Sunteți pe pagina 1din 15

Rhinitis Allergi

Raditya Karuna Linanda (102016046)

Fakultas Kedokteran, Universitas Kristen Krida Wacana

Jl. Arjuna Utara No.6, Jakarta Barat 11510

Telp: 021 569 42061, Fax: 021 563 1731

___________________________________________________________________________

Abstrak

Rhinitis alergika terjadi karena sistem kekebalan tubuh kita bereaksi berlebihan terhadap partikel-
partikel yang ada di udara yang kita hirup. Sistem kekebalan tubuh kita menyerang partikel-
partikel itu, menyebabkan gejala-gejala seperti bersin-bersin dan hidung meler. Partikel-partikel
itu disebut alergen yang artinya partikel-partikel itu dapat menyebabkan suatu reaksi alergi.
Rhinitis alergika biasanya mempunyai gejala selama beberapa tahun (kronik). Gejalanya mungkin
sepanjang tahun, atau hanya pada saat-saat tertentu saja. Dengan berjalannya waktu, alergen
mungkin menjadi tidak begitu mempengaruhi, dan gejala-gejalanya mungkin menjadi tidak
separah sebelumnya. Komplikasi seperti sinusitis ataupun infeksi telinga adalah yang tersering
untuk rhinitis allergika.

Kata kunci: Rhinitis alergika, allergen, sinusitis

Abstract

Allegic rhinitis occurred because our immune systems overreact to particles in the air we breathe.
Our immune system is attacking the particles, causing symptoms such as sneezing and a runny
nose. The particles called allergens, meaning that particles can cause an allergic reaction. Allergic
rhinitis usually have symptoms for several years (Chronic). The symptoms may all year, or only
on certain occasions only. As time went on, allergens may be not so affected, and symptoms may
be not a worst ever. Complications like sinusitis or ear infections is common for allergic rhinitis.

Key words: Allergic rhinitis, allergen, sinusitis


Pendahuluan

Rhinitis mempunyai banyak sebab-sebab yang mungkin. Rhinitis dapat menjadi akut atau
kronis. Allergic rhinitis adalah penyebab yang sangat umum dari rhinitis. Ia disebabkan oleh
alergi-alergi dan dikarakteristikan oleh hidung yang gatal/ingusan, bersin, dan hidung yang
buntu/mampet. Gejala-gejala alergi lain adalah; telinga-telinga dan tenggorokan yang gatal, mata-
mata yang merah/berair, batuk, kelelahan/kehilangan konsentrasi/kehilangan energi dari
kekurangan tidur, dan sakit-sakit kepala atau kepekaan muka. Orang-orang dengan allergic rhinitis
juga mempunyai kejadian yang lebih tinggi dari asma dan eczema, yang adalah juga sebagian besar
alergi aslinya. Seasonal allergic rhinitis (hay fever) biasanya disebabkan oleh serbuk sari di udara,
dan pasien-pasien yang sensitif mempunyai gejala-gejala selama waktu-waktu puncaknya selama
tahun itu. Perennial allergic rhinitis, tipe dari rhinitis kronis adalah persoalan sepanjang tahun, dan
seringkali disebabkan oleh allergens dalam rumah (partikel-partikel yang menyebabkan alergi-
alergi), seperti debu dan animal dander sebagai tambahan pada serbuk-serbuk sari yang mungkin
hadir pada saat itu. Gejala-gejala cenderung terjadi tidak peduli waktu dari tahun.
Anamnesis

