Sunteți pe pagina 1din 35

LAPORAN KEGIATAN PPDH

ROTASI PARASITOLOGI VETERINER


UNIVERSITAS AIRLANGGA

Oleh :
Adhika Rifqi Pangestika, S.KH
150130100111003

PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI DOKTER HEWAN


PROGRAM KEDOKTERAN HEWAN
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG
2016
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar belakang
Lokasi Indonesia yang berada pada garis khatulistiwa merupakan lokasi strategis bagi
dunia peternakan. Lokasi beriklim tropis merupakan iklim yang cocok untuk berbagai macam
peternakan baik perunggasan, ruminansia, maupun aquatik dan satwa liar. Tidak dipungkiri
semakin meningkatnya pengetahuan masyarakat, maka semakin memingkat pula kesadaran
masyarakat akan pentingnya kesehatan hewan demi kesehatan manusia. Suhu dan
kelembaban yang tinggi menjadi kunci utama dalam pemeliharaan kesehatan hewan di
Indonesia. Perubahan suhu dan iklim yang fluktuatif menyebabkan penyakit menyebar secara
cepat.
Penyakit akibat parasit memiliki angka prevalensi yang paling tinggi di dunia
peternakan (Tjitra et al., 2008) karena penyakit ini disebarkan oleh vektor mekanik maupun
vektor biologis. Selain itu infeksi parasit menimbulkan gejala ringan atau berlangsung tanpa
gejala. Telah banyak upaya yang dilakukan untuk pemberantasan penyakit ini tetapi sampai
sekarang belum terlihat hasil memuaskan. Upaya yang harus dilakukan pertama kali adalah
mengidentifikasi parasit terlebih dahulu. Identifikasi parasit yang tepat memerlukan
pengalaman dalam membedakan sifat sebagai spesies, parasit, kista, telur, larva, dan juga
memerlukan pengetahuan tentang berbagai bentuk pseudoparasit dan artefak yang mungkin
dikira suatu parasit. Identifikasi parasit juga bergantung pada persiapan bahan yang baik
untuk pemeriksaan baik dalam keadaan hidup maupun sediaan yang telah di pulas. Bahan
yang akan di periksa tergantung dari jenis parasitnya, untuk cacing atau protozoa usus maka
bahan yang akan di periksa adalah tinja atau feses, sedangkan parasit darah dan jaringan
dengan cara biopsi, kerokan kulit maupun imunologis (Kadarsan, 1983).
Parasit dapat dibedakan menjadi dua yaitu ektoparasit dan endoparasit. Ektoparasit
adalah parasit yang hidup pada permukaan luar tubuh inang, atau di dalam liang-liang kulit
yang mempunyai hubungan dengan dunia luar. Sedangkan endoparasit yaitu parasit yang
hidup pada organ seperti hati, limpha, otak, sistem pencernaan, sirkulasi darah, pernafasan,
dalam rongga perut, otot, daging, dan jaringan tubuh lain (Purbomartono dkk, 2010).
Endoparasit menurut Griffiths (1991) dapat diartikan sebagai parasit yang hidup di dalam
tubuh induk semang seperti helminth dan protozoa. Dalam laporan ini akan dijelaskan
mengenai Railleitina tetragona, Ascaridia galli, Fasciola gigantica, Haemoproteus
columbae, Trichomonas gallinae, Menopon gallinae dan Tabanus rubidus.

1
1.2 Rumusan masalah
1. Jenis parasit apakah yang ditemukan di lapangan ?
2. Bagaimana cara isolasi dan identifikasi parasit tersebut?
3. Bagaimana cara mendiagnosa penyakit parasit sehingga dapat mengambil tindakan

terapi yang tepat?

1.3 Tujuan
1. Mengetahui jenis parasit dan cara isolasi serta identifikasi parsit yang berada di
lingkungan peternakan.

2
BAB II
METODOLOGI

3.1 Isolasi dan Identifikasi Helmintes


Isolasi telur cacing dilakukan dengan cara mengambil sampel feses dan dimasukkan ke
dalam pot sampel yang telah ditambahkan formalin 5%. Selanjutnya dilakukan pemeriksaan
telur cacaing dengan metode sebagai berikut :
3.1.1 Pemeriksaan Telur Cacing pada Feses dengan Metode Natif
Pemeriksaan telur cacing pada feses dengan metode natif dilakukan dengan cara sebagai
berikut :
 Sampel feses dioleskan secukupnya pada objek glass steril meggunakan lidi.
 Diteteskan 1-2 tetes air pada feses tersebut, kemudian diaduk dengan lidi.
 Selanjutnya objek glass ditutup dengan cover glass dan diamati dengan mikroskop
dengan pembesaran 100X.

3.1.2 Pemeriksaan Telur Cacing pada Feses dengan Metode Sedimentasi


Pemeriksaan telur cacing pada feses dengan metode sedimentasi dilakukan dengan cara
sebagai berikut :
 Dilakukan pembuatan suspensi dengan perbandingan satu bagian feses dan 10 bagian air .
 Suspensi disaring dengan saringan teh dan filtrat yang didapat ditampung pada gelas
plastik.
 Filtrat dimasukkan ke dalam tabung, kemudian disentrifugasi dengan kecepatan 1500 rpm
selama 2-5 menit.
 Setelah disentrifuse supernatan (bagian jernih) dibuang dan diganti dengan air kemudian
dilakukan sentrifugasi ulang untuk memperoleh supernatan yang jernih.
 Selanjutnya supernatan dibuang dan diambil sedimen yang tersisa.
 Dilakukan pengambilan sedimen menggunakan pipet Pasteur dan diteteskan pada objek
glass.
 Objek glass ditutup dengan cover glass dan dilakukan pengamatan menggunakan
mikroskop dengan pembesaran 100X.

3
3.1.3 Pemeriksaan Telur Cacing pada Feses dengan Metode Apung
Pemeriksaan telur cacing pada feses dengan metode apung dilakukan dengan cara sebagai
berikut :
 Dilakukan pembuatan suspensi dengan perbandingan satu bagian feses dan 10 bagian air
 Suspensi disaring dengan saringan teh dan filtrat yang didapat ditampung pada gelas
plastik.
 Filtrat dimasukkan ke dalam tabung, kemudian disentrifugasi dengan kecepatan 1500
rpm selama 2-5 menit.
 Setelah disentrifuse supernatan (bagian jernih) dibuang dan diganti dengan air kemudian
dilakukan sentrifugasi ulang untuk memperoleh supernatan yang jernih.
 Selanjutnya supernatan dibuang dan diganti larutan gula jenuh hingga 1 cm dari mulut
tabung, lalu disentrifugasi dengan cara yang sama.
 Tabung diletakkan pada rak tabung dan ditetesi dengan larutan gula jenuh sampai cairan
terlihat cembung pada mulut tabung sentrifugasi.
 Tabung ditutup dengan cover glass dan dibiarkan 1-2 menit.
 Cover glass diambil dan ditempelkan pada objek glass, kemudian diamati menggunakan
mikroskop dengan perbesaran 100X.

3.1.4 Pemeriksaan Saluran Pencernaan Unggas


Pemeriksaan saluran pencernaan unggas dilakukan dengan cara sebagai berikut :
 Saluran pencernaan yang disediakan diuraikan hingga membentuk saluran yang panjang.
 Saluran pencernaan kemudian dibedah menggunakan scalpel dan atau gunting untuk
menemukan cacing pada masing masing bagian.
 Cacing yang ditemukan pada masing masing bagian disimpan pada larutan PZ. Cacing
yang ditemukan kemudian dibagi menjadi dua untuk pembuatan preparat kering /
preparat permanen dan preparat basah.
 Dilakukan kerokan / scraping pada mukosa usus menggunakan scalpel untuk
menemukan adanya telur cacing.
 Dilakukan pula pengambilan sampel feses pada masing masing bagian saluran
pencernaan dan dilakukan pemeriksaan telur cacing menggunakan tiga metode tersebut
diatas.
 Cacing di temukan selanjutnya diidentifikasi.

