Sunteți pe pagina 1din 10

BAB1.

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Sebagai negara yang memiliki banyak pulau, negara kita juga memiliki banyak laut yang
berarti pula menghasilkan banyak ikan. Ikan merupakan bahan makanan yang banyak
dikonsumsi masyarakat dalam dan bahkan luar negeri. Selain karena rasanya, ikan banyak
disukai karena memberi manfaat untuk kesehatan tubuh yaitu mempunyai kandungan protein
yang tinggi dan kandungan lemak yang lebih rendah dibanding sumber protein hewani lain.
Namun, ikan cepat membusuk karena adanya bakteri dan enzyme jika dibiarkan begitu saja tanpa
proses pengawetan. Proses pengawetan ikan yang umum dilakukan adalah dengan penggaraman,
pengeringan, pemindangan,
pengasapan dan pendinginan (Handoyo et al., 2011).
Menurut Murniyati dan Sunarman (2000), pengeringan ikan merupakan cara pengawetan
ikan yang tertua. Mula – mula pengeringan hanya dilakukan dengan menggunakan panas
matahari dan tiupan angin. Pada prinsipnya, pengeringan merupakan cara pengawetan ikan
dengan mengurangi kadar air pada tubujh ikan sebanyak mungkin sehingga kegiatan – kegiatan
bakteri terhambat dan jika mungkin, mematikan bakteri tersebut. Tubuh ikan mengandung 56% -
80% air. Jika kandungan air ini dikurangi, bakteri mengalami kesulitan dalam metabolismenya,
yaitu dalam hal melarutkan makanan. Pada kadar air 40%, bakteri sudah tidak bias aktif, bahkan
sebagian sudah mati, namun sporanya masih tetap hidup. Spora ini akan tumbuh dan aktif
kembali jika kadar air naik kembali. Oleh karena itu, ikan hampir selalu digarami sebelum
dilakukan pengeriingan untuk menghambat pembusukan selama proses pengeringan. Itulah
sebabnya ikan kering hamper selau diasosiasikan dengan ikan asin
Ikan menjadi cepat busuk dan rusak apabila dibiarkan terlalu lama diudara terbuka setelah
ikan tertangkap. Proses pembusukan cepat terjadi pada ikan karena sebagian dikarenakan oleh
kandungan air ikan yang mencapai 80%. Salah satu cara untuk menghambat terjadinya proses
pembusukan ini adalah dengan cara pengeringan. Pengeringan merupakan salah satu cara
pengawetan hasil perikanan yang palin mudah dan murah. Meskipun pengeringa ini dapat
merubah sifat daging ikan dari sifat ketika masih segar, tetapi nilai gizi ikan cenderung tetap.
Bahkan dengan berkurangnya air, prosentase protein produk meningkat (Zaelanie et al., 2004).
Pengeringan ikan sebagai salah satu cara pengawetan yang paling mudah, murah, dan
merupakan cara pengawetan yang tertua. Dilihat dari segi penggunaan energy,pengeringan
dengan menggunakan sinar matahari dianggap tidak memerlukan biaya sama sekali. Pengeringan
akan bertambah baik dan cepat apabila sebelumnya ikan digarami dengan jumlah garam yang
cukup untuk menghentikan kegiatan bakteri pembusuk. Meskipun pengeringan itu akan merubah
sifat daging ikan dan ketika sifatnya masih segar, tetapi nlai gizinya relative tetap. Kadar air
yang mengalami penurunan akan mengakibatkan kandungan protein didalam bahan mengalami
peningkatan (Adawyah, 2007).

1.2 Rumusan Masalah

- Apa itu pengeringan?


- Apakah dengan pengeringan bahan makanan yang mudah rusak (perisable food) dapat
diatasi? Mengapa?
- Jenis pengeringan apa yang paling efektif dan efisien digunakan untuk menghambat proses
pembusukan.

