Sunteți pe pagina 1din 20

MAKALAH

HEPATOMA

DISUSUN OLEH :
EKA FATIKA SARI
ELIS SRIAPRILIA
FITRIANTI
TRIA ARGITA
UUN PRAYOGI
WINNY DESTRIA PUTIA

PROGRAM STUDI S1 ILMU KEPERAWATAN

STIKES WIDYA NUSANTARA PALU

2018

1
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Hepatoma (Hepatocellular Carcinoma/HCC ) adalah tumor ganas hati primer yang
berasaldari hepatosit (kanker hati primer). Hepatoma juga dikenali dengan nama lain
yaitu kanker hati primer, hepatokarsinoma dan kanker hati.
Dari seluruh tumor ganas hati yang pernah didiagnosis, 85 % merupakan HCC, 10 %
Cholangiocarcinoma/CC dan sisanya adalah jenislainnya. HCC meliputi 5,6 % dari
seluruh kasus kanker pada manusia, menempati peringkat kelima pada laki-laki dan
peringkat kesembilan pada perempuan sebagai kanker tersering didunia. Secara
epidemiologis tingkat kekerapannya banyak terjadi di negara berkembang
dengan prevalensi tinggi hepatitis virus.Selain infeksi hepatitis virus, adanya kelompok
jamur aflatoksin, obesitas, diabetesmellitus, alkohol dan penyakit hati metabolik lain
diakui sebagai faktor resiko terjadinya. Ketiadaan ataupun ketidakmampuan penerapan
terapi yang bersifat kuratif menyebabkan HCC berprognosis buruk dengan tingkat
morbiditas dan mortalitas yang tinggi. Oleh karena itu, makalah ini dibuat untuk
mencapai upaya dalam memberikan asuhan keperawatan.

B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana hepatoma?
2. Bagaimana asuhan keperawatan hepatoma?

C. Tujuan
Setelah membaca makalah ini diharapkan pembaca dapat:
1. Mengetahui hepatoma.
2. Mengetahui asuhan keperawatan hepatoma.

2
BAB II
TINJAUAN TEORI

A. Pengertian
Hepatoma merupakan penyakit tumor jinak hati, penyakit ini biasanya muncul pada
penderita abses hati karena amuba. Tidak jarang pada penderita Hepatoma terdapat jelas
tanda-tanda dari hipertensi portal serta kegagalan faal hati, sebagaimana tanda-tanda
yang terdapat pada penderita cirrhosis hepatic, oleh karena banyak hepatoma primer
mempunyai dasar cirrhosis hepatic terutama type Macronodulair. Pada penderita
hepatoma ketahanan hidupnya antara 4 bulan sampai 1 tahun sejak ditegakkan diagnosa
(Boediwarsono,1979).
Hepatoma adalah masa abnormal pada sel hati,tumor hati dapat berupa bernigna
atau manigna tumor dapat berupa tumor primer atau metastase dari jaringan lain
(Timby,1999).
Hepatocellular Carcinoma (HCC) atau disebut juga hepatoma atau kanker hati
primer atau Karsinoma Hepato Selular (KHS) adalah satu dari jenis kanker yang berasal
dari sel hati (Misnadiarly, 2007).
Hepatoma(karsitoma hepatoseluler) adalah kanker yang berasal dari hepatosit
(karsitoma hepatoseluler) atau dari duktus empedu(kolangio karsinoma (Corwin,2009).
Hepatoma adalah kanker pada hati yang berasal dari sel parenkim atau epitel saluran
empedu atau metastase dari tumor jaringan lainnya.

