Sunteți pe pagina 1din 33

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Organ reproduksi hewan betina terdiri dari organ reproduksi primer yaitu
ovarium yang menghasilkan ovum dan hormon estrogen dan progesterone,
sedangkan organ reproduksi sekunder terdiri dari tuba Fallopii, uterus, cervix,
vagina dan vulva. Ovariohisterektomi (OH) adalah prosedur bedah yang dilakukan
untuk mengangkat dan membuang uterus beserta ovarium dari tubuh hewan
betina. OH merupakan prosedur yang sering dilakukan untuk mencegah siklus
estrus dan kebuntingan yang tidak diinginkan dan merupakan tindakan preventif
untuk mencegah terjadinya pyometra dan neoplasia ovarium maupun uterus
apabila tindakan bedah dilakukan pada saat hewan masih muda
Beberapa tahun terakhir pemeliharaan hewan kesayangan terutama anjing
meningkat dengan pesat. Hal ini menunjukkan bahwa anjing telah memiliki posisi
yang unik dalam kehidupan manusia dan tak jarang sudah dianggap sebagai
bagian dari anggota keluarga. Memiliki satu atau dua ekor anjing tentu sangat
menyenangkan, akan tetapi apabila populasi mereka meningkat secara tidak
terkontrol akibat perkawinan yang tidak diinginkan tentu akan sangat merugikan.
Jumlah anak anjing yang tidak terkontrol dapat memunculkan kekhawatiran
dikarenakan anjing dapat berperan sebagai carier penyakit yang dapat menular
sehingga membahayakan kesehatan manusia seperti Rabies, Toxoplasma, dan
Toxocara Canis. Ovariohisterektomi pada anjing, selain untuk mencegah
peningkatan populasi, tindakan bedah ini dapat menurunkan jumlah estrogen,
sehingga dapat mengontrol keagresifian anjing dan menurunkan resiko terjadinya
kanker mamae pada anjing.
Tindakan Ovariohisterektomi ditargetkan pada anjing betina (domestik).
Tujuan dari operasi ini adalah untuk mengendalikan jumlah populasi anjing
(domestik) yang ada dilingkungan sekitar dan sebagai bentuk pembelajaran bagi
mahasiswa PPDH dalam meningkatkan soft skill tindakan bedah

1
Ovariohisterektomi pada anjing yang meliputi berbagai tahap seperti tindakan pre
operasi, tindakan operasi dan post operasi.

1.2 Rumusan Masalah


Bagaimana teknik operasi ovariohisterektomi pada anjing ?

1.3 Tujuan
Bagaimana teknik operasi ovariohisterektomi pada anjing ?

1.4 Manfaat
Mengetahui tindakan operatif ovariohisterektomi yang benar sehingga
diharapkan dapat diterapkan tidak hanya sebagai langkah steril pada hewan
tetapi pada kasus patologis yang membutuhkan tindakan penanganan berupa
pembedahan dengan tehnik ovariohisterektomi

2
BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Ovariohisterektomi
Ovariohisterectomy merupakan tindakan pembedahan untuk pengangkatan
atau pembuangan ovarium dan uterus sekaligus. Ovariohisterectomy merupakan
istilah kedokteran yang terdiri dari ovariectomy dan histerectomy. Ovariectomy
adalah tindakan mengeluarkan dan menghilangkan ovarium dari rongga abdomen.
Sedangkan histerectomy adalah tindakan mengeluarkan dan menghilangkan uterus
dari rongga abdomen. Operasi ini dilakukan untuk mensterilkan hewan betina
dengan maksud menghilangkan fase estrus atau untuk terapi penyakit yang
terdapat pada uterus, seperti resiko tumor ovarium, serivks, dan uterus.
Keputusan untuk melakukan ovariohisterektomi dipilih ketika berbagai jenis
terapi lain sudah tidak memungkinkan. Indikasi ovariohisterectomy (OH) yaitu
sterilisasi, penyembuhan penyakit saluran reproduksi (pyometra, tumor ovary,
cysteovary) tumor uterus (leiomyoma, fibroma, fibroleiomyoma), veneric
sarcoma, prolapsus uterus dan vagina, hernia inguinalis, modifikasi tingkah laku
agar mudah dikendalikan, lebih jinak, membatasi jumlah populasi ( Komang WS
2011). Selain itu, tindakan operasi ini juga dianjurkan dilakukan pada anjing
betina yang sudah tua yang tidak ingin dikawinkan lagi dengan tujuan untuk
mencegah terjadinya tumor kelenjar mamae. Efek yang muncul dari dilakukannya
ovariohisterektomi adalah akan munculnya kondisi ketidakseimbangan hormonal
untuk sementara waktu. Hal tersebut dapat terjadi dikarenakan ovarium
merupakan kelenjar yang juga berfungsi sebagai kelenjar endokrin. Namun,
keuntungan dari dilakukannya ovariohisterktomi adalah dapat mencegah
terjadinya tumor mamae dan akan menghilangkan kemungkinan terjadinya kasus
pyometra.
Tindakan operasi yang dilakukan tanpa memperhatikan prosedur dan
kebersihan maka secara tidak sengaja akan menimbulkan berbagai hal diantaranya
terjadi komplikasi akibat perdarahan karena pembuluh darah ovarium yang
rupture ketika ligamentum suspensorium ditarik, terjadinya Ovariant remnant
syndrome sehingga dapat menyebabkan hewan tetap estrus pasca

3
ovariohysterectomy karena pengambilan ovarium pada saat operasi yang tidak
sempurna, uterine stump pyometra, inflamasi dan granuloma, fistula pada traktus
reproduksi terjadi karena berkembang dari adanya respon inflamasi terhadap
material operasi (benang), urinary incontinence menyebabkan tidak dapat
mengatur spincter vesica urinary karena adanya perlekatan (adhesi) atau
granuloma pangkal uterus (sisa) yang mengganggu fungsi spincter vesica urinary
(Noviana D et al, 2011).
Teknik Ovariohisterectomy dibagi menjadi dua, yaitu teknik
ovariohisterectomy laparotomi dan teknik ovariohisterectomy flank. Teknik
ovariohisterectomy laparotomi yaitu penyayatan kulit dilakukan pada bagian
caudal umbilikal (Fossum, 2007). Menurut Pearson (1973) teknik
ovariohisterectomy laparotomi lebih sering dilakukan karena efisiensi waktu,
proses kesembuhan yang lebih cepat, dan saat pembedahan lebih mudah
menemukan uterus dibandingkan dengan teknik ovariohisterectomy flank. Teknik
ovariohisterectomy flank atau teknik bilateral yaitu penyayatan kulit dilakukan di
bagian flank.

2.2 Anatomi Reproduksi Anjing Betina


Organ reproduksi anjing betina terdiri dari alat kelamin dalam yaitu
ovarium, oviduct, dan uterus, serta alat kelamin luar (vulva). Ovarium pada anjing
berukuran kecil dan berjumlah sepasang dengan kemampuan memproduksi dalam
satu periode lebih dari satu sel telur. Ovarium pada anjing dewasa terletak di
sekitar lumbal kaudal / sekitar ginjal. Bentuknya oval dengan permukaan yang
tidak rata dengan panjang 8 hingga 9 milimeter. Kedua ovarium tersebut berada di
bawah plika urogenitalis dengan posisi menggantung. Selaput jaringan yang
menggantung dinamakan mesovarium yang penuh dengan saluran pembuluh
darah. Setelah mencapai usia dewasa sekitar 9 bulan organ reproduksi betina
mulai dapat berfungsi dengan baik. Birahi berlangsung dengan singkat hanya
selama 4 hari saja. Ovulasi akan terjadi setelah anjing mendapat rangsangan dari
pejantan antara 1 hingga 2 hari setelah terjadi perkawinan. apabila anjing betina
tidak menerima rangsangan apapun maka folikel yang sudah terbentuk akan
berubah menjadi folikel atresi dan fase estrus akan terulang 2 hingga 3 minggu

4
kemudian. Ovarium tersusun oleh bagian bagian medula yang terletak di dalam
dan korteks yang terletak diluamya. Komposisi bagian medula yaitu jaringan ikat
fibroelastik, jaringan syaraf dan pembuluh darah yang berhubungan dengan
ligamentum mesovarium melalui hilus. Bagian korteks berisi folikel-folikel,
corpus luteum, stroma, pembuluh darah, pembuluh limfe, dan serabut otot polos.
Di bagian paling luar, ovarium dikelilingi oleh epitel germinal dan terbungkus
oleh tunica albuginea (Thomas, 2009).

