Sunteți pe pagina 1din 11

See discussions, stats, and author profiles for this publication at: https://www.researchgate.

net/publication/309724092

SCABIES : PENYEBAB, PENANGANAN DAN PENCEGAHANNYA

Article · September 2013


DOI: 10.18860/elha.v4i1.2619

CITATIONS READS

0 11,799

1 author:

Tias Pramesti Griana


Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang
5 PUBLICATIONS   5 CITATIONS   

SEE PROFILE

Some of the authors of this publication are also working on these related projects:

kefir as immunomodulator on mice model fibrosis View project

Metabolit Profiling of Benalu Mangga (Macrosolen cocinensis) As anticancer View project

All content following this page was uploaded by Tias Pramesti Griana on 07 August 2018.

The user has requested enhancement of the downloaded file.


Scabies (37-46) El-Hayah Vol. 4, No.1 September 2013

SCABIES : PENYEBAB, PENANGANAN DAN PENCEGAHANNYA

Tias Pramesti Griana

Jurusan Biologi
Fakultas Sains dan Teknologi
Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang
Email: tiaspram_esti@yahoo.co.id

ABSTRACT

Gudik or kudis is a kind of skin disease that could be found in people who living in crowded
neighborhood, for examples slums area, Islamic boarding school, prison, military camp
and hospital. Gudik could be infect all age, race, and social economic level. Many people
do not know that the cause of gudik is mite which named Sarcoptes scabiei. According to
Departemen Kesehatan Republik Indonesia, scabies ranked third of the twelve of skin
disease that most often arises. Until now, scabies is still neglected, and it becomes to be
public health problems worldwide. As the transmission process is fast, misunderstanding of
society about this disease makes difficult to eradicate scabies. Sarcoptes scabiei lives in
stratum corneum of skin and eat cell fluids. Female mite digs tunnels under skin surfaces
and lays its eggs. This mite activities cause rash on the skin and itch at night. Transmission
of scabies can through direct or indirect contact with the patient. Drug of choice for
scabies is still debatable. Although the results of therapy are effective, sulfur 5%-10%,
benzyl benzoate, crotamiton 10%, permethrin 5% and ivermectin give bad side effect for
patient. In vitro study showed the effectivity of tea tree 5% (Melaleuca alternifolia), paste
of neem leaves (Azadirachta indica) and turmeric (Curcuma longa), and anise (Pimpinella
anisum) as scabicide. Prevention of scabies transmisstion is carried out by hygiene and
treatment for all people who have direct contact with the patient.

Key word : gudik, scabies, Sarcoptes scabiei

PENDAHULUAN untuk konsumsi atau kebutuhan sehari-hari,


Penyakit gudik atau kudis, merupakan telah tercemar. Banyak orang masih belum
penyakit kulit yang dapat di temui hampir di mengetahui bahwa penyebab gudikan adalah
setiap pondok pesantren dan dianggap sebagai spesies tungau yang tidak dapat dilihat oleh
penyakit yang tidak berbahaya sehingga mata telanjang. Spesies ini disebut sebagai
kurang mendapat perhatian baik dari penderita Sarcoptes scabiei (var. hominis) dan
maupun orang-orang yang berada di sekitarnya penyakitnya disebut scabies (Wardhana, et al,
(Badri, 2007; Yasin, 2009; Afraniza, 2011; 2006; Nugraheni, 2008).
Antariksa, 2012). Bahkan ada anekdot yang Scabies memberikan masalah
menyebar di kalangan para santri pondok kesehatan secara global, karena 300 juta kasus
pesantren, bahwa seorang santri belum disebut terjadi setiap tahunnya di dunia. World Health
mondok jika belum terkena penyakit gudik. Organization (WHO) menyatakan scabies
Sebenarnya penyakit gudik bukan hanya merupakan salah satu dari enam penyakit
menyerang para santri di pondok-pondok parasit epidermal kulit yang terbesar angka
pesantren, tetapi juga dapat ditemui pada kejadiannya di dunia (Ryan, 2010). Insiden di
lingkungan kumuh dan padat penduduk Amerika hampir mencapai 1 juta kasus per
(Wardhana, et al, 2006; Rohmawati, 2010; tahun. Rata-rata prevalensi kejadian scabies di
Afraniza, 2011), penjara (Mannocci, et al, Inggris adalah 2,27 per 1000 orang (laki-laki)
2014), kamp militer (Hengge, et al, 2006; dan 2,81 per 1000 orang (perempuan), dimana
Raza,et al, 2009), bahkan rumah sakit (Arlian, 1 dari 1000 orang datang ke pusat-pusat
1989; Larrosa, et al, 2003). Penyakit gudik kesehatan dengan keluhan gatal yang menetap
dapat menjangkiti semua orang pada semua (Lassa, et al, 2011; Fuller, 2013).
umur, ras dan level sosial ekonomi (Raza et al. Prevalensi scabies di Indonesia
2009). menurut Departemen Kesehatan Republik
Selama ini masyarakat awam mengira Indonesia pada tahun 2000 sebesar 4,60-
gudikan disebabkan oleh air, yang digunakan 12,95% dan penyakit scabies menduduki

