Sunteți pe pagina 1din 6

A.

PENDAHULUAN

Ada beberapa cara untuk mengklasifikasikan ambiguitas, Hurford dan Hesley (1983:128)
mengelompokkan ambiguitas menjadi dua hal yakni lexical dan structural ambiguity.
Sementara Kess (1992:133), mengkategorikan ambiguitas dalam tiga tingkat: lexical
ambiguity, surface structure ambiguity dan deep structure ambiguity. Di sisi lain, Cruse
(1986:66) membedakan empat jenis ambiguitas yaitu pure syntactic ambiguity,
quasi-syntactic ambiguity, lexico syntactic ambiguity dan pure lexical ambiguity. Dari
keempat klasifikasi tersebut, hal ini dapat disederhanakan menjadi dua Kategori: lexical dan
structural ambiguity.

Lexical dan structural ambiguity merujuk kepada memiliki dua atau lebih kemungkinan
makna atau arti. Dengan kata lain, ketika sebuah kalimat memiliki lebih dari satu makna, hal
ini disebut ambigu. Lexical ambiguity merupakan satu akibat ambiguitas dari sebuah kata,
yang lebih umum. Lihat contoh berikut: They went to the bank. Kata 'bank' dalam kalimat ini
memiliki dua kemungkinan makna yaitu ‘tepi sungai’ atau ‘lembaga keuangan’. Dari kalimat
itu sendiri, sangat sulit untuk mendapatkan arti dari "bank". Dibutuhkan konteks kalimat
untuk memahami dengan benar pesan yang disampaikan. Dengan kata lain, kalimat tersebut
ambigu karena kurangnya informasi. Kalimat tersebut tidak akan ambigu jika diberikan
tambahan informasi seperti, ‘They went to the bank to save some money’.

Pada jenis yang lain yaitu structural ambiguity, terjadi ketika arti komponen kata-kata dapat
dikombinasikan dengan lebih dari satu cara (O'Grady et al. 1997), misalnya: ‘Nicole saw the
people with binoculars’. Kalimat tersebut dapat dimaknakan dalam dua cara. Salah satu
interpretasi adalah ‘Nicole used binoculars to see the people’. Dalam pengertian ini,
‘binoculars’ memodifikasi ‘Nicole’ (Nicole with binoculars). Makna yang lain, ‘The people
had binoculars when Nicole saw them’. Itu berarti bahwa 'binoculars' memodifikasi ‘the
people’ (people with binoculars).

Kalimat dapat menjadi ambigu karena banyak hal, beberapa di antaranya adalah memiliki
beberapa arti (multiple meaning), kurangnya informasi, dan, ketidaklengkapan (Owen dan
Sweeney di Visser 2004:1). Untuk membuat kalimat menjadi tidak ambigu dan jelas tata
bahasanya (grammatical), maka diperlukan untuk memiliki semacam sinyal formal (formal
signals) yang membantu pembaca atau pendengar untuk mengenali struktur kalimat (Taha,
1983). Beberapa sinyal termasuk fungsi kata, infleksi, afiksasi atau imbuhan, penekanan kata
atau stres, titik (atau divisi kata dan tanda baca secara tertulis), dan anggota kelas katanya.
Unsur-unsur tersebut akan digunakan sebagai dasar pembahasan konstruksi ambiguitas di
bawah ini. Sinyal formal tersebut sangat penting untuk memahami dan menganalisis suatu
ambiguitas dalam kalimat.

Berikut adalah beberapa kalimat yang ambigu, yang akan dibahas dalam makalah ini: The
girl hit the boy with a book, Visiting relatives can be boring, I know more beautiful girls than
Susanne, Put the bottleon the table in the diningroom, The teacher thanked the students who
had given her some flowers.

Dalam setiap kasus, penjelasan termasuk jenis bentuk struktural, alasan ambiguitas dan
beberapa kemungkinan cara untuk mengatasinya.
B. PEMBAHASAN

Dari banyak jenis structural ambiguity, beberapa yang dieksplorasi dalam makalah ini
mencakup tipe structural ambiguity :

Tipe 1: VP + NP PP
Tipe 2: Gerund + VP
Tipe 3: VP NP + more... than + NP
Type 4: VP + NP + PP1 + PP2
Type 5: NP + Adj. Clause

1. Tipe 1: VP NP + PP (prepositional phrase)

Kalimat tersebut mungkin berarti ‘The girl hit the boy using a book’ atau ‘The boy is holding
a book when the girl hit him’. Jenis ambiguitas ini terjadi karena prepositional phrase ‘with a
book’ dapat memodifikasi dua kata benda 'the girl atau the boy', tergantung jika dilihat dari
sudut mana kata yang mendahuluinya (antecedent). Kalimat tersebut menjadi ambigu karena
tidak memiliki petunjuk (clue) ke kata benda (noun) yang mana Prepositional Phrase tersebut
akan memodifikasi. Dengan kata lain, ‘with a book’ dapat memodifikasi ‘the boy atau the
girl’. Jenis structural ambiguity ini sebagai akibat kurangnya informasi dalam suatu
konstruksi kalimat. Jika informasi tambahan ditambahkan ke kalimat tersebut, maka kalimat
itu akan menjadi jelas dan tidak ambigu:

a. The girl hit the boy with a book. The book is broken.
b. The girl hit the boy with a book. The boy hurts.

