Sunteți pe pagina 1din 15

MAKALAH

ATURAN DAN STANDARISASI AMBULANCE


Diajukan untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Kegawatdaruratan

Disusun Oleh :

Moh. Ramadhani Rahman

P2.06.20.2.15.019

POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES TASIKMALAYA


PRODI KEPERAWATAN CIREBON
Jl. Pemuda No. 38
2017/2018
AMBULANCE

1. Pengertian
Ambulans adalah kendaraan transportasi gawat darurat medis khusus orang
sakit atau cedera yang digunakan untuk membawanya dari satu tempat ke tempat lain
guna perawatan lebih lanjut. Istilah Ambulans digunakan menerangkan kendaraan
yang digunakan untuk membawa peralatan medis kepada pasien di luar rumah sakit
atau memindahkan pasien ke rumah sakit untuk perawatan lebih lanjut. Kendaraan ini
dilengkapi dengan sirene dan lampu berwarna merah dan biru gawat darurat agar
dapat menembus kemacetan lalu lintas.
Kendaraan ini merupakan salah satu prioritas di lalu lintas dan memiliki hak
untuk melanggar peraturan lalu lintas seperti menerobos lampu merah, melawan arah,
dan melalui lajur bahu jalan, dan sudah dijelaskan dalam Undang-Undang
Perlalulintasan bahwa kendaraan seperti Ambulans dan kendaraan gawat darurat yang
lainnya harus diberi kenyamanan dan diberi lintasan untuk di jalan raya guna
menyelamatkan nyawa.
Istilah Ambulans berasal dari bahasa Latin Ambulare berarti berjalan atau
bergerak yang merujuk pada perawatan saat pasien dipindahkan dengan kendaraan.
Istilah ini awalnya mengartikan rumah sakit bergerak yang dipakai dalam militer pada
masa itu. Kendaraan Puskesmas Keliling juga merupakan kendaraan Ambulans yang
memiliki tugas dan kegunaan yang sama sebagai transportasi kendaraan medis
kesehatan gawat darurat dan untuk mengangkut orang cedera atau sakit ke tempat
perawatan.
Mobil Jenazah pada keadaan membawa jenazah dan membunyikan sirene dan
menyalakan lampu-lampu darurat juga wajib di beri laluan selayaknya kendaraan
darurat. Ini dikarenakan jenazah mempunyai prioritas utama untuk sampai kepada
rumah duka atau kuburan dengan cepat.

2. Sejarah Ambulan
Pada abad kesebelas, ambulan sudah dikenal dan dipakai oleh prajurit
Kerajaan Inggris, pada masa pemerintahan Raja Willian I. Pada saat itu, ambulance
dipakai untuk mengangkut tentara yang terluka akibat perang, yang berupa tandu yang
kedua ujungnya ditarik oleh seekor kuda.
Nama ambulance mulai dikenal pada abad kelimabelas. Pada waktu itu, Ratu
Isabella dari Spanyol memerintahkan untuk membuat tandu di atas kereta kuda yang
diberi peneduh kain. Kereta kuda tersebut diberi nama "Ambulancias". Tandu di atas
kereta kuda yang mirip dengan kemah berjalan ini digunakan untuk mengangkut
perajurit yang terluka pada waktu terjadinya Perang Salib.
Pada tahun 1810, seorang dokter bedah dari Perancis yang bernama dr.
Dominique Jean Laney, menciptakan bentuk ambulance baru, yaitu berupa kereta
roda dua yang ditarik oleh seekor kuda, bentuknya berupa rumah kotak, yang
dilengkapi dengan ventilasi dan berkasur. Oleh dr. Dominique Jean Laney kereta kuda
ini diberi nama Flying Ambulance.
Tentara Amerika pada perang Meksiko tahun 1863, menggunakan ambulance
dalam bentuk kereta yang memiliki lantai yang bisa ditarik keluar untuk memudahkan
dalam mengangkut dan memindahkan prajurit yang terluka. Ambulance ini dilengkapi
dengan selimut, brandy, spun kecil, sepotong besi persulfat, dan kayu penahan pasien.
Pada Perang Dunia Pertama, ambulance sudah mengalami modifikasi. Tidak
lagi ditarik oleh kuda atau tenaga manusia, melainkan sudah ditarik dengan sepeda
atau sepeda bermotor.
