Sunteți pe pagina 1din 5

JENIS DAN STATUS KONSERVASI IKAN HIU YANG TERTANGKAP

DI TEMPAT PELELANGAN IKAN (TPI) LABUAN BAJO,


MANGGARAI BARAT, FLORES
Ismail Syakurachman Alaydrus1,2), Narti Fitriana1)* dan Yohannes Jamu3)
1)
Jurusan Biologi Fakultas Sains dan Teknologi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
2)
Marine Biology Club (MBC) Nudibranch
3)
Dinas Kelautan dan Perikanan Manggarai Barat

*Corresponding author: nfitriana@yahoo.com

Abstract

The study aimed to determine the types of sharks are caught, sold and conservation status in the fish
auction place (TPI) Labuan Bajo, West Manggarai, Flores, East Nusa Tenggara have been
conducted in February and March 2014 in Labuan Bajo. The research method was the survey
method and used Market Survey sampling techniques and identification by Rapid Assessment
method. Descriptively analyzed data, displayed in the form of narration and a table. Based on the
results of the study, found 114 individual sharks, 55 individual males, 59 females were classified
into three orders, namely Orectolobiformes, Lamniformes, and Carcharhiniformes; 4 families that
Carcharhinidae, Odontaspididae, Rhynchobatidae, and Ginglymostomatidae; 5 genera namely
Carcharhinus, Triaenodon, Rhyncobatus, Prionace, and Rhizoprionodon and 9 types of sharks that
Carcharhinus melanopterus, Triaenodon obesus, Carcharhinus limbatus, Carcharhinus taurus,
Carcharhinus amblyrhynchos, Rhynchobatus australiae, Prionace glauca, Rhizoprionodon acutus,
and Nebrius ferrugineus. Based on the state of conservation, shark found in Labuan Bajo TPI
classified Vulnerable and Near Threatened, the dominant type of shark found is Carcharhinus
melanopterus (91 fishes) while the least was found is Rhynchobatus australiae, Prionace glauca,
Rhizoprionodon acutus, and Nebrius ferrugineus (each 1 individual).

Keywords : type of sharks, Fish Auction Place (TPI) Labuan Bajo, state of conservation

PENDAHULUAN Diperkirakan lebih dari 75 jenis hiu


Sejarah geologi di wilayah Indonesia ditemukan di perairan Indonesia dan sebagian
amat komplek, hal ini menyebabkan negara besar dari jenis tersebut potensial untuk
ini memiliki tingkat endemisitas tertinggi di dimanfaatkan. Hampir seluruh bagian tubuh
dunia. Tingkat keragaman jenis biota-biota hiu dapat dijadikan komoditi, dagingnya
laut seperti jenis ikan bertulang sejati maupun dapat dijadikan bahan pangan bergizi tinggi
ikan bertulang rawan (Elasmobranchii) di (abon, bakso, sosis, ikan kering dan
Indonesia sangat beragam (White et al., sebagainya), siripnya untuk ekspor dan
2006). kulitnya dapat diolah menjadi bahan industri
Perikanan merupakan aspek utama yang kerajinan kulit berkualitas tinggi (ikat
berpengaruh penting dalam kehidupan pinggang, tas, sepatu, jaket, dompet dan
bermasyarakat di Indonesia yang merupakan sebagainya) serta minyak hiu sebagai bahan
negara maritim. Salah satu ikan yang menjadi baku farmasi atau untuk ekspor. Tanpa
target adalah hiu. Hiu dapat dijumpai hampir kecuali gigi, empedu, isi perut, tulang, insang
di seluruh wilayah perarian Indonesia baik di dan lainnya masih dapat diolah untuk
perairan territorial, perairan samudera berbagai keperluan seperti bahan lem,
maupun Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) ornamen, pakan ternak, bahan obat dan lain-
Indonesia. Jenis hiu yang ditemukan pun lain (Wibowo & Susanto, 1995).
beraneka ragam.

