Sunteți pe pagina 1din 11

Pendidikan Agama Islam

Puasa Ramadhan yang Agung

Kelompok 5

Andriawan Mora Anggi 150610100028


Resty Tyagita Aprilia 150610100029
Rizky Syahrir 150610100030
Muhammad Fakri Suwandi 150610100031
Andityo Pradana 150610100032
Nurul Mulan Sholihah 150610100033

Fakultas Pertanian
Universitas Padjadjaran
Pendahuluan

Disinilah, bahwa disamping kemauan, untuk melaksanakan


ajaran islam yaitu mengerjakan kewajibandan meninggalkan
larangannya yang ternyata diperlukan pula kemauanm kemauan
adalah keinginan yang muncul dari diri dalam manusia oleh karena
berbagai dorongan. Baik itu bersifat material maupun non material
(pujian, keinginan berprestasi guna menjaga eksistensi diri) dan
spiritual (ganjaran, pahala dan pujian Allah). Dari sekian macam
dorongan itu, yang tertinggi adalah dorongan iman.

Tanpa kemauan yang muncul dari iman, kewajiban agama


yang sangat ringan sekalipun akan teras berat dikerjakan. Apalagi
kewajiban yang memang memerlukan pengorbanan harta atau
bahkan nyawa. Dari situlah mengapa perintah berpuasa di bulan
Ramadhan ditujukan kepada dan hanya kepaa orang orang yang
beriman.

Iman di dada seorang muslim membuatnya tunduk kepada


Allah, yakni senantiasa siap sedia mengerjakan apa yang
diperintahkan serta meninggalkan apa yang dilarang-Nya. Tidak ada
yang lebih diinginkan dari seorang muslim yang beriman dalam
hidup ini kecuali mendapatkan ridha Allah, yang dengan ridha itu ia
merasakan kebahagiaan. Dan tidak ada pula yang dia takutkan
kecuali murka Allah, yang akan terjadi manakala ia luput dari
peradilan Allah. Dan cara yang terbaik agar lulus dalam peradilan itu
adalah hidup dalam taat kepada-Nya selama di dunia.

Iman semacam ini memberikan dorongan kuat untuk berbuat


kebaikan dan meninggalkan keburukan. Dan dorongan semacam
itulah yang menciptakan kemauan. Dengan kemauan seperti itu
pula, dulu para sahabat berjihad kendati pun di bulan Ramadhan.
Perang Badar, dimana 300 tentara Islam melawan sekitar 1000
orang kafir, terjadi ada bulan Ramadhan tahun 2 Hijriah. Perang
Uhud juga terjadi pada bulan Ramadhan tahun Hijriah. Dalam
perang yang akhirnya dimenangkan tentara kafir itu, 1000 tentara
Islam melawan 3000 orang kafir. Perang Ahzab terjadi pada bulan
Ramadhan tahun 5 Hijriah, sedangkan penaklukkan kota Mekkah
terjadi pada bulan Ramadhan tahun 8 Hijriah dan perang-perang
yang lain.

Kemauan yang bersumber dari iman inilah yang kini langka,


bila tidak bisa dibilang tidak ada sama sekali pada kaum diri
muslimin. Maka jadilah sekian banyak kewajiban agama diabaikan
dan sekian larangan agama dilanggar.

Ibadah puasa Ramadhan sebulan penuh sesungguhnya akan


menempa kekuatan umat Islam, yakni untuk menahan nafsu dan
taat pada perintah Allah. Tanpa kemauan tidak mungkin kita dapat
menjalankan puasa yang baik. Banyak sekali celah bagi kita untuk
menipu orang lain dengan tetap berpura-pura puasa padahal tidak.

Penting bagi kita bagaimana kemauan yang telah terbina


selama puasa berdampak pada persoalan lain diluar puasa.
Khususnya kemauan untuk hidup dibawah naungan Islam dimana
didalamnya diterapkan hukum Islam. Bila tidak maka benarlah
bahwa puasa atau ibadah pada umumnya tidak memberikan
dampak positif bagi kemajuan umat. Maka jangan menyesal bila kita
akan terus dirundung masalah seperti saat ini. Juga bagaimana kita
menciptakan negeri yang sejahtera, aman sentaosa dan penuh
dengan ampunanan Allah bila didalamnya terdapat sekian banyak
kewajiban agama ditinggalkan dan larangan dilanggar, serta hukum
Allah dicampakkan?
Permasalahan :
1. Bagaimana cara melaksanakan puasa yang baik?