Gambar 2.1 Bagian reproduksi anjing betina (Konig, 2004)


Ligamentum utama dari ovarium menautkan ovarium dengan uterus. Arteri
dan vena pada ovarium sangat rapuh dan mudah pecah.Tertetak pada bagian
dorsal dari ovarium. Vaskularisai arteri ovarium berasal dari aorta sedangkan vena
pada ovarium kiri akan mengalir menuju vena ginjal kiri dan kanan yang akan
bermuara pada vena kava kaudal. Setiap ovarium melekat pada ligamentum yang
berada pada kornua uteri dan bergabung dengan ligamentum suspensorium.
Mesoovarium atau pedikel ovarium termasuk ke dalam ligamentum suspensorium
dengan vaskularisai berasal dari vena dan arteri ovarica dan sejumlah lemak dan
jaringan ikat yang menutupinya (Bearden, 2000).
Saluran kelamin pada anjing dibagi menjadi 3 yaitu tuba fallopi,
rahim/uterus, vagina dan vulva. Tuba fallopi pada anjing digantung oleh
mesososalping. Mesosalping bersama dengan ligamentum ovari dan ovarium
membentuk bursa ovarii dengan bidang yang luas sehingga menutupi ovarium.

5
Panjang dari tuba fallopi pada anjing sendiri antara 5 hingga 9 cm berbentuk
saluran kecil berwarna putih yang berkelok kelok. Didalam tuba fallopi terdapat
semacam lapisan sel epitel bersilia.Arah pergerakan dari silia sendiri menuju
rahim dan sangat berguna untuk membantu berpindahnya sel telur. Tuba fallopi
sendiri memiliki jaringhan otot di sekitar dinding. Dengan adanya otot
menyebabkan tuba fallopi mampu melakukan gerakan meremas remas. Fungsi
utama dari tuba fallopi adalah memindahkan sperma dan sel telur ke tempat
fertilisasi.
Uterus merupakan bagian caudal tuba fallopii yang terdiri dari sepasang
kornua uteri, korpus uteri, dan servik uteri. uterus anjing tipenya bipartitus yang
ditandai oleh satu serviks uteri, korpus uteri satu dengan dua buah kornua. uterus
berfungsi sebagai alat dan tempat untuk transportasi sperma ke dalam tuba
fallopii, memberi nutrisi pada embrio sebelum terbentuknya plasenta melalui
uterine milk, pembentukan plasenta, perkembangan embrio / foetus dan kelahiran
anak. corpus uteri memiliki panjang 3-5 cm dan memiliki posisis intrabdominal
yang akan berlanjut menjadi dua kornua yang terletak dilantai abddomen yakni di
kedua sisi linea alba. Ligamentum suspensorium yang arahnya craniodorsal dari
ovarium menautkan ovarium dengan dinding tubuh. uterus menerima suplai darah
dari arteri uterina dexters dan sinister. Corpus uteri yang terletak berdekatan
dengan oviduct divaskularisasi dari cabang arteri ovarium, sementara bagian
sisanya divaskularisai dari canag arteri vaginal. Arteri uterina hanya memberikan
suplai darah pada organ uterus. Arteri uterina berasal dari arteri illiaca interna
bersama dengan arteri umbilical. Ligamentum utama dari ovarium menautkan
ovarium dengan uterus. Arteri dan vena pada ovarium sangat rapuh dan mudah
pecah.Tertetak pada bagian dorsal dari ovarium. Vaskularisai arteri ovarium
berasal dari aorta sedangkan vena pada ovarium kiri akan mengalir menuju vena
ginjal kiri dan kanan yang akan bermuara pada vena kava kaudal. Setiap ovarium
melekat pada ligamentum yang berada pada kornua uteri dan bergabung dengan
ligamentum suspensorium. Mesoovarium atau pedikel ovarium termasuk ke
dalam ligamentum suspensorium dengan vaskularisai berasal dari vena dan arteri
ovarica dan sejumlah lemak dan jaringan ikat yang menutupinya.

6
Vagina dibagi menjadi dua yaitu vagina sebenarnya dan vestibulum.
Vagina berfungsi untuk menampung dan menangkap sperma dan juga jalan keluar
bagi janin dan plasenta anak anjing. Dindingnya terdiri dari tiga bagian yaitu
jaringan otot, serosa dan selaput lendir. Vulva adalah bagian akhir dari alat
kopulasi betina dan tempat bersatunya labia vulva. Labia anjing mirip dengan
labio minora pada manusia.

2.3 Prinsip Operasi Halsted Principle


• Gentle handling of tissue : Penanganan jaringan yang lembut
• Meticulous haemostasis : Haemostasis yang teliti
• Preservation of blood supply : Pelestarian suplai darah
• Strict aseptic technique : Teknik aseptik yang ketat
• Minimum tension on tissues : Ketegangan minimum pada jaringan
• Accurate tissue apposition : Apposition jaringan yang akurat
• Obliteration of deadspace : Penghapusan deadspace

2.4 Premedikasi
Obat-obatan preanastesik yang disebut juga dengan premedikasi
digunakan untuk mempersiapkan pasien sebelum pemberian obat anastesi baik itu
anastesi lokal, regional maupun umum. Manfaat pemberian premedikasi adalah
untuk membuat hewan menjadi lebih tenang dan terkendali, mengurangi dosis
anastesi, mengurangi efek-efek otonomik yang tidak diinginkan seperti saliva
yang berlebihan, mengurangi efek-efek samping yang tidak diinginkan seperti
vomit, dan mengurangi rasa nyeri preoperasi. Agen anastesi digolongkan menjadi
4 yaitu: antikolinergik, morfin serta derivatnya, transquilizer, dan
neuroleptanalgesik. Sementara menurut Sardjana dan Kusumawati (2004), obat-
obat yang digunakan anastesi premidikasi meliputi antikolinergik. Analgesik,
neuroleptanalgesik, transquilizer, obat dissodiatif dan barbiturate. Obat-obatan
premedikasi diberikan maksimal 10 menit atau kurang lebih setengah sampai satu
jam sebelum pemberian anestesi umum atau anestesi lokal. Obat-obatan tersebut
disuntikkan secara intramuskular, subkutan, dan bahkan intramuskular. Menurut
Sardjana dan Kusumawati (2004) pada umumnya obat-obat preanastesi bersifat

7
sinergis terhadap anastetik namun penggunaanya harus disesuaikan dengan umur,
kondisi dan temperamen hewan, ada atau tidaknya rasa nyeri, teknik anastesi yang
dipakai, adanya antisipasi komplikasi, dan lainnya.

