Sunteți pe pagina 1din 14

Contoh Prosedur Tetap Pelayanan Ambulans

PROTAP DAN SOP PELAYANAN OLEH TENAGA MEDIS/PARAMEDIS DI AMBULANS


I. PROTAP PELAYANAN OLEH TENAGA MEDIS/
PARAMEDIS DI AMBULANS A. PENGERTIAN
Serangkaian tindakan yang dilakukan oleh tenaga medis/ paramedis terhadap pasien di dalam
ambulans.

B. TUJUAN
Meningkatkan kualitas pelayanan tenaga medis/ paramedis di ambulans.

C. SASARAN
Pasien gawat darurat yang memerlukan transportasi ke Rumah Sakit Rujukan.

D. TENAGA PELAKSANA
1. 1 orang tenaga medis yang sudah dilatih BLS/ PPGD.
2. 2 orang tenaga paramedis sebagai operator peralatan medis dan pelaksana perawatan
yang sudah dilatih BLS/ PPGD.
3. 1 orang tenaga sopir ambulans.

E. SARANA dan PRASARANA YANG DIBUTUHKAN


1. Medis :
a. Steril
Nasofaringeal tube : 2 buah
Orofaringeal tube : 2 buah
Laringoscope : 2 buah
Endotracheal tube : 2 buah
Sungkup : 2 buah
Alat suction : 2 buah
Masker : 5 buah
Handscoen : 5 pasang
Bengkok : 2 buah
Cairan RL : 20 botol
Infusion set : 30 buah
Abocath : 50 buah
Desinfektan : 5 liter
Cateter + urobag : 20 set
Kassa steril : 10 Pak

b. Non steril :
Tabung O2 dan regulator : 1 buah
Bag valve mask : 1 buah
Defibrillator : 1 buah
ECG Monitor : 1 buah
Tempat sampah medis tertutup : 1 buah
Strelisator : 1 buah
Tensimeter : 1 buah
Stetoskop : 1 buah
Neck Collar : 1 buah
Bidai : 1 set
Plester : 2 roll
Standard infus : 1 buah
Gunting : 1 buah

c. Obat- obatan
Adrenalin inj : 10 Ampul
Efedrin inj : 10 Ampul
Dopamin inj : 10 Ampul
Atropin inj : 10 Ampul
Dexamethason inj : 10 Ampul
Lidocain inj : 10 Ampul
Aminofilin inj : 10 Ampul
Furosemid : 10 Ampul

2. Non Medis
Ambulans transport pasien sesuai standard yang berisi : a.
Brancart : 1 buah
b. Lemari Alkes : 1 buah
c. Meja Instrument : 1 buah
d. Lembar observasi : 100 lembar
e. Lembar Informed consent : 100 lembar
f. Scort : 6 buah
g. Tempat sampah medis tertutup : 1 buah
h. Alat tulis ( ballpoint hitam, merah, biru ) : 2 buah
i. Tempat cuci tangan dengan air mengalir : 1 buah
j. Sabun cair : 2 botol
k. Handuk kecil : 5 buah
l. Sikat tangan halus : 5 buah
m. Selimut : 5 buah
n. Lampu tindakan : 1 buah
o. Buku register rujukan : 1 buah
p. Kursi : 2 buah

F. PROSEDUR
1. Mempersiapkan pelayanan.
2. Melaksanakan serah terima pasien dengan petugas di tempat pelayanan / lokasi awal ke
petugas ambulans.
3. Memindahkan pasien dari tempat /lokasi awal ke ambulans.
4. Mempertahankan kondisi pasien meliputi Airway, Breathing, Circulation agar tetap
stabil selama perjalanan.
5. Melakukan observasi dan mencatat perubahan-perubahan yang terjadi, bila perlu
menghubungi unit IRD yang akan dituju.
6. Melakukan tindakan apabila ada gangguan pada Airway, Breathing, Circulation.
7. Setelah tiba di tempat tujuan, melakukan serah terima pasien kepada petugas di tempat
tujuan.

