Sunteți pe pagina 1din 20

HAMBATAN KOMUNIKASI TERAPEUTIK BIDAN KEPADA IBU HAMIL DALAM

UPAYA PENURUNAN ANGKA KEMATIAN IBU (AKI) DI SERANG

Studi Deskriptif Kualitatif tentang Hambatan Komunikasi Terapeutik Bidan kepada Ibu
Hamil di Puskesmas Tunjung Teja, Kabupaten Serang

Ditha Prasanti
Ikhsan Fuady

Prodi Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran

dithaprasanti@gmail.com

ABSTRACT
As a health worker, midwife should have a good therapeutic communication skills, so that he
can establish a relationship of trust with the patient, providing professional satisfaction in
obstetric care, and improve the image of the profession of midwifery. But the most important
is to apply their knowledge to help their fellow human beings.

Maternal Mortality Rate (MMR) is one of the indicators that should be considered by the
midwife. If the Maternal Mortality Rate (MMR) increases, the solution must be found in order
to prevent this AKI. This is why researchers are interested to raise the research on
Therapeutic Communication Barriers To Midwives Pregnancy Prevention in Maternal
Mortality Rate (MMR). The purpose of this study is the researcher wanted to know how
therapeutic communication barriers between midwives to pregnant women in the prevention
of maternal mortality is increasing. Based on data obtained from the Department of Health,
the maternal mortality is very high in Serang district. Therefore, in this study, the researchers
raised the case of therapeutic communication barriers midwives to pregnant women in the
district of Serang.

In this study, researcher used a qualitative approach with descriptive methods. The data
collection techniques are observation, interviews, and documentation study. The theory of
communication shall be used to analyze this research is the theory of symbolic interaction.

Results of research have shown that therapeutic communication barriers that occur between
midwives to pregnant women in Puskesmas Tunjung Teja Serang Regency is a semantic
barriers (language), cultural barriers, and psychological barriers.

Keywords:
Barriers, Therapeutic Communication, Midwives, Pregnancy, Serang

ABSTRAK
Sebagai seorang tenaga kesehatan, Bidan harus memiliki keterampilan komunikasi
terapeutik yang baik, agar dia dapat menjalin hubungan rasa percaya dengan pasien,
memberikan kepuasan profesional dalam pelayanan kebidanan, dan meningkatkan citra
profesi kebidanan. Namun yang terpenting adalah mengamalkan ilmunya untuk menolong
terhadap sesama manusia.
Angka Kematian Ibu (AKI) adalah salah satu indikator yang harus diperhatikan oleh
para Bidan. Jika Angka Kematian Ibu (AKI) semakin meningkat, maka harus segera
ditemukan solusi dalam upaya pencegahan AKI ini. Hal inilah yang menyebabkan peneliti
tertarik untuk mengangkat penelitian tentang Hambatan Komunikasi Terapeutik Bidan
Kepada Ibu Hamil dalam Upaya Pencegahan Angka Kematian Ibu (AKI). Tujuan penelitian
ini adalah peneliti ingin mengetahui bagaimana hambatan komunikasi terapeutik antara Bidan
kepada Ibu Hamil dalam upaya pencegahan AKI yang semakin meningkat. Berdasarkan data
yang diperoleh dari Dinas Kesehatan bahwa AKI di kabupaten Serang sangat tinggi. Oleh
karena itu, dalam penelitian ini, peneliti mengangkat kasus hambatan komunikasi terapeutik
Bidan kepada Ibu Hamil di kabupaten Serang.
Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode
deskriptif. Adapun teknik pengumpulan data yang digunakan adalah observasi, wawancara,
dan studi dokumentasi. Teori komunikasi yang sesuai digunakan untuk menganalisis
penelitian ini adalah teori interaksi simbolik.
Hasil penelitian yang telah dilakukan menunjukkan bahwa hambatan komunikasi
terapeutik yang terjadi antara Bidan kepada Ibu Hamil di Puskesmas Tunjung Teja
Kabupaten Serang adalah hambatan semantik (bahasa), hambatan budaya, dan hambatan
psikologis.

