Sunteți pe pagina 1din 12

Kanker dalam kehamilan

Kanker merupakan penyebab kematian terbanyak pada usia reproduksi, 0,02 – 0,1%
diantaranya terjadi dalam masa kehamilan. Pada masa kini terdapat kecenderungan untuk
menunda kehamilan sampai akhir periode reproduksi, hal ini menyebabkan lebih banyaknya
ditemukan kasus kanker pada kehamilan dibandingkan sebelumnya.

Adanya kanker pada kehamilan memberikan keadaan yang berbeda, dimana banyak
tindakan diagnostic dan terapi yang rutin digunakan pada penderita kanker namun
dikontraindikasikan bagi wanita hamil. Terapi definitif biasanya membutuhkan pengorbanan
kehamilan atau menyebabkan risiko yang buruk bagi janin. Hal ini mungkin tidak dapat diterima
oleh sebagian pasien, menyebabkan terlambatnya pemberian terapi karena menunggu sampai
berakhirnya kehamilan dengan persalinan. Pedoman (guidelines) untuk evaluasi dan
penatalaksanaan pasien hamil dengan kanker harus mempertimbangkan usia kehamilan
termasuk alternatif lain untuk mengakomodir harapan/keinginan pasien mengenai
kehamilannya.

Terdapat tiga hal yang harus diperhatikan pada penatalaksanaan kanker pada
kehamilan, yaitu efek kehamilan terhadap kanker, efek kanker terhadap kehamilan dan efek
modalitas penatalaksanaan kanker terhadap kehamilan.

Efek kehamilan terhadap kanker

Kehamilan normal dan kanker merupakan suatu kondisi yang terjadi dimana antigen
jaringan ditoleransi oleh sistem imun yang baik. Toleransi ini mungkin dapat terjadi karena
adanya penekanan (supresi) sistem imun pada 20 minggu usia kehamilan, karena adanya efek
estrogen, progesteron dan HCG. Diketahui hormon-hormon yang mirip dengan estrogen dan
progesteron mampu mengaktifkan kembali sel-sel kanker pada karsinoma mamae laten selama
periode imunosupresi. Namun diketahui bahwa jaringan kepala dan leher tidak memiliki
reseptor terhadap hormon ini, sehingga mereka tidak memberikan andil terhadap timbulnya
keganasan primer. Bagaimanapun pada keganasan tiroid, penelitian in vitro menunjukkan
bahwa estrogen mampu meningkatkan ekspresi gen tgb yang meningkatkan produksi
thyroglobulin pada kanker tiroid berdiferensiasi baik tanpa menstimulasi proto onkogen c-myc
dengan demikian tidak menstimulasi proliferasi sel. Hal ini dapat berakibat peningkatan
produksi sel kanker selama kehamilan. Penurunan jumlah sel T menunjukkan adanya
penekanan system imunitas seluler. Selama periode toleransi imun ini, factor penghambat
serologi, terutama IgG immunoglobulin, membantu bertoleransi terhadap antigen jaringan.
Sebagai tambahan, Nampak adanya faktor peningkatan migrasi leukosit dan penurunan
imunitas sel darah merah. Dengan demikian, sebuah mekanisme imunologi yang disesuaikan
untuk pertahanan janin, juga membantu dalam perkembangan keganasan.

Efek kanker terhadap kehamilan

Jaringan tumor ganas memiliki kecepatan metabolism yang tinggi dan dapat menjatuhkan
pasien ke dalam status katabolic, yang dapat berakhir pada status kakheksia. Sistem
metabolisme wanita hamil berada di bawah tekanan, untuk memenuhi kebutuhan
pertumbuhan janin yang aktif dan cepat. Kehadiran kanker dalam kehamilan akan
menyebabkan akibat yang merugikan bagi ibu dan janin. Kanker ke[ala dan leher , termasuk
faring dan esophagus, dapat memperkuat efek ini dengan mengambil intake nutrisi.
Pengurangan asupan makanan dan status katabolic akan berpengaruh terhadap apapun
modalitas terapi yang diberikan pada pasien kanker.

