Sunteți pe pagina 1din 22

JurnalPenelitianHukum

p-ISSN1410-5632

De Jure AkreditasiLIPI:No:740/AU/P2MI-LIPI/04/2016
e-ISSN2579-8561

SENGKETA WILAYAH MARITIM DI LAUT TIONGKOK SELATAN


(Maritime Territorial Dispute in South China Sea)

Muhar Junef
Pusat Penelitian dan Pengembangan Hukum
Badan Penelitian dan Pengembangan Hukum dan Hak Asasi Manusia
Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia R.I.
Jalan H.R Rasuna Said Kavling 4-5 Kuningan Jakarta Selatan 12940
Telpon (021) 252015, Faksimil (021) 2526438. HP: 081311649214 muharjunef@yahoo.co.id
Tulisan Diterima:27-03-2018; Direvisi: 04-06-2018; Disetujui Diterbitkan: 21-06-2018

DOI: http://dx.doi.org/10.30641/dejure.2018.V18.219-240

ABSTRACT

South China Sea dispute has been regarded as the hottest dispute of 21st century, in which China,
United States of America and some ASEAN members are indirectly involved. There are three (3)
issues why the countries involved in the South China Sea conflict such as China, Taiwan, Vietnam,
Philippines, Brunei Darussalam, and Malaysia are interested in fighting over the sea and lands areas
of two islands, Paracel and Spratly in South China Sea. Firstly, the sea and lands on the lands in
South China Sea contain highly rich natural resources, such as oil and natural gas and other marine
resources. Secondly, the waters of South China Sea is the waters through which the international
ships usually pass, in particular for the trading network connecting the Europe, America and Asia.
Thirdly, rapid economic growth in Asia. This research emphasizes more on the first issue. What is the
background of the dispute in the South China Sea?What are the roles ASEAN plays in the South
China Sea dispute? This research is a normative legal research. According to the research it is
concluded that the dipute at the South China Sea is an international dispute, as the actors are not only
the claimant countries but also the other countries that are interested to the areas. Therefore, the
South China Sea dispute cannot be settled by only observing the historical and legal aspects but also
must involve peaceful negotiations. According to the research, it is recommended to the parties in
South China Sea dispute to prepare a dispute settlement agenda by legal means and in the existing
bilateral and multilateral fora.
Keywords: Maritime Territorial Dispute

ABSTRAK

Sengketa Laut Tiongkok Selatan merupakan sengketa terpanas di abad ke-21, dimana Tiongkok,
Amerika Serikat dan sebagian besar anggota ASEAN terlibat secara tak langsung. Adapun 3 (tiga) hal
mengapa negara-negara yang terlibat dalam konflik Laut China Selatan atau Laut Tiongkok Selatan
seperti China, Taiwan, Vietnam, Filipina, Brunei Darussalam, dan Malaysia saling berkepentingan
dalam memperebutkan wilayah kawasan laut dan daratan dua gugusan kepulauan Paracel dan Spratly
di Laut Tiongkok Selatan. Pertama, wilayah laut dan gugusan kepulauan di Laut Tiongkok Selatan
mengandung sumber kekayaan alam yang sangat besar, meliputi kandungan minyak dan gas bumi
serta kekayaan laut lainnya. Kedua, wilayah perairan Laut Tiongkok Selatan merupakan wilayah
perairan yang menjadi jalur perlintasan aktivitas pelayaran kapal-kapal internasional, terutama jalur
perdagangan lintas laut yang menghubungkan jalur perdagangan Eropa, Amerika, dan Asia. Ketiga,
pertumbuhan ekonomi yang cukup pesat di Asia. Permasalahan dalam penelitian ini lebih
menekankan pada: 1. Apa yang melatar belakangi terjadinya Sengketa di Wilayah Maritim di Laut
China Selatan atau Laut Tiongkok Selatan?; 2.Peran ASEAN dalam Sengketa di Laut China Selatan
atau Laut Tiongkok Selatan? Penelitian ini adalah penelitian hukum normatif. Berdasarkan hasil
penelitian disimpulkan bahwa sengketa yang terjadi di Laut Tiongkok Selatan merupakan sengketa

Jurnal Penelitian Hukum DE JURE, ISSN 1410-5632 Vol. 18 No. 2, Juni 2018: 219 - 240 219
antarnegara, karena aktornya bukan hanya negara-negara pengklaim namun juga negara-negara
lainnya yang berkepentingan diwilayah tersebut. Oleh karena itu upaya penyelesaian sengketa
maritim di Laut Tiongkok Selatantidak saja pada aspek historis (sejarah) dan hukumtetapi juga
melalui pendekatan perundingan secara damai. Berdasarkan hasil penelitian disarankan kepada para
pihak yang bersengketa di Laut Tingkok Selatan untuk menyiapakan agenda penyelesaian sengketa
tersebut melalui jalur hukum maupun membicarakannya melalaui forum-forum bilateral dan
multilateral yang telah ada.
Kata Kunci: Sengketa Wilayah Maritim

PENDAHULUAN memperkeruh suasana dan membuat inisiatif


Masalah Laut China Selatan atau Laut baru bagi Vietnam untuk selalu meningkatkan
Tiongkok Selatan (LTS) memiliki kapabilitas militernya di Laut China Selatan
permasalahan sengketa yang pelik, diantaranya atau Laut Tiongkok Selatan(Sudira, 2014:
adalah masalah sengketa teritorial dan 143).
sengketa batas wilayah maritim, yang sampai Sengketa kepemilikan kedaulatan
saat ini belum adanya penyelesaiannya. teritorial di Laut China Selatan atau Laut
Indonesia sangat berhati-hati dalam Tiongkok Selatan sesungguhnya merujuk
menghadapi masalah sengketa di LTS kepada wilayah kawasan laut dan daratan di
ini(Wiranto, 2016: 8).Dalam konflik Laut dua gugusan kepulauan Paracel dan Spratly.
China Selatan atau Laut Tiongkong Negara-negara kawasan yang terlibat dalam
Selatan,selain ketegangan yang terjadi akibat konflik Laut China Selatanatau Laut Tiongkok
tumpang tindihnya klaim antar negara Selatan pada umumnya menggunakan dasar
bersengketa yang belum bisa historis dan geografis dalam memperebutkan
dihentikan(Buszynski, 2012: 139-156),hingga kepemilikan atas kawasan laut dan dua
kini, terdapat juga perkembanganyang tidak gugusan kepulauan di wilayah Laut China
menggembirakan terutama mengenaihubungan Selatan atau Laut Tiongkok Selatan. China
antara dua negara anggotaASEAN yaitu misalnya, mengklaim wilayah sengketa
Vietnam dan Filipina denganChina. Filipina tersebut berdasarkan kepemilikan bangsa
misalnya telah memberikan beragam laporan China atas kawasan laut dan dua gugusan
mengenai pelanggaran yang dilakukan oleh kepulauan Paracel dan Spratly sejak 2000
kapal-kapal China yang melewati perairan tahun yang lalu, kemudian Pemerintah China
yang selama ini disengketakan, bahkan terjadi mengklaim telah mengeluarkan peta yang
beberapa insiden antara kapal patroli China merinci kedaulatan China atas Laut China
dengan kapal-kapal nelayan Filipina. Selatan atau Laut Tiongkok Selatan pada tahun
SelanjutnyaChina juga dituduh melakukan 1947, yang dikenal dengan istilah “Nine-
pemancangan instalasi baru di wilayah yang Dashed Line”(Nainggolan, 2013: 8).
disengketakan serta mengintimidasi kapal- Begitu pun dengan negara Filipina,
kapal eksplorasi minyak Filipina. Sementara Vietnam, Taiwan, Brunei Darussalam, dan
Vietnam telahmelakukan paling tidak empat Malaysia yang dalam hal ini juga mengklaim
kali pertemuan bilateral dengan China pada bahwa sebagian wilayah Laut China Selatan
awal 2011 dalam rangka membicarakan atau Laut Tiongkok Selatan masuk ke dalam
perbedaan antar mereka mengenai Laut China Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) negara-negara
Selatan atau Laut Tiongkok Selatan. Sayang tersebut berdasarkan pendekatan geografis
sekali beberapa perilaku China seperti, yang diakui oleh Konvensi Hukum Laut
semakin meningkatnya jumlah dan kegiatan Internasional 1982.Negara-negara yang
penangkapan ikan yang dilakukan kapal-kapal bersengketa dalam konflik Laut China Selatan
China di perairan Vietnam akhirnya membuat atau Laut Tiongkok Selatankerap kali terlibat
segala hasil pertemuan bilateral antar dalam bentrokan fisik dengan menggunakan
keduanya menjadi tiada manfaat. Insiden kekuatan militernya masing-masing. Upaya-
seperti pemotongan kawat-kawat di tempat upaya konfrontatif dalam memperjuangkan
ekplorasi minyak Vietnam yang dilakukan klaim atas kepemilikan wilayah Laut China
China juga pada akhirnya semakin Selatan atau Laut Tiongkok Selatan dari

220 Sengketa Wilayah Maritim di Laut Tiongkok Selatan… (Muhar Junef)


JurnalPenelitianHukum
p-ISSN1410-5632

De Jure AkreditasiLIPI:No:740/AU/P2MI-LIPI/04/2016
e-ISSN2579-8561

masing-masing negara yang terlibat dalam sebenarnya adalah seputar klaim wilayah
konflik Laut China Selatan atau Laut perbatasan (territorial zone). Sengketa Laut
Tiongkok Selatan semakin memperkeruh dan China Selatan atau Laut Tiongkok Selatan ini
mengganggu stabilitas kawasan, bahkan telah memberikan dampak yang cukup
berpotensi berdampak kepada mengganggu dramatis terhadap gelombang polarisasi
kepentingan negara-negara di sekitar kawasan kekuatan negara-negara yang
yang justru tidak terlibat secara langsung bertikai(http://apdforum.com/id/article/rmia
dalam konflik Laut China Selatan atau Laut p/articles/online/features/2012/12/31/aayear-
Tiongkok Selatan, seperti Indonesia dan end-story, diakses 1 Februari 2018).
negara-negara anggota ASEAN (Association Berbagai upaya yang telah dilakukan
of Southeast Asian Nations)lainnya(ibid). untuk menghindari potensi Konflik Laut China
Adapun 3 (tiga) hal yang menjadi alasan Selatan atau Laut Tiongkok Selatan menyusul
utama mengapa negara-negara yang terlibat adanya kemungkinan upaya penyelesaian
dalam konflik Laut China Selatan atau Laut konflik secara damai oleh semua pihak yang
Tiongkok Selatanseperti China, Taiwan, terlibat sengketa. Salah satu upaya
Vietnam, Filipina, Brunei Darussalam, dan menghindari potensi konflik tersebut adalah
Malaysia saling berkepentingan dalam melalui pendekatan perundingan secara damai
memperebutkan wilayah kawasan laut dan baik secara bilateral maupun multilateral dan
daratan dua gugusan kepulauan Paracel dan juga melakukan kerjasama-kerjasama yang
Spratly di Laut China Selatan atau Laut lazim digunakan mengelola konflik regional
Tiongkok Selatan. Pertama, wilayah laut dan dan internasional.
gugusan kepulauan di Laut China Selatan atau Berdasarkan uraian di atas, maka perlu
Laut Tiongkok Selatanmengandung sumber dilakukan penelitian berkaitan dengan
kekayaan alam yang sangat besar, meliputi sengketa di wilayah maritim di Laut Tiongkok
kandungan minyak dan gas bumi serta Selatan. Permasalahan yang akan menjadi
kekayaan laut lainnya. Kedua, wilayah fokus dalam dalam penelitian ini adalah : Apa
perairan Laut China Selatan atau Laut yang melatar belakangi terjadinya Sengketa di
Tiongkok Selatanmerupakan wilayah perairan Wilayah Maritim di Laut China Selatan atau
yang menjadi jalur perlintasan aktivitas Laut Tiongkok Selatan? Bagaimana peran
pelayaran kapal-kapal internasional, terutama Pihak-pihak dalam Sengketa di Laut China
jalur perdagangan lintas laut yang Selatan atau Laut Tiongkok Selatan? Adapun
menghubungkan jalur perdagangan Eropa, tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui
Amerika, dan Asia. Ketiga, pertumbuhan hal-hal yang menjadi permasalahan dalam
ekonomi yang cukup pesat di Asia, membuat penelitian ini. Secara teoritis kegunaan dari
negara-negara seperti China dan negara-negara penelitian ini adalah dalam rangka mendukung
di kawasan Laut China Selatan atau Laut pembentukan dan pengembangan hukum dan
Tiongkok Selatan, bahkan termasuk Amerika secara praktis sebagai bahan masukan bagi
Serikat sangat berkeinginan menguasai kontrol para pemangku kepentingan antara lain
dan pengaruh atas wilayah Laut China Selatan Pemerintah, para ahli, akademisi, praktisi dan
atau Laut Tiongkok Selatan yang dinilai sangat masyarakat.
strategis dan membawa manfaat ekonomis
yang sangat besar bagi suatu negara(ibid: 10-
11). METODE PENELITIAN
Jika melihat dari keadaan politik baik di Jenis penelitian yang digunakan dalam
kawasan Asia Tenggara maupun Asia Pasifik penelitian ini adalah penelitianhukum
dewasa ini, terlihat bernuansa muram normatif. Metode ini dilakukan dengan
sekaligus memanas. Dimana Laut China mengkaji sumber-sumberkepustakaan, yaitu
Selatan atau Laut Tiongkok Selatan yang dengan meneliti prinsip-prinsip dan sistem
menjadi titik tumpu bagi geopolitik di kawasan hukum.(Soekanto, 1985: 13-14). Selanjutnya
Asia Pasifik sedang menjadi pembicaraan peneliti menggunakan pendekatan kasus untuk
hangat di tingkat internasional dikarenakan mempelajari norma-normadan peraturan-
tersulutnya konflik antara sejumlah negara peraturan yang berkaitan dengan sengketa
besar di Asia dan beberapa negara anggota China dan Filipinaterhadap kepemilikan Laut
ASEAN. Inti dari masalah yang diperdebatkan China Selatanatau Laut Tiongkok

