Sunteți pe pagina 1din 9

ASUHAN KEPERAWATAN JIWA

HARGA DIRI RENDAH

DISUSUN OLEH :

KELOMPOK I
ANDI RIRIN RUSLAN
ABD. RAHIM. AR
ABDUL RAHMAN
AMIRUDDIN
ANDI ANGGRIANI
ANDI MARHAENI
ANDI MUSDALIKA
SULFIANTI

TINGKAT II. B

AKPER PEMDA WAJO


2009
HARGA DIRI RENDAH

1. PENGERTIAN
Gangguan harga diri rendah adalah evaluasi diri dan perasaan tentang diri atau
kemampuan diri yang negatif yang dapat secara langsung atau tidak langsung diekspresikan
( Townsend, 1998 ).
Menurut Schult & Videbeck ( 1998 ), gangguan harga diri rendah adalah penilaian
negatif seseorang terhadap diiri dan kemampuan, yang diekspresikan secara langsung
maupun tidak langsung
Gangguan harga diri rendah digambarkan sebagai perasaan yang negatif terhadap
diri sendiri, termasuk hilangnya percaya diri dan harga diri, merasa gagal mencapai
keinginan. (Budi Ana Keliat, 1999).
Jadi dapat disimpulkan bahwa perasaan negatif terhadap diri sendiri yang dapat
diekspresikan secara langsung dan tak langsung.
Tanda dan gejala :
 Perasaan malu terhadap diri sendiri akibat penyakit dan tindakan terhadap penyakit
(rambut botak karena terapi)
 Rasa bersalah terhadap diri sendiri (mengkritik/menyalahkan diri sendiri)
 Gangguan hubungan sosial (menarik diri)
 Percaya diri kurang (sukar mengambil keputusan)
 Mencederai diri (akibat dari harga diri yang rendah disertai harapan yang suram,
mungkin klien akan mengakiri kehidupannya.

2. PENYEBAB
Salah satu penyebab dari harga diri rendah yaitu berduka disfungsional. Berduka
disfungsional merupakan pemanjangan atau tidak sukses dalam menggunakan respon
intelektual dan emosional oleh individu dalam melalui proses modifikasi konsep diri
berdasarkan persepsi kehilangan.
Tanda dan gejala :
 Rasa bersalah
 Adanya penolakan
 Marah, sedih dan menangis
 Perubahan pola makan, tidur, mimpi, konsentrasi dan aktivitas
 Mengungkapkan tidak berdaya

3. AKIBAT
Harga diri rendah dapat beresiko terjadinya isolasi sosial : menarik diri. Menarik diri
merupakan percobaan untuk menghindari interaksi dengan orang lain, menghindari hubungan
dengan orang lain (Rawlins,1993).
Tanda dan gejala :
 Apatis, ekspresi sedih, afek tumpul
 Menghindar dari orang lain (menyendiri)
 Komunikasi kurang/tidak ada. Klien tidak tampak bercakap-cakap dengan klien
lain/perawat
 Tidak ada kontak mata, klien sering menunduk
 Berdiam diri di kamar/klien kurang mobilitas
 Menolak berhubungan dengan orang lain, klien memutuskan percakapan atau pergi jika
diajak bercakap-cakap
 Tidak/ jarang melakukan kegiatan sehari-hari.
KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN

A. Masalah dan Data yang Perlu Dikaji

Masalah
No Data Subyektif Data Obyektif
Keperawatan

1 Isolasi sosial :  Mengungkapkan  Ekspresi wajah


menarik diri tidak berdaya dan kosong
tidak ingin hidup  Tidak ada kontak
lagi mata ketika diajak
 Mengungkapkan bicara
enggan berbicara  Suara pelan dan tidak
dengan orang lain jelas
 Klien malu bertemu
dan berhadapan
dengan orang lain

2 Gangguan  Mengungkapkan  Merusak diri sendiri


konsep diri : ingin diakui jati  Merusak orang lain
harga diri rendah dirinya  Menarik diri dari
 Mengungkapkan hubungan sosial
tidak ada lagi yang  Tampak mudah
peduli tersinggung
 Mengungkapkan  Tidak mau makan
tidak bisa apa-apa dan tidak tidur
 Mengungkapkan  Perasaan malu
dirinya tidak  Tidak nyaman jika
berguna jadi pusat perhatian
 Mengkritik diri
sendiri
3 Berduka  Mengungkapkan  Ekspresi wajah sedih
disfungsional tidak berdaya dan  Tidak ada kontak
tidak ingin hidup mata ketika diajak
lagi bicara
 Mengungkapkan  Suara pelan dan tidak
sedih karena tidak jelas
naik kelas  Tampak menangis
 Klien malu bertemu
dan berhadapan
dengan orang lain
karena diceraikan
suaminya
 Dan lain – lain…

B. Diagnosa Keperawatan
1. Isolasi sosial : menarik diri berhubungan dengan harga diri rendah
2. Gangguan konsep diri : harga diri rendah berhubungan dengan gangguan citra tubuh

