Sunteți pe pagina 1din 81

PENGUJIAN SIFAT FISIKA DAN SIFAT KIMIA PADA TRASS SEBAGAI

BAHAN ADITIF SEMEN

Disusun oleh :

DIAN NINDITA

2305312627

PROGRAM DIPLOMA 3 KIMIA TERAPAN

DEPARTEMEN KIMIA

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

UNIVERSITAS INDONESIA

DEPOK

2008
PENGUJIAN SIFAT FISIKA DAN SIFAT KIMIA PADA TRASS SEBAGAI

BAHAN ADITIF SEMEN

Laporan Praktik kerja Lapangan Diajukan sebagai Tugas Akhir

Pendidikan Program Diploma 3 Kimia Terapan

Disusun oleh :

DIAN NINDITA

2305312627

PROGRAM DIPLOMA 3 KIMIA TERAPAN

DEPARTEMEN KIMIA

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

UNIVERSITAS INDONESIA

DEPOK

2008

Pengujian sifat..., Dian Nindita, FMIPA UI, 2008.


Pengujian sifat..., Dian Nindita, FMIPA UI, 2008.
iii

KATA PENGANTAR

Puji syukur terpanjatkan kehadirat Allah SWT atas rahmat dan karunia-Nya

yang telah diberikan kepada umat manusia di muka bumi ini, dan juga kesehatan

sehingga penulis dapat menyelesaikan laporan Praktik Kerja Lapangan yang berjudul

Pengujian Sifat Fisika dan Sifat Kimia Pada Trass sebagai Bahan Baku Semen.

Laporan ini disusun sebagai syarat untuk menyelesaikan program studi

Diploma 3 Kimia Terapan, Departemen Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu

Pengetahuan Alam, Universitas Indonesia. Laporan Praktik Kerja Lapang merupakan

hasil kegiatan PKL yang telah dilaksanakan di Laboratorium Quality Assurance and

Research Division (QARD) PT. INDOCEMENT TUNGGAL PRAKARSA, Tbk.

Dalam pelaksanaan praktik kerja lapang dan penulisan laporan ini, penulis ingin

mengucapkan terima kasih kepada :

1. Drs.Riswiyanto,Msi. Selaku Ketua Program D3 Kimia Terapan FMIPA

Universitas Indonesia.

2. Bapak Ir. Indriadi Agoes selaku pembimbing I, yang telah memberi banyak

bimbingan, pengarahan dalam penyusunan Laporan PKL, serta saran, kritik dan

dukungannya selama Praktik Kerja lapangan di PT .Indocement Tunggal

Prakarsa, Tbk.

3. Bapak Wahyudin, Ibu Titi di laboratorium kimia yang telah membantu penulis

selama melaksanakan Praktik Kerja Lapangan.

Pengujian sifat..., Dian Nindita, FMIPA UI, 2008.


iv

4. Bapak H. Harsono yang telah banyak membantu dan memfasilitasi penulis dari

awal sampai akhir praktik Kerja Lapangan.

5. Bapak Kelik, Bapak Jumadi, Bapak Adi, Mas Andi, Mas Edi, dan seluruh teman-

teman di laboratorium QARD yang namanya tidak dapat disebutkan satu persatu.

6. Mbak Ameylia dan Mbak Laily yang telah memberi semangat, saran dan bantuan

kepada penulis selama melaksanakan praktik kerja Lapangan.

7. Bapak Anda, Bapak Priyono, Bapak Anto, Bapak Bondan yang telah

memberikan bantuan selama PKL.

8. Ir. Hedi Surahman selaku pembimbing II yang telah membimbing penulis dalam

pembuatan laporan Praktik Kerja Lapangan.

9. Seluruh Dosen di Program Kimia Terapan yang telah memberikan ilmu,

pengalaman, dan bantuan.

10. Seluruh staf di Departemen Kimia yang telah banyak memberikan informasi dan

bantuan selama masa perkuliahan.

11. Keluarga tercinta, Papi, Mami, dan Alma yang telah memberi doa, kasih sayang,

motivasi, perhatian, semangat yang sangat membantu dan juga atas segala

pengorbanan yang telah diberikan, sehingga penulis dapat menyelesaikan

Laporan PKL.

12. Seluruh keluarga besar D3 Kimia Terapan 2005, atas kekompakan dan

kebersamaan yang telah dijalin selama ini. Terimakasih atas doa, semangat dan

Motivasi.

13. Pepep, rekan seperjuangan selama PKL, terimakasih telah membantu, dan saling

bertukar pikiran selama melaksanakan Praktik Kerja Lapangan.

Pengujian sifat..., Dian Nindita, FMIPA UI, 2008.


v

14. Anugrah Ashari, yang telah banyak memberikan doa, semangat, dukungan selama

penulis menyusun Laporan PKL.

15. Ka’Mei, Asti Anindita terimakasih atas segala motivasi yang diberikan.

16. Ika, Irma, Khrisna, Nanda makasih banyak udah ngasih nginep gratis di kosan

dan juga atas motivasi selama penyusunan laporan PKL. Ncuy ( makasih banyak

atas doa dan dukungan serta bantuan yang telah diberikan ). Phey, Ichiko, Intan,

Tantri, Pungki, Ayu (makasih atas segala dukungan dan semangat). Sonny,Desi

(makasih atas bantuan yang diberikan)

17. Hery, Rurie, Sandhy, Dini, Indah Agung, Dwi Miftah dan sahabat-sahabat

YASMENT yang telah memberikan semangat, motivasi dan doa.

18. Semua pihak yang belum disebutkan, baik secara langsung maupun tidak

langsung yang telah membantu penulis dalam menyelesaikan laporan.

Penulis telah berupaya untuk membuat laporan Praktik Kerja Lapang ini

dengan bekal ilmu pengetahuan yang dimiliki. Jika masih ada kekurangan, penulis

mengharapkan saran dan kritik yang membangun dari pembaca. Semoga laporan

praktik kerja lapang ini dapat bermanfaat bagi semua pihak yang membutuhkan.

Penulis

2008

Pengujian sifat..., Dian Nindita, FMIPA UI, 2008.


vi

ABSTRAK

PROGRAM D3 KIMIA TERAPAN

DEPARTEMEN KIMIA

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

UNIVERSITAS INDONESIA

2008

Dian Nindita

2305312627

Pengujian Sifat Fisika dan Sifat Kimia Pada Trass Sebagai Bahan Aditif Semen

xiii + 66 Halaman, Gambar, Tabel, Lampiran.

Trass merupakan salah satu bahan aditif yang digunakan dalam pembuatan

semen. Trass adalah jenis bahan galian yang berasal dari pelapukan mineral endapan

vulkanik yang sebagian besar mengandung silika, besi dan alumina dengan ikatan

gugusan oksida. Trass dalam keadaan sendiri tidak mempunyai sifat mengeras, tetapi

apabila direaksikan dengan kapur padam dan air dengan perbandingan tertentu akan

menghasilkan suatu massa yang memiliki sifat semen dan tidak larut dalam air.

Sebagai bahan aditif pada semen, trass hendaknya dianalisa untuk mengetahui

mutunya, apakah layak digunakan atau tidak. Parameter yang diujikan secara fisika-

Pengujian sifat..., Dian Nindita, FMIPA UI, 2008.


vii

kimia, antara lain uji kehalusan, uji kuat tekan, uji hilang pijar, uji bagian tak larut

dan uji komposisi kimia menggunakan alat XRF.

Pengujian sifat fisika dan sifat kimia trass dilakukan terhadap 11 sampel trass

yang diperoleh dari tempat yang berbeda. Berdasarkan hasil pengujian, hasil uji untuk

kehalusan mempunyai nilai antara 4.000 cm2/g sampai 6.300 cm2/g. Untuk uji kuat

tekan mempunyai nilai hasil pengujian antara 42 kg/cm2 sampai 131 kg/cm2 . Pada

hasil uji hilang pijar mempunyai nilai antar 2,75 % sampai 5.9 %. Pada uji bagian tak

larut diperoleh nilai antara 77,61 % sampai 90,76 %.

Pengujian sifat..., Dian Nindita, FMIPA UI, 2008.


viii

DAFTAR ISI

Halaman

LEMBAR JUDUL

LEMBAR PENGESAHAN ..............................................................…………………ii

KATA PENGANTAR ................... ……………………………….............................iii

ABSTRAK....................................................................................................................vi

DAFTAR ISI..............................................................................................................viii

DAFTAR GAMBAR .................................................................................................. xi

DAFTAR TABEL.......................................................................................................xii

DAFTAR LAMPIRAN..............................................................................................xiii

BAB I. PENDAHULUAN...........................................................................................1

I.1 Latar Belakang Praktik Kerja Lapangan.....................................................1

I.2 Tempat Pelaksanaan Praktik Kerja Lapangan ........................................... 3

I.3 Tujuan Praktik Kerja Lapangan...................................................................3

I.3.1 Tujuan Umum.............................................................................. 3

I.3.2 Tujuan Khusus ............................................................................ 3

BAB II. TINJAUAN INSTITUSI................................................................................ 4

II.1. Sejarah PT.Indocement Tunggal Prakarsa, Tbk...................................... 4

II.2 Misi dan Tugas PT.Indocement Tunggal Prakarsa, Tbk ……...…..……. 6

II.3 Struktur Organisasi PT.Indocement Tunggal Prakarsa, Tbk …....…....… 7

II.4 Sarana dan Fasilitas ..................................................................................16

Pengujian sifat..., Dian Nindita, FMIPA UI, 2008.


ix

II.4.1. Laboratorium ............................................................................19

BAB III. PELAKSANAAN PKL................................................................................20

III.1. Waktu dan Tempat PKL........................................................................ 20

III.2. Tinjauan Pustaka ....................................................................................20

III.2.1. Semen …….............................................................................20

III.2.1.1. Bahan Baku Utama…………………………………….......21

III.2.1.2.Bahan Baku Korektif............................................................ 22

III.2.1.3.Bahan Baku Tambahan..........................................................22

III.2.1.4. X-Ray Fluoresence Spectrometry (XRF)............................. 29

III.3. PERCOBAAN....................................................................................................32

III.3.1. Alur Percobaan....................................................................................32

III.3.2. Alat-alat.................................................................................………..33

III.3.3. Bahan-bahan................................................................................……35

III.3.4. Prosedur Percobaan.............................................................................36

III.3.4.1. Tahap preparasi contoh…….………………………………............36

III.3.4.2. Uji Kehalusan dengan Alat Blaine Permeability..............................36

III.3.4.3. Uji Hilang Pijar (Loss On Ignition)..................................................38

III.3.4.4. Uji Bagian tak Larut (Insoluble Residue).........................................38

III.3.4.5. Uji Kuat Tekan.................................................................................39

III.3.4.6. Uji komposisi kimia menggunakan XRF.........................................41

III.4. HASIL DAN PEMBAHASAN..........................................................................45

III.4.1. Uji Kehalusan ……………………………………………………….45

Pengujian sifat..., Dian Nindita, FMIPA UI, 2008.


x

III.4.2.Uji Hilang Pijar (Loss On Ignition)......................................................46

III.4.3. Uji Bagian Tak Larut (Insoluble Residue)...........................................47

III.4.4.Uji Kuat Tekan.....................................................................................48

III.4.5. Analisa komposisi kimia menggunakan XRF.....................................50

III.5. Kesimpulan ............................................................................................52

BAB IV. PENUTUP .................................................................................................. 53

IV.1. Hasil Praktik Kerja Lapangan................................................................53

IV.2. Manfaat Pelaksanaan Praktik Kerja Lapangan.......................................54

IV.3. Saran ......................................................................................................55

DAFTAR PUSTAKA ................................................................................................ 56

LAMPIRAN................................................................................................................58

Pengujian sifat..., Dian Nindita, FMIPA UI, 2008.


xi

Pengujian sifat..., Dian Nindita, FMIPA UI, 2008.


xi

DAFTAR GAMBAR

Halaman

Gambar 3.1 Rentang komposisi kimia untuk beberapa material penambah

semen yang umum……………………………………………………..25

Gambar 3.2 Skema sederhana alat X-Ray…………………………………………...29

Gambar 3.3 Skema detector isian gas…………………………….………………….31

Gambar 3.4 Bagan Alur Percobaan………………………………………………….32

Gambar 3.5 Hasil uji kehalusan menggunakan alat blaine permeability……………45

Gambar 3.6 Hasil uji hilang pijar trass………………………………………………46

Gambar 3.7 Hubungan antara SiO2 dengan bagian tak larut .......................................47

Gambar 3.8 Hasil uji kuat tekan pada hari ke-7 dan hari ke-28……………………..49

Pengujian sifat..., Dian Nindita, FMIPA UI, 2008.


xii

DAFTAR TABEL

Halaman

Tabel 2.1 Kapasitas Produksi masing-masing plant PT.Indocement

Tunggal Prakarsa, Tbk…………………………………………………….7

Tabel 3.1 Hasil pengujian trass menggunakan XRF………………………………...51

Pengujian sifat..., Dian Nindita, FMIPA UI, 2008.


xiii

DAFTAR LAMPIRAN

Halaman

Lampiran 1 Data Hasil Uji Kehalusan dengan Alat Blaine Permeability...................59

Lampiran 2 Data Hasil Uji Hilang Pijar (Loss on ignition) …………………………61

Lampiran 3 Data Hasil Uji Bagian tak Larut (Insoluble Residue)...............................62

Lampiran 4 Data hasil uji kuat tekan………………………………………………...63

Lampiran 5 Standar Pengujian ………………………………………………............64

Lampiran 6 Gambar Alat-alat ………………………………………….....................65

Pengujian sifat..., Dian Nindita, FMIPA UI, 2008.


