Sunteți pe pagina 1din 21

MONITORING DAN EVALUASI KURIKULUM

MAKALAH

Tugas Mata Kuliah Pengembangan Kurikulum PTK

Oleh:
[18138015] LULU FAJARWATI
[18138028] SARI AZHARIYAH

PENDIDIKAN TEKNOLOGI KEJURUAN


PROGRAM PASCASARJANA FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS NEGERI PADANG
2018
KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis ucapkan kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan
rahmat dan karunia-Nya, serta dengan izin-Nya penulis dapat menyusun dan
menyelesaikan makalah dengan judul “MONITORING DAN EVALUASI
KURIKULUM”. Shalawat dan salam senantiasa terlimpah kepada Nabi
Muhammad SAW.

Makalah ini merupakan tugas mata kuliah Pengembangan Kurikulum PTK


pada Program Pascasarjana Fakultas Teknik Universitas Negeri Padang. Makalah
ini dapat diselesaikan berkat bantuan dan bimbingan dari berbagai pihak. Oleh
karena itu, penulis mengucapkan terima kasih kepada yang terhormat:

1. Bapak Prof. Dr. Nizwardi Jalinus, M.Ed, selaku dosen pembimbing.


2. Bapak Dr. Ir. Mulianti, M.T, selaku dosen pembimbing.
3. Rekan-rekan mahasiswa program studi PTK Fakultas Teknik Program
Pascasarjana Universitas Negeri Padang.
4. Semua pihak yang telah membantu dalam menyelesaikan makalah ini.

Semoga bantuan dan bimbingan yang telah diberikan menjadi amal shaleh bagi
Bapak dan Ibu serta mendapat balasan yang berlipat dari Allah SWT.

Makalah ini ditulis sesuai dengan ketetapan dan aturan yang ada. Apabila
masih terdapat kesalahan, penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun
demi kesempurnaan di kemudian hari. Semoga Allah SWT. menilai ibadah yang
penulis kerjakan dan makalah ini dapat bermanfaat bagi pembaca. Aamiin.

Padang, Desember 2018

Penulis

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ........................................................................................................ i


DAFTAR ISI...................................................................................................................... ii
BAB I PENDAHULUAN .................................................................................................. 1
A. Latar Belakang ...................................................................................................... 1
B. Rumusan Masalah ................................................................................................ 1
C. Tujuan .................................................................................................................... 2
BAB II PEMBAHASAN ................................................................................................... 3
A. Monitoring Kurikulum ......................................................................................... 3
B. Evaluasi Kurikulum.............................................................................................. 9
BAB III PENUTUP ......................................................................................................... 17
A. Kesimpulan .......................................................................................................... 17
B. Saran .................................................................................................................... 17
DAFTAR RUJUKAN ..................................................................................................... 18

ii
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Kurikulum merupakan suatu program pembelajaran agar tujuan
pendidikan tercapai, disamping itu kurikulum juga merupakan pedoman
dalam pelaksanaan pembelajaran pada semua jenis dan jenjang
pendidikan. Dapat dikatakan bahwa kurikulum tidak dapat dipisahkan dari
pembelajaran.
Mengingat pentingnya kurikulum dalam pendidikan dan kehidupan
manusia, maka penyusunan kurikulum tidak dapat dilakukan secara
sembarangan. Penyusunan kurikulum membutuhkan landasan-landasan
yang kuat, yang didasarkan pada hasil-hasil pemikiran dan penelitian yang
mendalam. Evaluasi merupakan bagian dari sistem manajemen yaitu
perencanaan, organisasi, pelaksanaan, monitoring dan evaluasi.
Kurikulum juga dirancang dari tahap perencanaan, organisasi kemudian
pelaksanaan dan akhirnya monitoring dan evaluasi. Tanpa evaluasi, maka
tidak akan mengetahui bagaimana kondisi kurikulum tersebut dalam
rancangan, pelaksanaan, serta hasilnya.
Terdapat banyak model yang dapat digunakan dalam mengevaluasi
program pendidikan (pengembangan kurikulum). Meskipun antara satu
dengan lainnya berbeda, tetapi mempunyai maksud yang sama, yaitu
melakukan kegiatan pengumpulan data atau informasi yang berkenaan
dengan objek yang dievaluasi, yang tujuannya menyediakan bahan bagi
pengambil keputusan dalam menentukan tindak lanjut (follow up) suatu
program atau pengembangan.
Makalah ini akan membahas mengenai pengertian, tujuan, manfaat
dan penjelasan lain tentang monitoring dan evaluasi kurikulum

B. Rumusan Masalah
Rumusan masalah pada makalah ini adalah sebagai berikut:
1. Bagaimana makna dari monitoring dan evaluasi kurikulum?
2. Bagaimana cara melaksanakan monitoring?
3. Bagaimana model-model evaluasi kurikulum?