II. SOP PELAYANAN MEDIS/ PARAMEDIS DI AMBULANS A. PERSIAPAN


PELAYANAN
1. Memastikan tempat tersedia dengan menghubungi di rumah sakit yang dituju dengan
cara menelpon.
2. Memastikan kondisi ambulans telah siap untuk pelayanan. ( lihat SOP Ambulans dan
sopir ).
3. Memastikan alat-alat medis dan non medis di ambulans dalam keadaan rapi dan siap
pakai. ( Lihat SOP Sterilisasi Alkes ) dan melaksanakan checklist daftar tilik peralatan
medis dan non medis di ambulans.
4. Mencatat nama petugas yang berangkat (pada daftar petugas) pada buku register
rujukan.
5. Petugas mencuci tangan ( lihat SOP Mencuci Tangan ).
6. Petugas memakai alat pelindung diri ( lihat SOP Alat Pelindung Diri / APD ).

B. MELAKUKAN SERAH TERIMA PASIEN DENGAN PETUGAS DI TEMPAT


PELAYANAN/ LOKASI AWAL.
1. Petugas mendatangi lokasi, menemui petugas di lokasi pelayanan awal.
2. Memberi salam, menyapa dan memperkenalkan diri sebagai petugas ambulans.
3. Menanyakan/konfirmasi identitas pasien yang akan diangkut dengan ambulans,
meliputi nama, umur, jenis kelamin, alamat, pekerjaan, diagnosis sementara.
4. Mencatat instruksi dokter tentang hal-hal yang harus diperhatikan/ diberikan kepada
pasien selama perjalanan.
5. Mencatat jenis dan dosis obat serta alat yang diperlukan pasien selama perjalanan,
antara lain :
Adrenalin inj : 10 Amp
Efedrin inj : 10 Amp
Aminofilin : 10 Amp
Dopamin : 10 Amp
Atropin : 10 Amp
Lidocain : 10 Amp
Dexamethason : 10 Amp
6. Mencatat keadaan pasien sebelum berangkat, meliputi diagnosis, tanda vital (
kesadaran, tensi, nadi, suhu, kecepatan respirasi ) dan problem yang sedang dihadapi (
mencakup problem airway, breathing, circulation ).
7. Meminta surat rujukan ( bila ada ).
8. Menanyakan kondisi umum pasien apakah pasien telah siap dipindahkan ke ambulans,
antara lain :
” Apakah pasien sudah bisa dipindahkan ke ambulans ? ”
C. MEMINDAHKAN PASIEN KE AMBULANS
1. Memastikan kondisi pasien dalam keadaan siap untuk dipindahkan ke ambulans
dengan cara melakukan pemeriksaan A B C ( Lihat SOP Pemeriksaan ABC ).
2. Mengambil brancart dari ambulans dan dibawa ke lokasi pasien berada.
3. Memindahkan pasien ke brancart ( lihat SOP Memindahkan Pasien ).
4. Memasukkan brancart berisi pasien ke dalam ambulans.
5. Mengatur posisi pasien senyaman mungkin di dalam ambulans.
6. Petugas mengambil posisi sesuai dengan tugasnya.
7. Sopir duduk di kursi pengemudi ( lihat SOP Sopir Ambulans ).
8. Memposisikan pasien senyaman mungkin sesuai dengan kondisinya.
9. 1 orang paramedis operator alat medis di sebelah kiri pasien ( menyesuaikan kondisi
pasien ).
D. Petugas memberi komando kepada sopir agar ambulans segera berjalan, lampu rotator
dinyalakan, sirene dibunyikan menyesuaikan kondisi jalan.
E. Mempertahankan keadaan ABC pasien agar tetap stabil selama perjalanan dan melakukan
tindakan jika terjadi kegawatdaruratan (lihat SOP Mempertahankan Kondisi ABC).
F. Mencatat semua perubahan yang meliputi kesadaran , vital sign ( nadi, pernafasan, tekanan
darah ) pasien / obat yang diberikan selama perjalanan.
1. Menghitung denyut nadi arteri radialis klien
a. Meminta klien duduk dengan posisi yang nyaman dan rileks dan meletakan kedua
tangan di atas paha.
b. Memberitahukan kepada klien bahwa akan dilakukan penilaian denyut nadi yang
bertujuan untuk menilai apakah terjadi perubahan denyut nadi.
c. Mencari arteri radialis pada tangan kiri dengan cara menggunakan tiga jari dan
hitung selama 60 detik sekaligus melakukan juga penilaian terhadap ritme / irama
( reguler / irreguler ) dan kekuatan denyut nadi (kuat / cukup / lemah).
d. Memberitahukan hasil perhitungan dan mengucapkan terima kasih.
e. Mencatat hasil pada status.
2. Menghitung pernafasan
a. Klien tetap dalam posisi duduk dan memberitahukan kepada klien bahwa akan
dilakukan penghitungan pernafasan untuk mengetahui apakah klien mengalami
sesak nafas / tidak.
b. Meminta klien meletakan tangan kanan ke dinding dada sebelah kiri.
c. Meletakkan arloji ditempat yang mudah dilihat jarum detiknya.
d. Mengamati irama gerakan tangan yang berada di dinding dada sebelah kiri dan
menghitung frekuensi gerakan pernafasan selama 60 detik.
e. Memberitahukan hasil pengukuran, mencatat pada status.
3. Mengukur tekanan darah klien
a. Menyiapkan alat tensimeter dan stetoskop.
1). Memeriksa manset, skrup dan pompa apakah ada kebocoran atau tidak.
2). Memposisikan air raksa pada reservoirnya dan membuka kunci air raksa pada
posisi on, manset dalam keadaan kosong tanpa ada udara setelah itu tutup
skrup pada pompa.
b. Menyiapkan klien
1). Meminta klien untuk diperiksa dengan santai dan posisi kaki tidak
menyilang.
2). Meminta klien untuk membuka lengan baju sampai bahu, sehingga lengan
bebas dari tekanan baju. Bila lengan baju menekan lengan kiri atas, klien