Anamnesa merupakan suatu bentuk wawancara antara dokter dan pasien dengan
memperhatikan petunjuk-petunjuk verbal dan non-verbal mengenai riwayat penyakit si pasien.
Riwayat pasien merupakan suatu komunikasi yang harus dijaga kerahasiaannya yaitu segala hal
yang diceritakan penderita.
Ada 2 jenis anamnesis yang umum dilakukan, yakni Autoanamnesis dan Alloanamnesis
atau Heteroanamnesis. Pada umumnya anamnesis dilakukan dengan teknik autoanamnesis yaitu
anamnesis yang dilakukan langsung terhadap pasiennya. Pasien sendirilah yang menjawab semua
pertanyaan dokter dan menceritakan permasalahannya. Ini adalah cara anamnesis terbaik karena
pasien sendirilah yang paling tepat untuk menceritakan apa yang sesungguhnya dia rasakan1
Untuk individu dewasa, riwayat komprehensif mencakup mengidentifikasi data dan sumber
riwayat, keluhan utama, penyakit saat ini, riwayat kesehatan masa lalu, riwayat keluarga, dan
riwayat pribadi dan sosial. Pasien yang baru dirawat di rumah sakit atau klinik patut dilakukan
pengkajian riwayat kesehatan komprehensif, akan tetapi dalam banyak fasilitas akan lebih tepat
bila dilakukan wawancara yang lebih terfokuskan atau berorientasi masalah yang pelaksanaannya
fleksibel.
Dalam kasus ini, dokter melakukan autoanamnesis pada perempuan berumur 20 tahun tersebut.
Riwayat kesehatan yang perlu dikumpulkan meliputi:
(1) Identifikasi data meliputi nama, usia, jenis kelamin, alamat, agama, suku bangsa, pekerjaan,
dan status perkawinan;
(2) Keluhan utama yang berasal dari kata-kata pasien sendiri yang menyebabkan pasien mencari
perawatan;
(3) Penyakit saat ini meliputi perincian tentang tujuh karakteristik gejala dari keluhan utama yaitu
lokasi, kualitas, kuantitas, waktu terjadinya gejala, kondisi saat gejala terjadi, faktor yang
meredakan atau memperburuk penyakit, dan manifestasi terkait (hal-hal lain yang menyertai
gejala);
(4) Riwayat kesehatan masa lalu seperti pemeliharaan kesehatan, mencakup imunisasi, uji
skrining dan penyakit yang diderita pada masa kanak-kanak, penyakit yang dialami saat dewasa
lengkap dengan waktunya mencakut empat kategori yaitu medis, pembedahan, obstetrik, dan
psikiatrik;
(5) Riwayat keluarga yaitu diagram usia dan kesehatan, atau usia dan penyebab kematian dari
setiap hubungan keluarga yang paling dekat mencakup kakek-nenek, orang tua, saudara kandung,
anak, cucu
(6) Riwayat Pribadi dan Sosial seperti aktivitas dan gaya hidup sehari-hari, situasi rumah dan
orang terdekat, sumber stress jangka pendek dan panjang, pekerjaan dan Pendidikan.

Pemeriksaan Fisik

Bentuk luar hidung diperhatikan apakah ada deviasi atau depresi tulang hidung. Adakah
pembengkakan di daerah hidung dan sinus paranasal. Dengan ini dapat dipalpasi adanya krepitasi
tulang hidung pada fraktur os nasal atau rasa nyeri tekan pada peradangan hidung dan sinus
paranasal.1
Memeriksa rongga hidung bagian dalam dari depan disebut rinoskopi anterior. Diperlukan
speculum hidung. Pada anak dan bayi kadang-kadang tidak diperlukan. Otoskop dapat
dipergunakan untuk melihat bagian dalam hidung terutama untuk mencari benda asing. Speculum
dimasukkan ke dalam lubang hidung dengan hati-hati dan dibuka setelah speculum berada di
dalam dan waktu mengeluarkannya jangan ditutup dulu di dalam, supaya bulu hidung tidak
terjepit. Vestibulum hidung, septum terutama bagian anterior, konka inferior, konka media, konka
superior serta meatus sinus paranasal dan keadaan mukosa rongga hidung harus diperhatikan.
Begitu juga rongga hidung sisi yang lain. Kadang-kadang rongga hidung ini sempit karena adanya
edema mukosa. Pada keadaan seperti ini untuk melihat organ-organ yang disebut di atas lebih jelas
perlu dimasukkan tampon kapas adrenalin pantokain beberapa menit untuk mengurangi edema
mukosa dan menciutkan konka, sehingga rongga hidung lebih lapang.1
Untuk melihat bagian belakang hidung dilakukan pemeriksaan rinoskopi posterior
sekaligus untuk melihat keadaan nasofaring. Untuk melakukan pemeriksaan rinoskopi posterior
diperlukan spatula lidah dan kaca nasofaring yang telah dihangatkan dengan api lampu spiritus
untuk mencegah udara pernapasan mengembun pada kaca. Sebelum kaca ini dimasukkan, suhu
kaca dites dulu dengan menempelkannya pada kulit belakang tangan kiri pemeriksa. Pasien
diminta membuka mulut, lidah dua pertiga anterior ditekan dengan spatula lidah. Pasien bernapas
melalui mulut supaya uvula terangkat ke atas dan kaca nasofaring yang menghadap ke atas
dimasukkan melalui mulut, ke bawah uvula dan sampai nasofaring. Setelah kaca berada di
nasofaring pasien diminta bernapas biasa melalui hidung, uvula akan turun kembali dan rongga
nasofaring terbuka. Mula-mula diperhatikan bagian belakang septum dan koana. Kemudian kaca
dibuka ke lateral sedikit untuk melihat konka superior, konka media, dan konka inferior serta
meatus superior dan meatus media. Kaca diputar lebih ke lateral lagi sehingga dapat diidentifukasi
torus tubarius, muara tuba Eustachius dan fossa Rossenmuller, kemudian kaca diputar ke sisi
lainnya. Daerah nasofaring lebih jelas terlihat bila pemeriksaan dilakukan dengan memakai
nasofaringoskop.1
Udara melalui kedua lubang hidung lebih kurang sama dan untuk mengujinya dapat dengan
cara meletakkan spatula lidah dari metal di depan kedua lubang hidung dan membandingkan luas
pengembunan udara pada spatula kiri dan kanan.1