Pada tahun 1930, untuk pertama kalinya ambulance diperkenalkan dalam
bentuk berbentuk kendaraan roda empat, sehingga mobil ambulance ini dapat
digunakan untuk mengangkut prajurit yang terluka akibat perang.
Pada awal mulainya pecah Perang Dunia Kedua, tahun 1937, dr. Hess
Eisenhard dari Ohio, Amerika menyempurnakan bentuk ambulance seperti yang
sering kita lihat sekarang ini, yaitu mobil ambulance dengan dilengkapi tandu khusus
pasien, di sampingnya diberi beberapa kursi untuk menjaga dan mengurus pasien
selama perjalanan dari dan menuju rumah sakit, serta dilengkapi dengan lampu sirene
yang diletakkan di atas mobil ambulance.
Dengan semakin majunya dunia kedokteran, saat ini mobil ambulance tidak
lagi hanya berisi tandu, tapi sudah dimodifikasi dengan berbagai peralatan kedokteran
yang modern, sehingga lebih memudahkan dalam perawatan pasien selama di jalan
sebelum mendapatkan perawatan yang lebih intensif di rumah sakit.
3. Hak-Hak Kendaraan Gawat Darurat Yang Sedang Melaksanakan Tugas Di
Lalu-Lintas
Penjelasan dari: Pasal 134 dan 135 UU No 22 tahun 2009 mengenai prioritas
dan hak kendaraan gawat darurat di lalulintas sebagai berikut: "Hak utama kendaraan
tertentu Tidak memberikan prioritas jalan bagi kendaraan bermotor memiliki hak
utama yang menggunakan peringatan dengan bunyi dan sinar dan/atau yang dikawal
oleh petugas Polri : a. Kendaraan pemadam kebakaran yang sedang melaksanakan
tugas; b. Ambulans yang mengangkut orang sakit; c. Kendaraan untuk memberikan
pertolongan pada kecalakaan lalu lintas; d. Kendaraan pimpinan Lembaga Negara
Republik Indonesia; e. Kendaraan pimpinan dan pejabat negara asing serta lembaga
internasional yang menjadi tamu negara;". Dari penjelasan tersebut, diprioritaskan
kendaraan-kendaraan yang telah disebut untuk diberi laluan aman dan cepat di jalan
raya. Ketentuannya yaitu:
a. Ambulans, Pemadam Kebakaran, dan Kendaraan Polisi yang sedang membunyikan
sirene dan lampu-lampu di jalanan wajib diberi jalan dan lintasan aman guna
sampai pada tujuan dengan selamat, dimana pengemudi lainya harus minggir
ataupun berhenti di tepi jalan dan beri haluan aman.
b. Ketiga kendaraan darurat tersebut mempunyai keistimewaan untuk bisa melanggar
rambu-rambu lalulintas seperti melawan arus lalu-lintas, menerobos lampu merah,
melewati jalur busway, dll pada kondisi darurat dan tidak boleh di ganggu oleh
pengemudi lainya.
c. Seluruh pengemudi lalu-lintas yang melihat dan mendengar sirene atau lampu-
lampu dari kendaraan darurat tersebut wajib berusaha memberi jalan walaupun
pada kondisi kemacetan lalulintas. Jika tidak memungkinkan, pengemudi wajib
berusaha semaksimal mungkin untuk minggir dan memberi jalan.
d. Dilarang keras menghadang, mengabaikan, dan mengganggu perjalanan ketiga
kendaraan darurat tersebut dalam melaksanakan tugas untuk menyelamatkan
nyawa.
e. Selain keperluan tertentu, dilarang membuntuti atau mengikuti ketiga kendaraan
darurat tersebut dalam melaksanakan tugas guna melewati kemacetan atau cari
jalan cepat, karena dapat membahayakan dan menyelakai kendaraan darurat
tersebut jika terjadi rem mendadak, dll.
4. Standar Fisik, Perlengkapan Ambulans Gawat Darurat Medik
a. Landasan Hukum :
Kepmekes No. 0152/YanMed/RSKS/1987, tentang Standarisasi Kendaraan
Pelayanan Medik. Kepmenkes No 143/Menkes-kesos/SK/II/2001, tentang
Standarisasi Kendaraan Pelayanan Medik. Diperlukan standarisasi perlengkapan
umum dan medik pada kendaraan ambulans AGDT, khususnya untuk keseragaman
dan peningkatan mutu pelayaan rujukan kegawatdaruratan medik.