Jurnal Penelitian Hukum DE JURE, ISSN 1410-5632 Vol. 18 No. 2, Juni 2018: 219 - 240 221
Selatan(Ibrahim, 2006: 302). Setelah itu pembahasan ini menggunakan istilah Laut
peneliti mengkaji beberapaperaturan Tiongkok Selatan (LTS).
internasional yang berkaitan dengan Laut Tiongkok Selatan, terletak di
penyelesaian sengketa internasionalkhususnya wilayah yang berbatasan dengan Tiongkok,
yang terjadi di laut seperti Piagam PBB dan Taiwan, dan sebagian negara ASEAN
Statuta MahkamahInternasional tahun 1945, (Association of Southeast Asian Nations).
serta United Nations Convention on the Law of (http://www.asean.org/overview/diakses
the Sea(UNCLOS) tahun 1982(ibid: 321). pada 1 Januari 2018).Wilayah ini secara
Bahan hukum primer berasal dari aturan geografis memiliki arti strategis, baik ditinjau
yang memiliki kekuatan hukum mengikat dari segi kepentingan jalur lalu lintas
seperti Piagam PBB dan Statuta Mahkamah pelayaran; dari aspek politik, pertahanan, dan
Internasional tahun 1945, serta UNCLOS keamanan; ataupun dari aspek ekonomi berupa
tahun 1982. Bahan hukum sekunder terdiri kekayaan sumber daya alam yang ada di
dari beberapa dokumen yang berkaitan dengan wilayah tersebut. Dalam aspek kepentingan
bahan hukum primer, seperti: Buku-buku yang lalu lintas pelayaran, wilayah ini merupakan
berkaitan dengan sengketa internasional. salah satu jalur pelayaran dan perdagangan
Bahan hukum tersier, yaitu bahan hukum atau dunia yang sangat penting. Wilayah ini juga
non-hukum yangmenunjang bahan hukum merupakan lokasi yang penting bagi tempat
primer dan bahan hukum transit dan wilayah operasional kapal serta
sekunder(Soekanto,op. cit.: 33).Metode pesawat militer(Harian Kompas 11
pengumpulan data dalam penelitian ini Desember 2012). untuk aspek politik,
dilakukan dengan kajiankepustakaan terhadap pertahanan, dan keamanan. Aspek sumber
bahan-bahan hukum, baik bahan hukum daya alam yang berupa wilayah landas
primer, bahanhukum sekunder, maupun bahan kontinen, memiliki kandungan sumber daya
hukum tersier dan atau bahan non minyak dan gas. Beberapa kegiatan eksplorasi
hukum.Penelusuran bahan-bahan hukum membuktikan besarnya kandungan minyak dan
tersebut dapat dilakukan dengan gas(Tim Wantimpres, 2010 : 5), melalui
membaca,melihat, mendengarkan, maupun pipa-pipa dan kabel bawah laut. Wilayah zona
sekarang banyak dilakukan penelusuran ekonomi eksklusif (ZEE) di Laut Tiongkok
bahanhukum tersebut melalui media Selatan juga banyak mengandung sumber daya
internet(Fajar, 2007 : 113).Metode analisis perikanan dan sumber daya hayati
data dilakukan melalui cara menganalisis data lainnya(Soetarno, 2013: 2).
secarasistematis dengan menggunakan metode
deskriptif kualitatif. Sifat analisisdeskriptif A. Latar belakang terjadinya Sengketa
maksudnya adalah peneliti dalam menganalisis di Wilayah Maritim di Laut Tiongkok
berkeinginan untukmemberikan gambaran atau Selatan
pemaparan atas subjek dan objek
penelitiansebagaimana hasil penelitian yang Sengketa Laut Tiongkok Selatan (LTS)
dilakukannya, peneliti tidak merupakan sengketa terpanas di abad ke 21,
melakukanjustifikasi terhadap hasil dimana Tiongkok, Amerika Serikat dan
penelitiannya tersebut. Sedangkan metode sebagian besar anggota ASEAN terlibat secara
kualitatifartinya peneliti hanya menganalisis tak langsung.Pada mulanya, Republik Rakyat
terhadap data atau bahan-bahan hukum Tiongkok menyatakan bahwa mereka punya
yangrelevan dan berkualitas saja(ibid : 130). kedaulatan atas perairan Tiongkok Selatan
dengan alasan bahwa nelayan tradisional
mereka telah menjelajahi kepulauan Spratly
PEMBAHASAN dan Paracel sejak tahun 200 SM. Bahkan
Berdasarkan Keputusan Presiden Nomor mereka mengklaim adanya pemukiman di
12 Tahun 2004, tanggal 14 Maret 2014 tentang kepulauan tersebut sejak dinasti-dinasti
pencabutan Surat Edaran Presedium Kabinet terdahulu. Tiongkok juga mengklaim telah
Ampera Nomor SE-06/Pred.Kab/6/1967, menemukan peninggalan purba berupa
tertanggal 28 Juni 1967, yang pada pokoknya tempayan dan mata uang kuno di kepulauan
mengganti istilah Tjina/China menjadi tersebut. Selain itu, nama ‘Laut Tiongkok
Tionghoa/Tiongkok, maka selanjutnya dalam Selatan’ berasal dari nenek moyang mereka
dan catatan-catatan Dinasti Song dan Yuan

222 Sengketa Wilayah Maritim di Laut Tiongkok Selatan… (Muhar Junef)


JurnalPenelitianHukum
p-ISSN1410-5632

De Jure AkreditasiLIPI:No:740/AU/P2MI-LIPI/04/2016
e-ISSN2579-8561

mencantumkan kepulauan tersebut dalam menjelaskan posisi kedaulatannya di Laut


wilayah kekuasan Tiongkok Selatan secara hukum internasional,
mereka(https://seword.com/luar-negeri/asal- padahal mereka sudah meratifikasi perjanjian
usul-sengketa-laut-tiongkok-selatan- Konvensi tentang Hukum Laut. Hal tersebut
membedah-klaim-tiongkok-bagian-i, membuat negara-negara ASEAN curiga bahwa
diakses 19 Januari 2018). Tiongkok lebih mengutamakan
Pemerintah Tiongkok baik kepentingannya diatas negara sahabat dan
nasionalis(Kuomintang) maupun komunis, sengaja mengulur-ulur waktu agar posisinya
berkeras bahwa Laut Tiongkok Selatan adalah mantap(ibid).
perairan mereka. Pergantian pemerintah Kemelut itu bertambah rumit dengan
tidaklah mengubah klaim tersebut, meskipun kehadiran Amerika Serikat yang ingin
kini Tiongkok terbagi menjadi Republik memantapkan posisinya sebagai negara
Rakyat Tiongkok dan Republik Taiwan. adikuasa di Pasifik, terlebih Amerika
Naiknya status Tiongkok dalam ekonomi mendukung klaim Filipina pada Laut
dunia membuat mereka percaya bahwa ini Tiongkok Selatan secara diam-diam. Setelah
saatnya untuk menghapus aib yang terjadi insiden kecil dengan Filipina dan Vietnam,
ratusan tahun lalu. Penemuan sumber daya Tiongkok bersikap agresif dengan menguasai
alam berupa 25 trilyun kubik gas alam dan kepulauan Spratly dan Paracel, serta
sebesar 213 milyar barel minyak bumi di membangun pangkalan laut di kepulauan
bawah lautan tersebut oleh Tiongkok pada tersebut. Mereka bahkan mengusir nelayan
tahun 1970, menambah panas Filipina dari beting Scarborough yang berjarak
perselisihan.Meskipun demikan, Tiongkok 200 mil dari pesisir pantai Palawan.Tidak
tidak selalu bersikap agresif (ibid). berhenti di situ, AB Tiongkok memperkuat
Sengketa Laut Tiongkok Selatan armada mereka dengan kapal induk ‘Liaoning’
sebenarnya sudah terjadi lebih dari 20 tahun dan sengaja menggunakan para nelayan
lamanya yaitu sejak 1974 hingga Tiongkok sebagai perpanjangan tangan atau
2011(http://internasional.kompas.com/read/ ‘proxy war’ mereka. Tindakan agresif tersebut
2011/06/21/03490365/Singapura.Desak.Chin diprotes oleh Filipina, Vietnam, Taiwan,
a.Jelaskan.Klaim,diakses 29 Januari 2018). Malaysia, Brunei dan Amerika Selatan.Tidak
Namun, ketegangan yang baru-baru ini terjadi hanya melalui kekuatan militer, Tiongkok juga
menimbulkan suatu kekhawatiran baru di berusaha memecah konsensus antara negara-
kawasan ini dan semakin mengancam negara ASEAN. Melalui bantuan ekonomi,
ketahanan dan keamanan dunia. Titik sengketa mereka berhasil membujuk Laos dan Kamboja
Laut China Selatan adalah Kepulauan Spratly, untuk tidak mengangkat isu tersebut. Itu
sengketa atas kepemilikan Kepulauan Spratly terbukti ketika ASEAN tidak mengangkat isu
dan Kepulauan Paracel mempunyai riwayat Laut Tiongkok Selatan pada pertemuan
yang panjang dan berbatasan dengan wilayah menteri luar negeri dan APEC di Laos pada
perairan dari beberapa negara, seperti Filipina, tahun 2012 dan 2016. Di lain pihak, sebagian
Vietnam, Indonesia dan Malaysia. Kepulauan besar negara ASEAN merasa tidak punya
ini terletak kurang lebih 1.100 km dari kepentingan pada sengketa tersebut. Indonesia
pelabuhan Yu Lin (Pulau Hainan, Tiongkok) hanya mempertanyakan keabsahan garis
dan 500 km dari pantai Kalimantan bagian sembilan derajat, karena berpotongan dengan
utara. perairan pulau Natuna. Dari semua anggota
ASEAN, hanya Filipina membawa kasus
Pada tahun 2011, Tiongkok bertemu
tersebut ke Pengadilan Arbitrase Internasional
dengan negara-negara anggota ASEAN dan
pada tahun 2013 dan menang pada tahun
sepakat untuk membicarakan tata cara
2016.Kemenangan Filipina atas Tiongkok
penyelesaian sengketa Laut Tiongkok Selatan
disambut gembira oleh Vietnam dan Amerika
yang hingga kini belum menemukan
Serikat, sementara Tiongkok mengatakan
penyelesaian. Pada tahun 2013, Tiongkok juga
bahwa mereka tidak mengakui keputusan
menggalakkan ‘jalur sutra maritim’ atau lebih
tersebut dan tetap menyatakan Laut Tiongkok
dikenal ‘Satu Sabuk Satu Jalan’ sebagai solusi
Selatan adalah perairan mereka
perekonomian di Asia and menawarkan
berdasarkan’sejarah’ yang ada. Sengketa atas
ASEAN untuk bermitra dalam proyek
Laut Tiongkok Selatan akan berlanjut terus,
tersebut.Akan tetapi Tiongkok tidak pernah

