Sunteți pe pagina 1din 7

Amar Ma’ruf Nahi Munkar Simbol

Keimanan dan Kepedulian Umat


(1391 Views) April 25, 2012 12:00 pm | Published by Redaksi | No comment

(ditulis oleh: Al-Ustadz Ruwaifi bin Sulaimi)

Perjalanan hidup suatu umat seringkali tidak selalu dalam satu keadaan. Pasang surutnya iman,
berat ringannya tantangan, dan besar kecilnya godaan sangat berpengaruh bagi eksistensi mereka
dalam kehidupan. Terkadang ia mampu bertahan di atas kebaikan, dan terkadang pula terseok-
seok diempaskan oleh badai kemungkaran. Mahasuci Allah dengan segala hikmah-Nya yang
telah membimbing para hamba untuk saling menyeru kepada kebaikan dan mencegah dari
kemungkaran, serta menjadikannya sebagai amalan mulia dalam semua syariat (agama) yang
dibawa oleh para nabi dan rasul-Nya. Bahkan, karenanya Allah l menurunkan kitab suci dan
mengutus para rasul di muka bumi. Demikianlah penuturan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah t
dalam kitab al-Istiqamah (2/198).
Dalam istilah agama, amalan menyeru kepada kebaikan dan mencegah dari kemungkaran disebut
dengan al-amru bil ma’ruf wan nahyu ‘anil mungkar
(‫ي َع ِن أال ُم أنك َِر‬
ُ ‫وف َوالنَّ أه‬ ِ ‫)اَ أْل َ أم ُر ِب أال َم أع ُر‬
َ ‫أ‬
- al-amru (‫)اَْل أم ُر‬: menyeru/memerintah
- bil ma’ruf (‫وف‬ ِ ‫) ِب أال َم أع ُر‬: dengan (kepada) kebaikan
- wan nahyu (‫ي‬ ُ ‫)والنَّ أه‬:
َ dan mencegah/melarang
- ‘anil mungkar (‫) َع ِن أال ُم أنك َِر‬: dari kemungkaran.
Istilah itu pun kemudian lebih dikenal di masyarakat kita dengan sebutan amar ma’ruf nahi
mungkar.
Para pembaca yang mulia, amar ma’ruf nahi mungkar adalah simbol keimanan dan kepedulian
suatu umat. Keberadaannya pada suatu umat laksana tonggak bagi kehidupan mereka. Ketika
tonggak amar ma’ruf nahi mungkar itu roboh, akan roboh pula tatanan kehidupan mereka dan
akan berakhir dengan kebinasaan. Allah l berfirman:
“Telah dilaknati orang-orang kafir dari Bani Israil dengan lisan Dawud dan Isa putra Maryam.
Hal itu disebabkan mereka durhaka dan selalu melampaui batas. Mereka satu sama lain (selalu)
tidak saling mencegah dari kemungkaran yang mereka perbuat. Sesungguhnya amat buruklah
apa yang selalu mereka perbuat itu.” (al-Maidah: 78—79)
“Mengapa orang-orang alim mereka dan pendeta-pendeta mereka tidak mencegah mereka
mengucapkan perkataan bohong dan memakan yang haram? Sesungguhnya amat buruk apa yang
telah mereka kerjakan itu.” (al-Maidah: 63)
Sebaliknya, ketika tonggak amar ma’ruf nahi mungkar pada suatu umat itu tegak, akan tegak
pula tatanan kehidupan mereka dan akan berakhir dengan keberuntungan. Dengan sebab itulah
Allah l menyematkan gelar “sebaik-baik umat” kepada umat Islam yang dipelopori oleh
Rasulullah n dan para sahabatnya, sebagaimana dalam firman-Nya:
“Kalian adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang
ma’ruf, mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya ahli kitab beriman,
tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka
adalah orang-orang yang fasik.” (Ali Imran: 110)
Dengan sebab itu pula, terbedakan antara kehidupan orang-orang yang beriman dengan
kehidupan orang-orang yang munafik. Allah l memuji kehidupan orang-orang yang beriman,
sebagaimana dalam firman-Nya:
“Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebagian mereka (adalah) menjadi
penolong bagi sebagian yang lain. Mereka menyeru (mengerjakan) yang ma’ruf, mencegah dari
yang mungkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat, serta mereka taat kepada Allah dan Rasul-
Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah, sesungguhnya Allah Mahaperkasa lagi
Mahabijaksana.” (at-Taubah: 71)
Allah l pun mencela kehidupan orang-orang yang munafik, sebagaimana dalam firman-Nya:
“Orang-orang munafik lelaki dan perempuan, sebagian dengan sebagian yang lain adalah sama.
Mereka menyeru membuat yang mungkar dan mencegah berbuat yang ma’ruf, serta
menggenggamkan tangannya (berlaku kikir). Mereka telah lupa kepada Allah, maka Allah
melupakan mereka. Sesungguhnya orang-orang munafik itu adalah orang-orang yang fasik.” (at-
Taubah: 67)