1

Bab I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Praktik Kerja Lapangan

Dalam kemajuan dunia yang sangat pesat, mempengaruhi segala bidang

diberbagai aspek kehidupan, terutama aspek ekonomi. Industri-industri yang ada

sangat berpengaruh terhadap kelangsungan hidup manusia. Kimia merupakan

salah satu ilmu yang sangat berkaitan erat dengan sektor industri. Seiring dengan

meningkatnya kebutuhan produksi, maka dibutuhkan ahli-ahli yang berpotensi

untuk meningkatkan mutu produksi tersebut.

Ilmu kimia adalah ilmu yang mempelajari tentang materi, yang meliputi

struktur, susunan, sifat, dan perubahan materi dan energi yang menyertainya.

Ilmu kimia adalah salah satu ilmu yang berperan di dalam industri. Kimia

merupakan salah satu ilmu yang memegang peranan penting dalam peningkatan

teknologi. Seiring dengan perkembangan zaman, maka ilmu tersebut harus terus

di kembangkan .

Penyelenggaraan pendidikan nasional termasuk pendidikan tinggi merupakan

bagian dari pendidikan nasional yang pada hakekatnya merupakan interaksi

terpadu antara pembangunan sumber daya manusia dan pengembangan sumber

daya alam untuk mencapai tujuan nasional yaitu mencapai masyarakat adil dan

makmur.

Dalam era globalisasi terdapat kaitan yang erat antar bidang dalam ilmu

pengetahuan untuk meningkatkan dan pertumbuhan ekonomi suatu negara. Hal ini

Pengujian sifat..., Dian Nindita, FMIPA UI, 2008.


2

berarti bahan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi mutlak diperlukan

untuk dapat bersaing dalam era globalisasi.

Peningkatan SDM dapat terpenuhi jika terdapat keselarasan antara dunia

pendidikan dan dunia kerja. Ilmu yang didapat selama perkuliahan perlu ditunjang

dengan praktik kerja di lapangan industri yang sebenarnya. Praktik tersebut sangat

bermanfaat untuk meningkatkan keterampilan mahasiswa, sebelum menjalani

dunia kerja. Dalam keadaan demikian kelestarian sumber daya manusia dalam

berbagai ilmu pengetahuan mutlak diperlukan.

Universitas Indonesia merupakan salah satu institusi pendidikan tinggi di

Indonesia, melalui program studi Kimia Terapan FMIPA UI yang mengemban

fungsi dan tugas untuk menyiapkan sumber daya manusia dengan keahlian khusus

yang mampu berperan aktif dalam segala bidang kegiatan.

Program D3 Kimia Terapan FMIPA UI memasukkan program Praktik Kerja

Lapangan (PKL) ke dalam kurikulum pendidikannya. Praktik Kerja Lapangan ini

dilakukan oleh mahasiswa yang telah memenuhi persyaratan PKL,yaitu

menyelesaikan mata kuliah baik teori maupun praktik, PKL dilakukan pada akhir

semester 6 dan memiliki beban studi sebanyak 4 sks.

Praktik Kerja Lapangan ini dilakukan sebagai syarat kelulusan bagi

mahasiswa Program D3 Kimia Terapan FMIPA UI untuk mendapatkan gelar

Diploma 3. Dengan adanya praktik kerja Lapangan ini, maka mahasiswa

diharapkan bisa mengaplikasikan dan mengembangkan ilmu pengetahuan yang

didapat selama perkuliahan didalam dunia kerja.

Pengujian sifat..., Dian Nindita, FMIPA UI, 2008.


3

1.2. Tempat Praktik Kerja Lapangan

Praktek Kerja Lapangan (PKL) ini dilakukan di laboratorium QARD (Quality

Assurance and Research Division) PT. Indocement Tunggal Prakarsa Tbk,

Citeureup-Bogor. Waktu pelaksanaannya selama 2 bulan dimulai dari tanggal 1

Agustus- 2 Oktober 2008.

1.3. Tujuan Praktik Kerja Lapangan

Tujuan Praktik Kerja Lapangan meliputi tujuan umum dan khusus.

1.3.1 Tujuan Umum

a) Memenuhi syarat akhir kelulusan mahasiswa Program D3 Kimia Terapan

Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia.

b) Meningkatkan Kemampuan dan kemauan untuk menerapkan keahlian yang

dimiliki untuk kepentingan masyarakat.

c) Menerapkan ilmu pengetahuan yang diperoleh selama masa perkuliahan

dengan praktik langsung di Lapangan.

d) Mengenalkan mahasiswa terhadap alat instrumentasi kimia dan

instrumentasi fisika yang modern agar lebih meningkatkan keahlian.

e) Meningkatkan profesionalisme mahasiswa dalam melakukan serangkaian uji

analisis terhadap sampel di laboratorium.

f) Menjalin dan membina hubungan baik antara perguruan tinggi selaku

instansi pendidikan dengan perusahaan guna mengembangkan disiplin ilmu

pada dunia industri serta membuka wawasan mengenai perkembangan

pengetahuan sosial.

Pengujian sifat..., Dian Nindita, FMIPA UI, 2008.


4

1.3.2 Tujuan Khusus

Tujuan khusus dilakukannya praktik kerja lapangan di laboratorium

QARD (Quality Assurance and Research Division) PT. Indocement Tunggal

Prakarsa Tbk, Citeureup-Bogor adalah untuk mengetahui sifat fisika dan sifat

kimia pada trass sebagai bahan aditif dalam pembuatan semen.

Pengujian sifat..., Dian Nindita, FMIPA UI, 2008.


5

BAB II

INSTITUSI TEMPAT PKL

II.1 Sejarah PT. Indocement Tunggal Prakarsa, Tbk.

Pada awalnya Indocement group memulai kegiatannya dalam bidang

usaha pembuatan semen dengan mendirikan suatu badan usaha PT. Distinct

Indonesia Cement Enterprise ( DICE ) yang dalam tahun 1973 mulai

membangun tanur putar pertama dengan kapasitas terpasang sebesar 500.000

ton semen abu-abu per tahun. Pembangunan tanur yang pertama ini selesai

pada tahun 1975 dan diresmikan pada tanggal 4 Agustus 1975 dengan

ditandainya peresmian oleh Presiden Republik Indonesia, Bapak Suharto

dengan kapasitasnya adalah 500.000 ton/tahun. Tanggal ini kemudian

ditetapkan sebagai hari jadi perseroan. Tanur pertama ini juga menjadi pabrik

semen pertama yang dimiliki Perseroan. Produksi komersialnya juga dimulai

pada tahun yang sama.

Seiring dengan meningkatnya kebutuhan semen di Indonesia,

Indocement mendirikan perusahaan-perusahaan baru. Pada tanggal 4 Agustus

1976, pabrik kedua dari DICE dengan kapasitas produksi sebesar 500.000

ton/tahun diresmikan. Pada tanggal 26 Deseember 1978, PT. Perkasa

Indonesia Cement Enterpise (PICE) meresmikan pabrik pertamanya yang

memiliki kapasitas produksi 1.000.000 ton/tahun. Pabrik ini kemudian

menjadi pabrik semen ketiga dari perseroan. Kemudian pada tanggal 17

November 1980, PICE meresmikan pabrik semen kedua dengan kapasitas

Pengujian sifat..., Dian Nindita, FMIPA UI, 2008.


6

produksi 1.000.000 ton semen/tahun. Pabrik ini kemudian menjadi pabrik

semen keempat dari perseroan.

PT. Perkasa Indah Cement Putih Enterprise ( PIICPE ), pada tanggal

11 Maret 1981, meresmikan pabrik semennya. Pabrik ini memperoduksi

150.000 ton semen putih ( white cement ) dan 50.000 ton semen minyak ( Oil

Well Cement ) per tahun. Produksi semen putih dimulai pada tahun 1982,

sedangkan semen minyak baru diproduksi pada tahun 1983. Pabrik semen ini

kemudian menjadi pabrik semen kelima dari perseroan.

PT. Perkasa Agung Utama Indonesia Cement Enterprise ( PAUICE ),

pada tanggal 5 September 1983, meresmikan pabrik semennya yang memiliki

kapasitas produksi sebesar 1.500.000 ton semen/tahun. Pabrik ini kemudian

menjadi pabrik semen keenam dari perseroan.

PT. Perkasa Inti Abadi Indonesia Cement enterprise ( PIAICE ), pada

tanggal 16 Desember 1984, meresmikan pabrik pertamanya yang memiliki

kapasitas produksi sebesar 1.500.000 ton semen/tahun. Pabrik semen ini

kemudian menjadi pabrik semen ketujuh dari perseroan.

Selanjutnya, pada tanggal 26 juli 1985, PT. Perkasa Abadi Mulia

Indonesia Cement Enterprise ( PAMICE ) meresmikan pabrik semennya yang

memiliki kapasitas produksi 1.500.000 ton semen per tahun. Pabrik ini

menjadi pabrik yang kedelapan bagi perseroan.

Dari keseluruhan perkembangan perusahaan di atas, dapat

disimpulkan bahwa pada awalnya kedelapan pabrik yang dimiliki perseroan

tersebut dikelola dan dioperasikan oleh 6 perusahaan. Ke-enam perusahaan

Pengujian sifat..., Dian Nindita, FMIPA UI, 2008.


7

ini merupakan perseroan terbatas yang berdiri secara sendiri-sendiri dimana

saham-sahamnya dimiliki oleh pengusaha-pengusaha swasta nasional

indonesia yang lebih banyak dikenal dengan sebutan Indocement Group,

yang kemudian pada tahun 1985 ke-6 perusahaan tersebut bergabung menjadi

PT. Indocement Tunggal Prakarsa. Kedelapan pabrik tersebut di atas berada

dalam satu lokasi yaitu di Citereup Bogor, Jawa Barat. Perkembangan dari

perusahaan-perusahan yang termasuk dalam Indocement Group adalah

seperti terlihat dalam tabel berikut.

Tabel 2.1 Kapasitas Produksi Masing-Masing Plant PT. Indocement

Tunggal Prakarsa, Tbk.

NAMA No. KAPASITAS PEMBUAT TAHUN


PABRIK PLANT TERPASANG MESIN OPERASI
DICE I 500.000 ton/thn KHI 1975
DICE II 500.000 ton/thn KHI 1976
PICE III 1.000.000 ton/thn KHD 1978
PICE IV 1.000.000 ton/thn KHD 1980
PAUICE VI 1.500.000 ton/thn KHD 1983
PIAICE VII 1.500.000 ton/thn Polysius 1984
PAMICE VIII 1.500.000 ton/thn Polysius 1985
PIICPE /
white cement V 200.000 ton/thn KHI 1981
TMPC IX 1.200.000 ton/thn KHI 1991
TMPC X 1.200.000 ton/thn KHI 1996
IKC XI 2.400.000 ton/thn FLS 1999
IKC XII 2.400.000 ton/thn FLS 2000

PT. Indocement Tunggal Prakarsa, Tbk. ( perusahaan ) didirikan pada

tanggal 16 Januari 1985 dan Akta pendiriannya disahkan oleh Menteri

Pengujian sifat..., Dian Nindita, FMIPA UI, 2008.


8

Kehakiman pada tanggal 17 Mei 1985 dengan suratnya nomor C2-

3641.HT.01.01.Th.85. Semenjak itu, telah dilakukan beberapa kali perubahan

atas anggaran dasar perusahaan untuk mencerminkan perubahan-perubahan

penting dalam perusahaan. Perusahaan ini tanggal 11 juni 1985 mengambil

alih seluruh saham-saham dari 6 (enam) perusahaan tersebut.

Dalam perkembangannya, melalui peraturan pemerintah nomor 32

tanggal 25 juni 1985, Pemerintah Republik Indonesia memutuskan untuk

melakukan penyertaan modal pada PT. Indocement Tunggal Prakarsa sebesar

Rp. 364.840.000 atau merupakan 35% dari saham yang ditempatkan pada PT.

Indocement tunggal Prakarsa, sementara 65% lainnya dimiliki oleh pihak

swasta. Pada tanggal 8 juli 1985, Pemerintah Republik Indonesia yang

diwakili oleh Departemen Keuangan membeli sebagian dari saham PT.

Indocement Tunggal Prakarsa.

Sesuai dengan persyaratan dalam penyertaan modal pemerintah,

dimana ke-enam perusahaan milik Indocement Tunggal Prakarsa (ITP) harus

bergabung (merger) kedalam PT. Indocement Tunggal Prakarsa sehingga

nantinya hanya ada satu perusahaan, maka penggabungan tersebut telah

disetujui para pemegang saham ITP dan dilaksanakan mulai tanggal 1 januari

1986. Dengan demikian mulai tanggal tersebut ITP mengambil alih seluruh

hak dan kewajiban ke-enam perusahaan dan ke-enam perusahaan tadi

dinyatakan bubar.