Pemeriksaan penunjang

In vitro:
Hitung eosinofil dalam darah tepi dapat normal atau meningkat. Demikian pula
pemeriksaan IgE total (prist-paper radio imunosorbent test) seringkali menunjukkan nilai normal,
kecuali bila tanda alergi pada pasien lebih dari satu macam penyakit, misalnya selain rinitis alergi
juga menderita asma bronchial atau urtikaria. Pemeriksaan ini berguna untuk prediksi
kemungkinan alergi pada bayi atau anak kecil dari suatu keluarga dengan derajat alergi yang tinggi.
Lebih bermakna adalah pemeriksaan IgE spesifik dengan RAST (Radio Imuno Sorbent Test) atau
ELISA (Enzyme Linked Immuno Sorbent Assay Test). Pemeriksaan sitologi hidung, walaupun
tidak dapat memastikan diagnosis, tetap berguna sebagai pemeriksaan pelengkap. Ditemukannya
eosinofil dalam jumlah banyak menunjukkan kemungkinan alergi inhalan. Jika basofil (>5sel/lap)
mungkin disebabkan alergi makanan, sedangkan jika ditemukan sel PMN menunjukkan adanya
infeksi bakteri.2
In Vivo:
Allergen penyebab dapat dicari dengan cara pemeriksaan tes cukit kulit, uji intrakutan atau
intradermal yang tunggal atau berseri (Skin End-point Titration/SET), SET dilakukan untuk
alergen inhalan dengan menyuntikkan allergen dalam berbagai konsentrasi yang bertingkat
kepekatannya. Keuntungan SET, selain alergen penyebab juga derajat tinggi serta dosis inisial
untuk desensitisasi dapat diketahui
Untuk alergi makanan, uji kulit yang akhir-akhir ini banyak dilakukan adalah
Intracutaneus Provocative Dilutional Food Test (IPDFT), namun sebagai baku emas dapat
dilakukan dengan diet eliminasi dan provokasi (“Challenge Test”).2
Alergen ingestan secara tuntas lenyap dari tubuh dalam waktu 5 hari. Karena itu pada
“Challenge Test”, makanan yang dicurigai diberikan pada pasien setelah berpantang selama 5 hari,
selanjutnya diamati reaksinya. Pada diet eliminasi, jenis makanan setiap kali dihilangkan dari
menu makanan sampai suatu ketika gejala menghilang dengan meniadakan suatu jenis makanan.2
Anatomi Hidung

