َ ْن يُ َع َّم َر ُه ُم هللاُ ِب َعذ‬
‫ رواه الترمذي و‬.ِ‫ب ِم ْن ِع ْن ِده‬
‫ابو داود‬
Artinya:

“Tidak suatu kaumpun yang sama mengerjakan kemaksiatan sedang dikalangan mereka itu ada
orang yang berkuasa untuk mengingkari perbuatan mereka itu, tetapi tidak suka
melaksanakannya, melainkan hampir saja allah akan meratakan kepada mereka itu dengan siksa
dari sisinya. (Hadis riwayat Tirmidzi dan Abu Dawud)[5]

Amar ma’ruf nahi munkar bukanlah hanya tugas seorang da’i, mubaligh, ataupun ustadz saja,
namun merupakan kewajiban setiap muslim. Dan ini merupakan salah satu kewajiban penting
yang diamanahkan Rasulullah SAW kepada seluruh kaum muslim sesuai dengan kapasitasnya
masing-masing. Rasulullah mengingatkan, agar siapa pun jika melihat kemunkaran, maka ia
harus mengubah dengan tangan, dengan lisan, atau dengan hati, sesuai dengan kapasitas dan
kemampuannya.

Begitu juga Imam al-Ghazali, dalam kitabnya Ihya’ Ulumuddin, beliau menekankan,
bahwa aktivitas “amar ma’ruf dan nahi munkar” adalah kutub terbesar dalam urusan agama. Ia
adalah sesuatu yang penting, dan karena misi itulah, maka Allah mengutus para nabi dan rosul.
Jika aktivitas ‘amar ma’ruf nahi munkar’ hilang, maka syiar kenabian hilang, agama menjadi
rusak, kesesatan tersebar, kebodohan akan merajalela, satu negeri akan binasa. Begitu juga umat
secara keseluruhan.[6]