4
3.1.5 Pembuatan Preparat Permanen Helminthes Kering
Pembuatan preparat permanen helminthes kering dilakukan dengan cara sebagai berikut :
 Cacing yang ditemukan pada pembedahan saluran pencernaan difiksasi dengan cara
menjepit cacing diantara dua objek glass. Kedua ujung objek glass diikat dengan tali
rafia.
 Objek glass dan cacing dimasukkan ke dalam larutan alcohol gliceryn 5% selama 24 jam.
 Kemudian objek glass dan cacing dimasukkan ke dalam alcohol 70% selama 5 menit.
 Objek glass dan cacing dipindahkan ke dalam larutan carmine selama ±8 jam tergantung
ketebalan kutikula cacing.
 Cacing dilepaskan dari fiksasi dan dimasukkan ke dalam alcohol asam selama 2 menit,
kemudian dipindahkan ke dalam larutan alcohol basa selama 20 menit.
 Selanjutnya dilakukan dehidrasi bertingkat dengan alcohol, dengan dimasukkan dalam
alkohol 70% selama 5 menit, alkohol 85% selama 5 menit, dan alkohol 95% selama 5
menit.
 Dilakukan mounting dengan larutan Hung's I selama 20 menit.
 Cacing diambil dari larutan Hung's I, diletakkan pada objek glass yang bersih dan
diteteskan larutan Hung's II diatas cacing tersebut, kemudian ditutup dengan cover glass.
 Preparat permanen dikeringkan dalam inkubator pada suhu 370 C, dan dikeringkan pada
suhu ruangan.
 Preparat cacing permanen diamati menggunakan mikroskop

2.2 Isolasi dan Identifikasi Arthropoda


2.2.1.Koleksi Arthropoda
Koleksi arthropoda dilakukan dengan cara sebagai berikut :
- Koleksi lalat dilakukan menggunakan alat berupa jaring insekta.
- Koleksi kutu dilakukan dengan memeriksa bulu secara teliti.
- Koleksi pinjal dilakukan dengan memeriksa bulu secara teliti
- Pengumpulan tungau dilakukan dengan cara mengerok kulit hewan hingga timbul
perembesan darah. Kerokan kulit dicampur dengan formalin 5% untuk diawetkan dalam
keadaan basah, sedangkan untuk pemeriksaan langsung kerokan kulit dicampur KOH
10% selama 5 menit kemudian ditutup dengan cover glass dan diamati menggunakan
mikroskop.
- Pengumpulan caplak dilakukan dengan memeriksa bulu secara teliti.

5
2.2.2. Pengawetan Kering Arthropoda
Pengawetan kering dilakukan dengan metode pinning. Pinning dilakukan dengan langkah-
langkah sebaagai berikut:
 Arthropoda dimatikan dengan menggunakan chloroform.
 Sayap arthropoda dikembangkan dan kaki ditata untuk mempermudah pengamatan.
 Dilakukan penusukan pada bagian thorax diantara sayap dan garis tengah tubuh
arthropoda.
 Lalat yang telah di pinning ditusukkan pada pinning blok (sterofoam).
 Untuk Arthropoda kecil diletakkan di atas ujung kerjas segitiga dan ditempel
menggunakan canada balsem. Pin dilakukan pada kertas tersebut.
 Selanjutnya dilakukan identifikasi dengan menggunakan stereo mikroskop atau loop
mikroiskop.
 Hasil identifikasi arthropoda ditandai dengan pemberian label (nama spesies/genus,
predileksi/inang, nama kolektor, tanggal dan lokasi pengambilan)
 Arthropoda dikeringkan dalam oven 50-600 C selama 24 jam.
 Penyimpanan hasil pinning dengan cara meletakkan blok pinning pada kotak
penyimpanan yang telah diberikan kapur barus.

2.2.3 Pengawetan Basah Arthropoda


Pengawetan basah arthropoda dapat dilakukan dengan pengawetan permanen dengan
pewarnaan dan pengawetan permanen tanpa pewarnaan. Langkah pengawetan basah
arthropoda adalah sebagai berikut :
a. Pengawetan Arthropoda Permanen tanpa Pewarnaan
 Arthropoda dimasukkan ke dalam tabung reaksi yang berisi KOH 10% kemudian
dipanaskan dalam air yang mendidih selama 1 jam atau lebih hingga arthropoda tampak
transparan.
 Arthropoda selanjutnya dimasukkan ke dalam alkohol dengan konsentrasi berturut-turut
30, 50, 70, 95, 96% masing-masing 3 menit selanjutnya dicelupkan ke dalam xylol dalam
waktu 1 menit.
 Arthropoda diangkat dan diletakkan di atas objek glass dan direkatkan dengan pemberian
canada balsem selanjutnya ditutup dengan cover glass.
 Preparat diberi label dan diinkubasi dalam inkubator untuk dikeringkan
 Preparat diamati menggunakan mikroskop dengan perbesaran 40-100X

6
b. Pengawetan Arthropoda Permanen dengan Pewarnaan
 Arthropoda dimasukkan ke dalam tabung reaksi yang berisi KOH 10% kemudian
dipanaskan dalam air yang mendidih selama 1 jam atau lebih hingga arthropoda tampak
transparan.
 Arthropoda dicuci dengan aquadest sebanyak 2X.
 Selanjutnya direndam dalam alkohol 95% selama 10 menit.
 Arthropoda dipidahkan ke dalam acid fuchsin selama 30 menit.
 Dilanjutkan dengan perendaman dalam alkohol 95% selama 2 menit.
 Arthropoda dipindahkan ke dalam alkohol 95% + xylol dengan perbandingan sama
banyak selama 5 menit.
 Dilanjutkan dengan perendaman pada xylol selama 1 menit.
 Arthropoda yang telah diwarnai diletakkan di atas objek glass, direkatkan menggunakan
canada balsem dan ditutup menggunakan cover glass.
 Preparat yang telah jadi diberi label dan diinkubasi pada incubator selama 24-48 jam
 Preparat yang telah kering diamati menggunakan mikroskop dengan perbesaran 40-
100X.

2.3 Isolasi dan Indentifikasi Protozoa


Isolasi sampel feses untuk pemeriksaan protozoa dilakukan dengan cara mengambil
sampel feses dan dimasukkan ke dalam pot sampel tanpa menambahkan apapun. Selanjutnya
dilakukan pemeriksaan telur cacaing dengan metode sebagai berikut :
2.3.1.Pemeriksaan Protozoa pada Feses dengan Metode Natif
Pemeriksaan protozoa pada feses dengan metode natif dilakukan dengan cara sebagai berikut:
 Pada objek glass diteteskan 1 tetes air dan ditambahkan sedikit feses selanjutnya
dicampurkan keduanya hingga merata
 Objek glass ditutup dengan cover glass dan diamati menggunakan mikroskop dengan
perbesaran 400-1000X

2.3.2.Pemeriksaan Protozoa pada Feses dengan Metode Sedimen


Pemeriksaan protozoa pada feses dengan metode sedimen dilakukan dengan cara sebagai
berikut
 Dilarutkan 1 bagian feses dengan 10 bagian air, kenudian disaring larutan feses dengan
saringan (kain kasa)

7
 Filtrat hasil saringan dimasukkan ke dalam tabung sentrifus dan dilakukan sentrifugasi
1500 rpm selama 5-10 menit.
 Supernatan hasil sentrifugasi dibuang dan ditambahkan air dalam jumlah yang sama.
Dilakukan sentrifugasi ulang kemudian dibuang lagi supernatannya.
 Apabila telah mendapatkan supernatant yang bersih, supernatant dibuang dan disisakan
sedikit cairan pada tabung.
 Diambil satu tetes cairan dan diteteskan di atas objek glass selanjutnya ditutup dengan
cover glass.
 Dilakukan pengamatan menggunakan mikroskop dengan perbesaran 400-1000X.

2.3.3.Pemeriksaan Protozoa pada Feses dengan Metode Apung


Pemeriksaan protozoa pada feses dengan metode apung dilakukan dengan cara sebagai
berikut :
 Dilakukan pembuatan suspensi dengan perbandingan satu bagian feses dan 10 bagian air
 Suspensi disaring dengan saringan teh dan filtrat yang didapat ditampung pada gelas
plastik.
 Filtrat dimasukkan ke dalam tabung, kemudian disentrifugasi dengan kecepatan 1500
rpm selama 2-5 menit.
 Setelah disentrifuse supernatan (bagian jernih) dibuang dan diganti dengan air kemudian
dilakukan sentrifugasi ulang untuk memperoleh supernatan yang jernih.
 Selanjutnya supernatan dibuang dan diganti larutan gula jenuh hingga 2/3 tabung, lalu
disentrifugasi dengan cara yang sama.
 Tabung diletakkan pada rak tabung dan ditetesi dengan larutan gula jenuh sampai cairan
terlihat cembung pada mulut tabung sentrifugasi.
 Tabung ditutup dengan cover glass dan dibiarkan 1-2 menit.
 Cover glass diambil dan ditempelkan pada objek glass, kemudian diamati menggunakan
mikroskop dengan perbesaran 400-1000X.

2.3.4 Pemeriksaan Protozoa Darah dengan Metode Pembuatan Ulas Darah Tipis
Metode pembuatan ulas darah tipis untuk pemeriksaan protozoa darah dilakukan dengan cara
sebagai berikut :
 Disiapkan dua objek glass untuk tempat darah dan objek glass untuk penggulas darah.
 Diteteskan satu tetes darah pada ujung objek glass pertama .

8
 Dilakukan pengulasan menggunakan objek glass pengulas dengan cara membentuk sudut
30-450 pada salah satu ujung objek glass dan didorong ke ujung satunya.
 Semakin tipis ulasan yang diperoleh akan semakin baik hasil yang didapat. Hasil ulasan
dikeringanginkan pada suhu ruang.
 Ulasan darah diamati menggunakan mikroskop dengan perbesaran 40-100X.