Pada tanggal 16 Oktober 1989, dengan surat ijin menteri Keuangan RI

no. SI-062/SHM/MK.01/1989, PT. Indocement Tunggal Prakarsa menjual

Pengujian sifat..., Dian Nindita, FMIPA UI, 2008.


9

59.888.100 saham biasa atas nama kepada masyarakat luas dengan nominal

Rp. 1.000/saham dan harga penawaran Rp. 10.000/saham yaitu melalui

proses sebagai berikut :

1. Masa penawaran tanggal 30 oktober 1989 s/d 10 November 1989

2. Tanggal akhir penjatahan 20 November 1989

3. Tanggal pengembalian uang 23 November 1989

4. Tanggal pencatatan pada bursa efek di Indonesia 5 November

1989.

Ternyata saham yang dijual kepada masyarakat habis terjual (bahkan

permintaan lebih besar daripada penawaran). Terhitung sejak Go Public

tersebut struktur pemilikan saham PT. ITP menjadi sebagai berikut :

1. PT. Mekar Sari 43,40 %

2. Pemerintah RI 30,38 %

3. H. Sudwikatmono 6,51 %

4. H. Ibrahim Risyad 6,50 %

5. Yayasan Supersemar 1.07 %

6. Yayasan Darmais 1.07 %

7. Yayasan Dakab 1.07 %

8. Masyarakat 10.00 %

Selanjutnya, pabrik kesembilan, terletak di Palimanan, Cirebon, Jawa

Barat, berasal dari PT. Tridaya Manunggal Perkasa Cement (TMPC) yang

diambil alih oleh perseroan pada tahun 1991. Pabrik tersebut memiliki

kapasitas terpasang sebesar 1.200.000 ton/tahun. Sedangkan pada tahun

Pengujian sifat..., Dian Nindita, FMIPA UI, 2008.


10

1996, perseroan menyelesaikan pembangunan pabrik ke-10 dengan lokasi

dan kapasitas sama dengan pabrik ke-9.

Pabrik kesebelas yang terletak di Citereup, Bogor, Jawa Barat

diresmikan pada tanggal 1 Maret 1999 kapasitas terpasang sebesar 2.400.000

ton klinker/thn.

Sebagai hasil merger antara perseroan dengan PT. Indocement

Investama dan PT. Indo Kodeco Cement ( IKC ) 29 Desember 2000, maka

Perseroan menjadi pemilik pabrik semen di Tarjun, Kota Baru, Kalimantan

(sebelumnya dimiliki oleh IKC). Pabrik tersebut menjadi pabrik perseroan

kedua belas.

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa sampai saat ini, perseroan

memiliki 12 pabrik. Pabrik ke-1 dengan pabrik ke-8 dan pabrik ke-11 berada

di Citereup-Bogor, pabrik ke-9 dan pabrik ke-10 berada di Cirebon,

sedangkan pabrik ke 12 berada di Tarjun, Kota Baru. Status Perseroan sejak

tanggal 5 Desember 1989 perusahaan Go Publik, dimana perseroan

mencatatkan sebagian sahamnya di Bursa Efek Jakarta dan Bursa Efek

Surabaya. Dengan status sebagai perusahaan publik, maka nama perseroan

diganti dengan “Tbk” yang berarti : terbuka menjadi PT. Indocement Tunggal

Prakarsa Tbk. Selanjutnya, pada 26 September 1994 Perseroan mencatatkan

seluruh sahamnya di BEJ dan BES.

Pada tanggal 18 April 2001, Kimmeridge Enterprise Pte. Ltd. (anak

perusahaan Heidelberg Cement Group), Kimmeridge telah membeli seluruh

saham Perseroan milik Badan. Penyehatan Perbankan Nasional dan PT

Pengujian sifat..., Dian Nindita, FMIPA UI, 2008.


11

Holdiko Perkasa, dengan demikian pada tanggal tersebut Kimmeridge telah

resmi menjadi pemegang saham Perseroan.

Pada tanggal 24 April 2001, Kimeridge melaksanakan HMETD atas

saham-sahamnya serta saham-saham PT. Holdiko Perkasa dan PT. Kaolin

Indah Utama. Oleh karena itu, maka Kimmeridge menjadi pemegang terbesar

saham perseroan. Heidelberg Cement Group adalah produsen semen kelas

dunia yang berpusat di German dan beroperasi di 50 negara menjadi

pemegang saham pengendali Perseroan. Dengan masuknya Perseroan

HeidelbergCement Group (melalui Kimmeridge), Perseroan memperoleh

manfaat keahlian teknis dan keahlian bertaraf internasional serta jaringan

global di bidang pemasaran. Kepemilikan saham saat ini sebagai berikut :

1. HC Indocement GmbH, Germany : 65,14%

2. PT. Mekar Perkasa : 13,03 %

3. Publik : 21,83 %

Sesuai dengan visi Perseroan dan keputusan Perseroan untuk

berkonsentrasi pada bisnis utama, maka dilakukan upaya menjual anak-anak

perusahaan yang tidak bergerak di bidang usaha inti Perseroan, seperti :

1. PT. Citra Marga Nusaphala Persada Tbk. Bidang usaha pengelola

jalan Tol pada bulan September 2002.

2. PT. Wisma Nusantara International. Bidang usaha pengelola hotel

dan gedung pekantoran pada bulan Februari 2003.

3. PT. Indominco Mandiri ( bidang usaha pertambangan ) pada bulan

Februari 2003.

Pengujian sifat..., Dian Nindita, FMIPA UI, 2008.


12

4. PT. Indotek Engico ( bidang usaha kontraktor ) pada bulan Maret

2003.

5. Wisma Indocement ( bidang usaha pengelola gedung perkantoran )

pada bulan November 2003.

Pada bulan April 2003, Perseroan menerima penghargaan “Apresiasi

Hari Air Sedunia 2003” dalam bidang “Penyelamat air sektor dunia usaha”.

Tanggal 31 juli 2003, Perseroan berhasil meraih Bendera Emas SMK-3 dan

sertifikat internasional K3 manajemen sistem bagi implementasi sistem

manajemen kesehatan dan keselamatan kerja dari Sucofindo.

Kimmeridge Enterprise Pte. Ltd ( “Kimmeridge”), sebagai pemegang

saham terdahulu di Perseroan, sedang dalam proses likuidasi. Sebagai akibat

dari likuidasi tersebut, seluruh saham Perseroan yang dimiliki oleh

Kimmeridge dialihkan kepada HC Indocement GmbH pada tanggal 13

Oktober 2003.

Pada tanggal 30 Oktober 2003, Pemerintah Republik Indonesia

menjual seluruh saham Perseroan yang dimiliki. Dengan demikian sejak saat

itu Pemerintah Republik Indonesia tidak lagi tercatat sebagai pemegang

saham Perseroan, dan komposisi pemegang saham Perseroan menjadi sebagai

berikut :

1. HC Indocement GmbH, Germany : 65,14%

2. PT. Mekar Perkasa : 13,03 %

3. Publik : 21,83 %

Pengujian sifat..., Dian Nindita, FMIPA UI, 2008.


13

II.2. Misi dan Tugas PT.Indocement Tunggal Prakarsa

II.2.1. Misi

- Memberikan sumbangsih kepada dunia nasional menuju tercapainya

masyarakat yang adil dan makmur melalui industri semen dan

pengembangan berdasarkan wawasan lingkungan dan menjiwai

pancasila.

- Membuat serta menjual berbagi tipe semen dan barang maupun jasa

untuk industri yang sejenis.

II.2.2.Tugas

- Memenuhi kebutuhan semen dalam negeri

- Meningkatkan devisa negara

- Optimasi penggunaan sumber daya dan informasi

- Membina dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan lingkungan

sekitar di sekitar PT.Indocement Tunggal Prakarsa, Tbk.

II.3. Struktur Organisasi dan Manajemen Perusahaan

PT.Indocement Tunggal Prakarsa, Tbk, dengan sepuluh produksi

menempatkan Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) sebagai pengusaha

tertinggi perusahaan. Kegiatan operasional dilaksanakan oleh Dewan Direksi dan

Direktur Utama untuk melaksanakan kebijakan yang dihasilkan oleh RUPS.

Pengujian sifat..., Dian Nindita, FMIPA UI, 2008.


14

Berdasarkan Rapat Pemegang Saham Tahunan (RUSPT) dan rapat

Komisaris, telah menghasilkan susunan Komisaris dan Direksi sebagai berikut :

1. President Commisioner : Daniel Gauthier

2. Vice President Commisioner : Sudwikatmono

3. Vice President Commisioner : I Nyoman Tjager

4. Independent Commisioner : Sri Prakash

5. Commisioner : Dr. Lorenz Naeger

6. Commisioner : Dr. Beernd Scheifele

7. Commisioner : Emil Adiguzel

8. President Director : Daniel Lavalle

9. Vice President Director : Tedy Djuhar

10. Director : Olvind Hidalen

11. Director : Nelson Borch

12. Director : Benny S. Santoso

13. Director : Christian Kartawijaya

14. Director : Kuki Permana

15. Director : Ernest G. Julito

Pengujian sifat..., Dian Nindita, FMIPA UI, 2008.


15

II.4. Pemilihan Lokasi dan Tata Letak Pabrik

PT.Indocement Tunggal Prakarsa ,Tbk memiliki tiga buah lokasi pabrik, yaitu :

1. Citeureup, Bogor yang berjumlah 9 plant dengan luas area 200 ha.

2. Cirebon berjumlah 2 plant dengan luas area 37 ha.

3. Kalimantan berjumlah 1 plant dengan luas area 20 ha.

Pemilihan lokasi di daerah Citeureup dan Cirebon oleh PT. Indocement

Tunggal Prakarsa merupakan keputusan yang tepat dengan berbagai pertimbangan

dan factor yang menguntungkan antara lain :

a. Orientasi pasar

Pembangunan yang belum rata dan masih berpusat di pulau Jawa berupa

pembangunan fisik (missal : gedung perkantoran, perumahan) merupakan sasaran

yang tepat bagi pemasaran produk PT. Indocement Tunggal Prakarsa

b. Orientasi Bahan Baku

Letak pabrik hendaknya dekat dengan lokasi bahan baku. Cirebon,

Cieuteureup dan Batu Licin merupakan daerah yang kaya akan batu kapur dan

tanah liat. Hal ini menguntungkan karena bahan baku untuk pembuatan semen

dapat diperoleh dengan mudah.

c. Tenaga kerja

Dengan banyaknya tenaga kerja di daerah sekitar pabrik memudahkan PT.

Indocement Tnggal Prakarsa untuk merekrut tenaga kerja sebanyak mungkin dan

tidak menutup kemungkinan perekrutan tenaga kerja dari luar lingkungan pabrik.

Pengujian sifat..., Dian Nindita, FMIPA UI, 2008.


16

d. Transportasi

Pemasaran produk yang baik ditunjang dengan sarana transportasi yang

memadai. Sarana transportasi dapat juga menentukan tinggi rendahnya biaya

produksi. Dengan ditunjang oleh berbagai sarana transportasi, missal jasa

perumka, pelni maka transportasi dapat berlangsung dengan baik. Daerah

Citeureup yang berada tidak jauh dari Tol Jagorawi dan Jakarta akan

memudahkan akses ke daerah pemasaran, terutama untuk menuju pelabuhan

Tanjung Priuk yang merupakan pintu gerbang ekspor dan sarana pengangkutan ke

daerah lain

e.Utilitas

Dalam pengoperasian suatu pabrik, air sangat dibutuhkan dan tidak dapat

dihilangkan penggunaannya. Adanya sungai Cileungsi yang mengalir melintasi

kawasan pabrik memungkinkan untuk membuat unit pengolahan air guna

memenuhi kebutuhan pabrik.

II.5. Sarana dan Fasilitas

Pegawai di PT Indocement tunggal Prakarsa, Tbk. diberikan beberapa

fasilitas penunjang yaitu:

1. Kesehatan

Fasilitas yang diberikan adalah berupa poliklinik yang ada di lingkungan

pabrik. Poliklinik diperuntukkan bagi karyawan serta keluarganya yang

membutuhkan pelayanan kesehatan.

Pengujian sifat..., Dian Nindita, FMIPA UI, 2008.


17

Fasilitas yang terdapat pada Poliklinik antara lain:

a. Balai pengobatan umum

b. Balai pengobatan gigi

c. Klinik P3K dan UGD 24 jam

d. Klinik KIA dan KB

e. Apotik

f. Rontgent

2.Keselamatan kerja

Fasilitas ini diberikan demi menjaga kelancaran kerja serta keamanan

selama menjalankan pekerjaan. Fasilitas yang diberikan adalah sejumlah alat

pelindung diri seperti:

a.Helm

b.Masker

c.Pelindung Telinga

d.Safety shoes

e.Kacamata Las

Selain itu di areal pabrik dipasang rambu-rambu lalu lintas, karena lalu

lintas di areal pabrik yang begitu ramai oleh lalu lalang kendaraan baik kendaraan

operasional kendaraan pribadi karyawan maupun kendaraan angkut seperti bis

karyawan dan truk.

Pengujian sifat..., Dian Nindita, FMIPA UI, 2008.