37
Tias Pramesti Griana

urutan ketiga dari 12 penyakit kulit tersering. mempublikasikan sebuah acuan untuk
Pada tahun 1997, pernah terjadi Kejadian Luar mengenali parasit penyebab scabies (Arlian,
Biasa (KLB) scabies di Desa Sudimoro, 1989; Burgess, 1994).
Kecamatan Turen, Kabupaten Malang, dimana Celsus, tabib dari zaman Romawi
sebanyak 915 dari 1008 (90,8%) orang kuno, merupakan orang yang pertama kali
terserang scabies. Perbandingan penderita laki- mempopulerkan sebutan “scabies” untuk
laki dan perempuan adalah 83,7% : 18,3% penyakit tersebut. Kata scabies sendiri berasal
(Poeranto, et al, 1997). dari bahasa Latin, yaitu scabere yang berarti
Sampai saat ini scabies masih menggaruk (Roncalli, 1987; Celsus, 2014).
terabaikan sehingga menjadi masalah Sedangkan nama Sarcoptes scabiei berasal dari
kesehatan yang umum di seluruh dunia bahasa Yunani yaitu sarx (daging) dan koptein
(Heukelbach dan Feldmeier, 2006). Cepatnya (menancap/memotong). Secara harfiah skabies
proses penularan dan ketidakpahaman berarti gatal pada kulit sehingga muncul
masyarakat akan penyakit ini menimbulkan aktivitas menggaruk kulit yang gatal tersebut.
sulitnya pemberantasan scabies. Penulisan Saat ini istilah scabies berarti lesi kulit yang
review jurnal ini bertujuan untuk memberikan muncul oleh aktivitas tungau. Penambahan
pemahaman bagi pembaca tentang penyebab, kata varian hominis menunjukkan merupakan
cara penularan, penanganan penyakit, dan spesies yang biasa menginfeksi manusia (Hee,
pencegahannya. 2005).

SEJARAH KLASIFIKASI
Scabies telah dikenal oleh manusia Spesies Sarcoptes scabiei (var.
sejak lama. Bukti arkeologi dan gambar hominis) diklasifikasikan ke dalam filum
hieroglif dari zaman Mesir kuno menunjukkan Arthropoda yang masuk ke dalam kelas
bahwa scabies telah menyebabkan iritasi bagi Arachnida, sub kelas Acari (Acarina), ordo
manusia sejak 2.500 tahun yang lalu. Astigmata, dan famili Sarcoptidae. Beberapa
Sedangkan pada abad pertengahan di Eropa famili tungau yang bersifat obligat parasit pada
(Yunani dan Romawi), penyakit ini dikenal kulit antara lain Sarcoptidae (menginfeksi
sebagai gatal-gatal yang biasa terjadi pada mamalia), Knemidokoptidae (menginfeksi
orang yang tinggal di lingkungan kumuh dan burung/unggas), dan Teinocoptidae
sosial ekonomi rendah (Arlian, 1989; Burgess, (menginfeksi kelelawar). Famili Sarcoptidae
1994). yang mampu menular ke manusia, yaitu
Aristoteles (384-322 SM) dipercaya Sarcoptes scabiei, Notoeders cati (host asalnya
sebagai orang pertama yang mengidentifikasi adalah kucing), dan Trixacarus caviae (host
tungau penyebab scabies dengan asalnya adalah marmut) (McCarthy, et al,
menggambarkannya sebagai “kutu di dalam 2004).
daging” dan menyebutnya dengan istilah
“akari”. Scabies juga telah disebutkan oleh MORFOLOGI
berbagai penulis, termasuk seorang tabib yang Hanya ada satu spesies di dalam genus
berasal dari Arab, Abu Al Hasan Ahmad Al Sarcoptidae dan adanya beberapa varian di
Tabari (±970 M), pendeta yang bernama dalam spesies akibat terjadinya interbreeding
Hildegard (1098-1179 M), dan tabib dari yang terus menerus antara populasi tungau
bangsa Moor, Avenzoar (1091-1162 M) yang menginfestasi manusia dan hewan.
(Ramos-e-Silva, 1998). Pada tahun 1678, Spesies tungau Sarcoptes scabiei pada tiap
Bonomo dan Cestoni menggambarkan secara jenis varian hanya berbeda dalam hal ukuran
akurat penyebab scabies di dalam sebuah surat sedangkan morfologinya sulit untuk dibedakan
yang ditujukan untuk Francesco Redi. Mereka (Wardhana, et al, 2006). Menurut Bandi dan
menceritakan sifat alami parasit, cara Saikumar (2012) terdapat 15 varietas atau
penularan, kemungkinan penyembuhan strain tungau yang telah diidentifikasi dan
penyakit tersebut, dan gambaran mikroskopik dideskripsikan secara morfologi tidak berbe da
bentuk telur dan kutu dewasa Sarcoptes tetapi secara fisiologi dan genetik berbeda.
scabiei. Hasil karya Bonomo dan Cestoni ini Tungau Sarcoptes scabiei berwarna
diakui sebagai deskripsi akurat parasit putih krem dan tubuhnya simetris bilateral
penyebab penyakit infeksi yang pertama. berbentuk oval yang cembung pada bagian
Selanjutnya pada tahun 1868, Hebra dorsal dan pipih pada bagian ventral. Warna