Salah satu sifat keganasan adalah kemampuan bermetastasis. Apakah dimungkinkan bahwa
keganasaan pada ibu dapat bermetastasis kepada janin? Transmisi visceral dari sel-sel kanker
biasanya jarang, meskipun sel-sel ibu memang dapat menjangkau janin. Tumor yang muncul
bersamaan dengan kehamilan sangat jarang terlibat dengan hasil konsepsi (plasenta dan janin).
Jalan yang paling sering untuk memperbanyak diri adalah secara hematogen. Bagaimanapun
barier plasenta dan system imun janin turut berpengaruh dalam hal ini. Tumor yang paling
banyak bermetastasis ke plasenta adalah melanoma maligna, termasuk 30% tumor dalam
kehamilan. Jumlah tersering kedua adalah leukemia dan limfoma diikuti karsinoma payudara
dan paru-paru.

Efek modalitas penatalaksanaan kanker dalam kehamilan


Penanganan kanker yang yang diperberat dengan kehamilan pada prinsipnya adalah
mengurangi ancaman terhadap janin, atau pengobatan optimal dapat diberikan , namun
dengan konsekuensi dapat berakibat risiko terhadap janin. Dalam hal ini, terminasi kehamilan
dapat dipertimbangkan dalam langkah pertama. Bagaimanapun diperlukan pertimbangan
moral, etika yang kompleks. Pengarh terhadap janin tergantung pada usia kehamilan.
Kemoterapi dikontraindikasikan selama trimester pertama untuk mencegah teratogenesis,
Selama kehamilan akhir, kemotherapi dapat digunakan bila dibutuhkan.

Tidak ada bukti bahwa kehamilan dapat memberi dampak buruk bagi leukemia, namun
leukemia dapat mengancam kehamilan dengan cara infeksi, aborsi dan perdarahan. Leukemia
kronik jarang pada kehamilan namun bila terdiagnosis maka tidak membuthkan pengobatan
apapun selama periode kehamilan. Diagnosis leukemia selama kehamilan biasanya terllambat
Karena gejala yang tidak spesifik dan dapat dirancukan dengan gejala yang muncul karena
kehamilan. Leukemia akut , bila terdiagnosis, biasanya membutuhkan terapip agresif, berbeda
dengan bentuk kronik dari penyakit ini. Hampir 23% wanita hamil dengan leukemia akut
terdiagnosis dalam trimester pertama kehamilannya, 37% selama trimester kedua dan 37%
selama trimester ketiga. Kehamilan awal harus diterminasi dan memulai kemoterapi sesegera
mungkin. Slema trimester kedua dan ketiga, penggunaan kemoterapi kombinasi dapat
digunakan secara relative aman. Dengan penatalaksanaaan demikian, kematian ibu dapat
ditekan dan daya tahan janin dapat meningkat sampai 90%.

Sumber:
Bradley PJ, Raghavan U, Cancers presenting in the head and neck during pregnancy, Current
Opinion in Otolaryngology & Head and Neck Surgery 2004, ©2004 Lippincott Williams &
Wilkins12:76–81.

Leukemia dalam kehamilan


Secara umum, terdapat dua jenis leukemia. Leukemia yang berasal dari jaringan disebut
leukemia limfositik atau limfoblastik atau limfoid. Sedangkan yang berasal dari sumsum tulang,
disebut leukemia myeloid. Menurut onset-nya, leukemia dapat terbagi lagi menjadi akut atau
kronis. Meskipun leukemia lebih umum ditemukan setelah usia 40 tahun, mereka masih dapat
merupakan salah satu keganasan yang paling umum dari wanita muda.1