2.4.1 Atropin Sulfat


Atropin merupakan agen preanestesi yang digolongkan sebagai
antikolinergik atau parasimpatolitik. Atropin sebagai prototip antimuskarinik
mempunyai kerja menghambat efek asetilkolin pada syaraf postganglionik
kolinergik dan otot polos. Hambatan ini bersifat reversible dan dapat diatasi
dengan pemberian asetilkolin dalam jumlah berlebihan atau pemberian
antikolinesterase (Krishnamoorthy,2009). Atropin berfungsi utama mengurangi
sekresi kelenjar saliva terutama bila dipakai obat anestetik yang menimbulkan
hipersekresi kelenjar saliva.
Atropin sebagai premedikasi diberikan pada kisaran dosis 0.02-0.04
mg/kg, yang diberikan baik secara subkutan, intra vena maupun intramuskuler
(Plumb, 2005), sedangkan menurut Faggella (1993), atropin sebagai premedikasi
diberikan dosis 0,03-0,06 mg/kg. Pada dosis normal, atropin dapat mencegah
bradikardia dan sekresi berlebih saliva serta mengurangi motilitas gastrointestinal.
Atropin dapat menimbulkan efek, misalnya pada susunan syaraf pusat,
merangsang medulla oblongata, dan pusat lain di otak, menghilangkan tremor,
perangsangan respirasi akibat dilatasi bronkus, pada dosis yang besar
menyebabkan depresi nafas, eksitasi, halusinasi dan lebih lanjut dapat
menimbulkan depresi dan paralisa medulla oblongata. Efek atropin pada mata
menyebabkan midriasis dan siklopegia.
Pada saluran nafas, atropin dapat mengurangi sekresi hidung, mulut, dan
bronkus. Efek atropin pada sistem kardiovaskuler (jantung) bersifat bifasik yaitu
atropin tidak mempengaruhi pembuluh darah maupun tekanan darah secara
langsung dan menghambat vasodilatasi oleh asetilkolin. Pada saluran pencernaan,
atropin sebagai antispasmodik yaitu menghambat peristaltik usus dan lambung,
sedangkan pada otot polos atropin mendilatasi pada saluran perkencingan
sehingga menyebabkan retensi urin (Krishnamoorthy, 2009).

8
2.5 Anastesi
Pada operasi-operasi daerah tertentu seperti abdomen, maka selain
hilangnya rasa sakit dan kesadaran, dibutuhkan juga relaksasi otot yang optimal
agar operasi dapat berjalan dengan lancar (Plumb, 2005). Anestesi umum
diperlukan untuk pembedahan karena dapat menyebabkan penderita mengalami
analgesia, amnesia, dan tidak sadarkan diri sedangkan otot-otot mengalami
relaksasi dan penekanan reflek yang tidak dikehendaki. Hampir semua obat
anestetik menghambat aktivitas sistem saraf pusat secara bertahap diawali fungsi
yang kompleks yang dihambat dan yang paling akhir dihambat adalah medula
Oblongata dimana terletak pusat vasomotor dan pusat respirasi yang vital.
Depresi umum pada sistem saraf pusat tersebut akan menimbulkan
hipnosis, analgesi, dan depresi pada aktivitas refleks. Obat anestesi umum yang
ideal mempunyai sifat-sifat antara lain: pada dosis yang aman mempunyai
analgesik relaksasi otot yang cukup, cara pemberian mudah, mulai kerja obat yang
cepat dan tidak mempunyai efek samping yang merugikan. Selain itu, obat
tersebut harus tidak toksik, mudah dinetralkan, mempunyai batas keamanan yang
luas, tidak dipengaruhi oleh variasi umur dan kondisi hewan. Induksi anastesi
pada anjing menggunakan kombinasi xylazine dan ketamin. Setelah sebelumnya
diijeksikan premedikasi berupa atropin sulfat. Pemberian premedikasi sebelum
induksi anastesi diberikan dengan tujuan mengurangi jumlah anastesi yang
diperlukan dan meningkatkan batas keamanan dengan mengurangi efek negatif
dari anestesi seperti mengurangi timbulnya hipersalivasi, bradycardia, muntah
sebelum dan sesudah operasi, kecemasan, memperlancar induksi (Faggella, 2009).

2.5.1 Ketamin
Ketamin adalah larutan yang tidak berwarna, stabil pada suhu kamar dan
relative aman dengan kerja singkat. Sifat analgesiknya sangat kuat untuk sistem
somatik tetapi lemah untuk sistem visceral, tidak menyebabkan relaksasi otot lurik
bahkan kadang-kadang tonusnya sedikit meninggi. Ketamin dengan pemberian
tunggal bukan anestetik yang bagus. Ketamin dapat dipakai oleh hampir semua
spesies hewan. Ketamin bersama xylazine dapat dipakai untuk anastesi pada

9
anjing. Ketamin dengan pemberian tunggal bukan anastetik yang bagus (Sardjana
dan Kusumawati, 2004).
Menurut Yudaniayanti dkk (2010) penggunaan ketamin mempunyai
keuntungan dan kerugian. Keuntungan penggunaan ketamin, yaitu; (1) dalam
pengaplikasianya ketamin sangat mudah, (2) menyebabkan pendepresan
kardiovaskuler dan respirasi minimal, (3) dapat digunakan dalam situasi darurat
dimana hewan belum dipuasakan, karena refleks faring tetap ada, (4) induksi
cepat dan tenang, dan (5) dapat dikombinasikan dengan agen preanestesi atau
anestesi lainnya. Kerugian dari penggunaan ketamin adalah (1) menyebabkan
relaksasi otot tidak maksimal bila penggunaannya secara tunggal, (2) respon yang
bervariasi pada beberapa pasien, (3) dapat menyebabkan hipotermia, (4) dapat
menyebabkan kekejangan ektremitas, (5) menyebabkan konvulsi pada beberapa
pasien, dan (6) recovery yang lama.

2.5.2 Xylazine
Xylazine merupakan senyawa sedatif golongan α2 adrenergik agonis yang
bekerja dengan cara mengaktifkan central α2–adrenoreceptor. Xylazin dapat
menyebabkan penekanan sistem saraf pusat diawali dengan sedasi. Xylazine
dengan dosis yang lebih tinggi digunakan untuk hipnotis, sehingga akhirnya
hewan menjadi tidak sadar dan teranestesi. Kombinasi yang paling sering
digunakan untuk ketamin adalah xylazine. Kedua obat ini merupakan agen
kombinasi yang saling melengkapi antara efek analgesik dan relaksasi otot,
ketamin memberikan efek analgesik sedangkan xylazine menyebabkan relaksasi
otot yang baik. Xylazine bekerja pada reseptor presinapsis dan pos-sinapsis dari
sistem saraf pusat dan perifer sebagai agonis adrenergik. Penggunaan xylazine
dapat mengurangi sekresi saliva dan peningkatan tekanan darah yang diakibatkan
oleh penggunaan ketamin. Penggunaan kombinasi ketamin xylazine sebagai
anestesi umum juga mempunyai banyak keuntungan, antara lain : mudah dalam
pemberian, ekonomis, induksinya cepat begitu pula dengan pemulihannya,
mempunyai pengaruh relaksasi yang baik dan jarang menimbulkan komplikasi
klinis (Syarif dkk, 2009).