18

3.Transportasi

Transportasi di berikan berupa bus yang mengantar dan menjemput

karyawan di areal kerja. Bus ini akan mengantar dan menjemput karyawan di

tempat kerja (plant) masing-masing sesuai dengan waktu kerja yang berlaku.

4.Tempat tinggal

PT Indocement Tunggal Prakarsa, Tbk memberikan fasilitas berupa

perumahan kepada karyawan sesuai dengan tingkatan eselon. Sedangkan fasilitas

yang berada di lingkungan pabrik adalah berupa Guest House yang diperuntukan

bagi tamu atau staf.

6.Sarana olahraga

Sarana olahraga yang disediakan adalah berupa lapangan sepakbola,

lapangan voli, lapangan basket, lapangan tenis, lapangan bulu tangkis serta tenis

meja yang berada di lingkungan perumahan maupun yang berada di Sport Hall.

7.Kantin

8.Perpustakaan

Fasilitas ini diberikan bagi karyawan maupun mahasiswa serta siswa

peserta Praktik Kerja Lapangan (PKL) yang membutuhkan referensi buku sebagai

bahan tulisan atau hanya sekedar sebagai bahan bacaan.

9.Koperasi

10.Tempat Ibadah ( Masjid As-Salam)

Pengujian sifat..., Dian Nindita, FMIPA UI, 2008.


19

II.5.1.Laboratorium

PT.Indocement Tunggal Prakarsa memiliki 2 laboratorium yang

mendukung untuk analisis komposisi dan menjaga mutu produk semen yang

dihasilkan:

1.Laboratorium kimia

Laboratorium ini digunakan untuk masalah pengendalian mutu semen

yang dihasilkan selama 24 jam sesuai dengan jalannya proses produksi. Pada

umumnya komposisi kimia dianalisis setiap 1 jam dan merupakan analisis harian

atau bulanan. Analisa yang mendukung proses pengendalian mutu produk adalah

bagian tidak larut ( Insoluble residue), hilang pijar (Loss on ignition), uji CaO

bebas (freelime) dan pengujian komposisi kimia menggunakan metode

spektrometer sinar X.

2.Laboratorium Fisika

Laboratorium ini digunakan untuk pengujian semen secara fisika.

Pengujian secara fisika meliputi pengujian kehalusan dengan metode blaine,

analisis residue, pengujian kuat tekan, dan pengujian waktu pengikatan (setting

time)

Pengujian sifat..., Dian Nindita, FMIPA UI, 2008.


20

BAB III

PELAKSANAAN PKL

III.1 Waktu dan Tempat PKL

Praktik kerja lapangan mulai dilaksanakan dari tanggal 1 Agustus 2008

sampai dengan tanggal 2 Oktober 2008 bertempat di laboratorium QARD (Quality

Assurance and Research Division) PT. Indocement Tunggal Prakarsa Tbk,

Citeureup-Bogor.

III.2. Tinjauan Pustaka

III.2.1. Semen

Semen berasal dari bahasa Latin ”CAEMENTUM” yang artinya bahan

perekat. Dari segi definisi, semen merupakan suatu bahan yang mempunyai sifat-

sifat yang mampu mengikat bahan-bahan padat menjadi satu kesatuan yang

kompak dan kuat1. Semen adalah hasil industri dari paduan bahan baku : batu

kapur sebagai bahan utama dan tanah liat atau bahan pengganti lainnya dengan

hasil akhir berupa padatan berbentuk bubuk, tanpa memandang proses

pembuatannya, yang mengeras atau membatu pada pencampuran dengan air.

Pada umumnya, bahan baku pembuatan semen didominasi oleh batu

kapur/ lime stone ± 80 %, tanah liat/clay (9-12) %, pasir silika/silica sand (6-9) %,

pasir besi (1-2) % dan gipsum (3-5) %. Selain mengandung komposisi utama,

bahan baku juga mengandung komponen yang tidak diinginkan (pengotor) yang

kadarnya dibatasi sekecil mungkin. Tujuannya adalah menghindari gangguan

Pengujian sifat..., Dian Nindita, FMIPA UI, 2008.


21

yang dapat ditimbulkan oleh komponen tersebut dalam proses pembuatan semen.

Bahan baku yang digunakan dalam industri semen dapat dibagi menjadi tiga

bagian, yaitu bahan baku utama, bahan baku korektif, dan bahan baku tambahan.

III.2.1.1 Bahan Baku Utama

Batuan alam yang tergolong bahan baku utama adalah komponen

kapur (Calcareous material) dan komponen tanah liat (Argillaceous material).

a. Komponen kapur (Calcareous material)

Bahan baku utama yang banyak mengandung CaCO3 adalah batu kapur,

chalk dan marl. Ketiga bahan baku tersebut dapat dibedakan berdasarkan

kandungan senyawa CaCO3 dan tingkat kekerasannya. Batu kapur mempunyai

kadar CaCO3 di atas 90 %. Dalam keadaan murni batu kapur berwarna putih,

sedangkan di alam didapatkan bercampur dengan tanah liat dan oksida-oksida lain

sehingga warna batu kapur menjadi abu-abu sampai kuning.

Chalk mengandung sekitar (98-99) % CaCO3, umur geologi chalk lebih

muda daripada batu kapur, sehingga memiliki derajat kekerasan yang lebih rendah

dari batu kapur, oleh karena itu chalk lebih disukai sebagai bahan baku semen.

Marl adalah batuan yang terdiri dari campuran oksida kapur, silika, alumina, dan

besi. Marl sangat baik sebagai bahan baku semen karena sudah mengandung

komponen tanah liat dan kapur sesuai dengan komposisi yang diinginkan dalam

tepung baku semen, sehingga marl dapat langsung digunakan sebagai bahan baku

semen. Kekerasan marl l ebih rendah daripada batu kapur, karena semakin tinggi

kandungan tanah liat maka semakin rendah kandungan CaCO3. Kapur putih

Pengujian sifat..., Dian Nindita, FMIPA UI, 2008.


22

adalah kapur yang mengandung kalsium oksida yang tinggi ketika masih

berbentuk kapur tohor (belum berhubungan dengan air) dan akan mengandung

banyak kalsium hidroksida ketika telah berubungan dengan air. Kapur tersebut

dihasilkan dengan membakar batu kapur atau kalsium karbonat bersama beserta

bahan-bahan pengotornya, yaitu magnesium, silikat, besi, alkali, alumina, dan

belerang2.

b. Komponen tanah liat (Argillaceous material)

Tanah liat merupakan batuan alam yang mengandung oksida silika,

alumina, dan besi. Komposisi tanah liat bervariasi, tergantung pada

penambangannya. Senyawa organik dan besi memberikan warna kuning hingga

abu-abu kehitaman, sedangkan tanah liat yang murni berwarna putih3 .

III.2.1.2 Bahan Baku Korektif

Bahan baku Korektif merupakan bahan tambahan pada bahan baku utama

apabila komposisi oksida-oksidanya belum memenuhi persyaratan mutu semen

yang dihasilkan. Bahan baku korektif yang digunakan adalah pasir besi dan oksida

alumina. Pasir besi digunakan sebagai sumber Fe2O3 yang berasal dari tanah liat.

III.2.1.3 Bahan Baku Tambahan

Bahan baku tambahan, bahan ini ditambahkan ke dalam bahan setengah

jadi (raw mix) untuk mendapatkan sifat-sifat tertentu dari semen yang dihasilkan,

misalnya: gipsum, trass.

Pengujian sifat..., Dian Nindita, FMIPA UI, 2008.


23

a. Gipsum

Gipsum merupakan mineral hidrokalsium sulfat (CaSO4.2H2O). Gipsum

adalah bahan tambahan pembuatan semen, yaitu bahan yang akan dicampur

dengan terak (clinker) pada penggilingan akhir. Gipsum digunakan sebagai bahan

baku tambahan, karena gipsum berfungsi sebagai retarder atau memperlambat

proses pengerasan dari semen. Gipsum yang dapat digunakan adalah gipsum

alam (natural gypsum) dan gipsum kimia (chemical gypsum). Gipsum alam yang

digunakan berasal dari Thailand, Jepang, dan Australia, sedangkan gipsum kimia

diperoleh dari PT Petrokimia Gresik, Jawa Timur. Gipsum akan melepas air

kristalnya pada suhu (140-150) ºC menjadi bentuk hemihidrat (CaSO4.½ H2O),

kemudian pada pemanasan lebih lanjut ketika mencapai suhu (190-250) ºC

berubah bentuk menjadi anhidrat (CaSO4). Hilangnya kristal air pada gipsum

menyebabkan hilangnya atau berkurangnya sifat gipsum sebagai retarder4.

Gipsum umumnya berwarna putih, namun terdapat variasi warna lain,

seperti warna kuning, abu-abu, merah jingga, dan hitam, hal ini tergantung

mineral pengotor yang berasosiasi dengan gipsum. Gipsum bermanfaat sebagai

bahan konsumsi industri, konstruksi, bidang kedokteran, dan lain-lain5.

b. Trass

Trass adalah bahan alam yang mengandung silika dan alumina yang

digunakan sebagai bahan tambahan pembuatan semen. Bahan galian trass yang

terdapat di alam umumnya berasal dari batuan piroklastik dengan komposisi

andesitis yang telah mengalami pelapukan secara intensif sampai dengan derajat

tertentu .

Pengujian sifat..., Dian Nindita, FMIPA UI, 2008.


24

Proses pelapukan berlangsung disebabkan oleh adanya air yang

mengakibatkan terjadinya pelolosan (leaching) pada sebagian besar komponen

basa seperti : CaO, MgO, NaO dan K2O yang dikandung oleh mineral-mineral

batuan asal. Komponen CaO yang mengalami proses paling awal kemudian

disusul dengan komponen berikutnya sesuai dengan mineral pembentuk batuan.

Dengan terjadinya proses pelolosan tersebut , maka akan tertinggal komponen-

komponen SiO2, A12O3 yang aktif yaitu yang akan menentukan mutu dari

endapan trass yang terjadi pada masa berikutnya. Jumlah komponen-komponen

aktif ini sebanding atau sesuai dengan derajat pelapukan dari batuan asal

disamping faktor waktu turut berperan pada tingkat proses pelapukan yang terjadi

secara terus menerus sepanjang waktu.

Trass merupakan produk vulkanik berbutir halus dengan kandungan

oksida silika (SiO2) yang mengalami pelapukan hingga derajat tertentu. Secara

umum trass dimanfaatkan untuk bahan campuran pembuatan semen, pembuatan

batako, campuran pembuatan beton, campuran plester. Trass dengan kapur padam

(Ca(OH)2) ditambah air akan menghasilkan senyawa kalsium silikat hidrat yang

mempunyai sifat mengeras3.

SiO2 + Ca(OH)2 CSH

Sempurnanya semen portland di dalam pengerasan akibat adanya trass,

disebabkan semen portland dengan air akan menghasilkan senyawa kalsium silikat

hidrat dan kapur padam, dimana selanjutnya kapur diikat oleh trass menjadi

senyawa kalsium silikat hidrat yang mengeras, seperti yang ditunjukan dalam

reaksi kimia berikut ini :

Pengujian sifat..., Dian Nindita, FMIPA UI, 2008.


25

3 CaO.SiO2 + 3 H2O 2H2O.2CaO.SiO2 aq + Ca(OH) 2

Ca(OH) 2 + SiO2 + H2O CaO.SiO2.nH2O

Trass juga lebih mudah kontak dengan air dan setelah mengeras tak

tembus air. Berdasarkan hal-hal tersebut maka trass digunakan sebagai aditif.

Dengan penambahan trass, maka dapat mengurangi terak yang digunakan untuk

memproduksi semen. Hal ini berarti dapat mengurangi biaya produksi akan tetapi

tetap mendapatkan produk berkualitas baik. Trass banyak terdapat di Indonesia

khususnya di daerah gunung-gunung vulkanik12.

c. Pozzolan

Definisi pozzolan dalam ASTM C 618 adalah suatu senyawa silika atau

aluminium silika atau kombinasi keduanya, yang jika berdiri sendiri memiliki

sedikit atau tidak memiliki sifat-sifat semen, tetapi akan memiliki, jika berdiri

sendiri pada kelembaban tertentu akan bereaksi secara kimiawi dengan kalsium

hidroksida pada suhu ruang untuk membentuk senyawa yang memiliki sifat-sifat

semen. Karakteristik seperti ini membuat pozzolan menjadi aditif yang ideal pada

campuran beton semen portland.

Gambar 3.1 Rentang komposisi kimia untuk beberapa material penambah semen

yang umum 6.

Pengujian sifat..., Dian Nindita, FMIPA UI, 2008.


26

Komposisi kimia pozzolan tidak secara signifikan menunjukkan karakter

dari pozzolan. Hal penting yang harus diperhatikan adalah mineralogy dan

proporsi antara crystalline dan glassy phase-nya. Crystalline phase secara

kimiawi menjadi tidak aktif, sebaliknya glassy phase menjadi aktif. Kedua

struktur ini akan mempengaruhi karakteristik pozzolanic activities. Secara umum,

pozzolanic activities dipengaruhi oleh komponen mineralogi yang berbeda, seperti

munculnya amorphous material dengan bentuk glass , amorphous material yang

mengandung ikatan air yang kuat, contohnya monmorillonite, poorly crystalline

minerals, contohnya fire clay, dll.

a).Natural pozzolan / Pozzolan alam

Natural pozzolan dihasilkan dari deposit mineral alam (contoh; abu

vulkanik, pumicite, diatomaceous earth, opaline cherts dan shales), telah

digunakan berabad-abad lamanya. Pozzolan berasal dari abu gunung berapi yang

ditambang di Pozzuoli, sebuah desa dekat Naples, Italia. Namun demikian abu

vulkanik dan calcined clay kembali digunakan sejak 2000 tahun SM dan bahkan

lebih awal dibeberapa negara. Di Rumania, Yunani, India dan Mesir masih

banyak dijumpai struktur beton pozzolan hingga hari ini, hal tersebut sekaligus

membuktikan keawetan dari material ini.