Jurnal Penelitian Hukum DE JURE, ISSN 1410-5632 Vol. 18 No. 2, Juni 2018: 219 - 240 223
hingga masing-masing pihak bersedia duduk khususnya Tiongkok harus membangun rasa
untuk menyelesaikan hal tersebut. Agar percaya dan mengutamakan kerjasama dengan
kemelut tersebut berakhir, semua pihak, masing-masing negara.(ibid)

Peta Laut Tiongkok Selatan peta di atas ditandai dengan garis merah putus-
putus berjumlah sembilan, sementara klaim
Vietnam ditandai dengan garis berwarna biru,
Malaysia ditandai dengan garis berwarna biru
muda dan Filipina dengan warna coklat.
Sementara Brunei dan Taiwan juga mengklaim
bahwa dalam nine-dash line itu, kedua negara
tersebut juga memiliki hak. Secara global,
sebetulnya wilayah yang diklaim China
sebetulnya juga merupakan wilayah yang juga
diklaim oleh lima negara yang lain. Dalam
konteks sovereignty disputes ini yang sangat
agresif dalam menentang nine-dash line China
adalah Filipina dan Vietnam. Konsep nine-
dash line pertama kali diperkenalkan pada
tahun 1914 dan dimanfaatkan pada tahun 1947
Source :
oleh pemerintah nasional China(Pusat Studi
https://www.ft.com/content/aa32a224-480e- Sosial Asia Tenggara Universitas Gajah
11e6-8d68-72e9211e86ab Mada, Peran Strategis Indonesia Dalam
Krisis Laut China Selatan.
Berpijak dari peta di atas bisa http://pssat.ugm.ac.id/id/2016/10/11/peran-
digambarkan bahwa China melalu strategis-indonesia-dalam-krisis-laut-china-
kebijakannya telah secara sepihak selatan/).
mendeklarasikan nine-dash line yang dalam
Berdasarkan peta itu, Tiongkok dan Kepulauan Spratly dan memiliki dokumen
mengklaim semua pulau yang ada di wilayah sebagai bukti dari klaim tersebut.
itu mutlak milik negeri yang dijuluki Tirai Filipina juga turut mengklaim
Bambu itu. Mengacu peta itu, Tiongkok juga mengenai Kepulauan Spartly. Mereka
mengklaim perairan yang berada di wilayah mengangkat kedekatan secara geografis
tersebut masih miliknya, termasuk kandungan Kepulauan Spratly sebagai landasan klaim
laut maupun tanah di bawahnya sebagian kepulauan tersebut. Filipina mulai
(http://nasional.sindonews.com/read/105570 memperhatikan pulau-pulau Spratly setelah
5/19/ indonesia-di-pusaran-konflik-laut- mendapat kemerdekaan dari Amerika Serikat
china-selatan-1445604047, diakses 30 dan mengajukan tuntutan kepemilikan dalam
Januari 2018).Klaim itu juga diusut oleh sidang Majelis Umum PBB pada tahun 1946.
Taiwan, yang menurut Tiongkok provinsi Setelah merdeka, Menteri Luar Negeri Filipina
tersebut merupakan provinsi yang mengeluarkan pernyataan bahwa the new
membangkang dari pemerintahan pusat. Klaim Southern Islands (istilah Jepang untuk pulau-
tersebut dibantah oleh Vietnam. Vietnam pulau di Laut China Selatan) diserahkan
sendiri menyanggah bahwa klaim Tiongkok Jepang kepada Filipina. Tetapi pada tahun
tidak pernah mengklaim kedaulatan pulau 1956, Thimas Cloma, pemilik kapal ikan
tersebut hingga tahun 1940-an dan menemukan dan menduduki sebagian pulau-
mengatakan bahwa kedua pulau tersebut masih pulau Spratly yang kemudian disebut
bagian dari wilayah mereka. Kepulauan Kalayaan sebagai wilayah terra
(http://www.bbc.com/indonesia/laporan_kh nullius (wilayah yang tidak dimiliki oleh
usus/2011/07/110719_spratlyconflict, negara manapun). Dalam suratnya kepada
diakses 30 Februari 2018). Selain itu juga Wakil Presiden dan Menteri Luar Negeri
Vietnam mengatakan bahwa sejak abad ke-17 Filipina, Carlos Garcia, Cloma menyatakan
mereka telah menguasai Kepulauan Paracel pendudukannya didasarkan pada penemuan
dan pendudukan (discovery and occupation)

224 Sengketa Wilayah Maritim di Laut Tiongkok Selatan… (Muhar Junef)


JurnalPenelitianHukum
p-ISSN1410-5632

De Jure AkreditasiLIPI:No:740/AU/P2MI-LIPI/04/2016
e-ISSN2579-8561

yang mencakup 33 pulau yang sangat kecil, mereka.(http://www.bbc.com/


pulau Spratly dan pulau kecil Amboyna. indonesia/laporan_khusus/2011/07/110719_s
Filipina juga kemudian mendasarkan pratlyconflict, diakses 30 Februari 2018).
tuntutannya kepada doktrin kedekatan Demikian juga dengan klaim yang
(proximity) dan kebutuhan yang mendesak berkaitan dengan sumber daya alam. Pertama,
bagi pertahanannya(Asnani, Usman & Rizal kekayaan alam di Laut tiongkok Selatan
Sukma. Konflik Laut China Selatan : berupa cadangan gas dan minyak. Dalam
Tantangan Bagi ASEAN. Jakarta: CSIS). paparan peta (Gambar 1.) tampak bahwa
Ada pula Malaysia dan Brunei Darussalam kandungan energi di kawasan Laut Tiongkok
yang juga mengklaim sebagian kawasan di Selatan tidak dapat dianggap kecil dan akan
Laut China Selatan. Menurut kedua negara menjadi modal bagi ekonomi negara-negara
tersebut, sebagian wilayah tersebut masuk ke yang berbatasan untuk masa depan(CSIS. 18
dalam Zona Ekonomi Ekslusif (ZEE), yang Maps that Explain Maritime Security in Asia.
ditetapkan oleh Konvensi PBB tentang Hukum Dalam http://amti.csis.org/ atlas/. (Diakses
Laut tahun 1982. Sebenarnya Brunei 30 Februari 2018), seperti ditampilkan pada
Darussalam sendiri tidak mengklaim mengenai gambar 4 dibawah ini.
kepemilikan dua kepulauan itu, namun
Malaysia menyatakan sejumlah kecil kawasan
di Kepulauan Spratly adalah milik
Gambar 1.
Peta Kandungan Gas Dan Minyak di Laut Cina Selatan

Kedua, selain kekayaan alamnya Laut Cina Selatan juga menjadi jalur strategis pelayaran
bebas untuk pengiriman energi dan barang. Dengan kata lain kawasan maritim ini merupakan
lingkungan yang lingkungan internasional yang strategis (Alex Calvo, “China, the Philippines,
Vietnam and International Arbitration in South China Sea,” The Asia-Pacific Journal.
http://apjjf.org/-Alex-Calvo/4391. (Diakses 29 Februari 2018). Melalui kawasan ini kapal-kapal
pengangkut BBM bagi negara-negara Asia Timur cukup tinggi volumenya. Dalam grafik (Gambar 2.)
tampak bahwa pasokan energi setiap tahunnya sangat besar(CSIS. 18 Maps that Explain Maritime
Security in Asia. Dalam http://amti.csis.org/ atlas/. (Diakses 30 Februari 2018).

Jurnal Penelitian Hukum DE JURE, ISSN 1410-5632 Vol. 18 No. 2, Juni 2018: 219 - 240 225
Gambar 2.
Peta Jalur Strategis Pelayaran Bebas Laut Cina Selatan

Rajang, Pahang, dan Pasig. Secara geografis


Dalam konteks Laut Cina Selatan, Laut Cina Selatan terbentang dari arah barat
beberapa negara memiliki kepentingan daya ke timur laut, yang batas selatan- nya
bersama dalam perselisihan batas teritorial laut 3°,lintang antara Sumatera Selatan dan
seperti Malaysia, Brunei Darussalam, Filipina Kalimantan (Selat Karimata), dan batas
dan Vietnam. Keempat negara ini berhadapan utaranya ialah Selat Taiwan dari ujung utara
dengan Tiongkok yang tidak lain adalah big Taiwan ke pesisir Fujian di Cina daratan. Laut
power yang mengklaim hampir semua wilayah Cina Selatan terletak di Sebelah Selatan
Laut Cina Selatan. Republik Rakyat Cina (RRC) dan Taiwan; di
sebelah barat Filipina; di sebelah barat, Laut
B. Peran Pihak-pihak dalam Sengketa di
Sabah (Malaysia), Sarawak (Malaysia), dan
Laut Tiongkok Selatan.
Brunei; di sebelah utara Indonesia; di sebelah
Negara-negara dan wilayah yang
Timur Laut Semenanjung Malaya (Malaysia)
berbatasan dengan Laut Cina Selatan adalah
dan Singapura; dan di sebelah Timur
(searah jarum jam dari utara) Republik Rakyat
Vietnam(Anugerah Baginda Harahap,
Cina (RRC) termasuk (Makau dan Hongkong),
Upaya Asean Dalam Menyelesaikan Konflik
Republik Cina (Taiwan), Filiphina, Malaysia,
Laut Cina Selatan Tahun 2010-2015,
Singapura, Brunei, Indonesia, dan Vietnam.
Fakultas Ilmu Sosial Ilmu Politik
Adapun sungai-sungai besar yang bermuara di
Universitas Riau. JOM FISIP Vol. 3 No. 2 –
Laut Cina Selatan antara lain sungai Mutiara
Ok
(Guangdong). Min, Jiulong, Red, Mekong,
tober 2016).
Negara-negara yang bersengketa di Laut Tiongkok Selatan
TERITOTIAL DIPUTE NEGARA YANG BERENGKETA
RRT Vietnam Filipina Brunai Malaysia Taiwan
1. Kepulauan o o ❖ o o o
Spratly
2. Kepulauan o o o
Paracel
3. Scarborough o o o o
Shoal
4. Mischief Reef o o o
5. Pratas Islands o o o
Sumber: Kajian Dewan Pertimbangan Presiden (Desember 2012)
Keterangan:
o Konflik kedaulatan (sovereignty)
❖ Konflik hak berdaulat (sovereign rights)