Rongga hidung atau kavum nasi berbentuk terowongan dari depan ke belakang, dipisahkan
oleh septum nasi di bagian tengahnya menjadi kavum nasi kanan dan kiri. Pintu atau lubang masuk
kavum nasi di bagian depan disebut nares anterior dan lubang belakang disebut nares posterior
(koana) yang menghubungkan kavum nasi dengan nasofaring. Septum bagian luar dilapisi oleh
mukosa hidung. Bagian depan dinding hidung licin dan di belakangnya terdapat konka-konka yang
mengisi sebagian besar dinding lateral hidung. Pada dinding lateral terdapat 4 konka, dari yang
terbesar sampai yang terkecil adalah konka inferior, konka media, konka superior, dan konka
suprema. Konka suprema ini biasanya rudimeter. Di antara konka-konka dan dinding laterla
hidung terdapat rongga sepit yang disebut meatus. Terdapat 3 meatus, yaitu meatus inferior,
meatus media, dan meatus superior. Pada meatus inferior terdapat muara (ostium) duktus
nasolakrimaris, pada meatus media terdapat muara sinus frontalis, sinus maksilaris, dan sinus
etmoid anterior. Sedangkan pada meatus superior bermuara sinus etmoid posterior dan sinus

sfenoid.3
Differential Diagnosis

Rhinitis Simpleks

Penyakit ini merupakan penyakit virus yang paling sering ditemukan pada manusia. Sering disebut
juga sebagai selesma, common cold, flu. Penyebabnya ialah beberapa jenis virus dan yang paling
penting adalah rhinovirus. Virus-virus lainnya adalah myxovirus, virus coxsackie dan virus
ECHO. Penyakit ini sangat menular dan gejala dapat timbul sebagai akibat tidak adanya kekebalan,
atau menurunnya daya tahan tubuh. Pada stadium prodromal yang berlangsung beberapa jam,
didapatkan rasa panas, kering dan gatal di dalam hidung. Kemudia akan timbul bersin berulang-
ulang, hidung tersumbat dan ingus encer, yang biasanya disertai dengan demam dan nyeri kepala.
Mukosa hidung tampak merah dan membengkak. Bila hidung tampak merah dan membengkak.
Bila terjadi infeksi sekunder bakteri, ingus menjadi mukopurulen. Tidak ada terapi spesifik untuk
rhinitis simpleks, selain istirahat dan pemberian obat-obat simtomatis, seperti analgetika,
antipiretika dan obat dekongestan. Antibiotika hanya diberikan bia terdapat infeksi sekunder oleh
bakteri.2

Rhinitis Vasomotor

Rhinitis vasomotor adalah suatu keadaan idiopatik yang didiagnosis tanpa adanya infeksi, alergi,
eosinophilia, perubahan hormonal dan pajanan obat antihipertensi. Pada rhinitis vasomotor, gejala
sering dicetuskan oleh berbagai rangsangan non-spesifik, seperti asap/rokok, bau yang menyengat,
parfum, minuman beralkohol, makanan pedas, udara dingin, pendingin dan pemanas ruangan.
Kelainan ini memiliki gejala yang mirip dengan rhinitis alergi namun gejala yang dominan adalah
hidung tersumbat, bergantian kiri dan kanan, tergantung pada posisi pasien. Selain itu terdapat
rinore yang mucoid atau serosa. Keluhan ini jarang disertai dengan gejala mata. Tatalaksana
rhinitis vasomotor adalah dengan menghindari stimulus/faktor pencetusnya, serta memberikan
obat-obat simtomastis, dengan obat-obatan dekongestan oral, dan dapat juga diberikan
kortikosteroid topical.2
Working Diagnosis

Rinitis alergi adalah penyakit inflamasi yang disebabkan oleh reaksi alergi pada pasien
atopi yang sebelumnya sudah tersensitisasi dengan alergen yang sama serta dilepaskannya suatu
mediator kimia ketika terjadi paparan ulangan dengan alergen spesifik tersebut (Von Pirquet,
1986). Definisi menurut WHO ARIA (Allergic Rhinitis and its Impact on Asthma) tahun 2001
adalah kelainan pada hidung dengan gejala bersin-bersin, rinore, rasa gatal dan tersumbat setelah
mukosa hidung terpapar alergen yang diperantarai oleh IgE.2