B. Etiologi dan epidemologi


Penyakit pasti dari hepatoma masih belum diketahui tetapi terdapat data penting
predisposisi penyebab utama dari hepatoma ,yaitu serosi hepatis. Kondisi sirosis hepatis
biasanya berhubungan dengan hepatitis B,hepatitis C,hemokromatosis aflatoxin,dan
penyebab lain.
Secara umum,setiap etiologi sirosis merupakan faktor resiko utama untuk
hepatocellilar carcinoma. Sekitar 80% dari pasien denga hepatocellular carcinoma baru

3
didiagnosis sirosis telah ada sebelumnya. Penyebab utama sirosis diamerika serikat
disebabkan infeksi hepatitis C, alkohol dan infeksi hepatitis B (El-serag 2004).
Hepatitis C Virus (HCV) adalah pandemi global yang mempengaruhi 170 juta orang.
Hasil infeksi HCV berada pada tingkatan yang lebih tinggi dibandingkan dengan infeksi
tingkat yang lebih tinggi dibandingkan dengan infeksi kronis infeksi Hepatitis B virus
(Sekitar 80% dari subjek yang terinfeksi) keadaan ini telah menjadi penyebab paling
umum pada hepatocellular carcinoma di jepang dan eropa,serta juga bertangggung
jawab aras insiden meningkat baru-baru ini di amerika serikat. Sekitar 2,7 juta orang
amerika memiliki HCV kronis. Di amerika serikat hampir 30% dari kasus
hepatocellular carcinoma dianggap berkaitan dengan kaitan dengan infeksi HCV
sebesar 5-30% dari sekitar 30% berkembang menjadi sironis dan dalam presentase
tersebut, sekitar 1-2% per tahun berkembang dengan HCV kira-kira sebesar 5% yang
muncul 30 Tahun setelah terinfeksi (ACS,2008).

C. Manifestasi klinik
Pada tahap awal hepatoma tidak memberi gejala dan tanda klinik. Pada stadium
lanjut mungkin bisa didapatkan gejala dan tanda-tanda seperti:
1. Penurunan berat badan
2. Anoreksia
3. Kehilangan nafsu makan
4. Mual dan muntah
5. Mudah capek dan merasa lelah
6. Hatinya membesar
7. Abdomen (perutnya) membesar
8. Kulit dan matanya kelihatan kuning
9. Kotorannya berwarna putih

4
D. Stadium
Sistem TNM (tumor,nodul,metastasis) sementara ini yang dijadikan yang diterima
secara luas adalah benar-benar hanya berguna pada pasien yang menjalani bedah
reseksi. Oleh karena sebagian besar pasien unresectable dengan prognosis benar-benar
tergantung pada keberadaan fungsi hatu dari pada ukuran tumor.beberapa sistem
stadium telah dievaluasi klinism yang menggabungkan fitur dari hati dan pasien seperti
asites,keterlibatan vena porta dan status performa.

Tabel stadium hepatoma dengan menggunakan sistem TNM


Tumor Primer Kelenjar getah Metastatis
bening KGB jauh
Regional N (M)
Tx Tumor primer tidak dapat dinilai NO Menunjukan MO. Tidak
T1 Tumor soliter tanpa invanasi tidak ada ada metastatis
vaskular keterlibatan jauh
T2 Tumor soliter dengan invasi KGB
vaskular atau beberapa tumor
tidak lebih dari 5cm
T3 Tumor multiprl lebih dari 5cm N1 Menunjukan M1. Ada
atau tumor yang melinatkan keterlibatan metastatis
cabang utama dari portal atau KGB jauh
vena hepatika.
T4 Tumor multipel dengan invasi
langsung organ yang berdekatan
selain kantong empedu atau
dengan perforasi peritoneum
viseral
( Amerika cancer society,2008)

5
Tabel pengelompokan stadium
Stadium TNM
Stadium I T1 NO MO
Stadium II T2 NO MO
Stadium III A T3 NO MO
Stadium III B T4 NO MO
Stadium III C Tx N1 NO
Stadium IV a Setiap T Setiap N M1a
Stadium IV b Setiap T Setiap N M1b
( Amerika cancer society,2008)