38
Scabies (37-46) El-Hayah Vol. 4, No.1 September 2013

tungau jantan lebih gelap daripada betina. Wardhana, et al, 2006; Walton dan Currie,
Permukaan tubuhnya bersisik dan dilengkapi 2007).
dengan kutikula serta banyak dijumpai garis- Larva Sarcoptes scabiei memiliki 6
garis paralel yang berjalan transversal kaki sedangkan nimfa dan dewasa memiliki
(Wardhana, et al, 2006). Tungau dewasa delapan kaki. Perbedaan nimfa dan tungau
mempunyai empat pasang tungkai berwarna dewasa adalah ukuran nimfa yang lebih kecil.
coklat yang mengeras dan terletak pada Ujung sepasang kaki pertama dan kedua pada
thoraks. Thoraks dan abdomen menyatu jantan dewasa didapatkan alat penghisap
membentuk idiosoma, segmen abdomen tidak (pulvilli) sedangkan pada betina didapatkan
ada atau tidak jelas. (Sterling, et al, 1992; setae yang panjang. Baik jantan maupun betina
Walton dan Currie, 2007) Terdapat enam atau memiliki berbentuk seperti cakar yang berguna
tujuh tonjolan seperti sepasang tulang belakang untuk mencengkeram kulit inang yang
pada permukaan dorsal tubuh dan dipenuhi ditinggalinya (Arlian, 1989; Sterling, et al,
setae. Kepalanya terdapat mulut yang khas 1992; Walton dan Currie, 2007; CDC, 2010).
disebut capitulum, dan dibagian abdomen Sarcoptes scabiei memiliki sifat ectothermic,
terdapat anus. Spesies tungau ini tidak yaitu suhu tubuhnya dapat berubah-ubah
memiliki mata (Arlian, 1989). mengikuti suhu lingkungan tempat tinggalnya
Sarcoptes scabiei betina dewasa (Ihrig, 2013).
berukuran panjang sekitar 0.3 – 0.5mm dan Telur Sarcoptes scabiei berbentuk oval
lebar sekitar 0,3mm, sedangkan yang jantan berukuran panjang 0.1 – 0.15mm. Sekitar 10 -
berukuran panjang sekitar 0.25mm dan lebar 25 buah telur diletakkan memanjang
0,2mm. Ukuran tungau betina pada karnivora membentuk garis horizontal sesuai jalur
lebih kecil (0.32 - 0.39 x 0.25 - 0.3 mm) terowongan yang digali oleh tungau betina.
daripada tungau pada manusia (var. hominis) Dari sekian banyak telur yang dihasilkan
(0.39 - 0.5 x 0.29 - 0.42 mm) (Arlian, 1989; tungau betina, tidak lebih dari 10% yang akan
Sterling et al, 1992; McCarthy, et al, 2004; menetas menjadi tungau dewasa (Arlian, 1989;
CDC, 2010).

Gambar 1. A.Tungau Sarcoptes scabiei (var. hominis) betina dengan perbesaran 400x. (Walton & Currie,
2007). B. Telur, nimfa* Sarcoptes scabiei (var. hominis) dan skibala (butiran feses) pada kerokan
kulit yang ditetesi NaOH 10% (Hengge, et al, 2006). C. Histologi kulit : tampak infestasi sarcoptes
scabiei pada stratum korneum (MDCH, 2005)

SIKLUS HIDUP abu-abu atau seperti kulit dengan panjang


Sarcoptes scabiei tinggal di dalam dapat mencapai lebih dari 1 cm (CDC, 2010).
stratum korneum (lapisan tanduk) kulit dan Siklus hidup Sarcoptes scabiei dari
memakan cairan sel. Tungau menggali hanya telur hingga menjadi tungau dewasa
dilapisan bagian atas kulit dan tidak pernah memerlukan waktu 10-14 hari sedangkan
sampai di bawah stratum korneum. tungau betina mampu hidup pada inangnya
Terowongan yang dihasilkan tampak sebagai hingga 30 hari (Wardhana, et al, 2006; CDC,
garis tipis yang berkelok-kelok yang berwarna 2010). Tungau betina menggali terowongan di
bawah permukaan kulit dan meletakkan 2 - 3