Kewajiban Menegakkan Amar Ma’ruf Nahi Mungkar


Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin t berkata, “Amar ma’ruf nahi mungkar adalah
tonggak yang kuat untuk mempertahankan keberadaan suatu umat, kemuliaan dan keutuhannya.
Dengannya, suatu umat tidak bisa diporak-porandakan oleh hawa nafsu dan tidak bisa pula
dicerai-beraikan oleh jalan-jalan kesesatan.” (Majalis Syahri Ramadhan, al-Majlis al-‘Isyrun)
Betapa tinggi kedudukan amar ma’ruf nahi mungkar itu. Betapa besar manfaatnya bagi
kehidupan umat. Ketika ia dicampakkan, ilmu tentangnya diremehkan, dan pelaksanaannya tidak
dipedulikan, niscaya akan tersebar kesesatan dan kebodohan di tengah umat, negeri-negeri akan
hancur, dan umat manusia pun akan binasa.
Asy-Syaikh Muhammad bin Ibrahim Alusy Syaikh t berkata, “Sesungguhnya amar ma’ruf nahi
mungkar merupakan poros terkuat agama ini. Dengan misi itulah, Allah l mengutus para nabi
dan rasul. Ketika ia dicampakkan, ilmu tentangnya diremehkan, dan pelaksanaannya tidak
dipedulikan, niscaya akan tersebar kesesatan dan kebodohan (di tengah umat, pen.), negeri-
negeri akan hancur, dan umat manusia pun akan binasa.” (ad-Durar as-Saniyyah 15/15)
Tak heran jika Allah l dan Rasul-Nya n menjadikan amar ma’ruf nahi mungkar tersebut sebagai
kewajiban yang harus diperhatikan. Dalam kalam ilahi, Allah l berfirman:
“Dan hendaklah ada di antara kalian segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyeru
kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar, merekalah orang-orang yang beruntung.”
(Ali Imran: 104)
Demikian halnya dalam as-Sunnah, Rasulullah n dengan lisannya yang mulia bersabda:
ِ ‫ لَت َأ أ ُم ُر َّن بِال َم أع ُر‬،ِ‫َوالَّذِي نَ أفسي بِيَ ِده‬
َ َ‫ َولَت َ أن َه ُو َّن َع ِن ال ُم أنك َِر أَ أو لَيُو ِشك ََّن هللاُ أَ أن يَ أبع‬،‫وف‬
ُ‫ث َعلَ أي ُك أم ِعقَابا ً ِم أنهُ ث ُ َّم تَدأع أُونَهُ فَ ََل يُ أست َ َجاب‬
‫لَ ُك أم‬
“Demi (Allah l) Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sungguh tegakkanlah oleh kalian amar
ma’ruf nahi mungkar (perintah kepada yang ma’ruf dan larangan dari yang mungkar). Jika kalian
tidak melakukannya, niscaya Allah l akan menurunkan kepada kalian hukuman dari-Nya,