10
2.6 Stadium Anestesi
Stadium anestesi terbagi atas stadium I, II, III, dan IV. Stadium I disebut
sebagai stadium analgesia yang dikenal juga sebagai stadium eksitasi yang
disadari atau disorientasi. Stadium ini berlangsung antara saat induksi dilakukan
sampai hilangnya kesadaran dari hewan. Pada stadium ini pupil tidak melebar
(midriasis) akibat terjadinya rangsang psikosensorik. Stadium II disebut stadium
hipersekresi atau stadium eksitasi yang tidak disadari, stadium ini juga disebut
stadium delirium. Stadium ini dimulai dari hilangnya kesadara terjadi depresi pada
ganglia basalis sehingga terjadi reaksi berlebihan maupun reflex yang tidak
terkendali terhadap segala bentuk rangsangan, reflex faring yang berhubungan
dengan menelan dan muntah simpatik pada otot dilatators.. Stadium III disebut
sebagai stadium anestesi atau stadium pembedahan, pupil mengalami midriasis
kembali disebabkan pelepasan adrenalin. Stadium pembedahan ini dilakukan
bilaman pupil dalam posisi terfiksasi di tengah dan respirasi teratur. Pada anestesi
yang dalam, pupil mengalami dilatasi maksimal akibat paralisis saraf cranial III.
Stadium pembedahan dibagi menjadi 4 fase yaitu sebagai berikut :
1. Fase 1 : Pernafasan teratur bersifat torakoabdominal, pupil miosis, reflex
cahaya positif, hipersalivasi, reflex faring dan muntah negative, tonus otot
mulai menurun. Operasi kecil dapat dilakukan pada fase ini.
2. Fase 2 : Pernafasan teratur bersifat torakoabdominal, frekuensi napas
meningkat, pupil midriasis, reflex cahaya menurun dan reflex kornea
negative, reflex laring negative dan semua operasi dapat dilakukan pada
fase ini.
3. Fase 3 : Pernafasan teratur bersifat abdominal karena terjadi kelumpuhan
saraf interkostal, pupil melebar, reflex laring dan peritoneum negative,
tonus otot semakin menurun. Semua operasi dapat dilakukan pada fase ini.
4. Fase 4 : Ventilasi tidak teratur pupil midriasis, tonus otot menurun, reflek
spinchter ani dan kelenjar air mata negative.
Stadium IV disebut stadium overdosis, hewan berhenti bernapas dan
jantung berhenti yang berakhir dengan kematian. Pengamatan efek anestesi
dilakukan terhadap fungsi pernafasan dan jantung. Pengamatan pertama dilakukan
pada perubahan tekanan darah, pernafasan, reflex pupil, pergerakan bola mata

11
dan dari hewan. Pengamatan yang kedua berhubungan dengan temperature tubuh,
dimana tubuh tidak dapat mempertahankan temperature normalnya karena
pemberian obat anestesi yang mendepresi pusat pengatur temperature tubuh
disusunan saraf pusat, sehingga temperatur tubuh menjadi turun. Pemantauan
yang ketiga melalui system kardiovaskuler, fungsi jantung dapat dipantau melalui
observasi, yaitu pemeriksaan pulsus hewan dimana berkaitan dengan frekuensi
ritmenya melalui arteri femoralis, sedangkan detak jantung dapat didengarkan
melalui stetoskop. Anestesi yang dalam dapat menyebabkan pulsus yang lambat
dan jantung melemah. Disamping itu pemeriksaan elektrokardografi untuk
memantau perubahan frekuensi dan ritme jantung serta system konduksi jantung,
yang bertujuan untuk mendiagnosa adanya cardiac arrest, adanya arrhythmia
sebagai diagnosa ischemia myocard. Pemantauan keempat berhubungan dengan
respirasi hewan dengan melihat jenis respirasi torakal, abdominal, dan
ppengamatan terhadap komplikasi system respirasi seperti spasmus laring

2.7 Pemberian Antibiotik


Antibiotika merupakan zat kimia yang dihasilkan oleh fungi dan bakteri,
dimana memiliki kemampuan menghambat pertumbuhan kuman, akantetapi
tingkat toksisitas terhadap manusia atau hewan relatif kecil. Menurut Hasan
(2009), berdasarkan struktur kimianya dibedakan menjadi beberapa golongan.
Golongan tersebut diantaaranya aminoglikosida, beta-Laktam, glikopeptida,
polipeptida, polimiksin, streptogramin, oksazolidinon, sulfonamida. Penggunaan
antibiotik dalam tindakan ovariohisterektomi pada anjing menggunakan
amoxicillin. Amoxicillin merupakan salah satu antibiotik golongan penisilin yang
banyak beredar di pasaran dan banyak digunakan karena harga antibiotik
golongan ini relatif murah. Mekanisme kerja dari amoxicillin adalah dapat
menghambat sintesis dinding sel bakteri dengan mengikat satu atau lebih pada
ikatan penisilin-protein sehingga menyebabkan penghambatan pada tahapan akhir
transpeptidase sintesis peptidoglikan dalam dinding sel bakteri, akibatnya
biosintesis dinding sel terhambat dan sel bakteri menjadi pecah (lisis).

12
2.8 Fase Kesembuhan
Respon organisme terhadap kerusakan jaringan/organ serta usaha
pengembalian kondisi homeostasis sehingga dicapai kestabilan fisiologis jaringan
atau organ yang pada kulit terjadi penyusunan kembali jaringan kulit ditandai
dengan terbentuknya epitel fungsional yang menutupi luka (Frandson,1992).
Tahapan penyembuhan luka terbagi atas :
• Fase koagulasi : setelah luka terjadi, terjadi perdarahan pada daerah luka
yang diikuti dengan aktifasi kaskade pembekuan darah sehingga terbentuk
klot hematoma. Proses ini diikuti oleh proses selanjutnya yaitu fase
inflamasi.
• Fase inflamasi : Fase inflamasi mempunyai prioritas fungsional yaitu
menggalakkan hemostasis, menyingkirkan jaringan mati, dan mencegah
infeksi oleh bakteri patogen terutama bakteria. Pada fase ini platelet yang
membentuk klot hematom mengalami Universitas Sumatera Utara
degranulasi, melepaskan faktor pertumbuhan seperti platelet derived
growth factor (PDGF) dan transforming growth factor ß (βTGF),
granulocyte colony stimulating factor (G-CSF), C5a, TNFα, IL-1 dan IL-8.
Leukosit bermigrasi menuju daerah luka. Terjadi deposit matriks fibrin
yang mengawali proses penutupan luka. Proses ini terjadi pada hari 2-4.
• Fase proliperatif : Fase proliperatif terjadi dari hari ke 4-21 setelah trauma.
Keratinosit disekitar luka mengalami perubahan fenotif. Regresi hubungan
desmosomal antara keratinosit pada membran basal menyebabkan sel
keratin bermigrasi kearah lateral. Keratinosit bergerak melalui interaksi
dengan matriks protein ekstraselular (fibronectin, vitronectin dan kolagen
tipe I). Faktor proangiogenik dilepaskan oleh makrofag, vascular
endothelial growth factor (VEGF) sehingga terjadi neovaskularisasi dan
pembentukan jaringan granulasi.
• Fase remodeling : Remodeling merupakan fase yang paling lama pada
proses penyembuhan luka,terjadi pada hari ke 21-hingga 1 tahun. Terjadi
kontraksi luka, akibat pembentukan aktin myofibroblas dengan aktin
mikrofilamen yang memberikan kekuatan kontraksi pada penyembuhan
luka. Pada fase ini terjadi juga remodeling kolagen. Kolagen tipe III

13
digantikan kolagen tipe I yang dimediasi matriks metalloproteinase yang
disekresi makrofag, fibroblas, dan sel endotel. Pada masa 3 minggu
penyembuhan, luka telah mendapatkan kembali 20% kekuatan jaringan
normal (Craven,2000)

14
BAB 3
METODOLOGI

3.1 Waktu dan Tempat Pelaksanaan


Kegiatan operasi ovariohisterectomy pada anjing betina dilakukan pada
tanggal 27 Maret 2018 di Ruang Bedah, Rumah Sakit Hewan Pendidikan,
Universitas Brawijaya.