diberi kain penutup bagian atas tubuh dan meminta klien membuka baju
sehingga lengan kiri bebas dari tekanan ( terbuka ).
3). Meletakan tensi meter di atas meja dan mengukur tinggi air raksa sejajar
dengan letak jantung klien. Bila letak jantung lebih rendah dari batas bawah
air raksa, maka klien diberi alas tempat duduk sehingga batas bawah air raksa
sejajar jantung atau bila batas bawah air raksa lebih rendah dari batas jantung,
maka tensi meter diberi alas agar tingggi air raksa sejajar jantung.
Posisi tensi meter di ambulans biasanya tetap, jadi harus disesuaikan dengan
realita di ambulans. Tidak bisa sama dengan yang di poli.
c. Mengukur tekanan darah
1). Memberitahu pada klien dan atau keluarganya dengan suara lembut dan ramah
bahwa akan dilakukan pengukuran tekanan darah untuk mengetahui keadaan
tekanan darah klien.
2). Meminta klien meletakkan lengan kiri di atas meja.
3). Meraba arteri brachialis lengan kiri yang terletak pada sisi medial lengan atas
(dengan cara meminta klien meluruskan lengan kiri dengan telapak tangan di
atas. Meraba dengan 2 jari tangan telunjuk dan tengah pada tepi lateral lengan
mulai dari kelingking sampai ke lengan atas, dan meraba denyut arteri
brachialis lengan kiri.
4). Memasang manset pada lengan atas dan meletakkan pipa karet tepat di atas
arteri brachialis ( pada sisi dalam lengan atas ) dan sisi bawah manset ± 2,5
cm di atas fossa ante cubiti dengan posisi lengan penderita sedikit fleksi pada
siku.
5). Menanyakan pada klien apakah manset terlalu ketat / longgar. Bila terlalu
ketat dilonggarkan.
6). Menghubungkan pipa manset dengan pipa tensi meter.
7). Meraba arteri brachialis yang berada di fossa cubiti untuk menentukan letak
stetoskop.
8). Meraba denyut nadi arteri radialis yang berada di pergelangan tangan dengan
3 jari dilanjutkan dengan memompa pompa tensi meter secara perlahan-lahn
sambil mata menatap naiknya air raksa dalam tabung tensi meter. Teruskan
memompa sampai dengan arteri radialis tidak teraba tentukan batas air raksa
dan teruskan memompa dengan menambah 30 mm Hg di atas batas tersebut (
nadi tidak teraba ).
9). Memasang earpiece stetoskop langsung tepat pada lubang di kedua telinga.
10). Meletakan ujung / corong stetoskop di atasarteri brachialis di fossa cubiti.
11). Melepaskan klep pompa tensi meter perlahan-lahan ( 2-3 mm per detik ),
mendengarkan denyut arteri brachialis sambil mata sejajar mengikuti turunnya
permukaan air raksa.
12). Memastikan tinggi air raksa saat terdengar perubahan detakan pertama arteri
brachialis ( korotkoff I ) : disebut tekanan Sistole.
13). Melanjutkan, menurunkan air raksa saat terjadi perubahan suara yang tibatiba
melemah (korotkoff IV) : disebut tekanan Diastole.
14). Melepas stetoskop dari telinga dan melepas manset dari lengan ibu
15). Membersihkan earpiece dan bel / diaphragma stetoskop dengan kapas
alkohol.
16). Menutup klep air raksa dan melipat manset serta mengembalikan manset ke
dalam bak tensi meter.
17). Menginformasikan pada klien hasil pengukuran, mencatat pada kartu status
ibu.
18). Menanyakan kepada klien apakah ada yang ingin ditanyakan tentang hasil
tekanan darahnya.
G. Mencatat keadaan pasien saat tiba di rumah sakit tujuan.
H. Sampai di unit IRD, persiapan untuk serah terima pasien kepada petugas IRD, dengan cara :
1. Petugas ambulans menemui petugas IRD.
2. Memberi salam, menyapa dan memperkenalkan diri sebagai petugas ambulans.
3. Menyerahkan surat rujukan dan catatan berisi perkembangan kondisi pasien selama
dalam perjalanan.
4. Memastikan keadaan pasien siap dipindahkan ( Lihat SOP Mobil dan Sopir Ambulans)
I. Mengeluarkan pasien dengan brancart dari ambulans dan menyerahkan kepada petugas
IRD. ( Lihat SOP Mobil dan Sopir Ambulans ).
J. Memindahkan pasien ke bed IRD (Lihat SOP Mobil dan Sopir Ambulans). Mengembalikan
brancart ke ambulans.
K. PENCATATAN DAN PELAPORAN
1. Mencatat nama petugas yang berangkat.
2. Mencatat identitas pasien dan informasi dasar ( diagnosis sementara, tanda vital,
problem pasien ) berdasarkan informasi dari lokasi awal.
3. Mencatat perkembangan kondisi pasien selama perjalanan.
4. Mencatat tindakan yang dilakukan dan obat yang diberikan kepada pasien selama
perjalanan.
5. Menyerahkan catatan rekam medis kepada petugas IRD.
L. KEGIATAN PASCA PELAYANAN
1. Membersihkan alat-alat yang telah digunakan ( Lihat SOP Strerilisasi Alat ).
2. Merapikan dan mengembalikan alat medis ke tempat semula.
3. Mengumpulkan dan membuang sampah medis pada tempat sampah medis.
4. Mengumpulkan dan membuang sampah non medis ke tempat sampah non medis.
5. Memastikan ambulans siap dipakai kembali ( Lihat SOP Mobil dan Sopir Ambulans) .
6. Petugas mencuci tangan (lihat SOP Mencuci Tangan).