Epidemiologi

Prevalensi rinitis di dunia saat ini mencapai 10-25% atau lebih dari 600 juta penderita dari
seluruh etnis dan usia. Di Amerika Serikat, lebih dari 40 juta warganya menderita rhinitis alergi.
Rinitis alergi pada anak lebih sering terjadi pada anak laki-laki dibandingkan anak perempuan,
sedangkan pada dewasa prevalensi rinitis alergi laki-laki sama dengan perempuan. Sekitar 80%
kasus rhnitis alergi berkembang mulai usia 20 tahun. Insidensi rinitis alergi pada anak-anak 40%
dan menurun sejalan dengan usia. Di Indonesia belum ada angka yang pasti, tetapi di Bandung
prevalensi rinitis alergi pada usia 10 tahun ditemukan cukup tinggi (5,8%).3

Etiologi

Berdasarkan cara masuknya alergen dibagi atas:2

1. Alergen inhalan, yang masuk bersama dengan udara pernapasan, misalnya tungau debu
rumah, kecoa, serpihan epitel kulit binatang, rerumputan, serta jamur.
2. Alergen ingestan yang masuk ke saluran cerna, berupa makanan, misalnya susu, sapi, telur,
coklat, ikan laut, udang kepiting, dan kacang-kacangan.
3. Alergen injektan, yang masuk melalui suntikan atau tusukan, misalnya penisilin dan
sengatan lebah.
4. Alergen kontaktan, yang masuk melalui kontak kulit atau jaringan mukosa, misalnya bahan
kosmetik, perhiasan
Patofisiologi

Rinitis alergi merupakan suatu penyakit inflamasi yang diawali dengan tahap sensitisasi dan
diikuti dengan tahap provokasi/reaksi alergi. Reaksi alergi terdiri dari 2 fase yaitu Immediate
Phase Allergic Reaction atau reaksi alergi fase cepat (RAFC) yang berlangsung sejak kontak
dengan allergen sampai satu jam setelahnya dan Late Phase Allergic Reaction atau reaksi alergi
fase lambat (RAFL) yang berlangsung 2-4 jam dengan puncak 6-8 jam (fase hiper-reaktifitas)
setelah pemaparan dan dapat berlangsung sampai 24-48 jam.2

Pada kontak pertama dengan allergen atau tahap sensitisasi, makrofag atau monosit yang
berperan sebagai sel penyaji (Antigen Presenting Cell/APC) akan menangkap allergen yang
menempel di permukaan mukosa hidung. Setelah diproses, antigen akan membentuk fragmen
pendek peptide dan bergabung dengan molekul HLA kelas II membentuk komplek peptide MHC
kelas II (Major Histocompatibility Complex) yang kemudian dipresentasikan pada sel T Helper
(Th0). Kemudian sel penyaji akan melepas sitokin seperti interleukin 1 (IL1) yang akan
mengaktifkan Th0 untuk berproliferasi menjadi Th1 dan Th2. Th2 akan menghasilakan berbagai
sitokin seperti IL3, IL4, IL5, dan IL13. IL4 dan IL13 dapat diikat oleh reseptornya di permukaan
sel limfosit B, sehingga sel limfosit B menjadi aktif dan akan memproduksi IgE. IgE di sirkulasi
darah akan masuk ke jaringan dan diikat oleh reseptor IgE di permukaan sel mastosit atau basofil
(sel mediator) sehingga kedua sel ini menjadi aktif. Proses ini disebut sensitisasi yang
menghasilkan sel mediator yang tersensitisasi. Bila mukosa yang sudah tersensitisasi terpapar
dengan allergen yang sama, maka kedua rantai IgE akan mengikat allergen spesifik dan terjadi
degranulasi (pecahnya dinding sel) mastosit dan basofil dengan akibat terlepasnya mediator kimia
yang sudah terbentuk (Preformed Mediators) terutama histamine. Selain itu juga dikeluarkan
Newly Formed Mediators, antara lain prostaglandin D2 (PGD2), Leukotrein D4 (LTD4),
Leukotrein C4 (LTC4), bradikinin, Platelet Activating Factor (PAF) dan berbagai sitokin. Inilah
yang disebut sebagai reaksi alergi fase cepat (RAFC).2