Pozzolan kelas N yang paling dikenal saat ini adalah hasil dari material proses,

yaitu material pozzolan yang sudah melalui proses pembakaran di kiln dan

kemudian dihaluskan menjadi partikel yang sangat halus. Termasuk dalam

material proses adalah:

Pengujian sifat..., Dian Nindita, FMIPA UI, 2008.


27

¾ Calcined clay digunakan pada konstruksi beton untuk penggunaan umum

sebagaimana pozzolan lainnya. Material ini digunakan sebagai material

pengganti semen 15 – 35%, dan dapat meningkatkan kekuatan dan ketahanan

semen terhadap serangan sulfat, mengontrol rekasi silica-alkali dan

mengurangi permeability. Relative density calcined clay adalah 2.4 – 2.61,

dengan kehalusan 650 – 1350 m2/kg.

¾ Calcined shale mengandung 5 – 10% kalsium sehingga material ini memiliki

sifat semen atau hidrolis. Burnt shale, terutama burnt oil shale, dibuat di

kiln/tanur khusus dengan suhu rata-rata 800 °C. Berdasarkan material alam

dan proses produksinya, burnt shale terdiri dari fase clinker, terutama

dicalcium silicate dan monocalcium aluminate. Burnt shale juga mengandung

oksida kalsium bebas dan kalsium sulfat dalam jumlah kecil dan reaksi oksida

pozzolanic dalam jumlah yang besar, terutama silicon dioksida. Akibatnya,

saat proses penghalusan burnt shale menunjukkan sifat-sifat hidrolis / sifat-

sifat seperti semen portland sekaligus sifat pozzolan.

¾ Metakaolin dibuat dari kaolin dengan kemurnian tinggi dikalsinasi pada suhu

rendah kemudian dihaluskan sampai menjadi partikel dengan ukuran1-2

mikron, 10 kali lebih halus dibandingkan semen namun 10 kali lebih kasar

daripada silica fume. Metakaolin digunakan untuk aplikasi khusus yang

membutuhkan permeability yang sangat rendah dan kekuatan yang sangat

tinggi. Pada aplikasi beton metakaolin berfungsi lebih sebagai aditif dibanding

sebagai pengganti semen, dengan kadar 10% dari jumlah semen yang

digunakan.

Pengujian sifat..., Dian Nindita, FMIPA UI, 2008.


28

b). Produk / Pozzolan buatan

- Silica Fume

Material ini digunakan sebagai pozzolan sesuai ASTM C 1240. Silica fume

atau dikenal juga dengan condensed silica fume (silica fume terkondensasi)

dan mikrosilika merupakan hasil samping industri silikon atau ferrosilikon.

Produknya berupa uap yang muncul dari proses electric arc furnace untuk

mereduksi quartz kemurnian tinggi dengan batubara. Saat dingin akan

terkondensasi dan dikumpulkan dalam kantung cloth bag, dan diproses untuk

menghilangkan pengotornya. Partikel yang dihasilkan sangat halus, 100 kali

lebih kecil dari butiran semen, dan terutama “glassy spheres” dari oksida

silika.

Loose bulk density material ini sangat rendah sehingga sulit untuk

digunakan. Untuk memudahkan silica fume dipadatkan dengan diputar dalam

aliran udara hingga partikel teraglomerasi menjadi butiran yang lebih besar

dan ditahan oleh gaya elektrostatis.

Silica fume berlaku sebagai pozzolan bila dicampur dengan kalsium

hidroksida atau semen Portland. Dengan demikian reaksi kimia yang terjadi

saat silica fume dicampur dengan semen (atau kapur) sangat dimengerti.

Keuntungan utama yang didapatkan untuk teknologi beton adalah luas

permukaannya yang sangat signifikan ( yang merupakan kegunaan dari high

range water reducer dibanyak contoh) dan juga keberadaan partikel karbon

pada material ini. Kedua hal ini menimbulkan efek air-entrainment pada

beton6.

Pengujian sifat..., Dian Nindita, FMIPA UI, 2008.


29

III.2.1.4 X-Ray Fluoresence Spectrometry (XRF)7

- Prinsip kerja alat XRF ARL 8480 S

Bila unsur ditembak dengan sinar-x maka elektron dalam unsur akan

mengalami eksitasi pada level energi yang lebih tinggi dan kembali kekeadaan

semula dengan memancarkan sinar radiasi.

Ada 4 bagian penting dalam analisis mengunakan X-Ray yaitu :

1. Sumber sinar.

2. Contoh/cuplikan.

3. Sistem pengurai

4. Detektor

Maka skema sederhana alat X-Ray adalah :

Gambar 3.2 Skema sederhana alat X-Ray7

Kaidah penting dalam analisa X-Ray adalah makin sama kondisi contoh dan

peralatan dengan kondisi standar pada saat kalibrasi, maka data yang dihasilkan

makin akurat. Hal ini disebabkan prinsip instrumentasi adalah analisa komparatif.

Pengujian sifat..., Dian Nindita, FMIPA UI, 2008.


30

1. Sumber Sinar

Sumber sinar-x adalah sebuah tabung vakum yang didalamnya terdapat

katoda dan anoda. Katoda berupa filamen yang jika berpijar akan melepaskan

elektron yang difokuskan kearah anoda yang akan menghasilkan emisi sinar –X.

Sinar –X yang dihasilkan pada proses tumbukan hanya 1 % dan 99 % adalah

panas. Oleh karena itu sumber sinar-x (X-Ray tube) biasanya dilengkapi oleh

Jacket cool water yang dihasilkan oleh chiller.

2. Contoh/ Cuplikan

Contoh yang akan dianalisa umumnya terlebih dahulu dipreparasi dengan

cara dibakar atau digrinding. Hasil pembakaran disebut contoh Bead, sedang hasil

contoh grinding disebut contoh press. Hal yang perlu diperhatikan dalam contoh

press adalah kerataan permukaan contoh dan waktu grinding.

3. Detektor

Detektor berfungsi mengubah tenaga-tenaga foton sinar-X menjadi pulsa

listrik yang amplitudonya sebanding dengan tenaga foton yang dideteksi. Detektor

yang digunakan ARL 8480 S adalah detektor proporsional isian gas (Filled

Proporsional Counter) yang cara kerjanya secara sederhana sebagai berikut :

Gas Argon bila terkena energi eksitasi dari unsur yang dianalisa, akan

berubah menjadi Argon ion positip (Ar+) dan elektron. Karena adanya tegangan

antara katoda dan anoda, maka elektron akan menuju anoda dan Ar+ menuju

Pengujian sifat..., Dian Nindita, FMIPA UI, 2008.


31

katoda. Elektron yang menuju anoda kemudian dihitung oleh Pulse Height

Analyzer (PHA) dan Scaler.

Gambar 3.3 Skema detektor isian gas7

Pengujian sifat..., Dian Nindita, FMIPA UI, 2008.


32

III.3. Percobaan

III.3.1. Alur Percobaan

BAHAN BAKU

TRASS KAPUR PADAM

PREPARASI PREPARASI

1.OVEN T = 105 OC 1. OVEN T = 105 OC


2.CRUSHING 2. CRUSHING
3.ROLL 3. ROLL
4.GRINDING 4. LOLOS AYAKAN 16

UJI KEHALUSAN

UJI HILANG PIJAR ( LOI ), UJI


BAGIAN TAK LARUT ( IR ),
dan UJI X-RAY ( XRF )

HOMOGENISASI

UJI KUAT TEKAN

Gambar 3.4 Bagan Alur Percobaan

Pengujian sifat..., Dian Nindita, FMIPA UI, 2008.


33

III.3.2. Alat-alat

III.3.2.1. Tahap Preparasi

• Oven Pemanas

• Grinder

• Roller

• Crusher

• Ayakan

III.3.2.2. Uji Kehalusan

• Alat blaine

• Neraca Analitik

• Spatula

• Corong

• Kertas saring

III.3.2.3.Uji Hilang Pijar (Loss On Ignition)

• Spatula

• Cawan porselen

• Tanur

Pengujian sifat..., Dian Nindita, FMIPA UI, 2008.


34

• Desikator

• Neraca analitik

III.3.2.4. Uji Bagian Tak Larut dengan HCl (Insoluble Residue)

• Neraca analitik

• Gelas piala

• Gelas ukur

• Batang pengaduk

• Corong

• Hot plate

• Tanur

• Desikator

III.3.2.5. Uji Kuat Tekan

• Neraca analitik

• Gelas ukur

• Mesin pengaduk CT-345-8 Hobart

• Pisau aduk

• Cetakan benda uji

Pengujian sifat..., Dian Nindita, FMIPA UI, 2008.


35

• Penumbuk

• Mesin kuat tekan

• Oven

III.3.3.Bahan-bahan

III.3.3.1. Tahap Preparasi

• Trass

• Limestone

III.3.3.2. Uji Kehalusan

• Trass

III.3.3.3. Uji Hilang Pijar (Loss On Ignition)

• Trass

III.3.3.4. Uji Bagian Tak Larut dengan HCl (Insoluble Residue)

• Trass

• Larutan Na2CO3 5 %

• Larutan HCl (1:1)

• Indikator metil merah

Pengujian sifat..., Dian Nindita, FMIPA UI, 2008.


36

III.3.3.5. Uji Kuat Tekan

• Aquadest

• Pasir besi

• Trass

• Kapur padam

III.3.4. Prosedur Percobaan

III.3.4.1. Preparasi Sampel

Pada tahap preparasi sampel, trass dikeringkan dengan cara dimasukkan ke

oven pada temperatur 105 ºC selama 24 jam. Kemudian diayak dengan ayakan

no.16. partikel yang tidak lolos ayakan, kemudian dihancurkan dengan alat

crusher sampai partikel sampel lolos melewati ayakan no.16. Selanjutnya trass

dihomogenkan dan disiapkan untuk dihaluskan dengan alat grinder sampai

mencapai kehalusan yang diinginkan. Hal yang sama juga dilakukan pada kapur

padam.

III.3.4.2. Uji Kehalusan dengan Alat Blaine Permeability

Disiapkan sampel yang akan diuji pada piring sampel, lalu dibiarkan

beberapa saat sampai suhu sampel yang diuji sama dengan suhu ruangan pada

waktu pengujian. Piringan logam diletakkan pada dasar sel, dan sebuah kertas

saring di atas piringan logam, lalu ditekan ke bawah dengan batang yang

Pengujian sifat..., Dian Nindita, FMIPA UI, 2008.


37

diameternya sedikit lebih kecil dari diameter sel sehingga kertas saring dan

piringan berada dalam kedudukan yang tepat.

Ditimbang sejumlah sampel trass dengan ketelitian 0,1 mg yang beratnya

sesuai dengan berat contoh pada saat kalibrasi, perhitungannya dapat dilihat

sebagai berikut:

Berat Sampel = Bj Sampel x Berat sampel standar


Bj Standar

Keterangan :

Bj Sampel = Berat jenis sampel (g/mL)

Bj Standar = Berat jenis standar (g/mL)

Sampel trass dimasukkan ke dalam sel dengan menggunakan corong

plastik dan kuas kecil, lalu dinding sel bagian luar diketuk untuk meratakan

lapisan trass didalamnya. Diletakkan selembar kertas saring di atas lapisan contoh

lalu torak ditekan sampai leher torak kontak dengan permukaan sel. Torak ditarik

sedikit ke atas lalu diputar 90º dan ditekan kembali, kemudian perlahan-lahan

torak ditarik ke luar sel.

Sel permeabelitas disambungkan pada tabung manometer dengan

sambungan yang kedap udara, udara yang ada dalam salah satu tabung manometer

dikeluarkan dengan menggunakan pompa karet hingga cairan manometer

mencapai tanda garis atas, kemudian katup ditutup rapat-rapat. Stop watch

dijalankan pada saat bagian bawah miniskus cairan mencapai tanda garis yang

Pengujian sifat..., Dian Nindita, FMIPA UI, 2008.


38

kedua dari atas, dan dihentikan pada saat bagian bawah miniskus cairan mencapai

tanda garis ketiga. Waktu yang diamati8.

Rumus : Kehalusan = Faktor x √ t

Keterangan :
Faktor = Faktor kalibrasi torak blaine permeability (cm²/g.(detik1/2)).
t = Rentang waktu dari penurunan tekanan dalam manometer (detik).