2.3.5.Pemeriksaan Protozoa Darah dengan Metode Pembuatan Ulas Darah dengan Pewarnaan
Giemsa
Pemeriksaan protozoa darah menggunakan teknik ulas darah dengan pewarnaan giemsa
dilakukan dengan tahapan sebagai berikut :
 Ulas darah yang telah kering difiksasi dengan methanol (methil alkohol absolut) selama
3 menit.
 Dilanjutkan dengan memasukkan objek glass ulas darah ke dalam larutan giemsa 10-
20% selama 30 menit. Semakin tinggi konsentrasi larutan giemsa, semakin pendek waktu
pengecatan.
 Preparat diangkat dan dicuci dengan air. Pencucian dilakukan dengan cara mengalirkan
air.
 Preparat dikeringanginkan dengan cara meletakkan objek glass pada posisi berdiri pada
bidang miring
 Preparat yang telah kering diamati menggunakan mikroskop dengan perbesaran 400-
1000X dengan menambahkan minyak emersi
2.3.6.Swab Kerongkongan Unggas
Swab kerongkongan unggas dilakukan untuk mendiagnosa keberadaan Trichomoniasis.
Pemeriksaan swab kerongkongan dilakukan dengan cara sebagai berikut :
 Kerongkongan unggas yang didiagnosa trichomoniasis di swab menggunakan cotton
buds steril yang telah dicelupkan ke dalam NaCl fisiologis.
 Hasil swab pada cotton buds dicelupkan ke dalam cawan petri yang berisi NaCl
fisiologis, selanjutnya dilakukan homogenisasi.
 Untuk pemeriksaan lebih lanjut diambil satu tetes homogenate dari cawan petri dan
diteteskan di atas objek glass.
 Objek glass ditutup dengan cover glass dan diamati menggunakan mikroskop dengan
perbesaran 400-1000X.
 Hasil positif bila ditemukan pergerakan flagella Trochomonas.

9
BAB III
HASIL DAN PEMBAHASAN

3.1 Helminthes
3.1.1 Raillietina tetragona
Signalement
Jenis hewan : Ayam
Ras : Ayam kampung
Jenis kelamin : Jantan
Jenis sampel : Saluran pencernaan ayam dan feses ayam
Berat badan : ± 1,4 kg
Asal hewan : Pasar Keputran Surabaya
Anamnesa
Informasi yang didapatkan dari pemilik bahwa ayam terlihat lesu, pertumbuhan lambat,
bulu kusam dan rontok, serta sedikit diare.
Temuan Klinis
Temuan klinis menunjukkan selaput lendir pucat, kakheia, bulu rontok, feses cair,dan
lemas.
Diagnosa Tentatif
Suspect Helminthiasis.
Pemeriksaan Laboratorium
Identifikasi feses : ditemukan adanya telur cacing Raillietina.

a. b.
Gambar 3.1 a) segmen Raillietina tetragona dewasa
b) telur Raillietina tetragona dengan hexacanth embryo.
Post Mortem
Secara makroskopik ditemukan kumpulan cacing cestoda di daerah usus.

10
Diagnosa
Cestodosis

Cestodosis merupakan penyakit cacing pita yang menyerang ayam pada semua umur.
Cacing cestoda yang banyak ditemukan pada ayam diantaranya yaitu Raillietina tetragona.
Adapaun klasifikasi dari cacing ini adalah sebagai berikut (Molin, 1858) :
Kingdom : Animalia
Filum : Platyhelminthes
Kelas : Cestoda
Ordo : Cyclophyllidea
Family : Davaineidae
Genus : Raillietina
Spesies : Raillietina tetragona

Terdapat tiga spesies cacing Raillietina spp, yaitu Raillietna tetragona, Raillietina
echinobothrida dan Raillietina cesticillus. Salah satu yang banyak ditemukan di Indonesia
yaitu R. tetragona. R. tetragona merupakan cacing pita ayam yang terpanjang, mencapai 25
cm dan lebar proglottidnya 1-4 mm. Lebar skoleksnya 175-350 µm dan memiliki rostellum
yang diameternya 200-300 µm. Lehernya tipis dan skoleks kecil yang dilengkapi dengan 100
kait kecil terdapat dalam 1 deret rostellum. Pada rostellumnya terdapat 2 atau 3 barisan yang
terdiri dari 90-120 duri yang panjangnya 6-8 µm. Bentuk sucker oval dilengkapi dengan 8-10
deret kait kecil yang mudah terlepas. Setiap kantong telur mengandung 6-11 telur dengan
diameter 25-50 m, kantung telur meluas ke bagian lateral sampai saluran pengeluaran.
Lubang kelaminnya biasanya unilateral, kadang-kadang saja berselang seling tak teratur,
letaknya di depan tengah-tengah sisi proglottid yang matang. Terdapat 18-32 testes pada
setiap ruas. Uterus berisi kapsul yang masing-maisng mengandung 6-12 telur yang berukuran
25-50 µm. Kantong sirrusnya kecil, dengan panjang 75-100 µm (Soulsby, 1982; Reid, 1984;.
Subekti, dkk., 2010).
Telur Raillietina tetragona mengandung embrio setelah keluar dari uterus, berbentuk
bulat atau lonjong yang disebut onkosfir (embriofor) atau korasidium. Onkosfir atau
korasidium didalamnya ditemukan larva yang memiliki tiga pasang kait yang disebut
hexacant embrio. Telur paling luar dibungkus oleh kapsul, kemudian selaput vitelin, egg shell
(onchosphere coat).

11
Penyebaran cacing Raillietina tetragona melalui kotoran ayam yang sakit atau alat-alat
yang digunakan. Penyebaran cacing Cestoda pada ayam sangat dipengaruhi oleh adanya
vektor. Telur cacing Cestoda yang termakan oleh vektor akan menetas di dalam saluran
pencernaannya.Telur yang menetas berkembang menjadi onkosfir yaitu telur yang telah
berkembang menjadi embrio banyak sel yang dilengkapi dengan 6 buah kait. Onkosfir
selanjutnya berkembang menjadi sistiserkoid dalam waktu 3 minggu setelah telur termakan
oleh vektor. Sistiserkoid tetap tinggal di dalam vektor antara sampai dengan vektor tersebut
dimakan oleh hospes definitif yaitu ayam.
Setelah ayam memakan vektor yang mengandung sistiserkoid, maka sistiserkoid
terbebaskan oleh adanya aktivitas enzim pencernaan. Segera setelah sistiserkoid bebas,
skoleksnya mengalami evaginasi dan melekatkan diri pada dinding usus. Segmen muda
terbentuk di daerah leher dan akan berkembang menjadi segmen yang matang dalam waktu 3
minggu. Pada saat segmen atau strobila berproliferasi di dinding leher, dinding sistiserkoid
akan mengalami degenerasi dan menghilang. Selanjutnya sistiserkoid berkembang menjadi
cacing dewasa di dalam usus ayam dalam waktu 20 hari (Levine, 1994). Hospes definitifnya
adalah ayam, burung merpati dan ayam mutiara. Hospes intermediet atau vektor dari
Raillietina tetragona adalah lalat Musca domestica dan bangsa semut dari genus
Tetramorium dan Pheidole. Cacing ini berpredileksi didalam ½ bagian belakang usus halus
(Subekti dkk, 2010).
Cacing yang hidup dalam saluran pencernaan akan mengambil makanan dengan cara
menyerap sari makanan dari induk semangnya pada mukosa usus. Apabila tingkat infeksi
cukup berat, induk semang akan mengalami hypoglicemia dan hypoproteinemia yang nyata.
Diagnosis penyakit didasarkan atas gejala klinik yang tampak dan sejarah timbulnya
penyakit. selain itu dapat pula dengan melakukan pemeriksaan tinja secara mikroskopis
dimana akan ditemukan proglotid masak yang lepas atau telur cacing yang keluar bersama
tinja. Kelemahan pemeriksaan ini adalah tidak selalu berhasil karena proglotid masak tidak
dikeluarkan bersama tinja terus-menerus. Pada pemeriksaan post-mortem akan didapat
diagnosis yang memuaskan karena ditemukan spesies cacingnya, dan adanya nodul pada
dinding saluran usus yang terinfeksi.
Gejala yang terlihat antara lain lesu, pucat, kurus dan diikuti dengan sayap yang
menggantung serta kondisi yang berangsur-angsur menurun dan selanjutnya diikuti kematian
akibat komplikasi. Infeksi Cestoda memiliki tingkat penyebaran lebih luas daripada infeksi
oleh Nematoda dan trematoda. Pada usus ayam buras rata-rata ditemukan 132,27 ekor cacing
yang antara lain terdiri dari cacing Cestoda Raillietina spp.

12
Pencegahan dapat dilakukan dengan membasmi vektor berupa
kumbang/semut/lalat/belalang di sekitar kandang dengan insektisida. Pemeliharaan unggas
sebaiknya dikandangkan, memberantas siput dengan molluscida, higiene kandang, pemberian
pakan dan minum supaya diletakkan di tempat yang bersih (Kusnoto dkk, 2015).

3.1.2 Ascaridia galli


Singnalement
Jenis hewan : Ayam kampung
Jenis kelamin : Betina
Umur :-
Berat badan : ±1,6 kg
Asal hewan : Pasar Pacarkeling Surabaya
Anamnesa
Informasi anamnesa yang didapatkan dari pemilik ayam diare dan nafsu makan menurun.
Temuan Klinis
Ayam terlihat tidak aktif dan bulu tampak kusam.
Diagnosa tentatif
Suspect Helminthiasis.
Pemeriksaan laboratorium
Identifikasi cacing : Hasil pemeriksaan laboratorium didapatkan infestasi cacing Ascaridia
galli dalam usus halusnya.
Pemeriksaan feses : Pada pemeriksaan feses ditemukan telur cacing Ascaridia galli.
Diagnosa
Ascardiosis
Diferensial diagnosa
Defisiensi nutrisi, endoparasit.

