Sunteți pe pagina 1din 4

NAMA : SITI NURHAPIZA

STAMBUK : A 221 14 088

A. Pengertian AMDAL

AMDAL adalah kependekan dari Analisis Mengenai Dampak Linkungan. Menurut


PP No.27 Tahun 1999 Pasal 1 Butir 1, AMDAL adalah kajian mengenai dampak besar
dan penting suatu usaha dan/atau kegiatan yang direncanakan pada lingkungan hidup
yang diperlukan bagi proses pengambilan keputusan tentang penyelenggaraan usaha
dan/atau kegiatan. Usaha dan\atau kegiatan tersebut haruslah di telaah secara cermat
dan mendalam tentang dampak yang terjadi di lingkungan sekitarnya. AMDAL
bertujuan untuk menjamin bahwa pertimbangan lingkungan telah diikutsertakan dalam
proses perencanaan pembuatan program dan pengambilan keputusan mengenai
dampak usaha dan\atau kegiatan. Dengan adanya AMDAL, setiap usaha dan\atau
kegiatan mendapatkan jaminan operasi secara berkelanjutan tanpa merusak lingkungan
hidup. AMDAL berperan dalam proses pembangunan pengelolaan lingkungan dan
pengelolaan proyek yang akan dibangun.

B. Penentuan Tim dalam analisis AMDAL

Pihak-pihak atau Tim yang berkepentingan dalam proses Amdal adalah


Pemerintah, pemrakarsa, masyarakat yang berkepentingan. Peran masing-masing
pemangku kepentingan tersebut secara lebih lengkap adalah sebagai berikut :

a. Pemerintah

Pemerintah berkewajiban memberikan keputusan apakah suatu rencana


kegiatan layak atau tidak layak lingkungan. Keputusan kelayakan lingkungan ini
dimaksudkan untuk melindungi kepentingan rakyat dan kesesuaian dengan
kabijakan pembangunan berkelanjutan. Untuk mengambil keputusan, pemerintah
memerlukan informasi yang dapat dipertanggungjawabkan, baik yang berasal dari
pemilik kegiatan/pemrakarsa maupun dari pihak-pihak lain yang berkepentingan.
Informasi tersebut disusun secara sistematis dalam dokumen AMDAL. Dokumen
ini dinilai oleh Komisi penilai AMDAL untuk menentukan apakah informasi yang
terdapat didalamnya telah dapat digunakan untuk pengambilan keputusan dan
untuk menilai apakah rencana kegiatan tersebut dapat dinyatakan layak atau tidak
layak berdasarkan suatu krieria kelayakan lingkungan yang telah ditetapkan oleh
Peraturan Pemerintah.

b. Pemrakarsa

Orang atau badan hukum yang bertanggung jawab atas suatu rencana usaha dan
atau kegiatan yang akan dilaksanakan. Pemrakarsa inilah yang berkewajiban
melaksanakan kajian Amdal. Meskipun pemrakarsa dapat menunjuk pihak lain
(seperti konsultan lingkungan hidup) untuk membantu melaksanakan kajian
Amdal, namun tanggung jawab terhadap hasil dan pelaksanaan ketentuan-
ketentuan Amdal tetap di tangan pemrakarsa kegiatan.

c. Masyarakat yang berkepentingan

Masyarakat yang berkepentingan adalah masyarakat yang terpengaruh oleh


segala bentuk keputusan dalam proses Amdal. Masyarakat mempunyai kedudukan
yang sangat penting dalam Amdal yang setara dengan kedudukan pihak-pihak lain
yang terlibat dalam Amdal. Di dalam kajian Amdal, masyarakat bukan obyek
kajian namun merupakan subyek yang ikut serta dalam proses pengambilan
keputusan tentang hal-hal yang berkaitan dengan Amdal. Dalam proses ini
masyarakat menyampaikan aspirasi, kebutuhan, nilai-nilai yang dimiliki
masyarakat dan usulan-usulan penyelesaian masalah untuk memperoleh keputusan
terbaik.
Dalam proses Amdal masyarakat dibedakan menjadi dua kategori, yaitu ;

 Masyarakat terkena dampak: masyarakat yang akan merasakan dampak dari


adanya rencana kegiatan (orang atau kelompok yang diuntungkan (beneficiary
groups), dan orang atau kelompok yang dirugikan (at-risk groups)
 Masyarakat Pemerhati: masyarakat yang tidak terkena dampak dari suatu
rencana kegiatan, tetapi mempunyai perhatian terhadap kegiatan maupun
dampak-dampak lingkungan yang ditimbulkan.