III.3.4.3. Uji Hilang Pijar (Loss On Ignition)

Cawan porselin yang akan digunakan, ditimbang bobot awalnya terlebih

dahulu setelah dipijarkan didalam tanur dengan suhu bertahap yaitu 15 menit pada

suhu 550oC dan 10 menit pada suhu 1050oC. Kemudian ke dalam cawan

ditimbang sampel trass sebanyak +1 gram. Selanjutnya cawan dimasukkan ke

dalam tanur dengan suhu bertahap yaitu 30 menit pada suhu 550oC dan 1 jam

pada suhu 1050oC. Setelah dipijarkan, cawan didinginkan di dalam desikator

selama 30 menit dan ditimbang sampai diperoleh bobot konstan9.

III.3.4.4. Uji Bagian Tak Larut (Insoluble Residue)

Sampel trass ditimbang sebanyak +1 gram, dimasukkan ke dalam gelas

piala. Trass dilarutkan dengan 2 mL aquades dan 15 mL HCl (1:1), diaduk dan

dipanaskan di atas hot plate selama + 1 menit. Kemudian larutan tersebut disaring

menggunakan kertas saring whatman no.40 lalu dibilas dengan air panas sebanyak

+ 14 kali sampai larutan bebas asam. Lalu kertas saring beserta isinya dimasukkan

kembali ke dalam gelas piala dan ditambahkan 35 mL larutan Na2CO3 5%,

Pengujian sifat..., Dian Nindita, FMIPA UI, 2008.


39

dipanaskan selama 30 menit. Setelah pemanasan, ke dalam larutan ditambahkan 2

tetes indikator metil merah hingga berwarna kuning jingga, lalu ditambahkan

larutan HCl (1:1) hingga larutan berwarna merah muda, kemudian larutan disaring

kembali dan dicuci dengan air panas sebanyak +14 kali sampai larutan bebas

asam dan tidak berwarna. Setelah itu, kertas saring beserta isinya dimasukkan ke

dalam tanur. Pemijaran didalam tanur dilakukan secara bertahap yaitu pada suhu

500 oC selama + 45 menit dan dilanjutkan pemijaran dalam tanur pada suhu

1050 oC selama + 1 jam. Cawan kemudian didinginkan di dalam desikator selama

+30 menit dan ditimbang sampai bobot konstan10.

III.3.4.5. Uji Kuat Tekan

o Persiapan Pencetakan Benda Uji

Cetakan dibersihkan dari sisa-sisa mortar yang menempel dengan

menggunakan kain, kemudian dibuat lapisan tipis pada bagian dalam cetakan dan

dasar plat dengan menggunakan kain atau kuas yang telah diolesi minyak

(pelumas atau gemuk). Cetakan ditempel pada pasangannya dan diklem sampai

rapat, lalu ditempelkan pada dasar plat dan diklem sampai rapat. Usahakan tidak

terdapat kebocoran pada bagian sambungan.

o Persiapan Mortar

Disiapkan campuran mortar yang terdiri dari kapur padam, trass, pasir, air.

Untuk membuat benda uji dalam sekali pekerjaan memerlukan kapur padam 180

gram, 1480 gram pasir silika standar, dan 360 gram trass dan 340 gram air .

Pengujian sifat..., Dian Nindita, FMIPA UI, 2008.


40

Dipasang pengaduk dan mangkuk pengaduk yang kering pada alat

pengaduk dengan posisi mengaduk. Dimasukkan trass dan kapur padam serta air

yang telah ditimbang ke dalam mangkuk aduk. Mesin pengaduk dijalankan pada

kecepatan rendah dengan putaran (140 ± 5) rpm selama 30 detik. Ditambahkan

semua pasir pelan-pelan dalam selang waktu 30 detik (kecepatan rendah),

kemudian kecepatan mesin pengaduk diganti menjadi kecepatan sedang dengan

putaran (285 ± 10) rpm dan diaduk 30 detik.

Mesin pengaduk dihentikan dan mortar dibiarkan selama 1,5 menit, selama

15 detik pertama mortar yang menempel pada dinding mangkuk dibersihkan.

Pengadukan akhir dilanjutkan selama 1 menit pada kecepatan sedang dengan

putaran (285 ± 10) rpm.

o Pencetakan Benda Uji

Benda uji mulai dicetak dengan waktu tidak lebih dari 2 menit dan 30

detik setelah selesai pengadukan. Ditempatkan lapisan mortar setebal ± 25 mm

(kira-kira setengah kedalaman cetakan) pada semua ruang cetakan kubus. Mortar

dalam masing-masing ruang kubus ditumbuk sebanyak 4 x 8 tumbukan dalam

waktu ± 10 detik. Bila penumbukan lapisan pertama pada semua ruang kubus

telah selesai, kubus diisi dengan sisa mortar dan pengujian ditumbuk seperti pada

lapisan pertama. Setiap kali setelah penumbukan selesai, puncak dari kubus harus

sedikit lebih tinggi dari puncak cetakan. Kemudian mortar diratakan dengan

memakai pisau aduk dengan gerakan menggergaji sepanjang cetakan .

Pengujian sifat..., Dian Nindita, FMIPA UI, 2008.


41

o Penyimpanan Benda Uji

Segera setelah pencetakan benda uji selesai, benda uji dimasukkan ke

dalam oven selama 7 hari pada suhu 56 oC, untuk pengujian benda uji pada hari

ke-7 setelah 7 hari benda uji tersebut dikeluarkan dari dalam oven, dikeluarkan

dari cetakan dan diberi identitas yang disertai tanggal dan jam uji kuat tekan.

Untuk pengujian benda uji pada hari ke-28, setelah dikeluarkan dari dalam oven

benda uji dikeluarkan dari cetakan dan diberi identitas yang disertai tanggal dan

jam uji kuat tekan.,lalu benda uji disimpan didalam ruang lembab pada suhu 23 oC

dengan permukaan atasnya kontak dengan udara lembab, tetapi dihindarkan dari

tetesan air hingga pengujian dilaksanakan.

o Penentuan Kuat Tekan

Setiap benda uji harus dibersihkan untuk menghilangkan butiran-butiran

pasir yang lepas sampai kondisi kering permukaan. Benda uji diletakkan tepat

dibawah titik pusat dari landasan blok atas mesin penguji kuat tekan. Penekanan

dilakukan secara digital11.

III.3.4.6. Uji Komposisi kimia menggunakan XRF7

a. Pembuatan sampel Press

¾ Ditimbang 15.000 gram sampel trass, dimasukan ke dalam vessel

disk kemudian ditambahkan 2 pil dan ditutup dengan penutupnya.

¾ Vessel disk diletakkan pada grinding machine dan alat dioperasikan

selama 2 menit.

Pengujian sifat..., Dian Nindita, FMIPA UI, 2008.


42

¾ Sampel yang telah dihaluskan dipindahkan ke dalam piring piring

kaleng dengan bantuan sendok kemudian sampel tersebut

dimasukan ke dalam ring, ditekan dengan alat press machine pada

tekanan 10-12 ton selama 5 detik.

¾ Sampel press yang telah jadi dibersihkan dengan kompresor udara

untuk selanjutnya siap dianalisa.

b. Analisa dengan alat XRF

- Menentukan status alat XRF dan kondisi ruangan :

• X-ray dalam keadaan nyala, jika lampu menyala.

• Komputer dan printer dalam keadaan nyala.

• Periksa tekanan gas Argon + Methana, tekanan tabung minimal

25 bar, tekanan yang keluar dari tabung 0.35 bar.

• Kondisi ruangan Laboratorium x-ray pada suhu 19 – 23 oC

- Periksa keadaan keadaan alat X-Ray Sebagai berikut :

• Keadaan awal monitor seperti tabel 1.

• Cursor diarahkan ke “Analysis” kemudian tekan enter pada

mouse, sehingga di monitor akan keluar tabel.

• Cursor diarahkan ke “Read Instrument” kemudian tekan enter

pada mouse ; pada monitor akan keluar tabel.

• Cursor diarahkan ke “Read Instrument Status” kemudian tekan

enter pada mouse, monitor akan keluar tabel.

Pengujian sifat..., Dian Nindita, FMIPA UI, 2008.


43

• Jika keadaan sudah sesuai dengan kondisi analisa yaitu tegangan

30 kV, daya 80 mA dan kondisi vakum ,10 Pa, kemudian

diarahkan cursor ke “Exit” ditekan enter pada mouse, keadaan

monitor akan keluar tabel.

• Bila kondisi tidak tercapai hubungi bagian teknisi yang terkait

atau lakukan pengecekan alat.

c. Koreksi Penyimpangan (Drift Correction Update)

• Contoh drift A+ dimasukkan dalam Cassette dan letakan pada

posisi 2, contoh Drift F+ dimasukkan dalam cassette dan

diletakan pada posisi 3

• Cursor diarahkan ke analysis tekan enter.

• Cursor diarahkan ke Routin analysis tekan enter.

• Cursor diarahkan ke Drift Correction Update tekan enter.

• Cursor diarahkan ke Change Task tekan enter.

• Dipilih Trass A kemudian arahkan cursor ke OK tekan enter.

• Diarahkan ke Select Program/Sample tekan enter.

• Jika sudah cocok, cursor diarahkan ke Cancel tekan enter.

• Cursor diarahkan ke Analysis tekan enter, tunggu sampai keluar

pesan Inform. Setelah keluar arahkan cursor ke OK.

• Langkah ini dilakukan sebelum analisa contoh atau cek dengan

standar contoh.

Pengujian sifat..., Dian Nindita, FMIPA UI, 2008.


44

d. Analisa contoh

• Contoh dimasukkan dalam “Cassette” dan diletakan pada posisi 2

• Cursor diarahkan ke posisi “Analysis” kemudian tekan enter pada

mouse, pada monitor akan keluar tabel.

• Cursor diarahkan ke “Routin Analysis” kemudian tekan enter

pada mouse, pada monitor akan keluar tabel..

• Cursor diarahkan ke “Unknown (%)” kemudian tekan enter pada

mouse, pada monitor akan keluar tabel.

• Cursor diarahkan ke “Change Task” kemudian tekan enter pada

mouse, pada monitor akan keluar tabel.

• Pilih Trass A (kurva kalibrasi untuk trass) kemudian arahkan

cursor ke OK dan tekan enter pada mouse, pada monitor akan

tampak tabel.

• Nomor “Cassette” diisi dengan tanda +, nama contoh, tanggal

contoh, LoI, kemudian arahkan cursor ke OK dan tekan enter

pada mouse.

• Alat X-Ray secara otomatis menganalisa contoh, setelah selesai

analisa tampak pada monitor tabel. Cursor diarahkan ke “Print”

kemudian ditekan enter pada mouse, pada monitor akan tampak

tabel.

Pengujian sifat..., Dian Nindita, FMIPA UI, 2008.


45

III.4. Hasil dan Pembahasan

III.4.1. Uji Kehalusan

Kehalusan dari suatu jenis trass dapat mewakili sifat fisikanya, terutama

terhadap kekuatan mortar. Bertambahnya kehalusan, pada umumnya memberikan

peningkatan kekuatan mortar,dan mempercepat reaksi hidrasi. Apabila trass

terlalu kasar, maka kekuatan, plastisitas, dan konsistensinya akan berkurang.

Hasil uji kehalusan menggunakan 11 jenis trass dengan alat blaine

permeabillity dapat dilihat pada Gambar 3.4.

Hasil Uji Kehalusan

7000
6000
2 5000
Kehalusan (cm /g)
4000
3000
2000
1000
0
KLU I KLU II PNNC PNNC MM I MM II LLA I LLA II MKUA MKUA MP
I II I II PO
Trass

Gambar 3.5. Hasil uji kehalusan trass menggunakan alat blaine permeabillity

Dari Gambar 3.4 dapat dilihat bahwa trass PNNC II memiliki kehalusan

yang paling tinggi yaitu 6222,83 cm2/g sedangkan trass MP PO memiliki

kehalusan yang paling rendah yaitu 4449,03 cm2/g. Perbedaan uji kehalusan ini

disebabkan karakteristik dari masing-masing trass berbeda, karena trass tersebut

Pengujian sifat..., Dian Nindita, FMIPA UI, 2008.


46

diambil dari tempat dan waktu yang berbeda. Oleh sebab itu kehalusan trass yang

dihasilkan berbeda-beda.

III.4.2.Uji Hilang Pijar (Loss On Ignition)

Uji hilang pijar (Loss on Ignition) bertujuan untuk mengetahui kadar

senyawa organik dan pengotor yang terkandung didalam sampel trass. Pada

penentuan hilang pijar ini tidak menggunakan pereaksi apapun. Nilai ini berfungsi

sebagai koreksi terhadap nilai SiO2 dalam trass hasil pengukuran dengan alat

XRF. Hasil pengujian hilang pijar dapat dilihat pada Gambar 3.5.

Hasil Uji Hilang Pijar


7
6
5
Hilang Pijar (% ) 4
3
2
1
0
KLU I KLU II PNNC PNNC MM I MM II LLA I LLA II MKUA MKUA MP
I II I II PO

Trass

Gambar 3.6. Hasil Uji Hilang Pijar Trass

Dari Gambar 3.5 dapat dilihat bahwa nilai hilang pijar yang paling tinggi

dimiliki oleh trass MM II yaitu sebesar 5,9 %. Hal ini berarti trass MM II

memiliki kandungan senyawa organik dan pengotor yang lebih tinggi

dibandingkan dengan sampel trass yang lainnya. Nilai hilang pijar yang terendah

Pengujian sifat..., Dian Nindita, FMIPA UI, 2008.