Histamine akan merangsang reseptor H1 pada ujung saraf vidianus sehingga menimbulkan
rasa gatal pada hidung dan bersin-bersin. Histamine juga akan menyebabkan sel mukosa dan sel
goblet megalami hipersekresi dan permeabilitas kapiler meningkat sehingga terjadi rinorea. Gejala
lain dalah hidung tersumbat akibat vasodilatasi sinusoid. Selain histamine merangsang ujung saraf
vidianus, juga menyebabkan rangsangan pada mukosa hidung sehingga terjadi pengeluaran Inter
Cellular Adhesion Molecule 1 (ICAM1).2

Pada RAFC, sel mastosit juga akan melepaskan molekul kemotaktik yang menyebabkan
akumulasi sel eusinofil dan noutrofil di jaringan target. Timbulnya gejala hiperaktif atau hiper
responsive hidung adalah akibat peranan eosinofil dengan mediator inflamasi dari granulnya
seperti ECP, EDP, MBP, EPO. Pada fase ini, selain factor spesifik (allergen), iritasi oleh faktor
non spesifik dapat memperberat gejala seperti asap rokok, bau yang merangsang, perubahan cuaca,
dan kelembaban udara yang tinggi.2

Klasifikasi

Klasifikasi rhinitis alergi dibagi menjadi 2 yaitu:2,4

1. Rhinitis alergi musiman (hay fever)


Rhinitis jenis ini disebabkan karena menghirup allergen seperti serbuk bunga, spora jamur.
Selain itu juga dapat dikarenakan iklim dan lingkungan yang berbeda beda, terutama pada
negara yang memiliki 4 musim. Pasien selama serangan muncul dengan iritasi hebat dapat
menyebabkan bersin bersin, sumbatan di hidung, dan mata merah disertai lakrimasi.
2. Rhinitis alergi sepanjang tahun (perennial)
Gejala pada penyakit ini timbul terus menerus, tanpa variasi musim, jadi dapat ditemukan
sepanjang tahun. Penyebab yang paling sering ialah allergen inhalan, terutama pada orang
dewasa, dan alergen ingesten. Alergen inhalan utama adalah allergen dalam rumah seperti
tungau debu. Allergen ingestan sering merupakan penyebab pada anak-anak dan biasanya
disertai dengan gejala alergi yang lain, seperti urtikaria, gangguan pencernaan. Gangguan
fisiologik pada golongan ini lebih ringan dibandingkan golongan musiman, tetapi karena
lebih persisten maka komplikasinya lebih sering ditemukan

Saat ini digunakan klasifikasi rhinitis alergi berdasarkan rekomendasi dari WHO Initiative
ARIA (Allergic Rhinitis and Its Impact on Asthma) tahun 2001, yaitu berdasarkan sifat
berlangsungnya dibagi menjadi:2
1.
Intermiten (kadang-kadang), yaitu bila gejala kurang dari 4 hari/minggu atau kurang dari 4
minggu.
2. Persisten/ menetap, yaitu bila gejala lebih dari 4 hari/minggu dan lebih dari 4 minggu.
Sedangkan untuk tingkat berat ringannya penyakit, rinitis alergi dibagi menjadi:2
1.
Ringan, yaitu bila tidak ditemukan gangguan tidur, gangguan aktivitas harian, bersantai,
berolahraga, belajar, bekerja dan hal-hal lain yang mengganggu.
2. Sedang atau berat, yaitu bila terdapat satu atau lebih dari gangguan tersebut di atas.
Gejala Klinis

Gejala klinis pada rinitis alergi adalah bersin berulang pada pagi hari, keluar ingus (rinore)
yang encer dan banyak, hidung tersumbat, hidung dan mata gatal, yang kadang-kadang disertai
dengan banyak keluar air mata (lakrimasi). Awitan gejala timbul cepat setelah paparan allergen
dapat berupa bersin, mata atau palatum yang gatal berair, rinore, hidung gatal, hidung tersumbat.
Pada mata dapat menunjukkan gejala berupa mata merah, gatal, conjungtivitis, mata terasa
terbakar, dan lakrimasi. Pada telinga bisa dijumpai gangguan fungsi tuba, efusi telinga bagian
tengah.