3.2 Alat dan Bahan


Alat-alat yang digunakan dalam operasi ovariohisterectomy pada anjing
betina antara lain; scalpel handle, blade, gunting tajam-tajam, gunting tajam-
tumpul, arteri clamp, alice forceps, duk clamp, spy hook, pinset anatomis dan
chirurgis, needle holder, jarum, pisau cukur, termometer, stetoscope, iv catheter,
tali fiksasi, tiang infus, spuit, duk, plester, kapas, kasa steril, hypafix dan tampon.

Sedangkan bahan-bahan yang digunakan antara lain; hewan anjing betina,


air sabun, alkohol, betadine, cairan infus, benang catgut chromic, amoxicilin,
atropin sulfat, ketamine, xylazine, ketoprofen dan gentamicin salep.

3.3 Metode Pelasanaan


3.3.1 Persiapan Ruang Operasi
Persiapan ruang operasi meliputi ruang operasi, meja dan perlengkapan
lainnya dibersihkan lalu dilakukan desinfeksi dengan menggunakan desinfektan.
Ruang operasi harus kedap air dengan cara dicat atau dilapisi dengan kapur yang
bertujuan agar air tidak merembes.

3.3.2 Persiapan Alat


Alat-alat bedah yang digunakan untuk ovariohisterectomy dicuci dengan
air sabun, bila perlu disikat bila ada bekas percikan darah. Kemudian dibilas
dengan air hangat sampai bersih. Setelah itu dibilas lagi dengan desinfektan. Alat-
alat tersebut dikeringkan dengan lap bersih dibungkus dengan kain penutup.
Dimasukkan kedalam autoclave 121oC selama 1 jam.

15
3.3.3 Persiapan Hewan
Persiapan hewan yang dilakukan sebelum hewan dibedah yaitu hewan
terlebih dahulu dilakukan pemeriksaan fisik, pemeriksaan laboratorium bila
diperlukan, dan hewan dipuasakan selama 8-12 jam sebelum pembedahan.

3.3.4 Persiapan Obat

Tabel 3.1 Persiapan obat premedikasi dan anastesi

No. Obat Jenis Dosis Sediaan Volume Rute Waktu


(mg/kg (mg/ml) (ml) (WIB)
BB)
1. Amoxicilin Antibiotik 20 50 1,46 IM 17.04
2. Atropin Premedikasi 0,04 0,25 1,76 SC 13.06
3. Ketamine Anesthesi 15 100 1,65 IV 13.25
4. Xylazine Anesthesi 2 20 1,1 IV 13.25
5. Ketoprofen NSAID 2 50 0,4 IM Post
Operasi
6. Gentamicin Antibiotik - Salep - Topikal Post
Operasi
7. Obat Racik Antibiotik, - Kapsul - PO Post
Analgesik Operasi

3.3.5 Prosedur Pre-Operasi Ovariohisterektomi


Perlakuan pre-operasi OH diantaranya adalah :
- Dilakukan pemeriksaan hematologi sebelum operasi untuk mengetahui
status kesehatan hewan
- Dilakukan pembersihan tubuh anjing
- Dilakukan pemeriksana fisik dan pemeriksaan kondisi hewan secara umum
- Dipuasakan 8 jam sebelum operasi
- Dilakukan pencukuran rambut pada daerah yang akan diinsisi
- Lokasi yang akan diinsisi dibersihkan dengan menggunakan povidone
iodine dan alkohol 70 %

16
3.3.6 Prosedur Operasi Ovariohisterektomi
Perlakuan OH terdiri dari pemberian anasthesi, pembedahan / laparotomi,
pengikatan / ligasi ovarium, pengangkatan ovarium dan penutupan rongga
abdomen dengan rincian sebagai berikut ;
a. Pemberian anasthesi
- Injeksi atropine sulfat secara subcutan (SC) sebagai premedikasi
- Selang waktu 15 menit diberikan anasthesi kombinasi xylazine dan
ketamin
- Pada saat hewan sudah tidak sadarakan diri, hewan diposisikan rebah
dorsal, untuk menahan posisi tersebut keempat kaki hewan diikat
dengan tali kekang ke meja operasi
- Pada kondisi ini dilakukan penataan posisi jalan nafas
b. Pembedahan / laparotomi
Teknik yang dilakukan pada pembedahan OH adalah sama halnya
dengan teknik laparotomi.
1. Pertama dilakukan pemasangan infus RL untuk mempertahankan kondisi
anjing tetap stabil saat dilakukan pembedahan.
2. Dibuat sayatan pada midline di posterior umbilikal dengan panjang
kurang lebih 3 - 4 cm. Lapisan pertama yang disayat adalah kulit
kemudian subkutan. Daerah di bawah subkutan kemudian dipreparir
sedikit demi sedikit hingga bagian peritoneum dapat terlihat.
3. Setelah itu, bagian peritoneum tersebut dijepit menggunakan pinset
kemudian disayat sedikit tepat pada bagian linea alba menggunakan
scalpel hingga ruang abdomen terlihat.
4. Kemudian sayatan tersebut diperpanjang ke arah anterior dan posterior
menggunakan gunting dengan panjang sesuai dengan sayatan yang telah
dilakukan pada kulit.
5. Setelah rongga abdomen terbuka, kemudian dilakukan pencarian organ
uterus dan ovarium. Pencarian uterus dan ovarium dilakukan dengan
menggunakan jari telunjuk yang dimasukkan ke rongga abdomen.

17
6. Setelah itu, uterus ditarik keluar dari rongga abdomen hingga posisinya
adalah ekstra abdominal. Gunakan arteri klem untuk penjepitan pada
bagian pembuluh darahnya. Penjepitan dilakukan menggunakan dua
klem arteri yang dijepitkan pada penggantung tersebut secara
bersebelahan.
7. Pada bagian anterior dari klem arteri yang paling depan, dilakukan ligasi
menggunakan benang chromic. Ligasi dilakukan 2-3 kali karena untuk
menghindari ligasi lain yang kemungkinan dapat terlepas yang akan
mengakibatkan pendarahan.
8. Lakukan pemotongan pada bifurcartio menggunakan gunting. Klem
arteri yang menjepit penggantung dan berhubungan dengan uterus tidak
dilepas sedangkan klem arteri yang satunya lagi dilepas secara perlahan-
lahan, sebelumnya pastikan tidak ada perdarahan lagi.
9. Berikan cairan NaCl fisiologis pada organ agar organ tidak terlalu
kering.
10. Uterus dilepas dan diangkat keluar tubuh, dan jika sudah tidak ada
perdarahan, klem yang lain dapat dilepas secara perlahan dan sebelum
ditutup jangan lupa berikan antibiotik.
11. Jika sudah dipastikan tidak ada perdarahan, dijahit menuggunakan catgut
chromic 3,0. Dilakukan penjahitan aponeurose M. obliqous abdominis
externus dan M. abdominis externus dengan menggunakan teknik jahitan
simple interrupted. Pastikan jahitan tidak melukai atau mengenai organ
didalamnya, gunakan alice forcep untuk membantu penjahitan.
Penjahitan kedua dilakukan pada subkutan dengan menggunakan teknik
jahitan simple continous menggunakan catgut plain. Penjahitan terakhir
dilakukan pada kulit dengan teknik simple interrupted atau intradermal
menggunakan benang silk.
12. Diberikan antibiotik pada setiap lapisan setelah jahitan. Setelah operasi
selesai, daerah insisi diberi providone iodine. Setelah itu jahitan ditutup
dengan kasa, direkatkan pada kulit abdomen anjing dengan hypavic dan
plester. Agar jahitan tidak disentuh oleh anjing, hewan dipasangi gurita

18
khusus untuk menutup daerah abdomen atau menggunakan collar pada
leher anjing.