Ascaridia galli merupakan parasit yang berpredileksi di dalam usus kecil berbagai
unggas peliharaan maupun unggas liar. Cacing gilig ini berparasit pada ayam, kalkun,
burung dara, itik dan angsa. Taksonomi A. galli adalah sebagai berikut (Taylor, et al.,
2007):
Kingdom : Animalia
Phylum : Nemathelminthes

13
Class : Nematoda
Ordo : Ascaridia
Famili : Heterakidae
Genus : Ascaridia
Spesies : Ascaridia galli

Morfologi cacing Ascaridia galli berbentuk silindris, berukuran besar, memanjang,


tidak bersegmen, semitransparan, berwarna putih kekuningan (Soulsby, 1982). Tubuhnya
dilapisi oleh kutikula yang tebal sehingga terlihat kaku. Kutikula ekstraseluler yang tebal
ini berfungsi untuk melindungi membran plasma hipodermal nematoda cacing dewasa
(Bankov dan Barrett, 1993). Tubuh bagian posterior cacing jantan mempunyai alae yang
kecil dan dilengkapi 10 pasang papila yang kecil dan gemuk. Esofagus tidak membentuk
bulbus. Pada bagian anterior terdapat sebuah mulut yang dilengkapi dengan tiga buah
bibir, satu bibir terdapat pada dorsal dan dua lainnya pada lateroventral (Calneck, 1997).
Pada kedua sisi terdapat sayap yang sempit dan membentang sepanjang tubuh. Masing-
masing bibir dilengkapi dua pasang papil kecil dan didalam permukaannya terdapat
deretan gigi. Cacing jantan dewasa berukuran panjang 50 – 76 mm dan cacing betina
dewasa 72 – 116 mm. Cacing jantan memiliki preanal sucker atau precloacal sucker
berbentuk sirkuler dengan diameter sekitar 220 µm yang diliputi oleh lapisan kutikula
tebal (tepian kutikuler), dan dua spicula sama panjang berukuran 1 – 2,4 mm, sedangkan
cacing betina memiliki vulva di sepertiga bagian tubuh anterior dan dibagian posteriornya
terdapat uterus.

Gambar 3.2.1 Cacing dewasa Ascaridia galli.

Telur Ascaridia galli berbentuk oval berdinding halus tebal, tidak bersegmen serta
diselubungi lapisan albumin dan lapisan khitin. Telur cacing ini berukuran 73-92 x 45-57
µm (Subekti dkk., 2010). Gambar telur A. galli yang ditemukan dari pemeriksaan feses
dapat dilihat pada gambar berikut.

14
a b
Gambar 3.2.2 a) Telur cacing Ascaridia galli (Perbesaran 40x).
b) Telur A. galli memiliki lapisan kitin dan albumin (Lalchhandama, 2010).

Gambar 3.2.3 Cacing A. galli betina bagian anterior (Perbesaran 100x).

A B

Gambar 3.2.4 Cacing A. galli jantan A) bagian anterior B) bagian posterior (perbesaran 100x).

Three lips

spicula

A Caudal alae B

Gambar 3.2.5 Ascaridia galli. (A) bagian anterior memiliki tiga bibir, (B) bagian posterior jantan
memiliki caudal alae serta memiliki spicula (Subekti dkk., 2011).

15
Penularan cacing Ascaridia galli biasanya melalui pakan, air minum, litter atau
bahan lain yang tercemar oleh feses yang mengandung telur infektif (Permin dan Hansen,
1998). Telur A. galli dikeluarkan bersama feses inang dan akan menjadi stadium infektif
dalam waktu ±10 hari. Telur dapat hidup lebih dari tiga bulan pada keadaan yang lembab
dan akan cepat mati karena kekeringan atau cuaca panas. Suhu optimum untuk
pertumbuhan adalah 32-34°C. Infeksi terjadi apabila ayam memakan telur infektif bersama
dengan pakan atau air minum, dapat pula melalui cacing tanah. Cacing tanah dapat
memakan telur cacing kemudian cacing tanah tersebut termakan bangsa unggas
(transmitter mekanis) (Subekti dkk., 2011).
Telur keluar bersama feses dan berkembang menjadi stadium infektif (L2) diatas
tanah dalam waktu -14 hari tergantung pada temperatur dan kelembaban lingkungan. Telur
infektif tertelan oleh inang definitif melalui makanan yang terkontaminasi. Telur yang
mengandung L2 masuk ke dalam duodenum hingga menetas setalah 24 jam pasca ingesti.
Larva menetas dari dalam telur ke dalam lumen intestinal untuk menjadi L3. L3 hidup
dalam lumen duodenum bagian posterior selama delapan hari. Larva L3 A. galli
melanjutkan fase histotropik dengan cara menanamkan dirinya pada lapisan mukosa
duodenum (fase jaringan) menjadi L4. Durasi fase histotropik berlangsung selama 3–54
hari pasca infeksi. L3 eksidisi menjadi L4 masuk ke dalam mukosa usus menyebabkan
hemoragi. Setelah mengalami empat kali molting, L5 (cacing muda) akan tumbuh dan
mencapai dewasa di dalam lumen duodenum. Periode prepaten cacing dengan cara A. galli
berlangsung dalam waktu 5–8 minggu (Soulsby, 1982) dan 11–15 minggu (Athaillah,
1999).
Perkembangan larva dengan cara penetrasi mukosa intestinal menyebabkan enteritis
hemmoragie dan kerusakan dinding usus, sedangkan pada ayam muda pada ayam muda
dapat mengakibatkan anemia, diare, anoreksia dan haus yang berlebihan. Infeksi A.galli
dapat menimbulkan penurunan berat badan, pada kondisi yang berat dapat terjadi
penyumbatan pada usus (Zalizar dkk., 2005). Sifat penyakit parasitik cacing A. galli
biasanya berjalan kronis sehingga menimbulkan gejala sakit yang perlahan atau subklinis.
Kecacingan tidak menyebabkan mortalitas tetapi menghasilkan morbiditas. Infeksi A. galli
pada ayam normal umumnya singkat dan jarang menyebabkan kerusakan permanen
karena tubuh ayam memiliki suatu sistem kekebalan yang dapat melindungi tubuhnya dari
unsur-unsur patogen. Ascaridiosis yang telah berlangsung dalam waktu yang lama (infeksi
kronis) dapat menyebabkan gastroenteritis ulseratif, hepatitis nekrotik dan nepritis yang
dapat berakhir dengan kematian.

16
Gejala klinis yang ditemukan pada infeksi Ascaridia galli adalah nafsu makan
menurun, bulu rontok, enteritis hemmoragie dan anemia. A. galli menyebabkan penurunan
berat badan yang berhubungan langsung dengan jumlah cacing yang terdapat di dalam
tubuh. Hal ini disebabkan karena ascaridiosis dapat mengganggu efisiensi absorpsi nutrisi
yang berlangasung di dalam usus halus. Status nutrisi dari hospes juga penting karena
penurunan berat badan lebih tinggi pada ayam yang diberi pakan dengan kadar protein
tinggi dibandingkan dengan ayam yang diberi protein lebih rendah.
Umur hospes dan derajat keparahan infeksi oleh A.galli memegang peranan penting
dalam kekebalan terhadap cacing tersebut. Ayam umur muda lebih peka daripada ayam
dewasa karena pada mukosa usus ayam dewasa memiliki mucus intestinum yang lebih
banyak dibanding ayam muda. Mucus intestinum dihasilkan oleh sel goblet (Moe, 2015).
Mucus intestinum ini menghambat penetrasi larva cacing Ascaridia galli sehingga
peningkatan jumlah mucus intestimum menjadi salah satu penghambat infeksi A. galli.
Infestasi cacing A. galli dengan jumlah banyak pada usus dapat mengakibatkan obstruksi
usus dan perforasi usus yang berujung pada kematian (Subekti dkk., 2011).
Lalat dapat bertindak sebagai faktor mekanik dari telur Ascaridia galli, jenis lalat
kandang yang sering sebagai vektor Musca domestica, Ophyrachalcogaster, Chrysomia
megacephala, Fanniacanicularis, Stomoxys calcitransdan Phenisia sp. Adapun Musca
domestica atau lalat rumah adalah lalat pengganggu utama pada peternakan ayam (Tabbu,
2000). Pencegahan dilakukan dengan memisahkan pemeliharaan ayam muda dan ayam
dewasa, kontrol kebersihan litter, kebersihan peralatan kandang termasuk peralatan pakan
dan minum, pemberian obat cacing 1 kali per bulan dan sebaiknya lantai tidak di tanah.
Pencegahan lain yang dapat dilakukan diantaranya dengan cara pemberian ransum pakan
yang mengandung vitamin A, vitamin B12, dan pakan tinggi protein serta mineral.
Kekurangan vitamin A dapat mengurangi produksi mucus intestinum sehingga mukosa
intestinum tidak dapat menghambat penetrasi larva cacing. Vitamin B12 sebagai prekursor
gerak peristaltik memegang peranan penting dalam pengeluaran cacing. Kekurangan
vitamin B12 dapat menyebabkan terjadinya obstruksi usus akibat akumulasi infestasi
cacing dalam usus.kandungan pakan yang tinggi protein dan mineral digunakan untuk
menjaga daya tahan tubuh ayam.
Pengobatan yang diberikan untuk infestasi cacing A. galli diantaranya yaitu
Piperazine. Antelmintik ini sangat efektif untuk memberantas cacing A. galli. Antelmintik
ini dapat diberikan dalam pakan atau minum. Dosis pemberian 300-440 mg per kg pakan
atau 440 mg piperazin sitrat per liter. Obat ini tidak berpengaruh terhadap pertumbuhan

17
atau produksi telurnya. Piperazine bekerja dengan cara blockade acetylcholine
neuromuscular junction cacing sehingga cacing mengalami paralisa otot cacing dan cacing
akan keluar dengan feces.