Kata Kunci: Hambatan, Komunikasi Terapeutik, Bidan, Ibu Hamil, Serang

PENDAHULUAN fisik, mental dan dipengaruhi oleh latar


Komunikasi terapeutik sangat belakang sosial, pengalaman, usia,
dekat dengan kehidupan manusia, karena pendidikan dan tujuan. Komunikasi
hampir setiap individu telah terapeutik adalah komunikasi yang
mengalaminya. Jika seseorang sakit, direncanakan secara sadar, bertujuan dan
bertemu dengan tenaga medis, terjadilah dipusatkan untuk kesembuhan pasien.
komunikas terapeutik. Begitupun halnya Komunikasi terapeutik mengarah pada
tenaga medis yang terdiri dari dokter, bentuk komunikasi interpersonal. Stuart
perawat, dan bidan. Bidan harus memiliki G.W. (1998) mengatakan bahwa
keterampilan komunikasi terapeutik yang komunikasi terapeutik merupakan
baik, agar dia dapat menjalin hubungan hubungan interpesonal antara bidan
rasa percaya dengan pasien, memberikan dengan pasien, dalam hubungan ini bidan
kepuasan profesional dalam pelayanan dan pasien memperoleh pengalaman
kebidanan, dan meningkatkan citra profesi belajar bersama dalam rangka
kebidanan. Namun yang terpenting adalah memperbaiki pengalaman emosional
mengamalkan ilmunya untuk menolong pasien.
terhadap sesama manusia. Seorang bidan tentu harus
Komunikasi menciptakan memerhatikan proses komunikasi
hubungan antara bidan dengan pasien terapeutik yang dilakukannya selama
untuk mengenal kebutuhan dan berinteraksi dengan pasien. Pasien akan
menentukan rencana tindakan. mengharapkan pelayanan yang optimal
Kemampuan komunikasi tidak terlepas dari tenaga medis agar tercapainya
dari tingkah laku yang melibatkan aktifitas perolehan informasi yang dibutuhkan
tentang kesehatannya. Jika bidan mampu atau kerangka kerja untuk mengoptimalkan
memberikan pelayanan yang terbaik MDGs. Komunikasi terapeutik yang
kepada pasiennya, maka hal inipun akan dilakukan Bidan kepada Ibu Hamil pun
meningkatkan citra profesi kebidanan. tentu harus semakin optimal, sebagai
Bidan dikenal oleh masyarakat sebagai upaya untuk menurunkan Angka Kematian
tenaga medis yang biasa membantu proses Ibu (AKI) di Kabupaten Serang.
persalinan ibu hamil. Dalam hal ini, bidan Berdasarkan latar belakang di atas,
pun perlu memahami pentingnya Angka peneliti semakin tertarik untuk melakukan
Kematian Ibu (AKI) menurun atau penelitian tentang Hambatan Komunikasi
meningkat di suatu daerah. Terapeutik Bidan Kepada Ibu Hamil
Angka Kematian Ibu (AKI) Dalam Upaya Penurunan Angka Kematian
merupakan hal yang sangat penting Ibu (AKI) di Kabupaten Serang. Peneliti
diperhatikan oleh Bidan sebagai salah satu ingin mengetahui bagaimana hambatan
tenaga medis yang menangani langsung komunikasi terapeutik yang terjadi antara
komunikasi terapeutik kepada ibu hamil. Bidan dengan Ibu Hamil tersebut.
Berdasarkan data yang diperoleh dari Hambatan apa yang menyebabkan AKI ini
Dinas Kesehatan Kabupaten Serang yang tetap tinggi padahal komunikasi terapeutik
terdapat di situs republika online, yaitu dari Bidan kepada Ibu Hamil terus
Kepala Bidang Pelayanan Kesehatan berlangsung. Apalagi mengingat bahwa
Dinkes Kabupaten Serang, Agus data yang menunjukkan AKI yang tinggi
Sukmayadi, menurutnya medis sangat terdapat di Kabupaten Serang. Dinas
berperan untuk menekan angka kematian Kesehatan pun terus mengupayakan
ibu, melalui sistem rujukan yang bekerjasama dengan semua pihak,
dimaksimalkan dengan pelayanan prima termasuk rumah sakit dan Puskesmas yang
untuk menyelamatkan ibu dan bayi. tersebar di Kabupaten Serang.
Namun, selain medis yang menjadi faktor Dalam penelitian ini, peneliti
tingginya kematian ibu juga faktor sosial mengambil lokasi penelitian di Puskesmas
masyarakat yang belum sadar akan Tunjung Teja, Kabupaten Serang. Hal ini
pentingnya keselamatan. Meski dikarenakan data dari Dinas Kesehatan
sebelumnya juga faktor ekonomi yang yang menunjukkan AKI di puskesmas
sering menjadi alasan utama penyebab tersebut sangat tinggi.
kematian tersebut. Hal inipun dipertegas Peneliti menggunakan pendekatan
oleh penuturan Sekretaris Daereah kualitatif dengan metode deskriptif.
Kabupaten Serang, Lalu Atharussalam, Adapun teknik pengumpulan data yang
yang menegaskan bahwa tingginya angka digunakan adalah observasi, wawancara,
kematian ibu (AKI) di Serang harus dan studi dokumentasi. Peneliti juga
menjadi bahan evaluasi dari kinerja dinkes menggunakan teori komunikasi yang
dan mitranya dalam menekan aki tersebut, cocok digunakan untuk menganalisis
karena AKI di Kabupaten Serang tertinggi penelitian ini yakni teori interaksi
di Banten. Untuk menurunkan AKI, Dinas simbolik.
Kesehatan harus bekerja sama dengan
organisasi-organisasi lainnya. Dalam hal KERANGKA KONSEPTUAL
ini, pihak Dinas Kesehatan telah membuat Komunikasi Terapeutik
MAF (MDGs Acseleration framework)
Komunikasi terapeutik adalah Komunikasi terapeutik adalah
komunikasi yang direncanakan secara komunikasi yang direncanakan secara
sadar dan tujuan dipusatkan untuk sadar, bertujuan dan dipusatkan untuk
kesembuhan pasien. Komunikasi kesembuhan pasien. Komunikasi
terapeutik dianggap sebagai proses yang terapeutik termasuk komunikasi
khusus dan memiliki arti dalam hubungan interpersonal dengan titik tolak saling
antar manusia. Pada praktik kebidanan, memberikan pengertian antar bidan dengan
komunikasi terapeutik lebih bermakna pasien. Persoalan mendasar dan
karena merupakan modal utama dalam komunikasi ini adalah adanya saling
mengimplementasikan asuhan kebidanan. membutuhan antara bidan dan pasien,
Artinya, dalam komunikasi terapeutik sehingga dapat dikategorikan ke dalam
bidan tidak hanya dituntut memiliki komunikasi pribadi di antara bidan dan
pengalaman ilmu, intelektual, dan teknik pasien, bidan membantu dan pasien
menolong pasien, tetapi juga didukung menerima bantuan (Damaiyanti, 2010).
kasih sayang, peduli dan berkomunikasi Komunikasi terapeutik bukan
dengan baik (Machfoedz: 2009). Bidan pekerjaan yang bisa dikesampingkan,
yang memiliki keterampilan komunikasi namun harus direncanakan, disengaja, dan
terapeutik yang baik, memungkinkan dia merupakan tindakan profesional. Akan
mudah menjalin hubungan rasa percaya tetapi, jangan sampai karena terlalu asyik
dengan klien, memberikan kepuasan bekerja, kemudian melupakan pasien
profesional dalam pelayanan kebidanan, sebagai manusia dengan beragam latar
dan meningkatkan citra profesi kebidanan. belakang dan masalahnya. (Machfoed,
Namun yang terpenting adalah 2009). Menurut Stuart dan Sundeen
mengamalkan ilmunya untuk menolong (dalam Machfoed, 2009), tujuan hubungan
terhadap sesama manusia. terapeutik diarahkan pada pertumbuhan
Komunikasi terapeutik ini klien meliputi :
bertujuan untuk mengurangi beban 1. Membantu klien untuk memperjelas dan
perasaan dan rasa takut yang ada pada mengurangi beban perasaan dan pikiran
pasien, mengurangi keraguan pasien serta serta dapat mengambil tindakan untuk
dapat mempengaruhi orang lain, mengubah situasi yang ada bila klien
lingkungan dan dirinya sendiri (Mahfud pecaya pada hal yang diperlukan.
2009). Pentingnya komunikasi terapeutik 2. Mengurangi keraguan, membantu dalam
dalam membantu menurunkan rasa sakit hal mengambil tindakan yang efektif
dan takut dalam proses persalinan sangat dan mempertahankan kekuatan egonya.
diperlukan. Oleh karena itu, bidan dalam 3. Mempengaruhi orang lain, lingkungan
persalinan harus bisa membuat pasien fisik dan dirinya sendiri.
lebih percaya diri karena bila pasien itu Tujuan terapeutik akan tercapai bila bidan
grogi atau gugup dalam persalinanannya memiliki karakteristik sebagai berikut
baik secara fisik maupun mental belum (Machfoed,2009) :
siap maka timbul rasa ketakutan sehingga a. Kesadaran diri.
rasa sakit dan takut itu akan bertambah, b. Klarifikasi nilai.
maka dengan komunikasi terapeutik inilah c. Eksplorasi perasaan.
dapat mengatasi masalah pasien tersebut. d. Kemampuan untuk menjadi model peran