226 Sengketa Wilayah Maritim di Laut Tiongkok Selatan… (Muhar Junef)


JurnalPenelitianHukum
p-ISSN1410-5632

De Jure AkreditasiLIPI:No:740/AU/P2MI-LIPI/04/2016
e-ISSN2579-8561

Tabel ini menggambarkan teritorial dispute pada enam wilayah kepulauan di Laut Tiongkok
Selatan serta negara-negera pengklaim yang bersengketa. Selain wilayah sengketa di atas, beberapa
negara di sekitar Laut Tiongkok Selatan juga mempermasalahkan 9 dashed lined yang diterbitkan oleh
RRT pada tahun 1949, yang mencakup sekitar 90% dari total luas Laut Tiongkok Selatan dan
dipandang sebagai bukti sejarah yang mendukung klaim RRT di Laut Tiongkok Selatan.
Tabel Tahun dan Dasar Tuntutan
No Negara Tahun Dasar Tuntutan
1 China 1887 China mengajukan tuntutan berdasarkan catatan sejarah
semenjak Dinasti Han, dan diperjelas tahun 1887
2 Taiwan 1933 Pemerintahan China Nasionalis juga mengajukan tuntutan
berdasarkan sejarah semenjak Dinasti Han,m dan diperjelas
tahun 1933
3 Vietnam 1802 Vietnam mengajukan tuntutannya atas pulau-pulau Spralty
berdasarkan sejarah, yaitu perolehan Kaisar Gea Long tahun
1802 yang kemudian menggabungkannya dengan Vietnam
pada tahun 1932.
4 Filipina 1946 Dalam sidang Majelis Umum PBB pada tahun 1946, Menlu
Filipina mengeluarkan pernyataan bahwa kepulauan Spratly
diserahkan Jepang kepada Filipina
5 Malaysia 1979 Pada tahun 1979, Malaysia mempublikasikan peta Landas
Kontinen Malaysia yang di dalamnya terdapat sebagian dari
pulau-pulau Spratly
6 Brunai 1979 Brunai memprotes isi publikasi peta Landas Kontinen
Malaysia pada tahun 1979, dan mengajukan tuntutan atas
Louisa Reef sebagai wilayah yang berada di Landas
Kontinen dan ZEE Brunai.
Sumber:repository.umy.ac.id/bitstream/handle/123456789/7508/f.BABII.pdf?.
Beberapa negara claimant states Tiongkok Selatan mendorongnya untuk
mempuyai kepentingan di kawasan Laut mempercepat rencana eksplorasi migas di Laut
Tiongkok Selatan, dan RRT merupakan negara Tiongkok Selatan dalam rangka memenuhi
yang paling asertif dan agresif dalam konflik kebutuhan energinya di masa mendatang.
Laut Tiongkok Selatan, baik melalui Kepentingan untuk membangun pengaruh di
penggunaan jalur diplomasi maupun kekuatan Laut Tiongkok Selatan ini juga terkait dengan
laut (kapal ikan, kapal patroli matitim, dan upaya pemimpin RRT untuk menunbuhkan
angkatan laut)(Wiranto, kebanggaan rakyat dalam menyosong
2016:88).Pertumbuhan ekonomi RRT peralihan generasi kepemimpinan di RRT
membuat kebutuhan akan energi meningkat kepada generasi
dengan pesat yang tidak dapat dipenuhi oleh kelima,(http://international.kompas.com/rea
produksi dalam negeri. Kepentingan RRT di d/2013/03/02/0936405/ Kesulitan.
kawasan Laut Tiongkok Selatan adalah Legitimasi).Kekuasaan, China, diakses 20
menyangkut kandungan migas dan sumber Maret 2018 dan hal ini menunjukkan adanya
daya perikanan yang cukup besar.(Jin rivalitas antara Negara RRT dan AS di
Xianshi, Marine Fishery Resources and kawasan Asia Pasifik.
Managemen in China” (papaer presented at Klaim Brunai Darussalam lebih
the ICFO Seminar, Qingdao, RRT, 25-29 kepada kepentingan hak berdaulat di wilayah
Oktober 2000). Lihat juga Kuang-Hsiung perairan yurisdiksinya, khususnya dalam
Wang, “Bridge Over Troubled Waters: bidang keamanan navigasi dan pengelolaan
Fisheries Cooperation as a Resolution to the sumber daya perikanan serta
South China Sea Conflicts,” The Pacific migas.(http://www.theglobal-
Review 14, no. 4 (2001).Keberhasilan RRT review.com/comtent_detail.php?
mengeksplorasi migas di laut bekerja sama lang=id&id=7132&type=4#.UYD3YSmkfml
dengan negara-negara di luar kawasan Laut , diakses 28 Februari 2018). Klaim Taiwan

Jurnal Penelitian Hukum DE JURE, ISSN 1410-5632 Vol. 18 No. 2, Juni 2018: 219 - 240 227
menuntut kedaulatan dan hak berdaulat sama landas kontinennya seperti yang diatur di
dengan tuntutan RRT di wilayah Kepulauan dalam Pasal 55 dan Pasal 76 UNCLOS 1982.
Paracel dan Spratly serta perairan di sekitarnya Klaim Malaysia terhadap beberapa pulau di
berdasarkan sejarah yang Kepulauan Spratly yang dinamai Terumbu
sama.(http://www.fkpmaritim.org/?p=250), Layang dan Terumbu Laksamana lebih pada
diakses 28 Februari 2018.)Klaim Vietnam kepentingan hak berdaulat, khususnya dalam
pada kepulauan Spratly dan Laut Tiongkok bidang keamanan navigasi (safety of
Selatan didasarkan kepada sejarah dan navigation) dan pengelolaan sumber daya
berlandaskan pada zona ekonomi ekslusif dan perikanan dan
landas kontinennya sebagaimana diatur dalam migas(http://www.malaysiandefence.com/?p
UNCLOS 1982. Vietnam mengklaim gugusan =2672, diakses 28 Februari 2018).
Pulau Paracel ke utara yang sekarang dikuasai Peran Non-claimant States
RRT sebagai miliknya. Klaim kedaulatan atas
Kekuatan non-claimant states/negara
Kepulauan Paracel dan Spratly akan
ekstra kawasan juga memiliki kepentingan
berdampak pada bertambahnya wilayah ZEE
geopolitik dan geostrategi terhadap Laut
dan Landas Kontinen Vietnam. Vietnam
Tiongkok Selatan, seperti masalah kebebasan
berkepentingan terhadap kebebasan
bernavigasi (freedom of navigation) dan
bernavigasi (freedom of navigation) bagi kapal
keluasaan perniagaan (unimpeded commerce).
dagang, kapal tanker, kapal ikan, kapal patroli
Namun alasan yang mendasar adalah
maritim, dan kapal perang Vietnam( Manuel
mewaspadai kebangkitan RRT, khususnya di
Mogato, Philippines sees Japan as balance to
bidang politik, ekonomi, dan militer. Kekuatan
China ambitions, Jakarta Post Desember
ekstra kawasan yang terlibat dalam konflik
2012. Lihat juga
Laut Tiongkok Selatan, meliputi: Amerika
http://khabarsoutheastasia.com/id/articles/a
Serikan, India, Jepang, dan Australia.
pwi/articles/newsbriefs/2012/06/23/newsbrie
f-03. Lihat juga Reuters, Vietnam steps up Kebangkitan ekonomi dan
sea patrols as tensions with China rise, pembangunan kekuatan militer RRT
Jakarta Post, 5 Desember 2012.)Filipina berpengaruh terhadap dominasi kepemimpinan
nemgklaim Kelayaan Islads Group (KIG) Amerika Serikat. Hal ini mendorong AS untuk
berdasarkan sejarah, pennemuan, kelanjutan memperkuat dominasinya di Asia Pasifik
wilayah laut, dan kedekatan lokasi (history, dengan meningkatkan kehadiran pangkalan
discovery, contiguity, proximity), dan juga militernya di Australia, Singapura, dan Guam,
berdasarkan UNCLOS 1982. Filipina serta peningkatan kegiatan Armada VII di
mengklaim gugusan Kepulauan Spratly ke wilayah Laut Tiongkok Selatan dalam bentuk
selatan sebagai miliknya yang tumpang tindih latihan militer bilatera dengan beberapa
dengan posisi RRT. Klaim kedaulatan atas claimant states. Bergesernya Center of Gravity
Scarborough Shoal dan Pulau Kelayaan sangat ekonomi dunia dari kawasan Eropah ke Asia
penting bagi Filipina karena akan berdampak Pasifik memosisikan Laut Tiongkok Selatan
pada bertambahnya wilayah ZEE dan Landas sebagai perairan yang vital bagi negara-negara
Kontinen Filipina sebagai negara kepulauan Asia Pasifik, terutama AS. Oleh karena itu, AS
sebagaimana diatur dalam UNCLOS berkepentingan terhadap freedom of
1982(http://www.asiacalling.org/in/berita/p navigation dan unimpeded commerce di Laut
hilippines/3032-filipina-melawan-cina-di- Tiongkok Selatan(Wiranto, 2016: 65).
lautan-cina-selatan, diakses 23 Maret Bagi India, Samudera Hindia
2018).Perairan sekitar Scarborough Shoal merupakan vital sea, dan berkepentingan
memiliki kandungan minyak yang cukup besar terhadap freedom of navigation di Laut
dan Filipina berkepentingan untuk pemenuhan Tiongkok Selatan untuk berhubungan dagang
energinya.Kawasan Laut Tiongkok Selatan dan pasokan energinya ke wilayah Asia Pasifik
yang diklaim Filipina memiliki sumber daya dan Amerika. Di samping itu, untuk
perikanan yang cukup besar dan selama ini perlindungan terhadap perusahaan pengeboran
merupakan daerah operasi kapal-kapal minyaknya (Oil and Natural Gas
penangkap ikan Filipina(Wiranto, 2016: Corp/ONGC) yang beroperasi di lepas pantai
93).Malaysia mengklaim Kepulauan Spratly Vietnam, yang bekerja sama dengan
dan Laut Tiongkok Selatan berdasarkan zona Pemerintah Vietnam di wilayah Laut
ekonomi ekslusifnya dan kepanjangan dari Tiongkok Selatan (Kompas, 5 Desember