kemudian doa kalian tidak lagi dikabulkan-Nya.” (HR. at-Tirmidzi dalam kitab Sunan-nya, no.
2169 dari sahabat Hudzaifah bin al-Yaman z. Dihasankan oleh asy-Syaikh al-Albani dalam al-
Misykah, no. 5140 dan Shahih at-Targhib wat Tarhib, no. 2313)
Al-Hafizh Yahya bin Syaraf an-Nawawi t berkata, “Sungguh telah sepakat (dalil-dalil) dari Al-
Qur’an, as-Sunnah, dan ijma’ (kesepakatan) ulama tentang kewajiban beramar ma’ruf nahi
mungkar.” (Syarh Shahih Muslim 2/212)
Al-Imam Muhammad bin Ali asy-Syaukani t berkata, “Amar ma’ruf nahi mungkar termasuk
kewajiban terbesar dalam syariat (Islam) yang suci ini. Ia adalah salah satu landasannya yang
utama dan tonggaknya yang terkokoh. Dengan amar ma’ruf nahi mungkar, segala aturan dalam
syariat ini menjadi sempurna dan puncak kemuliaannya pun tampak semakin tinggi.” (Fathul
Qadir, tafsir Ali Imran: 104)
Mungkin di antara pembaca ada yang bertanya, “Apakah kewajiban amar ma’ruf nahi mungkar
itu berlaku untuk semua elemen umat ataukah ada rinciannya?”
Al-Hafizh Yahya bin Syaraf an-Nawawi t menjelaskan bahwa kewajiban beramar ma’ruf nahi
mungkar itu sifatnya fardhu kifayah. Apabila sebagian dari umat ini ada yang melakukannya,
gugurlah kewajiban tersebut dari sebagian yang lain. Namun, jika semua elemen umat
meninggalkannya, semua yang berkemampuan tanpa ada uzur dan rasa takut, akan berdosa
karenanya. Beramar ma’ruf nahi mungkar pun bisa menjadi kewajiban bagi orang tertentu secara
khusus, ketika tidak ada yang mengetahui hal itu selain dia atau tidak ada yang mampu
mencegah dari kemungkaran selainnya. (Lihat Syarh Shahih Muslim 2/213)
Al-Imam Abdurrahman bin Hasan Alusy Syaikh t menambahkan bahwa kewajiban beramar
ma’ruf nahi mungkar itu dapat dilakukan dengan menggunakan tangan, lisan, dan hati dalam
lingkup yang dimampui. Kewajiban beramar ma’ruf nahi mungkar dengan menggunakan tangan
dan lisan hukumnya fardhu kifayah. Apabila sebagian umat ini ada yang melakukannya,
gugurlah kewajiban tersebut dari sebagian yang lain. Namun, jika semua elemen umat
meninggalkannya, semuanya pun berdosa karenanya. Adapun kewajiban beramar ma’ruf nahi
mungkar dengan menggunakan hati berlaku bagi setiap muslim dalam segala kondisinya. (Lihat
ad-Durar as-Saniyyah 8/62)