39
Tias Pramesti Griana

telur setiap harinya selama 6 hari berturut- 40% - 80%. Pada suhu yang lebih rendah (10-
turut, sehingga menyebabkan timbulnya 15°C) dengan kelembaban yang lebih tinggi
papule pada kulit. Telur akan menetas setelah Sarcoptes scabiei dapat bertahan hidup lebih
2 - 3 hari (Arlian, 1989; CDC, 2010). lama (Arlian, 1989). Meskipun tidak memiliki
Perkembangan instar meliputi telur, mata, Sarcoptes scabiei menggunakan
larva, protonimfa, dan tritonimfa. Setelah rangsangan bau dan suhu untuk mengenali
menetas, larva bermigrasi ke permukaan kulit tubuh inang (Walton dan Currie, 2007).
dan menggali area stratum korneum yang Penularan scabies mudah terjadi saat
masih utuh menghasilkan terowongan pendek orang sehat kontak langsung dengan penderita
yang hampir tidak terlihat yang disebut sebagai dalam jangka waktu yang lama, sehingga
moulting pounch (kantung untuk berganti sering terjadi penularan secara cepat dalam
kulit). Setelah berumur 3-4 hari, larva sebuah keluarga maupun dalam sebuah
Sarcoptes scabiei, yang berkaki 3 pasang akan komunitas yang tinggal di lingkungan padat
berganti kulit, menghasilkan protonimfa penghuninya. Penularan juga dimungkinkan
berkaki 4 pasang. Kemudian protonimfa akan melalui hubungan seksual, karena adanya
berganti kulit lagi menjadi tritonimfa sebelum kontak kulit secara langsung dari penderita ke
benar-benar menjadi tungau dewasa. Larva dan orang sehat lainnya (Hengge, et al, 2006).
nimfa biasanya dapat ditemukan di dalam Dari penelitian yang dilakukan oleh
moulting pounch atau pada folikel rambut. Mellanby (1941) pada 272 relawan yang
Tritonimfa akan menjadi dewasa dan berubah memakai pakaian penderita scabies selama 7
spesifik menjadi jantan atau betina dalam hari dan hanya ditemukan 4 relawan positif
waktu 3-6 hari. Setelah dewasa, tungau akan tertular scabies. Keempat relawan tertular dari
segera keluar dari moulting pounch ke pederita scabies berat yang telah terinfeksi
permukaan kulit untuk mencari area stratum ribuan tungau (hiperinfestasi) seperti pada
korneum yang masih utuh dan membuat Norwegian scabies. Meskipun Mellanby
terowongan kembali (Arlian, 1989; Wardhana, berpendapat bahwa penularan melalui pakaian,
et al, 2006; CDC, 2010; Ogg, 2014). haduk ataupun kasur yang telah digunakan
Tungau jantan dewasa jarang penderita scabies sangat kecil peluangnya,
ditemukan di permukaan kulit, karena mereka tetapi untuk jenis penyakit scabies dengan
berada di dalam lubang sempit dan makan hiperinfestasi akan mudah terjadi (Oakley,
sampai mereka siap untuk kawin. Setelah siap 2009).
kawin, tungau jantan dewasa akan mencari Penelitian lain menyebutkan bahwa
tungau betina dewasa yang berada di dalam varian jenis tungau scabies pada manusia
moulting pounch. Perkawinan terjadi ketika mampu bertahan hidup selama tiga hari di luar
tungau jantan dewasa melakukan penetrasi ke inang dan mampu menginfestasi para pekerja
dalam moulting pounch berisi tungau betina laundry, sedangkan varian jenis tungau scabies
dewasa fertil. Perkawinan hanya terjadi sekali. pada hewan terbukti mampu menginfestasi
Meskipun masih diperdebatkan, tetapi diyakini manusia namun diduga tidak mampu
bahwa tungau jantan akan mati setelah menyelesaikan siklus hidupnya (Wardhana, et
melakukan perkawinan (Arlian, 1989; CDC, al, 2006). Penularan scabies hanya terjadi jika
2010; Ogg, 2014). tungau yang ditransfer dari penderita ke orang
Tungau betina yang mengandung telur sehat adalah Sarcoptes scabiei betina yang
akan meninggalkan moulting pounch dan mengandung telur fertil (CDC, 2010). Satu
berada di permukaan kulit sampai menemukan bulan setelah infestasi, jumlah tungau di dalam
tempat yang cocok untuk menggali lapisan kulit mengalami peningkatan.
terowongan permanen untuk meletakkan telur- Sebanyak 25 ekor tungau betina dewasa
telurnya. Setelah bertelur, tungau betina ditemukan pada lima puluh hari setelah
dewasa akan hidup sampai 1-2 bulan sebelum infestasi dan menjadi lima ratus ekor setelah
kemudian mati (CDC, 2010). seratus hari kemudian (McCarthy, et al, 2004).

INFESTASI, DAYA TAHAN HIDUP DAN MANIFESTASI KLINIS


PENULARAN PADA INANG Umumnya predileksi infestasi tungau
Diluar tubuh inang, Sarcoptes scabiei adalah lapisan kulit yang tipis, seperti di sela-
dapat bertahan hidup selama 24-36 jam dalam sela jari tangan dan kaki, pergelangan tangan,
suhu ruangan (21°C) dan dengan kelembaban siku bagian luar, lipatan ketiak bagian depan,