C. Tujuan
Tujuan dari penulisan makalah ini adalah sebagai berikut:
1. Mengetahui makna dari monitoring dan evaluasi kurikulum?
2. Mengetahui cara melaksanakan monitoring?
3. Mengetahui model-model evaluasi kurikulum?

2
BAB II
PEMBAHASAN

A. Monitoring Kurikulum
1. Pengertian Monitoring
Pemantauan atau monitoring merupakan suatu proses kegiatan
untuk mengetahui sampai di mana kurikulum tersebut telah dilaksanakan
di sekolah-sekolah dan persoalan-persoalan apa yang dirasakan di dalam
melaksanakan kurikulum tersebut. Pemantauan atau monitoring dalam
konteks kurikulum merupakan kegiatan yang dilakukan dengan metode
pengumpulan dan analisis informasi secara teratur. Kegiatan ini dilakukan
secara internal untuk menilai apakah kurikulum yang telah disusun sudah
digunakan, bagaimana kegiatan kurikulum dilaksanakan, dan apakah
output yang telah dihasilkan sesuai rencana. Dengan demikian, monitoring
berfokus secara khusus pada efisiensi. Sumber data yang penting untuk
monitoring adalah alat verifikasi pada tingkat proses dan output yang
umumnya merupakan dokumen internal dari kurikulum. Monitoring dapat
dilakukan pada setiap tahapan kegiatan, apakah dari perencanaan ataupun
setelah bagian pekerjaan tertentu diselesaikan.

Selain itu, monitoring juga merupakan suatu proses pengumpulan


dan analisis informasi (berdasarkan indikator yang ditetapkan) secara
sistematis dan kontinu tentang kegiatan/program sehingga dapat dilakukan
tindakan koreksi untuk penyempurnaan program/ kegiatan selanjutnya.

Dalam kaitannya dengan pengembangan kurikulum, Alton, Frish,


dan Neville dalam Mukhtar (2009:51) menjelaskan bahwa ada tiga konsep
pokok dalam pemantauan kurikulum (pembelajaran), yaitu :

1) Monitoring pembelajaran harus secara langsung memengaruhi dan


mengembangkan perilaku guru dalam proses pembelajaran.

3
2) Perilaku pemantauan dalam membantu guru mengembangkan
kemampuannya harus didesain secara ofisial, jelas kapan mulai dan
kapan mengakhiri program pembelajaran tersebut.

3) Tujuan akhir dari pemantauan kurikulum adalah agar guru semakin


mampu memfasilitasi proses pembelajaran bagi para siswanya.

Untuk mengumpulkan keterangan di dalam pelaksanaan


monitoring tersebut dapat digunakan wawancara, observasi maupun
angket untuk para pelaksana. Monitoring dilakukan pada tahun-tahun
permulaan dilaksanakannya kurikulum baru di sekolah-sekolah, di mana
kegiatan ini dilakukan oleh pihak pengembang kurikulum untuk
mengambil tindakan guna memperlancar penyebaran dan pelaksanaan
kurikulum di sekolah-sekolah.

2. Tujuan Monitoring
Secara umum tujuan pemantauan adalah untuk mencari informasi
yang diperlukan, selanjutnya untuk pengambilan keputusan dalam
menangani permasalahan implementasi kurikulum. Dalam implementasi
kurikulum (pembelajaran), secara umum perlu dilakukan pemantauan
dengan tujuan untuk mengembangkan situasi pembelajaran yang lebih
baik melalui pembinaan dan peningkatan profesi mengajar sehingga
diharapkan kualitas pengajaran yang dilakukan guru semakin meningkat,
baik dalam mengembangkan kemampuan, ketrampilan, dan komitmen
yang dimiliki guru.
Petter Cuttance (2004:20) dalam Educational Management
mengungkapkan bahwa tujuan utama dari sistem pamantauan adalah untuk
melaporkan kinerja sehubungan dengan praktik-praktik tertentu di seluruh
sistem secara keseluruhan untuk memantau efektivitas program dan
kebijakan dalam mencapai hasil yang direncanakan.
Secara khusus Kamalik (2008:220) menguraikan beberapa tujuan
dari pemantauan atau monitoring kurikulum, antara lain memberika
umpan balik bagi kebutuhan program pendidikan, memberikan umpan