e. Rasa tanggung jawab dan etik.
Menurut Roger dalam (Machfoed: e. Mampu melihat permasalahan klien dari
2009), terdapat beberapa karakteristik dari kacamata klien; Dalam memberikan
seorang bidan yang dapat memfasilitasi asuhan keperawatan perawat harus
tumbuhnya hubungan yang terapeutik. berorientasi pada klien Taylor, dkk,
Berikut komponen-komponen komunikasi 1997 (dalam Machfoed: 2009) . Untuk
terapeutik tersebut antara lain: itu agar dapat membantu memecahkan
a. Kejujuran (trustworthy) : Kejujuran masalah klien perawat harus
merupakan modal utama agar dapat memandang permasalahan tersebut dari
melakukan komunikasi yang bernilai sudut pandang klien. Untuk itu perawat
terapeutik, tanpa kejujuran mustahil harus menggunakan teknik active
dapat membina hubungan saling listening dan kesabaran dalam
percaya. Klien hanya akan terbuka dan mendengarkan ungkapan klien. Jika
jujur pula dalam memberikan informasi perawat menyimpulkan secara tergesa-
yang benar hanya bila yakin bahwa gesa dengan tidak menyimak secara
bidan dapat dipercaya. keseluruhan ungkapan klien akibatnya
b. Tidak membingungkan dan cukup dapat fatal, karena dapat saja diagnosa
ekspresif: Dalam berkomunikasi yang dirumuskan perawat tidak sesuai
hendaknya bidan menggunakan kata- dengan masalah klien dan akibatnya
kata yang mudah dimengerti oleh klien. tindakan yang diberikan dapat tidak
Komunikasi nonverbal harus membantu bahkan merusak klien.
mendukung komunikasi verbal yang f. Menerima klien apa adanya; Jika
disampaikan. Ketidaksesuaian dapat seseorang diterima dengan tulus,
menyebabkan klien menjadi bingung. seseorang akan merasa nyaman dan
c. Bersikap positif; Bersikap positif dapat aman dalam menjalin hubungan intim
ditunjukkan dengan sikap yang hangat, terapeutik.
penuh perhatian dan penghargaan g. Sensitif terhadap perasaan klien: Tanpa
terhadap klien. Roger menyatakan inti kemampuan ini hubungan yang
dari hubungan terapeutik adalah terapeutik sulit terjalin dengan baik,
kehangatan, ketulusan, pemahaman karena jika tidak sensitif bidan dapat
yang empati dan sikap positif. saja melakukan pelanggaran batas,
d. Empati bukan simpati; Sikap empati privasi dan menyinggung perasaan
sangat diperlukan dalam asuhan klien.
kebidanan, karena dengan sikap ini h. Tidak mudah terpengaruh oleh masa
perawat akan mampu merasakan dan lalu klien ataupun diri perawat sendiri.
memikirkan permasalahan klien seperti Seseorang yang selalu menyesali
yang dirasakan dan dipikirkan oleh tentang apa yang telah terjadi pada
klien. Dengan empati seorang bidan masa lalunya tidak akan mampu berbuat
dapat memberikan alternatif pemecahan yang terbaik hari ini. Sangat sulit bagi
masalah bagi klien, karena meskipun perawat untuk membantu klien, jika ia
dia turut merasakan permasalahan yang sendiri memiliki segudang masalah dan
dirasakan kliennya, tetapi tidak larut ketidakpuasan dalam hidupnya.
dalam masalah tersebut sehingga (Machfoed, 2009)
perawat dapat memikirkan masalah
yang dihadapi klien secara objektif. Proses Komunikasi
Proses komunikasi pada hakikatnya 1. Komunikator
adalah proses penyampaian lambang yang Kredibilitas merupakan salah satu
berarti oleh seseorang kepada orang lain, faktor dari komunikator yang
baik dengan maksud agar mengerti mempunyai peranan penting agar
maupun agar berubah perilakunya. pesan yang dikomunikasikan dapat
Suatu komunikasi dapat dikatakan berjalan lancar dan dapat diterima
efektif atau berhasil bilamana di antara atau dipahami komunikan. Menurut
penyebar pesan (komunikator) dan Jalaludin Rakhmat (2008:257),
penerima pesan (komunikan) terdapat satu dalam bukunya psikologi
pengertian yang sama mengenai isi pesan. komunikasi, kredibilitas adalah,
Isi pesan disampaikan oleh penyebar “seperangkat lambang bermakna
melalui lambang yang berarti. Lambang- yang disampaikan oleh
lambang itu dapat dikatakan sebagai komunikator.
“titian” atau “kendaraan” untuk membawa 2. Pesan
pesan kepada si penerima pesan. Pesan merupakan seperangkat
Terlihat bahwa dalam komunikasi lambang bermakna yang
terdapat tiga unsur penting, yaitu : disampaikan oleh komunikator
komunikator, pesan, dan komunikan. (Effendy, 1998). Dalam
Komunikator adalah sumber yang menyampaikan pesan secara lisan,
memiliki ide atau gagasan mengenai faktor pemilihan kata-kata
sesuatu yang akan disampaikan kepada merupakan hal yang sangat penting
komunikan. Pesan adalah gagasan yang agar sasaran yang dituju mengerti
berupa lambang-lambang yang berarti dan dengan maksud yang disampaikan.
disampaikan oleh komunikator kepada a. Pesan harus dirancang dan
komunikan, sedangkan komunikan adalah disampaikan sedemikian rupa
orang atau badan yang menerima pesan. sehingga dapat menarik
Kegiatan komunikasi tidak akan berjalan perhatian komunikan.
secara efektif apabila tidak didukung b. Pesan harus membangkitkan
dengan ketiga faktor tersebut yaitu kebutuhan pribadi komunikan
komunikator, pesan, dan komunikan. dan menyarankan beberapa cara
Dengan demikian, agar komunikasi untuk memeroleh kebutuhan
berlangsung secara efektif maka kita harus tersebut.
memerhatikan faktor-faktor tersebut, yaitu c. Pesan harus menyarankan suatu
komunikator, pesan, dan komunikan. jalan untuk memeroleh
Faktor lain yang penting dalam suatu kebutuhan tadi yang layak bagi
proses komunikasi adalah umpan balik situasi kelompok di mana
atau efek. Umpan balik memegang komunikan berada pada saat ia
peranan penting dalam komunikasi sebab digerakkan untuk memberikan
ia menentukan berlanjutnya komunikasi pendapat dalam mencapai tujuan
atau berhentinya komunikasi yang (Rakhmat, 2008:92).
dilancarkan oleh komunikator . Dengan 3. Komunikan
kata lain, umpan balik menentukan sukses Dari pesan-pesan tersebut, maka
atau tidaknya sebuah proses komunikasi seorang komunikator harus dapat
dilangsungkan. menyampaikan pesan dengan baik,
misalnya bagaimana kejelasan isi sangat berpengaruh pada interaksi kita
pesan tersebut, bahasa yang dengan orang lain.
digunakan apakah mudah
dipahami, isi pesan tersebut apakah Hambatan Komunikasi
sesuai dengan kebutuhan Meskipun informasi yang
masyarakat. disampaikan sebenarnya mudah
dimengerti, tetapi ternyata komunikasi
Komunikan memainkan peranan yang terjalin tersebut tidak sesuai dengan
yang sangat penting dalam proses apa yang diharapkan atau diinginkan. Hal
komunikasi, sebab ia menerangkan ini dapat terjadi sebab didalam
bagaimana pesan kita diterima dan peleksanaan komunikasi banyak sekali
ditanggapi oleh komunikan atau hambatan-hambatan yang mungkin timbul.
tidak. Umpan balik dari komunikan Penurunan isi dan mutu pesan
bisa bersifat verbal dalam bentuk, dapat terjadi pada setiap tahap dalam
seperti “ya” untuk tanda setuju atau proses komunikasi mulai dari perumusan
“tidak” untuk tanda menolak, bisa konsep gagasan didalam kata-kata sampai
juga bersifat non verbal dalam saat pemanfaatan yang diterima. Lebih
bentuk gerakan anggota kepala lanjut hambatan-hambatan ini secara
tanda tidak mau, mengerutkan umum dapat di klasifikasikan menjadi tiga
kening tanda tidak mengerti, menurut Arni Muhammad (2009) yaitu :
mencibirkan bibir tanda mengejek, 1. Hambatan Pribadi (Psikologis)
dan lain-lain. (Effendy, 1998). adalah gangguan komunikasi yang
timbul dari emisi, nilai dan
Berkaitan dengan penelitian ini, kebiasaan menyimak yang tidak
peneliti akan meneliti hambatan baik. Hambatan pribadi seringkali
komunikasi yang terjadi dalam komunikasi mencakup jarak psikologi
terapeutik yang dilakukan bidan kepada diantaranya orang-orang yang
ibu hamil. Dengan demikian, jelaslah serupa dengan jarak fisik
bahwa komunikasi mempunyai peranan sesungguhnya.
penting dalam kehidupan manusia sehari- 2. Hambatan Fisik adalah gangguan
hari baik perorangan maupun kelompok. komunikasi yang terjadi di
Seperti yang telah diuraikan lingkungan tempat berlangsungnya