Yang diatur dalam Kepmenkes adalah jenis kendaraan :
1) Ambulance transportasi
a) Tujuan Penggunaan :
Pengangkutan penderita yang tidak memerlukan perawatan khusus/
tindakan darurat untuk menyelamatkan nyawa dan diperkirakan tidak akan
timbul kegawatan selama dalam perjalanan.
b) Persyaratan Kendaraan :
Teknis
 Kendaraan roda empat atau lebih dengan suspensi lunak
 Warna kendaraan : putih (DKI warna hijau lapis )
 Tanda pengenal kendaraan : di depan - gawat darurat/ emergency,
disamping kanan dan kiri
 tertulis : ambulans dan logo : bintang enam biru dan ular tongkat.
 Ruang penderita mudah dicapai dari tempat pengemudi
 Tempat duduk bagi petugas dan keluarga di ruangan penderita
 Dilengkapi sabuk pengaman untuk petugas dan penderita
 Ruangan penderita cukup luas untuk sekurang-kurangnya satu tandu
 Ruangan penderita berhubungan langsung dengan tempat pengemudi
 Gantungan infus terletak sekurangnya 90 sm di atas tempat penderita
 Stop kontak khusus 12 V DC di ruang penderita
 Lampu ruangan secukupnya/bukan neon, dan lampu sorot yang dapat
digerakan
 Lemari obat dan peralatan
 Penyimpan air bersih 20 liter, wastafel dan penampungan air limbah
 Sirine dua nada
 Lampu rotator warna merah dan biru, di tengah atas kendaraan
 Radio komunikasi dan atau radio genggam di ruang kemudi
 Tersedia peta wilayah
 Buku petunjuk pemeliharaan semua alat berbahasa Indonesia
 Tanda pengenal ambulans transportasi dari bahan pemantul sinar
 Kendaraan mudah dibersihkan, lantai landai dan batas dinding dengan
lantai tidak menyudut
 Dapat membawa inkubator transport
 Persyaratan lain sesuai peraturan perundangan yang berlaku
Medis
 Tabung oksigen dengan peralatannya
 Alat penghisap cairan/lendir 12 Volt DC
 Peralatan medis PPGD (tensimeter dengan manset anak-dewasa, dll)
 Obat-obatan sederhana, cairan infus secukupnya
Petugas
 1 (satu) supir dengan kemampuan BHD (bantuan hidup dasar) dan
berkomunikasi
 1 (satu) perawat dengan kemampuan PPGD
Tata tertib
 Sewaktu menuju tempat penderita boleh menghidupkan sirine dan
rotator
 Selama mengangkut penderita hanya menggunakan lampu rotator .
 Mematuhi semua peraturan lalu lintas
 Kecepatan kendaraan maksimum 40 km di jalan biasa, 80 km di jalan
bebas hambatan.
 Petugas membuat/ mengisi laporan selama perjalanan yang disebut
dengan lembar catatan
 penderita yang mencakup identitas, waktu dan keadaan penderita setiap
15 menit.
 Petugas memakai seragam awak ambulans dengan identitas yang jelas.
2) Ambulance gawat darurat
a) Tujuan Penggunaan :
 Pertolongan Penderita Gawat Darurat Pra Rumah Sakit
 Pengangkutan penderita gawat darurat yang sudah distabilkan dari lokasi
kejadian ke tempat tindakan definitif atau ke Rumah Sakit
 Sebagai kendaraan transport rujukan.
b) Persyaratan :
Teknis Kendaraan
 Kendaraan roda empat atau lebih dengan suspensi lunak
 Warna kendaraan : kuning muda
 Tanda pengenal kendaraan : di depan - gawat darurat/ emergency,
disamping kanan dan kiri
 tertulis : Ambulans dan logo : Star of Life, bintang enam biru dan ular
tongkat.
 Menggunakan pengatur udara AC dengan pengendali di ruang
pengemudi.
 Pintu belakang dapat dibuka ke arah atas.