3.1.3 Fasciola gigantica


Signalement
Jenis hewan : Sapi
Jenis kelamin : Jantan
Ras : Simental
Umur : 3 tahun
Berat badan : ± 280 kg
Asal hewan : RPH Pegirian Surabaya
Temuan Klinis
Berdasarkan pemeriksaan fisik hewan terlihat lesu, mukosa pucat, bulu rontok dan kusam,
sedikit bengkak pada conjunctiva, feses sedikit cair, serta badan kurus dengan body score
2.
Diagnosa Tentatif
Suspect Helminthiasis.
Pemeriksaan Laboratorium
Ditemukan adanya cacing Fasciola gigantica,.

Gambar 3.3.1 a. Cacing dewasa F. gigantica bagian posterior (Perbesaran 40x)


b. Cacing dewasa F. gigantica bagian anterior (Perbesaran 40x)

Post mortem
18
Terdapat warna keputih-putihan terutama di sekitar saluran empedu, konsistensi keras
tetapi rapuh sedikit berpasir, serta terdapat infestasi sejumlah cacing Fasciola gigantica.
Diagnosa
Fasciolosis
Klasifikasi cacing Fasciola gigantica adalah sebagai berikut :
Phyllum : Plathyhelminthes
Class : Trematoda
Famili : Fasciolidae
Genus : Fasciola
Spesies : Fasciola gigantica

Fasciola gigantica memiliki kemiripan dengan Fasciola hepatica dalam morfologi,


siklus hidup dan patogenitas. Lekukan pada kepala F. gigantica relatif lebih pendek
dibandingkan F. hepatica, sedangkan bahu pada F. hepatica tidak selebar bentuk bahu F.
gigantica. Selain itu, masa prepaten pada F. gigantica lebih panjang daripada F. Hepatica.
Adapun morfologi cacing Fasciola gigantica yaitu memiliki ukuran 25-75 x 5-12 mm dan
berwarna merah kecoklatan. Bagian bahu (daerah kepala yang terdapat pelebaran) tidak
begitu nyata. Telur F. gigantica berukuran 156-197 x 90-104 µm dan berwarna coklat.
Cacing ini memiliki habitat di saluran empedu. Inang definitif F. gigantica adalah hewan
ruminansia, babi, kuda, kelinci, anjing, kucing, kanguru, gajah dan manusia. Biasanya pada
manusia dan kuda, cacing dewasa dapat ditemukan dalam paru-paru, dibawah kulit atau
ditempat lain (Bendryman, 2012).

Gambar 3.3.2 Morfologi cacing Fasciola gigantica.

19
Siklus hidupnya Fasciola gigantica mengalami beberapa generasi yaitu telur,
mirasidium, sporokis, redia, serkaria, metaserkaria, dan cacing dewasa. Metaserkaria
merupakan stadium infektif yang banyak menginfeksi inang definitif, disamping itu juga
dapat menginfeksi manusia pada semua kelompok umur (Bendryman, 2012). F. gigantica,
yang berfungsi sebagai induk semang antaranya adalah antara lain siput jenis L. natalensis, L.
auricularia dan L. rubignosa. Untuk Indonesia L. rubignosa merupakan induk semang antara
yang paling sering ditemukan.
Telur Fasciola hepatica masuk duodenum bersamasama cairan empedu dan keluar
bersama feses inang definitifnya. Pertumbuhan dan penetasan telur Fasciola tergantung pada
temperature dan kelembapan sekelilingnya. Pada temperature 26oC dan kelembapan
optimum, telur akan menetas selama 10-12 hari dan menghasilkan larva stadium I
(mirasidium). Mirasidium akan berenang mencari siput muda kemudian dengan
menggunakan enzim proteolitik yang dikeluarkan untuk menembus jaringan tubuh siput,
selanjutnya mirasidium melepaskan silia dan berkembang menjadi sporokista. Setiap
sporokista akan membentuk redia dan berkembang maksimum, ukurannya 1-3 mm (panjang
tubuh) dan gumpalan redia yang terbentuk di dalam sporokista akan keluar dan berkembang
menjadi redia I dengan mempunyai saluran pencernaan seperti sekum dan mempunyai alat
gerak. Di dalam redia terdapat gumpalan redia yang mempunyai bentuk yang sama dengan
redia I disebut redia anak. Redia anak selanjutnya berekembang menjadi serkaria. Bentuk
serkaria menyerupai bentuk cacing dewasa dan serkaria akan keluar dari tubuh siput apabila
ada rangsangan sinar dan melalui alat pengeluaran siput tersebut. Kemudian serkaria
berenang di dalam air, apabila serkaria tidak segera termakan oleh inang definitif, maka
serkaria akan menempel pada rumput, tepi kolam/sungai. Serkaria mempunyai kelenjar yang
akan digunakan sebagai pembentuk dinding kista. Infeksi terjadi apabila inang defintif
memakan rumput atau air yang tercemar/terkontaminasi oleh metaserkaria. Di dalam
duodenum, serkaria keluar dari kista, menembus dinding usus masuk rongga peritoneum,
kemudian menembus kapsula hati (Estuningsih, 2004).
Cacing hati ini hidup dalam kantung empedu dan dalam saluran empedu yang besar
dalam hati. Cacing yang masih muda terdapat dalam saluran darah dalam jaringan hati dan
menyebabkan kerusakan. Cacing menjadi dewasa setelah kira-kira 14-16 minggu dan dapat
hidup 4-10 tahun lamanya. Pada umumnya gelaja klinis tidak spesifik, tergantung pada
tingkat infeksi. Hasil pengamatan pada sapi yang terinfeksi Fasciola gigantica secara alami
menunjukkan adanya obstipasi yang diselingi dengan diare, oedem pada intermandibular,
anemi dan lesu. Hewan akan menunjukkan gejala kekurusan, lesu dan lemah. Pada kasus

20
akut pada domba, hewan akan mengalami kematian secara tiba-tiba, pendarahan pada lubang
hidung dan anus, mirip dengan pendarahan pada kasus anthrax. Pada kasus kronis, akan
terdapat penumpukan cairan dibawah mandibular yang lebih dikenal dengan istilah bottle
jaw.

Gambar 3.3.4 Siklus hidup Fasciola gigantica.

Kontrol Fasciolosis dapat dilakukan dengan melakukan kombinasi pengontrolan siput


dan pengobatan pada induk semang definitif. Sedangkan untuk pengobatan saat ini
perkembangan obat-obat untuk Fasciolosis cukup pesat. Beberapa obat memiliki efek dan
spesifikasi yang berbeda-beda. Oxyclozanide sangat efektif untuk membunuh fasciola tahap
dewasa, dengan dosis 15-20 mg/kg bb pada kambing dan domba. Serta 10-15 mb/kg bb pada
sapi dan kerbau. Rafoxanide juga efektif terhadap cacing Fasciola tahap dewasa. Juvenile dan
anak dosisnya pada sapi dan domba adalah 7,5 mg/kg bb. Nitroxynit diberikan secara
subkutan dengan dosis 10 mg/kg bb. Pemakaian tersebut menimbulkan keefektifan obat
hingga 100% pada cacing tahap dewasa. Sebagian Anthelmintic dari keluarga Bezimidazole
dan Ozfendazole juga efektif terhadap Fasciolosis. Selain itu, obat ini juga efektif pada cacing
muda, bahkan pada cacing yang berumur satu hari.

21
3.2 Protozoa
3.2.1 Haemoproteus columbae
Singnalement
Jenis hewan : Burung Merpati
Jenis kelamin : Betina
Umur : ± 5 bulan
Berat badan : ± 35 g
Asal : Pasar Bratang Surabaya
Anamnesa
Informasi anamnesa yang didapatkan dari pemilik yaitu nafsu makan turun beberapa hari
terakhir.
Temuan Klinis
Merpati terlihat anoreksia, feses sedikit cair dan membran mukosa mata pucat.
Pemeriksaan laboratorium
Hasil pemeriksaan laboratorium dengan pemeriksaan ulas darah dan diamati dibawah
mikroskop menunjukkan adanya protozoa Haemoproteus columbae.