40
Scabies (37-46) El-Hayah Vol. 4, No.1 September 2013

dada, periareolar (khusus pada wanita), lapisan kulit merupakan ciri khas dari infestasi
punggung, pinggang, pusar, bokong, tungau ini (McCarthy, et al, 2004; Engelman,
selangkangan, sekitar alat kelamin, dan penis et al, 2013).
(khusus pada pria). Pada bayi dan anak-anak Gejala gatal (pruritus) akan timbul
dapat juga ditemukan ruam pada kulit kepala, lebih dari 3 minggu setelah infestasi tungau ke
wajah, leher telapak tangan, dan kaki (Arlian, dalam kulit. Rasa gatal terjadi menyeluruh baik
1989; McCarthy, et al, 2004; CDC, 2010). pada kulit tempat infestasi tungau maupun
tidak. Keparahan gejala gatal-gatal dan ruam
yang timbul tidak berhubungan dengan jumlah
tungau yang menginfestasi kulit. Hal ini
diduga akibat sensitifitas kulit terhadap tubuh
tungau dan hasil ekskresi dan sekresi tungau
(saliva, telur dan skibala). Sarcoptes scabiei
mampu memproduksi substansi proteolitik
(sekresi saliva) yang berperan dalam
pembuatan terowongan, aktivitas makan, dan
melekatkan telurnya pada terowongan tersebut.
Reaksi hipersensitifitas tipe IV dapat
menimbulkan nodul (bentuk papule dengan
ukuran yang lebih besar) dan bulla (bentuk
vesicle dengan ukuran yang lebih besar) pada
area di mana tidak ditemukan tungau pada
Gambar 2. Predileksi (area) infestasi tungau kulit (McCarthy, et al, 2004; Engelman, et al,
Sarcoptes scabiei pada tubuh
2013). Nodul biasanya ditemukan di daerah
manusia (area pada gambar yang
berwarna merah muda) (CDC, 2010)
selangkangan, bokong, dan pusar (Walton dan
Currie, 2007).
Pada beberapa kasus, ruam, dan rasa
gatal pada penderita scabies dapat menetap
Sarcoptes scabiei memerlukan waktu sampai beberapa minggu setelah pengobatan.
kurang dari tiga puluh menit untuk masuk ke Hal ini dimungkinkan karena tubuh tungau
dalam lapisan kulit. Gejala klinis akibat yang mati masih berada di bawah permukaan
infestasi tungau Sarcoptes scabiei adalah kulit. Nodul pada kulit juga dapat menetap
timbulnya ruam pada kulit dan rasa gatal sampai beberapa bulan setelah pengobatan
(pruritus) terutama pada malam hari (Walton dan Currie, 2007). Akibat terbukanya
(McCarthy, et al, 2004). Ruam pada kulit lapisan stratum korneum menyebabkan bakteri
berawal dengan terjadinya papulae eritrema mudah menginfeksi kulit. Keadaan ini disebut
(penonjolan kulit tanpa berisi cairan, berbentuk scabies dengan infeksi sekunder. Bakteri yang
bulat, berbatas tegas, berwarna merah, ukuran biasanya menyebabkan infeksi sekunder
<1 cm) yang terus berkembang menjadi vesicle adalah Streptococcus pyogenes dan
atau pustule (penonjolan kulit berisi cairan Staphylococcus aureus (Engelman, et al.,
atau nanah). Adanya terowongan di bawah 2013).

41
Tias Pramesti Griana

Gambar 3. A. Scabies dengan infeksi sekunder. Tampak papule dan pustule (Walton & Currie, 2007). B.
Tampak terowongan pada kulit (tanda panah) (Oakley, Scabies, 2013)

PENGOBATAN samping akibat penggunaan benzyl benzoate,


Terapi Scabies dilakukan dengan disarankan dalam penggunaannya dilakukan
memberikan skabisida, tetapi sampai saat ini pengenceran untuk menghidari adanya efek
obat pilihan yang paling tepat masih dalam samping (McCarthy, et al, 2004).
perdebatan. Salep sulfur 5% - 10% telah Crotamiton 10% (Eurax) telah
digunakan selama satu abad dengan hasil yang digunakan secara luas karena toksisitasnya
memuaskan. Salep sulfur terdiri dari campuran yang rendah. Crotamiton 10% berhasil
sulfur dan jeli petroleum atau krim dingin. mengobati 50% - 70% penderita dengan
Campuran ini diberikan secara topikal pada efektif. Kekurangan obat jenis ini adalah
malam hari selama tiga malam (Oakley, memerlukan aplikasi berulang kali selama 5
Scabies, 2013). Efek samping penggunaan hari untuk mendapatkan respon yang
sulfur adalah menyebabkan iritasi kulit, kotor, memuaskan (McCarthy, et al, 2004). Efek
dan berbau, membutuhkan penggunaan yang samping yang mungkin terjadi adalah iritasi
berulang-ulang sehingga tidak disukai oleh kulit, dermatitis alergika yang menimbulkan
penderita. Maka saat ini salep sulfur sudah rasa gatal, terbakar, ditusuk, dan ruam. Belum
tidak digunakan lagi (McCarthy, et al, 2004). diketahui keamanannya untuk anak-anak dan
Benzyl benzoate, bentuk ester dari wanita hamil (Walker dan Johnstone, 2000).
asam benzoate dan benzyl alcohol, merupakan Gamma benzene hexachloride 1%
hasil isolasi dari bahan alam, disebut sebagai (Lindane, Kwell, Quellada) merupakan
balsam dari Peru, dan telah digunakan secara insektisida organochlorine yang menunjukkan
efektif selama lebih dari 60 tahun dalam efek penyembuhan sebesar 98% pada
larutan 25% (Ascabiol). Benzyl benzoate penderita, meskipun pemberiannya hanya
merupakan agen yang cepat bereaksi dan selama 6 jam. Lindane telah digunakan sejak
penggunaan dalam waktu singkat sudah cukup lama, tetapi akhir-akhir ini dilaporkan terjadi
efektif, tetapi tetap disarankan penggunaan peningkatan resistensi tungau terhadap obat
solusio ini selama 24 jam (Walton, et al, tersebut. Lindane dapat diserap ke sistemik
2000). Efek samping iritasi kulit yang terjadi ketika diberikan secara topikal, khususnya
pada penggunaan benzyl benzoate hanya pada kulit yang rusak. Absorbsi sistemik lebih
beberapa menit. Benzyl benzoate secara in besar pada bayi daripada anak kecil. Efek
vitro merupakan agen antiscabies yang sangat samping neurotoksik (kejang) telah dilaporkan
aktif dan menunjukkan penyembuhan yang terjadi pada bayi, anak-anak dan orang dengan
sangat baik. Telah dilaporkan terjadinya efek luka terbuka pada kulit. Penggunaan Lindane
samping dermatitis kontak alergika pada juga berhubungan dengan efek samping
penderita yang menggunakan solusio ini tetapi anemia aplastik idiosinkratik sehingga produk
hal ini jarang terjadi. Penelitian menunjukkan ini ditarik dari peredaran (Walton dan Currie,
bahwa 383 penderita anak-anak yang 2007).
menggunakan benzyl benzoate mengalami Permethrin 5%, meskipun lebih mahal
gangguan neurotoksik (Walker dan Johnstone, daripada agen yang lain, sekarang menjadi
2000). Meskipun gangguan neurotoksik yang terapi pilihan di Australia, Inggris, dan
timbul tidak dapat disimpulkan sebagai efek Amerika. Permethrin merupakan insektisida