Pasal 9 ayat (2) PP 27 Tahun 2012 menyebutkan bahwa pengikutsertaan


masyarakat dilakukan melalui pengumuman rencana usaha dan/ atau kegiatan, dan
konsultasi publik. Dalam jangka waktu 10 (sepuluh) hari kerja sejak diumumkan,
masyarakat berhak mengajukan saran, dan tanggapan terhadap rencana usaha dan atau
kegiatan.

C. Penyusun Dokumen AMDAL

Penyusun dokumen AMDAL adalah orang yang memiliki kompetensi pada


kualifikasi tertentu dan bekerja di bidang penyusunan dokumen AMDAL.

1. Tim penyusun dokumen AMDAL terdiri dari :


a. Ketua Tim Penyusun AMDAL
b. Anggota Tim Penyusun AMDAL
2. Kualifikasi Tim Penyusun AMDAL

Pemrakarsa pada umumnya membutuhkan jasa Tim Konsultan untuk


mengerjakan AMDAL dari rencana kegiatanya. Tentu tidak sembarangan untuk
dapat menjadi anggota Tim Konsultan itu. Mereka harus memahami metodologi
penyusunan AMDAL, termasuk dalam melakukan pelingkupan, prakiraan dampak
dan evaluasinya, serta perencanaan pengelolaan dan pemantauan lingkungan.
Untuk menjamin kompetensi dari para penyususn AMDAL, KLH mewajibkan
mereka untuk memiliki sertifikat kompetensi sebelum dapat terlibat sebagai ketua
atau anggota Tim Konsultan. Kewajiban ini disebutkan dalam UU No. 32 tahun
2009 tentang PPLH berikut sanksi bagi mereka yang melanggarnya.

Mulai tanggal 30 Oktober 2010 penyusun dokumen AMDAL wajib memiliki


sertifikasi kompetensi. Apabila penyusun dokumen AMDAL tidak mengindahkan
kewajiban tersebut, maka penyusun AMDAL yang tidak memiliki sertifikat
kompetensi penyusun AMDAL akan dikenakan sesuai Pasal 110 Undang-Undang
Nomor 32 tahun 2009 (dipidana penjara paling lama 3 (tiga) tahun dan denda paling
banyak Rp 3.000.000.000,- (tiga milyar upiah). Pemerintah telah memberi kelonggaran
bagi dokumen AMDAL yang sudah diproses di komisi penilai AMDAL sebelum 30
Oktober 2010 dapat dilanjutkan hingga dokumen selesai tanpa menyertakan sertifikasi
bagi penyusun dokumen AMDAL.

Menteri Negara Lingkungan Hidup juga mewajibkan lembaga penyedia jasa


penyusun dokumen MDAL darimana Tim penyusun berasal untuk teregistrasi di KLH.
Lembaga penyedia jasa penysun dokumen AMDAL adalah lembaga berbadan hukum
yang bergerak di bidang jasa penyusunan dokumen AMDAL. Ada beberapa syarat
untuk memperoleh tanda registrasi tersebut. Salah satunya adalah perusahaan itu yang
setidaknya memiliki 2 (dua) tenaga ahli penyusun AMDAL yang sudah bersertifikat.
Semua persyaratan ini diberlakukan KLH agar kualitas hasil kajian AMDAL dapat
lebih terjaga. Tanpa AMDAL yang berkualitas, sulit bagi pihak-pihak berkepentingan
untuk mengambil keputusan dengan tepat.