III. JENIS-JENIS SOP YANG DILAKSANAKAN PADA


PELAYANAN DI AMBULANS

A. SOP CUCI TANGAN


1. Mendekatkan bahan dan alat yang dibutuhkan seperti sabun serta handuk bersih dan
kering.
2. Melepas semua perhiasan yang ada ditangan dan jari tangan meletakkanya di tempat
yang aman/ saku baju / celana.
3. Membuka kran air memakai tangan.
4. Menggosok tangan di bawah air mengalir.
5. Mengambil sabun cair dengan menekankan siku pada penutup sabun cair.
6. Menggosok tangan dengan sabun secara merata pada celah jari tangan.
7. Mengulangi kegiatan di atas secara berulang-ulang minimal 7 kali.
8. Menggosok juga pergelangan tangan dengan melingkarkan jari-jari satu tangan ke
tangan satunya.
9. Membersihkan kuku dan bawah kuku sampai bersih ( dapat digunakan sikat yang lembut
dan menyikat searah ke arah distal ).
10. Mencuci tangan dan dan telapak tangan dari arah jari-jari ke arah pergelangan hingga
bersih.
11. Mengeringkan jari tangan dan pergelangan tangan dengan handuk bersih dan kering.
Atau biarkan mengering dengan sendirinya ( jika handuk tidak tersedia ).
B. SOP ALAT PELINDUNG DIRI ( APD )
1. SOP Pemakaian Scort
a. Mengambil scort dari tempatnya.
b. Membuka scort dengan tangan kanan, bagian dalam ( jangan menyentuh bagian luar ).
c. Memasukkan tangan kanan ke lubang lengan kanan, begitu sebaliknya untuk tangan
kiri.
d. Meminta tolong kepada asisten untuk mengikatkan tali scort di belakang punggung.