47

dimiliki oleh trass LLA II. Semakin rendah nilai hilang pijar dari sampel trass,

maka kualitas trass akan semakin bagus karena hanya mengandung senyawa

organik dan pengotor yang lebih sedikit atau dengan kata lain sampel trass

tersebut mengandung kadar SiO2 yang tinggi. Kadar SiO2 yang tinggi pada trass

akan menghasilkan nilai kuat tekan yang tinggi pada pengujian LPS, dimana LPS

merupakan parameter yang digunakan untuk menentukan kualitas trass sebagai

bahan aditif semen.

III.4.3. Uji Bagian Tak Larut (Insoluble Residue)

Uji bagian tak larut (Insoluble Residue) pada sampel trass, menunjukkan

senyawa yang tidak larut didalam asam (HCl), senyawa tersebut adalah SiO2 .

Hasil uji bagian tak larut dapat dilihat pada Gambar 3.6.

Hubungan Antara SiO2 dengan Bagian Tak Larut


100
80
SiO2 (%)
Bagian Tak Larut 60
(%) Bagian Tak
40
Larut (%)
20
0
KLU I KLU II PNNC PNNC MM I MM II LLA I LLA II MKUA MKUA MP PO
I II I II
Trass

Gambar 3.7. Hubungan antara SiO2 dengan Bagian tak Larut

Pengujian sifat..., Dian Nindita, FMIPA UI, 2008.


48

Dari Gambar 3.6. dapat dilihat bahwa nilai bagian tak larut paling tinggi

dimiliki oleh sampel trass PNNC II yaitu sebesar 90,76 %, sedangkan nilai bagian

tak larut paling rendah dimiliki oleh sampel trass MM II yaitu sebesar 77,61 %.

Hal ini disebabkan karena sampel trass PNNC II memiliki kandungan SiO2 yang

paling tinggi, yaitu 70,21 %, sedangkan sampel trass MM II hanya memiliki

kandungan SiO2 sebanyak 58,72 %. Sampel trass yang memiliki kandungan SiO2

yang tinggi menghasilkan nilai bagian tak larut yang tinggi, begitupun sebaliknya,

pada contoh trass yang memiliki kandungan SiO2 yang paling rendah akan

menghasilkan nilai bagian tak larut yang rendah.

III.4.4.Uji Kuat Tekan (Lime Pozzolan Strength)

Pengujian kuat tekan ini dilakukan pada hari ke-7 dan hari ke-28. Hasil

pengujian ini dapat dilihat pada Gambar 3.7. Sifat trass yang penting adalah

apabila dicampur dengan kapur padam (Ca(OH)2), pasir dan sejumlah air akan

membentuk semacam semen. Sifat menyerupai semen ini terjadi diakibatkan oleh

adanya oksida silika dan oksida alumina di dalam trass yang bersifat asam. Kedua

oksida yang bersifat asam ini bereaksi dan bersenyawa dengan air dan kapur

padam dan membentuk kalsium silikat hidrat (CSH) dan kalsium aluminat hidrat.

Pengujian sifat..., Dian Nindita, FMIPA UI, 2008.


49

Hasil Uji Kuat Tekan

140
120
100
2 80 Hari ke-7
Kuat Tekan (Kg/cm )
60 Hari ke-28
40
20
0
KLU I KLU II PNNC PNNC MM I MM II LLA I LLA II MKUA MKUA MP
I II I II PO
Trass

Gambar 3.8 Hasil Uji kuat Tekan pada hari ke-7 dan hari ke-28

Dari Gambar 3.7 dapat dilihat bahwa hasil pengujian kuat tekan pada hari

ke-7 dan hari ke-28 tidak jauh berbeda, oleh sebab itu pembahasan selanjutnya

hanya menggunakan data hasil pengujian kuat tekan pada hari ke-7. Nilai kuat

tekan pada hari ke-7 yang paling besar dimiliki oleh contoh trass MKUA I yaitu

sebesar 129,5 kg /cm2, sedangkan kuat tekan yang paling kecil dimiliki oleh

contoh trass MM I dengan nilai kuat tekan sebesar 42,9 kg /cm2.

Kandungan SiO2 pada sampel trass MKUA I yaitu sebesar 69,26%. Pada

kenyataannya nilai hasil pengujian SiO2 yang paling besar dimiliki oleh sampel

trass PNNC II yaitu sebesar 70,21%. Nilai SiO2 yang lebih besar seharusnya

memiliki nilai kuat tekan yang lebih besar pula. Ketidaksesuaian ini dapat

disebabkan oleh beberapa faktor, salah satunya adalah pengaruh kelembaban pada

saat curring. Kelembaban akan mempengaruhi reaksi hidrasi antara silika dengan

kapur padam, sehingga reaksi berjalan tidak sempurna dan senyawa kalsium

silikat hidrat yang terbentuk lebih sedikit dari yang seharusnya.

Pengujian sifat..., Dian Nindita, FMIPA UI, 2008.


50

Pada nilai hasil uji kuat tekan pada sampel trass MM I yaitu sebesar

42,9 kg /cm2 dan MM II yaitu sebesar 44,2 kg /cm2 menunjukkan bahwa nilai

tersebut tidak masuk pada spesifikasi standar nilai kuat tekan yang telah

ditetapkan PT.Indocement Tunggal Prakarsa yaitu nilai kuat tekan minimal adalah

57 kg /cm2. Rendahnya nilai MM I dan MM II disebabkan karena rendahnya

kandungan SiO2 didalam sampel trass tersebut. Hal ini sesuai dengan hasil

pengukuran menggunakan alat XRF, dimana untuk sampel trass MM I dan MM II

memilki nilai kandungan SiO2 yang paling rendah, yaitu sebesar 58,72 % dan

57,91 %, sehingga dari hasil pengukuran kuat tekan, sampel trass MM I dan MM

II tidak masuk spesifikasi sebagai bahan aditif dalam pembuatan semen.

III.4.5 Analisa komposisi kimia menggunakan XRF

Komposisi kimia yang terkandung dalam trass diidentifikasi menggunakan

XRF secara kuantitatif. Identifikasi dilakukan di Laboratorium QARD

PT.Indocement Tunggal Prakarsa, Tbk.

Berdasarkan hasil pengujian menggunakan XRF maka dapat dilihat bahwa

trass pada umumnya mengandung komposisi kimia berupa SiO2, Al2O3, Fe2O3,

CaO, MgO, SO3, K2O, Na2O, TiO2, Mn2O3, . Hasil pengujian dapat dilihat pada

tabel 3.1.

Pengujian sifat..., Dian Nindita, FMIPA UI, 2008.


51

Tabel 3.1 Hasil Pengujian Trass Menggunakan XRF

SiO2 Al2O3 Fe2O3 CaO MgO SO3 K2O Na2O TiO2 Mn2O3
NO TRASS
(%) (%) (%) (%) (%) (%) (%) (%) (%) (%)

1 KLU I 66.29 17.4 3.54 2.06 0.51 0.1 2.36 2.24 0.46 0.12
2 KLU II 66.98 17.59 3.24 1.71 0.61 0.1 2.51 1.9 0.4 0.09
3 PNNC I 69.83 16.03 2.46 1.87 0.5 0.1 2.76 2.62 0.35 0.11
4 PNNC II 70.21 16.09 1.94 1.97 0.58 0.1 2.91 2.59 0.35 0.15
5 MM I 58.72 22.62 6.87 1.98 0.61 0.1 2.31 1.12 0.58 0.22
6 MM II 57.91 22.57 7.81 0.83 0.64 0.1 2.37 0.93 0.56 0.32
7 LLA I 68.49 16.33 3.29 2.22 0.64 0.1 2.55 2.91 0.4 0.11
8 LLA II 69.3 15.5 3.03 2.33 0.65 0.1 2.62 3.13 0.36 0.09
9 MKUA I 69.26 15.41 3.61 2.08 0.53 0.1 2.67 2.59 0.39 0.09
10 MKUA II 66.7 17.89 3.08 1.74 0.51 0.1 2.445 2.36 0.4 0.09
11 MP PO 68.65 15.31 3.02 2.5 0.64 0.1 2.59 2.83 0.32 0.08

Dari Tabel 3.1 dapat dilihat bahwa pada contoh trass mengandung kadar

SiO2 yang paling tinggi dibandingkan dengan komposisi kimia lainnya. Selain

SiO2 komposisi kimia yang memiliki kadar tinggi adalah Al2O3. Kadar SiO2 yang

paling tinggi dimiliki oleh contoh trass PNNC II, sedangkan kadar SiO2 yang

paling rendah dimiliki oleh contoh trass MM II. Kadar SiO2 dan Al2O3 sangat

berperan dalam meningkatkan sifat fisika trass, yaitu sifat kuat tekan (Lime

Pozzolan Strength).

Pengujian sifat..., Dian Nindita, FMIPA UI, 2008.


52

III.5. Kesimpulan

Berdasarkan Pengujian sifat fisik dan sifat kimia terhadap trass sebagai

bahan aditif semen, maka dapat disimpulkan bahwa :

1. Sampel-sampel trass yang dianalisis memiliki kadar kehalusan yang

beragam, dimana sampel trass PNNC II memiliki nilai kehalusan

tertinggi dengan nilai sebesar 6.222,83 cm2/g, sedangkan sampel trass

MP PO memiliki nilai kehalusan terendah dengan nilai 4.449,03 cm2/g.

2. Sampel trass MM II memiliki nilai hilang pijar tertinggi yaitu sebesar

5,9 %. Hal ini menunjukkan bahwa kandungan senyawa organik serta

pengotor yang terdapat dalam trass terdapat dalam jumlah yang cukup

banyak.

3. Kadar SiO2 yang semakin tinggi pada trass akan menghasilkan nilai

bagian tak larut yang semakin tinggi pula.

4. Kadar SiO2 yang tinggi pada sampel trass akan menghasilkan nilai kuat

tekan yang tinggi, begitupun sebaliknya kadar SiO2 yang rendah pada

sampel trass akan menghasilkan kuat tekan yang rendah.

5. Sampel trass MM I dan MM II memiliki kualitas yang kurang bagus

karena nilai kuat tekan pada kedua sampel trass tersebut tidak masuk

kedalam spesifikasi standar kuat tekan yang telah ditetapkan PT.

Indocement Tunggal Prakarsa, Tbk.

Pengujian sifat..., Dian Nindita, FMIPA UI, 2008.


53

BAB IV

PENUTUP

IV.1. Hasil Praktik Kerja Lapangan

Hasil yang diperoleh penulis setelah melaksanakan Praktik Kerja Lapangan ini,

yaitu:

1. Dapat mempelajari ilmu mineral, khususnya trass yang mempunyai fungsi

sebagai bahan baku tambahan dalam pembuatan semen.

2. Dapat mempelajari cara analisa trass menggunakan alat XRF.

3. Dapat mengetahui berbagai macam pozzolan alam maupun pozzolan buatan.

4. Memperoleh kesempatan belajar dalam mengoperasikan alat-alat yang

berhubungan dengan percobaan selama Praktik Kerja Lapangan.

5. Meningkatkan wawasan pada penulis tentang profesionalisme di dunia kerja.

Pengujian sifat..., Dian Nindita, FMIPA UI, 2008.


54

IV.2.Manfaat Praktik Kerja Lapangan

Manfaat yang diperoleh selama melaksanakan Praktik Kerja Lapangan di

Laboratorium Fisika dan Kimia, yaitu :

1. Mendapatkan bekal berupa pengalaman kerja, sehingga bisa memahami

tentang dunia kerja secara umum.

2. Dengan Kegiatan Praktik Kerja Lapangan ini memperoleh pengalaman dan

ilmu pengetahuan baru selain ilmu yang didapat selama masa

perkuliahan.

3. Dapat menerapkan ilmu yang diperoleh selama masa perkuliahan ke

dalam dunia kerja dengan baik.

4. Memperoleh ilmu yang berupa kemandirian, kedisiplinan kerja, serta

ketelitian.

5. Meningkatkan sikap keuletan dalam menjalankan Praktik Kerja

Lapangan.

6. Dapat menjalin kerjasama yang baik dengan instansi/lembaga/industri

dengan lembaga pendidikan yang berguna untuk menghasilkan lulusan yang

terampil.

Pengujian sifat..., Dian Nindita, FMIPA UI, 2008.


55

IV.3. Saran

IV.3.1. Bagi PT.Indocement Tunggal Prakarsa

1. Sebaiknya dilakukan uji lanjutan mengenai variasi trass yang

digunakan sebagai aditif dalam pembuatan semen.

2. Program PKL yang diadakan PT.Indocement Tunggal Prakarsa, Tbk

ini sangat berguna bagi calon lulusan mahasiswa. Melalui program

PKL ini terjalin hubungan yang saling menguntungkan antara industri

dan universitas. Program ini perlu dipertahankan dan ditingkatkan.

3. Untuk karyawan dan staff Laboratorium QARD tetap mempertahankan

suasana kerja yang sangat kekeluargaan, serta tetap memberikan

bimbingan yang terbaik bagi mahasiswa yang melakukan Praktik Kerja

Lapangan.