sebelumnya dalam latar belakang masalah komunikasi.
bahwa penelitian ini juga mengkaji 3. Hambatan Semantik adalah
bagaimana bidan sebagai salah satu tenaga hambatan ini berasal dari
medis, berkomunikasi dengan ibu hamil, keterbatasan simbol-simbol itu
termasuk dalam kajian komunikasi antar sendiri. Ada beberapa karakteristik
pribadi. Dengan kata lain konsep diri dari bahasa yang menyebabkan
perilaku manusia, tergantung bagaimana proses decording dalam bahasa
pola interaksi individu dengan semakin sulit antara lain :
lingkungannya, bagaimana kita a.Bahasa itu statis sedangkan
memandang diri kita sendiri dan realitasnya dinamis,
bagaimana orang lain memandang kita, b.Bahasa itu terbatas sedangkan
realitasnya tidak terbatas,
c.Bahasa itu bersifat abstrak. Hambatan budaya ini menjadi hal yang
Selain tahap-tahap dan akibat sangat penting. Satu pantangan bagi sang
adanya hambatan dalam komunikasi, maka komunikator untuk beranggapan, bahwa
umpan balik sangat diperlukan. Umpan komunikan tumbuh dengan filosofi, gaya
balik merupakan arah yang utama bagi hidup, adat istiadat yang sama. Maka kita
pengirim pesan untuk memonitor apakah tidak boleh "menyamaratakan"
pesannya dimengerti dan dimanfaatkan penggunaan teknik berkomunikasi kepada
oleh penerima sesuai dengan harapannya. setiap komunikan. Hindari anggapan
Berdasarkan uraian diatas dapat bahwa komunikan mempunyai pemikiran
disimpulkan bahwa komunikasi sangat yang sama ketika menghadapi suatu
penting dalam kehidupan sehari-hari. permasalahan. Jika komunikator
Tanpa komunikasi atau kurangnya menemukan miskomunikasi dalam suatu
komunikasi akan membuat pekerjaan hubungan, atau bahkan komunikan merasa
menjadi kurang maksimal dan akan tersinggung, maka cepatlah lakukan
terjadinya kesalahpahaman dalam analisis mengapa komunikan punya
menangkap suatu informasi. anggapan lain terhadap pesan yang
Komunikasi pun sering dikutip disampaikan. Hal ini bisa saja terjadi
sebagai masalah nomor satu di dalam karena budaya yang berbeda yang dimiliki
sebuah hubungan. Jika dua perangkat oleh sang komunikan. jika hal ini terjadi
komunikasi (komunikator dan komunikan) maka Hormati persepsi komunikan dan
memahami hal ini, serta berusaha untuk cobalah temukan beberapa persamaan
sering berkomunikasi, maka tidak akan persepsi maka disanalah peluang
mengalami permasalahan yang cukup komunikator untuk kembali membangun
signifikan. Namun sebaliknya jika tidak komunikasi yang "nyambung".
memperhatikan beberapa faktor penyebab 3. Salah paham
masalah dalam berkomunikasi maka Hambatan komunikasi yang paling
kemungkinan besar lambat laun utama pada awalnya bersumber dari dari
komunikasi yang dibina akan "mati". Ada satu hal, yaitu kesalahpahaman.
beberapa hambatan komunikasi dari Interpretasi, respon, asumsi seseorang
perspektif lain yang mungkin terjadi dalam dalam menghadapi suatu permasalahan
menjalin komunikasi dua arah. berbeda-beda, komunikan akan memahami
1. Bahasa yang komunikator katakan. Jika
Jika seorang komunikator atau komunikator menelisik lebih jauh jika ada
komunikan berkomunikasi dengan bahasa pertentangan dalam suatu proses
yang berbeda, kemungkinan akan terjadi komunikasi. Dalam hambatan ini
banyak kesalahpahaman bahkan terjadinya komunikator harus menjauhi sikap
hubungan yang tidak jelas. Jika pada menyimpan permasalahan atau
proses komunikasi komunikator merasa kesalahpahaman yang terjadi.
bahasa yang digunakannya tidak dipahami, 4. Sisi historis atau pengalaman
maka komunikator harus sering Pada umumnya komunikator
meluangkan waktu untuk menjelaskan menjadikan filosofis dan pengalaman
tentang beberapa hal yang ingin di hidup masa lalu sebagai rujukan
bicarakan kepada komunikan. komunikasi agar sang komunikan
2. Budaya mengerti. Tidak ada salahnya melakukan
hal ini, terkecuali jika komunikator simbolik pada intinya menjelaskan tentang
menjadikan pengalaman sebagai rujukan kerangka referensi untuk memahami
tersebut tidak dengan sikap prasangka, bagaimana manusia, bersama dengan
maksudnya memproyeksikan pengalaman orang lain, menciptakan dunia simbolik
hidup terdahulu untuk menjadikan solusi dan bagaimana cara dunia membentuk
untuk permasalahan komunikan, karena perilaku manusia. Interaksi simbolik ada
pengalaman hidup yang dialami karena ide-ide dasar dalam membentuk
komunikator terdahulu tidak akan sama makna yang berasal dari pikiran manusia
persis dengan yang dialami komunikan. (Mind) mengenai diri (Self), dan
5. Mendominasi pembicaraan hubungannya di tengah interaksi sosial,
Mendominasi pembicaraan, hal ini dan tujuan akhir untuk memediasi, serta
sering terjadi.Seorang komunikator merasa menginterpretasi makna di tengah
pendapatnya paling benar sehingga tidak masyarakat (Society) dimana individu
memberikan kesempatan komunikan untuk tersebut menetap. Mind, Self and Society
berbicara. Bahkan lebih jauh komunikator merupakan judul buku yang menjadi
selalu memotong pembicaraan, padahal rujukan utama teori interaksi simbolik,
pesan yang disampaikan komunikan belum merefleksikan tiga konsep utama dari
disampaikan secara utuh, sehingga sering teori. Definisi singkat dari ke tiga ide
terjadi kesalahpahaman. Ketika dasar dari interaksi simbolik, yaitu:
Berkomunikasi dengan seseorang 1. Pikiran (Mind)
hindarilah sikap mendominasi Pikiran adalah kemampuan untuk
pembicaraan agar bisa saling memberikan menggunakan simbol yang
komentar. Namun jika komunikator mempunyai makna sosial yang sama,
melihat hal ini terjadi, cobalah meminta dimana tiap individu harus
komunikator untuk bersi keras mengembangkan pikiran mereka
memberikan komentar, agar komunikasi melalui interaksi dengan individu lain
yang dijalin dapat berimbang. (West dan Turner, 2007: 102). Simbol
(Damaiyanti, 2010) yang bermakna adalah tindakan verbal
berupa bahasa yang merupakan
Teori Interaksi Simbolik mekanisme utama interaksi manusia.
Esensi dari interaksi simbolik Penggunaan bahasa atau isyarat
menekankan pada suatu aktivitas yang simbolik oleh manusia dalam interaksi
merupakan ciri khas manusia, yakni sosial mereka pada gilirannya
komunikasi atau pertukaran simbol yang memunculkan pikiran (mind) yang
diberi makna (Mulyana, 2010: 68). Banyak memungkinkannya menginternalisasi
ahli di belakang perspektif ini yang masyarakat. Jadi menurut Mead,
mengatakan bahwa individu sebagai pikiran mensyaratkan adanya
manusia merupakan hal yang paling masyarakat; dengan kata lain
penting. Mereka mengatakan bahwa masyarakat harus lebih dulu ada
individu adalah objek yang bisa secara sebelum adanya pikiran (Mulyana,
langsung ditelaah dan dianalisis melalui 2010: 84). Dengan demikian pikiran
interaksinya dengan individu yang lain. adalah bagian integral dari dari proses
Menurut Ralph Larossa dan sosial, bukan sebaliknya proses sosial
Donald C. Reitzes (1993) interaksi adalah produk pikiran. Menurut
Mead, lewat berfikir yang terutama dibangun, dan dikonstruksikan oleh
ditandai degan kesadaran,manusia tiap individu ditengah masyarakat, dan
mampu mencegah tindakannya sendiri tiap individu tersebut terlibat dalam
untuk sementara, menunda reaksinya perilaku yang mereka pilih secara
terhadap suatu stimulus (Mulyana, aktif dan sukarela, yang pada akhirnya
2010: 86). Manusia juga mampu mengantarkan manusia dalam proses
mengambil suatu stimulus diantara pengambilan peran di tengah
sekian banyak stimulus alih-alih masyarakatnya. Oleh karena itu
bereaksi terhadap stimulus yang masyarakat terdiri dari individu-
pertama dan yang paling kuat. individu yang terbagi kedalam dua
Manusia pun mampu pula memilih bagian masyarakat yang
suatu tindakan di antara berbagai mempengaruhi pikiran dan diri.
tindakan yang direncanakan atau Masyarakat yang pertama disebut
dibayangkan. Mead sebagai particular others yang
2. Diri (Self) berisikan individu yang bermakna bagi
