Sunteți pe pagina 1din 7

TUGAS DISKUSI KELOMPOK

CARING DAN SPIRITUALITAS KARYA

“COMPASSION”

OLEH:

DEWI ANGELINA HENI KETUT (30120116027K)

ERLINA MEGA CANDRA (30120116023K)

FLORISMA ARISTA RITI TEGU (30120116016K)

PERDI NERPADA FORTUNATUS (30120116002K)

PITO (30120116003K)

TRI HARTANTI RICA PRATIWI (30120116022K)

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN SANTO BORROMEUS

PADALARANG

2017
COMPASSION (C)

A. Pengertian
Compassion berasal dari bahasa compassio yang berarti “ikut merasakan”
(Macrae, 2001).
Kata Inggris, Compassion (=belarasa), berasal dari kata Latin, compassio,
yang berarti “merasakan dengan”. Belarasa sebagai ungkapan keutamaan
spiritualitas harus menjadi pusat perawatan yang secara kultural kompeten.
(Macrae dalam Caroline Young, 2007).

B. Makna Compassion
Setelah ditemukan oleh para mistikus dan ilmuwan, belarasa merupakan
tujuan hidup tertinggi. Belarasa mencakup sikap hormat terhadap diri sendiri
dan sesama. Karena merengkuh semua manusia, tanpa pandang bulu, entah itu
budaya, embel-embel pribadi, atau agama, belarasa dipandang sebagai cinta
spiritual atau universal (Macrae dalam Caroline Young, 2007).
Pengalaman batin Nightingale meyakinkannya bahwa hal yang terpenting
adalah kesatuan dengan Tuhan. Nightingale memiliki persepktif bahwa
kedekatan dengan Tuhan adalah sumber air dari Compassion. Dia menjelaskan
dalam Suggestions for thought (1860/1994) bahwa menggunakan waktu untuk
sendiri, dalam kesatuan dengan Tuhan akan memberikan kita kedekatan
terhadap kemanusiaan, yang merupakan inti terdalam adalah Ketuhanan.
Perspektif dari Nightingale, Compassion atau cinta universal tumbuh dari
kesadaran akan Tuhan. Personal self bersatu dengan semangat melewati proses
evolusi, sehingga kualitas yang lebih tinggi seperti compassion akan
teraktualisasi pandangannya konsisten dengan religion dunia. Sosok besar
seperti Yesus dan Budha telah memberi contoh hidup compassion.
Compassion dapat dilihat sebagai dasar dari spiritual atau cinta universal
yang mencakup seluruh individual yang berkenan dengan atribut personal.
Huxley (1945), dalam studi cross-cultural yang dilakukannya mengenai
pengalaman batin mengidentifikasi tiga komponen dari cinta universal atau
kemurahan hati yaitu: tidak memihak (disinterestedness), ketenangan
(tranquility) dan kerendahan hati (numility).
Ketidakberpihakan dalam kutipan pengalaman diatas karena individu telah
mementingkan bidang emosi personal. Hasrat untuk tumbuh sendiri dan
ketakutan kehilangan tidak ada, hanya ada cinta universal untuk kemanusiaan.
Ketenangan karena pengalaman yang dihubungkan dengan kedamaian yang
tidak pernah dirasakan sebelumnya.

C. Isi Compassion
Puncak kesatuan hidup ditemukan dari batin dan ilmu, yang menjadi dasar
dari compassion. Compassion tampak dalam cinta kasih tanpa syarat dan
berbela rasa. Sebagai pribadi-pribadi yang disatukan dan dipanggil dalam
pelayanan pendidikan, komitmen kita sebagai orang yang mencintai dengan
setulus hati dan berbela rasa, tampak dalam:
1. Mewujudkan kepedulian dan solidaritas dengan mereka yang lemah,
miskin dan menderita, baik jasmani maupun rohani seperti teladan Bunda
Elisabeth.
2. Membuat kebijakan yang mendukung keberpihakan terhadap yang miskin,
lemah, dan tersisih.
3. Mencintai dengan tulus melampaui batas-batas suku, agama, ras, budaya,
status sosial tanpa diskriminasi.
4. Turut serta merasakan penderitaan orang lain dengan sikap empati dan
keramahan (rela berkorban, siap sedia, murah hati, penuh perhatian,
tenggang rasa, dan terbuka untuk berdialog).
5. Melayani demi “keselamatan” anak-anak yang dilayani.
6. Mengembangkan sikap murah hati di antara para “pelayan pendidikan”
maupun peserta didik.
7. Melayani dengan semangat “demi cinta Allah aku akan menolong mereka
yang berkesesakan hidup, maka aku akan cukup kaya dengan rahmat dan
cinta Allah” (Surani CB, dkk).
D. Motto
“memberi tanpa pamrih adalah matematika Tuhan”.
(“giving without unconditionally it is God’s mathematics”).

