Sunteți pe pagina 1din 7

Mengenali dan Manajemen Infertilitas Primer pada Wanita yang Belum

Pernah Hamil dan Belum Pernah Melahirkan


E4
Wira Candika 102016211
Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana
Jl. Arjuna Utara No.6 Jakarta 11510
email: wiracandika @gmail.com

Abstract

Abstrak

Pendahuluan

Infertilitas merupakan masalah yang dihadapai oleh pasangan suami istri yang telah
menikah selama minimal satu tahun, melakukan hubungan senggama teratur, tanpa
menggunakan kontrasepsi, tetapi belum berhasil memperoleh kehamilan. Pada prinsipnya
masalah yang terkait dengan infertilitas ini dapat dibagi berdasarkan masalah yang sering
dijumpai pada perempuan dan masalah yang sering dijumpai pada laki-laki. Pendekatan yang
digunakan untuk menilai faktor-faktor yang terkait dengan infertilitas tersebut digunakan
pendekatan organik, yang tentunya akan sangat berbeda antara laki-laki dan perempuan.
Faktor tersebut dapat saja merupakan kelainan langsung organnya, tetapi dapat pula
disebabkan oleh faktor lain yang mempengaruhi seperti faktor infeksi, faktor hormonal,
faktor genetik, dan faktor proses penuaan. Infertilitas dikatakan sebagai infertilitas primer
jika sebelumnya pasangan suami istri belum pernah mengalami kehamilan. Sementara itu,
dikatakan sebagai infertilitas sekunder jika pasangan suami istri gagal untuk memperoleh
kehamilan setelah satu tahun pascapersalinan atau pasca abortus, tanpa menggunakan
kontrasepsi apapun.

Definisi

Infertilitas adalah permasalahan yang umum dijumpai pada pasangan suami istri.
Infertilitas didefinisikan sebagai ketidakmampuan untuk menjadi hamil setelah 12 bulan
melakukan hubungan seksual secara rutin dan tanpa menggunakan alat kontrasepsi. Menurut
World Health Organization (WHO) infertilitas dibagi menjadi dua, yaitu, infertilitas primer
dan sekunder. Istilah infertilitas primer digunakan jika seorang wanita yang belum pernah
hamil ataupun melahirkan tidak mampu menjadi hamil, dan istilah infertilitas sekunder
digunakan apabila pasangan yang sebelumnya berhasil melakukan pembuahan setidaknya
sebanyak satu kali.1,2

Epidemiologi

Infertilitas adalah permasalahan yang terjadi secara global, WHO memperikirakan


sekirat 60 juta hingga 80 juta pasangan di seluruh dunia saat ini menderita infertilitas. Angka
infertilitas bervariasi disetiap wilayah tetapi diperkirakan infertilitas terjadi pada 8% - 12%
pasangan diseluruh dunia. Infertilitas di negara maju berkisar antara 3,5% - 16,7% dan di
negara berkembang berkisar antara 6,9% - 9,3%. Perbedaan angka ini diperkirakan karena
perbedaan tingkat sosial ekonomi antara negara berkembang dan negara maju. Angka pasti
mengenai prevalensi infertilitas primer dan sekunder sejauh ini masih belum pasti, tetapi
sudah ada beberapa penelitian mengenai prevalensi infertilitas primer dan sekunder. Pada
penelitian yang dilakukan di Moroko, ditemukan infertilitas primer sebanyak 67,37% dan
infertilitas sekunder sebanyak 32,63%. Penelitian yang dilakukan di satu rumah sakit di Iran
juga menunjukkan infertilitas primer lebih banyak daripada infertilitas sekunder dengan
persentase sebanyak 69,5% untuk infertilitas primer dan 30,5% untuk infertilitas sekunder.1-4

Etiologi

Beberapa faktor dapat dapat menyebabkan infertilitas dan terjadi pada pria maupun
wanita. Pada wanita, infertilitas dapat terjadi karena sindroma polikistik ovari, gangguan
hormonal, kelainan pada ovarium, infeksi organ genitalia, endometriosis, obstruksi tuba
falopi, anomali kongenital pada uterus, atau kelainan medis lainnya seperti diabetes dan
gangguan tiroid. Untuk infertilitas pada pria, dapat disebabkan oleh ketidakseimbangan
hormon, dan abnormalitas sperma. Infertilitas juga dipengaruhi oleh usia pasangan,
pekerjaan, dan status sosial ekonomi.1,4
Diagnosis