Gambar 3.4.1 Haemoproteus columbae (panah biru) pada preparat


darah merpati (400x)

Diagnosa tentatif
Suspect protozoa darah

Hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa ditemukan protozoa dari spesies


Haemoproteus columbae. Protozoa Haemoproteus columbae yang ditemukan adalah fase
gametosit, gametosit merupakan satu-satunya bentuk yang akan terlihat pada sel darah,
berbentuk oval memanjang bengkok pada ujungnya dan mengelilingi nukleus dari sel host.
Hal ini sesuai dengan pendapat Lucia et al (2012) yang menyatakan bahwa gametosit

22
merupakan satu-satunya bentuk yang akan terlihat pada sel darah, berbentuk oval memanjang
bengkok pada ujungnya dan mengelilingi nukleus dari sel host. Gametosit berisi pigmen yang
berasal dari sel darah merah (eritrosit). Sel hospes akan menjadi lebih membesar dan nukleus
berpindah secara lateral dan parasite menempati seluruh sel.
Morfologi parasit intraseluler ini memiliki berbagai macam bentuk. Gametosit
merupakan satu-satunya bentuk yang terlihat pada sel darah, berbentuk halter (oval
memanjang bengkok pada ujungnya), berukuran 3,9 µm dan mengelilingi inti sel induk
semang. Gametosit berisi pigmen yang berasal dari sel darah merah (eritrosit) (Clark et al.,
2014). Gametosit akan terlihat mirip dengan Gametosit pada Plasmodium sp. tetapi pigmen
gametosit intraerythrocytic lebih tersebar dan skizon tidak terlihat di preparat ulasan darah.
Butiran pigmen (haemozoin) berasal dari hemoglobin saluran pencernaan yang ditemukan
dalam eritrosit hospes dan muncul sebagai refractile, butiran kuning sampai coklat dalam
eritrosit hospes (Friend, 1999). Haemoproteus columbae merupakan parasit intraseluler,
memiliki pigmen bergranula dan bentuknya seragam.
Haemoproteus columbae merupakan parasit umum yang menyerang burung famili
Columbriformes yang mencakup merpati dan burung dara. Parasit ini disebarkan oleh vektor
Hipobosca, Psedolyncia canariensis, dan Ornithomiya oviculari. Adapun klasifikasi dari H.
columbae adalah sebagai berikut:
Filum : Protozoa
Subfilum : Plasmodroma
Kelas : Sporozoa
Ordo : Haemosporidia
Famili : Haemoproteidae
Genus : Haemoproteus
Species : Haemoproteus columbae

Gambar 3.4.2 Haeomproteus columbae (Pendl, 2004).

Haemoproteus merupakan protozoa darah yang memiliki tempat predileksi intraseluler


sel darah merah pada burung dan reptil. Parasit ini ditularkan melalui gigitan vector

23
Hipoboscidae, Chrysops, dan Culicoides. Pada burung merpati sebagai vektor penular adalah
lalat Pseudolynchia canariensis. Siklus hidup sama dengan Plasmodium sp kecuali proses
schizogoni tidak di eritrosit tetapi di sel endotel pembuluh darah. Gamont terdapat di eritrosit
dengan struktur gamont seperti sosis yang mengelilingi eritrosit. Dengan pengecatan
romanovsky atau Giemsa macrogamete berwarna biru gelap, inti gelap sampai merah dan
granula pigmen tersebar merata di sitoplasma. Pada mikrogamont tercat biru terang sampe
kemerahan dengan inti difus dan granula pigmen terkumpul di masing-masing ujung parasite
(Mufasirin, dkk., 2011).
Siklus hidup Haemoproteus columbae dapat dibagi menjadi dua yaitu siklus hidup
asexual terjadi delam tubuh burung merpati dan siklus hidup sexual terjadi dalam tubuh lalat
dari famili Hippoboscidae yang juga bertindak sebagai vektor (Hong, 2004). Siklus hidup
Haemoproteus columbae dimulai ketika tergigitnya hospes (Columbiformes) oleh vektor
yang terinfeksi. Sporozoit dalam tubuh vektor akan melakukan pergerakan melalui aliran
darah bersama aliran darah akan bermigrasi ke dalam sel-sel endotel terutama paru-paru dan
juga organ lainnya. Dalam sel endotel parasit ini berkembang secara seksual, yaitu bentuk
sporozoit akan berkembang menjadi bentuk skizon. Pada fase ini skizon juga berkembang
menjadi satu sitoplasma dan satu nukleus. Selanjutnya berkembang menjadi masa yang tidak
berpigmen yang disebut sitomer (cytomere) dengan satu nucleus. Setiap sitomere
berkembang menjadi merozoit. Merozoit yang terbebas karena pecahnya sel hospes akan
menginfeksi sel baru dan berkembang terus secara skizogoni atau sebagian merozoit masuk
kedalam eritrosit. Dalam eritrosit merozoit berkembang menjadi gametosit (makrogamet dan
mikrogamet). Gametosit muda tampak pertama kali dalam darah 30 hari setelah infeksi.
Gametosit akan terhisap oleh vektor yang akan menggigit hospes dan gametosit ini akan
mengalami pendewasaan didalam usus vektor. Disinlah terjadi perkembangan seksual. Zigot
hasil pembuahan makrogamet oleh mikrogamet dewasa akan masuk ke dalam sel endotel
usus vektor membentuk ooskista (ookinet). Dalam ookista terbentuk sporozoit dan ookista
dewasa akan pecah membebaskan sporozoit, sporozoit bermigrasi melalui aliran darah
menuju kelenjar saliva vektor (Suwanti dkk., 2012).
Infeksi haemoproteus pada burung merpati muda bersifat akut dengan angka mortalitas
yang tinggi sedangkan pada burung merpati dewasa jenis infeksi yang terjadi ialah infeksi
kronis. Infeksi yang disebabkaan oleh haemoproteus tidak menunjukkan gejala klinis spesifik
dan menciri. Gejala klinis yang muncul umumya berupa anemia, anoreksia dan dispnoe. Pada
infeksi yang bersifat akut, dan pada infeksi yang berat dapat menimbulkan kematian.
Kelainan pasca mati (postmortem) menunjukkan perubahan anatomi berupa pembesaran pada

24
hati (hepatomegali) dengan focal necrosis dan pembesaran pada limfa (splenomegali) serta
berwarna gelap (Mufasirin, dkk., 2011).
Patogenesitas yang terjadi setelah merpati digigit oleh lalat jenis hipoboscha yang
mengandung haemoproteus ialah masuknya haemoprotein dalam darah dengan cara
menghasilkan zat yang membantu masukaknya parasit secara pasif ke dalam eritrosit yang
bekerja melunakkan struktur membran sel darah. Merozoit yang masuk ke dalam eritrosit
segera berubah menjadi gametosit. gametosit segera akan mengelilingi sebagian nukles
hospes. Haemoproteus yang masuk akan mengaktifkan sitosom membentuk vakuola makanan
yang diperlukan untuk mencerna hemogloblin dari eritrosit hospes menjadi heme dan globin.
Globin oleh parasit akan diubah menjadi asam amino dan heme akan dirubah menjadi
hemozoin.Hemozoin dan asam asam amino diperlukan untuk pertumbuhan haemoproteus
(Simmamora,2007).Adanya metabolisme parasit akanmenghasilkan asam lemak
monokarboksilat yang tidak jenuh yang terakumulasi dalam eritrosit akan menyebabkan sel
darah lisis.
Banyaknya sel darah merah yang lisis akan memicu terjadinya anemia. Anemia yang
disebabkan oleh hemolisis dinamakan hemolitik anemia. Penurunan jumlah sel darah merah
akan merangsang sel-sel hemolitik untuk menghasilkan sel darah baru, akibatnya sumsum
tulang akan bekerja secara berlebihan akan memicu terjadinya hiperplasia. Limpa dan hati
yang berperan dalam membantu proses pembentukan darah akan mengalami perubahan
sehingga pada pemeriksaan patologis akan terjadi hepatomegali dan spleenomegali.
Hemoglobin yang dilisikan oleh haemoproteus akan berpengaruh pada jumlah eritosit yang
diikat dan diedarkan ke seluruh jaringan tubuh sehingga merpati akan lemah. berkurangnya
hemoglobin juga akan menyebabkan kegagalan penyerapan O2 pada paru-paru akan
mengakibatkan terjadinya sesak nafas atau dispnoe.
Pencegahan dilakukan untuk menghindari infeksi maupun infeksi berulang dari
Haemoproteus columbae dapat dilakukan dengan cara memutus siklus hidup dari agen
dengan menghindari gigitan dari hospes intermediate Haemoproteus sp maupun melakukan
kontrol terhadap vektor penyebaran yaitu lalat Hipoboscidae. Selain itu sanitasi kandang juga
perlu dilakukan karena feses merupakan tempat untuk bertelur lalat (Mufasirin, dkk., 2011).
Pengobatan dapat menggunakan diminazene aceturate dan phenazone. Diminazene
aceturate adalah antiparasit darah yang bekerja dengan cara mengganggu proses glikolisis
aerob (pemecahan gula) yang berguna dalam sintesis DNA parasit, sedangkan phenazone
termasuk golongan analgesik, antipiretik dan antiinflamasi. Kombinasi keduanya bertujuan
untuk terapi simtomatis mengurangi rasa sakit, demam dan reaksi radang yang muncul akibat

25
parasit darah. Menurut Weisman (2007) pengobatan dapat dilakukan dengan pemberian obat
anti malaria seperti Quinine. Primaquinethis tidak dapat menyembuhkan tetapi hanya
menekan infeksi dan meringankan gejala. Chloroquine yang dikombinasikan dengan triple-
sulfa dapat memberikan kesembuhan.

