Sunteți pe pagina 1din 7

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Kulit Udang

Limbah kulit udang terdiri dari tiga komponen utama yaitu protein (25%-

44%), kalsium karbonat (45%-50%), dan kitin (15%-20%) (Fohcher 1992).

Kandungan kitin pada limbah kulit udang sekitar 20%-50% berat kering. Polimer

kitin tersusun dari monomer monomer; 2-asetamida-2-deoksi-D-Glukosa (N-asetil

glukosamin) (Horton 2002). Ikatan antara monomer kitin adalah ikatan glikosida

pada posisi β- (1-4). Struktur molekul kitin berupa rantai lurus panjang. Kitin

merupakan polimer alam terbanyak di dunia setelah selulosa (Edward, 2016).

2.2 Kitin

Kitin berasal dari bahasa yunani chitin, yang berarti kulit kuku. Yang

merupakan komponen utama dari eksoskeleton invertebrata, crustacea, insekta,

dimana komponen ini berfungsi sebagai komponen penyokong dan pelindung.

Adanya kitin dapat dideteksi dengan reaksi warna Van Wesslink. Pada cara ini

kitin direaksikan dengan I2-KI yang memberikan warna coklat, kemudian jika

ditambahkan asam sulfat berubah warnanya menjadi violet. Perubahan warna dari

coklat hingga menjadi violet menunjukkan reaksi positif adanya kitin (Fahry,

2012).

Di alam, kitin dikenal sebagai polisakarida yang paling melimpah setelah

selulosa. Kitin umumnya banyak dijumpai pada hewan avertebrata laut, darat, dan

jamur dari genus Mucor, Phycomyces, dan Saccharomyces (Hirano, 1986; Knorr,

1991). Pada umumnya kitin tidak terdapat dalam keadaan bebas di alam, kitin
berikatan dengan protein, mineral dan beberapa pigmen. Kitin merupakan

homopolimer dari residu Nasetil- D–glukosamin yang terikat melalui ikatan β-1,4

glikosidik (Gambar 1). Kitin ini merupakan sumber daya alam yang dapat

diperbaharui dan paling melimpah setelah selulosa.

Kitin adalah polimer polimer linier dengan rantai panjang tanpa rantai

samping yang tersusun dari 2-asetamido-2-deoksi-β-D-glukosa yang berikatan

glikosidik 1-4. Secara kimia kitin diidentifikasikan mempunyai kemiripan dengan

selulosa, persamaannya adalah adanya ikatan monomer yaitu ikatan glikosida

pada posisi (1-4). Perbedaan keduanya adalah gugus hidroksil pada atom karbon

alfa pada molekul selulosa digantikan dengan gugus asetamida pada molekul

kitin, pada atom C nomor 2 pada setiap monomer pada selulosa terikat gugus

hidroksil (–OH), sedangkan pada kitin berupa gugus asetamida (–NHCOCH)

(Purwanti, 2014).
2.2.1 Sifat Fisik Kitin

Secara umum kitin (C8H13 O5N)n mempunyai bentuk fisis berupa kristal

berwarna putih hingga kuning muda, tidak memiliki rasa, tidak berbau dan

memiliki berat molekul yang besar dengan nama kimia Poly N-acetyl-D-

glucosamine (atau beta (1-4) 2-acetamido-2- deoxy-D-glucose.

2.2.2 Sifat Kimia Kitin

Kitin adalah senyawa yang stabil terhadap reaksi kimia, rendahnya

reaktivitas kimia,tidak beracun (non toxic) dan bersifat biodegradable. Kitin tidak

larut dalam air (bersifat hidrofobik), dalam alkohol serta tidak larut dalam asam

maupun alkali encer. Kitin dapat larut dengan proses degradasi mengglmakan

asam-asam mineral pekat pada asam formiat anhidrous, namun tidak jelas apakah

semua jenis kitin dapat larut dalam asan formiat anhidrous. Mudah tidalmya kitin

terlarut sangat tergantung pada derajat kristalisasi, karena hanya B-kitin yang

terlarut dalam asam formiat anhidrous. Sifat kelarutan, derajat berat molekul,

kelengkapan gugus asetil berbeda-beda menurut sumber bahan dan metode yang

diterapkan (Rianta, 2014).

2.3 Kitosan

Kitosan merupakan turunan dari kitin dengan struktur [β-(1-4)-2-amina -2-

deoksi-Dglukosa] merupakan hasil dari deasetilasi kitin. Kitosan merupakan

suatu polimer yang bersifat polikationik. Keberadaan gugus hidroksil dan amino

sepanjang rantai polimer mengakibatkan kitosan sangat efektif mengikat kation

ion logam berat maupun kation dari zat-zat organik (protein dan lemak). Interaksi
kation logam dengan kitosan terjadi melalui pembentukan kelat koordinasi oleh

atom N gugus amino dan O gugus hidroksil (Taolee et al., 2001). Kitosan juga

dapat membentuk sebuah membran yang berfungsi sebagai adsorben pada waktu

terjadinya pengikatan zat-zat organik maupun anorganik oleh kitosan. Hal ini

yang menyebabkan kitosan lebih banyak manfaatnya dibandingkan dengan kitin

(Agustina, 2015)

Kitosan mempunyai nama kimia Poly d-glucosamine (beta(1-4) 2-amino-

2-deoxy-D-glucose dengan struktur sebagai berikut:

Chitosan (2-amino-2-deoksi- D-glukopiranosa) adalah senyawa turunan

dari chitin (N-asetil-2-amino- 2-deoksi-D-glukopiranosa) yang terdeasetilasi pada

gugus nitrogennya (Anonim, 1998). Chitosan memiliki beberapa manfaat bagi

manusia, sehingga merupakan bahan perdagangan yang memiliki nilai ekonomi

yang tinggi. Manfaat chitosan antara lain adalah:

1) dalam bidang pertanian, chitosan menawarkan alternatif alami dalam

penggunaan bahan kimia yang terkadang berbahaya bagi lingkungan dan

manusia. Chitosan membuat mekanisme pertahanan pada tumbuhan (seperti

vaksin bagi manusia), menstimulasi pertumbuhan dan merangsang enzim


tertentu (sintesa fitoaleksin, chitinase, pectinnase, glucanase dan lignin).