228 Sengketa Wilayah Maritim di Laut Tiongkok Selatan… (Muhar Junef)


JurnalPenelitianHukum
p-ISSN1410-5632

De Jure AkreditasiLIPI:No:740/AU/P2MI-LIPI/04/2016
e-ISSN2579-8561

2012).Apabila situasi keamanan di wilayah ini ASEAN Economic Community (AEC), yaitu
kurang kondusif tentunya akan mempengaruhi meningkatkan perdamaian (enhancing peace),
bisnis Pemerintah India di Laut Tiongkok stabilitas (stability), demokrasi (democracy),
Selatan dan jalur-jalur pendek ke negara- dan kesejahteraan (prospority) di kawasan
negara lainnya. melalui kerja sama politik dan keamanan
Peran Non-Government Actor secara komprehensif. APSC mempromosikan
penolakan terhadap agresi atau penggunaan
Kawasan Laut Tiongkok selatan
angkatan bersenjata atau tundakan lain yang
memiliki cadangan sumber daya alam sangat
tidak sesuai dengan hukum internasional serta
besar. RRT memperkirakan cadangan minyak
memperhatikan penyelesaian sengketa secara
yang terkandung di Laut Tiongkok Selatan
damai. Dalam hal ini, APSC menjunjung
sebesar 231 miliar barel atau sepuluh kali lipat
tinggi keberadaan instrumen politik ASEAN,
dari cadangan milik Amerika
seperti Deklarasi Zona Perdamaian,
Serikat.(Wiranto: 2016: 68). Namun,
Kebebasan dan Netralitas (ZOPFAN), Traktat
informasi Energi Ameria Serikat (EIA)
Persahabatan dan Kerja Sama di Asia
memperkirakan kandungan minyak di Laut
Tenggara (TAC) dan Perjanjian tetang Zona
Tiongkok Selatan hanya sebesar 28 miliar
Bebas Nuklir Asia Tenggara (SEANWFZ) yag
barel. Selain itu survei geologi Amerika
memainkan peran penting dalam upaya
Serikat menemukan 60% - 70% energi
membangun rasa saling percaya (conidence
hodrokarbon di Laut Tiongkok Selatan berupa
building measures/CBMs), diplomasi preventif
gas alam. Adanya potensi migas ini selain
(preventive diplomacy), dan pendekatan secara
menarik claimant states untuk
damai untuk penyelesaian konflik dan untuk
mempertahankan klaimnya, juga menarik
menjawab isu-isu keamanan nontradisional.
perusahaan energi multinasional sebagai aktor
non-negara untuk terlibat dalam kegiatan ASEAN dan Cina seharusnya
eksploitasi migas di Laut Tiongkok Selatan melaksanakan tiga tindakan berikut untuk
seperti Exxon Mobil dari AS, Total dari memelihara perdamaian dan stabilitas.
Perancis, Primier Oil, Oli and Natural Gas Pertama, ASEAN dan Cina harus
coroiration (ONGC) Vides dari India, dan memperkuat rasa saling percaya satu sama
lain-lainnya. (ibid.)Perusahaan-perusahaan lain.
minyak raksasa dari AS, Perancis, dan India China mencurigai beberapa negara
ini bekerja sama dengan negara-negara pantai anggota ASEAN telah membiarkan atau
di sekitar Laut Tiongkok Selatan untu bahkan memfasilitasi kebijakan Amerika yang
melaksanakan eksplorasi dan eksploitasi bersumbu di Asia (salah satu kebijakan luar
kekayaan sumber minyak dan gas bumi yang negeri pemerintahan Obama) dan melibatkan
sangat melimpah dan terkandung di bawah Amerika dalam konflik Laut Tiongkok
permukaan laut di wilayah ini. Selatan. Di dalam berbagai kesempatan China
Di samping permasalahan sumber mengingatkan ASEAN untuk “tidak
daya alam, konflik di Laut Tiongkok Selatan mengambil posisi” dalam permainan
juga menjadi peluang yang dapat kekuasaan
dimanfaatkan oleh trasnasional organized regional.(http://www.nationmultimedia.com/
crimes untuk berbagai kepentingan politics/Chinese-minister-Asean-can-shape-
kelompoknya. Kejahatan transnasional yang power-play-in-E-A-30184834.html) ASEAN,
terjadi di wilayah ini dapat berupa illegal pada sisi yang lain, dengan halus menyatakan
fishing, illegal minig, pencurian harta karun kekhawatiran(lihat: http://www.asean.org/do
muatan kapal laut yang tengelam di dasar laut cuments/44thAMM-PMC-
dan berbagai bentuk kriminal lainnya yang 18thARF/44thAMM-JC.pdf),atas niat
dapat mengganngu kepentingan pengguna lalu hegemoni China di Laut Tiongkok Selatan
lintas laut yang melewati wilayah ini. yang ditandai dengan penggunakan kekuatan
Peran ASEAN militer dan para-militer untuk mengubah status
quo Laut Tiongkok Selatan yang sudah rentan.
Kepentingan ASEAN Community
Deklarasi Air Defense Identification Zone
(khususnya APSC dan AEC) di kawasan Laut
(Zona Identifikasi Pertahanan Udara, ADIZ)
Tiongkok Selatan sesuai dengan tujuan
atas Laut China Timur yang dilakukan oleh
ASEAN Political-Security (APSC) dan
China secara sepihak baru-baru ini dan

Jurnal Penelitian Hukum DE JURE, ISSN 1410-5632 Vol. 18 No. 2, Juni 2018: 219 - 240 229
kebijakan tentang penangkapan ikan yang berusaha untuk lebih terlibat di dalam diskusi-
dikeluarkan oleh pemerintah provinsi Hainan diskusi dengan ASEAN mengenai Laut
yang mengharuskan kapal-kapal ikan asing Tiongkok Selatan, misalnya di dalam negosiasi
yang beroperasi di dua pertiga wilayah Laut tentang Code of Conduct yang mengikat
Tiongkok Selatan untuk meminta izin dari secara regional.
pejabat pemerintahan China untuk menangkap ASEAN, pada sisi yang lain, harus
ikan, telah menimbulkan keraguan atas meyakinkan China bahwa ASEAN tidak
kemampuan China untuk menyelaraskan mencari bantuan dari kekuatan-kekuatan
ucapan dan tindakannya – terlebih atas politik eksternal untuk menghadapi China.
penegasan pemerintah China yang baru untuk ASEAN perlu untuk menunjukkan bahwa
meneruskan kebijakan sebagai tetangga tindakan ASEAN melibatkan kekuatan-
ASEAN yang baik. Rasa saling tidak percaya kekuatan politik utama bertujuan untuk
seperti ini dapat menyebabkan timbulnya menciptakan keseimbangan yang
siklus aksi dan reaksi. Misalnya, penguatan dinamis( http://www.setkab.go.id/mobile/
angkatan bersenjata atau militerisasi di international-4585-sby-encourages-durable-
regional yang mungkin memperburuk lebih peace-for-asia-pacific-architecture-to-forge-
jauh kondisi keamanan dan merusak a-new-understanding-of-stability-and-
keseimbangan kekuasaan di Laut Tiongkok prosperity.html)dan kerangka kerjasama yang
Selatan dengan berbagai akibat yang akan menguntungkan bagi setiap pihak. ASEAN
menimbulkan ketidakstabilan. ASEAN dan juga perlu menunjukkan pada China bahwa
China perlu segera menghentikan rasa saling Asia Tenggara tidak berminat dan tidak
tidak percaya seperti ini. China perlu memiliki kapasitas untuk campur tangan di
meyakinkan kembali ASEAN bahwa China dalam permainan kekuatan politik dunia, dan
akan meneruskan kemajuannya yang damai bahwa ASEAN masih sangat menjunjung
dengan tegas menjalankan apa yang telah tinggi ideologi ASEAN untuk mewujudkan
diumumkan oleh para pemimpin China, dan wilayah Asia Tenggara yang damai, bebas, dan
mengendalikan diri lebih keras. Yang otonom bahkan hingga pada saat ini. Seperti
terpenting, China perlu membuktikan bahwa yang disampaikan oleh Hugh White, seorang
pertumbuhan ekonomi dan peningkatan militer sarjana asal Australia, secara blak-blakan
China merupakan sebuah alasan bagi ASEAN namun tepat bahwa “ASEAN tidak akan
untuk bergembira, dan bukannya malah membantu Amerika dalam mengatur China
merasa takut. China telah dengan jelas untuk kepentingan
menunjukkan bagaimana ledakan ekonominya Amerika” (http://www.lowyinterpreter.org/p
telah memberi keuntungan bagi kemakmuran ost/ 2012/08/02/ASEAN-wont-help-US-
di kawasan. China dapat melakukan hal manage-China.aspx).
tersebut dengan memanfaatkan kapabilitas
Kedua, ASEAN dan China seharusnya
armada lautnya dengan mengirimkan kapal-
bekerja lebih keras untuk memperkuat
kapal modern yang dimilikinya bukan ke
dasar-dasar tatanan yang berasaskan
wilayah maritim yang dipersengketakan, tetapi
hukum di Laut Tiongkok Selatan,
untuk membantu memerangi bajak laut dan
khususnya UNCLOS 1982.
perampokan bersenjata, atau untuk menolong
orang dan kapal yang menemui kesulitan dan China dan ASEAN sama-sama setuju
membutuhkan bantuan di Laut Tiongkok bahwa UNCLOS merupakan dasar bagi
Selatan, misalnya dalam berbagai operasi terciptanya tatanan hukum di Laut Tiongkok
penyelamatan saat bencana besar seperti pada Selatan. China menyatakan “sangat penting
saat taifun Haiyan menerjang Filipina di tahun untuk memelihara prinsip-prinsip dan tujuan-
2013. China harusnya menunjukkan bahwa tujuan dari UNCLOS.”
penyelesaian sengketa teritorial akan ditempuh ( http://www.fmprc.gov.cn/
terus-menerus secara damai, tanpa eng/xwfw/s2510/t955114.htm)ASEAN
menggunakan kekuatan militer atau para- menyerukan untuk “menghormati sepenuhnya
militer, ataupun ekonomi. China seharusnya prinsip-prinsip Hukum Internasional yang
menepis setiap keraguan yang dimiliki diakui umum, termasuk UNCLOS
ASEAN; bahwa China secara tulus 1982”(Prinsip nomor 4 dari Enam Prinsip
mengutamakan dialog di dalam menyelesaikan ASEAN tentang Laut Cina Selatan).
konflik dengan bersikap lebih terbuka dan

230 Sengketa Wilayah Maritim di Laut Tiongkok Selatan… (Muhar Junef)


JurnalPenelitianHukum
p-ISSN1410-5632

De Jure AkreditasiLIPI:No:740/AU/P2MI-LIPI/04/2016
e-ISSN2579-8561

Meskipun demikian, ada banyak lingkungan, atau bagaimana negara-negara


perbedaan yang menjadi nyata di dalam proses harus bekerjasama untuk memelihara stok
penafsiran, penerapan, dan pelaksanaan ikan.
UNCLOS yang menyebabkan timbulnya Isu-isu yang baru muncul terkait
sejumlah peristiwa kesalahpahaman antara pendayagunaan ruang maritim dan atau
para pihak yang bersengketa. Klaim China sumber daya maritim juga dapat memicu
tentang “hak-hak historis” atas Laut Tiongkok berbagai sengketa atau insiden baru. Isu-isu
Selatan merupakan salah satu contohnya. yang belum atau tidak diatur, seperti: kabel
China bersikeras bahwa “hak-hak historis” bawah laut dalam konteks pendayagunaan
tersebut tetap ada meski China ikut wilayah bawah laut di kawasan; peningkatan
menandatangani UNCLOS, (Pasal 14 dari aktivitas-aktivitas bio-prospecting dalam
Zona Ekonomi Eksklusif and Continental pencarian sumber daya baru yang bersumber
Shelf Act (26 Juni 1998) menyatakan bahwa dari lautan; peningkatan pariwisata maritim
“aturan ini tidak akan mempengaruhi hak- khususnya eco-turisme; peningkatan jumlah
hak historis Republik Rakyat instalasi yang sudah usang; dan bangunan-
Cina.”).ASEAN berpendapat bahwa hak-hak bangunan di laut (masalah-masalah mengenai
historis semacam itu sudah sepenuhnya dekomposisi dan retro-fit) yang mungkin akan
dipertimbangkan dan didiskusikan di dalam mempengaruhi keamanan navigasi, terutama
proses negosiasi UNCLOS tahun 1982 (Lihat apabila bangunan-bangunan tersebut sudah
proposal Filipina pada UNCLOS at tidak ditempati lagi,(Djalal, “Thirty years
A/AC.138/SC.II/L.46)dan oleh karena itu, after the adoption of UNCLOS
sudah tidak berlaku lagi dengan adanya 1982,” Jakarta Post, 21 August
Konvensi tersebut. Perbedaan penafsiran atas 2012), semuanya dapat menjadi sumber
UNCLOS juga dapat disebabkan berasal dari sengketa dan ketegangan apabila tidak dikelola
ketidakjelasan yang disengaja pada saat dengan tepat. Pada akhirnya, bahkan di dalam
negosiasi isi UNCLOS dan isu-isu maritim suatu lingkungan yang diatur dengan baik
yang baru muncul belakangan tidak dengan penafsiran seragam, penerapan dan
sepenuhnya atau belum dipertimbangkan pelaksanaan atas aturan-aturan yang ada itu,
dengan seksama selama proses penyusunan sengketa masih mungkin saja terjadi.
konvensi tersebut. Misalnya, kecelakaan yang disebabkan oleh
Ketidakjelasan yang disengaja yang peningkatan cepat lalu lintas di dalam jaringan
dimaksud di sini, misalnya ketidakjelasan komunikasi Laut Tiongkok Selatan yang
tentang tatanan pulau-pulau dan juga tentang sibuk. Kerjasama untuk meminimalisasi resiko
wilayah-wilayah maritim yang buram yang dari insiden seperti itu selaras dengan
muncul di dalam UNCLOS karena salah- kepentingan jangka panjang ASEAN, China,
paham mengingat banyaknya pulau kecil, batu dan pengguna-pengguna Laut Tiongkok
karang dan wilayah yang muncul saat laut Selatan lainnya. UNCLOS merupakan dasar
surut di Laut Tiongkok Selatan. Hak-hak dan terpenting dari tatanan hukum di Laut
batasan dari keberadaan aparat militer pada Tiongkok Selatan. UNCLOS telah menjadi
Zona Ekonomi Eksklusif dari suatu negara dasar penyusunan DOC dan akan menjadi
pantai yang digolongkan sebagai tindakan dasar bagi penyusunan COC. Oleh karena itu,
“bertujuan damai” dan “kebebasan pelayaran” sangat penting dan perlu bagi ASEAN dan
juga menjadi perdebatan, seperti yang China untuk mempromosikan pemahaman
dicerminkan di dalam kasus di tahun 2009. tentang UNCLOS secara timbal balik, dan
Meskipun demikian, UNCLOS mewajibkan mempersempit celah perbedaan penafsiran atas
negara-negara pantai yang terhubung satu konvensi tersebut guna mewujudkan
sama lain dalam laut semi-tertutup (semi- harmonisasi di dalam penerapan dan
enclosed sea) untuk mengadakan kerjasama pelaksanaannya. Langkah awal untuk
dalam berbagai aspek dan menyediakan sangat mencapai tujuan tersebut adalah dengan
sedikit penjelasan, atau bahkan tidak sama menyelaraskan klaim-klaim maritim yang
sekali, tentang bagaimana kerjasama seperti itu diajukan ASEAN dan China sesuai dengan isi
seharusnya dilakukan. Sebagai contoh, UNCLOS.
bagaimana latihan militer dapat dilakukan Ketiga, China dan ASEAN harus segera
tanpa mengancam keamanan navigasi dan bekerja untuk menyusun suatu Code of