3.3.7 Prosedur Post Ovariohisterectomy


Perlakuan post operasi diantaranya :
- Apabila suhu pasca operasi mengalami penurunan / hipotermia maka
dilakukan penyinaran menggunakan infrared
- Dilakukan pengamatan berkala terhadap temperatur, pulsus dan respirasi
hingga hewan sadarkan diri
- Pengamatan dilakukan pula terhadap tingkat dehidrasi, urinasi, dan
defekasi
- Dilakukan pengangkatan jahitan pada hari ke 7 post operasi, namun pada
penjahitan intradermal pengangkatan jahitan tidak dilakukan
- Luka jahitan dicek setiap 2 hari sekali. Perlakuan yang diberikan adalah
dibersihkan daerah sekitar jahitan selanjutnya diberikan antibiotik topical
berupa gentamycin salep.
- Selama menunggu recovery pasien, hewan diberi terapi berupa
antiinflamasi dan antibiotik per oral (PO) selama 5 hari

19
BAB 4
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1. Status Hewan


4.1.1. Signalement Hewan
Nama : Pritti
Jenis Hewan : Anjing
Kelamin : Betina
Ras/Breed : Domestic Dog
Warna bulu/kulit : Putih, Coklat
Umur : 7 bulan
Berat Badan : 11 kg
Tanda Khusus :-
Gambar 4.1 Anjing Pritti
(Dokumentasi Pribadi, 2018)

4.1.2. Pemeriksaan Fisik


Keadaan Umum
Perawatan : ditemukan kutu dan caplak
Habitus/tingkah laku : tulang punggung rata, jinak
Gizi : cukup
Pertumbuhan badan : baik
Sikap berdiri : tegak pada 4 kaki
Suhu tubuh : 38.6oC
Adaptasi Lingkungan : baik
Kepala dan Leher
Inspeksi
Ekspresi wajah : tenang
Pertulangan kepala : kompak,
Posisi tegak telinga : tegak ke atas
Posisi kepala : lebih tinggi dari tulang punggung
Palpasi

20
Turgor kulit : <2 detik
Mata dan orbita
Palpebrae : membuka dan menutup sempurna
Cilia : keluar sempurna
Conjunctiva : rose
Membrana nictitans : tidak muncul
Bola mata
Sclera : putih, tidak ada luka
Cornea : bersih, terang tembus
Iris : tidak ada perlekatan
Limbus : rata
Pupil : tidak ada perubahan
Refleks pupil : positif
Vasa injection : tidak ada
Mulut dan rongga mulut
Rusak/luka bibir : tidak ada
Mukosa : rose
Gigi geligi : tidak ada kelainan
Lidah : tidak ada luka/kelainan
Telinga
Posisi : tegak ke atas
Bau : khas serumen
Permukaan daun telinga : bersih
Krepitasi : negative
Reflek panggilan : positif
Leher
Perototan : tidak ada kelainan
Trachea : tidak ada kelainan
Esofagus : tidak teraba makanan
Sistem pernafasan
Inspeksi
Bentuk rongga thoraks : simetris

21
Tipe pernafasan : costal
Ritme : cepat
Intensitas : dangkal
Frekuensi : 28 kali/menit
Palpasi
Penekanan rongga thoraks : tidak ada rasa sakit
Palpasi intercostals : tidak ada rasa sakit
Perkusi
Lapangan paru-paru : tidak ada perluasan/penyempitan
Gema perkusi : nyaring
Auskultasi
Suara pernafasan : suara inspirasi berat
Suara ikutan antara in dan
: tidak ada
ekspirasi
Sistem peredarah darah
Inspeksi
Ictus cordis : tidak ada
Perkusi
Lapangan jantung : tidak ada perubahan
Auskultasi
Frekuensi : normal, 200 kali/menit
Intensitas : sedang
Ritme : teratur
Suara sistolik dan diastolic : jelas berbeda
Ekstrasistolik : tidak ada
Lapangan jantung : tidak ada perubahan
Sinkron pulsus dan jantung : sinkron
Abdomen dan Organ Pencernaan yang Berkaitan
Inspeksi
Besarnya : simetris
Bentuknya : tidak ada perubahan
Suara peristaltik lambung : tidak terdengar

22
Palpasi
Epigastrikus : tidak ada rasa sakit
Mesogastrikus : tidak ada rasa sakit
Hypogastrikus : tidak ada rasa sakit
Isi usus halus : tidak teraba
Isi usus besar : tidak teraba
Anus
Sekitar anus : bersih
Refleks spincter ani : positif
Pembesaran kolon : tidak ada
Kebersihan daerah perineal : bersih
Alat Gerak
Inspeksi
Perototan kaki depan : kompak, simetris
Perototan kaki belakang : kompak, simetris
Spasmus otot : tidak ada
Tremor : tidak ada
Sudut persendian : tidak ada kelainan
Cara gerak – berjalan : koordinatif
Cara gerak – berlari : koordinatif
Palpasi
Struktur pertulangan : kompak
Kaki kiri depan : kompak
Kaki kanan depan : kompak
Kaki kiri belakang : kompak
Kaki kanan belakang : kompak
Konsistensi pertulangan : keras
Reaksi saat palpasi : tidak ada rasa sakit
Letak reaksi sakit :-
Panjang kaki depan ka/ki : simetris
Panjang kaki belakang ka/ki : simetris
Palpasi

23
Lnn popliteus
Ukuran : kecil
Konsistensi : kenyal
Lobulasi : jelas
Perlekatan/pertautan
Panas : tidak
Kesimetrisan ka/ki : simetris
Kestabilan pelvis
Konformasi : tidak ada kelainan
Kesimetrisan : simetris
Tuber ischii : simetris
Tuber coxae : simetris

4.2. Pembahasan
Ovariohisterectomy (OH) merupakan tindakan bedah/operasi pengangkatan
organ reproduksi betina dari ovarium sampai dengan uterus. Banyak hal yang
harus diperhatikan sebelum operasi dilakukan yaitu preparasi hewan, pembiusan,
pencukuran/pembersihan daerah sayatan. Preparasi hewan dilakukan untuk
memastikan hewan benar-benar dalam kondisi sehat dan layak untuk dilakukan
operasi. Pemeriksaan meliputi umur hewan, suhu, frekuensi nafas, frekuensi
jantung, dan berat badan untuk menentukan dosis obat bius.
Antibiotik Amoxicillin diinjeksikan sebelum proses operasi dengan tujuan
untuk menurunkan resiko infeksi dan menjaga kondisi aseptis saat tindakan
operatif. Insisi jaringan saat proses operasi memungkinkan bakteri dapat masuk
dan terjadi kontaminasi. Injeksi antibiotik pre-operasi diharapkan dapat
melindungi anjing dari infeksi selama proses operasi berlangsung. Amoxicillin
dengan dosis 1,46 mg/kg BB diinjeksikan secara intra-muskular 30 menit sebelum
insisi pertama. Pemberian jeda waktu antara injeksi amoxicillin dan insisi pertama
bertujuan untuk memberikan waktu agar amoxicillin dapat bekerja di dalam
tubuh, yakni sekitar 30-40 menit. Amoxicillin merupakan antibiotik golongan
penicillin yang mampu melawan bakteri gram positif dan gram negative, aerob
dan anaerob (Plumb, 2008; Fossum; 2013; Smaill, 2010).