1.3 Tujuan dan Manfaat


Tujuan dari makalah ini adalah mengetahui bagaimana proses pengeringan terhadap bahan
pangan tersebut dilakukan.
Manfaat dari pembuatan makalah ini yaitu dapat menganalisis dan mengaplikasikan proses
pengeringan yang paling efektif dan efisien dalam pengeringan bahan pangan
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Definisi Pengeringan


Pengeringan merupakan proses penurunan kadar air bahan sampai mencapai kadar air
tertentu sehingga dapat memperlambat laju kerusakan produk akibat aktivitas biologi dan kimia.
Pengeringan pada dasarnya merupakan proses perpindahan energy yang digunakan untuk
menguapkan air yang berada dalam bahan, sehingga mencapai kadar air tertentu agar kerusakan
bahan pangan dapat diperlambat. Kelembapan udara pengering harus memenuhi syarat yaitu
sebesar 55 – 60% (Pinem, 2004).
Menurut Hasibun (2005) bahwa bahasa pengeringan merupakan penghidratan, yang berarti
menghilangkan air dari suatu bahan. Proses pengeringan atau penghidratan berlaku apabila bahan
yang dikeringkan kehilangan sebahagian atau keseluruhan air yang dikandungnya. Proses utama
yang terjadi pacta proses pengeringan adalah penguapan. Penguapan terjadi apabila air yang
dikandung oleh suatu bahan teruap, yaitu apabila panas diberikan kepada bahan tersebut. Panas
ini dapat diberikan melalui berbagai sumber, seperti kayu api, minyak dan gas, arang baru
ataupun tenaga surya.
Ditambahkan penjelasan menurut Juliana dan Somnaikubun (2008), pengeringan adalah
suatu metode untuk mengeluarkan atau menghilangkan sebagian besar air dari suatu bahan
melalui penerapan energi panas. Pengeringan dapat dilakukan dengan memanfaatkan energi
surya (pengeringan alami) dan dapat juga dilakukan dengan menggunakan peraiatan khusus yang
digerakkan dengan tenaga listrik Proses pengeringan bahan pangan dipengaruhi oleh luas
permukaan bahan pangan, suhu pengeringan, aliran udara, tekanan uap air dan sumber energi
yang digunakan serta jenis bahan yang akan dikeringkan. Nilai gizi makanan yang kering akan
lebih rendah jika dibandingkan dengan makanan yang segar. Pengeringan akan menyebabkan
tejadinya perubahan warna, tekstur dan aroma bahan pangan. Pada umunmya bahan pangan yang
diikeringkan akan mengalami pencoklatan (browning) yang disebabkan oleh reaksi-reaksi non-
enzimatik. Pengeringan menyebabkan kadar air bahan pangan menjadi rendah yang juga akan
menyebabkan zat-zat yang terdapat pada bahan pangan seperti protein, lemak, karbohidrat dan
mineral akan lebih terkonsentrasi. Vitamin - vitamin yang terdapat dalam bahan pangan yang
dikeringkan akan mengalami penurunan mutu, hal ini disebabkan karena ada berberapa vitamin
yang tidak tahan terhadap suhu tinggi. Proses pengeringan yang berlangsung pada suhu yang
sangat tinggi akan menyebabkan terjadinya case hardening, yaitu bagian permukaan bahan
pangan sudah kering sekali bahkan mengeras sedangkan bagian dalamnya masih basah.

2.2 Prinsip Pengeringan


Proses pengeringan pada prinsipnya adalah proses mengurangi kadar air dalam ikan. Menurut
Abdullah (2003), untuk mencegah bakteri dan enzyme bekerja dalam ikan, selain mengurangi
kadar air dalam ikan, diperlukan juga pengendalian temperatur dan RH udara tempat
penyimpanan ikan. Beberapa variabel yang penting dalam proses pengeringan ikan adalah:
temperatur, RH dan laju aliran udara serta waktu pengeringan. Kadar air ikan bervariasi antara
50% - 80%. Untuk mengurangi aktivitas bakteri dan enzym, kadar air ikan sebaiknya dijaga
dibawah 25% (Handoyo et al., 2011).
Dasar pengeringan adalah terjadinya penguapan air ke udara karena perbedaan kandungan
uap air antara udara dengan bahan yang dikeringkan. Dalam hal ini, kandungan uap air udara
lebih sedikit atau udara mempunyai kelembapan nisbi yang rendah sehingga terjadi penguapan
(Adawyah, 2006).
Proses pengeringan didasari oleh terjadinya penguapan air (pengisapan air oleh udara)
sebagai akibat perbedaan kandungan air produk dengan udara sekitar. Apabila kandungan uap air
diudara cukup rendah berarti udara mempunyai kelembaban nisbi yang rendah sehingga
kesempatan untuk terjadinya penguapan semakin besar. Makin tinggi perbedaan kandungan uap
air di udara dengan produk, maka semakin banyak kandungan air yang dikeringkan dapat
menguap karena kesanggupan udara untuk menampungnya semakin besar (Zaelanie, 2004).
Menurut Murniyati dan Sunarman (2000), cara yang umum untuk mengeringkan ikan adalah
dengan menguapkan air dari tubuh ikan, yaitu dengan menggunakan tiupan udara panas.
Penguapan dimulai dari bagian permukaan, kemudian menjalar kebagian – bagian yang lebih
dalam. Kecepatan penguapan atau pengeringan ditentukan oleh factor – factor sebagai berikut:
- Kecepatan Udara, Makin cepat udara bertiup di atas ikan, makin cepat ikan menjadi kering.
- Temperatur Udara, Makin tinggi temperature, makin cepat ikan menjadi kering.
- Kelembapan Udara, Makin lembab udara, makin lambat ikan menjadi kering
- Ukuran dan Tebal Ikan, Makin tebal ikan, makin lambat ikan kering. Namun makin luas
permukaan ikamn, makin cepat ikan menjadi kering.
- Arah Aliran Udara Terhadap Ikan, Makin kecil sudut antara ikan dengan arah aliran
udara, makin cepat pengeringannya.
- Sifat Ikan, Makin ikan tersebut berlemak, makin lama dan sulit pengeringannya.