 Ruang penderita tidak dipisahkan dari ruang pengemudi
 Tempat duduk petugas di ruang penderita dapat diatur/ dilipat
 Dilengkapi sabuk pengaman bagi pengemudi dan pasien
 Ruang penderita cukup luas untuk sekurangnya dua tandu. Tandu dapat
dilipat.
 Ruang penderita cukup tinggi sehingga petugas dapat berdiri tegak untuk
melakukan tindakan
 Gantungan infus terletak sekurang-kurangnya 90 sm di atas tempat
penderita
 Stop kontak khusus 12 V DC di ruang penderita
 Lampu ruangan secukupnya/ bukan neon dan lampu sorot yang dapat
digerakan
 Meja yang dapat dilipat
 Lemari obat dan peralatan
 Tersedia peta wilayah dan detailnya
 Penyimpan air bersih 20 liter, wastafel dan penampungan air limbah
 Sirine dua nada
 Lampu rotator warna merah dan biru
 Radio komunikasi dan telepon genggam di ruang kemudi
 Buku petunjuk pemeliharaan semua alat berbahasa Indonesia
 Peralatan rescue
 Lemari obat dan peralatan
 Tanda pengenal dari bahan pemantul sinar
 Peta wilayah setempat – Jabotabek
 Persyaratan lain menurut perundangan yang berlaku
 Lemari es/ freezer, atau kotak pendingin.
Medis
 Tabung oksigen dengan peralatan bagi 2 orang
 Peralatan medis PPGD
 Alat resusitasi manual/automatic lengkap bagi dewasa dan anak/ bayi
 Suction pump manual dan listrik 12 V DC
 Peralatan monitor jantung dan nafas
 Alat monitor dan diagnostik
 Peralatan defibrilator untuk anak dan dewasa
 Minor surgery set
 Obat-obatan gawat darurat dan cairan infus secukupnya
 Entonok
 Kantung mayat
 Sarung tangan disposable
 Sepatu boot
Petugas
 1 (satu) pengemudi berkemampuan PPGD dan berkomunikasi
 1 (satu) perawat berkemampuan PPGD
 1 (satu) dokter berkemampuan PPGD atau ATLS/ACLS
Tata tertib berkendara
 Saat menuju ke tempat penderita boleh menghidupkan sirine dan lampu
rotator. Selama mengangkut penderita hanya lampu rotator yang
dihidupkan
 Mematuhi peraturan lalu lintas yang berlaku
 Kecepatan kendaraan kurang dari 40 km di jalan biasa, 80 km di jalan
bebas hambatan.
 Petugas membuat/ mengisi laporan selama perjalanan yang disebut
dengan lembar catatan
 penderita yang mencakup identitas, waktu dan keadaan penderita setiap
15 menit.
 Petugas memakai seragam ambulans dengan identitas yang jelas.
3) Ambulans rumah sakit lapangan
a) Tujuan Penggunaan :
 Merupakan gabungan beberapa ambulans gawat darurat dan ambulans
pelayanan medik bergerak.
 Sehari-hari berfungsi sebagai ambulans gawat darurat
b) Persyaratan :
Teknis Kendaraan
 Kendaraan roda empat atau lebih dengan suspensi lunak
 Warna kendaraan : kuning muda
 Tanda pengenal kendaraan : di depan - gawat darurat/ emergency,
disamping kanan dan kiri atas
 tanda : Ambulans dan logo : Star of Life, bintang enam biru dan ular
tongkat.
 Kendaraan menggunakan pengatur udara AC dengan pengendali di
ruang pengemudi.
 Pintu belakang dapat dibuka ke arah atas.
 Ruang penderita tidak dipisahkan dari ruang pengemudi
 Tempat duduk petugas di ruang penderita dapat diatur/ dilipat
 Dilengkapi sabuk pengaman bagi pengemudi dan pasien
 Ruang penderita cukup luas untuk sekurangnya dua tandu. Tandu dapat
dilipat.
 Ruang penderita cukup tinggi sehingga petugas dapat berdiri tegak untuk
melakukan tindakan
 Gantungan infus terletak sekurang-kurangnya 90 sm di atas tempat
penderita
 Stop kontak khusus 12 V DC di ruang penderita
 Lampu ruangan secukupnya, bukan neon dan lampu sorot yang dapat
digerakan
 Meja yang dapat dilipat
 Lemari obat dan peralatan
 Penyimpan air bersih 20 liter, wastafel dan penampungan air limbah
 Sirine dua nada
 Lampu rotator warna merah dan biru terletak di atap sepertiga depan.