Jurnal Penelitian Hukum DE JURE, ISSN 1410-5632 Vol. 18 No. 2, Juni 2018: 219 - 240 231
Conduct yang bersifat mengikat di Laut bekerja-sama untuk menyelesaikan masalah
Tiongkok Selatan. mereka. Ini akan menjadi jaminan yang paling
Penting untuk diingatkan bahwa kuat untuk mencegah campur tangan pihak
merampungkan sebuah Code of Conduct yang asing di dalam konflik Laut Tiongkok Selatan,
mengikat secara regional tentang Laut seperti yang diharapkan China. Di dalam
Tiongkok Selatan telah menjadi aspirasi proses penyusunan COC, ASEAN dan China
ASEAN semenjak awal 1990-an,(Pasal 4 dari harus selalu mengingat titik-titik lemah DOC
Deklarasi ASEAN tentang Laut Cina dan menjamin bahwa COC yang akan disusun
Selatan menyatakan “Menyerahkan pada itu tidak akan menjumpai masalah yang sama.
semua pihak yang terkait untuk Pertama, COC harus menjadi lebih detail dan
menerapkan prinsip-prinsip yang termuat mencoba untuk menghindari, semampu
di dalam Treaty of Amity and Cooperation in mungkin, keraguan bahasa yang kerap
Southeast Asia sebagai dasar untuk dijumpai pada DOC. Kedua, COC harus
menyusun sebuah code of international menyediakan mekanisme yang jelas untuk
conduct di Laut Cina Selatan”)yang juga menjamin kepatuhan pihak-pihak yang
disetujui oleh China ketika China menyatakan bersengketa di dalam pelaksanaan COC,
persetujuan untuk memulai proses negosiasi misalnya dengan menyediakan mekanisme
sebuah COC secara regional pada akhir 1990- peninjauan ulang yang terinstitusi. Ketiga,
an. DOC, yang ditandatangani pada 2002, COC harus menyediakan mekanisme
merupakan COC yang tidak kunjung selesai penyelesaian sengketa di dalam penafsiran dan
karena ASEAN dan China terpaksa penerapan COC itu sendiri. Terakhir, COC
merampungkan suatu dokumen yang cacat harus menyediakan tidak hanya aturan dan
ketika mereka tidak mencapai kata sepakat prinsip yang menyeluruh, tetapi juga petunjuk
soal ruang lingkup penerapan dari dokumen prosedur yang jelas yang dapat membantu
seperti itu (Ralf Emmers, “ASEAN, China pihak-pihak yang terjebak dalam sengketa
and the South China Sea: an opportunity untuk menemukan jalan guna mencegah
missed”, IDSS Commentaries, meledaknya sengketa itu.
30/2012).ASEAN dan China kemudian Ada banyak alasan kuat untuk percaya
menegaskan kembali di dalam dokumen DOC bahwa situasi di Laut Tiongkok Selatan dapat
itu sendiri (butir ke-10) dan di antara Kepala dikendalikan. Kepentingan-kepentingan
Negara dari kedua belah pihak pada geostrategis ASEAN dan China di Laut
2006,(http://www.aseansec.org/18894.htm), Tiongkok Selatan dapat diselaraskan. Berbagai
bahwa mereka akan terus melanjutkan tugas pandangan hukum oleh ASEAN dan China
yang belum selesai tersebut dan bekerja hingga tentang Laut Cina Selatan dapat diselaraskan.
tersusunnya suatu Code of Conduct mengenai Banyak perbedaan antara ASEAN dan China
Laut Tiongkok Selatan. Di bulan September di Laut Tiongkok Selatan yang muncul atau
2013, ASEAN dan China memulai memulai diperparah oleh salah pengertian atau tidak
proses konsultasi tentang COC dengan adanya saling pengertian yang dapat diatasi
mengadakan pertemuan Pejabat Senior yang melalui dialog dan kerjasama di antara kedua
pertama untuk membahas COC di Suzhou, belah pihak. Oleh karena itu, ASEAN dan
China. Pertemuan yang kedua direncanakan China harus mengambil langkah-langkah
pada April 2014 di Thailand. Akan tetapi, segera untuk melaksanakan tiga tindakan yang
meskipun ASEAN tetap berupaya untuk disebutkan di atas guna menstabilkan kondisi
mencapai suatu kesimpulan awal tentang strategis, memperkuat dasar hukum di
proses COC, China sama sekali tidak terlihat kawasan dan mempromosikan rasa saling
tergesa-gesa di dalam proses penyusunan percaya untuk meredakan ketegangan di Laut
COC, dan sampai saat ini belum tercapai Tiongkok Selatan.Indonesia sebagai bagian
persetujuan tentang jadwal atau rencana kerja dari ASEAN tentu harus menyiapkan diri
yang spesifik berkaitan dengan proses dengan pembangunan hukum dan operasional
konsultasi tersebut. penegakan kedaulatan dan hukum agar
Banyak yang percaya bahwa peran keutuhan NKRI dapat dijaga sepanjang masa.
proaktif China untuk menyusun COC akan Peran diplomasi Indonesia dalam kerangka
menguntungkan China karena hal tersebut ASEAN terhadap konflik di Laut Tiongkok
menunjukkan bahwa ASEAN dan China dapat Selatan telah dimulai sejak diselenggarakan

232 Sengketa Wilayah Maritim di Laut Tiongkok Selatan… (Muhar Junef)


JurnalPenelitianHukum
p-ISSN1410-5632

De Jure AkreditasiLIPI:No:740/AU/P2MI-LIPI/04/2016
e-ISSN2579-8561

Forom Dialog ASEAN-RRT pada tahun 2002 sebuah konflik tersendiri dalam dinamika
di Bali. Pada tahun 2003, RRT turut hubungan internasional.
menandatangani TAC ASEAN di Bali. Pada Dengan demikian, wilayah ini menjadi
20 Juli 2011, ASEAN dan RRT perebutan kepentingan ekonomi, strategi, dan
menadatangani guidelines penerapan Doc, dan politik oleh negara-negara tersebut. Konflik
dilanjukan dengan pertemuan-pertemuan guna yang terjadi tidak hanya bersifat bilateral,
membahas CoC. Hingga pertemuan terakhir namun menjadi konflik multilateral, termasuk
pada KTT ke-18 ASEAN pada November konflik yang diakibatkan oleh pelaku non
2015, ASEAN dan RRT belum sepakat government actor yang memanfaatkan
mengenai penerapan CoC di Laut Tiongkok eksplorasi dan eksploitasi sumber daya alam di
Selatan. Laut Tiongkok Selatan. Perebutan wilayah
tidak hanya terfokus pada alasan sumber daya
ANALISIS alam seperti minyak bumi, gas dan sumber
pangan dunia berupa 1/10 total tangkapan ikan
Sengketa wilayah maritim di Laut dunia saja, namun juga alasan kedaulatan atas
Tiongkok Selatan saat ini masih terjadi karena wilayah yang sudah diperebutkan sejak ribuan
wilayah tersebut memiliki kekayaan alam yang tahun (kalim sejarah) dan telah menjadi
sangat beragam, seperti yang telah diuraikan kebanggaan dari masa lalau yang ingin
diatas, yang terdiri dari minyak, gas bumi, dan dipertahankan, khususnya oleh RRT, Taiwan
sumber daya perikanan. Di samping dan Vietnam.
kekayansumber daya alamnya, wilayah ini
juga digunakan sebagai jalur lintas Adapun dasar utama klaim wilayah
perdagangan Sea Lane of Transfortation dan Laut Tiongkok Selatan sebenarnya hanya
Sea Lane of Communication kapal-kapal yang terdiri dari dua aspek, yaitu aspek historis
bergerak dari wilayah Timur Tengah ke Asia, (sejarah) dan hukum. Jika dilihat dari aspek
Amerika, dan sebaliknya, dan lebih kurang sejarah, maka negara pengklaim yang
40.000 kapal melintas di wilayah ini setiap menggunakan dasar ini hanya tiga pihak, yakni
tahun. Negara-negara pengklaim, seperti RRT, RRT, Taiwan, dan Vietnam. Bagi RRT,
Taiwan, Filipina, Malaysia, dan Brunai bermula pada masa National Government of
Darussalam serta negara-negara lainnya yang Chiang Kai-Shek pada tahun 1947 yang telah
berkepentingan, seperti Amerika Serikat, menetapkan nine interrupted mark yang
Jepang, Australia, Korea Selatan, India, dan mencakup hampir seluruh wilyah Laut
Rusia juga memanfaatkan wialyah Laut Tiongkok Selatan. Hal ini ditegaskan kembali
Tiongkok Selatan sebagai jalur utama oleh Zhou En-Lai yang menegaskan klaim atas
transportasi, peredagangan, pasokan energi, wilayah tersebut pada tahun 1951, namun
navigasi internasional, dan penerbangan, serta dalam klimnya, RRT tidak menjelasakan aspek
strategi keamanan global. hukum dari delimitasi batas maritimnya.
Penyelesaian sengketa wilayah maritim hanya
Seperti telah diuraikan diatas bahwa dapat dilakukan berdasarkan hukum
Laut Cina Selatan merupakan sebuah kawasan internasional atau UNCLOS 1982, namun
yang sangat memiliki nilai nature resources klaim sejarah tersebut tidak dikenal di dalam
yang tinggi. Bagaimana tidak, kawasan UNCLOS.
tersebut dipercaya memiliki cadangan minyak
sebesar 213 Milliar barel dan memiliki 900 Dalam hukum internasional yang
Trilliun kaki kubik gas alam. Laut Cina berlaku dewasa ini dikenal prinsip “uti
Selatan juga merupakan sebuah arus lajur possidetis juris” yang secara sederhana berarti
kelautan yang dilewati perkapalan wilayah atau batas suatu negara mengikuti
perdagangan internasional dan tidak kalah wilayah atau batas wilayah kekuasaan penjajah
penting, laut tersebut merupakan sumber atau pendahulunya. Penentuan wilayah yang
pencarian ikan bagi para nelayan-nelayan dari didasarkan pada asas Uti Possidetis
China, Filiphina, Vietnam dan lain-lain. merupakanprinsip yang saat ini sudah menjadi
Karena begitu banyak sumber daya alam yang hukum kebiasaan internasional
sangat strategis dan kawasan ini yang sangat dalampenentuan wilayah baru, baik yang lahir
kabur kepemilikannya, maka aksi saling claim melalui proses kemerdekaan secarasepihak,
yang dilakukan negara-negara menciptakan maupun melalui penggunaan hak untuk
menentukan nasib sendiri.Uti Possidetis secara

