Sunteți pe pagina 1din 2

Many women have what they perceive as an abnormal vaginal discharge at some point in

their lives, but usually it is just a normal physiological discharge. This is a white or clear,
non-offensive discharge that varies with the menstrual cycle. Cervical ectopy can be
associated with a mucoid discharge and if symptomatic is widely treated with cryotherapy or
diathermy, although evidence to support the effectiveness of these treatments is poor.

Signs of yeast infections

White, cottage cheese-like discharge Swelling and pain around the vulva
Intense itching
Painful sexual intercourse

Signs of bacterial vaginosis

A white, gray or yellowish vaginal discharge


A fishy odor that is strongest after sex or after washing with soap Itching
or burning
Slight redness and swelling of the vagina or vulva

Signs of trichomoniasis

A watery, yellowish or greenish bubbly discharge An unpleasant odor

Pain and itching when urinating Most apparent after your period

Komplikasi Abortus

Komplikasi yang berbahaya pada abortus adalah perdarahan,perforasi, infeksi, syok, dan
gagal ginjal akut.

1. 1) Perdarahan
Perdarahan dapat diatasi dengan pengosongan uterus dari sisa-sisa hasil konsepsi dan
jika perlu pemberian transfusi darah. Kematian karena perdarahan dapat terjadi
apabila pertolongan tidak diberikan pada waktunya.

2. 2) Perforasi
Perforasi uterus pada kerokan dapat terjadi terutama pada uterus dalam posisi hiper
retrofleksi. Jika terjadi peristiwa ini, penderita perlu diamati dengan teliti. Jika ada
tanda bahaya, perlu segera dilakukan laparotomi, dan tergantung dari luas dan bentuk
perforasi, penjahitan luka perforasi atau perlu histerektomi. Perforasi uterus pada
abortus yang dikerjakan oleh orang awam menimbulkan persolan gawat karena
perlukaan uterus biasanya luas, mungkin pula terjadi perlukaan pada kandung kemih
atau usus. Dengan adanya dugaan atau kepastian terjadinya perforasi, laparotomi
harus segera dilakukan untuk menentukan luas nyacedera, untuk selanjutnya
mengambil tindakan-tindakan seperlunya guna mengatasi komplikasi.
3. 3) Infeksi
Infeksi dalam uterus atau sekitarnya dapat terjadi pada tiap abortus, tetapi biasanya
ditemukan pada abortus inkompletus dan lebih sering pada abortus buatan yang
dikerjakan tanpa memperhatikan asepsis dan antisepsis. Apabila infeksi menyebar
lebih jauh, terjadilah peritonitis umum atau sepsis, dengan kemungkinan diikuti oleh
syok.

4. 4) Syok
Syok pada abortus bisa terjadi karena perdarahan (syokhemoragik) dan infeksi berat
(syok endoseptik).

5. 5) Gagal ginjal akut


Gagal ginjal akut yang persisten pada kasus abortus biasanya berasal dari efek infeksi
dan hipovolemik yang lebih dari satu. Bentuk syok bakterial yang sangat berat sering
disertai dengan kerusakan ginjal intensif. Setiap kali terjadi infeksi klostridium yang
disertai dengan komplikasi hemoglobenimia intensif, maka gagal ginjal pasti terjadi.
Pada keadaan ini, harus sudah menyusun rencana untuk memulai dialysis yang efektif
secara dini sebelum gangguan metabolik menjadi berat (Cunningham, 2005).

Patogenesis

Proses abortus iminensbiasanya berlangsung secara spontan maupun sebagai komplikasi dari abortus
provokatus kriminalis ataupun medisinalis. Proses terjadinya berawal dari pendarahan pada desidua basalis
yang menyebabkan nekrosis jaringan diatasnya. Pada abortus iminens nekrosis yang terjadi tidak cukup dalam
untuk menimbulkan pelepasan hasil konsepsi dari dinding uterus.Namun jika tidak segera ditangani, nekrosis
dapat meluas dan menimbulkan inkompetensi desidua dalam menjaga hasil konseptus sehingga dapat
berlanjut kepada abortus inkomplet atau komplet. Pada kehamilan antara 8 minggu sampai 14 minggu villi
koriales menembus desidua lebih dalam sehingga umumnya plasenta tidak dilepaskan sempurna yang dapat
menyebabkan banyak perdarahan. Pada kehamilan lebih dari 14 minggu umumnya yang mula- mula
dikeluarkan setelah ketuban pecah adalah janin, disusul kemudian oleh plasenta yang telah lengkap terbentuk.
Perdarahan tidak banyak jika plasenta segera terlepas dengan lengkap 1,6.

LAPORAN KASUS ABORTUS IMINENS JUNI 2015 FAKTOR RESIKO, PATOGENESIS, DAN
PENATALAKSANAAN

A.A Gde Kiki Sanjaya Dharma Fakultas Kedokteran Universitas Udayana