 Radio komunikasi dan telepon genggam di ruang kemudi
 Buku petunjuk pemeliharaan semua alat berbahasa Indonesia
 Peralatan rescue
 Lemari obat dan peralatan
 Tanda pengenal dari bahan pemantul sinar
 Peta wilayah setempat – Jabotabek dan detailnya
 Persyaratan lain menurut perundangan yang berlaku
 Lemari es/ freezer, atau kotak pendingin.
Medis
 Tabung oksigen dengan peralatan bagi 2 orang
 Peralatan medis PPGD
 Alat resusitasi manual/automatic lengkap bagi dewasa dan anak/ bayi
 Suction pump manual dan listrik 12 V DC
 Peralatan monitor jantung dan nafas
 Alat monitor dan diagnostik
 Peralatan defibrilator untuk anak dan dewasa
 Minor surgery set
 Obat-obatan gawat darurat dan cairan infus secukupnya
 Kantung mayat
 Sarung tangan disposable
 Sepatu boot
Petugas
 1 (satu) pengemudi berkemampuan PPGD dan berkomunikasi
 1 (satu) perawat berkemampuan PPGD BTLS/BCLS
 1 (satu) dokter berkemampuan PPGD atau ATLS/ACLS
Tata tertib
 Saat menuju ke tempat penderita boleh menghidupkan sirine dan lampu
rotator
 Selama mengangkut penderita hanya lampu rotator yang dihidupkan
 Mematuhi peraturan lalu lintas yang berlaku
 Kecepatan kendaraan kurang dari 40 km di jalan biasa, 80 km di jalan
bebas hambatan.
 Petugas membuat/ mengisi laporan selama perjalanan yang disebut
dengan lembar catatan
 penderita yang mencakup identitas, waktu dan keadaan penderita setiap
15 menit.
 Petugas memakai seragam ambulans dengan identitas yang jelas.
4) Ambulans pelayanan medik bergerak
a) Tujuan Penggunaan :
 Melaksanakan salah satu upaya pelayanan medik di lapangan
 Digunakan sebagai ambulans transport.
b) Persyaratan
Teknis Kendaraan
 Kendaraan roda empat atau lebih dengan suspensi lunak.
 Berbentuk kontainer dan berfungsi sebagai poliklinik
 Warna kendaraan : kuning muda
 Tanda pengenal kendaraan : di depan - gawat darurat/ emergency,
disamping kanan dan kiri atas
 tanda : Poliklinik dan logo : Star of Life, bintang enam biru dan ular
tongkat.
 Sirine satu atau dua nada
 Lampu rotator warna merah dan biru di atap sepetiga depan
 Kendaraan berpengatur udara /AC dengan pengendali di ruang
pengemudi.
 Ruang kerja cukup luas dan atap tinggi sehingga petugas dapat berdiri
untuk melakukan
 tindakan dan gantungan infus tinggi sehingga cairan infus dapat menetes
dengan lancar.
 Meja kerja yang dapat dilipat
 Tempat duduk petugas di ruang periksa yang dapat diatur/ dilipat
 Dilengkapi sabuk pengaman bagi pengemudi dan penderita
 Tempat tidur atau tandu dapat dilipat sekurangnya untuk satu pasien.
 Stop kontak khusus 12 V DC di ruang penderita
 Generator 220/240 Volt AC dengan peralatannya, dan alih tegangan arus
 Lampu ruangan secukupnya, bukan neon dan lampu sorot yang dapat
digerakan
 Lemari obat dan peralatan
 Kapasitas penyimpanan air bersih 20 liter, wastafel dan penampungan air
limbah
 Radio komunikasi dan telepon genggam di ruang kemudi
 Peralatan rescue
 Peta wilayah setempat – Jabotabek ,
 Persyaratan lain menurut perundangan yang berlaku
 Lemari es/ freezer, atau kotak pendingin.
Medis
 Tabung oksigen dengan peralatan.