Pencegahan

Cara yang terbaik untuk mengawasi adanya gejala alergi adalah mencegah terjadinya pencetus
alergi. Jika Anda mengalami rhinitis alergi musiman, maka Anda berpotensi terkena alergi ketika
alergen udara sedang tinggi:
1. Tinggal saja di dalam rumah, dan jika mungkin, tutup semua jendela.
2. Gunakan AC.
3. Hindari menggunakan kipas angin yang menarik udara dari luar.
4. Untuk mengeringkan bahan cucian Jangan menggantungnya di luar.
5. Segera setelah Anda dari luar rumah, ganti pakaian Anda dengan yang (relatif)
bebas debu.
Jika Anda menderita alergi rinitis perennial:
1. Menghindarkan alergen penyebab dapat dicapai dengan mengisolasi pasien dari alergen,
menempatkan suatu sawar antara pasien dengan alergen atau menjauhkan alergen dari
pasien.
2. Tutupi bantal dan kasur dengan penutup tungau debu.
3. Singkirkan karpet; langsung ke ubin atau lantai kayu yang keras. Gunakan karpet dan cuci
daerah itu sesering mungkin dengan air yang sangat panas.
4. Jauhkan hewan peliharaan dari kamar tidur.5

Tatalaksana

1. Idealnya terapi yang dilakukan adalah dengan menghindari kontak dengan allergen
penyebabnya
2. Medikamentosa:

Antihistamin, kelompok anthistamin yang paling sering digunakan sebagai pengobatan dari
rhinitis alergi adalah antihistamin H-1. Obat ini menghambat kerja histamin dengan
memblocking resptor histamin pada sel target. Meskipun generasi pertama antihistamin
sangat efektif, tetapi pemberian antihistamin dapat menyebabkan kantuk dan penurunan
kinerja seseorang. Pemberian dapat dalam kombinasi atau tanpa kombinasi dengan
dekongestan secara per oral.

Antihistamin dibagi dalam 2 golongan yaitu golongan antihistamin generasi-1 (klasik) dan
generasi-2 (non sedative). Anti histamine generasi-1 bersifat lipofilik, sehingga dapat
menembus sawar darah otak (mempunyai efek pada SSP) dan plasenta serta mempunyai
efek kolinergik. Yang termasuk kelompok ini antara lain adalah difenhidramin,
klorfeniramin, prometasin, siproheptadin sedangkan yang dapat diberikan secara topical
adalah azelastin. Antihistamin generasi 2 bersifat lipofobik, sehingga sulit menembus sawar
darah otak. Bersifat selektif mengikat reseptor H-1 perifer dan tidak mempunyai efek
antikolinergik, antiadrenergik dan efek pada SSP minimal (non-sedatif). Antihistamin
diabsorpsi secara oral denagn cepat dan mudah serta efektif untuk mengatasi gejala pada
respons fase cepat seperti rinore, bersin, gatal, tetapi tidak efektif untuk mengatasi gejala
obstruksi hidung pada fase lambat. Antihistamin non sedative dapat dibagi menjadi 2
golongan menurut keamanannya. Kelompok pertama adalah astemisol dan terfenadin yang
mempunyai efek kardiotoksik. Toksisitas terhadap jantung tersebut disebabkan repolarisasi
jantung yang tertunda dan dapat menyebabkan aritmia ventrikel, henti jantung dan bahkan
kematian mendadak (sudah ditarik dari peredaran). Kelompok kedua adalah loratadin,
setirisin, fexofenadin, desloratadin, dan levosetirisin.
Preparat simpatomimetik golongan agonis adrenergic alfa dipakai sebagai dekongestan
hidung oral dengan atau tanpa kombinasi dengan antihistamin atau topical. Namun
pemakaian secara topical hanya boleh untuk beberapa hari saja untuk menghindari terjadinya
rhinitis medikamentosa