IV.3.2 Bagi D3 Kimia Terapan FMIPA UI

Dengan berakhirnya Praktik Kerja Lapangan ini, mudah-mudahan dapat

menghasilkan hubungan yang baik antara program D3 Kimia Terapan FMIPA UI

dengan PT.Indocement Tunggal Prakarsa, Tbk sehingga terbuka kesempatan bagi

mahasiswa lain yang ingin melaksanakan Praktik Kerja Lapangan.

Pengujian sifat..., Dian Nindita, FMIPA UI, 2008.


56

DAFTAR PUSTAKA

1. LEA, F.M. dan DESCH.C.H. 1976. The Chemistry of Cement and Concrete.

Third Edition. Edward Arnold, Ltd. London.

2. Rizki Amalya, Nanda. 2008. Pengaruh Variasi Kehaluasan pada penambahan

trass Sebagai Aditif Terhadap Sifat Fisika Semen PCC. Bogor.Laporan

PKL Indocement.

3. SUPRAPTO, B.B. 1995. Teknologi Semen. Industrial Relation Division

Training and Development Dept. Citeureup.

4. http://210.211.214.169/presentation/Alohomora--presentasi-semen

Kelompok-3-Pendahuluan-Bahan-Baku-Pembuatan-Batu-semen-

Education-ppt-powerpoint/. 2 September 2008.Pukul 10.00.

5. http://www.rembang.go.id. 6 September 2008. Pukul 13.00

6. Indonesia International Cement and Concrete Forum. 2007. Sustainable and

Cement Concrete Technology and Development Proceeding Book.

Indonesia.

7. ROSYANTO, S. 1992. Instrumentasi. Industrial Relation Division Training

and Development Dept. Citeureup.

8. ASTM. 1996. C204-96. Test Method for Fineness of Hydraulic Cement by Air

Permeability Apparatus. Annual Book of ASTM Standard Section 4.

American Society for Testing and Material. Philadelphia.

9. BADAN STANDARDISASI NASIONAL. SNI 15-2049-1994. Semen

Portland.

Pengujian sifat..., Dian Nindita, FMIPA UI, 2008.


57

10. ASTM. 1996. C 114. Standard Test Method for Chemical Analysis. Annual

Book of ASTM Standard Section 4. American Society for Testing and

Material. Philadelphia.

11. ASTM. 2007. C 593 - 06. Standard Specification for Fly ash and other

Pozzolans for use with lime for soil Stabilization. Annual Book of ASTM

Standard Section 4. American Society for Testing and Material.

Philadelphia.

12. Proyek Kerja Dinas Pertambangan Sumatera Utara. 2004. http://www.distam-

propsu.go.id/kegiatan10.phd .10 September 2008. Pukul 11.00.

Pengujian sifat..., Dian Nindita, FMIPA UI, 2008.


58

Pengujian sifat..., Dian Nindita, FMIPA UI, 2008.


59

Lampiran 1. Data Hasil Uji Kehalusan dengan Alat Blaine Permeability

Berat Waktu Kehalusan


NO Trass
(gram) (detik) (cm²/g)
Rata-rata 1 Rata-rata 2
198,02 5654,816294
2,4463 5672,537364
200,51 5690,258434
1 KLU I 5645,508619
194,34 5602,025377
2,4464 5618,479874
196,63 5634,934371
201,3 5701,45709
2,446 5711,635267
202,74 5721,813443
2 KLU II 5713,08784
201,97 5710,937475
2,4462 5714,540413
202,48 5718,143351
20485 5751,511027
2,4459 5760,971351
206,2 5770,431675
3 PNNC I 5748,190501
203,17 5727,878049
2,4462 5735,40965
204,24 5742,941251
235,72 6169,673602
2,4459 6177,319944
236,89 6184,966286
4 PNNC II 6222,828742
242,58 6258,805687
2,446 6268,337539
244,06 6277,869391
158,04 5051,815524
2,4459 5060,511135
159,13 5069,206745
5 MM I 5067,763948
159,38 5073,187152
2,4463 5075,016761
159,61 5076,84637
156,93 5034,043454
2,446 5045,086234
158,31 5056,129015
6 MM II 5020,835503
153,56 4979,69822
2,4462 4996,584772
155,65 5013,471324
202,31 5715,742402
2,4459 5720,823317
203,03 5725,904232
7 LLA I 5682,055938
194,95 5610,810389
2,4461 5643,288558
199,49 5675,766728
194,53 5604,763169
2,446 5613,608843
195,76 5622,454516
8 LLA II 5671,387449
201,55 5704,99639
2,4461 5729,166056
204,98 5753,335723
219,32 5951,18007
2,4459 5957,956027
220,32 5964,731984
9 MKUA I 6069,795736
236,36 6178,043521
2,4461 6181,635446
236,91 6185,22737
175,91 5329,779437
2,446 5343,981808
MKUA 177,79 5358,184178
10 5349,875251
II 177,2 5349,286164
2,4462 5355,768695
178,06 5362,251226
119,58 4394,335861
2,446 4411,266618
121,43 4428,197375
11 MP PO 4449,030513
124,52 4484,185073
2,4461 4486,794408
124,81 4489,403742

Pengujian sifat..., Dian Nindita, FMIPA UI, 2008.


60

ƒ Contoh Perhitungan berat contoh yang harus ditimbang untuk uji kehalusan

dengan alat blaine permeability

Bj standar = 3,15 g/mL

Bj sampel trass KLU I = 2,48 g/mL

Berat sampel standar = 3,1068 g

Berat sampel yang harus ditimbang = Berat contoh x Berat contoh standar

Berat standar
2,48 g/mL
Berat sampel trass KLU I = x 3,1068 g = 2,4459 g
3,15 g/mL

ƒ Contoh Perhitungan kehalusan contoh trass

Kehalusan = Faktor x √ t

Kehalusan trass KLU I = 401,85(cm²/(g.detik1/2)) x √198,02 detik

= 5654,816294 cm²/g

Pengujian sifat..., Dian Nindita, FMIPA UI, 2008.


61

Lampiran 2. Data Hasil Uji Hilang Pijar (Loss on ignition)


Bobot Bobot Bobot Rata-
Bobot LOI
NO Trass cawan Cawan Cawan rata
Sampel (%)
Kosong Awal Akhir (%)
1 KLU I 1,0005 20,9739 21,9744 21,9283 4,60
4,68
1,0005 20,8025 21,803 21,7553 4,76
2 KLU II 1,0006 18,3561 19,3567 19,3096 4,70
4,65
1,0006 18,4042 19,4048 19,3587 4,60
3 MM I 1,0006 19,5951 20,5957 20,5376 5,80
5,73
1,0006 19,3986 20,3992 20,3425 5,66
4 MM II 1,0004 19,9629 20,9633 20,9042 5,90
5,99
1,0004 20,2132 21,2136 21,1527 6,08
5 PNNC I 1,0005 18,9643 19,9648 19,9317 3,30
3,22
1,0004 21,0502 22,0506 22,0191 3,14
6 PNNC II 1,0007 19,9621 20,9628 20,9333 2,94
2,98
1,0007 20,4145 21,4152 21,3849 3,02
7 LLA I 1,0004 20,3042 21,3046 21,2771 2,74
2,85
1,0004 23,6205 24,6209 24,5912 2,96
8 LLA II 1,0006 21,263 22,2636 22,2375 2,60
2,75
1,0006 21,016 22,0166 21,9875 2,90
9 MKUA I 1,0005 21,8332 22,8337 22,8021 3,15
3,22
1,0005 19,3979 20,3984 20,3654 3,29
10 MKUA II 1,0004 23,4374 24,4378 24,3939 4,38
4,46
1,0004 23,4025 24,4029 24,3574 4,54
11 MP PO 1,0005 20,9743 21,9748 21,9267 4,80
4,70
1,0005 20,8031 21,8036 21,7575 4,60

ƒ Contoh Perhitungan uji hilang pijar


- Trass KLU I :
Bobot awal = 21,9744 gram
Bobot akhir = 21,9283 gram
Kadar Hilang Pijar (%) = bobot awal – bobot akhir x100 %
bobot contoh
= 21,9744 gram – 21,9283 gram x 100 %
1,0005 gram
= 4,6 %
Keterangan : Bobot awal = bobot cawan + bobot contoh sebelum dipijarkan
Bobot Akhir = bobot cawan + bobot contoh setelah dipijarkan

Pengujian sifat..., Dian Nindita, FMIPA UI, 2008.


62

Lampiran 3. Data Hasil Uji Bagian tak Larut (Insoluble Residue)


Bobot Bobot Bobot Rata-rata
NO Trass IR (%)
Sampel Kosong setelah pijar (%)

1 KLU I 1,0006 20,1039 20,956 85,15


85,28
1,0006 20,1038 20,9585 85,41
2 KLU II 1,0007 21,7734 22,6384 86,43
86,50
1,0007 21,7731 22,6395 86,57
3 PNNC I 1,0003 20,5862 21,476 88,95
88,92
1,0003 20,9232 21,8124 88,89
4 PNNC II 1,0006 22,9244 23,8339 90,89
90,76
1,0006 20,5952 21,502 90,62
5 MM I 1,0003 20,6524 21,4935 84,08
84,14
1,0003 20,6515 21,4938 84,20
6 MM II 1,0004 20,7228 21,499 77,58
77,61
1,0004 20,9218 21,6986 77,64
7 LLA I 1,0008 20,9231 21,8013 87,74
87,90
1,0008 20,4169 21,2983 88,06
8 LLA II 1,0006 21,5998 22,4851 88,47
88,71
1,0006 22,0359 22,926 88,95
9 MKUA I 1,0005 20,9307 21,813 88,18
87,8
1,0005 20,4172 21,2926 87,49
10 MKUA II 1,0006 21,4802 22,3637 88,29
88,6
1,0006 21,4146 22,305 88,98
11 MP PO 1,0004 21,6304 22,5088 87,80
87,87
1,0004 21,457 22,3368 87,94

ƒ Contoh Perhitungan uji bagian tak larut


- Trass KLU I :
Bobot sampel = 1,0006 gram
Bobot setelah pijar = 20,956 gram
Bobot kosong = 20,1039 gram
Kadar bagian tak larut (%) = bobot setelah pijar-bobot kosong x 100 %
bobot sampel
= 20,956 gram – 20,1039 gram x 100 %
1,0006 gram
= 85,15 %

Pengujian sifat..., Dian Nindita, FMIPA UI, 2008.


63

Lampiran 4. Data hasil uji kuat tekan


Hasil kuat tekan pada hari ke-7 Rata-
NO Trass (kg/cm2) rata
1 2 3 (kg/cm2)
1 KLU I 116,7 119,7 121,8 119,4
2 KLU II 118,5 120,1 120,1 119,567
3 PNNC I 104,6 105,1 99,5 103,067
4 PNNC II 113,8 112,9 113,6 113,433
5 MM I 43,6 44 41,1 42,9
6 MM II 44,2 43,7 44,7 44,2
7 LLA I 94,3 94,7 96,2 95,0667
8 LLA II 113,1 114,5 113,8 113,8
9 MKUA I 132,6 127,1 128,8 129,5
10 MKUA II 107,7 108,1 108,6 108,133
11 MP PO 104,1 105,5 102,95 104,183

Hasil kuat tekan pada hari ke-7


NO Trass (kg/cm2) Rata-rata
1 2 3 (kg/cm2)
1 KLU I 122,7 120 119,5 120,73333
2 KLU II 115,2 120 122,6 119,26667
3 PNNC I 98,7 103,8 102,7 101,73333
4 PNNC II 117 117,9 118,2 117,7
5 MM I 44,5 44,3 43,8 44,2
6 MM II 44,8 99 15,4 53,066667
7 LLA I 97,7 122 98,5 106,06667
8 LLA II 119,7 131,3 122,6 124,53333
9 MKUA I 129,6 131,3 130,7 130,53333
10 MKUA II 106 110,8 107,2 108
11 MP PO 96,45 97,3 100,55 98,1

ƒ Contoh perhitungan uji kuat tekan hari ke-27


- Rata-rata = kuat tekan 1 + kuat tekan 2 + kuat tekan 3
3
= 116,7 + 119,7 + 121,8
3
= 119,4 kg/cm2

Pengujian sifat..., Dian Nindita, FMIPA UI, 2008.


64

Lampiran 5. Standar Pengujian

Standar yang Digunakan untuk Pengujian Sifat Trass

Pengujian Fisika PT ITP*


Kehalusan m²/kg Min 4000
3 hari, kg/cm² -
Kuat Tekan 7 hari, kg/cm² Min 57
28 hari, kg/cm² Min 57
Pengujian Kimia PT ITP*

M.C % Max 15
Clay Content % Max 2.0
SiO2 % 50-75
Al2O3 % 10-25

(Sumber : PT Indocement Tunggal Prakarsa, Tbk. 2007)

Keterangan :
* = PT.Indocement Tunggal Prakarsa, Tbk

Pengujian sifat..., Dian Nindita, FMIPA UI, 2008.


65

Lampiran 6. Gambar Alat-alat

Crusher Grinder

Alat Blaine Permeabillity Alat Uji Kuat Tekan

Mortar

Pengujian sifat..., Dian Nindita, FMIPA UI, 2008.


66

Grinding machine Press machine

sampel press vessel disk disk mill

XRF ARL 8480 S

Pengujian sifat..., Dian Nindita, FMIPA UI, 2008.