2.3 Proses Pengeringan


Menurut Suwarnadwipa dan Hendra (2008) proses pengeringan merupakan proses
perpindahan sejumlah massa uap air secara simultan, dengan membutuhkan energy untuk
menguapkan kandungan air yang dipindahkan dari permukaan bahan ke media pengering. Proses
berpindahnya sejumlah massa uap air karena adanya perbedaan konsentrasi uap air antara suatu
bahan dengan lingkungannya.
Proses pengeringan yang diperoleh dengan cara penguapan air. Cara tersebut dilakukan
dengan menurunkan kelembapan nisbi udara dengan memengalirkan udara penas disekeliling
bahan, sehingga tekanan uap air bahan lebih besar dari pada tekanan uap air di udara. Perbedaan
tekanan itu menyebabkan terjadinya aliran uap air dari bahan ke udara (Adawyah, 2006).
Selain perbedaan tekanan uap yang mempengaruhi proses pengeringan, menurut Setyoko et
al., (2008), Proses pengeringan ini dipengaruhi oleh suhu, kelembaban udara lingkungan,
kecepatan aliran udara pengering, kandungan air yang diinginkan, energi pengeringan dan
kapasitas pengeringan. Pengeringan yang terlampau cepat dapat merusak bahan sehubungan
permukaan bahan terlalu cepat kering sehingga kurang bisa diimbangi dengan kecepatan gerakan
air bahan menuju permukaan. Dan lebih lanjut, pengeringan cepat menyebabkan pengerasan
pada permukaan bahan sehingga air dalam bahan tidak dapat lagi menguap karena terhambat. Di
samping itu, kondisi pengeringan dengan suhu yang terlalu tinggi dapat merusak bahan.
Pengaturan suhu dan lamanya waktu pengeringan dilakukan dengan mem perhatikan kontak
antara alat pengering dengan alat pemanas (baik berupa udara panas yang dialirkan maupun alat
pemanas lainnya). Namun demi pertimbangan-pertim bangan standar gizi maka pemanasan
dianjurkan tidak lebih dari 850C.
2.4 Teknik Pengeringan
Munurut Murniyati dan Sunarman (2000), pada dasarnya, cara – cara pengeringam atau
pengurangan kadar air dapat dibagi menjadi dua golongan sebagai berikut:
a. Pengeringan Alami (natural drying)
b. Pengeringan Buatan (artificial drying) atau Pengeringan Mekanis (mechanical drying).