Kaidah Penentuan yang Ma’ruf dan yang Mungkar


Para Pembaca yang mulia, kewajiban beramar ma’ruf nahi mungkar tidak mungkin terlaksana
tanpa mengilmui (memahami dengan baik) sesuatu yang ma’ruf dan yang mungkar. Demikian
pula pelaku amar ma’ruf nahi mungkar, tidak mungkin menegakkannya dengan benar tanpa
mengilmui (memahami dengan baik) sesuatu yang ma’ruf dan yang mungkar itu. Bahkan,
mudarat (efek negatif) yang ditimbulkannya seringkali lebih besar daripada manfaatnya.
Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin t berkata, “Seseorang yang melakukan aktivitas
amar ma’ruf nahi mungkar harus mengilmui (memahami dengan baik) hukum-hukum syar’i
terkait dengan yang ma’ruf dan yang mungkar. Jika pelaku amar ma’ruf nahi mungkar tidak
memahaminya dengan baik, lalu menyeru orang kepada sesuatu yang dianggapnya ma’ruf
padahal dalam pandangan syariat bukan ma’ruf, mudarat (efek negatif) yang ditimbulkannya
akan lebih besar daripada manfaatnya.” (Majmu’ah Rasail asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-
Utsaimin 5/208)
Jika demikian, apa kaidah penentuan yang ma’ruf dan yang mungkar itu?
Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin t dalam Syarh al-Aqidah al-Wasithiyyah (2/329)
menjelaskan bahwa sesuatu yang ma’ruf adalah yang dinilai baik oleh syariat. Adapun yang
mungkar adalah yang dinilai jelek oleh syariat. Segala sesuatu yang diperintahkan dalam syariat
adalah ma’ruf, sedangkan segala sesuatu yang dilarang dalam syariat adalah mungkar. Dalam
Syarh Riyadhish Shalihin “Bab al-Amru bil Ma’ruf wan Nahyu ‘anil Mungkar”, beliau
memperjelas bahwa sesuatu yang ma’ruf adalah yang dinilai baik dan ditetapkan oleh syariat,
berupa berbagai ibadah yang bersifat ucapan dan perbuatan, baik yang lahir maupun yang batin.
Adapun yang mungkar adalah segala sesuatu yang diingkari oleh syariat dan dilarangnya, berupa
berbagai kemaksiatan, kekufuran, kefasikan, pelanggaran, dusta, ghibah (menceritakan kejelekan
sesama muslim), namimah (mengadu-domba), dan sebagainya.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah t dalam kitab al-Istiqamah (2/311) berkata, “Sesungguhnya Allah
l menyeru kita agar berbuat yang ma’ruf, yaitu ketaatan kepada Allah l dan Rasul-Nya n. Sesuatu
yang ma’ruf itu mencakup ash-shalah (kesalehan), al-hasanat (kebagusan), al-khair (kebaikan),
dan al-bir (kebajikan). Allah l juga mencegah dari kemungkaran, yaitu kemaksiatan kepada Allah
l dan Rasul-Nya n. Sesuatu yang mungkar itu mencakup al-fasad (kerusakan), as-sayyiat
(keburukan), asy-syar (kejelekan), dan al-fujur (kejahatan).”
Asy-Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di t menyatakan bahwa sesuatu yang ma’ruf itu
adalah yang dinilai baik oleh syariat dan akal sehat, yang meliputi hak-hak Allah l dan hak-hak
sesama hamba. Beliau t juga menjelaskan bahwa segala sesuatu yang tanpa keberadaannya tidak
terwujud yang ma’ruf maka ia juga termasuk hal yang ma’ruf. Demikian pula segala sesuatu
yang dengan keberadaannya menjadi terwujud sebuah kemungkaran maka ia juga termasuk dari
kemungkaran. (Lihat Taisir al-Karimirrahman, tafsir al-Hajj: 41)
Para Pembaca yang mulia, dari keterangan di atas dapat disimpulkan bahwa:
1. Sesuatu yang ma’ruf adalah yang dinilai baik oleh syariat dan akal sehat. Ini mencakup semua
yang diperintahkan oleh Allah l dan Rasul-Nya n dari berbagai ibadah yang bersifat ucapan dan
perbuatan, yang berkaitan dengan hak-hak Allah l dan juga hak-hak hamba, baik yang lahir
maupun yang batin.
2. Segala bentuk ketaatan kepada Allah l dan Rasul-Nya n termasuk dari yang ma’ruf.
3. Segala sesuatu yang tanpa keberadaannya tidak terwujud yang ma’ruf maka ia juga termasuk
hal yang ma’ruf.
4. Sesuatu yang ma’ruf mencakup semua yang diistilahkan dalam syariat dengan ash-shalah
(kesalehan), al-hasanat (kebagusan), al-khair (kebaikan), dan al-bir (kebajikan).
5. Sesuatu yang mungkar adalah yang dinilai jelek oleh syariat dan akal sehat.
6. Segala sesuatu yang diingkari oleh syariat dan dilarang olehnya berupa berbagai kemaksiatan,
kekufuran, kefasikan, pelanggaran, dusta, ghibah, namimah, dan sebagainya termasuk hal
kemungkaran.
7. Segala bentuk kemaksiatan kepada Allah l dan Rasul-Nya n termasuk kemungkaran.
8. Segala sesuatu yang dengan keberadaannya akan terwujud sebuah kemungkaran, ia juga
termasuk kemungkaran.
9. Sesuatu yang mungkar mencakup semua yang diistilahkan dalam syariat dengan al-fasad
(kerusakan), as-sayyiat (keburukan), asy-syar (kejelekan), dan al-fujur (kejahatan).