Dalam ‘a’, 'with a book' mengacu pada 'the girl'; dan 'b', 'the boy'. Berikut beberapa
contoh-contoh lain yang sama (prepositional phrase yang dapat memodifikasi dua frasa kata
benda) adalah:

a. He hurt his sister with a knife


- Using a knife, he hurt his sister
- His sister was holding a knife when he hurt her

b. Brian harms Jenny with a harmer


- Using a harmer, Brian harms Jenny
- Jenny is holding a hammer when Brian harms her

2. Tipe 2: Gerund + VP

Jenis atau tipe kedua ambiguitas memiliki konstruksi kalimat gerund yang diikuti oleh kata
kerja (verb). Contoh kalimat tersebut menjadi ambigu karena ‘visiting relatives’ dapat
dipahami dalam dua cara: sebagai ‘compound noun’ dan ‘noun phrase’ yang terdiri dari
‘modifier’ dan ‘noun’. Dalam bahasa tulis, sangat sulit untuk menghilangkan ambiguitas,
tetapi dalam berbicara (speaking), hal ini dapat diatasi dengan menggunakan pola intonasi.
Jika diucapkan dengan pola / 2-3 1 ↑ / kata tersebut mengindikasikan ‘compound noun’, yang
berarti ‘the action of visiting relatives’. Namun, ketika dilafalkan dengan pola / 3 ↑ 2-1 /,
ucapan menyiratkan sebuah frase kata benda, yang berarti ‘relatives who visit’. Berikut
adalah contoh lain yang juga menunjukkan ambiguitas ‘compound noun’ dan ‘noun phrase’.

a. Flying object:
- An object to fly
- An object that flies

b. Moving car:
- A car for moving
- A car that moves

3. Tipe 3: VP NP + more... than + NP

Tipe ketiga dari ambiguitas ini yaitu mengenai tingkat perbandingan (comparative degree).
Hal ini menjadi ambigu karena adanya pemendekan kata (the shortened version) yang
berfungsi sebagai subjek klausa kedua (yang disingkat) atau sebagai objek kata kerja 'love'
yang memiliki hubungan perbandingan dengan 'the fans'. Aturannya adalah jika klausa
komparatif (comparative clause) identik dengan klausa utama kecuali sebuah frase yang
kontras atau berlawanan, maka bisa saja untuk menghapus semuanya dari klausa
perbandingan (Baker 1989:347). Dengan kata lain, ketika seseorang membuat sebuah kalimat
menggunakan ‘comparative degree’, ia akan menggunakan kalimat, misalnya, ‘Tom hates
Martha more than Susanne’, bukan ‘Tom hates Martha more than he hates Susanne’ untuk
menghindari pengulangan kata-kata yang serupa. Dari contoh tipe 3 di atas, karena
penghapusan kata-kata yang serupa,, kalimat dapat mempunyai dua makna yaitu:

a. Jerry loves the fans more than Sally loves the fans.
b. Jerry loves the fans more than he loves Sally.

Untuk membuatnya jelas dan tidak ambigu, pemendekannya harus ditambahkan beberapa
informasi yang hilang. Versi singkat dari 'Jerry loves the fans more than Sally loves the fans'
seharusnya menjadi ‘Jerry loves the fans more than Sally does’. Jika maksud kita adalah
‘Jerry loves the fans more than he loves sally’, kalimat tersebut tidak dapat dipendekkan atau
disingkat.

Berikut ini adalah contoh lain dari ambiguitas dari ‘comparative clause’:

a. John listens to rock music more often than his father.


- John listen to rock music more often than his father listens to rock music.
- John listens to rock music more often than he listens to his father.

b. James loves Helen more than Joe.


- James loves Helen more than Joe loves Helen.
- James loves Helen more than James loves Joe.

4. Tipe 4: VP + NP + PP1 + PP2

Kalimat di atas ambigu karena pengubah atau ‘modifier’ pertama 'on the table' dapat
memodifikasi NP terdekat atau PP2. Hal ini tidak jelas apakah ‘on the table’ memodifikasi
‘the bottle’ atau ‘in the kitchen’. Jika ia memodifikasi ’the bottle’, itu berarti bahwa ‘the
bottle is already on the table and should be put in the kitchen’. Di sisi lain, jika ia
memodifikasi ‘in the kitchen’, itu berarti bahwa ‘the bottle should be put from somewhere
else to the table which is in the kitchen’.

Ambiguitas tersebut dapat diselesaikan dengan menempatkan pemenggalan kalimat atau


‘terminal juncture’ di antara ‘modifier’ pertama dan kedua. Dengan demikian, kalimat
tersebut dapat berarti ‘put the bottle on the table / in the kitchen’. Pemenggalan itu
menunjukkan bahwa ‘the bottle is already on the table and then to be put in the kitchen’.
Penafsiran makna yang kedua ‘put the bottle / on the table in the kitchen’. Ini berarti bahwa
‘the bottle should be put on the table, and the location of the table is in the kitchen (not the
table in the bedroom)’.