42
Scabies (37-46) El-Hayah Vol. 4, No.1 September 2013

sintetik pyrethoid turunan dari indica) dan kunyit (Curcuma longa) (Biswas,
chrysanthemums yang mudah ditoleransi dan et al,2002; Hashmat, et al, 2012), dan adas
toksisitasnya rendah, sedikit diabsorbsi oleh manis atau anis (Pimpinella anisum) (Duke,
kulit dan yang terabsorbsi langsung 2000; Rayburn, 2007) memiliki efek sebagai
dimetabolisme oleh tubuh. Aplikasi topikal skabisida.
lebih baik efeknya dibanding dengan oral. Dari Hasil penelitian menunjukkan dari segi
program pemberantasan scabies secara masal kesembuhan klinis, krim permetrin 5% lebih
pada suku Aborigin di Australia utara, efektif dibandingkan krim ekstrak biji mimba
menunjukkan bahwa permethrin dapat 10%. Sedangkan dari segi hasil dermoskopis
menyembuhkan 90% penderita (Walton, et al, antara krim permetrin dan mimba tidak
2000). Pengobatan scabies selama 2 minggu menunjukkan perbedaan bermakna (Zainal, et
dengan pemberian aplikasi ganda dari al, 2013). Meskipun disimpulkan bahwa krim
permethrin 2.5% cream sama efektifnya ekstrak biji mimba 10% tidak lebih efektif jika
dengan pemberian aplikasi tunggal Tenutex dibandingkan krim permetrin 5%, pada
emulsion. Setelah pengobatan diulang selama 4 penelitian yang dilakukan oleh Charles dan
minggu, tampak permethrin 2.5% Charles (1992), menunjukkan bahwa
menunjukkan hasil yang lebih baik dari pada penggunaan kombinasi daun mimba dan kunyit
Tenutex emultion (Goldusta, et al, 2013). yang dibuat menjadi pasta dapat
Pemberian secara tunggal pada malam hari menyembuhkan scabies pada 814 penderita.
hampir sama efektifnya dengan Lindane Sebesar 97% dari kasus scabies dapat
(Walker dan Johnstone, 2000). disembuhkan dalam 3-15 hari pengobatan.
Ivermectin adalah antibiotik lakton
makrosiklik dari kelompok avermectin, yang PENCEGAHAN
berasal dari Actinomicetes yang hidup di tanah Setiap orang yang tinggal dan kontak
yaitu Streptomices avermectalis. Obat ini langsung bersama penderita harus diobati
menunjukkan aktivitas spektrum luas terhadap meskipun tidak timbul gejala gatal-gatal. Hal
nematoda maupun arthropoda. Obat ini ini disebabkan gejala gatal baru timbul setelah
digunakan secara luas untuk tungau sarcoptes beberapa minggu setelah infestasi tungau.
pada hewan dan pada manusia. Ivermectin Baju, sprei, sarung bantal, selimut handuk,
merupakan terapi pilihan untuk filariasis saputangan, dan kain lainnya yang sebelumnya
cacing Onchocerca volvulus dan nematoda digunakan oleh penderita disarankan dicuci
Strongylus stercoralis, serta digunakan secara dengan air panas dan dijemur dibawah sinar
luas untuk Wucheria branchofti dan Brugia matahari atau dry cleaned untuk membunuh
malayi (penyebab kaki gajah) (McCarthy, et tungau yang menempel sehingga tidak menjadi
al, 2004). Dari penelitian yang bertujuan sumber penularan (Oakley, 2009).
membandingkan efikasi antara ivermectin (oral
dosis tunggal) dan Lindane lotion 1% (topikal KESIMPULAN
aplikasi ganda) menunjukkan bahwa
ivermectin lebih efektif dibandingkan Lindane Scabies merupakan penyakit yang sulit
lotion 1% (Goldustb, et al, 2013). Di lain ditangani baik dalam hal pengobatan maupun
pihak, Huffam dan Currie (1998) pencegahannya. Hal ini disebabkan karena
membuktikan bahwa pemberian ivermectin tungau Sarcoptes scabiei dapat hidup diluar
dengan dosis berulang berhasil tubuh manusia dan masih mampu menginfeksi
menyembuhkan penderita hiperinfestasi tungau inang yang lain. Penelitian berbagai macam
Sarcoptes scabiei, meskipun setengah dari skabisida menunjukkan bahwa hampir
jumlah penderita yang sembuh mengalami seluruhnya memberikan efek samping pada
kekambuhan setelah lebih dari 6 minggu. penderita. Pengembangan penelitian terapi
Skabisida baru yang menjanjikan scabies berbahan dasar alam mulai
berasal dari sejumlah minyak esensial dimana dikembangkan. Berbagai macam spesies
terpenoid banyak digunakan sebagai tanaman telah diketahui efektif
komponen aktif primer. Penelitian secara in menyembuhkan penderita. Hal yang penting
vitro menunjukkan bahwa minyak pohon teh diperhatikan dalam pencegahan penyebaran
(tea tree) 5% yang berasal dari pohon penyakit scabies adalah mengobati semua
Melaleuca alternifolia (Walton dan Currie, orang yang kontak langsung dengan penderita
2007), pasta dari daun mimba (Azadirachta serta membersihkan semua barang dan pakaian