E. Patofisiologi
Hepatocellular carcinoma (HCC) adalah tumor ganas asal hepatoseluler yang
berkembang pada pasaien dengan factor resiko seperti hepatitis virus, penyalahgunaan
alkohol, dan penyakit hati metabolik. Penyakit ini juga dapat terjadi (jarang) pada
pasien dengan parenkim hari normal.
HCC dapat mengalami perdarahan dan nekrosis karena kurangnya stroma fibrosa.
Invasi vascular, terutama dalam system portal. Invasi sistem bilier kurang umum.
Agresif HCC dapat menyebabkan rupture (pecah) dan hemaperitoneum hepatika.
Ada tiga pola pertumbuhan yang ditunjukan oleh HCC:
1. Masa soliter.
1. Multifocal atau pola nodular.
2. Multiple difus dengan pola nodular.
Secara mikroskopis, sel-sel HCC menyerupai hepatosit normal dan dapat
membingungkan dengan adenoma sel hati. Tumor yang lebih berbeda dapat
menghasilkan empedu. HCC dapat menghasilkan alfa-fetoprotein (AFP), serta protein
serum lainnya.

6
7
Sumber: Mutaqin, A., Sari, K. (2011)

8
F. Penatalaksanaan Medis
1. Kemoterapi
Kemoterapi regional meliputi penginfusan agens yang sangat dimetabolisasi
oleh hari melalui arteri hepatik. Ini sangat meningkatkan dosis obat yang diberikan
ke tumor, tetapi meminimalkan efek samping sisterik. Kemoterapi intra arterial
dapat diberikan melalui kateter sementara yang dipasang ke dalam arteri aksila atau
femoralis. Komplikasi metode ini meliputi trombosis hepatik dan arteri intra
abdomenlain, perubahan posisi kateter, sepsis dan hemoragi. Obat juga dapat
diberikan melalui pompa yang dapat ditanam, yang memberikan keuntungan dengan
membuat pasien tetap dapat berjalan dan menurunkan komplikasi terkait kateter.
Agens yang digunakan paling sering untuk kemoterapi intraarterial adalah
flokuridin (FUDR) dan 5-FU. Obat lain yang digunakan meliputi sisplatin,
doksorubisin, mitomisin-C, dan diklorometotrekstat.
2. Terapi Radiasi
Meskipun kanker hati diyakini sebagai tumor tumor radiosensitive,
penggunaan terapi radiasi dibatasi oleh intoleransi relative parenkim normal. Semua
hati akan metoleransi 3000cGy. Pada dosis ini insidensi hepatitis radiasi adalah 5%
sampai 10%. Pengobatan atau remisi jangka panjang kanker hati memerlukan dosis
lebih tinggi secara signifikan.
3. Terapi Bedah
Pembedahan adalah satu-satunya penanganan kuratif potensial untuk pasien
kanker hati. Sayangnya hanya 25% pasien memenuhi kriteria untuk reseksi hati.
Terdapat tiga macam terapi bedah, yaitu:
a. Hepatektomi Parsial.
Di Amerika Serikat, resksi mungkin hanya 5% dari pasien. Secara umum,
Hepatocellular carcinoma memiliki lesi soliter pada sebagian lobus hati
sehingga dengan intervensi hepaktomi parsial pada sebagian lobus hati
memberikan hasil terbaik untuk optimalisasi fungsi hati yang tersisa ( Poon,
2001 ).

9
b. Transplantasi.
Banyak pasien tidak dicalonkan pada hepaktetomi parsial karena luasnya
penyakit hati. Beberapa pasien ini baik kandidat untuk transplantasi hati karena
memiliki potensi untuk menghilangkan kanker, menyembuhkan penyakit hati
yang mendasari ( Bruix, 2005 ).
c. Ablasi tumor local
Suntikan etanol Intratumoral atau asam asetat, terapi panas ( melalui radioterapi
atau laser ablation ), atau dingin ( cryoablation dengan nitrogen cair ) dapat
digunakan untuk mengontrol tumor secara local lebih kecil dari 4-5 cm. Teknik-
teknik ini sering dilakukan secara perkutaneus sebagai prosedur rawat jalan (
Bruix, 2005 )