Berikut adalah contoh lain dari ambiguitas dengan dua ‘modifier’:

a. Place the box in the drawer in the bedroom.


- To place the box inside the drawer which is located in the bedroom.
- The box is already in the drawer and should be placed in the bedroom.

b. Put the radio on the box in that room.


- To put the radio on the box, which is located in that room.
- The radio is already on the box, and it should be put in that room.

5. Jenis 5: NP + Adj. Clause

Kalimat ini dapat menjadi ambigu karena dapat ditulis dalam dua versi dengan arti yang sama
sekali berbeda:

a. The teacher thanked the students who had given her some flowers.
b. The teacher thanked the students, who had given her some flowers.

Dalam bahasa lisan (speaking), kalimat pertama diucapkan tanpa pemenggalan (juncture)
sedangkan yang kedua dengan pemenggalan di antara antecedent (NP) dan Adj. clause.
Interpretasi dari kalimat pertama, Adj. clause ’who had given her some flowers’ membatasi
NP ‘the students’ untuk memberikan informasi penting ‘which students the teacher thanked’.
Ini menyiratkan bahwa ‘the teacher thanked only some students who had given her some
flowers (not those who didn’t give her flowers)’. Adj. clause dalam kalimat kedua tidak
membatasi antecedent ‘the students’. Dengan demikian, itu memberikan tambahan informasi
yang tidak diperlukan untuk mengidentifikasi orang (Sinclair 1990:363). Hal itu berarti
bahwa ‘the teacher thanked all of the students (and all of them gave her flowers)’.

Hal ini menunjukkan bahwa pentingnya tanda baca (punctuation) yang tepat dalam bahasa
tulis, dan pemenggalan (juncture) dalam bahasa lisan. Bagi pelajar Indonesia sendiri,
pemahaman makna yang berbeda dari restricted dan non-restricted adj. masih menjadi suatu
masalah kecuali jika mereka telah memiliki pengetahuan linguistik yang memadai. Berikut
adalah beberapa contoh lain:
a. Tom got into the car which was parked behind the house (there are many cars parked
behind the house).
- Tom got into the car, which was parked behind the house (there is only one car parked
behind the house).

b. In Indonesian Idol Contest, Joy waved her hands to her fans who shouted at her (Joy
waved her hands only to some of her fans ).
- In Indonesian Idol Contest, Joy waved her hands to her fans, who shouted at her (Joy waved
her hands to all of her fans).

C. KESIMPULAN

Kita kadang-kadang tidak tahu jika sebuah kalimat memiliki pesan yang jelas atau ambigu.
Apakah kita akan mengenali atau tidak ambiguitas ini, hal ini tergantung pada pengetahuan
linguistik yang dimiliki. Bagi pelajar bahasa Inggris, masih tidak mudah untuk mengetahui
apakah sebuah kalimat ambigu atau tidak. Ketika kita memiliki kemampuan bahasa Inggris
yang memadai, kita harus memahami dengan baik akan adanya ambiguitas dalam kalimat,
dan mencoba untuk menghindarinya sebisa mungkin. Dalam menulis, misalnya, kita perlu
menggunakan beberapa formal signals (misalnya tanda baca) untuk menghindari kalimat
yang ambigu.

Keima jenis ambiguitas yang disajikan dalam makalah ini hanyalah beberapa contoh dari
beberapa jenis structural ambiguity yang ada. Karena keterbatasan waktu dan usaha, masih
terdapat banyak jenis lain yang tidak dieksplorasi dalam makalah ini. Namun demikian, apa
yang dipaparkan didalamnya, semoga akan memberikan kontribusi bagi ​pengajaran dan
pembelajaran bahasa​ Inggris.

Referensi

● Baker, C. L. 1989. English Syntax. Cambridge: The MIT Press. Cruse, D.A. 1986.
Lexical Semantics. Cambridge: Cambridge University Press.
● Gee, Nancy R. 1997. “Implicit Memory and Work Ambiguity,” Journal of Memory
and Language. 36, 253–275.
● Hurford, James R. 1983. Semantisc: A Coursebook. Cambridge: Cambridge
University Press.
● Kess, Joseph F. 1992. Psycholinguistics: Psychology, Linguistics and the Study of
Natural Language. Amsterdam: John Benjamins Publishing Company.
● O’Grady, William, Michael Dobrovolsky, and Mark Aronof. 1997. Contemporary
Linguistics: An Introduction. 3rd Edition. New York: St. Martin’s Press.
● Sinclair, John (Ed.). 1990. Collins Cobuild: English Grammar. London: Harper
Collins Publishers.
● Taha, Abdul Karim. 1983. “Types of Syntactic Ambiguity in English,” IRAL Vol.
XXI/4. 251–266.
● Trueswell, John C., Michael K. Tanenhaus, and Susan M. Garnsey. 1994. “Semantic
Influences on Parsing: Use of Thematic Role Information in Syntactic Ambiguity
Resolution,” Journal of Memory and Language. 33, 285–318.