Leukemia selama kehamilan adalah suatu kejadian yang cukup jarang. Moloney pada
tahun 1964 berhasil menemukan 267 kasus yang membandingkan leukemia akut dan kronik
pada kehamilan. Leukemia akut merupakan kejadian yang amat sangat tidak diharapkan bagi
ibu, pengaruhnya ke janin bergantung kepada munculnya apakah penyakit tersebut
bermanifestasi di awal atau di akhir kehamilan. Leukemia kronik pada kehamilan lebih
mempunyai prognosis yang baik. Meskipun begitu, pada leukemia masih terdaat risiko
leukostasis yang dapat mengakibatkan insufisiensi uteroplasenta sehingga akan meningkatkan
kejadian: pertumbuhan janin yang terhambat, kelahiran prematur dan meningkatkan kematian
perinatal.2

Sumber:

1. Cunningham FG, Leveno KJ, Bloom SL, Hauth JC, Rouse DJ, Spong CY. Williams obstetrics.
23rd edition. The McGraw-Hill Companies. 2010.
2. Ali R, Özkalemkas F, Özkocaman V, Özçelik T, Ozan U, Kimya Y, et al. Successful pregnancy
and delivery in a patient with chronic myelogenous leukemia (CML), and management of
CML with leukapheresis during pregnancy: a case report and review of the literature. Jpn J
Clin Oncol. 2004;34(4)215–217.

Penatalaksanaan LGK dalam kehamilan

Sebelum 1970, laju kematian maternal pada leukemi sebesar 100 persen. Namun dengan terapi
kontemporer, remisi selama kehamilan menjadi umum ditemukan. Kemoterapi induksi diikuti secara
agresif dengan tujuan meraih remisi sempurna. Setelahnya, terapi postremisi diharuskan untuk
mencegah relaps, yang bila terjadi, biasanya diobati dengan transplantasi sel punca (Wetzler dkk, 2005).
Pada beberapa leukemia kronik kemungkinan terapi dapat ditunda hingga setelah persalinan (Fey dan
Surbeck, 2008). Kombinasi rejimen kemoterapi merupakan hal yang kompleks, dan toksisitas umum
terjadi. Biasanya dipertimbangkan eksposur terhadap janin. Baru baru ini antibodi monoklonal
digunakan untuk mengobati beberapa leukemia. Ault dkk (2006) menggambarkan 19 kehamilan terjadi
pada pasangan yang salah satu atau keduanya dalam terapi Imatinib untuk leukemia myeloid kronik.
Efek fetal obat ini saat ini belum diketahui.

Tidak ada bukti bahwa terminasi memperbaiki prognosis. Abortus dapat dipertimbangkan pada
kehamilan awal untuk mencegah efek teratogenik kemoterapi. Dan karena dapat menyederhanakan
managemen akut penyakit ini pada wantia, abortus tetap dipertimbangkan pada usia sebelum janin
viabel. Infeksi dan perdarahan adalah komplikasi signifikan yang harus diantisipasi terjadi pada wanita
dengan penyakit akut, terutama infeksi purpural. Greenlund dkk (2001) mengulas adanya
kesintasan/harapan hidup membaik pada wanita dengan leukemia mielogenik kronik.

Sumber:

Copyright © 2010, 2005, 2001 by The McGraw-Hill Companies, Inc. All rights reserved. Printed in the
United States of America

Ch. 57: Neoplastic Disease. In: Cunningham FG, Leveno KJ, Bloom SL, Hauth JC, Rouse DJ, et. al. editors.
Williams Obstetric. 23rd ed.

A Patricia,K Hagop, O Susan, F Stefan, B Miloslav, R Mary Beth, et all. Pregnancy Among Patients With
Chronic Myeloid Leukemia Treated With Imatinib. Journal of Clinical Oncology. Vol 24. No 7. March
2006. Diunduh dari http://jco.ascopubs.org/cgi/reprint/24/7/1204.pdf