3.2.2 Trichomonas gallinae


Singnalement
Jenis hewan : Burung Merpati
Jenis kelamin : Jantan
Umur : ± 1 tahun
Berat badan : ± 500 g
Asal : Pasar Kupang Surabaya
Anamnesa
Berdasarkan informasi yang didapatkan dari pemilik bahwa burung merpati menunjukkan
penurunan nafsu makan dan terlihat lemas.
Temuan Klinis
Feses berwarna hijau, mata sayu, mukosa pucat, rongga mulut sedikit basah.
Pemeriksaan Swab
Ditemukan infestasi protozoa darah Trichomonas gallinae
Diagnosa
Trichomoniasis

Trichomonas gallinae ditemukan pada burung merpati. Adapun klasifikasi dari protozoa
ini adalah sebagai berikut (Rivolta, 1878) :
Kingdom : Excavata
Filum : Metamonada
Class : Parabasalia
Subclass : Zoomastigina
Ordo : Trichomonadidae
Famili : Thrichomonadidae
Genus : Trichomonas
Spesies : Trichomonas gallinae
Trichomonas gallinae merupakan agen penyebab trichomoniasis saluran pencernaan
pada merpati, ayam, kalkun , burung gereja, kenari, elang, dan unggas lain. Organisme ini

26
berbentuk buah advokat atau buah pier. Meniliki ukuran 2-9 x 5-19 mikron. Di ujung anterior
tubuhnya terdapat blepharoplast sebagai tempat timbulnya flagela, axostyle, costa dan
parabasal complex (Lawson, 2006).

Gambar 3.5.1 Trichomonas gallinae.

Flagella anterior bebas berjumlah empat buah dan berukuran sekitar 13 mikron.
Axostyle satu buah, berbentuk langsing memanjang menuju posterior melalui poros tubuhnya
sampai sedikit menonjol ke belakang sampai kurang lebih 2-8 mikron. Costa adalah fibril
yang memanjang dari blepharoplast dan terletak di sebelah medial membrana undulasi,
panjang costa tersebut sampai pada ujung posterior dari membrana undulasi. Lokasi badan
parabasal di sepertiga anterior tubuhnya dan bergabung dengan parabasal fibril yang
panjangnya sampai ujung posterior tubuh, kedua parabasal ini sering disebut sebagai
parabasal komplek. Filamen membrana undulasi yang terletak di slah satu sisi, panjangnya
hanya mencapai 2/3 dari panjang tubuhnya dan tidak berakhir sebagai flagella bebas. Inti
terdapat dibagian anterior tubuh berbentuk oval, mempunyai satu atau dua
kariosom(Robinson,2010).

Gambar 3.5.2 Morfologi Trichomonas gallinae (Martindah, 1985).

27
Siklus hidup Trichomonas gallinae sangat sederhana, reproduksi dengan longitudinal
binari fission yaitu membelah diri menjadi dua menurut poros panjang badan, tidak
membentuk kista dan tingkatan seksusal tidak diketahui. Kista tidak terbentuk akan tetapi
mengalami degenerasi dan kemudian mati, hal ini berbeda dengan organisme blastocyste
(Lawson 2011). T. gallinae merupakan protozoa yang hidup dan berkembang pada membrana
mukosa trakea dan esofagus namun beberapa dengan kekmpuan motilitas yang sangat tinggi
protozoa ini dapat di jumpai pada organ hati dan pankreas (Robinson, 2010).
Trichomonas gallinae merupakan agen penyebab trichomoniasis saluran pencernaan
pada merpati, ayam, kalkun, burung gereja, kenari, elang, dan unggas lain (Martindah, 1985).
Anak merpati dapat tertular dalam beberapa menit setelah menetas. Hal ini disebabkan karena
mengkosumsi pigeon milk dari induknya yang terinfeksi atau sebagai pembawa. Seperti
diketahui, pada hewan burung setelah menetas burung muda untuk mendapatkan makanan di
suap oleh induknya (Pennycott, 2005). Trichomoniasis pada unggas yang disebabkan oleh T.
gallinae menyerang membran mukosa daerah kerongkongan dan esofagus. Kadang-kadang
menyerang organ pankreas dan hati sehingga menyebabkan tingkat mortalitas yang tinggi.
Sekitar 80-90% merpati dewasa yang terinfeksi penyakit ini tidak menunjukan gejala sakit,
namun pada anak merpati yang terinfeksi dalam beberapa hari bisa mati. Infeksi pada anak
merpati ini berawal dari pigeon milk induknya (Lawson, 2006).
Patogenitas dari penyakit ini bervariasi dari kondisi ringan sampai yang fatal.
Biasanya kematian terjadi dalam waktu 4 sampai 18 hari setelah infeksi. Masing-masing
strain dari Trichomonas gallinae memiliki kemampuan patogenitas dan virulensi yang
berbeda-beda, hal ini tergantung dari waktu berkembang biak dari strain tersebut.
Berdasarkan penelitian Cheng (1973) menunjukan bahwa pada anak merpati yang di
infeksikan kultur T. gallinae bebas bakteri mengalami kematian, namun pada anak merpati
yang di infeksikan T. gallinae bercampur bakteri pada anak merpati tidak menunjukan gejala
yang signifikan. Hal ini menunjukkan bahwa T. gallinae hanya pathogen saat kondisi bebas
bakteri atau mikroba (Martindah, 1985).
Pada merpati dengan strain yang virulen mula-mula timbul lesio kecil di ruang mulut
dengan batas-batas yang jelas dan warna kekuningan terutama di langit-langit lunak. Merpati
yang paling banyak terserang antara umur 3 minggu sampai beberapa bulan. Lesio tersebut
akan meluas sampai ke esofagus sampai ke proventrikulus, sinus hidung, dan kadang-kadang
daerah orbital juga terkena. lesio ini pada merpati tidak pernah menyerang tractus digestivus
bagian bawah proventrikulus. Hati juga sering terserang dan meluas ke berbagai organ
termasuk paru-paru, jantung, pankreas, tetapi jarang menyerang limpa, ginjal, trachea dan

28
sumsum tulang. Lesio yang menyerang langit-langit mulut dan sinus hidung dapat meluas
secara ekstensif dan menjadi perkejuan yang nekrotis dan cenderung menutup lumen organ.
Perluasan ini bisa menembus dan menyebar sehingga melibatkan daerah kepala dan leher
termasuk nasofaring (Pennycott, 2005).

3.3 Artropoda
3.3.1 Tabanus rubidus
Singnalement
Jenis sampel : Lalat
Jenis hewan : Kuda
Asal sampel : Kandang Kuda Kenjeran Surabaya

Lalat ini diambil dari Kandang Kuda Kenjeran. Hospes dari lalat ini adalah kuda, sapi,
dan kerbau. Lalat dewasa mampu menggigit dan menghisap darah pada bagian abdomen,
leher, bahu dan kaki. Klasifikasi dari lalat Tabanus rubidus adalah sebagai berikut :
Kingdom : Animalia
Filum : Arthropoda
Kelas : Insecta
Ordo : Diptera
Family : Tabanidae
Spesies : Tabanus rubidus
g

Gambar 3.6.1 Tabanus rubidus.

Tabanus rubidus memiliki ukuran yang besar, gerakannya cepat dan lincah, memiliki
sayap yang kuat dan mata yang besar. Lalat jantan bercirikan adanya mata yang berdekatan
(holoptik) sedangkan pada lalat betina berjauhan (dikoptik). Mata lalat lebih menjorok
kearah lateral torak. Ukuran tubuh dari lalat T. rubidus berkisar antara 1,5–2,5 cm, lalat ini
berwarna gelap dan kecoklatan. Permukaan atas torak bergaris, matanya besar mengambil
permukaan paling banyak pada permukaan kepala. Antena pada dua segmen pertama kecil

29
dan segmen ketiga mempunyai bentuk seperti gigi pada basalnya dan mempunyai empat
lingkar cincin pada bagian ujungnya. Sayap berbentuk terang tembus, sering terdapat warna
coklat garis longitudinal di abdomen dan sayap horizontal pada saat istirahat.
Telur dari Tabanus rubidus berbentuk lonjongberukuran 2 mm berwarna jernih dn
kemudian berubah menjadi gelap. Telur biasanya terletak didekat air dibagian bawah
tanaman. Betina T.rubidus mampu menghasilkan telur sejumlah 500-600 butir telur. Telur
menetas setalah 6-7 hari. Larva berbentuk silindris dan memiliki 11 segmen dan memiliki
sifat karnivora. Setiap segmen memiliki penonjolan yang berotot bagian mulut dapat
memegang dan menahan. Larva memakan crustacea kecil dan bahkan memakan larva yang
lain (kanibal). Larva mampu tumbuh dalam waktu 2-3 bulan dan berkembang menjadi larva
instar 1, 2,dan 3 kemudian pupa.