2. SOP Pemakaian Handscoen


a. Mengambil sarung tangan steril dengan menggunakan tangan dominan.
b. Menerima sarung tangan kiri dengan memegang bagian dalam dari sarung tangan yang
terlipat dari lipatannya.
c. Mengecek adanya kebocoran sarung tangan dengan cara membuka hanscoen. Jika
terdapat lubang atau terasa adanya udara keluar dari hanscoen ( bocor ) maka handscoen
dibuang. Jika tidak ada kebocoran, letakkan sarung tangan kiri di tempat yang steril.
Memegang sarung tangan dengan tangan kiri pada bagian dalam sarung tangan,
masukkan jari-jari perlahan sampai semua jari pas pada bagiannya, lalu dengan tangan
kiri tetap memegang bagian dalam sarung tangan ke dalam hingga sarung tangan
terpakai dengan sempurna.
d. Begitu juga sebaliknya pada saat memakai sarung tangan kiri.

Prosedur pemakaian handschoen baru a.


Cuci tangan sesuai prosedur.
b. Packing steril di sobek pada pada bagian tepi yang diberi tanda sehingga lapiran kertas
terbuka.
c. Menarik keluar bungkus dalam handschooen, meletakkan bungkus dalam dalam posisi
terbuka diatas meja datar.
d. Mengambil handschoon tangan kanan dengan menggunakan tangan kiri dengan
memegang bagian pergelangan handschoen yang terlipat keluar.
e. Memasukkan tangan kanan kedalam handschoen.
f. Mengambil handschoon tangan kiri dengan menggunakan 3 jari ( telunjuk, tengah dan
manis ) diselipkan di lipatan handschoon ( hanya menyentuh sisi luar handschoon ).
g. Memasukkan tangan kiri kedalam handschoon.
h. Merapikan posisi jari dan tangan didalam handschoon.
i. Selama prosedur, tangan yang belum terpasang handschooen hanya boleh menyentuh
sisi dalam handschoen. Tangan yang sudah memakai handschoen hanya boleh
menyentuh sisi luar handschoon.
j. Bila kidal, dapat dipasang handschoon tangan kiri lebih dahulu.

C. SOP MEMINDAHKAN PASIEN KE ATAS BRANCART


1. Kenali kemampuan diri dan kemampuan teamwork.Petugas dengan badan paling kuat
memposisikan diri mengangkat pasien di bagian tengah. Petugas yang mengangkat di
bagian kepala pasien bertindak sebagai komando.
2. Nilai beban yang diangkat, jika tidak mampu jangan dipaksakan.
3. Selalu komunukasi dengan team komando.
4. Kedua kaki berejarak sebahu, 1 kaki sedikit ke depan.
5. Berjongkok, jangan membungkuk saat mengangkat.
6. Tangan yang memegang menghadap ke depan jarak ± 30 cm, dimasukkan ke bawah
badan pasien.
7. Tubuh sedekat mungkin ke badan pasien jarak ± 50 cm.
8. Mengangkat pasien bersama-sama sesuai komando.
9. Jangan memutar tubuh saat mengangkat.
10.Letakkan pasien di atas brancart secara perlahan dan pastikan pasien dalam posisi
aman ( Pasien telah di fiksasi di brancart ).
11.Masukkan brancart dengan pasien ke ambulans.