Agar shaum kita mencapai nilai yang maksiamal, maka lakukanlah


shaum dengan:

1. Niyyat ikhlas karena Allah dan mengharapkan balasan dari-Nya.


2. Sahur di waktu sebelum shubuh.
3. Menahan diri dari hal-hal yang membatalkan dan mengurangi
kekhusyuan dan pahala shaum, berupa:
1. Tidak makan, tidak minum dan berhubungan suami dan
istri di siang hari.
2. Tidak menyia-nyiakan perintah Allah, dan tidak melampaui
larangan Allah.
3. Memanfaatkan waktu siang dan malam hari dengan amal
shaleh, diantaranya:
1. Beribadah di awal waktu dengan sebaik-baiknya.
2. Tidak melewatkan ibadah sunnah.
3. Tadarrus dan tadabbur al-Qur`an
4. Membanyakkan shadaqah.
5. Berbuat hal yang bermanfaat bagi yang lain.
4. Tidak mengisi waktu dengan perbuatan yang tidak berguna dan
Allah tidak suka.
5. Menyegerakan berbuka dengan kurma dan jangan lupa berdo’a
terlebih dahulu.
ُ‫علَى ِر ْزقِكَ أ َ ْف َط ْرت‬ ُ َ‫اللَّ ُه َّم لَك‬.
َ ‫ص ْمتُ َو‬

Ya Allah! Karena-Mu aku shaum, dan dengan rizki dari-Mu aku


berbuka. (HR. Imam Abu Dawud)

Atau

َّ ‫ق َوث َ َبتَ األَجْ ُر ِإ ْن شَا َء‬


ُ‫ّللا‬ ِ َّ‫ظ َمأ ُ َوا ْبتَل‬
ُ ‫ت ا ْلعُ ُرو‬ َ ‫ذَ َه‬
َّ ‫ب ال‬

Dahaga telah berlalu, badan telah terbasahi, serta pahala pun akan
ditetapi, insya Allah. (HR. Imam Abu Dawud)

1. Berbukalah dengan tidak berlebihan, dan jaga shalat berjama’ah


di awal waktu.
2. Berikan makanan dan minuman untuk orang lain berbuka.
3. Laksanakanlah Shalat Tarawih atau Shalat Malam di malam
Bulan Ramadhan sebanyak 11 roka’at.
4. Evaluasilah pelaksanaan shaum kita semenjak sahur sampai
pelaksanaan Shalat Tarawih tersebut, apakah sesuai dengan
yang dicontohkan oleh Rashululläh atau tidak.
5. Bila tidak ada yang harus dikerjakan, lebih baik segera istrirahat.
Niatkan besok untuk bangun sahur guna melaksanakan shaum.
6. Bila punya kesempatan laksanakanlah umrah ke Baitullah.
7. Sepuluh hari terakhir usahakanlah untuk I’tikap di masjid.
8. Tunaikanlah zakat fitrah bagi setiap jiwa sekira 2,5 kg beras
untuk dibagikan kepada yang berhak sesudah Shalat Shubuh
tanggal 1 Syawaal hingga sebelum Shalat ‘Idul Fitri.
9. Berharap dan mohonlah kepada Allah untuk menerima ibadah
kita dan mengampuni kealpaan dan kesalahan kita.
َّ ‫َربَّنَا تَقَبَّ ْل ِمنَّا إِنَّكَ أ َ ْنتَ ال‬
‫س ِمي ُع ا ْلعَ ِلي ُم‬

Ya Tuhan Kami terimalah daripada Kami (amalan kami),

Sesungguhnya Engkaulah yang Maha mendengar lagi Maha


Mengetahui”.

2. Hikmah apa yang dapat kita petik dari melaksanakan puasa


 Dengan satu bulan penuh kita menunaikan puasa
ramadhan dengan benar dan baik, secara ruhani Allah
menjanjikan kita bersih seperti bayi yang baru lahir, selain
itu juga secara fisik kita melakukan peremajaan sel dalam
tubuh kita. republika.co.id
 Ash-Shaum merupakan salah satu ibadah dalam Islam
yang memiliki keutamaan yang sangat tinggi, serta
memiliki berbagai faidah dan hikmah sebagaimana yang
disebutkan oleh Asy-Syaikh ‘Abdurrahman As-Sa’di dalam
tafsirnya tatkala menjelaskan firman Allah subhanahu
wata’ala :

)١٨٣ :‫علَى الَّ ِذينَ ِم ْن قَ ْب ِل ُك ْم لَ َعلَّ ُك ْم تَتَّقُونَ ( البقرة‬ ِّ ِ ‫علَ ْي ُك ُم‬


َ ‫الص َيا ُم َك َما ُك ِت‬
َ ‫ب‬ َ ‫َيا أَيُّ َها الَّ ِذينَ آ َ َمنُوا ُك ِت‬
َ ‫ب‬

Artinya :

” Wahai orang-orang yang beriman, telah diwajibkan atas kalian


ash-shaum sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum
kalian agar kalian bertaqwa.” [Al-Baqarah : 183]

Di antaranya :
1. Ash-shaum adalah salah satu sebab terbesar yang
mengantarkan seseorang menuju taqwa. Sedangkan taqwa itu akan
mendorong orang yang menjalankan ibadah shaum untuk
meninggalkan berbagai larangan Allah, baik berupa minuman,
makanan, dan jima’ (hubungan suami-istri) dan beberapa larangan
sejenisnya yang disukai oleh hawa nafsu, dan shaum dilakukan
dalam rangka taqarrub (mendekatkan diri) kepada Allah dengan
mengharapkan balasan di sisi-Nya.