Tatalaksana terapi LGK selama kehamilan memiliki beberapa dilema dikarenakan


potensi efek teratogenic terapi. Beberapa tipe terapi yang sudah digunakan pada pasien LGK
selama kehamilan meliputi obat-obat sitotoksik, interferon alpha, dan leukafaresis.
Hydroxyurea (HU) merupakan agen csitotoksik yang memiliki potensi mutagenik terendah
dibandingkan obat sitotoksik lainnya. Pada beberapa tempat dimana leukafaresis dan
interferon tidak tersedia, dan terminasi kehamilan tidak dapatditerima, mayoritas pasien LGK
ditangani dengan pemberian HU. Literatur rview menunjukkan hanya pada beberapa pasien
yang diberikan terapi HU.pada pasien tersebut tidak ditemukan konsekuensi teratogenik dan
hematologik terhadap janin.(1,2,3,4,5)

a. -Interferon telah digunakan sebagai terapi LGK dengan kesuksesan yang


beragam.(6,7). Bukti laboratorium menunjukan bahwa interferon da[at melewati sawar
plasenta dan meningkatkan insiden abortus pada monyet rhesus (8,9), efek samping
pada kehamilan dan pertumbuhan janin belum dilaporkan, tetapi ada laporan bayi yang
lahir normal dari ibu yang diberikan terapi interferon selama kehamilan (10,11,12,13).
Namun terapi dengan interferon alpha dapat menimbulkan fertilitas sebagai akibat
penurunan kadar estradiol dan progesterone serum.(9)
b. Leukafaresis telah sukses digunakan pada leukemia akut dan kronik untuk menurunkan
sel darah putih yang tinggi pada pasienancaman hambatan vaskularisasi.terapi
leukofaresis yang telah dilakukan pada pasien hamil dengan LGK dapat ditoleransi
dengan baik oleh ibu dan janin, dan tidak ditemukan efek samping yang berarti.
Leukafaresis dapat dipertimbangkan sebagai terapi pada LGK pada trimester pertama
kehamilan dan dapat dilanjutkan selama kehamilan berlangsung. Oleh karena efek
samping dan efek teratogenik yang rendah, terapi ini merupakan terapi yang optimal
pada pasien hamil dengan LGK yang dapat mentolerir dan merespon terhadap prosedur
ini.
c. Hydroxyurea

Terapi LGK meliputi pencgahan terhadap insufusiensi plasenta dan komplikasi lainnya
akibat dari hiperleukositosis dengan mengontrol sel darah putih pada kehamilan.,
dengan cara menghindari paparan obat2 yang bersifat sitotoksik terhadap janin.
Busulphan dan Hydroxyurea menghambat sintesis DNA dan dapat menyebabkan aborsi ,
malformasi dan retardasi pertumbuhan janin. Malformasi kongenittal telah ditemukan
selama pemberian Busulphan selama kehamilan (14). Preeklampsi , pertumbuhan janin
terhambat, bayi lahir mati ditemukan selama terapi HU selama kehamilan.meskipun
tidak dapat diketahui bahwa HU sebagai penyebabnya secara pasti.

Pemberian terapi HU pada wanita hamil usia 27 minggu, tidak memiliki efek samping
pada ibu dan janin. Meskipun begitu pertumbuhan dan perkembangan bayi harus tetap
dipantau, karena potensi dan resiko jangka panjang obat ini masih belom
diketahui.hingga saat ini terapi HU yang diberikan setelah trimester2 kehamilan terbukti
aman dan efektif untuk terapi LGK selama kehamilan, data tambahan tetap masih
dibutuhkan sebelum HU ditetapkan sebagai terapi pilihan pada pasien yang sedang
hamil. HU berguna dan merupakan alternatif yang lebih murah dibandingkan dengan
interferon pada pasien hamil dengan LGK, dalam situasi dimana leukopharesis tidak
tersedia.

Proses persalinan pada pasien dengan LGK, dari beberapa laporan kasus, pasien dapat
melahirkan secara pervaginam, dengan syarat selama kehamilan berlangsung pasien telah di
beri terapi baik dengan interferon alpha, leukafaresis dan hydroxyurea, sehingga angka sel
darah putih terkontrol dengan baik.(13) Persalinan perabdominam dipilih apabila terdapat
indikasi obstetrik lainnya.