Gambar 3.6.2 Siklus hidup Tabanus rubidus (Thompson, 2007).

Pupa dari Tabanus rubidus berwarna coklat dan berbentuk subsilindris. Tingkat pupa
berlangsung selama 10-14 hari. Siklus hidup keseluruhan berlangsung selama 4-5 bulan
dalam kondisi yang sesuai, dalam kondisi yang lebih dingin pupa akan cendering
berkembang lebih lama karena melakukan proses hibernasi hingga menjadi lalat dewasa.
Lalat dewas sangat senang pada sinar matahari dan beraktifitas pada pagi hari hingga sore
hari. Lalat dewasa betina menghisap darah dan lalat jantan menghisap nektar/madu dan jus
tanaman. Probosis merupakan alat makan pada lalat. Proses makan bersifat terputus
(interupted feeding) memakan secara terputus.
Infestasi lalat Tabanus rubidus pada host mengakibatkan gangguan ketenangan,
menurunkan napsu makan, menurunkan jumlah produksi susu, anemia dan ikterus. Lalat ini
beperan sebagai vector mekanik penyebaraan berbagai macam penyakit antara lain: Penyakit
equine infeksius anemia, Hog Cholera, Riderpest, Surra (Trypanosoma evansi),
Anaplasmosis (A. marginale), Anthrax (Bacillus antracis), Francisella tularensis. Hal ini

30
disebabkan karena lalat menghisap darah hewan secara terputus dan berpindah dari satu
hewan ke hewan yang lain.
Pengendalian yang dapat dilakukan antara lain dengan melakukan pengeringan kandang
dan daerah ber air sekitar kandang, pembersihan tanaman yang ada di permukaan air di
daerah sekitar kandang, pembersihan lumpur di tempat penyimpanan air, penyemprotan
Lindane, Dieldrin sampai 14 hari, dipping lalat dewasa, penyemprotan residu pada dinding
kandang dengan Malathion.

3.3.2 Menopon gallinae


Singnalement
Jenis sampel : Kutu
Jenis hewan : Ayam Kate
Asal sampel : Pasar Bratang Surabaya
Pemeriksaan laboratorium
Pemeriksaan dengan identifikasi dibawah mikroskop menunjukkan bahwa sampel kutu
adalah Menopon gallinae.

Gambar 3.7.1 Menopon gallinae (Dokumentasi pribadi).

Klasifikasi kutu Menopon gallinae adalah sebagai berikut:


Kingdom : Animalia
Filum : Arthropoda
Kelas : Insecta
Ordo : Phtiraptera
Subordo : Amblycera
Famili : Menoponidae
Genus : Menopon
Spesies : Menopon gallinae

31
Menopon gallinae merupakan kutu pada batang bulu unggas dan berwarna kuning
pucat. Panjang kutu jantan 1,71 mm dan betina 2,04 mm. Pada masing-masing segmen di
bagian throrax dan abdomen memiliki sebaris rambut yang berdiri yakni bristle. Menopon
gallinae terdapat pada ayam, itik serta merpati. Gerakannya sangat cepat dan kumpulan
telurnya diletakan di atas bulu hospesnya. Kutu ini masuk dalam subordo amblycera.

Gambar 3.7.2 Menopon gallinae jantan dan betina.

Ciri dari subordo amblycera yakni kepala lebih lebar atau minimal sama dibandingkan
lebar thorax dan berbentuk kurva dibagian anterior; antenannya membentuk alat pemukul
disembunyikan pada celah diatas kepala sehingga kadang tidak nampak, tersusun oleh 4-5
segmen dan segmen ke 3 berbentuk batang; palpus maksilaris jika ada berukuran kecil
tersusun oleh 2-5 segmen; mandibula menutup secara vertikal; dan thorax segmentasinya
terlihat serta tidak memiliki sayap.
Menopon gallinae mengalami metamorfosis tidak lengkap (sederhana) yang
berlangsung seluruhnya pada tubuh host (3-5 minggu). Kutu betina bertelur (telur memiliki
operculum) yang dilekatkan pada bulu, selanjutnya terjadi perkembangan didalam telur dan
keluar nimfa. Nimfa mengalami 3 kali eksidis yakni nimfa I menjadi nimfa II dan nimfa III
dan selanjutnya bekembang menjadi dewasa. Penularan dapat terjadi secara kontak langsung
antara ternak yang terinfestasi dengan ternak sehat, tetapi kadang-kadang juga dapat melalui
alat kandang dan manusia yang bekerja pada peternakan.

32
BAB IV
PENUTUP

4.1 Kesimpulan
1. Jenis parasit yang diperoleh di lapangan diantaranya Fasciola gigantica dari sampel
feses sapi, Raillietina tetragona dari sampel feses ayam, Menopon gallinae pada ayam,
Ascaridia galli dari saluran pencernaan ayam, Tabanus rubidus dari kandang kuda,
Trichomonas galinae dan Haemoproteus calumbae dari darah merpati.
2. Cara isolasi dan identifikasi masing masing jenis parasit berbeda, untuk helminthes
pemeriksaan dilakukan dengan pemeriksaan telur metode natif, metode sedimentasi,
metode apung, dan pembuatan preparat kering dengan pewarnaan carmine. Isolasi dan
identifikasi arthropoda dilakukan dengan metode pengawetan kering (pinning) dan
pengawetan basah. Sedangkan isolasi dan identifikasi protozoa dilakukan dengan metode
metode natif, metode sedimentasi, metode apung, metode pembuatan preparat ulas darah
dan metode pembuatan preparat ulas darah dengan pewarnaan giemsa.
4.2 Saran

Mahasiswa PPDH diharapkan lebih menambah pengetahuan tentang bidang

parasitologi agar dalam mengidentifikasi dan mendiagnosa penyakit parasit tidak

mengalami kesulitan.

33
DAFTAR PUSTAKA

Anderson, R. C. 2000. Nematode parasites of vertebrates. Their development and


transmission. 2nd edition. CABI Pulishing.
Bowman, D.D., Lynn, R.C., and Eberhard, M.L., 1999. Georgis’ Parasitology for
Veterinarians 8th Edition, Saunders: USA, pp. 92-96, 228-229.
Byrd, J.H. and Castner, J.L. 2001. Insects of forensic importance. In Forensic Entomology :
the utility of arthropods in legal investigation. New York: CRC press,
Clark, N., C.Sonya, and LMarcos. 2014. A review of global diversity in avian
haemosporidians (Plasmodium and Haemoproteus: Haemosporida): new insights
from molecular data. International Journal for Parasitology (44): 329-338.
David, B.V. and Anathakrishnan, T.N. 2004. General and applied entomology. 2nd ed. New
Delhi: Tata Mc Graw-Hill Companies.
Hong, L.Y. 2004. A case Haemoproteus Columbae infestation. Commun. Dis. Wacth. 2(1) : 2
Lalchhandama, K. 2010. On the structure of Ascaridia galli, the roundworm of domestic
fowl. Science Vision 10 (1): 20–30.
Levine, Norman. D. 1994. Buku Pelajaran Parasitologi Veteriner. UGM Press : Yogyakarta.
Lida, and R. David. 1998. Handbook of Chemistry and Physics (87 ed.), Boca Raton, FL:
CRC Press, pp. 8–118,
Moe, H. 2015. Mucus producing Goblet Cells of the Small Intestine. J. Science 172 (309).
Department of Anatomy, Medical School, University of Copenhagen
Sembel, and T. Dantje. 2009. Entomologi Kedokteran.Yogyakarta:Penerbit Andi
Sigit, S.H and K.H.Upik. 2006. Hama Pemukiman Indonesia. Fakultas Kedokteran Hewan
Institut Pertanian Bogor: Bogor.
Soulsby, E. J. L. 2002. Helminths, Arthropods and Protozoa of Animals, 7th ed. William and
Willems, Baltimore. The ELBS and Bailliere Tyndall. London. Hal 84-86, 231-238.
Subekti, S.B., S. Koesdarto, Kusnoto, and S.M. Sosiawati. 2010. Buku Ajar Helmintologi
Veteriner. Airlangga University Press. Surabaya.
Subekti, S.B., S. Koesdarto, S.M. Sosiawati, and Kusnoto. 2011. Buku Ajar Ilmu Penyakit
Helmint. Airlangga University Press. Surabaya.
Suwanti, L.T., N.D.R. Lastuti, E. Suprihati, and Mufasirin. 2011. Buku Ajar Ilmu Penyakit
Protozooa. Fakultas Kedokteran Hewan, Universitas Airlangga. Surabaya
Urquhart, G.M., Duncan, J.L,Dunn, A.M., and Jennings, F.W., 1996. Veterinary Parasitology
Edition, ELBS Logman Group: Inggris
Zajac. A. M. 2012. Veterinary Clinical Parasitology. Iowa State College Press.

34