Diri adalah kemampuan untuk individu yang bersangkutan seperti
merefleksikan diri sendiri dari sudut anggota keluarga, teman dan rekan kerja,
pandang atau pendapat orang lain. sedangkan masyarakat yang kedua adalah
Disini diri tidak dapat dilihat dari generalized others yang merujuk pada
dalam diri seseorang melalui kelompok sosial dan budayanya secara
introspeksi diri. Bagi Mead, diri hanya keseluruhan. Generalized others
bisa berkembang melalui kemampuan menyediakan informasi tentang peranan,
pengambilan peran, yaitu peraturan dan sikap yang digunakan
membayangkan diri dari pandangan bersama oleh komunitas, sedangkan
orang lain (West dan Turner, 2007 : particular others memberikan perasaan
103). Konsep melihat diri dari diterima dalam masyarakat dan
pandangan orang lain sebenarnya penerimaan diri. Generalized others
sebuah konsep yang pernah seringkali membantu mengatasi konflik
disampaikan oleh Charles Cooley yang terjadi dalam particular others. Dari
pada 1912. Konsepnya adalah the pemaparan tentang latar belakang
looking glass self yaitu kemampuan pemikiran besar tentang manusia yang
melihat diri melalui pantulan dari mempengaruhi pemikirannya.
pandangan orang lain. Cooley
meyakini bahwa ada tida prinsip METODE PENELITIAN
perkembangan sehubungan dengan Pendekatan penelitian yang
the looking glass self, yaitu (1) digunakan dalam penelitian ini adalah
membayangkan penampilan kita di paradigma konstruktivis dengan metode
hadapan orang lain, (2) deskriptif. Metode deskriptif adalah suatu
membayangkan penilaian mereka metode dalam meneliti status sekelompok
terhadap penampilan kita, dan (3) manusia, suatu obyek, suatu set kondisi,
merasa sakit hati atau bangga karena suatu sistem pemikiran, ataupun suatu
perasaan diri. kelas peristiwa pada masa sekarang.
3. Masyarakat (Society) adalah jejaring Tujuan dari penelitian deskriptif ini
hubungan sosial yang diciptakan, adalah untuk membuat deskipsi, gambaran
atau lukisan secara sistematis, faktual dan ialah titik berat pada observasi dan suasana
akurat mengenai fakta-fakta, sifat-sifat alamiah (naturalisasi setting). Peneliti
serta hubungan antar fenomena yang bertindak sebagai pengamat. Ia hanya
diselidiki. membuat kategori pelaku, mengamati
“Metodologi adalah proses, prinsip, dan gejala, dan mencatatnya dalam buku
prosedur yang kita gunakan untuk observasi”. (Rakhmat, 2008: 25)
mendekati problem dan mencari jawaban”
(Mulyana, 2008: 145). Menurut Sugiyono Teknik Pengumpulan Data
(2007: 1), metode penelitian kualitatif Teknik pengumpulan data dalam
merupakan suatu penelitian yang penelitian kualitatif adalah dengan
digunakan untuk meneliti pada objek yang melakukan observasi, wawancara
alamiah dimana peneliti adalah sebagai mendalam, dan studi dokumentasi.
instrumen kunci, teknik pengumpulan data 1) Observasi
dilakukan secara gabungan, analisis data Observasi yang dilakukan dalam
bersifat induktif, dan hasil penelitian penelitian ini adalah pengamatan.
kualitatif lebih menekankan makna Pengamatan dilakukan dengan cara
daripada generalisasi. participant observation, terhadap
Penelitian kualitatif bertujuan objek yang diteliti yaitu yang
mempertahankan bentuk dan isi perilaku berkaitan dengan hambatan
manusia dan menganalisis kualitas- komunikasi terapeutik yang
kualitasnya, alih-alih mengubahnya dilakukan Bidan kepada Ibu Hamil
menjadi entitas-entitas kuantitatif dalam upaya penurunan AKI di
(Mulyana, 2008: 150). kabupaten Serang. Observasi yang
Metode yang digunakan peneliti peneliti lakukan yaitu penelitian
dalam penelitian ini adalah dengan berdasarkan kondisi di lapangan,
menggunakan metode penelitian deskriptif peneliti terlibat dalam kegiatan
dengan analisis data kualitatif. Disebut komunikasi terapeutik tersebut lalu
sebagai metode deskriptif karena mengamati gejala-gejala yang ada
penelitian ini tidak menggunakan hipotesis di lapangan yang kemudian
dan variabel melainkan hanya dilakukan analisis untuk
menggambarkan dan menganalisis mendapatkan kesimpulan dari
kejadian yang ada tanpa perlakuan khusus penelitian yang dilakukan.
atas objek-objek yang diteliti. 2) Wawancara
Mengenai tipe deskriptif, Jalaludin Wawancara yang dilakukan penulis
Rakhmat dalam buku Metode Penelitian dalam penelitian dimaksudkan
Komunikasi menjelaskan bahwa untuk mengetahui pandangan,
“Penelitian deskriptif hanyalah kejadian, kegiatan, pendapat,
memaparkan situasi atau peristiwa. perasaan dari nara sumber (subjek
Penelitian ini tidak mencari atau matter expert). Wawancara yang
menjelaskan hubungan, tidak menguji dilakukan yaitu untuk mengetahui
hipotesis atau membuat prediksi”. mengenai hambatan komunikasi
(Rakhmat, 2008: 24) terapeutik yang dilakukan Bidan
Lebih lanjut Jalaludin Rakhmat kepada ibu hamil. Penggunaan
menjelaskan “Ciri lain metode deskriptif teknik ini sangat penting bagi
penelitian kualitatif, terutama untuk penyampaian lambang yang berarti oleh
melengkapi data dan upaya bidan kepada ibu hamil, baik dengan
memperoleh data yang akurat dan maksud agar mengerti maupun agar
sumber data yang tepat. berubah perilakunya.
3) Studi Dokumentasi Terlihat bahwa dalam komunikasi
Menurut Burhan Bungin (2007: terdapat tiga unsur penting, yaitu :
121), metode dokumenter adalah komunikator, pesan, dan komunikan.
metode yang digunakan untuk Komunikator adalah sumber yang
menelusuri data historis. memiliki ide atau gagasan mengenai
Dokumentasi dalam penelitian ini sesuatu yang akan disampaikan kepada
diperlukan terutama untuk komunikan. Pesan adalah gagasan yang
memperkaya landasan-landasan berupa lambang-lambang yang berarti dan
teoritis dan mempertajam analisis disampaikan oleh komunikator kepada
penelitian yang berkaitan dengan komunikan, sedangkan komunikan adalah
hambatan komunikasi terapeutik orang atau badan yang menerima pesan.
bidan kepada ibu hamil dalam Kegiatan komunikasi tidak akan berjalan
upaya penurunan AKI di kabupaten secara efektif apabila tidak didukung
Serang. dengan ketiga faktor tersebut yaitu
komunikator, pesan, dan komunikan.
Informan Penelitian Dengan demikian, agar komunikasi
Dalam penelitian ini, peneliti berlangsung secara efektif maka kita harus
menggunakan teknik sampling purposive, memerhatikan faktor-faktor tersebut, yaitu
yakni memilih informan sesuai dengan komunikator, pesan, dan komunikan.
kebutuhan peneliti. Jadi, peneliti Faktor lain yang penting dalam suatu
mengambil empat informan yaitu: proses komunikasi adalah umpan balik
1. Bidan Koordinator, Rina atau efek. Umpan balik memegang
2. Bidan Desa, Neneng peranan penting dalam komunikasi sebab
3. Pasien, Sumiati, 45 tahun, memiliki 4 ia menentukan berlanjutnya komunikasi
orang anak atau berhentinya komunikasi yang
4. Pasien, Isti, 28 tahun, memiliki 2 orang dilancarkan oleh komunikator . Dengan
anak kata lain, umpan balik menentukan sukses
atau tidaknya sebuah proses komunikasi
HASIL DAN PEMBAHASAN dilangsungkan.
Berdasarkan hasil observasi dan
wawancara yang dilakukan, ada beberapa 1. Bidan sebagai Komunikator
temuan di lapangan berkaitan dengan topik Kredibilitas merupakan salah satu
penelitian peneliti, yakni hambatan faktor dari komunikator yang
komuikasi terapeutik bidan kepada ibu mempunyai peranan penting agar
hamil dalam upaya penurunan AKI di pesan yang dikomunikasikan dapat
kabupaten Serang. berjalan lancar dan dapat diterima
Hasil penelitian yang dilakukan atau dipahami komunikan. Menurut
menunjukkan bahwa proses komunikasi Jalaludin Rakhmat (2008:257),
terapeutik yang dilakukan bidan kepada dalam bukunya psikologi
ibu hamil pada hakikatnya adalah proses komunikasi, kredibilitas adalah,
“seperangkat lambang bermakna Peneliti melakukan observasi
yang disampaikan oleh partisipan untuk mengetahui lebih jelas
komunikator. Dalam penelitian tentang proses komunikasi terapeutik yang