Sumber:

1. Delmier A, Rio B, Bauduer F, Ajehenbaum F, Marie JP, Zittoun R. Pregnancy during


myelosuppressive treatment for chronic myelogenous leukaemia. Br J Haematol 1992;
82: 783-784.
2. Patel M, Dukes IAF, Hull JC. Use of hydroxyurea in chronic myeloid leukemia during
pregnancy: a case report. Am J Obstet Gynecol 1991; 165: 565-566.
3. Tertian G, Tchernia G, Papiernik E, Elefant E. Hydroxyurea and pregnancy. Am J Obstet
Gynecol 1992; 18: 68-74.
4. Jackson N, Shukri A, Kamaruzaman A. Hydroxyurea treatment for chronic myeloid
leukaemia during pregnancy. Br J Haematol 1993; 85: 203-204.
5. Kuroiwa M, Gondo H, Ashida K, Kamimura T, Miyamoto T, Niho Y, Tsukimori K,
Nakano H, Ohga S. Interferon-alpha therapy for chronic myelogenous leukemia during
pregnancy. Am J Hematol 1998; 59: 101-102.
6. Faderl S, Talpaz M, Estrov Z, Kantarjian HM. Chronic myelogenous leukemia: biology and
therapy. Ann Intern Med 1999;131:207–19
7. 2 Mughal TI, Goldman JM. Chronic myeloid leukaemia: STI 571 magnifies the
therapeutic dilemma. Eur J Cancer 2001;37:561–8. 27 Baer MR, Ozer H, Foon KA.
Interferon- therapy during pregnancy in chronic myelogenous leukaemia and hairy cell
leukaemia. Br J Haematol 1992;81:167–9.
8. 28 Baer MR. Normal full-term pregnancy in a patient with chronic myelogenous
leukemia treated with -interferon. Am J Hematol 1991;37:66. Reichel RP, Linkesch W,
Schetitska D. Therapy with recombinant interferon alpha-2c during unexpected
pregnancy in a patient with chronic myeloid leukaemia. Br J Haematol 1992;82:472–8.
9. Szczepanski T, Langerak AW, Dongen JJM. Interferon-alpha therapy for chronic
myelogenous leukemia during pregnancy. Am J Hematol 1998;59:101–2.
10. Kuroiwa M, Gondo H, Ashida K, Kamimura T, Miyamoto T, Niho Y, et al. Interferon-alpha
therapy for chronic myelogenous leukemia during pregnancy. Am J Hematol
1998;58:101–2.

Pengaruh Pengobatan LGK Terhadap Kehamilan

Terapi ditujukan untuk mencapai remisi lengkap, baik remisi hematologi,remisi


sitogenetik,maupun remisi biomolekuler. Begitu mencapai remisi hematologis dilanjutkan
dengan terapi interferon dan atau cangkok sumsum tulang.

Untuk mencapai remisi hematologis digunakan obat-obat yang bersifat mielosupresif,


misalanya Hydroxyurea. Hydroxurea merupakan obat terpilih karena efektif dan relative singkat
menyebabkan mielosupresi (beberapa hari sampai seminggu). Dosis 30 mg/kgBB/hari diberikan
sebagai dosis tunggal atau dibagi 2-3 dosis. Apabila leukosit > 300.000/mm³,dosis boleh
ditinggikan sampai 2,5 mg/hari. Penggunaan dihentikan bila leukosit < 8.000/mm³ atau
trombosit < 100.000/mm³. Hati-hati bila digunakan bersama 5-FU karena dapat timbul
neurotoksisitas.