C. Rencana Tindakan Keperawatan


Diagnosa 1:
Isolasi sosial: menarik diri berhubungan dengan harga diri rendah
1. Tujuan umum :
Klien tidak terjadi gangguan konsep diri : harga diri rendah/klien akan meningkat harga
dirinya.
2. Tujuan khusus :
1. Klien dapat membina hubungan saling percaya
Tindakan :
a. Bina hubungan saling percaya : salam terapeutik, perkenalan diri, jelaskan tujuan
interaksi, ciptakan lingkungan yang tenang, buat kontrak yang jelas (waktu,
tempat dan topik pembicaraan)
b. Beri kesempatan pada klien untuk mengungkapkan perasaannya
c. Sediakan waktu untuk mendengarkan klien
d. Katakan kepada klien bahwa dirinya adalah seseorang yang berharga dan
bertanggung jawab serta mampu menolong dirinya sendiri

2. Klien dapat mengidentifikasi kemampuan dan aspek positif yang dimiliki


Tindakan :
a. Klien dapat menilai kemampuan yang dapat Diskusikan kemampuan dan aspek
positif yang dimiliki
b. Hindarkan memberi penilaian negatif setiap bertemu klien, utamakan memberi
pujian yang realistis
c. Klien dapat menilai kemampuan dan aspek positif yang dimiliki

3. Klien dapat menilai kemampuan yang dapat digunakan.


Tindakan :
a. Diskusikan kemampuan dan aspek positif yang dimiliki
b. Diskusikan pula kemampuan yang dapat dilanjutkan setelah pulang ke rumah

4. Klien dapat menetapkan / merencanakan kegiatan sesuai dengan kemampuan yang


dimiliki
Tindakan :
a. Rencanakan bersama klien aktivitas yang dapat dilakukan setiap hari sesuai
kemampuan
b. Tingkatkan kegiatan sesuai dengan toleransi kondisi klien
c. Beri contoh cara pelaksanaan kegiatan yang boleh klien lakukan
5. Klien dapat melakukan kegiatan sesuai kondisi dan kemampuan
Tindakan :
a. Beri kesempatan mencoba kegiatan yang telah direncanakan
b. Beri pujian atas keberhasilan klien
c. Diskusikan kemungkinan pelaksanaan di rumah
6. Klien dapat memanfaatkan sistem pendukung yang ada
Tindakan :
a. Beri pendidikan kesehatan pada keluarga tentang cara merawat klien.
b. Bantu keluarga memberi dukungan selama klien dirawat.
c. Bantu keluarga menyiapkan lingkungan di rumah.
d. Beri reinforcement positif atas keterlibatan keluarga.

Diagnosa 2:
Gangguan konsep diri berhubungan dengan gangguan citra tubuh
1. Tujuan umum :
Klien menunjukkan peningkatan harga diri
3. Tujuan khusus :
1. Klien dapat meningkatkan keterbukaan dan hubungan saling percaya
Tindakan :
a. Bina hubungan saling percaya : salam terapeutik, perkenalan diri, jelaskan tujuan
interaksi, ciptakan lingkungan yang tenang, buat kontrak yang jelas (waktu,
tempat dan topik pembicaraan)
b. Beri kesempatan pada klien untuk mengungkapkan perasaannya
c. Sediakan waktu untuk mendengarkan klien
d. Katakan kepada klien bahwa dirinya adalah seseorang yang berharga dan
bertanggung jawab serta mampu menolong dirinya sendiri
2. Diskusikan perubahan struktur, bentuk atau fingsi tubuh
3. Observasi ekspresi klien pada saat diskusi
4. Diskusikan kamampuan dan aspek positif yang dimiliki (tubuh, intelektual, keluarga)
oleh klien diluar perubahan yang terjadi.
5. Beri pujian atas aspek positif dan kemampuan yang masih dimiliki oleh klien.
6. Dorong klien untuk merawat diri dan berperan serta dalam asuhan klien secara
bertahap
7. Libatkan klien dalam kelompok klien dengan masalah gangguan citra tubuh.
8. Tingkatkan dukungan keluarga pada klien terutama pasangan
9. Membantu klien dalam mengrangi perubahan citra tubuh. Misalnya : protesa untuk
bagian tubuh tertentu.
10. Rehabilitasi bertahap bagi klien.

Hasil yang diharapkan :


1. Klien menerima perubahan tubuh yang terjadi
2. Klien memilih beberapa cara mengatasi perubahan yang terjadi
3. Klien adaptasi dengan cara-cara yang dipilih dan digunakan.
DAFTAR PUSTAKA

1. Azis R, dkk. Pedoman asuhan keperawatan jiwa. Semarang : RSJD Dr. Amino
Gondoutomo. 2003

2. Keliat BA. Proses kesehatan jiwa. Edisi 1. Jakarta : EGC. 1999

3. Stuart GW, Sundeen SJ. Buku saku keperawatan jiwa. Edisi 3. Jakarta : EGC. 1998