peneliti, kredibilitas bidan tentu telah dilakukan kepada pasien. Hal ini
menjadi point penting yang ditujukan agar peneliti dapat memahami
menunjang keberhasilan proses hambatan apa saja yang menyebabkan
komunikasi terapeutik. AKI ini masih tinggi, khususnya di
2. Sosialisasi sebagai Pesan kabupaten Serang. Melalui observasi
Pesan merupakan seperangkat partisipan, peneliti dapat mengamati
lambang bermakna yang langsung proses komunikasi terapeutik
disampaikan oleh komunikator yang dilakukan, termasuk feedback yang
(Effendy, 1998). Dalam diberikan oleh pasien. Maka, dari situlah,
menyampaikan pesan secara lisan, peneliti menemukan hambatan-hambatan
faktor pemilihan kata-kata komunikasi terapeutik bidan kepada ibu
merupakan hal yang sangat penting hamil, yang menyebabkan AKI nya pun
agar sasaran yang dituju mengerti masih tetap tinggi.
dengan maksud yang disampaikan. Selain itu, peneliti pun melakukan
Dalam penelitian ini, bidan proses wawancara dengan beberapa
menyampaikan sosialisasi kepada informan, yaitu kepada Bidan sebagai
para pasien yang berkaitan dengan komunikator, dan para pasien sebagai
upaya penurunan AKI di kabupaten komunikan, yang dalam hal ini berperan
Serang. sebagai komponen komunikasi terapeutik.
3. Pasien Ibu Hamil sebagai Bidan Koordinator, Rina, yang
Komunikan menangani beberapa kasus kesehatan di
Pasien yang menjadi komunikan puskesmas Tunjung Teja ini, mengatakan
dalam hal ini bisa siapa saja, tetapi bahwa:
untuk kasus AKI biasanya “Betul, ada beberapa kasus kesehatan
diberikan pesan secara spesifik yang datanya itu tinggi sekali di
kepada para ibu hamil. puskesmas ini. Salah satunya, ya Angka
Umpan balik dari komunikan bisa Kematian Ibu (AKI), yang gak ada
bersifat verbal dalam bentuk, ujungnya. Hampir setiap tahun AKI ini
seperti “ya” untuk tanda setuju atau menunjukkan jumlah yang tinggi. Kami
“tidak” untuk tanda menolak, bisa sebagai tenaga medis di sini tentunya
juga bersifat non verbal dalam makin prihatin dengan kondisi ini.
bentuk gerakan anggota kepala Padahal berbagai upaya telah kami
tanda tidak mau, mengerutkan lakukan, ada bidan desa, yang pastinya
kening tanda tidak mengerti, turun langsung ke desa-desa, penyuluhan
mencibirkan bibir tanda mengejek, yang rutin juga kami agendakan supaya
dan lain-lain. (Effendy, 1994). para pasien semakin mengerti dengan
kondisi AKI yang memprihatinkan ini.
Malahan, saya sendiri aktif untuk
Hambatan Komunikasi Terapeutik berkomunikasi langsung dengan para ibu
Bidan kepada Ibu Hamil dalam Upaya itu, jadi dibuatlah kaderisasi ibu-ibu,
Penurunan Angka Kematian Ibu (AKI)
supaya saya mudah untuk menyampaikan “Iya bu, saya suka dikasih tau soal Angka
pesan-pesan penting kepada mereka.” Kematian Ibu (AKI). Ngeri yah, tapi
gimana ya, kadang saya juga ya gitu bu,
Pernyataan tersebut telah ngerti gak ngerti gitu, hehe... Jadi saya
menunjukkan bahwa pihak dinas kesehatan kalo dibilangin tuh, iya iya aja gitu bu.
di kabupaten Serang, khususnya dalam Terus kalo ngobrol sama tetangga,
penelitian ini adalah puskesmas Tunjung saudara juga, kita ngobrolin yang umum
Teja, telah melakukan berbagai upaya aja gitu bu, gak pernah ngobrolin ya soal
guna menunjang terealisasinya penurunan apa itu, Angka Kematian Ibu ya. Saya gak
AKI di kabupaten Serang. ngerti juga bu dari bahasa-bahasanya
Peneliti pun mengamati langsung kadang istilahnya gak ngeuh gitu bu,
bagaimana Koordinator Bidan tersebut hehe..”
melakukan proses komunikasi terapeutik
kepada para pasiennya. Beliau sangat gesit Pasien selanjutnya, bernama Isti,
dan informatif dalam menyampaikan berusia 28 tahun, sudah memiliki 2 orang
pesan-pesan penting yang semestinya anak, juga memiliki pendapat yang hampir
diketahui oleh para pasien. Proses sama dengan informan sebelumnya:
komunikasi yang tampak pun berjalan “Iya suka ada penyuluhan di puskesmas
lancar. Tunjung Teja ini, saya suka disuruh ikut
Begitupun halnya ketika peneliti sama bidan desanya, malahan suka
melakukan wawancara kepada Neneng, ditelponin sama bidan koordinatornya, bu
sebagai bidan desa. Mereka memberikan Rina itu baik banget bu, perhatian gitu
penuturan yang serupa, bahwa mereka sama warga di desa sini tuh. Terus suka
merasa telah melakukan berbagai upaya ngasih informasi macem-macem bu, gak
kepada para pasien, khususnya di sini, cuma soal apa tuh, Angka Kematian Ibu
adalah ibu hamil, agar semakin mengerti yah, tapi soal gizi buruk juga buat anak
dan berupaya mendukung program sama ibu hamilnya. Tapi ya gimana bu,
pemerintah kabupaten Serang untuk saya kadang gak ngerti juga, terus kalo
menurunkan Angka Kematian Ibu (AKI). udah di rumah ya jadi lupa lagi gitu bu,
Peneliti pun melakukan wawancara hehe... Apalagi kalo udah kerja, kan saya
dengan beberapa pasien untuk suka ikut ke sawah gitu bu, seharian, ya
mendapatkan data yang akurat tentang pulang-pulang pas udah sore aja, makan
hambatan komunikasi terapeutik ini. ya seingetnya aja gitu bu, anak juga kalo
Adapun hasil penelitian yang ditemukan saya ke sawah, ga makan juga kayaknya,
peneliti tentang hambatan komunikasi hehe...Tapi gimana lagi bu, kan hidup juga
terapeutik ini, digolongkan dalam perlu uang ya bu..”
beberapa hal di bawah ini:
1. Hambatan Semantik (Bahasa). Hasil wawancara yang dilakukan
Seorang pasien bernama Sumiati, peneliti dari informan ini menunjukkan
berusia 45 tahun, telah memiliki 4 orang adanya hambatan yang pertama, dalam
anak, menyampaikan penuturannya kepada proses komunikasi terapeutik bidan kepada
peneliti ketika ditanyakan tentang proses pasiennya, yakni hambatan semantik atau
komunikasi terapeutik yang dilakukan bahasa.
bidan :
Berdasarkan tinjauan pustaka yang dalam komunikasi terapeutik bidan kepada
telah dijelaskan di atas bahwa hambatan pasiennya ini adalah hambatan semantik
semantik adalah hambatan yang berasal (bahasa).
dari keterbatasan simbol-simbol itu 2. Hambatan Budaya
sendiri. Ada beberapa karakteristik dari Berdasarkan hasil penelitian yang
bahasa yang menyebabkan proses dilakukan, peneliti menemukan hambatan
decording dalam bahasa semakin sulit yang kedua dalam proses komunikasi
antara lain : terapeutik ini, yaitu hambatan budaya.
a.Bahasa itu statis sedangkan realitasnya
dinamis, Hambatan budaya ini menjadi hal
b.Bahasa itu terbatas sedangkan yang sangat penting. Satu pantangan bagi
realitasnya tidak terbatas, sang komunikator untuk beranggapan,
c.Bahasa itu bersifat abstrak. bahwa komunikan tumbuh dengan filosofi,
Hal ini terbukti dengan hasil gaya hidup, adat istiadat yang sama. Maka
wawancara yang dilakukan kepada para kita tidak boleh "menyamaratakan"
pasien yang berperan sebagai komunikan penggunaan teknik berkomunikasi kepada
dalam proses komunikasi terapeutik ini. setiap komunikan.
Jadi, hambatan yang pertama adalah Hal ini bisa saja terjadi karena
bahasa, bahwa ketika para bidan atau budaya yang berbeda yang dimiliki oleh
tenaga medis lainnya telah menyampaikan sang komunikan. Dalam penelitian
berbagai macam informasi pesan yang peneliti, komunikan di sini adalah para
sangat penting, dalam berbagai macam pasien atau ibu hamil tersebut.
bentuk, termasuk dengan menggunakan Peneliti melihat adanya hambatan
media, seperti spanduk, brosur, pamflet, budaya dalam proses komunikasi
dan lain-lain, ternyata bahasa yang terapeutik ini karena pernyataan informan,
diterima oleh para pasien dianggap sebagai Isti, yang memberikan penuturan sebagai
bahasa yang sulit untuk dimengerti. berikut:
Meskipun, bidan koordinator, telah “Kalau soal informasi yang umum tadi itu
melakukan pendekatan psikologis, sampai ya udah dikasih tau sama bidan-bidannya
membentuk kaderisasi ibu-ibu untuk bu, termasuk bidan koordinator, bu Rina
memudahkan koordinasi dalam yang paling gesit ngasih kabar gitu. Tapi
penyampaian informasi. saya kalo ga ngerti ya gimana juga bu,
Ketika peneliti melanjutkan apalagi saya sekolah kan sampai SD aja