Preparat kortikosteroid dipilih bila gejala terutama sumbatan hidung akibat respons fase
lambat tidak berhasil diatasi dengan obat lain. Yang sering dipakai adalah kortikosteroid
topical (beklometason, budesonid, flunisolid, flutikason, mometason furoat, dan
triamsinolon). Kortikosteroid topical bekerja untuk mengurangi jumlah sel mastosit pada
mukosa hidung, mencegah pengeluaran protein sitotoksik dari eosinofil, mengurangi
aktifitas limfosit, mencegah bocornya plasma. Hal ini menyebabkan epitel hidung tidak
hiperresponsif terhadap rangsangan allergen (bekerja pada respons fase cepat dan lambat).
Preparat sodium kromoglikat topical bekerja menstabilkan mastosit (mungkin menghambat
ion kalsium) sehingga pengelepasan mediator dihambat. Pada respons fase lambat, obat ini
juga menghambat proses inflamasi dengan menghambat aktifasi sel netrofil, eosinofil dan
monosit. Hasil terbaik dapat dicapai bila diberikan sebagai profilaksis.

Preparat antikolinergik topical adalah ipratropium bromide, bermanfaat untuk mengatasi


rinore, karena aktivitas inhibisi reseptor kolinergik pada permukaan sel efektor.

Pengobatan baru lainnya untuk rhinitis alergi adalah anti leukotrien


(zafirlukast/montelukast), anti IgE, DNA rekombinan. 2,6

3. Operatif
Tindakan konkotomi parsial (pemotongan sebagian konka inferior), konkoplasti atau
multiple outfractured, inferior turbinoplasty perlu dipikirka bila konka inferior hipertrofi
berat dan tidak berhasil dikecilkan dengan cara kauterisasi memakai AgNO3 25% atau
triklor asetat.2

4. Imunoterapi
Cara pengobatan ini dilakukan pada alergi inhalan dengan gejala yang berat dan sudah
berlagsung lama serta dengan pengobatan cara lain tidak memberikan hasil yang
memuaskan. Tujuan dari imunoterapi adalah pembentukkan IgG blocking antibody dan
penurunan IgE. Ada 2 metode imunoterapi yang umum dilakukan yaitu intradermal dan sub-
lingual.2

Komplikasi

Komplikasi rhinitis alegi yang sering ialah:2

1.Polip hidung

2.Otitis media efusi yang sering residif, terutama pada anak-anak


3.Sinusitis paranasal

Kesimpulan

Rinitis alergi adalah penyakit inflamasi yang disebabkan oleh reaksi alergi pada pasien atopi yang
sebelumnya sudah tersensitisasi. Dimana rhinitis alergi dibagi menjadi rhinitis alergi musiman dan
tahunan. Gejala klinisnya adalah bersin berulang pada pagi hari, keluar ingus (rinore) yang encer
dan banyak, hidung tersumbat, hidung dan mata gatal, yang kadang-kadang disertai dengan banyak
keluar air mata. Tatalaksana pertama untuk rhinitis alergi adalah dengan menghindari bahan
pencetus alergi, setelah itu dapat diberikan obat”an, operasi, serta immunoterapi.
Daftar Pusataka
1. Hilger PA. Penyakit hidung. Dalam: Adams GL, Boeis LR, Higler PA, editor. Boeis
Buku Ajar Penyakit THT. Edisi ke-6. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC.,
2010.hal.211-4.
2. Irawati N, Kasakeyan E, Rusmono E. Rinitis Alergi. In: Soepardi EA, Iskandae N, Ed.
Buku Ajar Ilmu Penyakit Telinga Hidung dan Tenggorok. 7th ed. Jakarta: Balai Penerbit
FKUI, 2012. hal. 128-32.
3. Sudiro, M., Madiadipoera, T., Purwanto, B. Eosinofil Kerokan Mukosa Hidung
Sebagai Diagnostik Rinitis Alergi. MKB volume 42 No 1; 2010. hal. 6-11.
4. Becker W, et al. Ear, nose, and throat diseases. Edisi ke-2. New York: Thieme.2009.
hal.73-8.

5. Gunawan GS, Setiabudy R, dkk. Farmakologi dan Terapi. Edisi ke-5. Jakarta:
Departemen Farmakologi dan Terapeutik Fakultas Kedokteran Universitas
Indonesia,2007.
6. Carey WD. Current clinical medicine 2nd ed. Philadelphia: Elsevier; 2010. hal. 50-2.