G. Pemeriksaan Diagnostik
1. Pemeriksaan bilirubin total, aspartate aminotransferase (AST), fosfatase alkali,
albumin, dan waktu prothrombin menunjukan hasil yang konsisten dengan sirosis.
2. Alpha-fetoprotein (AFP) meningkat pada 75% kasus.
3. Radiografi.
a. Foto toraks, dilakukan untuk mendeteksi adanya metastasis paru.
b. CT Scan. Dilakukan untuk pasien Hepatocelullar carcinoma karena
meningkatnya AFP. Setiap tes memiliki 70-80% kesempatan untuk menemukan
lesi soliter.
c. MRI dapat mendeteksi lesi lebih dan juga dapat digunakan untuk menetukan
aliran dalam vena vortal.
d. USG untuk mencari tanda-tanda sirosis dalam atau pada permukaan hati.
e. Biopsi. Biopsi sering diperlukan untuk membuat diagnosis. Secara umum, core
biopsi lebih disukai dari biopsi jarum halus. Biopsi umumnya diperoleh melalui
perkutaneus dibawah bimbingan ultrasonographic atau CT. sebelum
mendapatkan biopsy, paracentesis volume besar mungkin berguna pada pasien
dengan asites massif; selain itu, transfuse trombosit mungkin diperlukan pada

10
pasien dengan sirosis dengan trombositopenia berat (<50.000). Resiko
pendarahan tidak berkolerasi dengan peningkatan dalam waktu prothombin
(Collier, 1998).

11
BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN HEPATOMA

A. Pengkajian
Pengkajian hepatoma terdiri atas pengkajian anamnesis, pemeriksaan fisik dan
evaluasi diagnostik. Pada pengkajian anamnesis didapatkan sesuai dengan kondisi
klinik perkembangan penyakit. Keluhan pasien yang lazim didapatkan biasanya sirosis
hepatis, meliputi icterus, pruritus, perdarahan gastrointestinal, kaheksia, asites, keluhan
yang berhubungan dengan hepatik ensefalopati dan nyeri abdomen kanan atas (jarang).
Pada pengkajian riwayat sekarang, pengkajian anamnesis akan didapatkan hampir sama
dengan pasien sirosis hepatis, keluhan gangguan gastrointestinal didapatkan pada
hampir semua pasien hepatoma, seperti: mual, muntah, dan anoreksia. Keluhan ini akan
bertambah parah apabila pasien mendapat intervensi kemoterapi dan radiasi.
Pengkajian riwayat penyakit dahulu didapatkan adanya riwayat menderita sirosis
hepatis yang berhubungan dengan hepatitis virus, khususnya hepatitis B dan C, riwayat
penggunaan alcohol, dan riwayat penyakit kuning yang penyebabnya belum jelas.
Pengkajian psikososial akan didapatkan peningkatan kecemasan, serta perlunya
pemenuhan informasi intervensi keperawatan, pengobatan, dan rencana pembedahan.
Pengkajian psikososial akan didapatkan peningkatan kecemasan, serta perlunya
pemenuhan informasi intervensi keperawatan dan pengobatan. Pada pasien dalam
kondisi terminal, pasien dan keluarga membutuhkan dukungan perawat atau ahli
spiritual sesuai dengan keyakinan pasien.
Pemeriksaan fisik, survey umum bisa terlihat sakit ringan, gelisah sampai sangat
lemah. TTV biasa normal atau bisa didapatkan perubahan, seperti takikardia dan
peningkatan pernapasan.
Pada pemerikasaan fisik fokus akan didapatkan:
1. Inspeksi : ikterus merupakan tanda khas, terutama pada sclera. Pasien terlihat
kelelahan (fatigue), asites, edema perifer, dan didapatkan perdarahan dari muntah
(hematemesis) dan melena.

12
2. Auskultasi : biasanya bising usus normal.
3. Perkusi : nyeri ketuk pada kuadran kanan atas.
4. Palpasi : hepatosplenomegali. Nyeri palpasi kuadran kanan atas mungkin ada.