wawancara kepada para pasien tentang bu, jadi ya ga begitu paham juga. Kalo
informasi pesan yang disampaikan melalui saya sih ngertinya, ya ngikutin kata
media, Sumiati menjawab sebagai berikut: orangtua di desa-desa aja, kan kalo udah
“Aduh, saya ga tau, gak pernah merhatiin takdirnya meninggal, ya gimana ya bu,
juga, hehe... gak pernah ngeuh gitu bu kan katanya udah ada Allah yang ngatur
kalo ada spanduk, ada poster, sama yang soal hidup dan mati ya. Kalo saya ngobrol
lain. Iya kalo ada juga banyak dipasang di sama ibu-ibu yang lain juga ya gitu sama
sini, tapi saya nya ga baca aja mungkin bu, iya udah takdirnya aja sih. Jadi,
ya, hehe..” kadang ga ngerti juga kalo udah dikasih
Berdasarkan wawancara tersebut, tau soal Angka Kematian Ibu yang tinggi,
jadi ditemukanlah hambatan yang pertama ya gimana lagi.”
dalam penuturan informan, Sumiati, yang
Berdasarkan pernyataan di atas, bercerita tentang dirinya:
peneliti menemukan adanya hambatan “Hehe..iya bu jadi kalo pas bidan lagi
budaya yang menjadi hambatan juga menyampaikan informasi tuh yah, ya soal
dalam proses komunikasi terapeutik yang AKI ini, gizi buruk, atau soal kasus yang
dilakukan bidan kepada pasiennya, lain, pas lagi itu aja saya iya iya gitu,
khususnya dalam upaya penurunan Angka padahal kadang saya ga menyimak juga
Kematian Ibu (AKI). Peneliti melihat bu. Kan kalo kurang tidur misalnya bu,
adanya budaya, tradisi, dan kepercayaan saya jadi ngantuk bu, belum lagi kalo
yang mereka pegang kuat jikalau itu banyak pikiran ya bu, aduh apalagi kalo
berasal dari orangtua, leluhur, atau nenek gak punya uang, haha.. Jadi, saya kadang
moyangnya. Mereka lebih mempercayai ngedengerin bener tapi jadi lupa lagi, tapi
itu dibandingkan dengan fakta yang kadang gak merhatiin juga gitu bu. Abis
ditunjukkan oleh para tenaga medis yang gimana lagi ya bu, saya juga bingung,
ada, seperti bidan, perawat, dokter, dan hehe..”
lain-lain.
Budaya memegang peranan Peneliti menemukan adanya
penting dalam keberhasilan proses hambatan psikologis yang dirasakan para
komunikasi terapeutik. Apalagi jika telah pasien, sebagai komunikan dalam proses
berhubungan dengan kepercayaan yang komunikasi terapeutik yang dilakukan
menyebar secara turun temurun, adat bidan kepada pasiennya. Hambatan
istiadat dan budaya lah yang akan berhasil psikologis ini tampak sepele, tapi bisa
dalam proses penyampaian pesan. menjadi gangguan yang utama, apalagi
3. Hambatan Psikologis jika sesuai dengan yang disampaikan oleh
Selain kedua hambatan di atas, peneliti penuturan informan, karena ini sangat erat
juga menemukan adanya hambatan dengan diri seseorang. Mulai dari tingkat
psikologis yang menjadi gangguan / noise kognisi, pemahaman, dan perilaku
dalam proses komunikasi terapeutik yang individu, dalam hal ini adalah para pasien,
dilakukan bidan kepada pasiennya. tentu akan memicu timbulnya hambatan
Hambatan Pribadi (Psikologis) adalah psikologis.
gangguan komunikasi yang timbul dari
emisi, nilai, dan kebiasaan menyimak yang Analisis Teori Interaksi Simbolik
tidak baik. Hambatan pribadi seringkali George Herbert Mead menjelaskan
mencakup jarak psikologi di antaranya konsep dasar dari interaksi simbolik, yang
orang-orang yang serupa dengan jarak dapat disimpukan bahwa terdapat tiga
fisik sesungguhnya. (Arni Muhammad: tema konsep interaksi simbolik, yaitu :
2009). 1. Pentingnya makna bagi perilaku
Berdasarkan definisi di atas, hambatan manusia, dalam penelitian peneliti,
psikologis juga terjadi dalam proses pentingnya makna penurunan AKI yang
komunikasi terapeutik ini. Peneliti melihat harus disepakati oleh bidan dan pasien.
adanya hambatan psikologis, karena ada 2. Pentingnya konsep mengenai diri,
emisi, nilai, dan kebiasaan menyimak yang dalam penelitian peneliti, pentingnya
tidak baik, yang ada dalam diri para pasien konsep diri setiap pasien dalam
sebagai komunikan. Hal ini tercermin
memahami pesan yang disampaikan Meskipun sedikit demi sedikit,
oleh bidan. informasi yang disampaikan oleh bidan
3. Hubungan antara individu dengan lalu diserap oleh para pasien, hal ini dapat
masyarakat, dalam penelitian ini, membantu proses keberhasilan komunikasi
terlihat adanya hubungan antara pasien terapeutik yang dilakukan bidan. Adanya
dengan lingkungan masyarakatnya, hambatan bahasa, hambatan budaya, dan
yang akan mempengaruhi keberhasilan hambatan psikologis yang terjadi selama
proses komunikasi terapeutik yang proses komunikasi terapeutik ini, tentu
dilakukan bidan dalam upaya memungkinkan para pasien untuk
penurunan AKI di kabupaten Serang. memahami realitas dan berinteraksi
Aktivitas individu dalam dengan bidan dalam proses transformasi
menggunakan simbol atau bahasa pesan, seperti yang diungkapkan George
dilakukannya melalui interaksi dengan Herbert Mead melalui teori interaksi
masyarakat. Hasil aktivitas individu ini simbolik ini.
akan berpengaruh pada masyarakat tempat
individu tersebut berinteraksi. Hubungan PENUTUP
antara masyarakat dan individu yang Kesimpulan
berinterkasi menggunakan simbol-simbol Berdasarkan hasil penelitian dan
yang sama, akan mereka maknai sesuai pembahasan yang telah dilakukan, peneliti
dengan interaksi mereka tersebut. Interaksi menyimpulkan adanya hambata
menggunakan simbol yang sama dalam komunikasi terapeutik bidan kepada ibu
suatu masyarakat ini dapat membentuk hamil dalam upaya penurunan Angka
konstruksi realitas sosial bagi individu Kematian Ibu (AKI) di kabupaten Serang,
yang terlibat di dalamnya. sebagai berikut:
Simbolisme suatu makna bukan 1. Hambatan Semantik (Bahasa)
hanya bahasa, simbolisme adalah semua Hambatan yang pertama adalah
aspek tindakan manusia. Hal ini bukanlah bahasa, bahwa ketika para bidan
ide baru, tetapi bahasa telah sangat atau tenaga medis lainnya telah
diistimewakan dalam karya-karya para ahli menyampaikan berbagai macam
interaksi simbolik. Interaksi simbolik informasi pesan yang sangat
memungkinkan manusia untuk memahami penting, dalam berbagai macam
realitas dan berinteraksi dengan manusia bentuk, termasuk dengan
lain dalam suatu proses komunikasi, dalam menggunakan media, seperti
arti pesan yang dimaknai dan spanduk, brosur, pamflet, dan lain-
ditransformasikan pada pihak lain pada lain, ternyata bahasa yang diterima
akhirnya dapat mempengaruhi pihak kedua oleh para pasien dianggap sebagai
dalam suatu proses komunikasi yang bahasa yang sulit untuk dimengerti.
timbal balik. Hal ini relevan dengan Meskipun, bidan koordinator, telah
penelitian peneliti, para informan, dalam melakukan pendekatan psikologis,
hal ini adalah para pasien yang mengalami sampai membentuk kaderisasi ibu-
transformasi pesan, di mana pesan yang ibu untuk memudahkan koordinasi
dimaknai dan ditransformasikan pada para dalam penyampaian informasi.
anggotanya dapat mempengaruhi proses 2. Hambatan Budaya
komunikasi yang terjadi di antara mereka.
Peneliti melihat adanya budaya, selalu aktif agar tujuan pesannya tersebut
tradisi, dan kepercayaan yang dapat tercapai.
mereka pegang kuat jikalau itu Setelah ditemukannya hambatan
berasal dari orangtua, leluhur, atau dalam proses komunikasi terapeutik ini,
nenek moyangnya. Mereka lebih alangkah baiknya jika dilakukan evaluasi
mempercayai itu dibandingkan dalam menyusun rencana atau program
dengan fakta yang ditunjukkan oleh baru yang lebih variatif agar pasien
para tenaga medis yang ada, seperti semakin paham dengan konsep pentingnya
bidan, perawat, dokter, dan lain- penurunan AKI tersebut.
lain.
3. Hambatan Psikologis
Hambatan psikologis ini tampak
sepele, tapi bisa menjadi gangguan
yang utama, apalagi jika sesuai
dengan yang disampaikan oleh
penuturan informan, karena ini
sangat erat dengan diri seseorang.
Mulai dari tingkat kognisi,
pemahaman, dan perilaku individu,
dalam hal ini adalah para pasien,
tentu akan memicu timbulnya
hambatan psikologis.