4
balik bagi ketercapaian tujuan kurikulum, memberikan umpan balik
terhadap metode perencanaan, memberikan umpan balik terhadap sistem
penilaian kurikulum, memberikan bahan kajian untukmengatasi masalah-
masalah dan hambatan yang dihadapi di lapangan.
Selain itu, Rusman (2009:363) menguraikan beberapa tujuan dari
kegiatan pamantauan kurikulum (pembelajaran), antara lain menyediakan
informasi yang relevan dan tepat waktu pada pelaksanaan kegiatan
pembelajaran yang akan membantu pembuatan keputusan manajemen
yang efektif oleh pengawas satuan pendidikan, mendorong diskusi
mengenai kemajuan pelaksanaan pembelajaran bersama para guru dan
merencanakan berbagai tindakan yang diperlukan, menyumbang pada
akuntabilitas, sepervisor perlu mengetahui bahwa kegiatan pembelajaran
yang sedang dilaksanakan sesuai dengan rencana pembelajaran yang telah
dibuat, sesuai kurikulum dan sesuai dengan tujuan pada tingkat satuan
pendidikan, menyediakan sumber informasi kemajuan/prestasi utama
baggi para pengambil keputusan, memberikan masukan terhadap
pengambilan keputusan, apakah pembelajaran yang telah dilaksanakan
sudah cukup baik, atau perlu adanya inovasi dan revisi dalam kegiatan
pembelajaran.
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa kegiatan pemantauan
kurikulum bertujuan untuk:
1) Mengkaji apakah pelaksanaan kurikulum di lapangan telah sesuai
dengan rencana;
2) Mengidentifikasi masalah yang timbul dalam implementasi
kurikulum di lapangan (sekolah) agar langsung dapat diatasi;
3) Melakukan penelitian pola kerja dan manajemen yang digunakan
sudah tepat untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan;
4) Mengetahui keterkaitan antara kegiatan kurikulum dengan tujuan
untuk memperoleh ukuran kemajuan;
5) Menyesuaikan kegiatan dengan lingkungan yang selalu berubah tanpa
menyimpang dari tujuan.

5
Melalui kegiatan monitoring ini diupayakan agar menggali
informasi di lapangan tentang pelaksanaan kurikulum dan selanjutnya
dilaporkan kepada pengambil keputusan, untuk mengambil langkah
apakah program itu perlu dipertahankan atau diadakan perbaikan. Jadi,
melalui kegiatan ini diharapkan dapat menunjang keberhasilan
penyelenggaraan program pendidikan.

3. Sasaran Kegiatan Monitoring


Prasetya Irawan dalam Hamalik (2007) menguraikan bahwa
sasaran kegiatan pemantauan kurikulum dalam kaitannya dengan
pembinaan guru, meliputi beberapa komponen antara lain : komponen
input yang terdiri dari guru yang dibina, materi pembinaan, sarana
pembinaan, kurikulum, strategi pembinaan dan biaya. Komponen output
meliputi hasil binaan. Komponen outcome meliputi tingkat produktivitas,
sistem manajemen, dan loyalitas staf.
Sasaran monitoring kepada guru untuk memantau aktivitasnya
yang meliputi sikap, perhatian, minat dan keterampilannya dalam
mengimplementasikan kurikulum. Monitoring terhadap materi pembinaan
maksudnya untuk melihat materi pelajaran yang digunakan dalam
pelaksanaan pembelajaran apakah sesuai tidak dengan kompetensi yang
ingin dicapai. Monitoring terhadap sarana pembinaan maksudnya adalah
bahwa media yang digunakan guru, apakah sesuai atau sebaliknya kontra
produktif terhadap tujuan yang telah ditetapkan. Monitoring terhadap
kurikulum adalah menantau sejauh mana efektivitas dan relevansinya
dengan perkembangan yang terjadi pada peserta didik. Monitoring
terhadap strategi pembinaan maksudnya adalah bagaimana melihat
berbagai metode dan strategi serta model yang digunakan guru dalam
implementasi pembelajaran.