24
Premedikasi yang digunakan adalah atropin sulfat dengan dosis 1,76 mg/kg
BB secara subkutan. Atropin sulfat merupakan medikasi preanastetik yang
diberikan untuk mengurangi efek dari anestetikum. Atropin sulfat bekerja sebagai
antikolinergik dengan mekanisme kerja memblokir kerja acetilcholin pada
terminal-terminal ganglion dan syaraf otonom, mengurangi kerja kelenjar saliva
dan bronchial, serta meningkatkan kerja jantung. Pemberian atropine sulfat
bertujuan untuk mengurangi jumlah anestetikum umum yang diperlukan dan
meningkatkan batas keamanan, mengurangi rasa takut, menenangkan pasien,
mengurangi sekresi kelenjar saliva dan kelenjar selaput lendir saluran pernafasan,
mengurangi pergerakan lambung dan usus serta mencegah muntah ketika pasien
dalam keadaan tidak sadar, menghambat refleks vaso-vagal sehingga mencegah
perlambatan dan henti denyut jantung, mengurangi rasa sakit, rontaan dan rintihan
selama masa pemulihan (Wientarsih dkk., 2012). Ganiswara (1995) menyatakan
medikasi preanestetik bertujuan untuk mengurangi efek negatif dari anestesi
seperti mengurangi timbulnya hipersalivasi, bradycardia, muntah sebelum dan
sesudah operasi, kecemasan, memperlancar induksi, dan mengurangi keadaan
gawat anestesi.
Pembiusan dilakukan dengan menggunakan anestesi umum yaitu
kombinasi ketamin dan xylazine dengan perbandingan 1:1. Pemilihan anestesi
umum ini harus sesuai dengan syarat anestesi umum yaitu antara lain:
a. Tidak bergantung pada mekanisme metabolisme di dalam tubuh untuk
menghancurkan dan mengeliminasinya.
b. Proses pengindukan yang cepat, kedalaman anestesi yang dapat cepat dirubah
dan masa pemulihan yang cepat.
c. Tidak menekan pusat respirasi dan jantung.
d. Tidak mengiritasi jaringan tubuh.
e. Murah, stabil, tidak mudah meledak dan terbakar.
f. Tidak membutuhkan peralatan tertentu untuk mengaplikasikannya.
g. Durasi lama dan onset cepat.
Anestesi umum dilakukan untuk menghilangkan kesadaran hewan,
menghilangkan rasa sakit, memudahkan pelaksanaan operasi dan menjaga
keselamatan operator maupun hewan itu sendiri. Pembiusan anestetikum harus

25
memperhatikan ukuran relatif hewan, umur hewan, dan kondisi fisik. Xylazine
mempunyai daya kerja sebagai hipnotikum, anoksia, analgesia, muscle relaxan
berpengaruh terhadap sistem kardiovascular. Ketamin merupakan golongan
anestetikum disosiatif, mempunyai margin of safety yang cukup luas, mendepres
fungsi respirasi, menyebabkan adanya reflek menelan. Pemberian obat anestesi
diberikan secara intra muscular (IM).
Penggunaan kombinasi ketamin dan xylazine ini harus hati-hati karena
memberikan efek samping seperti meningkatkan cardiac output, tachycardia,
hipotensi, hipersalivasi, meningkatkan kontraksi dan konvulsi otot pada anjing
serta mengakibatkan defisiensi hati dan ginjal. Oleh karena itu, pemeriksaan
hewan sebelum dilakukan operasi sangat penting untuk memastikan hewan benar-
benar dalam keadaan sehat. Namun pemberian kombinasi dari kedua anastesi ini
juga bertujuan untuk mencegah vomitus.
Pemeriksaan fisik dilakukan dan dipantau setiap 15 menit sekali selama
proses operasi berlangsung. Pemasangan IV cateter infuse dilakukan setelah
injeksi anestesi. Setelah anjing teranastesi, anjing diletakkan diatas meja operasi
dengan posisi dorsal recumbency. Kemudian bersihkan bulu pada daerah yang
akan dilakukan insisi atau pembedahan dengan disemprotkan terlebih dahulu
sabun pada area yang akan dicukur, kemudian cukur di daerah abdomen, posterior
umbilical. Setelah semua bulu tercukur dengan bersih, kemudian daerah yang
akan diincisi dibersihkan dan disinfeksi dengan menggunakan alcohol dan iodine,
caranya dengan arah memutar dari dalam keluar, hal ini berfungsi untuk menjaga
kesterilan area yang akan diincisi. Setelah itu, buatlah sayatan sekitar 2-3 cm dari
umbilicus arah caudal, pada linea alba dengan panjang kurang lebih 7 cm.
Lapisan pertama yang disayat adalah kulit kemudian subkutan. Daerah di bawah
subkutan kemudian dipreparir sedikit hingga bagian peritoneum dapat terlihat.
Bagian peritoneum dijepit menggunakan pinset, disayat sedikit tepat pada bagian
linea alba menggunakan scalpel hingga ruang abdomen terlihat. Sayatan
diperpanjang ke arah anterior dan posterior menggunakan gunting. Luka sayatan
diusahakan seminimal mungkin dengan tujuan agar proses penjahitan
dan penyembuhan tidak terlalu lama, karena semakin sedikit luka yang dibuat
makan proses kesembuhan akan semakin cepat.

26
Setelah rongga abdomen terbuka, kemudian dilakukan pencarian organ
uterus dan ovarium dengan cara memasukkan jari dan melakukan perabaan pada
daerah uterus, tepat didaerah dorsal disebalah kanan dan kiri. Setelah di dapat
organ uterus, uterus ditarik keluar hingga daerah percabangan uterus (bivurcatio
uteri) dan terlihat ovarium. Penarikan uterus dilakukan secara perlahan agar tidak
terputus. Selanjutnya, klem tepat diatas ovarium dan tepat diatas cervix. Ligasi
diatas klem pertama (diatas ovarium) dan klem kedua (diatas cervix). Ligasi
dilakukan dengan kuat dan terikat erat agar tidak terjadi kebocoran pembuluh
darah. Lakukan ligase pada 2 ovarium sebelah kanan dan kiri secara bergantian.
Setelah diligasi dengan kuat potong uterus, lepas klem. Pastikan ligasi kuat dan
tidak lepas, serta tidak ada rembesan darah dari saluran yang telah di potong.
Setelah proses pemotongan selesai, masukkan kembali peritoneum. Bagian linea
alba ditutup kembali dengan menggunakan teknik penjahitan terputus sederhana.
Penjahitan pada subkutan dengan menggunakan benang cat gut chromic dengan
teknik jahitan menerus sederhana, dan dilanjutkan dengan penjahitan kulit
dengan teknik jahitan intradermal menggunakan benang cat gut chromic. Selama
penjahitan diberi intramox sebagai antibiotik pada bagian atas jahitan sedikit demi
sedikit hingga merata. Kemudian diusap dengan betadin diatas jahitan, diberi
gentamicin salep pas pada jahitan secara merata kemudian ditutup dengan hypavix
dan gurita untuk melindungi jahitan agar cepat kering, tidak ada kontaminasi dan
tidak lepas.
Keadaan hewan post operatif menunjukkan terjadinya hipotermia yakni
anjing setelah operasi memiliki suhu <32ºC, kisaran suhu ini jauh dibawah nilai
normal suhu anjing yakni 38ºC-39,5ºC. Penurunan suhu pada anjing merupakan efek
samping dari penggunaan anastesi ketamin yakni menyebabkan terjadinya penurunan
suhu. Upaya yang dilakukan untuk meningkatkan suhu yakni dilakukan penyinaran
dengan infrared. Pemberian infrared secara perlahan-lahan meningkatkat suhu dari
anjing mumum, dikarenakan infrared memiliki kemampuan untuk meningkatkan
sirkulasi mikro. Infrared yang dipancarkan yang mengenai anggota tubuh akan
mengaktifkan molekul air karena mempunyai getaran yang sama, adanya gerakan air
akan menghasilkan panas yang menyebabkan pembuluh kapiler membesar, dan
meningkatkan temperatur kulit, memperbaiki sirkulasi darah dan mengurani tekanan
jantung. Hewan yang telah sadar masih belum menunjukkan tanda untuk makan dan