43
Tias Pramesti Griana

yang sebelumnya digunakan oleh penderita /biology.html. Diakses pada tanggal


dengan cara dicuci menggunakan air panas dan 5 Mei 2014. Pukul: 20.00.
dijemur dibawah sinar matahari atau dry Charles, V, dan Charles, S. 1992. The use and
cleaned untuk membunuh tungau yang efficacy of Azadirachta indica ADR
menempel. ('Neem') and Curcuma longa
('Turmeric') in scabies. A pilot study.
DAFTAR PUSTAKA Tropical Georgia Medicine , 44 (1-
2), 178-181.
Afraniza, Y. 2011. Hubungan Antara Praktik Duke, JA. 2000. The Green Pharmacy. Herbal
Kebersihan Diri dan Angka Kejadian Handbook. Rodale.
Skabies di Pesantren Kyai Gading Engelman, D, Kiang, K, Chosidow, O,
Kabupaten Demak. Skripsi yang McCarthy, J, Fuller, C, Lammie, P,
diterbitkan , Fakultas Kedokteran et al. 2013. Toward the Global
Universitas Diponegoro. Semarang. Control of Human
Antariksa, EH. 2012. Hubungan Personal Scabies:Introducing the International
Hygiene dengan Kejadian Skabies Alliance for the Control of Scabies.
pada Kelompok Khusus (Santri) di PLOS Neglected Tropical Diseases.
Pondok Modern Muhammadiyah 7 (8):1-4.
Paciran Kabupaten Lamongan. Fuller, LC. 2013. Epidemiology of Scabies.
Skripsi yang diterbitkan. Program Curr Opin Infect Dis. 26 (2):123-
Studi Keperawatan Universitas 126.
Muhammadiyah Surabaya. Surabaya. Goldusta, M, Rezaee, E, Raghifar, R, &
Arlian, LG. 1989. Biology, Host Relation, and Naghavi-Behzad, M. 2013.
Epidemiology of Sarcoptes Scabiei. Comparison of permethrin 2.5 %
Annual Review of Entomologi. cream vs. Tenutex emulsion for the
34:139-161. treatment of scabies. Annual of
Badri, M. 2007. Hygiene Perseorangan Santri Parasitology. 59 (1):31-35.
Pondok Pesantren Wali Songo Goldustb, M, Rezaee, E, Raghifar, R, dan
Ngabar Ponorogo. Media Litbang Naghavi-Behzad, M. 2013.
Kesehatan. XVII (2):20-28. Ivermectin vs. lindane in the
Bandi, KM, dan Saikumar, C. 2012. Sarcoptic treatment of scabies. Annual of
Mange: A Zoonotic Ectoparasitic Parasitology. 59 (1):37-41.
Skin Disease. Journal of Clinical Hashmat, I, Azad, H, & Ahmed, A. 2012.
And Diagnostic Research. Hal.1-2. Neem (Azadirachta indica A. Juss) -
Biswas, K, Cattopadhyay, I, dan Banerjee, RK. A Nature's Drugstore: An overview.
2002. Biological activities and International Research Journal of
medicinal properties of Neem Biology Sciences. 1 (6):76-79.
(Azadirachta indica). Current Hee, RV. 2005. Jeremy Thriverius (1504-
Science. 821 (11), 1336-1345. 1554) : humanist doctor, born 500
Burgess, I. (1994). Sarcoptes scabiei and years ago. Revue Médicale de
scabies. Advances in Parasitology. Bruxelles. 26:475-478.
33:235-292. Hengge, UR, Currie, BJ, Jager, G, dan
Celsus, A C. 2014. Celsus De Medicina. (1. Schwartz, RA. 2006. Scabies : a
Loeb Classical Library edition, Ed.) ubiquitous neglected skin disease.
Retrieved May 2, 2014, from Bill Lancet Infectious Disease. 6:769-
Thayer's: 779.
http://penelope.uchicago.edu/Thayer/ Heukelbach, J, dan Feldmeier, H. 2006.
E/Roman/Texts/Celsus/6*.html. Scabies. Lancet. 367 (9524):1767-
Diakses pada tanggal 5 Mei 2014. 1774.
Pukul: 20.00. Huffam, SE, dan Currie, BJ. 1998. Ivermectin
Centers for Disease Control and Prevention for Sarcoptes scabiei
(CDC). 2010. Parasite-Scabies. hyperinfestation. International
Retrieved May 4, 2014, from Centers Journal of Infectious Disease. 2 (3):
for Disease Control and Prevention: 152-154.
http://www.cdc.gov/parasites/scabies

44
Scabies (37-46) El-Hayah Vol. 4, No.1 September 2013

Ihrig, T. 2013. Sarcoptes scabiei. Retrieved University Of Nebraska-Lincoln:


May 2, 2014, from Animal Diversity http://lancaster.unl.edu/pest/resources
Web: /medicalmites.shtml. Diakses pada
http://animaldiversity.ummz.umich.e tanggal 5 Mei 2014. Pukul: 20.00.
du/accounts/Sarcoptes_scabiei/. Poeranto, S, Sardjono, TW, Hakim, L, Sanjoto,
Diakses pada tanggal 5 Mei 2014. P, & Rahajoe, S. 1997. Pengobatan
Pukul: 20.00. dengan gamexan pada penderita
Larrosa, A, Cortes-Blanco, M, Martinez, S, scabiosis di pondok pesantren Al
Clerencia, C, Urdaniz, L, Urban, J, et Munawwariyyah Sudimoro, Malang.
al. 2003. Nosocomial outbreak of Majalah Kedokteran Unibraw. 13
scabies in a hospital in Spain. Europe (2):69-73.
Surveillence. 8 (10):199-203. Ramos-e-Silva, M. 1998. Giovan Cosimo
Lassa, S, Campbell, MJ, dan Bennett, CE. Bonomo (1663-1696): Discoverer of
2011. Epidemiology of Scabies the etiology of scabies. International
Prevalence in the U.K. From General Journal of Dermatology. 37 (8):625-
Practice Record. The British Journal 630.
Of Dermatology. 164 (6):1329-1334. Rayburn, D. 2007. Let's Get Natural With
Mannocci, A, Thiene, D, Semyonov, L, Herbs. Huntsville: Ozark Mountain.
Boccia, A, & Torre, G. 2014. A Raza, N, Qadir, S N, dan Agha, H. 2009. Risk
cross-sectional study on factors for scabies among soldiers in
dermatological diseases among male Pakistan : case-control study. Eastern
prisoners in southern Lazio, Italy. Mediterranean Health Journal. 15
International Journal of (5):1105-1110.
Dermatology. 53 (5):586-592. Rohmawati, RN. 2010. Hubungan Antara
McCarthy, JS, Kemp, D, dan Currie, BJ. 2004. Faktor Pengetahuan dan Perilaku
Scabies : more than just an irritation. dengan Kejadian Skabies di Pondok
Postgraduate Medical Journal. Pesantren Al-Muayyad Surakarta.
80:382-387. Skripsi yang diterbitkan. Program
Mellanby, K. 1941. The Transmission of Studi Kesehatan Masyarakat Fakultas
Scabies. British Medical Journal. Ilmu Kesehatan Universitas
Hal.405-406. Muhammadiyah Surakarta.
Michigan Department of Community Health Surakarta.
(MDCH). 2005. Scabies Prevention Roncalli, RA. 1987. The history of scabies in
And Control Manual. Michigan: veterinary and human medicine from
Michigan Department of Community biblical to modern times. Veterinary
Health. Parasitology. 25 (2):193-198.
Nugraheni, DN. 2008. Pengaruh Sikap Ryan, J. 2010. Frequency Rates and Locations
Tentang Kebersihan Diri Terhadap of Scabies. Retrieved May 2, 2014,
Timbulnya Skabies (Gudik) Pada from Ezinearticles:
Santriwati Di Pondok Pesantren Al- http://ezinearticles.com/?Frequency-
Muayyad Surakarta. Skripsi yang Rates-and-Locations-of-
diterbitkan. Fakultas Ilmu Kesehatan Scabies&id=5259228. Diakses pada
Universitas Muhammadiyah tanggal 5 Mei 2014. Pukul: 20.00.
Surakarta. Surakarta. Sterling, G, Janniger, C, Kihiczak, G,
Oakley, A. 2013. Scabies. Retrieved May 7, Schwartz, R, dan Fox, M. 1992.
2014, from DermNet NZ : Scabies. Am Fam Physician , 46 (4),
http://www.dermnetnz.org/arthropod 1237-1241.
s/scabies.html. Diakses pada tanggal Walker, G, dan Johnstone, P. 2000.
5 Mei 2014. Pukul: 20.00. Interventions for treating scabies.
Oakley, A. 2009. Scabies.Diagnosis and Conchrae Database Syst Rev. 3.
Management. Best Practice Journal. Walton, SF, dan Currie, BJ. 2007. Problem in
(19):12-16. Diagnosing Scabies, a Global
Ogg, B. 2014. UNL Extension in Lancaster Disease in Human and Animal
County.Insects, Spiders, Mice and Populations. Clinical Microbiology
More. Retrieved May 2, 2014, from Reviews. 20 (2):268-279.

45
Tias Pramesti Griana

Walton, S, Myerscough, M, dan Currie, B.


2000. Studies in vitro on the relative
efficacy of current acaricides for
Sarcoptes scabiei var. hominis.
Trans R Soc Trop Med Hyg. 94
(1):92-96.
Wardhana, AH, Manurung, J, dan Iskandar, T.
2006. Skabies : Tantangan Penyakit
Zoonosis Masa Kini Dan Masa
Mendatang. WARTAZOA. 16 (1):40-
52.
Yasin. 2009. Prevalensi Skabies dan Faktor-
Faktor yang Mempengaruhinya pada
Siswa-Siswi Pondok Pesantren Darul
Mujahadah Kabupaten Tegal
Provinsi Jawa Tengah Bulan
Oktober Tahun 2009. Skripsi yang
diterbitkan. Program Studi
Pendidikan Dokter Fakultas
Kedokteran Dan Ilmu Kesehatan
Unversitas Islam Negeri Syarf
Hidayatullah. Jakarta.
Zainal, N, Tabri, F, Muchtar, SV, dan Djawad,
K. 2013. Efektivitas Krim Ekstrak
Biji Mimba 10% Pada Penderita
Skabies. Pasca Sarjana Universitas
Hasanudin. Makasar.

46

View publication stats