6
4. Cara Pelaksanaan Monitoring

Cara pelaksanaan pemantauan (monitoring) terhadap kurikulum


dapat dilakukan melalui dua cara yaitu cara langsung dan tidak langsung.
Kedua cara tersebut dilakukan dengan seperangkat kegiatan monitoring
yang sama yaitu kegiatan yang berkaitan dengan mengumpulkan,
mencatat, mengolah informasi dan pelaksanaan suatu proyek; kemudian
dituangkan dalam suatu laporan monitoring.
1) Pemantaun Langsung
Pemantauan langsung adalah pemantauan yang dilakukan
dengan cara mengunjungi lokasi proyek. Dengan cara demikian
petugas monitoring dapat secara bebas mengumpulkan informasi ang
diperlukan. Agar pengumpulan informasi dapat berjalan secara
efesien maka diperlukan strategi pengumpulan data yaitu;
a) Mempersiapkan instrument pengumpulan data ; misalnya dengan
menyiapkan daftar isi.
b) Menggali informasi pada orang-orang penting yang memegang
posisi dalam pelaksanaan kurikulum tersebut.
c) Melakukan pemantauan langsung ke lapangan dan petugas
monitoring dapat mencatat informasi yang diperlukan sesuai
dengan kehendaknya (sesuai dengan tujuan monitoring).
Dalam pelaksanaan monitoring secara langsung ini terdaapat
kelebihan dan kelemahannya, kelebihan cara ini diantaranya sebagai
berikut:
a) Didapatkan data yang sesuai dengan yang dimaksudkan.
b) Data yang dikumpulakan adalah data yang relative lebih akurat
karena data dikumpulkan sendiri oleh petugas monitoring dan
merupakan data primer.
c) Dengan cara langsung ini petugas bukan saja mengumpulan data
tetapi juga dapat memberikan saran-saran bila tidak sesuai
dengan apa yang direncanakan.

7
Sedangkan kelemahan dari cara monitoring langsung ini antara
lain:
a) Memerlukan biaya yang relative besar karena bukan saja factor
jarak (tranformasi) tetapi juga untuk mengirim petugas
monitoring ke lokasi.
b) Memerlukan ketelitian yang lebih, sebab dengan wawancara
langsung, seringkali hasilnya tidak sesuai bila petugas monitoring
tidak pandai menggali data yang baik dan benar.
2) Pemantauan Tidak Langsung.
Cara ini menghendaki petugas monitoring tidak perlu terjun
langsung ke lokasi; tetapi penggalian data dilakukan dengan cara
mengirim seperangkat daftar isian untuk diisi oleh orang lain di lokasi
penelitian. Cara tidak langsung ini juga dapat dilakukan dengan
mengumpulkan data melalui laporan-laporan yang dibuat pimpinan
pemantau.
Dalam pengembangan kurikulum, hal yang dimonitoring adalah
pelaksanaan dan hasil pengembangan kurikulum tersebut, yang
disertai dengan pelaporan kemajuan dan kendala dalam
pengembangannya atau pelaksanaannya. Rencana Monitoring
sebaiknya mencakup langkah-langkah sebagai berikut:
a) Langkah 1
Tentukan kegiatan dan keluaran utama yang harus dimonitor,
dalam hal ini monitoring dapat difokuskan pada hal-hal seperti
metode atau bahan ajar yang telah dikembangkan, sudahkan
sekolah atau guru mengembangkan metode dan bahan ajar seperti
yang telah ditetapkan, apakah dalam pengembangan tersebut
menghasilkan metode dan bahan ajar yang sesuai. Hal yang perlu
diingat adalah jangan berusaha untuk memonitor segala aspek,
yang penting memonitor apa yang telah dilakukan, keluaran apa
yang dihasilkan, di mana, kapan, oleh siapa, dan untuk siapa.
Kemudian, hasil monitoring itu dibandingkan dengan rencana