 Peralatan medis PPGD (terlampir)
 Alat resusitasi manual/automatic lengkap bagi dewasa dan anak/ bayi
 Suction pump manual dan listrik 12 V DC
 Obat-obatan gawat darurat dan cairan infus secukupnya
 Sarung tangan disposable
 Sepatu boot
Petugas
 1 (satu) pengemudi berkemampuan PPGD dan berkomunikasi
 Perawat berkemampuan PPGD dengan jumlah sesuai kebutuhan
 Paramedis lain sesuai kebutuhan
 Dokter berkemampuan PPGD atau ATLS/ACLS
Tata tertib berkendara
 Bila sangat dibutuhkan boleh menghidupkan sirine
 Selama berangkat ke tujuan dan pulang, lampu rotator boleh dihidupkan
 Mematuhi peraturan lalu lintas yang berlaku
 Kecepatan kendaraan kurang dari 40 km di jalan biasa, 80 km di jalan
bebas hambatan.
 Petugas membuat/ mengisi laporan catatan penderita.
 Petugas memakai seragam ambulans dengan identitas yang jelas.
5) Ambulance gawat darurat medik sepeda motor.
a) Tujuan Penggunaan :
Pertolongan Penderita Gawat Darurat pra Rumah Sakit, sebagai kendaraan
pendahulu.
b) Persyaratan
Teknis Kendaraan
 Kendaraan roda dua, bahan bakar minyak/ bensin
 Silinder 100 cc atau lebih
 Warna kendaraan : kuning muda – hijau
 Tempat duduk dua orang
 Sirine satu atau dua nada
 Lampu rotator warna biru
 Radio komunikasi atau radio genggam
 Helmet, jaket dengan identitas dibuat dari bahan pemancar cahaya
 Tanda pengenal tertulis gawat darurat/ Emergency dan logo : Star of
Life, bintang enam biru dan ular tongkat.
Medis
 Tabung oksigen dengan peralatan.
 Alat resusitasi manual/automatic lengkap bagi dewasa dan anak/ bayi
 Alat pertolongan luka (terlampir)
 Obat-obatan gawat darurat dan cairan infus secukupnya
 Sarung tangan disposable
 Sepatu boot
Petugas
 2 (dua) orang perawat berkemampuan PPGD dan yang mempunyai SIM
C sebagai pengemudi.
Tata tertib berkendara
 Bila sangat dibutuhkan boleh menghidupkan sirine
 Selama berangkat ke tujuan dan pulang, lampu rotator boleh dihidupkan
 Mematuhi peraturan lalu lintas yang berlaku
 Kecepatan kendaraan kurang dari 40 km di jalan biasa, 80 km di jalan
bebas hambatan.
 Petugas membuat/ mengisi laporan catatan penderita.
 Petugas memakai seragam ambulans dengan identitas yang jelas.
6) Kerta Jenazah.
a) Tujuan Penggunaan :
Merupakan kendaraan yang digunakan khusus untuk mengangkut jenazah
b) Persyaratan Kendaraan :
Teknis
 Kendaraan roda empat atau lebih dengan suspensi lunak
 Warna kendaraan : hitam, di kanan-kiri bertulis : Kereta Jenazah
 Dilengkapi sabuk pengaman bagi penumpang
 Radio komunikasi dan telepon genggam di ruang kemudi
 Lampu ruangan secukupnya, dan lampu sorot yang dapat digerakan
 Sirine satu atau dua nada
 Lampu rotator warna merah dan biru
 Dapat mengangkut sekurangnya satu peti jenazah, dan ada sabuk
pengaman peti jenazah.
 Ruang jenazah terpisah dari ruang kemudi.
 Tempat duduk/ duduk lipat bagi sekurang-kurangnya 4 (empat) orang di
samping jenazah.
 Penyimpan air bersih 20 liter, wastafel dan penampungan air limbah
 Tanda pengenal kereta jenazah dari bahan pemantul sinar
 Gantungan karangan bunga di depan, samping kiri dan kanan.
 Persyaratan lain menurut perundangan yang berlaku
Petugas
 1 (satu) pengemudi yang dapat berkomunikasi
 1 (satu) pengawal jenazah atau lebih
Tata tertib berkendara
 Sirine hanya digunakan saat bergerak dalam iringan jenazah dan
mematuhi peraturan lalau lintas
 tentang konvoi
 Bila tidak dalam iringan hanya boleh menghidupkan rotator.
 Mematuhi peraturan lalu lintas yang berlaku
 Kecepatan kendaraan kurang dari 40 km di jalan biasa, 80 km di jalan
bebas hambatan.