Agen lain yang dapat digunakan untuk mencapai remisi adalah Busulfan. Dosis 4-
8mg/hari dapat dinaikan sampai 12mg/hari hentikan njika leukosit 10-20.000/mm³,dimulai
kembali setelah leukosit > 50.000/mm³. Tidak boleh diberikan pada wanita hamil. Bila hitung
leukosit sangat tinggi, berikan alopurinol dan hidrasi yang baik. Waspadai risiko fibrosis paru
dan supresi sumsum tulang berkepanjangan.
Selain itu Imatinib Mesylate juga dapat dipilih. Imetinib Mesylate untuk fase kronik dosis
400mg/hari setelah makan,dapat ditingkatkan sampai 600mg/hari bila tidak mencapai respon
hematologic setelah pemberian selama 3 bulan atau memberikan respon baik tetapi setelah itu
terjadi perburukan secara hematologic. Segera turunkan dosis jika terjadi netropenia berat ( <
500/mm³) atau trombositopenia berat ( < 50.000/mm³) atau peningkatan SGOT/SGPT dan
bilirubin. Pada krisis blas dapat diberikan langsung 800mg/hari. Waspadai risiko
hipersensitivitas, dan jangan gunakan pada ibu hamil. Imatinib dapat menghasilkan remisi
sitogenetik.

Interferon Alfa -2a Atau Interferon Alfa-2b tidak dapat menghasilkan remisi biologic
walaupun dapat mencapai remisi sitogenetik. Dosis 5 juta IU/m²/hari subkutan sampai
mencapai remisi sitogenetik, biasanya setelah 12 bulan terapi

Cangkok Sumsum Tulang merupakan terapi definitive untuk LGK, tidak dialkukan pada LGK
dengan kromosom Ph negative atau BCR-ABL negative. Cangkok tulang dilakukan bila usia <60
tahum, ada donor, dan termasuk golongan risiko rendah menurut perhitungan sokal.

Terapi Leukemia Granulositik kroonik (LGK) pada kehamilan dapat dilakukan berupa
kemoterapi dengan menggunakan golongan tirosin kinase inhibitor dan terapi interferon alfa.
Golongan tirosin kinase inhibitor seperti imanitib dan dasanitib digunakan sebagai terapi
leukemia granulositik kronik. Penelitian-penelitian yang ada belum jelas menerangkan adanya
efek samping bila golongan tirosin kinase inhibitor ini digunakan pada wanita hamil. Beberapa
penelitian menyebutkan bahwa golongan ini dapat diberikan walaupun efeknya belum jelas jika
diberikan pada kehamilan trimester pertama dimana masih berlangsung proses organogenesis.
Tetapi pada Bagaimanapun, pengobatan terapi keganasan dengan kemoterapi menggunakan
golongan tirosin kinase inhibitor merupakan protokol standar yang banyak diberikan. Laporan
menyebutkan bahwa terapi dengan menggunakan agen-agen untuk pengobatan leukemia
granulositik kronik tidak menyebabkan terjadinya efek sitotoksik pada kehamilan. Satu kasus
pengobatan menggunakan dasanitib dan interferon alfa berhasil melahirkan bayi pada usia 33
minggu dengan seksio sesar tanpa adanya kelainan pada bayinya.
Untuk mengevaluasi potensial teratogenik pada pengobatan kanker, termasuk LGK,
dilihat pada 43 anak yang ibunya menerima kemoterapi pada masa kehamilan karena
keganasan hematology. 19 dari anak tersebut menerima kemoterapi pada trimester pertama,
ternyata didapatkan bahwa kesehatan, pertumbuhan dan perkembangan . Status imunologi,
hematology dan citogenetik juga dievaluasi. Usia anak-anak tersebut antara 3-19 tahun.

Pada anak-anak tersebut dilakukan anamnesis dan pemeriksaan fisik dengan hati-hati
untuk mendeteksi tanda-tanda atau gejala-gejala abnormal dan riwayat kemoterapi ibu dicatat
dengan baik. Pada semua anak tersebut, fisik, neorologis, psikososial dan hematology serta
system imun dan sitogenetik didapatkan normal.