8
semula, selisih antara rencana dan hasil monitoring dibuat
laporannya, dan kemudian sejauh mungkin faktor-faktor
penyebab perbedaan itu diidentifikasi.
Tata cara penyimpanan data juga penting untuk
mempermudah penyusunan laporan yang akurat dan tepat waktu.
Sedapat mungkin sumber data yang telah dikumpulkan secara
rutin dimanfaatkan.Ciptakan format pelaporan yang tidak terlalu
rumit, dengan sebagian hasilnya disajikan secara visual/grafik.
b) Langkah 2
Tentukan pihak mana yang akan melakukan monitoring dan
kapan dilakukan. Sebaiknya pihak yang melakukan monitoring
yang dimaksud di sini bukan pihak pengelola program langsung,
untuk menjaga independensi. Dengan menganut asas partisipatif,
wakil-wakil penerima manfaat program/kegiatan sedapat
mungkin bersama-sama melakukan monitoring. Mengenai
frekuensi, hal ini sebaiknya dilakukan paling tidak setiap enam
bulan sekali untuk sebuah program jangka menengah atau jangka
panjang.
c) Langkah 3
Tentukan siapa saja yang akan menerima laporan hasil
monitoring. Sebaiknya laporan hasil monitoring disebarkan tidak
hanya pada pihak-pihak pemerintah (eksekutif dan legislatif),
tetapi juga pada pihak pelaksana (misalnya: dinas pendidikan,
depag, sekolah, guru), instansi pemerintah pusat serta wakil-
wakil kelompok penerima manfaat untuk meminta umpan balik.
Buatlah pertemuan berkala untuk meninjau kembali tingkat
kemajuan serta memutuskan apakah rencana implementasi perlu
disesuaikan.

B. Evaluasi Kurikulum
1. Pengertian Evaluasi Kurikulum

9
Evaluasi kurikulum adalalah serangkaian kegiatan terencana,
sistematis, dan sistemik dalam mengumpulkan dan mengolah informasi,
memberikan pertimbangan dalam pengambilan keputusan untuk
menyempurnakan kurikulum. Evaluasi adalah pengambilan keputusan
berdasarkan hasil pengukuran dan standar kriteria. Evaluasi juga diartikan
sebagai kegiatan atau proses untuk menilai sesuatu.

Kurikulum merupakan alat untuk mencapai tujuan-tujuan


pendidikan. Mengevaluasi keberhasilan sebuah pendidikan berarti juga
mengevaluasi kurikulumnya. Hal ini berarti bahwa evaluasi kurikulum
merupakan bagian dari evaluasi pendidikan yang memusatkan
perhatiannya pada program-program untuk peserta didik. Kurikulum
sebagai program belajar untuk belajar peserta didik perlu dievaluasi
sebagai bahan balikan dan penyempurnaan sesuai dengan kebutuhan dan
tuntutan masyarakat, anak didik serta perkembangan ilmu dan teknologi.
Hasil evaluasi kurikulum bermanfaat bagi penentu kebijakan dalam
menentukan keputusan untuk melakukan perbaikan ataupun perubahan
kurikulum.

Evaluasi kurikulum tidak hanya mengevaluasi hasil belajar peserta


didik dan proses pembelajarannya, tetapi juga rancangan dan pelaksanaan
kurikulum, kemampuan dan kemajuan peserta didik, sarana dan prasarana,
serta sumber belajarnya.

2. Tujuan Evaluasi Kurikulum


Evaluasi pelaksanaan kurikulum bertujuan untuk mengukur
seberapa jauh penerapan kurikulum berstandar nasional dipakai sebagai
pedoman pengembangan dan pelaksanaan kurikulum di daerah/sekolah,
sehingga pelaksanaan kurikulum dapat dimengerti, dipahami, diterapkan
dalam kehidupan sehari-hari dan dianalisa oleh peserta didik. Evaluasi
dilakukan pada setiap tahapan pelaksanaan pengembangan kurikulum
sebagai upaya untuk mengkaji ulang pelaksanaan kurikulum pada setiap
jenjang pendidikan.

10
Evaluasi untuk program pelaksanaan pengembangan kurikulum di
daerah memerlukan indikator keberhasilan sebagai tolak ukur pencapaian
pelaksanaan kurikulum. Indikator keberhasilan kurikulum mencakup:
1) Indikator keberhasilan sosialisasi kurikulum
2) Indikator keberhasilan penyusunan silabus
3) Indikator keberhasilan penyusunan program tahunan dan semester
4) Indikator keberhasilan penyusunan rencana pembelajaran
5) Indikator keberhasilan penyusunan bahan ajar
6) Indikator keberhasilan pelaksanaan kegiatan belajar-mengajar
Menyimak pembahasan di atas maka dapat dianalisa bahwa tujuan
evaluasi kurikulum untuk mengetahui apakah sasaran yang telah ditetapkan
tercapai atau tidak setelah kurikulum itu diimplementasikan, Selain itu,
evaluasi kurikulum dimaksud juga untuk mengetahui validitas tujuan atau
sasaran kurikulum itu sendiri, termasuk penilaian apakah kurikulum itu
sesuai dengan tingkat kecerdasan pelajar atau anak didik tertentu, apakah
mode intruksional yang dipakai yang terbaik untuk mencapai tujuan yang
telah ditetapkan, apakah materi yang direkomendasikan terbaik untuk
mencapai tujuan kurikulum atau tujuan intruksional yang diinginkan.