2.4.1 Pengeringan Alami


a. Pengeringan dengan Sinar Matahari
Menurut Handoyo et al., (2011), proses pengawetan yang sering dilakukan nelayan, terutama
di daerah Ujung Pandang, adalah dengan pengeringan tradisional setelah dibersihkan dan
digarami. Pengeringan dilakukan dengan menjemur ikan selama ± 3 hari jika cuaca cerah dan
membalik-balik ikan sebanyak 4 – 5 kali agar pengeringan merata. Pengeringan tradisional ini
memerlukan tempat yang luas karena ikan yang dikeringkan tidak bisa ditumpuk saat dijemur.
Pada saat udara luar terlalu kering dan panas, pengeringan dapat terjadi terlalu cepat sehingga
terjadi case hardening(permukaan daging ikan mengeras). Masalah lain adalah
kebersihan/higienitas ikan yang dikeringkan sangat kurang karena proses pengeringan dilakukan
di tempat terbuka yang memungkinkan dihinggapi debu dan lalat.
Cara tersebut memang sangat sederhana sehingga setiap orang dapat melaksanakannya
bahkan tanpa alat sekalipun, dikenal dengan penjemuran. Keuntungan pengeringan dengan
menggunakan sinar metahari tidak diperlukan penanganan khhusus dan mahal serta dapat
dikerjakan oleh siapa saja. Namun kelemahan dari pengeringan dengan menggunakan
sinarmatahari berjalan sangat lambat sehingga terjadi pembusukan sebelum menjadi kering.
Hasil pengeringan pun tidak merata dan pelaksanaan tergantung oleh alam. Jarang diperoleh ikan
kering yang berkualitas tinggi, selain itu memerlukan tempat yang luas dan udah terkontaminasi
(Adawyah, 2007).
Di dalam pengeringan alami yang hanya memanfaatkan sinar matahari dan angin, ikan
dijemur diatas rak – rak yang dipasang agak miring (±150) kearah datangnya angin, dan
diletakkan di bawah sinar matahari tempat angin bebas bertiup. Angin berfungsi memindahkan
uap air yang terlepas dari ikan ketempat lain, sehingga penguapan dapat berlangsung lebih cepat.
Tanpa ada pergerakan udara, misalnya jika penjemuran dilakukan pada tempat tertutup dan tidak
ada angin di tempat itu, maka pengerngan akan berjalan lambat. Bagitu halnya dengan intensitas
sinar matahari, Intensitas sinar matahari mempengaruhi kecepatan penguapan. Penguapan
berjalan lebih lambat apabila tidak ada sinar matahari (Murniyati dan Sunarman. 2000)
Menurut Zaelanie (2004), pada musim hujan, pengerigan ikan biasanya akan berjalan lebih
lambat, apalgi bila tidak ada angin. Hal ini sangat merugikan karena pembusukan sering kali
terjadi. Sebaliknya jika udara terlalu panas, pengeringan terlalu cepat sehingga dapat
tgerjadi case hardening yaitu pengerasan permukaan tubuh ikan tetapi bagiian dalamnya masih
basah. Kerugian akibat hal ini dapat di cegah dengan cara:
- Penjemuran dilakukan ditempat yang teduh (dibawah atap)
- Penjemuran secara periodic, misalnya ikan dijemur pada pagi sampai siang hari
kemudian diangkat dan sore hari dijemur lagi.

b. Pengeringan Rumah Kaca/Surya

Menurut Tapotubun dan fien (2008), Untuk mengetasi kontaminasi, pengeringan dapat
dilakukan dengan menggunakan rumah pengering surya berpelidung kasa yang tembus
cahayapada bagian atas sehingga pengeringan dapat berjalan dengan baik. Sedangkan untuk
bagian bawah dan samping digunakan kasa berwarna gelap atau hitam sehingga panas yang
masuk tidak langsung keluar tetapi terkumpul di rumah pengering sehingga proses pengeringan
berlangsung lebih cepat.
Dijelaskan pula dalam penelitian Handoyo et al., (2011), proses pengeringan ikan di
beberapa negara di Afrika, seperti di Negara Sao Tome and Principe, Negeria dan Congo telah
menggunakan pengering surya terutama setelah adanya kampanye untuk memperhatikan
kesehatan (terkait pengeringan tradisional yang kurang higienis) yang diadakan oleh kaum
wanita pada akhir tahun 2001. Pengering surya mempunyai keuntungan: sederhana, biaya rendah
dan tidak memerlukan banyak tenaga kerja. Waktu proses pengeringan dengan pengering surya
dapat berkurang sebanyak 65% dibanding pengeringan tradisional yang hanya menggunakan
sinar matahari di tempat terbuka. Dengan pengering surya, ikan yang telah dikeringkan punya
kualitas lebih baik dan bahkan harga jual meningkat 20% dibanding sebelumnya di Sao Tome
and Principe. Pengering surya untuk ikan dapat berupa ruang kaca yang memanfaatkan efek
rumah kaca (green-house effect) dan dapat pula menggunakan kolektor surya yang dihubungkan
dengan ruang pengering.
Suhu dalam ruangan dapat ditingkatkan dengan penggunaan bidang warna hitam. Bidang
hitam (misalnya:lembaran plastic hitam) bersifat menyerap panas lebih cepat. Lembaran plastic
warna hitam ini dapat dijadikan sebagai alas rak – rak penjemur ikan dan dapat juga diletakkan
di sebagian dinding. Sisi yang hitam diletakkan di bagian barat pada pagi hari dan di bagian
timur pada sore hari. Pengering rumah kaca ini sangat bermanfaat dalam upaya peningkatan
hygiene. Gangguan lalat, kontaminasi debu, dan kotoran dapat diminimalisasi. Manfaat lain
adalah ketika musim hujan, air hujan tidak akan membasahi ikan dan kita tidak perlu
memindahkan ikan ketempat yang teduh (Zaelanie et al., 2004).