E. Gerakan Konkrit
Memulai tindakan nyata untuk mewujudkan Compassion adalah di mulai
dari diri sendiri dengan menanamkan perasaan yang peka tehadap orang lain
sehingga hati kita bisa tersentuh dan menyadari untuk dapat tergerak
membantu orang lain dengan hati yang mengasihi. Compassion dapat diawali
dengan melakukan hal-hal yang sederhana yang bisa kita lakukan untuk orang-
orang yang berada disekitar kita, hal sekecil apapun yang kita lakukan dengan
maksud baik yang berasal dari sikap hati yang tulus akan menumbuhkan
kebahagiaan yang bermakna untuk orang lain, kapan pun dan dimana pun kita
mempunyai kesempatan untuk mewujudkan tindakan yang berbela rasa.
Contoh tindakan nyata compassion adalah membantu korban bencana
alam (bantuan tenaga sukarelawan, dapur umum, dan bantuan sembako),
berbagi dengan orang-orang pinggiran atau tuna wisma seperti memberikan
makanan atau sandang, mengunjungi orang sakit, mengunjungi dan membantu
lansia yang ada di panti Werdha, berbagi dengan anak-anak panti asuhan,
berbagi bersama dengan anak-anak difable (Anak Berkebutuhan Khusus)
seperti mendampingi mereka bermain atau memberikan pendidikan kepeda
mereka, dan tindakan yang lainnya yang dapat menjadi dasar kepedulian kita
terhadap sesama.
Daftar Pustaka
Macrae, Janet. (2001). Nursing as a Spiritual Practice: Contemporary Application
of Florence Nightingale’s Views. New York: Springer Publishing Company.

Surani CB, dkk. (2008). Pedoman Pelaksanaan Spiritualitas CB untuk Pelayanan


Pendidikan. Yogyakarta: CB Media.

Young, Caroline. Koopsen, Cyndie. (2007). Spiritualitas, Kesehatan, dan


Penyembuhan. Medan: Bina Media Perintis.
Lampiran

Yel-Yel kelompok Compassion

Jika kau punya rasa mengasihi 2x


Jika kau punya rasa mari kita lakukan
Nanti Tuhan pasti akan melihat

Jika kau punya rasa murah hati 2x


Jika kau punya rasa mari kita lakukan
Upah mu kelak besar di surga

Jika kau punya rasa tuk berbagi 2x


Jika kau punya rasa mari kita lakukan
Tak akan ada rugi di hidup mu

Compassion is bases of morality


Narasi cerita singkat untuk mini drama compassion

“Sederhana Tapi Bermakna”


Drama ini di adaptasi dari inspirasi suasana tempat makan yang ada di Kabupaten
Padalarang. Berawal dari kisah 2 orang pemuda yang sabar, baik hati dan hidup
dengan keadaan ekonomi yang masih kurang. Dalam keseharian, mereka mencari
nafkah sehari-hari dengan cara mengamen di tempat makan yang dapat di
jangkau. Pada suatu ketika saat mereka mengamen dengan hasil yang tidak cukup
untuk membeli makan, dan pada saat mereka hendak berpasrah untuk mencari
tempat ngamen yang lain, tiba-tiba mereka melihat ada seorang remaja yang lagi
bersedih dan duduk sendirian saja, dan timbul rasa empati untuk menolongnya,
kemudian mereka mencoba menghibur nya karena mereka hanya ingin supaya
remaja ini tidak merasa kan sedih lagi, karena ada pepatah yang mengatakan
seribu hujan akan di hapus oleh panas sehari.

Pesan dari drama ini adalah bahwa Compassion atau berbela rasa tidak harus
dibayangkan dengan sesuatu yang sangat tinggi, yang tidak mudah untuk
dilakukan. Tetapi sesungguhnya compassion dapat dimulai dari hal yang
sederhana dengan orang-orang yang berada disekitar kita. Karena memberi tidak
harus dalam bentuk material atau benda berharga, dan memberi tidak harus
menunggu kita kaya atau berkecukupan terlebih dahulu, tapi jika dilandasi dengan
hati yang mengasihi Tuhan, maka kita jadi pemurah dan tidak hitung-hitungan.
Masalah besar kecil pemberian kita untuk orang lain, Tuhan tidak akan
mempersoalkannya, namun sikap hati dalam memberi adalah hal yang paling
penting. Inilah salah satu makna dari berbela rasa dengan sesama.
True compassion means not only feeling another’s pain but also being moved to
help relieve it.