3. Macam-Macam Evaluasi Kurikulum

1) Evaluasi Kurikulum Berdasarkan Bentuk Evaluan


Jenis evaluasi kurikulum dikelompokkan berdasarkan
karakteristik evaluan terdiri dari:
a. Evaluasi Konteks
Evaluasi terhadap konteks berkaitan dengan berbagai aspek
yang melahirkan suatu dokumen kurikulum. Dalam situasi
tertentu orang melakukan evaluasi mengenai tuntutan masyarakat
terhadap dunia pendidikan dan sering disebut dengan istilah need
assesment. Need assesment dilakukan untuk menentukan apa
yang diperlukan masyarakat yang dilayani sekolah.

11
Evaluasi jenis ini adalah evaluasi mengenai kesesuaian
antara ide kurikulum dengan lingkungan sosial-budaya dimana
suatu kurikulum akan dilaksanaan. Evaluasi konteks diarahkan
juga terhadap dukungan masyarakat terhadap sekolah. Dukungan
masyarakat dapat berupa bantuan keuangan, fasilitas belajar, dan
partisipasi dalam kegiatan belajar.
b. Evaluasi dokumen
Evaluasi dokumen memiliki karakteristik tersendiri karena
objek evaluasinya adalah sesuatu yang tertulis dan dapat dikaji
berulang-ulang tanpa terpengaruh oleh keterbatasan waktu yang
dimiliki pihak pengembang dokumen atau pelaksana dari
keputusan dalam dokumen. Kerangka dasar kurikulum, struktur
kurikulum, standar kompetensi, kompetensi dasar, beban belajar,
kalender akademik, dan standar kompetensi lulusan adalah
sesuatu yang dievaluasi berdasarkan ketetapan dalam dokumen
Peraturan Menteri (PerMen) Pendidikan Nasional.
c. Evaluasi Proses
Evaluasi proses berkenaan dengan kegiatan utama
pendidikan. Kegiatan utama pendidikan itu ditandai oleh adanya
interaksi dan komunikasi yang sangat terencana antara dua
komponen pendidikan yang utama, yaitu guru dan peserta didik
dengan sumber belajar. Interaksi dan komunikasi selalu menjadi
fokus utama evaluasi proses. Suasana kelas, kelengkapan fasilitas
belajar dan mengajar, jadwal, pekerjaan yang harus dilakukan
guru diluar kelas, pekerjaan yang harus dikerjakan peserta didik
di luar kelas atau sekolah, suasana kerja di sekolah, dan dukungan
masyarakat menjadi fokus yang mulai menarik perhatian banyak
kajian evaluasi kurikulum selain fokus utama.
d. Evaluasi Produk atau Hasil
Evaluasi hasil didasarkan pada kategori hasil belajar. Hasil
dibedakan atas dua istilah yaitu output dan outcomes. Output