Al-Kauniyah Jurnal Biologi Volume 7 Nomor 2, Oktober 2014 83


Ismail Syakurachman Alaydrus dkk Jenis dan Status Konservasi Ikan Hiu
_____________________________________________________________________________________________

Di samping kekayaan manfaat pada hiu, 15.00 WITA). Pendataan dimulai dengan
diperlukan kebijakan yang dibuat untuk mengidentifikasi jenis hiu yang tertang-kap
mengendalikan perburuan hiu di Indonesia. mengacu pada field guide “Economically
Selain penggalakan konservasi, studi biologis Important Sharks and Rays in Indonesia”,
dari hiu seperti biodiversitas, distribusi, dan kemudian dilakukan penghitungan jumlah
status spesies, menjadi kunci untuk individu hiu berdasarkan jenisnya beserta
penyediaan informasi sebagai landasan perbandingan ukuran hiu, setelah itu
dibuatnya kebijakan pengelolaan penangkap- didokumentasikan dengan kamera digital dan
an hiu. Hingga saat ini, Manggarai Barat yang dilakukan wawancara singkat dengan nelayan
beribukota Labuan Bajo, termasuk salah satu penangkap hiu tersebut tentang lokasi
kabupaten yang telah mengeluarkan peraturan penangkapan hiu.
bupati tentang perlindungan hiu. Namun,
informasi tentang hiu masih terbatas sehingga HASIL DAN PEMBAHASAN
database yang berhubungan dengan hiu Penelitian ini mendata jumlah jenis hiu
merupakan masalah utama overfishing pada yang menjadi hasil tangkapan sampingan
hiu, terutama di Indonesia bagian tengah yang nelayan (by catch) di TPI Labuan Bajo.
memiliki diversitas hiu yang tinggi. Terdapat 9 jenis hiu yang tercatat, dari jumlah
Oleh karena itu, penelitian ini dilakukan jenis tersebut digolongkan dalam 3 ordo, 4
untuk memberikan informasi serta wawasan famili, dan 7 genera. Berdasarkan jumlah
biologi dari pendataan jenis dan jumlah jenis hiu yang tertangkap, dapat dikatakan
individu hiu serta status konservasi di terdapat sekitar 12% dari jumlah total jenis
Indonesia tengah khususnya di daerah Labuan hiu yang diketahui di Indonesia. Suharsono
Bajo, Taman Nasional Komodo dan (1981), menyatakan ada sekitar 250-300 jenis
sekitarnya yang kaya dengan ekosistem hiu telah diketahui, 29 jenis di antaranya
terumbu karang sebagai biota pendukung diketahui terdapat di Indonesia. Hasil
tingginya diversitas hiu. Selain itu, daerah pendataan jenis hiu disajikan dalam Tabel 1.
tersebut termasuk daerah ekowisata warisan Jenis hiu dibagi dalam taksa sampai dengan
dunia dengan persentase aktivitas manusia tingkat ordo. Terdapat 3 ordo hiu yang
yang tergolong tinggi. tertangkap oleh nelayan yaitu
Orectolobiformes, Lamniformes dan
MATERIAL DAN METODE Carcharhiniformes. Orectolobiformes atau
Penelitian ini telah dilakukan pada bulan biasa disebut masyarakat setempat dengan hiu
Februari sampai dengan Maret 2014 di TPI karpet terdapat dua famili yaitu
Labuan Bajo. Metode yang digunakan adalah Rhynchobatidae dan Ginglymostomatidae.
Market Survey, identifikasi secara Rapid Dari masing-masing famili tersebut dicatat
Assessment mengacu pada metode yang masing-masing satu jenis hiu yang didaratkan.
dilakukan oleh Fahmi & White (2006). Jenis dari famili Rhynchobatidae yang
Penelitian ini menggunakan kamera digital ditemukan adalah Rhynchobatus australiae
untuk mendokumentasikan kegiatan peneliti- atau White spotted guitarfish. Hiu jenis ini
an, field guide “Economically Important termasuk hiu yang langka dan jarang sekali
Sharks and Rays in Indonesia” untuk ditemukan di perairan Flores. Hal ini
pengidentifikasian hiu yang tertangkap di TPI dinyatakan oleh White & McAuley (2003),
Labuan Bajo dan meteran skala 50 m untuk genera hiu ini banyak ditemukan di perairan
perbandingan ukuran hiu yang tertangkap yang ber-hubungan dengan Samudera Hindia,
serta alat tulis. yang dijelaskan lebih lanjut tersebar di
Pengambilan data dilakukan pada pagi perairan New South Wales, Australia dan
hari, dari waktu dimulainya aktifitas di TPI ditemukan beberapa spesies endemik di
(pukul 06.00 WITA) sampai selesai (pukul Perairan Thailand, Madagascar, Indonesia
10.00 WITA) dan sore hari (tentatif, Timur, Jawa, Bali dan Lombok sedangkan
tergantung pada cuaca dan musim pada pukul