Jurnal Penelitian Hukum DE JURE, ISSN 1410-5632 Vol. 18 No. 2, Juni 2018: 219 - 240 233
etimologi merupakan bahasa Latin yang Sedangkan pada tingkat kerjasama
berarti“sebagai milik anda” (as you possess). subregional Asia Tenggara, setidaknya
Terminologi ini secara historis berasaldari ASEAN telah berfungsi sebagai forum yang
hukum Romawi yang berarti, bahwa wilayah efektif untuk menyelesaikan masalah-masalah
dan kekayaan lainnyamengikuti pemilik asal ekonomi, politik, sosial budaya dan banyak
pada akhir konflik antara negara baru masalah keamanan. Keberhasilan ASEAN
denganpenguasa sebelumnya yang disajikan dicerminkan oleh upaya mengatasi konflik-
dalam sebuah perjanjian. Penggunaan prinsip konflik bersenjata atau tindakan-tindakan
ini menurut sebagian ahli hukum provokatif sejak organisasi ini berdiri 1967.
internasional,seperti Paul R. Hensel Michael Dan hingga saat ini regionalisme ASEAN
E. Allison, dan Ahmed Khanani, akanlebih berfungsi sebagai instrumen untuk
menciptakan stabilitas di perbatasan menyelesaikan krisis-krisis internal.
dibandingkan perbatasannegara-negara yang Penyelesaian ini dapat dilakukan melalui dua
tidak diwarisi oleh penjajah. Alasannya pendekatan yaitu, mengurangi kemungkinan
adalah, bahwapara penguasa kolonial telah munculnya konflik diantara negara-negara
meletakkan dasar-dasar batas negara tetangga dan memaksimalkan proses
secarajelas dalam sebuah perjanjian, sehingga pembangunan ekonomi untuk menunjang
negara-negara yang baru merdekadari peningkatan ketahanan Regional secara
penguasa penjajah tinggal meneruskan saja kolektif.
warisan perbatasan yangditinggalkan penjajah. Oleh karena itu, regionalisme ASEAN
Sehingga tujuan utama dari penggunaan sangat penting dikembangkan menjadi satu
prinsip ini adalah untuk mencegahterjadinya kawasan yang lebih luas yaitu regionalisme
konflik-konflik yang didasarkan pada Asia Pasifik, dimana masalah-masalah
perebutan perbatasanoleh negara-negara baru. regional seperti sengketa Laut Cina Selatan
Prinsip ini telah menjadi bagian dari tidak hanya melibatkan negara-negara ASEAN
hukumkebiasaan internasional. Oleh sebab itu, akan tetapi juga negara non-ASEAN seperti
melalui penerapan prinsip inimaka tidak RRC dan Taiwan dan negara kawasan lainnya
dimungkinkan lagi adanya klaim suatu yang tidak terlibat langsung. Konflik laut Cina
wilayah yangdidasarkan pada terra nullis atau selatan menjadi penting karena cakupan
wilayah tak bertuan.Jika dilihat dari pokok regionalisme Asia Pasifik akan meningkatkan
gugatan negara pengklim sebagian negara kekuatan kawasan dalam menangani bentuk-
ASEAN menggunakan aspek hukum sebagai bentuk konflik regional yang sesungguhnya
dasar gugatan. Mereka menggugat bagian sangat menentukan bagi kepentingan nasional
tertentu dari Kepulauan Spratly dan masing-masing negara anggota.
menggunakan hukum internasional UNCLOS
Indonesia yang selama ini tidak
1982 sebagai dasarnya. Filipina mengklim
menjadi bagian dari negara yang mengklim
sebagai besar Kepulauan Spratly, sebuah
bagian dari Laut Tiongkok Selatan, dan di lain
wilayah yang disebut dengan Kalayaan pada
pihak RRT juga menyebutkan bahwa ada
tahun 1971 dan memperkuat klimnya dengan
permasalahan klaim tumpang tindih wilayah
melahirkan Peraturan Presiden pada tahun
maritim dengan Indonesia. Namun demikian,
1978, dan Rule PRC Nomor 55 Tahun 1992
secara faktual klaim RRT atas wilayah ini
yang mengatur wilayah tersebut.
didasarkan pada 9 dashed lines (nine dotted
Berbagai upaya yang telah dilakukan line/nine dots line) dan apabila
untuk menghindari potensi Konflik Laut direkomendasikan akan memotong garis batas
Tiongkok Selatan menyusul adanya landas kontinen Indonesia yang telah
kemungkinan upaya penyelesaian konflik disepakati dengan Vietnam dan Malaysia, serta
secara damai oleh semua pihak yang terlibat memotong klaim batas ZEE Indonesia. RRT
sengketa. Salah satu upaya menghindari secara konsisten melakukan aktivitas yang
potensi konflik tersebut adalah melalui cukup provokatif, dengan mengirimkan kapal
pendekatan perundingan secara damai baik negara untuk melakukan pengawalan kapal
secara bilateral maupun multilateral dan juga nelayannya, hingga ke selatan dan memasuki
melakukan kerjasama-kerjasama yang lazim ZEE Indonesia.
digunakan mengelola konflik regional dan
internasional.

234 Sengketa Wilayah Maritim di Laut Tiongkok Selatan… (Muhar Junef)


JurnalPenelitianHukum
p-ISSN1410-5632

De Jure AkreditasiLIPI:No:740/AU/P2MI-LIPI/04/2016
e-ISSN2579-8561

KESIMPULAN dapat dilihat dari dua aspek, yaitu aspek


Sengketa Laut Tiongkok Selatan historis (sejarah) dan hukum. Dari aspek
(LTS) merupakan sengketa di abad ke-21, sejarah, negara pengklaim seperti RRT,
dimana Tiongkok, Amerika Serikat dan Taiwan, dan Vietnam. Bagi RRT, bermula
sebagian besar anggota ASEAN terlibat secara pada masa National Government of Chiang
tak langsung.Pada mulanya, Republik Rakyat Kai-Shek pada tahun 1947 yang telah
Tiongkok menyatakan bahwa mereka punya menetapkan nine interrupted mark yang
kedaulatan atas perairan Tiongkok Selatan mencakup hampir seluruh wilyah Laut
dengan alasan bahwa nelayan tradisional Tiongkok Selatan. Ini ditegaskan kembali oleh
mereka telah menjelajahi kepulauan Spratly Zhou En-Lai pada tahun 1951, namun dalam
dan Paracel sejak tahun 200 SM. Bahkan klaimnya, RRT tidak menjelaskan aspek
mereka mengklaim adanya pemukiman di hukum dari delimitasi batas maritimnya.
kepulauan tersebut sejak dinasti-dinasti Karena diketahui bahwa penyelesaian sengketa
terdahulu. Tiongkok juga mengklaim telah wilayah maritim hanya dapat dilakukan
menemukan peninggalan purba berupa berdasarkan hukum internasional atau
tempayan dan mata uang kuno di kepulauan UNCLOS 1982, namun klaim sejarah tersebut
tersebut. Selain itu, nama ‘Laut Tiongkok tidak dikenal di dalam UNCLOS.Sehingga
Selatan’ berasal dari nenek moyang mereka dalam pokok gugatan negara pengklim
dan catatan-catatan Dinasti Song dan Yuan sebagian negara ASEAN menggunakan aspek
mencantumkan kepulauan tersebut dalam hukum sebagai dasar gugatan. Mereka
wilayah kekuasan mereka. menggugat bagian tertentu dari Kepulauan
Spratly dan menggunakan hukum internasional
Mekanisme pelaksanaan asas uti UNCLOS 1982 sebagai dasarnya. Filipina
possidetis dalam penentuan titik patok batas misalnya mengkalim sebagai besar Kepulauan
wilayah darat antar negara, dalam konteks Spratly, sebuah wilayah yang disebut dengan
praktisnyadilakukan dengan langkah-langkah, Kalayaan pada tahun 1971 dan memperkuat
pada tahapawal kedua belah pihak, sepakat klimnya dengan melahirkan Peraturan
menggunakan argumentasi sejarah Presiden pada tahun 1978, dan Rule PRC
yangmenetapkan alokasi wilayah perbatasan Nomor 55 Tahun 1992 yang mengatur wilayah
yang terjadi pada kolonial; kemudian, setelah tersebut.
alokasi wilayah perbatasan disepakati,maka
kedua belah pihak sepakat melakukan Dengan memperhatikan hal diatas,
delimitasi, untuk menentukangaris perbatasan maka dapat dikatakan bahwa wilayah Laut
menggunakan konvensi;selanjutnya, setelah Tiongkok Selatan merupakan wilayah
delimitasi disepakati berdasarkan konvensi perebutan kepentingan ekonomi, strategi, dan
perbatasan, maka kedua belah pihak politik oleh negara-negara tersebut. Konflik
secarabersama-sama melakukan demarkasi, yang terjadi tidak hanya bersifat bilateral,
yaitu penegasan patok-patokperbatasan namun menjadi konflik multilateral, termasuk
sebagaimana yang tercantum dalam beberapa konflik yang diakibatkan oleh pelaku non
konvensitersebut. Terkait dengan hal itu, maka government actor yang memanfaatkan
kedua belah pihak sepakatmembentuk eksplorasi dan eksploitasi sumber daya alam di
kelembagaan bersama yang berfungsi sebagai Laut Tiongkok Selatan.ASEAN telah
forum yangterkait dengan persoalan berfungsi sebagai forum yang efektif untuk
perbatasan. menyelesaikan masalah-masalah ekonomi,
politik, sosial budaya dan banyak masalah
Sengketa yang terjadi di Laut keamanan. Keberhasilan ASEAN dicerminkan
Tiongkok Selatan merupakan sengketa oleh upaya mengatasi konflik-konflik
antarnegara, karena aktornya bukan hanya bersenjata atau tindakan-tindakan provokatif
negara-negara pengklaim namun juga negara- sejak organisasi ini berdiri 1967. Dan hingga
negara lainnya yang berkepentingan diwilayah saat ini regionalisme ASEAN berfungsi
tersebut. Oleh karena itu upaya penyelesaian sebagai instrumen untuk menyelesaikan krisis-
sengketa maritim di Laut Tiongkok krisis internal. Penyelesaian ini dapat
Selatantidak saja pada aspek historis (sejarah) dilakukan melalui dua pendekatan yaitu,
dan hukum tetapi juga melalui pendekatan mengurangi kemungkinan munculnya konflik
perundingan secara damai.Adapun dasar diantara negara-negara tetangga dan
utama klaim wilayah Laut Tiongkok Selatan

Jurnal Penelitian Hukum DE JURE, ISSN 1410-5632 Vol. 18 No. 2, Juni 2018: 219 - 240 235
memaksimalkan proses pembangunan
ekonomi untuk menunjang peningkatan
ketahanan Regional secara kolektif. Negara-
negara ASEAN tetap sepakat akan menjaga
kerja sama keamanan maritime regional,
khususnya di kawasan Laut Tiongkok Selatan.
Mereka juga sepakat akan tetap memegang
prinsip-prinsip hukum internasional
(UNCLOS 1982), dan dokumen-dokumen
yang telah disekapati oleh anggota-anggota
ASEAN.