2.4.2 Pengeringan Buatan


a. Pengeringan mekanis
Menurut Murniyati dan Sunarman (2000), karena banyaknya kesultan- kesulitan yang
didapat pada pengeringan secara alami, maka manusia telah mencoba membuat peralatan untuk
memperoleh hasil yang lebih baik dengan cara yang lebih efisien. Alat pengering mekanis berupa
suatu ruang atau cabinet dengan udara panas yang ditiupkan didalamnya. Hal – hal pokok yang
membuat pengeringan mekanis ini lebih baik daripada pengeringan alami ialah:
1. Suhu, kelembapan, dan kecepatan angin dapat diukur
2. Sanitasi dan hygiene dapat lebih mudah dikendalikan
Disambung penjelasan menurut Zaelanie (2004), pemanasan udara dalam pengering mekanis
(dryer) dapat dilakukan menggunakan:
· Pipa-pipa yang berisi uap panas didalamnya
· Logam atau batu yang dipanaskan dengan api
· Elemen pemanas listrik
· Pemindahan panas dengan mesin pendingin
Udara dalam dryer disirkulasikan dengan blower (kipas angin) yang terletak didalam ruangan
atau di dinding. Kecepatan udara yang optimal adalh 70 – 100 m/menit. Semua iakn
dalam dryer diusahakan mengalami pengeringan yang merata.
Ditambahkan menurut Adawyah (2007), cara pengeringannya yaitu udara dipanaskan
kemudian dialirkan kedalam ruangan yang berisi ikan dalam rak-rak pengering melalui
pertolongan kipas angin. Setelah cukup kering, ikan dikeluarkan dan diganti dengan ikan yang
lainnya, demikian dilakukan terus menerus. Di Indonesia pernah dicoba alat pengering berbentuk
trowongan (tunnel dryer), bentuk lemari (cabinet dryer), dan cool dryer.
Digambarkan dalam penelitian Haryanto et al., (2008) bahwa alat pengering tipe cabinet
(cabinet dryer) dalam skala kecil berkapasitas 5 kg. spesifikasi alat pengering ini adalah berupa
kotak bertingkat, bagian bawah utuk pengeringan dan bagian atas untuk sirkulasi pengembalian
udara. Dimensi panjang kabin 190 cn, lebar 65 cm, tinggi 97 cm. Udara pengering di
sirkulasikan dengan 9 buah kipas berdiameter 12 cm dengan kecepata 1,1 m/s. Udara pengering
didehumidifikasikan dengan dehumifier yang dibuat dari modifikasi AC dengan kompresor 0,5
PK. Sumber pemanas menggunakan elemen lampu inframerah sebanyak 3 buah masing-masing
berdaya 1500W dilengkapi dengan thermosfat. Try untuk pengeringan berukuran 40x35 cm
disusun bertingkat 11 dengan jarak antar tingkat 4 cm.

b. Pengeringan vakum
Pengeringan vakum merupakan salah satu cara pengeringan bahan dalam suatu ruangan yang
tekanannya lebih rendah dibanding tekanan udara atmosfir. Pengeringan dapat berlangsung
dalam waktu relatif cepat walaupun pada suhu yang lebih rendah daripada pengeringan atmosfir.
Dengan tekanan uap air dalam udara yang lebih rendah, air pada bahan akan menguap pada suhu
rendah (Astuti, 2008).