12
diartikan sebagai hasil langsung yang dimiliki peserta didik dari
suatu proses pembelajaran di suatu satuan pendidikan. Sedangkan
outcomes adalah hasil setelah beberapa saat yang bersangkutan
menyelesaikan proses pendidikannya disebuah satuan
pendidikan.
Kategori hasil belajar yang meliputi dalam bidang kognitif,
afektif, dan psikomotorik peserta didik. Sejauh mana pemahaman
peserta didik dalam memahami materi yang disampaikan, sikap-
sikap yang diajarkan pendidik ke peserta didik atau pendidikan
emosi dan bakat-bakar yang dimiliki peserta didik.
2) Evaluasi Kurikulum Berdasarkan Posisi Evaluator
a. Evaluasi Internal
Evaluasi internal banyak dilakukan untuk penyempurnaan
dokumen kurikulum dan penyempurnaan proses implementasi
kurikulum. Ketika suatu dokumen kurikulum dikembangkan
maka evaluator seharusnya diikutsertakan sejak awal. Dengan
cara ini maka dia dapat menghayati ide kurikulum dengan baik,
mengalami keseluruhan proses pengembangan dan dapat
memberikan masukan tanpa perlu kekhawatiran dalam
berkomunikasi. Penghayatannya terhadap ide kurikulum dan
pengalaman bersama dalam proses pengembangan kurikulum
memberikan posisi tertentu yang menguntungkan bagi evaluator
internal dalam melihat masalah. Posisi sebagai orang dalam
memudahkan evaluator dalam menyampaikan hasilnya karena
dia sudah membangun komunikasi itu sejak awal pekerjaan
dimulai.
b. Evaluasi Eksternal
Evaluasi eksternal dilakukan oleh seseorang yang tidak
terlibat dalam tim pengembang kurikulum. Evaluator tersebut
secara khusu diminta untuk melakukan evaluasi terhadap
dokumen, proses atau hasil kurikulum. Evaluator eksternal

13
dengan mudah dapat mengembangkan objektivitas karena dia
tidak terlibat dalam proses pengembangan kurikulum dan dengan
demikian secara emosional dia dapat menjaga jarak dengan
evaluannya. Kemungkinan kelemahan bagi evaluator eksternal
adalah dalam pemahaman mengenai karakteristik evaluan.
Evaluator eksternal mungkin hanya membaca karakteristik
evaluan tersebut dari dokumen yang ada. Pemahaman yang
diperoleh seorang evaluator eksternal dari bacaan tidak memberi
kemungkinan bagi evaluator tersebut untuk memiliki wawasan
yang cukup mengenai seluk beluk suatu keputusan yang
dituliskan dalam dokumen.

4. Model-Model Evaluasi Kurikulum


1) Measurement
Model evaluasi ini menitikberatkan pada hasil belajar terutama
dalam aspek kognitif (pengetahuan) yang dapat diukur melalui skor
hasil tes. Konsep measurement menekankan terhadap pentingnya
objektivitas dalam proses evaluasi. Aspek objektivitas ini perlu
dijadikan landasan dalam rangka mengembangkan konsep dan sistem
evaluasi. Pendekatan yang digunakan oleh konsep ini sangat besar
pengaruhnya dalam berbagai kegiatan pendidikan, seperti seleksi dan
klasifikasi peserta didik, pemberian nilai di sekolah dan kegiatan
penelitian pendidikan.
Model evaluasi ini terbatas hanya mengenai hasil belajar yang
bersifat kognitif. Padahal hasil belajar yang bersifat kognitif bukanlah
satu-satunya indikator bagi keberhasilan suatu kurikulum. Kurikulum
diharapkan dapat mengembangkan berbagai potensi yang ada pada
diri peserta didik.
2) Congruence
Evaluasi model congruence merupakan pemeriksaan kesesuaian
antara tujuan pendidikan dan hasil belajar yang dicapai untuk melihat

14
sejauh mana perubahan hasil pendidikan telah terjadi. Hasil evaluasi
diperlukan dalam rangka penyempurnaan program, bimbingan
pendidikan, dan pemberian informasi kepada pihak-pihak di luar
pendidikan. Objek evaluasi dititikberatkan pada hasil belajar dalam
bentuk kogntitif, psikomotorik maupun sikap.
Konsep ini telah menghubungkan kegiatan evaluasi dengan
tujuan untuk mengkaji efektivitas kurikulum yang sedang
dikembangkan. Dengan mengkaji efektivitas kurikulum dalam
mencapai tujuan-tujuan yang telah ditetapkan, hal ini akan
memberikan masukan kepada pengembang kurikulum tentang tujuan-
tujuan mana yang sudah dan belum dicapai.
Yang menjadi perhatian konsep ini adalah hubungan antara
tujuan dan hasil belajar. Pelaksanaan evaluasi konsep ini terjadi pada
saat kurikulum sudah selesai dilaksanakan. Informasi yang dihasilkan
berupa tujuan-tujuan mana yang telah dan yang belum dapat dicapai.
3) Illumination
Model evaluasi illumination yaitu studi mengenai pelaksanaan
program, pengaruh faktor lingkungan, kebaikan dan kelemahan
program, serta pengaruh program terhadap perkembangan hasil
belajar. Evaluasi lebih didasarkan pada judgement (pertimbangan)
yang hasilnya diperlukan untuk penyempurnaan program. Objek
evaluasi mencakup latar belakang dan perkembangan program, proses
pelaksanaan, hasil belajar dan kesulitan-kesulitan yang dialami.
Konsep illumination menekankan pentingnya dilakukan evaluasi
yang berkelanjutan selama proses pelaksanaan kurikulum yang
sedang berlangsung. Konsep ini tidak menekankan pentingnya
evaluasi terhadap bahan-bahan yang disusun dalam tahap
perencanaan. Dengan kata lain, evaluasi ini lebih berorientasi pada
proses dan hasil yang dicapai oleh kurikulum yang bersangkutan.