Hasil tersebut menunjukan bahwa kemoterapi bias dilakukan selama kehamilan,


meskipun pada trimester tertama, karena tidak berbahaya terhadap fetus. Meskipun demikian,
studi ini tidak cukup untuk menyingkirkan kemungkinan teratogenesis dan masih dibutuhkan
banyak laporan untuk pengobatan terbaik terhadap kanker selama kehamilan.

Sumber:

1. Agustin Avilés, M.D. *, José C. Díaz-Maqueo, Alejandra Talavera, Renaldo Guzmán, Edna L.
García. Chronic Granulocytic Leukemia in Pregnancy: A Case Report and Review of the
Literature 1980 59, :6 , pages 563 - 565

2. Apperley J. CML in pregnancy and childhood. Best Pract Res Clin Haematol 2009;22:455-75.

3. Conchon M, Sanabani SS, Serpa M, Novaes MM, Nardinelli L, Ferreira PB, dkk. Sucessful
pregnancy and delivery in a patient with chronic myeloid leukemia while in dasatinid therapy.
Adv Hematol. 2010;2010:136-

Pemilihan cara kontrasepsi yang tepat bagi pasien LGK

Pilihan terapi konvensional untuk Leukemia granulositik kronik (LGK) meliputi


hydroxyurea, busulfan, regimen dengan interferon serta tranplantasi sel punca,dengan
tatalaksana menggunakan sel punca sebagai satu-satunya terapi kuratif. Perkembangan
tatalaksana terbaru menggunakan imatinib, Gleevec , sebuah penghambat bcr-abl tyrosine
kinase , memberikan harapan baru untuk pasien dengan LGK. Imatinib meskipun menunjukkan
hasil yang baik dalam hal respon sitogenetik dan hematologik menujukkan efek yang
teratogenik pada tikus percobaan. Karena hal tersebut maka setiap wanita yang ditatalaksana
dengan imatinib harus sadar dengan risiko tersebut dan menggunakan kontrasepsi yang efektif.

Pemilihan kontrasepsi yang tepat menjadi langkah selanjutnya bagi pasien dengan leukemia.

Penggunaan Intra Uterine Device ( IUD) baik yang sederhana (Copper T) maupun yang dengan
levonorgestrel ( Mirena) sebaiknya tidak dilakukan karena kecenderungan seseorang yang lebih
mudah terkena infeksi dalam proses pemasangannya.

Kontrasepsi yang dapat digunakan adalah

1. Dengan menggunakan metode-metode alami seperti sanggama terputus, metode keluarga


berencana alamiah seperti sistem kalender dan metode suhu basal. Meskipun metode-metode
alami tersebut juga memiliki tingkat kegagalan yang cukup tinggi dengan tingkat kegagalan yang
bervariasi.

2. Metode barrier seperti kondom, diafragma, spemisida.

Metode alami dan barrier diatas tentu saja harus dilakukan tidak saja oleh pihak perempuan
melainkan pasangannya.

3. Metode terakhir yang dapat digunakan adalah metode dengan sterilisasi yang beberapa
indikasinya meliputi pasien dengan retardasi mental, skizofrenia, epilepsy atau wanita dengan
leukemia kronikd an kanker payudara.

Tidak terdapat data lain yang menganjurkan atau tidak menganjurkan penggunaan kontrasepsi
hormonal baik dalam bentuk pil maupun suntikan untuk pasien dengan LGK.

Sumber:
1. Two successful pregnancies in a chronic myeloid leukemia patient treated with imatinib.
Diunduh dari website Haematologica, Vol 92, Issue 1, e9-e10 doi:10.3324/haematol.10935

2. PTK 787 and Gleevec in Patients With AML, AMM, and CML-BP study. Diunduh dari :
http://clinicaltrials.gov/ct2/show/NCT00088231

3. Hensley ML, Ford JM. Imatinib Treatment: Specific Issues Related to Safety,Fertility, and
Pregnancy. Semin Hematol 40(suppl 2):21-25..

4. Birth Control – Everything You Need to Know. Diunduh dari :


http://www.webhealthcentre.com/Healthcorners/women_health_birth.aspx