Jika demikian, apa contoh nyata dari yang ma’ruf dan yang mungkar itu?
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah t dalam kitab al-Istiqamah (2/209) menyebutkan beberapa contoh
nyata dari yang ma’ruf, antara lain:
a. Syariat Islam yang dikandung oleh rukun Islam: shalat lima waktu yang dikerjakan pada
waktunya, berbagai sedekah yang diperintahkan dalam syariat, puasa Ramadhan, dan berhaji ke
Baitullah.
b. Rukun iman: iman kepada Allah l, iman kepada para malaikat-Nya, iman kepada kitab-kitab-
Nya, iman kepada para rasul-Nya, iman kepada hari akhir, serta iman kepada takdir (ketentuan)
Allah l yang baik dan yang buruk.
c. Ihsan, yaitu engkau beribadah kepada Allah l seakan-akan engkau melihat-Nya, dan jika tidak
melihat-Nya sungguh Dia l melihatmu.
d. Segala sesuatu yang diperintahkan oleh Allah l dan Rasul-Nya n, baik yang bersifat lahir
maupun batin.
d. Mengikhlaskan agama ini untuk Allah l semata, bertawakal hanya kepada-Nya, mendahulukan
kecintaan kepada Allah l dan Rasul-Nya n daripada selain keduanya, mengharap rahmat Allah l,
takut akan azab-Nya, sabar terhadap keputusan Allah l, dan menerima apa yang datang dari-Nya.
e. Jujur ketika berkata, menepati janji, menunaikan amanat, berbakti kepada kedua orang tua,
menyambung tali silaturahmi, tolong-menolong dalam hal kebajikan dan ketakwaan, berbuat
baik terhadap tetangga, menyantuni anak yatim dan orang miskin, berbuat baik dengan ibnu sabil
(orang yang sedang melakukan perjalanan), teman sejawat, istri, dan hamba sahaya, serta
bersikap adil dalam ucapan dan perbuatan.
f. Menganjurkan kepada akhlak mulia seperti ucapan, “Sambunglah orang yang telah
memutuskan hubungan denganmu!”, “Berilah orang yang tak mau memberimu!”, atau
“Maafkanlah orang yang menzalimimu!”.
g. Anjuran kepada persatuan dan larangan dari perselisihan, dll.
Adapun contoh nyata dari yang mungkar, disebutkan pula oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah t
dalam kitab al-Istiqamah (2/210), antara lain:
a. Perbuatan syirik kepada Allah l yang merupakan kemungkaran terbesar dalam kehidupan ini.
Syirik adalah sikap menduakan dalam berdoa atau beribadah (berdoa kepada selain Allah l di
satu sisi dan berdoa kepada Allah l di sisi yang lain). Semisal berdoa kepada matahari, bulan, dan
bintang, atau malaikat, nabi, orang saleh, jin, patung-patung mereka, kuburan-kuburan mereka,
dan lain sebagainya yang dipanjatkan kepadanya sebuah doa (selain Allah l). Berdoa kepada
selain Allah l agar dientaskan dari musibah yang sedang melanda (istighatsah), atau sujud
kepadanya. Semua yang disebutkan di atas dan yang semisalnya merupakan perbuatan syirik
yang diharamkan oleh Allah l melalui lisan para rasul.
b. Segala sesuatu yang diharamkan oleh Allah l seperti membunuh jiwa tanpa haq, memakan
harta orang lain dengan cara yang batil, baik dengan cara merampasnya, transaksi riba, maupun
perjudian.
c. Semua jenis jual beli dan muamalah yang dilarang oleh Rasulullah n.
d. Memutuskan tali silaturahmi, durhaka kepada kedua orang tua, curang dalam sukatan
(takaran) dan timbangan.
e. Semua jenis ibadah yang tidak ada tuntunannya dari Allah l dan Rasul-Nya n, dll.