2. Orang yang menjalankan ibadah shaum melatih jiwanya agar


senantiasa merasa diawasi oleh Allah (muroqobatullah) sehingga
dia meninggalkan kemauan hawa nafsunya meskipun mampu
menurutinya, sebab dia mengetahui adanya pengawasan Allah
terhadap dirinya.

3. Ash-shaum dapat mempersempit ruang gerak syaithan


karena ia masuk ke dalam tubuh anak Adam melalui aliran darah.

4. Ash-shaum akan melemahkan kekuatan syaithan, sehingga


orang tersebut semakin terjauhkan dari kemaksiatan.

5. Orang yang menunaikan ash-shaum, mayoritasnya akan


melakukan banyak ketaatan dan itu merupakan bagian dari
ketaqwaan kepada Allah.

6. Terkhusus bagi orang kaya bila merasakan pedihnya lapar


karena ash-shaum maka akan muncul dalam dirinya kepedulian
kepada fuqara`, dan hal ini juga merupakan bagian dari ketaqwaan
kepada Allah.
Asy-Syaikh Al-’Utsaimin ketika ditanya tentang hikmah ash-
shaum, beliau shalallahu ‘alaihi wasallam menjawab antara lain :
bahwa ash-shaum mememiliki beberapa hikmah dalam hal sosial
kemasyarakatan, antara lain munculnya perasaan di tengah-tengah
kaum muslimin bahwa mereka adalah umat yang satu, makan dan
bershaum di waktu yang sama.

Asy-Syaikh Alu Bassam dalam Taudhihul Ahkam menyebutkan


hikmah lain dari ibadah ash-shaum, di antaranya :

1. Mendorong seseorang untuk bersyukur kepada Allah dan


mengingat berbagai nikmat-Nya.

2. Memiliki manfaat kesehatan, yaitu memberikan kesempatan


pada alat pencernaan untuk istirahat.

Oleh karena itu, kalau kita perhatikan dengan seksama ayat


pertama yang padanya Allah memerintahkan kaum mu`minin untuk
bershaum diakhiri dengan penyebutan tujuan tersebut, yaitu ayat
ke-183 surat Al-Baqarah, Allah berfirman :

) َ‫(لَعَلَّ ُك ْم تَتَّقُون‬

“Agar kalian bertaqwa”

Begitu pula Allah mengakhiri ayat terakhir tentang perintah ash-


shaum ini dengan penyebutan tujuan tersebut pula, yaitu ayat ke-
187 surat Al-Baqarah, Allah berfirman :
( َ‫)لَعَلَّ ُه ْم تَتَّقُون‬

“Agar mereka bertaqwa”

Dari Shafiyyah bahwa Nabi berkata :

‫ان َمجْ رى الدَّم‬


ِ ‫س‬َ ‫اإل ْن‬ َ ‫ش ْي‬
ِ َ‫طانَ َيجْ ِري ِمن‬ َّ ‫ِإ َّن ال‬

“Sesungguhnya Syaithan berjalan dalam tubuh manusia sesuai


dengan aliran darahnya.” [HR. Al-Bukhari 2035, 2038, 2039, 3101,
3281, 6219, 7171;Muslim 2175]

Tafsir As-Sa’di tafsir Al-Baqarah ayat 183.

3. Dampak positif apa yang dapat kita peroleh dari keimanan


seseorang?

Seorang pemikir Islam dari Pakistan yakni Abul A'la Maududi


berpendapat bahwa iman kepada Allah SWT akan membawa dampak
positif bagi kehidupan, yaitu :
1. Menghilangkan pandangan yang sempit dan picik.
2. Menanamkan kepercayaan terhadap diri sendiri dan tahu pada
harga diri.
3. Menumbuhkan sifat rendah hati, sikap damai dan ikhlas.
4. Membentuk manusia yang berbudi luhur, dan kesatria.
5. Menghilangkan sifat murung dan putus asa dalam menghadapi
setiap masalah.
6. Berpendirian teguh, sabar, tabah dan penuh optimis.
7. Menjadikan manusia patuh pada segala aturan Allah SWT
Daftar Pustaka
www.google.com