D. SOP MEMPERTAHANKAN KONDISI ABC


1. AIRWAY ( Kelancaran Jalan Napas )
a. Minta ijin dan melakukan penjelasan kepada pasien/keluarga pasien bahwa akan
dilakukan pemeriksaan dan pembebasan jalan napas dengan menengadahkan pasien.
b. Jika penderita dapat berbicara, dianggap tidak ada sumbatan jalan napas.
c. Jika penderita muntah, segera penderita dimiringkan ke arah pemeriksa/ petugas
untuk mencegah aspirasi.
d. Jika terjadi penurunan kesadaran dan diduga ada sumbatan jalan, dilakukan prosedur
membuka jalan nafas dan pembebasan jalan dari sumbatan muntahan, lendir, gigi
palsu, pangkal lidah, dll.
e. Posisi kepala ditengadahkan (ekstensi) dengan cara : PASANG HANSCHOEN
(LIHAT SOP Memasang Hanschoen)
1) Chin lift
Jari jemari salah satu tangan diletakkan dibawah rahang dan secara hati-hati ke
atas untuk membawa dagu ke arah depan.
Ibu jari tangan yang sama, dengan ringan menekan bibir bawah untuk membuka
mulut, atau
Ibu jari diletakkan di belakang gigi seri bawah, dan secara bersamaan dagu dengan
hati-hati diangkat, atau
2) Jaw thrust
Sudut rahang bawah kanan dan kiri dipegang sambil mendorong rahang bawah ke
depan.
Jika perlu, dan pasien tidak muntah, dilakukan pemasangan oropharyngeal
airway(pipa mayo).

SOP Pemasangan Oropharyngeal Airway ( pipa mayo/guedel )


Minta ijin dan melakukan penjelasan kepada keluarga pasien bahwa akan dilakukan
pemasanganoropharyngeal airway untuk membebaskan jalan napas, dengan cara :
a. Oropharyngeal airway yang akan dipasang disiapkan. Menentukan ukuran yang
sesuai dengan mengukur oropharyngeal airway dari ujung bibir sampai ke angulus
mandibulaepasien.
b. Ibu jari dan jari telunjuk tangan yang sama disilangkan dan diletakkan pada gigi
bagian atas dan bawah di sudut mulut pasien. Lebarkan/ jauhkan jari anda untuk
membuka rahang pasien (tehnik crossed-finger).
c. Mengambil Oropharingeal airway, kemudian disisipkan ke sudut mulut secara
terbalik sehingga bagian yang cekung mengarah ke cranial, sampai daerah palatum
molle.
d. Alat diputar ke kiri/ kanan sampai 180 derajat, bagian cekung mengarah ke kaudal,
alat diselipkan di tempatnya di atas lidah.
e. Catat bahwa telah dilakukan pemasanganoropharingeal airway pada status pasien.
f. Informasikan kepada penderita/ pengantar hasil pemasangan.

2. BREATHING
Minta ijin dan melakukan penjelasan kepada keluarga pasien bahwa akan dilakukun
pemeriksaan pernapasan pasien dan akan dilakukan tindakan sesuai hasil pemeriksaan,
dengan cara :
a. Telapak tangan kanan pasien diletakkan di atas dada.
b. Rasakan gerakan napas dengan memegang tangan kanan pasien atau lihat gerakan
dada/ tangan pasien yang naik turun (gerakan naik dan turun dihitung, frekwensi
napas).
c. Frekwensi napas dihitung selama 1 menit, tentukan normal atau tidak, (baru lahir
35-50kl/mnt, usia <2 th 25-35 kl/mnt, usia 2-12 th 18-26kl/mnt, dewasa 16-35
kl/mnt, bradipnea (< 10 kl/mnt), takhipnea (> 24 kl/mnt), apnea (tidak bernapas).
d. Informasikan hasil pengukuran dan catat pada kartu pasien, tanyakan pada
penderita apakah ada yang ditanyakan tentang hasil pengukuran pernapasannya,
jika terdapat henti napas, lakukanbantuan pernapasan.

Bantuan pernapasan
Jika tidak didapatkan respirator, dilakukan pernapasan buatan. Tidak disarankan
pemberian napas bantuan dari mulut ke mulut secara langsung pada pasien keracunan,
juga adanya resiko penularan penyakit (terutama hepatitis HIV). Pemberian napas
bantuan dilakukan dengan tehnik dari mulut ke mulut menggunakan Barrier device,
dengan cara :
a. Kepala pasien masih dalam posisi ekstensi .
b. Barrier device salah satu ujungnya diletakkan di mulut pasien dan ujung yang lain
di mulut penolong.
c. Tarik napas dalam-dalam, letakkan mulut ke atasbarrier device sampai menutupi
seluruh mulut pasien jangan sampai ada kebocoran, hidung pasien ditutup, tiupkan
napas ke dalam mulut pasien secara pelan-pelan, perhatikan gerakan dada pasien
akibat dari tiupan napas penolong yang menunjukkan oksigen telah masuk ke dalam
paru-paru pasien.
d. Lepaskan mulut dari barrier device di atas mulut pasien, beri kesempatan agar dada
pasien kembali pada posisi semula.
e. Ulangi sekali lagi .
f. Denyut arteri carotis di leher diperiksa ( Lihat SOP Pemeriksaan Nadi Karotis ).