SARAN
Sengketa Laut Tiongkok Selatan tidak
saja melibatkan langsung beberapa negara
anggota ASEAN. Oleh karena itu, hal yang
perlu menjadi prioritas perhatian ASEAN
dalam bidang politik-keamanan terutama pasca
perang dingin adalah dapat dilihat dari sudut
pandang geopolitik, Kawasan Laut Tiongkok
Selatan merupakan kawasan dengan potensi
konflik yang tinggi dimana banyak negara
berlomba dan mengklaim wilayah tersebut.
Kerawanan kawasan ini menciptakan dilema
keamanan yang pada akhirnya mengancam
stabilitas keamanan kawasan ASEAN.
Dalam upaya penyelesaian sengketa
maritim di Laut Tiongkok Selatan perlu
peningkatan dalam hal negosiasi pada para
pihak yang merasa dirugikan dan juga perlu
kepada para pihak yang bersengketa di Laut
Tingkok Selatan untuk menyiapakan agenda
penyelesaian sengketa tersebut melalui jalur
hukum maupun membicarakannya melalaui
forum-forum bilateral dan multilateral yang
telah ada.Upaya negosiasi multilateral ataupun
bilateral itu secara tidak langsung
menjustifikasi kembali relevansi penggunaan
klaim sejarah Laut Tiongkok Selatan sekaligus
meningkatkan posisi tawar yang
menguntungkan Tiongkok melalui negosiasi
bilateral dengan negara ASEAN lainnya yang
terlibat dalam klaim Laut Tiongkok Selatan.

236 Sengketa Wilayah Maritim di Laut Tiongkok Selatan… (Muhar Junef)


JurnalPenelitianHukum
p-ISSN1410-5632

De Jure AkreditasiLIPI:No:740/AU/P2MI-LIPI/04/2016
e-ISSN2579-8561

DAFTAR KEPUSTAKAAN Soetarno, Andrie, 2013, “Pengaruh Konflik


Laut Tiongkok Selatan terhadp Batas
Wilayah Laut RI”, (Komenko
BUKU Polhukam: April tahun 2013).
Asnani, Usman & Rizal Sukma, 1997, Sudira, I Nyoman, 2014, “Konflik Laut China
“Konflik Laut China Selatan : Selatan dan Politik Luar Negeri
Tantangan Bagi ASEAN”. Jakarta: Indonesia ke Amerika dan Eropah”.
CSIS. Jurnal Ilmiah Hubungan Internasional
Buszynski, Leszek, 2012. “The South China Print ISSN: 2615-2562/online
Sea: Oil, Maritime Slaims, and U.S. – ISSN:2406-8748 Vol. 10 No. 2 Tahun
China Strategic Rivalry”.The 2014.
Washington Quaterly, Spring. Tim Wantimpres, 2010, “Kajian Penataan
Djalal, Hasim, 2012, “Thirty years after the Postur Pertahanan Keamanan Negara
adoption of UNCLOS 1982,” Jakarta Menghadapi Eskalasi Keadaan di
Post, 21 August 2012. Kawasan Perbatasan RI dengan Laut
Emmers, Ralf, 2012, “ASEAN, China and the Tiongkok Selatan”, (Executive
South China Sea: an opportunity Summary: 2010).
missed”, IDSS Commentaries, 30/2012 Xianshi, Jin Xianshi, 2000, Marine Fishery
Fajar, Mukti ND dan Yulianto Achmad, 2007, Resources and Managemen in China”
“Dualisme Penelitian Hukum”, (papaer presented at the ICFO Seminar,
Yogyakarta, Fakultas Hukum Qingdao, RRT, 25-29 Oktober 2000).
Universitas Muhammadiyah Lihat juga Kuang-Hsiung Wang,
Yogyakarta. “Bridge Over Troubled Waters:
Fisheries Cooperation as a Resolution
Ibrahim, Johnny , 2006. “Teori dan
to the South China Sea Conflicts,” The
Metodologi Penelitian Hukum
Pacific Review 14, no. 4 (2001)
Normatif”, Malang, Boymedia
Publishing. Alex Calvo, “China, the Philippines, Vietnam
and International Arbitration in South
P.P, Nainggolan, 2013, “Konflik Laut China
China Sea,” The Asia-Pacific Journal.
Selatan dan Implikasinya Terhadap
http://apjjf.org/-Alex-Calvo/4391.
Kawasan”. Jakarta: P3DI Setjen DPR
(Diakses 29 Februari 2018).
Republik Indonesia.
Wiranto, Surya, 2016,“Resolusi Konflik
Menghadapi Sengketa Laut Tiongkok ARTIKEL LAINNYA
Selatan dari Perspektif Hukum Pusat Studi Sosial Asia Tenggara Universitas
Internasional”. PT Leutika Nouvalitera Gajah Mada, 2016, Peran Strategis
Cetakan Pertama Maret 2016, hlm. xiii. Indonesia Dalam Krisis Laut China
Yogyakarta. Selatan.
Soekanto, Soerjono dan Sri Mamudji, 1985, http://pssat.ugm.ac.id/id/2016/10/11/per
Penelitian Hukum Normatif: Suatu an-strategis-indonesia-dalam-krisis-laut-
Tinjauan Singkat, Jakarta, Rajawali china-selatan/
Press. “Sengketa Wilayah Laut China Selatan” dalam
http://apdforum.com/id/article/rmiap/arti
cles/online/ features/2012/12/31/aayear-
ARTIKEL
end-story, diakses 1 Februari 2018
Harahap, Anugerah Baginda, 2016, Upaya
“ASEAN dalam Pengelolaan Konflik Laut
Asean Dalam Menyelesaikan Konflik
China Selatan” dalam
Laut Cina Selatan Tahun 2010-2015,
https://leeyonardoisme.
Fakultas Ilmu Sosial Ilmu Politik
wordpress.com/portfolio/konflik-laut-
Universitas Riau. JOM FISIP Vol. 3 No.
cina-selatan/, diakses 1 Februari 2018.
2 – Oktober 2016.
https://jom.unri.ac.id/index.php/JOMFS ASEAN merupakan organisasi regional
IP/article/viewFile/11278/10926. negara-negara kawasanAsia Tenggara
yang pertama kali didirikan berdasarkan

Jurnal Penelitian Hukum DE JURE, ISSN 1410-5632 Vol. 18 No. 2, Juni 2018: 219 - 240 237
Deklarasi Bangkok pada tahun 1967. http://www.nationmultimedia.com/politics/Chi
ASEAN kemudian mempunyai legal nese-minister-Asean-can-shape-power-
personality dengan disepakatinya play-in-E-A-30184834.html
ASEAN Charter pada 2008. ASEAN https://leeyonardoisme.wordpress.com/portfoli
didirikan pada 8 Agustus 1967 di o/konflik-laut-cina-selatan/diakses 19 Maret
Bangkok, Thailand, dengan 2018.
ditandatanganinya Deklarasi ASEAN
(Deklarasi Bangkok),
http://www.asean.org/overview/diakses BERITA HARIAN
pada 1 Januari 2018. Mogato, Manuel,2012,Philippines sees Japan
“Singapura Desak China Jelaskan Klaim” as balance to China ambitions, Jakarta
dalam Post Desember 2012. Lihat juga
http://internasional.kompas.com/read/ http://khabarsoutheastasia.com/id/article
2011/06/21/03490365/Singapura.Desak. s/apwi/articles/newsbriefs/2012/06/23/n
China.Jelaskan.Klaim, diakses 29 ewsbrief-03. Lihat juga Reuters,
Januari 2018. Vietnam steps up sea patrols as tensions
with China rise, Jakarta Post, 5
“Indonesia di Pusaran Konflik Laut Chian
Desember 2012.
Selatan” dalam
http://nasional.sindonews.com/read/105 Kompas, 5 Desember 2012.
5705/19/ indonesia-di-pusaran-konflik- Kompas 11 Desember 2012.
laut-china-selatan-1445604047, diakses Kompas.com. 2017. Sengketa Laut China
30 Januari 2018. Selatan. [ONLINE] Available at:
“Sengketa Kepemilikan Laut China Selatan” http://indeks.kompas.com/topik-
dalam pilihan/list/4249/sengketa.laut.china.sela
http://www.bbc.com/indonesia/laporan_ tan. [diakses 17 May 2017].
khusus/ Pertemuan Menteri Luar Negeri Negara-
2011/07/110719_spratlyconflict, diakses Negara Anggota ASEAN di Bali, Juli
30 Februari 2018 2011, menyatakan kekhawatiran yang
“Sengketa Kepemilikan Laut China Selatan” serius atas berbagai insiden yang terjadi
dalam di Laut Cina Selatan;
http://www.bbc.com/indonesia/laporan_ lihat: http://www.asean.org/documents/4
khusus/ 4thAMM-PMC-18thARF/44thAMM-
2011/07/110719_spratlyconflict, diakses JC.pdf
30 Februari 2018 Presiden Indonesia dalam dialog Shangri-la,
https://seword.com/luar-negeri/asal-usul- Singapura, Juli 2012, dilaporkan di situs
sengketa-laut-tiongkok-selatan- Kementrian Luar Negeri
membedah-klaim-tiongkok-bagian-i Indonesia: http://www.setkab.go.id/mo
http://international.kompas.com/read/2013/03/ bile/international-4585-sby-encourages-
02/0936405/Kesulitan.Legitimasi. durable-peace-for-asia-pacific-
Kekuasaan, China, diakses 20 Maret architecture-to-forge-a-new-
2018. understanding-of-stability-and-
prosperity.html
http://www.theglobal-
review.com/comtent_detail.php?lang=id Komentar Hugh White dari Lowye
&id=7132&type=4#.UYD3Y Smkfml, Institute, The
diakses 28 Februari 2018. Interpreter: http://www.lowyinterpreter.
org/post/ 2012/08/02/ASEAN-wont-
http://www.fkpmaritim.org/?p=250, diakses 28
help-US-manage-China.aspx
Februari 2018.
Juru Bicara Kementrian Luar Negeri Cina
http://www.asiacalling.org/in/berita/philippine
pada 21 Juli 2012,
s/3032-filipina-melawan-cina-di-lautan-
lihat: http://www.fmprc.gov.cn/
cina-selatan, diakses 23 Maret 2018.
eng/xwfw/s2510/t955114.htm
http://www.malaysiandefence.com/?p=2672,
Prinsip nomor 4 dari Enam Prinsip ASEAN
diakses 28 Februari 2018.
tentang Laut Cina Selatan

238 Sengketa Wilayah Maritim di Laut Tiongkok Selatan… (Muhar Junef)


JurnalPenelitianHukum
p-ISSN1410-5632

De Jure AkreditasiLIPI:No:740/AU/P2MI-LIPI/04/2016
e-ISSN2579-8561

Pasal 14 dari Zona Ekonomi Eksklusif and


Continental Shelf Act (26 Juni 1998)
menyatakan bahwa “aturan ini tidak
akan mempengaruhi hak-hak historis
Republik Rakyat Cina.”
Proposal Filipina pada UNCLOS at
A/AC.138/SC.II/L.46
Pasal 4 dari Deklarasi ASEAN tentang Laut
Cina Selatan menyatakan
“Menyerahkan pada semua pihak yang
terkait untuk menerapkan prinsip-
prinsip yang termuat di dalam Treaty of
Amity and Cooperation in Southeast
Asia sebagai dasar untuk menyusun
sebuah code of international conduct di
Laut Cina Selatan.”
Pada Konferensi Tingkat Tinggi Peringatan 15
Tahun Hubungan ASEAN-Cina,
ASEAN dan Cina berjanji untuk
“bekerja untuk mewujudkan
penggunaan, berdasarkan kesepakatan
maksimum, suatu code of conduct di
Laut Cina Selatan, yang akan
meningkatkan perdamaian dan stabilitas
di wilayah tersebut” (Pasal 14 dari
Deklarasi Bersama,
lihat: http://www.aseansec.org/18894.ht
m).

Jurnal Penelitian Hukum DE JURE, ISSN 1410-5632 Vol. 18 No. 2, Juni 2018: 219 - 240 239
HALAMAN KOSONG

240 Sengketa Wilayah Maritim di Laut Tiongkok Selatan… (Muhar Junef)