15
4) Educational System Evaluation
Objek model evaluasi ini mencakup input (bahan, rencana,
peralatan), proses dan hasil yang dicapai. Hasil evaluasi diperlukan
untuk penyempurnaan program dan penyimpulan hasil program
secara keseluruhan.
Model ini ditekankan pada peranan kriteria dalam proses evaluasi
yang memberikan ciri khas bagi kegiatan evaluasi. Tanpa kriteria kita
tidak akan dapat menghasilkan suatu informasi yang menunjukkan
ada tidaknya kesenjangan, sedangkan informasi semacam inilah yang
diharapkan dari hasil evaluasi. Sehubungan dengan ruang lingkup
evaluasi, konsep ini mengemukakan perlunya evaluasi itu dilakukan
terhadap berbagai dimensi program, tidak hanya hasil yang dicapai,
tapi juga input dan proses yang dilakukan.
5) Model CIPP (Context, Input, Process, Product)
Model ini menitikberatkan pada pandangan bahwa keberhasilan
program pendidikan dipengaruhi oleh berbagai faktor, diantaranya:
karakteristik peserta didik, dan lingkungan, tujuan program, dan
peralatan yang digunakan, serta prosedur, dan mekanisme
pelaksanaan program itu sendiri. CIPP merupakan model evaluasi
dengan fokus pada contect, input, process, product. Keempat aspek
tersebut menjadi bagian penting dalam kegiatan evaluasi kurikulum
yang dianggap mencakup keseluruhan dimensi kurikulum.

16
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Kesimpulan dalam penulisan makalah ini adalah sebagai berikut;
1. Monitoring merupakan kegiatan yang dilakukan untuk mengecek
penampilan dan aktifitas yang dikerjakan. Monitoring ini sebenarnya
merupakan kegiatan mengikuti jalannya pelaksanaan kurikulum di
sekolah pada tahun-tahun permulaan ditetapkannya kurikulum
tersebut.
2. Cara pelaksanaan pemantauan (monitoring) terhadap kurikulum dapat
dilakukan melalui dua cara yaitu cara langsung dan tidak langsung
3. Evaluasi kurikulum merupakan proses penerapan prosedur ilmiah
untuk mengumpulkan data yang valid dan reliable untuk membuat
keputusan tentang kurikulum yang sedang berjalan atau telah
dijalankan.
4. Evaluasi kurikulum bertujuan mengukur seberapa jauh penerapan
kurikulum berstandar nasional dipakai sebagai pedoman
pengembangan dan pelaksanaan kurikulum di daerah atau sekolah.

B. Saran
Adapun saran dalam penulisan makalah ini adalah sebagai berikut;
1. Makalah ini dapat memberikan pemahaman kepada pembaca tentang
monitoring dan evaluasi kurikulum.
2. Makalah ini dapat dijadikan sebagai acuan dalam menentukan
melaksanakan monitoring dan evaluasi kurikulum.

17
DAFTAR RUJUKAN

Arifin, Zainal. 2012. Konsep dan Model Pengembangan Kurikulum.


Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.
Nasution, S. 2012. Kurikulum & Pengajaran. Jakarta: Bumi Aksara.
Sanjaya, Wina. 2013. Kurikulum dan Pembelajaran. Jakarta: Kencana.
Sukmadinata, Nana. 2011. Pengembangan Kurikulum Teori dan Praktek.
Bandung: Remaja Rosdakarya.
Tim Pengembang MKDP. 2013. Kurikulum dan Pembelajaran. Jakarta:
Rajawali Pers.
Wahyudin, Din. 2014. Manajemen Kurikulum. Bandung: Remaja
Rosdakarya.

18