Jika terdapat denyut nadi teraba, tetapi denyut napas tidak ada, lakukan bantuan napas
lagi (langkah 1-4), dengan frekwensi : dewasa 10-12 kali/menit, anak 1212-20
kali/menit, bayi 12-20 kali/menit.
Jika denyut nadi tetap tidak teraba, lakukan kompresi jantung luar, dengan cara :
a. Telapak tangan diletakkan (telapak lainnya mengunci di atasnya) pada pertengahan
bawah sternum 1-2 jari di atas epigastrium.
b. Lengan diluruskan, dan kunci siku, tidak boleh menekuk siku ketika memberikan
atau melepaskan kompresi.
c. Bahu dipastikan tepat di atas tangan (tepat di atas sternum pasien) sehingga akan
memungkinkan untuk memberikan kompresi lurus ke bawah lokasi.
d. Kompresi diberikan secara tegak lurus dengan tenaga yang cukup untuk
menurunkan sternum pada orang dewasa yaitu sepanjang 1-2 inchi/ 4-5 cm dengan
kecepatan 100 x kompresi tiap menit.
Catatan :
Ketika kompresi RJP dilakukan dengan benar, kompresi ini akan menimbulkan
denyut nadi karotis.

3. CIRCULATION
a. Pemeriksaan tensi, nadi secara berkala tiap ¼ jam (sesuai sop pemeriksaan nadi).
b. Memeriksa jika ada tanda-tanda syok (lihat SOP Syok).
c. Jika terjadi syok, lakukan tindakan (lihat SOP Syok).
SOP SYOK
a. Pasien ditidurkan dengan posisi pasien kedua tungkai diangkat 20 derajat ( posisi
syok ) dan posisi kepala lebih rendah dari kaki.
b. Apabila syok terjadi karena perdarahan tindakan pertama menghentikan perdarahan
dengan cara balut tekan.
c. Bebaskan jalan napas dan pemberian oksigen, mempertahankan keadaan umum
serta airway ( Lihat SOP ABC )
d. Perawat melakukan pengkajian dan observasi keadaan umum pasien (tensi, nadi,
respirasi, suhu, kesadaran, akral ). (lihat SOP Pengukuran Tensi, Nadi, Respirasi,
Suhu, Kesadaran dan Akral).
e. Pasang infus (bila belum) dan berikan cairan. Jumlah cairan yang diberikan
sebaiknya bukan “sebanyak mungkin”. Pada trauma (syok hemoragik), ATLS
menganjurkan 2000 cc inisial, dan kemudian disesuaikan respons. Pada syok lain,
bisa diberikan secara titrasi tiap 250 cc, dievaluasi responnya. Cairan yang
berlebihan dapat menyebabkan masalah lain, edema paru.
f. Tetap mengawasi tanda vital. ( jenis cairan kristalloid ), (lihat SOP Pemasangan
Infus).
g. Konsultasi dengan IRD, jika syok tidak teratasi.
h. Memberikan terapi sesuai instruksi dokter.

Lampiran Surat Keputusan Direktur Utama


Nomor :
Tanggal :
Tentang : Kebijakan Tentang Transportasi Pasien di RSU LEONA
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

KEBIJAKAN TENTANG TRANSPORTASI PASIEN DI RSU LEONA

I. Pengertian :
adalah proses mengidentifikasi kebutuhan pasien yang sesuai dengan visi misi dan
sumber daya rumah sakit

II. Tujuan :
1. Menyesuaikan kebutuhan pasien sesuai dengan misi dan sumber daya rumah sakit
berdasarkan hasil skrining pada kontak pertama dengan pasien
2. Mengarahkan ke tempat perawatan pasien berdasarkan hasil skrining
3. Memprioritaskan kebutuhan pasien berkenaan dengan pelayanan preventif,
kuratif,rehabilitatif dan paliatif