B. Diagnosa Keperawatan
1. Aktual/resiko ketidakseimbangan cairan dan elektrolit berhubungan dengan terapi
deuratik, muntah, hypokalemia, penurunan intake cairan oral.
2. Intoleransi aktifitas berhubungan dengan cepat lelah, kelemahan fisik umum
sekunder dari perubahan metabolism sistemik.
3. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan intake
makanan yang kurang adekuat.

C. Rencana Keperawatan

Diagnosa 1
Aktual/resiko ketidakseimbangan cairan dan elektrolit berhubungan dengan terapi
deuratik, muntah, hypokalemia, penurunan intake cairan oral.
NOC NIC
 Fluid balance Fluid management
 Hydration  Timbang popok/pembalut jika
 Nutritional Status : Food and Fluid diperlukan.
Intake  Pertahankan catatan intake dan output
Kriteria hasil: yang akurat.
1. Mempertahankan urine output sesuai  Monitor status hidrasi (kelembapan
dengan usia dan BB, BJ urine normal, membrane mukosa, nadi adekuat,
HT normal. tekanan darah ortostatik), jika
2. Tekanan darah, nadi, suhu tubuh diperlukan.
dalam batas normal.  Monitor vital sign.

13
3. Tidak ada tanda dehidrasi, elastisitas  Monitor masukan makanan / cairan
turgor kulit baik, membrane mukosa dan hitung intake kalori harian.
lembab, tidak ada rasa haus yang  Kolaborasikan pemberian cairan IV.
berlebihan.  Monitor status nutrisi.
 Berikan IV pada suhu ruangan.
 Dorong masukan oral.
 Berikan penggantian nasogatrik
sesuai output.
 Dorong keluarga untuk membantu
pasien makan.
 Tawarkan snack (jus buah, buah
segar).
 Kolaborasi dokter jika tanda cairan
berlebih muncul memburuk.
 Atur kemungkinan tranfusi.
 Persiapan untuk transfuse.
Hypovolemia Management
 Monitor status cairan termasuk intake
dan output cairan.
 Monitor tanda vital.
 Monitor responpasien terhadap
penambahan cairan.
 Monitor berat badan.
 Dorong pasien untuk menambah
intake oral.
 Pemberian cairan IV monitor adanya
tanda dan gejala kelebihan volume

14
cairan.
 Monitor adanya tanda gagal ginjal.

Diagnosa 2
Intoleransi aktifitas berhubungan dengan cepat lelah, kelemahan fisik umum
sekunder dari perubahan metabolism sistemik.
NOC NIC
 Energi conservation Activity therapy
 Activity tolerance  Kolaborasikan dengan tenaga
 Self Care ADLs rehabilitasi medik dalam merencanakan
Kriteria hasil : program terapi yang tepat.
 Berpartisipasi dalam aktivitas fisik  Bantu klien untuk mengidentifikasikan
tanpa di sertai peningkatan tekanan aktivitas yang mampu dilakukan.
darah, nadi, RR  Bantu untuk memilih aktivitas
 Mampu melakukan aktivitas sehari hari konsisten yang sesuai dengan
( ADLs ) secara mandiri kemampuan fisik, psikologi dan sosial.
 Tanda tanda vital normal  Bantu untuk mengidentifikasi dan
 Energy psikomotor mendapatkan sumber yang di perlukan

 Level kelemahan untuk aktivitas yang diinginkan.

 Mampu berpindah : dengan atau  Bantu untuk mendapatkan alat bantuan


bantuan alat aktivitas seperti kursi roda, krek

 Status kardiopulmonari adekuat  Bantu untuk mengidentifikasi aktifitas

 Sirkulasi status baik yang disukai

 Status respirasi : pertukaran gas dan  Bantu klien untuk membuat jadwal
ventilasi adekuat latihan di waktu luang.
 Bantu pasien/ keluarga untuk
mengidentifikasi kekurangan dalam
beraktivitas.