Pengontrol organik baru ini menawarkan pendekatan sebagai alat biokontrol;

2) dalam bidang pengolahan air, chitosan dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku

pembuatan membran ultrafiltrasi;

3) dalam bidang makanan, chitosan sudah banyak digunakan dalam komposisi

makanan di Jepang, Eropa dan Amerika Serikat, sebagai perangkap lemak yang

merupakan terobosan dalam bidang diet; dan

4) dalam bidang kesehatan, chitosan digunakan untuk bakteriostatik, immunologi,

anti tumor, cicatrizant, homeostatic dan anti koagulan, obat salep untuk luka,

ilmu pengobatan mata, ortopedi dan penyembuhan jahitan akibat pembedahan.

(Kusumawati, 2009).

Kitosan memiliki sifat reaktivitas kimia yang tinggi sehingga mampu

mengikat air dan minyak. Hal ini didukung oleh adanya gugus polar dan non polar

yang dikandungnya. Karena kemampuan tersebut, kitosan dapat digunakan

sebagai bahan pengental atau pembentuk gel yang sangat baik, sebagai pengikat,

penstabil, dan pembentuk tekstur (Nuralam, 2012).

Kitosan dapat diperoleh melalui tiga tahapan proses yaitu tahap

deproteinasi, demineralisasi, dan deasetilasi. Proses pembuatan kitosan diawali

dengan pengecilan ukuran kulit udang dan cangkang kepiting, yang dilanjutkan

dengan proses penghilangan protein (tahap deproteinasi). Proses penghilangan

protein ini dilakukan dengan melarutkan kulit udang dan cangkang kepiting ke

dalam natrium hidroksida (NaOH). Selanjutnya dilakukan proses penghilangan

mineral dengan melarutkan ke dalam asam klorida (HCl). Setelah melalui kedua
proses ini maka terbentuklah yang disebut kitin. Ekstraksi kitin yang dihasilkan

kemudian dilanjutkan ke proses deasetilasi sehingga diperoleh kitosan. Proses

penghilangan gugus asetil pada kitin untuk mengubah kitin menjadi kitosan dapat

dilakukan dengan menggunakan larutan basa pekat (Diana, 2015).

2.3.1Sifat Fisik dan Kimia Kitosan

Sifat dan penampilan produk kitosan dipengaruhi oleh perbedaan kondisi,

seperti jenis pelarut, konsentrasi, waktu, dan suhu proses ekstraksi. Kitosan

berwamai putih kecoklatan. Kitosan dapat diperoleh dengan berbagai macam

bentuk morfologi diantaranya struktur yang tidak teratur, bentuknya kristalin atau

semikristalin. Selain itu dapat juga berbentuk padatan amorf berwarna putih

dengan struktur kristal tetap dari bentuk awal chitin murni. Kitosan mempunyai

rantai yang lebih pendek daripada rantiai kitin. Kelarutan kitosan dalam larutan

asam serta viscositas larutannya tergantung dari derajat deasetilasi dan derajat

degradasi polimer. Suatu molekul dikatakan chitosan bila nitrogen yang

terkandung pada molekulnya lebih besar dari 7% berat dan dcrajad deaselilasi

(DD) lebih dari 70% (Elin, 2013).


DAFTAR PUSTAKA

Fahry, A Rasydi. 2012. Pemanfaatan Limbah Kulit Udang dan Limbah Kulit Ari
Singkong Sebagai Bahan Baku Pembuatan Plastik Biodegradable. Jurnal
Teknik Kimia. Vol 18(3).

Nuralam, Endorasa., dkk. 2012. Pemanfaatan Limbah Kulit Kepiting Menjadi


Kitosan Sebagai Penjernih Air pada Air Rawa dan Air Sungai. Jurnal
Teknik Kimia. Vol 18(4).

Kusumawati, Nita. 2009. Pemanfaatan Limbah Kulit Udang Sebagai Bahan Baku
Pembuatan Membran Ultrafiltrasi. Jurnal Inotek. Vol 13(2).

Purwanti, Ani. 2014. Evaluasi Proses Pengolahan Limbah Kulit Udang Untuk
Meningkatkan Mutu Kitosan yang Dihasilkan. Jurnal Teknologi. Vol 7(1).

Trisnawati, Elin., dkk. 2013. Pembuatan Kitosan dari Kulit Cangkang Kepiting
Sebagai Bahan Pengawet Buah Duku dengan Variasi Lama Pengawetan.
Jurnal Teknik Kimia. Vol 19(2).

Sari, P Diana., Abdiani Maya Ira. 2015. Pemanfaatan Kulit Udang dan Cangkang
Kepiting Sebagai Bahan Baku Kitosan. Jurnal Teknik Kimia. Vol 18(3).

Dompeipen, J Edward., dkk. 2016. Isolasi Kitin dan Kitosan dari Limbah Kulit
Udang. Majalah BIAM. Vol 12(1).

Agustina, Sry. 2015. Isolasi Kitin, Karakterisasi, dan Sintesis Kitosan dari Kulit
Udang. Jurnal Kimia. Vol 9(2).

Pratiwi, Rianta. 2014. Manfaat Kitin dan Kitosan dalam Kehidupan Manusia.
Jurnal OseanaI. Vol 39(1).