Al-Kauniyah Jurnal Biologi Volume 7 Nomor 2, Oktober 2014 84


Ismail Syakurachman Alaydrus dkk Jenis dan Status Konservasi Ikan Hiu
_____________________________________________________________________________________________

untuk famili Ginglymostomatidae ditemukan dengan nama hiu buto abu-abu atau Grey
jenis hiu buto atau Tawny Nurse Shark. Nurse Shark. Hiu ini tercatat ditemukan di
Lamniformes merupakan ordo hiu yang perairan dalam seperti lepas pantai Australia
juga tertangkap di TPI Labuan Bajo. Dari dan Laut Arafuru (Harding, 1990). Seperti
ordo ini, hanya satu famili yang didaratkan halnya dua perairan tersebut, perairan di
yaitu Odontaspididae. Identifikasi lebih lanjut Flores juga memiliki kontur yang dalam
menunjukkan bahwa hiu ini adalah sehingga hiu buto abu-abu dapat ditemukan di
Carcharias taurus. Hiu tersebut dikenal perairan tersebut.

Tabel 1. Klasifikasi hiu yang tertangkap di TPI Labuan Bajo


No. Ordo Famili Jenis
Rhynchobatidae Rhynchobatus australiae
1 Orectolobiformes
Ginglymostomatidae Nebrius ferrugineus
2 Lamniformes Odontaspididae Carcharhias taurus
Carcharhinus melanopterus
Carcharhinus limbatus
Carcharhinus amblyrhynchos
3 Carcharhiniformes Carcharhinidae
Triaenodon obesus
Prionace glauca
Rhizoprionodon acutus

Ordo hiu yang juga ditemukan tertang- ditemukannya organisme tersebut. Komunitas
kap dan didaratkan di TPI adalah Carcharhini- terdiri dari kesatuan faktor abiotik dan biotik.
formes yang memiliki ciri-ciri moncong Jadi habitat suatu organisme atau sekelompok
runcing, gigi yang tersusun rapat dan ukuran organisme meliputi organisme lain dan
yang tidak terlalu besar (White, 2009). lingkungan abiotiknya. Banyak faktor yang
Ditemukan 4 genera dari ordo Carcharhini- berpengaruh dan saling berinteraksi di dalam
formes seperti Carcharhinus, Triaenodon, proses seleksi habitat suatu jenis organisme di
Prionace dan Rhizopriodon serta 6 spesies laut. Seleksi habitat yang dilakukan hiu lebih
dari genera tersebut. Spesies yang berhasil diutamakan pada kondisi ekologi dan bentuk
diidentifikasi dari genera tersebut adalah kehidupan organisme di dalamnya.
Carcharhinus melanopterus (hiu sirip hitam Status Konservasi Hiu yang Tertangkap di
karang), Carcharhinus limbatus (hiu sirip TPI Labuan Bajo
hitam), Carcharhinus amblyrhynchos (hiu Dalam skala internasional, telah cukup
abu-abu karang), Triaenodon obesus (hiu sirip banyak badan-badan internasional yang
putih karang), Prionace glauca (hiu biru) dan menfokuskan diri pada usaha konservasi hiu
Rhizopriodon acutus (hiu pilus). Jenis-jenis dan pari (Elasmobranchii). Salah satu badan
hiu ini banyak ditemukan di perairan penuh internasional yang amat peduli terhadap
dengan terumbu karang. Hampir 85% persen sumberdaya tersebut adalah IUCN (The
hiu ini termasuk jenis hiu karang yang habitat World Conservation Union) yang membentuk
dan siklus hidupnya dilakukan di karang Shark Specialist Group (SSG) pada tahun
seperti reproduksi, mencari makan serta 1991, sebagai bagian dari komisi penyela-
memijah. matan jenis (Species Survival Comission).
Mc Arthur & Connell (1970), Tujuan kelompok ini dibentuk adalah sebagai
menyatakan bahwa habitat suatu organisme mediator bagi usaha konservasi hiu, pari dan
adalah tempat hidup atau tempat Chimaera (Condrichthyans). Para anggotanya