27
minum. kemungkinan hewan mulai merasakan nyeri dikarenakan telah berkurangnya
efek anastesi. Pencegahan terjadinya dehidrasi dilakukan dengan tetap
mempertahankan cairan infus sebagai rehidrasi cairan. Monitoring harian yang
dilakukan selama paska operasi yang dilakukan dengan mengamati dan mengukur
suhu, frekuensi jantung, frekuensi nafas, defekasi, urinasi dan intake makanan. Intake
makanan dari mulai beberapa jam setelah operasi hingga akhir masa pengobatan
menunjukkan nafsu makan yang tinggi dan dapat makan secara mandiri. Observasi
terhadap suhu anjing yang diukur selama perawatan mengalami fluktuasi kenaikan
dan penurunan suhu yang variatif tetapi masih berada pada kisaran normal suhu pada
anjing yakni 38,1ºC-39-5ºC.
Perawatan post operasi dilakukan dengan pemberian antibiotik amoxicillin
2 kali sehari pada pagi dan sore hari selama 7 hari dengan dosis 20 mg/kg BB
dengan rute pemberian per oral (PO), pemberian analgesik meloxicam 1 kali
sehari selama 5 hari dengan dosis 0,1 mg/kg BB dengan rute pemberian per oral
(PO) dan penggantian bandage luka 3 hari sekali. Penggantian perban dimulai
dengan pembersihan luka insisi dengan larutan revanol, kemudian dioles salep
gentamycin. Selanjutnya luka insisi ditutup dengan kasa steril dan hypafix yang
bertujuan untuk meminimalisir ekspose dengan lingkungan luar yang dapat
menyebabkan kontaminasi. Perawatan pasca operasi juga meliputi pembersihan
kandang, pemberian makan dan minum, serta pemeriksaan fisik harian meliputi
suhu, pulsus, nafas, dan CRT, nafsu makan, minum, defekasi, dan urinasi. Pada
hari pertama post operasi, nafsu makan baik tapi tidak defekasi. Pada hari kedua
anjing sudah dapat defekasi. Jahitan pada pasien dilepas setelah 7 hari post
operasi, dan release pada hari ke-8.

Tabel 4.1 Pemeriksaan Fisik Post-Operasi


Tanggal Pemeriksaan Makan Minum Def. Urin. Terapi
Klinis
27/03/18 T : 39.3ºC √ √ - √ Amoxicillin s.2.d.d PO
Puls.: Meloxicam s.1.d.d PO
CRT : < 2 dtk
28/03/18 T : 37.2ºC √ √ √ √ Amoxicillin s.2.d.d PO
Puls.: Meloxicam s.1.d.d PO
CRT : < 2 dtk

28
29/03/18 T : 36.5ºC √ √ √ √ Amoxicillin s.2.d.d PO
Puls.: Meloxicam s.1.d.d PO
CRT : < 2 dtk Ganti Perban
30/03/18 T : 35.4ºC √ √ √ √ Amoxicillin s.2.d.d PO
Puls.: Meloxicam s.1.d.d PO
CRT : < 2 dtk
31/03/18 T : 35.6ºC √ √ √ √ Amoxicillin s.2.d.d PO
Puls.: < 2 dtk Meloxicam s.1.d.d PO
CRT : < 2 dtk
01/04/18 T : 38.1ºC √ √ √ √ Amoxicillin s.2.d.d PO
Puls.: Ganti Perban
CRT : < 2 dtk
02/04/18 T : 38.4ºC √ √ √ √ Amoxicillin s.2.d.d PO
Puls.:
CRT : < 2 dtk

29
BAB 5
PENUTUP

5.1 Kesimpulan
Ovariohisterektomi adalah tindakan bedah pengangkatan uterus dan ovarium
yang bertujuan untuk menekan populasi dan mencegah penyakit pada hewan seperti
pyometra. Selama pelaksanaan operasi harus dilakukan dengan steril guna
meminimalkan kontaminasi pada luka sayatan, dimulai dari tahap preoperasi yang
meliputi persiapan alat, hewan dan operator. Selama operasi dan post operasi, harus
senantiasa dipantau keadaan fisiologis hewan dan dilakukan terapi untuk
mempercepat penyembuhan dan menurunkan angka infeksi pada luka

5.2 Saran.
Perlunya dilakukan pengujian darah lengkap untuk mengetahui secara pasti
kondisi fisiologis hewan terutama faktor pembekuan darah dan glukosa.

30
DAFTAR PUSTAKA

Bearden, H. J., and J. W. Fuquay. 2000. Applied Animal Reproduction 5th Ed.
Prentice Hall. Upper Saddle River. New Jersey.
Craven, R.F. & Himle, C.J. 2000. Fundamentals of nursing: human health and
function. (3 rd ed.). Philadelphia: J.B. Lippincott Company
Fossum, T.W., 2007. Small Animal Surgery 3rd ed. Missouri, Mosby Inc.
Fossum, T. W. 2013. Small Animal Surgery 4th Edition. ELSEVIER. Missouri.
818-823.
Ganiswarna, S., 1995, Farmakologi dan Terapi, edisi IV, 271-288 dan 800-810,
Bagian Farmakologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta.
Hasan Z, Gangopadhyay AN, Gupta DK, Srivastava P, Sharma SP. 2009.
Sutureless skin closure with isoamyl 2-cyanoacrylate in pediatric day-care
surgery. Pediatr Surg Int. Dec 25(12):1123-5
Komang W.S, Diah K. 2011. Bedah Veteriner. Pusat Penerbitan dan Percetakan
Unair: Surabaya.
Krishnamoorthy B, Najam O, Khan UA, Waterworth P, Fildes JE, Yonan N.
2009. Randomized prospective study comparing conventional subcuticular
skin closure with Dermabond skin glue after saphenous vein
harvesting. Ann Thorac Surgery 88(5):1445-9.
Noviana D, Gunanti, Jelantik, Hanira, N.R.F. 2006. Pengaruh anestesi terhadap
saturasi oksigen (SpO₂) selama operasi ovariohisterektomi kucing. J Sains
Veteriner. 24(2):267
Plumb, D.C. 2005. Veterinary Drug Handbook. Blackwell Publishing.United
States of America.
Plumb, D.C. 2008. Veterinary Drug Handbook Sixth Edition. Wisconsin:
Blackwell Publishing Profesional.
Sardjana, I. Komang Wirasa dan Kusumawati, D., 2004. Anastesi Veteriner Jilid
1. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.
Smaill, F. M. 2010. Antibiotik Profilaksis versus No Prophylaxis for Preventing
Infection after Caesarean Section. Cochrane Database Syst Rev, 1(10).
Syarif, A, dkk. 2009. Farmakologi dan Terapi . Balai penerbit FKUI : Jakarta
Tobias KM. 2010. Manual of Small Animal Soft Tissue Surgery. USA: Wiley and
Blackwell.
Wientarsih,Ietje dkk., 2012, Aktivitas Penyembuhan Luka oleh Gel Fraksi Etil
Asetat Rimpang Kunyit pada Mencit Hiperglikemia . Jurnal Veteriner
Yudaniayanti I.,Maulana E.,Ma’rufl A. 2010. Profil Penggunaan Kombinasi
Ketamin-Xylazine Dan Ketamin Midazolam Sebagai Anestesi Umum
Terhadap Gambaran Fisiologis Tubuh Pada Kelinci Jantan.Veterinaria
medika Vol.3 No.1

31
LAMPIRAN

32
Post Operasi

33