Ditambahkan penjelasan menurut Zaelanie et al., (2004), Ikan bisa juga dikeringakan dengan
menggunakan suhu di bawah titik beku. Dalam hal ini, air dalam tubuh ikan terlebih dahulu
dibekukan kemudian disublimasikan dengan bantuan pompa hampa. Jadi ikan dikeringkan dalam
keadan beku hampa. Kelebihan dari metode ini adalah ikan lebih ringan karena lebih banyak air
yang keluar dan tahan lama, serta proses pengeringan berjalan lebih cepat. Akan tetapi metode
vakum belum bias dijalankan secara ekonomis karena alatnya yang relative mahal. Cara kerja
dari pengeringan metode vakum ini sebagai berikut:
- Ikan yang akan dikeringkan, dimasukkan kedalam ruang pengeringan.
- Tekanan dalam ruang pengering kemudian diturunkan dengan pompa hampa kira – kira
menjadi 2mmHg. Penurunan tekanan ini menyebabkan penurunan temperature sehingga ikan
membeku, sebab dengan tekanan tersebut sehu menjadi -100C
- Ikan yang beku mengalami pengeringan karena es di dalam tubuh ikan merubah menjadi uap
air (menyublim) sebagai akibat tekanan yang rendah. Akhirnya ikan akan menjadi lebih ringan
- Uap air yang terjadi masuk kedalam kondensor dan dirubah menjadi es dengan bantuan dari
refrigerator

Tabel Perbedaan Pengeringan Tekanan Normal dengan Hampa Udara


Parameter Tekanan Normal Hampa Udara
Tekanan 760 mmHg 2 mmHg
Waktu 146 jam 11 jam
Air yang 78,5% 79,2%
hilang

3. PENUTUP
3.1 Kesimpulan
- Pengeringan merupakan proses penurunan kadar air bahan sampai mencapai kadar air
tertentu sehingga dapat memperlambat laju kerusakan produk akibat aktivitas biologi dan kimia,
sehingga dapat memperlambat kerusakan bahan pangan.
- Pada prinsipnya, pengeringan merupakan cara pengawetan ikan dengan mengurangi
kandungan air dari bahan.
- Beberapa factor yang mempengaruhi kecepatan perngeringan, seperti luas permukaan ikan,
ukuran ikan, kecepatan arus angin, dan wet bulb depression.
- Teknik pengeringan secara mekanis lebih efektif, efisien, hygiene, dan tidak tergantung
dengan cuaca.

3.2 Saran

Semoga dengan adanya tugas dasar pengawetan ini dengan materi pengeringan kami
dapat memahami lebih luas tentang jenis- jenis pengeringan secara lebih mendalam, dan kita
juga teliti dan jeli lagi dalam mengerjakan tugas ini,agar hasil yang kita peroleh lebih efektif dan
lebih baik.

DAFTAR PUSTAKA

Adawyah,M.P.Ir Rabiatul.2007. Pengolahan dan Pengawetan Ikan.

Astutik,Sri Mulia 2008. Teknik Pengeringan Bawang Merah Dengan Cara Perlakuan Suhu dan
Tekanan Fakum. Buletin Teknik Pertanian Vol. 13 No. 2

Handoyo, Ekadewi A; Philip Kristanto; Suryanty Alwi. 2011.Desain dan Pengujian Sistim
Pengering Ikan Bertenaga Surya.Jurusan Teknik Mesin,Fakultas Teknologi Industri
Universitas Kristen Petra.

Hasibun Rosdaneli, 2005. Proses Pengeringan. Program Studi Teknik Kimia Fakultas Teknik
Sumatra Utara

Murniyati dan Sunarman. 2000.

Pinem, 2004. Rancang Bangun Alat Pengeringan Ikan Teri Kapasitas 12kg/jam. Staf Pengajar
Jurusan Teknik Mesin. Politeknik Negeri Malang. Jurnal Teknik SIMETRIKA Vol.3. No.3. 249-
253

Setyoko Bambang,Senen,Seno Darmanto, 2008. Pengeringan ikan teri dengan system vakum dan
paksa. Edisi XI, No 1 Pebruari 2008.
Suwarnadwipa dan Hendra. 2008. Pengeringan jamur dengan dehumidifier.Jurusan Teknik Mesimn
Uiversitasa Udayana, Kampus Bukit Jimbaran Bali.
Tapotubun A.M. dan Fien Soedirjo. 2008. Pengaruh Waktu Pengeringan Terhadap Kwalitas
Dendeng Ikan Rucah Selma Penyimpanan. Seminar Nasional Tahunan V Hasil Penelitian
Perikananan dan Kelautan, 26 Juli 2008.
Zaelanie Kartini,MP,Rahma Nurdiani,SPi MAppSc,Ir.Sridayuti.2004. Diktat Matakuliah Teknologi
Hasil Perikanan I Fakultas Universitas Brawijaya Malang.