Al-Kauniyah Jurnal Biologi Volume 7 Nomor 2, Oktober 2014 85


Ismail Syakurachman Alaydrus dkk Jenis dan Status Konservasi Ikan Hiu
_____________________________________________________________________________________________

berusaha untuk menyusun laporan mengenai pemberian status konservasi baik secara
status ikan-ikan bertulang rawan dan regional maupun global untuk beberapa jenis
menyiapkan rencana aksi (action plan) bagi ikan yang dipilih. Selain itu, juga menentukan
kelompok ikan ini. Penyusunan laporan kondisi jenis ikan yang sedang ataupun akan
mengenai status ikan-ikan bertulang rawan di terancam keberadaaannya (Camhi et al.,
dunia dilakukan dengan mengulas status 1998).
populasi dan status perikanan hiu serta

Tabel 2. Status Konservasi Jenis Hiu yang Tertangkap di TPI Labuan Bajo
Status Konservasi
No. Spesies
(IUCN Red List, 2009)
1 Rhynchobatus australiae Vulnerable (VU)
2 Nebrius ferrugineus Vulnerable (VU)
3 Carcharhias taurus Near Threatened (NT)
4 Carcharhinus melanopterus Near Threatened (NT)
5 Carcharhinus limbatus Near Threatened (NT)
6 Carcharhinus amblyrhynchos Near Threatened (NT)
7 Triaenodon obesus Near Threatened (NT)
8 Prionace glauca Near Threatened (NT)
9 Rhizoprionodon acutus Near Threatened (NT)

Untuk mengetahui status konservasi dari pernyataan tersebut, hiu buto menyandang
jenis-jenis hiu yang tertangkap oleh nelayan status konservasi rentan untuk eksis di alam.
dan didaratkan di TPI Labuan Bajo, data Rhynchobatus australiae atau hiu pari
disajikan dalam Tabel 2. Status konservasi bintik putih adalah jenis hiu yang memiliki
dari jenis-jenis hiu yang tertangkap yaitu status konservasi dalam kategori terancam
Endangered (Terancam Punah), Vulnerable punah (Vulnerable) dikarenakan jenis ini
(Rentan) dan Near Threatened (Hampir diyakini memiliki resiko kepunahan di alam
Terancam). Sekitar 90% jenis hiu yang yang sangat tinggi seperti halnya hiu buto.
didaratkan di TPI Labuan Bajo memiliki Hiu jenis ini memiliki nilai ekonomis yang
status hampir terancam atau Near Threatened. tinggi karena morfologi dari hiu ini
Kategori ini diberikan kepada jenis yang merupakan peralihan dari bentuk tubuh ikan
diyakini akan terancam keberadaannya di pari hingga bentuk hiu. Terlihat dari
masa mendatang, apabila tidak ada usaha morfologinya, hiu ini memiliki bentuk caudal
pengelolaan terhadap jenis tersebut. fin (ekor) seperti hiu tetapi pada bagian
Satu jenis hiu tercatat memiliki status kepalanya berbentuk melebar seperti ikan
konservasi dalam kategori rentan pari.
(Vulnerable) yaitu Nebrius ferruginus (Hiu
Buto). Kategori ini diberikan kepada jenis hiu KESIMPULAN
yang dikhawatirkan memiliki resiko tinggi Kesimpulan dari penelitian yang telah
terhadap kepunahan di alam. Jumlah individu dilakukan adalah terdapat 9 jenis hiu yang
jenis hiu ini sangat mengkhawatirkan, dengan tertangkap dan didaratkan di TPI Labuan
masa reproduksi yang panjang dan Bajo, diklasifikasikan dalam 3 ordo, 4 famili,
melahirkan anak hanya 1-2 ekor per tahunnya dan 5 genera. Dari 9 jenis hiu tersebut, 7
(Australia Government, 1999). Berdasarkan diantaranya memiliki status konservasi