15
 Sediakan penguat positif bagi yang
aktif beraktivitas
 Bantu pasien untuk mengembangkan
motivasi diri dan penguatan
 Monitor respon fisik, emosi, sosial, dan
spiritual

Diagnosa 3
Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan
intake makanan yang kurang adekuat.
NOC NIC
- Nutrional Status : Nutrition Management
- Nutrional Status : Food and fluid - Kaji adanya elergi makanan
intake - Kolaborasi dengan ahli gizi untuk
- Nutrional status : Nutrien intake menentukan jumlah kalori dan nutrisi
- Weigh control yang dibutuhkan pasien.
Kriteria Hasil : - Anjurkan pasien untuk meningkatkan
- Adanya peningkatan berat badan intake Fe
sesuai dengan tujuan - Anjurkan pasien untuk meningkatkan
- Berat badan ideal sesuai dengan tinggi protein dan vitamin C
badan - Berikan subtansi gula
- Mampu mengidentifikasi kebutuhan - Yakinkan diet yang dimakan
nutrisi mengandung tinggi serat untuk
- Tidak ada tanda-tanda malnutrisi mencegah konstipasi
- Menunjukkan peningkatan nutrisi - Berikan makanan yang terpilih ( sudah
pengecapan dari menelan dikonsulkan ahli gizi )
- Tidak terjadi penurunan berat badan - Anjurkan pasien bagaimana membuat
yang bearti catatan makanan harian

16
- Monitor jumlah nutrisi
- Kaji kemampuan pasien untuk
mendapatkan nutrisi yang dibutuhkan
Nutrition Monitoring :
- BB pasien dalam batas normal
- Monitor adanya penurunan berat badan
- Monitor tipe dan jumlah aktivitas yang
bisa dilakukan
- Monitor lingkungan selama makan
- Jadwalkan pengobatan dan tindakan
tidak selama jam makan
- Monitor turgor kulit
- Monitor kekeringan, rambut kusam,
dan mudah patah
- Monitor mual dan muntah
- Monitor pertumbuhan dan
perkembangan
- Monitor pucat, kemerahan, dan
kekeringan jaringan konjungtiva
- Monitor kalori dan intake nutrisi
- Catat adanya edema, hiperemik,
hipertonik, papilla lidah dan cavitas
oral
- Catat jika lidah berwarna mengenta,
scarlet

17
D. Evaluasi Keperawatan

Hasil yang diharapkan setelah dilakukan tindakan keperawatan adalah sebagai berikut:
1. Tidak terjadi ketidakseimbangan cairan dan elektrolit.
2. Aktifitas pasien dapat optimal sesuai dengan tingkatan toleransi.
3. Intake nutrisi adekuat.

18
BAB IV
PENUTUP

A. Kesimpulan
Hepatoma (Hepatocellular Carcinoma/HCC ) adalah tumor ganas hati primer
yang berasaldari hepatosit (kanker hati primer). Penyebab utama dari hepatoma ,yaitu
serosi hepatis.kondisi sirosis hepatis biasanya berhubungan dengan hepatitis B,hepatitis
C, hemokromatosis aflatoxin.

B. Saran
Diharapkan dengan adanya makalah ini semua pihak yang tidak menutup
kemungkinan masyarakat, mahasiswa pada khususnya mahasiswa keperawatan, dan
seluruh jajaran terkait, dapat memandang positif serta memahami adanya informasi ini,
sesuai apa yang dibahas didalamnya dengan menerapkan sesuai peraturan yang berlaku.

19
Daftar Pustaka

Alrosa, N. (2014). Makalah hepatoma, diakses Oktober, 20, 2014 dari


http://www.academia.edu/
Mutaqin, A., Sari, K. (2011). Gangguan gastro intestinal : aplikasi keperawatan medikal
bedah. Salemba Medika : Jakarta.
Nurarif, A.H., Kusuma, H. (2013). Panduan penyusunan asuhan keperawatan professional.
Media Action Publishing : Yogyakarta.
Suratun., Lusianah. (2010). asuhan keperawatan klien gangguan system gastrointestinal.
Trans Info Media : Jakarta.

20