Dinamika Amar Ma’ruf Nahi Mungkar


Para Pembaca yang mulia, telah berlalu keterangan seputar kedudukan amar ma’ruf nahi
mungkar, perannya yang besar dalam kehidupan, dan kewajiban untuk menegakkannya dengan
terlebih dahulu mengilmui (memahami dengan baik) kaidah penentuan yang ma’ruf dan yang
mungkar. Bagaimanakah agar penegakan amar ma’ruf nahi mungkar itu berjalan dengan baik,
mendapat ridha dari Allah l, dan berbuah berkah dalam kehidupan? Untuk meraih semua itu,
hendaknya memerhatikan hal-hal penting berikut ini.
1. Meluruskan niat dalam beramar ma’ruf nahi mungkar.
Di antara niat yang lurus dalam beramar ma’ruf nahi mungkar adalah mengharapkan pahala dari
Allah l, kekhawatiran akan azab-Nya jika tidak melakukannya, marah karena Allah l ketika
syariat-Nya dilanggar, untuk menasihati orang-orang yang beriman dan menyayangi mereka,
menginginkan keselamatan bagi mereka dari kemarahan dan azab Allah l di dunia dan akhirat,
serta karena pengagungan terhadap Allah l dan kecintaan kepada-Nya bahwa Dialah yang berhak
ditaati tanpa dimaksiati, diingat tanpa dilupakan, dan disyukuri tanpa dikufuri nikmat-Nya.
Demikian faedah dari al-Imam Ibnu Rajab t dalam Jami’ul Ulum wal Hikam, hadits ke-34.
2. Memenuhi syarat-syarat amar ma’ruf nahi mungkar, yaitu:
a. Mengilmui (memahami dengan baik) sesuatu yang ma’ruf dan yang mungkar.
b. Mengetahui kondisi seorang yang akan diseru, apakah dia berkewajiban untuk
mengerjakannya (mukallaf) ataukah tidak.
c. Mengetahui dengan yakin bahwa orang yang akan diseru kepada yang ma’ruf itu akan
meninggalkannya dan orang yang akan dicegah dari kemungkaran itu akan mengerjakannya.
d. Adanya kemampuan untuk melakukan amar ma’ruf nahi mungkar, tanpa adanya sesuatu yang
membahayakan.
e. Tidak menimbulkan kerusakan (kemungkaran) yang lebih besar dengan sebab amar ma’ruf
nahi mungkar tersebut. Demikian secara global faedah dari asy-Syaikh Muhammad bin Shalih
al-Utsaimin t dalam Syarh al-Aqidah al-Wasithiyyah (2/230—235) dan Syarh Riyadhish Shalihin
“Bab al-Amru bil Ma’ruf wan Nahyu ‘anil Mungkar”.
Ada tambahan faedah dari asy-Syaikh Shalih bin Fauzan al-Fauzan hafizhahullah dalam koleksi
fatwa beliau no. 199, yaitu:
f. Mengedepankan sikap hikmah dan lemah lembut dalam beramar ma’ruf nahi mungkar.
g. Bersabar atas segala gangguan.
h. Melakukan amar ma’ruf nahi mungkar sesuai dengan tahapan yang dibimbingkan oleh
Rasulullah n.
Al-Imam Sufyan ats-Tsauri t berkata, “Seseorang tidak boleh melakukan amar ma’ruf nahi
mungkar melainkan ada pada dirinya tiga perangai: lemah lembut ketika menyeru dan mencegah,
adil ketika menyeru dan mencegah, mengilmui sesuatu yang diseru dan dicegahnya.” (Lihat
Jami’ul Ulum wal Hikam, hadits ke-34)
3. Tahapan mengingkari/mencegah kemungkaran yang dibimbingkan oleh Rasulullah n adalah
melakukannya dengan tangan; jika tidak mampu dengan tangan, dengan lisan; dan jika tidak
mampu dengan lisan, dengan hati.