Saran
Adapun saran yang diberikan
peneliti berkaitan dengan penelitian yang
telah dilakukan tentang hambatan
komunikasi terapeutik bidan kepada ibu
hamil dalam upaya penurunan Angka
Kematian Ibu (AKI) di kabupaten Serang,
sebagai berikut:
Dalam upaya mencapai
keberhasilan penurunan Angka Kematian
Ibu (AKI), sebaiknya pihak tenaga medis,
dalam hal ini bidan maupun tenaga medis
lainnya, tetap semangat dan saling
bekerjasama untuk memerhatikan setiap
hambatan komunikasi yang menjadi
gangguan dalam proses komunikasi
terapeutik tersebut. Hal ini mengingat,
bukanlah hal yang mudah untuk mengatasi
setiap hambatan komunikasi yang ada,
tetapi sebagai komunikator, dituntut untuk
REFERENSI

Arni Muhammad. 2009. Komunikasi Brimob Watukosek Gempol


Organisasi. Jakarta: Bumi Aksara Pasuruan. Jurnal Online KANAL,
Bungin, Burhan. 2007. Penelitian Vol. 2, No. 1, September 2013.
Kualitatif. Jakarta: Kencana Prenada Machfoedz, Mahmud. 2009. Komunikasi
Media Group Terapeutik, Yogyakarta: Ganbika
Damaiyanti, Mukhripah. 2010. Mulyana, Deddy. 2008. Metodologi
Komunikasi Terapeutik Dalam Penelitian Komunikasi. Bandung:
Praktik Keperawatan. Bandung: Remaja Rosda Karya.
Rifika Aditama.Cetakan Kedua. Rakhmat, Jalaludin. 2008. Psikologi
Depkes, RI Nomor: 63/ KES / 23 / 2011. Komunikasi. Bandung : Remaja
Tentang Pedoman umum Asuhan Rosdakarya.
Kesehatan. Rakhmat, Jalaludin. 2009. Metode
Effendy, Onong Uchjana. 1998. Ilmu Penelitian Komunikasi. Bandung :
Komunikasi, Teori, dan Praktek. Remaja Rosdakarya.
Bandung: Remaja Rosdakarya Sugiyono. 2007. Metode Penelitian
Hakim, M. Lukman, Sinduwiatmo, Kuantitatif, Kuantitatif dan R&D.
Kukuh. Jurnal Elektronik : Pengaruh Bandung: Alfabeta.
Komunikasi Terapeutik Bidan West, Richard. Lynn H.Turner. 2007.
Terhadap Kepuasan Pasien Bersalin “Pengantar Teori Komunikasi”.
Di Rumah Sakit Bhayangkara Pusdik Jakarta: Salemba Humanika.