III. Kebijakan :
1. Skrining pasien dilakukan di tempat pendaftaran dan admisi pasien di pintu masuk
yaitu IRJ dan IGD
2. Skrining dilakukan pada kontak pertama dengan pasien untuk memperoleh
informasi tentang kebutuhan dan kondisi pasien sehingga bisa disesuaikan antara
kebutuhan pasien dengan sumber daya yang ada di RS
3. Skrining dilakukan oleh Tim Skrining rumah sakit melalui kiteria triase, evaluasi
visual, pemeriksaan fisik atau hasil-hasil pemeriksaan sebelumnya yang terkait
fisik, psikologi, laboratorium klinis atau radiologi yang berlaku ≤ 30 hari.
4. Proses skrining bisa dilakukan di sumber daya perujuk, selama transportasi darurat
atau ketika pasien tiba di rumah sakit
5. Keputusan untuk merawat, memindahkan atau merujuk pasien dilakukan setelah
hasil evaluasi skrining tersedia (termasuk hasil pemeriksaan, surat pengantar dari
RS dan Dokter yang mengirim).
6. Pemeriksaan skrining atau evaluasi tertentu (kasus infeksi khusus droplet, air borne,
Kontak : MDRO, TB, MRSA, Flu burung) di identifikasi ketika rumah sakit
membutuhkannya sebelum registrasi atau penerimaan pasien
7. Skrining mencakup test diagnostik standar yang harus dilakukan sebelum pasien
didaftarkan dan dirawat.
8. Skrining diagnostik Test Pasien sebelum didaftarkan (Sudah membawa rujukan
dari pelayanan kesehatan lainnya).

Lampiran 1 : Skrining Test Diagnostik Standar yang harus dilakukan sebelum


pasien didaftarkan/dirawat

NO RUANGAN SKRINING DIAGNOSTIK TEST PASIEN


1. Kasus Umum Hematologi (Hemoglobin Leukosit, Eritrosit, Trombosit,
(Interna) Hitung Jenis).
Kimia Klinik Standar (Ureum, Kreatinin, SGOT/SGPT).
Hasil EKG (Pasien Jantung dan Pasien Dewasa > 40 tahun)

2. Kasus Bedah Pemeriksaan Laboratorium : Hematologi (Hemoglobin,


Leukosit, Eritrosit, Trombosit, Hitung Jenis).
Kimia Klinik Standar (Elektrolit, Ureum, Kreatinin,
SGOT/SGPT).
Pemeriksaan Foto Thorax/Rongent Foto.
Hasil EKG (Pasien Jantung dan Pasien Dewasa > 40 tahun).
Hasil Konsul Pre Operatif (Penyakit Dalam, Anastesi,
Pulmonologi)

3. Perawatan Pemeriksaan Laboratorium : Hematologi (Hemoglobin,


Tuberculosis Leukosit, Eritrosit, Trombosit, Hitung Jenis).
Kimia Klinik Standar (Ureum, Kreatinin, SGOT/SGPT).
BTA.
Mantoux Test

4. Obgyn Pemeriksaan Laboratorium : Hematologi (Hemoglobin,


Leukosit, Eritrosit, Trombosit, Hitung Jenis).
Urin Lengkap

5. Anak Pemeriksaan Laboratorium : Hematologi (Hemoglobin,


Leukosit, Eritrosit, Trombosit, Hitung Jenis).
Kimia Klinik Standar (Ureum, Kreatinin, SGOT/SGPT)

6. Perinatologi Pemeriksaan Laboratorium : Hematologi (Hemoglobin,


Leukosit, Eritrosit, Trombosit, Hitung Jenis), Bilirubin total
direct.
Elektrolit dan Skreening Perdarahan.
Pemeriksaan Foto Thoraks/Rontgen Foto

7. ICU Analisa Gas Darah (PaCO2, PaO2, PaHCO2,PH, SO2)


8. Radioterapi Darah perifer lengkap.
Albumin.
9. Radiologi Ureum/Creatinin (Pemeriksaan Kontras)

Direktur Utama,
dr. Sienny Amelia Kwok