Hal ini sebagaimana sabda Rasulullah n:
‫ان‬ ِ‫ف أ‬
ِ ‫اْل أي َم‬ ‫ َوذَلِكَ أَ أ‬،‫ َو َم أن لَ أم َي أست َِط أع فَ ِبقَ أل ِب ِه‬،‫سا ِن ِه‬
ُ ‫ض َع‬ َ ‫ فَإ ِ أن لَ أم َي أست َِط أع فَ ِب ِل‬،ِ‫َم أن َرأَى ِم أن ُك أم ُم أنك ًَرا فَ أليُغَ ِي أِّرهُ ِب َي ِده‬
“Siapa saja di antara kalian yang melihat kemungkaran, hendaknya mengubahnya dengan
tangannya. Jika tidak mampu dengan tangannya, dengan lisannya. Jika tidak mampu dengan
lisannya, dengan hatinya; dan itulah selemah-lemah iman.” (HR. Muslim, no. 78 dari sahabat
Abu Sa’id al-Khudri z)
Siapakah pelaku pada masing-masing tahapan tersebut? Asy-Syaikh Abdul Muhsin al-Abbad
hafizhahullah menjelaskan bahwa yang berhak mengingkari/mencegah kemungkaran dengan
menggunakan tangan adalah pihak yang berwenang dari pemerintah kaum muslimin,1 demikian
pula setiap kepala rumah tangga terhadap anggota keluarganya secara khusus. Adapun selain
mereka, dengan menggunakan lisan apabila memang ada kemampuan. Jika tidak mampu dengan
lisan, dengan hati, yaitu dengan cara membencinya dan merasakan kebencian tersebut pada hati,
itulah selemah-lemah iman. (Lihat Fathul Qawiyyil Matin fi Syarhil Arbain, hadits ke-34)
4. Ada beberapa kesalahan dalam beramar ma’ruf nahi mungkar yang harus dihindari oleh semua
pihak yang beramar ma’ruf nahi mungkar, antara lain:
a. Tidak mengilmui (memahami dengan baik) yang halal dan yang haram, demikian pula yang
ma’ruf dan yang mungkar.
b. Tidak adanya sikap hikmah, yaitu meletakkan sesuatu pada tempatnya, dan tidak memahami
urut-urutan pentingnya permasalahan.
c. Beramar ma’ruf nahi mungkar dengan kekerasan dan jauh dari sikap lemah lembut.
d. Kurangnya kesabaran dalam beramar ma’ruf nahi mungkar.
e. Tidak memedulikan tahapan amar ma’ruf nahi mungkar yang dibimbingkan oleh Rasulullah n.
f. Tergesa-gesa melakukan amar ma’ruf nahi mungkar terhadap permasalahan besar yang terjadi
di tangah umat, tanpa berkonsultasi terlebih dahulu kepada para ulama yang mumpuni.
(Diringkas dari koleksi fatwa asy-Syaikh Shalih bin Fauzan al-Fauzan hafizhahullah no. 204)
Para Pembaca yang mulia, demikianlah sajian “Manhaji” seputar amar ma’ruf nahi mungkar.
Semoga berbuah faedah bagi kehidupan kita semua; amar ma’ruf nahi mungkar ditegakkan,
dilakukan sesuai dengan bimbingan, dan dibangun di atas lurusnya niatan. Dengan harapan,
semua itu dapat mengantarkan kepada ridha ar-Rahman dan berbuah berkah dalam kehidupan.
Amin, Ya Mujibas Sailin.

Catatan Kaki:

1 Menurut asy-Syaikh Shalih bin Fauzan al-Fauzan t dalam koleksi fatwa beliau no. 203, agar
penegakan amar ma’ruf nahi mungkar itu berjalan lebih rapi dan membuahkan hasil yang
maksimal, maka pemerintah kaum muslimin bisa membentuk secara resmi badan khusus di
bidang tersebut yang terdiri dari para ulama dan orang-orang yang mempunyai semangat tinggi
untuk menegakkan kebaikan, dengan segala sarana penunjangnya, sebagaimana yang ada di
Kerajaan Saudi Arabia.