Al-Kauniyah Jurnal Biologi Volume 7 Nomor 2, Oktober 2014 86


Ismail Syakurachman Alaydrus dkk Jenis dan Status Konservasi Ikan Hiu
_____________________________________________________________________________________________

dengan kategori Near Threatened dan Harding. (1990). Department of Environment,


Vulnerable. Australia Government (2014, November
30). http://environment.ehp.qld.gov.au/
UCAPAN TERIMAKASIH Mc Arthur & J. Connell, 1970. The Biology of
Ucapan terimakasih disampaikan Populations. New York: John Wiley and
kepada Allah SWT. yang selalu memberikan Sons.
kesehatan dan karunianya sehingga penelitian Suharsono. (1981). Ikan Hiu. Pewarta.
ini dapat dilakukan dengan baik dan OSEANA VUl(5) : S-\2.
bermanfaat untuk alamNya. Kepada kedua White, W. T., P. R. Last, J. D. Stevens, G. K.
orang tua dan keluarga besar D.S Iskandar Yearsley, G. K. Fahmi, & Dharmadi.
yang telah memberikan dukungan berupa (2006). Economically Important Sharks
moril dan materil. Sekretaris Dewan Kelautan and Rays of Indonesia. Australia:
Indonesia, Bapak Dedi H Sutisna, M.Sc. Australian Centre for International
Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Agricultural Research.
Manggarai Barat, Bapak Ir. Sebastianus White, W. T., Fahmi, Dharmadi, and Potter, I.
Wantung dan jejeran staffnya yang bersedia C. 2003. Preliminavy investigation of
membantu jalannya penelitian ini serta kepada Artisanal Deep-sea Chondrichthyan
teman-teman yang telah memberikan Fisheries in Eastern Indonesia. Paper
masukan dalam penyusunan jurnal penelitian presented at the Conference on the
ini, penulis ucapkan banyak terimakasih atas Governance and Management of Deep-
bantuannya. sea Fisheries, New Zealand.
White, W. T., Giles, J., Dharmadi, & Potter, I.
DAFTAR PUSTAKA C. (2006). Data on the Bycatch Fishery
Department of Environment. (1999). and Reproductive Biology of Mobulid
Australia Government (2014, November Rays (Myliobatiformes) in Indonesia.
30). Retrieved from Fisheries Research.
http://environment.ehp.qld.gov.au/ Wibowo, S. & H. Susanto. (1995).
Camhi, M., S. Fowler, J. Musick, A. Sumberdaya dan Pemanfaatan Hiu.
Brautigam, & S. Fordham. (1998). Jakarta: Penebar Swadaya.
Sharks and Their Relatives, Ecology and
Conservation. Occasional Paper of the
IUCN Species Survival Commission
No.20. IUCN, Gland, Switzerland and
Cambridge, UK.

Al-Kauniyah Jurnal Biologi Volume 7 Nomor 2, Oktober 2014 88