50% kasus infertilitas dikarenakan oleh abnormalitas dari pasangan pria. Evaluasi
lanjutan terhadap pasangan pria meliputi penelusuran riwayat pribadi dengan anamnesis,
pemeriksaan fisik, analisis semen, evaluasi genetik dan hormonal, dan analisis semen yang
lebih spesifik jika diperlukan. Analisis semen adalah pemeriksaan awal jika seseorang
dicurigai mengalami infertilitas. Untuk pasangan wanita, dapat ditelusuri riwayat obstetrik
dan ginekologi melalui anamnesis, bisa ditanyakan riwayat pubertas, riwayat menstruasi,
riwayat kehamilan, ada tidaknya kondisi klinis atau penggunaan obat yang mungkin bisa
menyebabkan infertilitas, tindakan bedah yang dapat mencederai pelvis juga ditanyakan,
misalnya riwayat bedah untuk menangani endometriosis. Pemeriksaan fisik dapat dilakukan
pemeriksaan genitalia eksterna, spekulum vagina dan serviks untuk mengevaluasi apakah ada
infeksi atau kelainan anatomi, dan pemeriksaan bimanual untuk memeriksa ukuran uterus,
bentuk, konsistensi, dan apakah ada massa. Pemeriksaan penunjang pada wanita yang dapat
dilakukan adalah evaluasi ovulasi, evaluasi status tuba falopi, evaluasi uterus, dan evaluasi
oosit.5,6

Pemeriksaan Penunjang

Analisis Semen

Analisis semen adalah pemeriksaan dasar untuk menilai apakah seseorang mengalami
infertilitas atau tidak. Analisis semen akan mengevaluasi spermatozoa, cairan seminal, dan
sel non-sperma. Diperlukan dua sampel untuk pemeriksaan dan spesimen kedua diambil 7
hari setelah spesimen pertama, 3 bulan setelah mengalami penyakit yang menyebabkan
demam, dan setelah abstinensi selama 48 jam tetapi tidak lebih dari 7 hari. Spesimen harus
diperiksa dalam waktu 1 jam setelah dikumpulkan karena konsistensi semen akan berubah
menjadi cair jika dibiarkan selama 60 menit dalam suhu ruangan.5
Tabel 1. Nilai Rujukan Analisis Semen Menurut WHO.5

Spermiogram biasa tidaklah cukup untuk mengidentifikasi infertilitas karena tidak


dapat menilai fungsi sperma. Beberapa faktor seperti hitung sel sperma, pemeriksaan
morfologi sel sperma, adalah pemeriksaan yang diperlukan untuk identifikasi infertilitas,
tetapi pada beberapa kasus ditemukan infertilitas yang tidak diketahui penyebabnya pada
pasien dengan hasil analisis sperma yang normal.5

Antisperm Antibodies

Antisperm antibodies adalah suatu antibodi yang sifatnya menyerang sel sperma.
Antisperm antibodies tidak normal ditemukan pada pria maupun wanita. Pada pria, antisperm
antibodies dapat dihasilkan jika ada infeksi atau cedera yang terjadi pada prostat atau testis.
Reaksi infeksi tersebut memicu terbentuknya antisperm antibodies karena tubuh mengira sel
sperma adalah benda asing. Pada wanita, antisperm antibodies diproduksi apabila wanita
tersebut memiliki alergi terhadap paparan sel sperma. Adanya antibodi ini menimbulkan
masalah infertilitas pada pasangan suami istri. Semen yang terikat dengan antisperm
antibodies akan mengalami aglutinasi dan tampak pada analisis semen, karena mengalami
aglutinasi, motilitas semen menjadi kurang baik dan mengganggu pembuahan.5

Deteksi Ovulasi

Deteksi ovulasi pada wanita adalah pemeriksaan dasar untuk mengetahui ada tidaknya
infertilitas. Pada dasarnya, pemeriksaan ini bertujuan untuk melihat apakah siklus menstruasi
pasien teratur atau tidak. Deteksi ovulasi dapat dilakukan dengan kalender menstruasi, siklus
menstruasi yang teratur, normal dalam durasi dan frekuensi adalah pertanda ovulasi normal.
Pemeriksaan lain yang praktis dikerjakan adalah pemeriksaan kadar hormon LH
menggunakan urinary LH kit. LH sendiri adalah sebuah petanda adanya ovulasi karena
hormon LH berfungsi dalam pematangan folikel ovarium dan pelepasan ovum.5

Evaluasi Status Tuba dan Uterus

Tuba falopi berfungsi sebagai tempat terjadinya fertilisasi, apabila terjadi kerusakan
tuba akibat infeksi, endometriosis, ataupun obstruksi tuba, dapat menyebabkan infertilitas.
Status tuba dapat diperiksa dengan pemeriksaan radiologis hysterosalpingogram.
Pemeriksaan ini bertujuan untuk menilai bentuk rongga rahim, bentuk dan patensi tuba falopi.
Pencitraan dilakukan dengan menggunakan pewarna yang bersifat radio opak yang diinjeksi
melalui serviks, berikutnya pewarna tersebut akan menelusuri rongga endometrium dan tuba
falopi. Histerosalpingogram adalah pemeriksaan yang cukup baik untuk mengevaluasi
keadaan rahim dan tuba falopi, tetapi abnormalitas yang ditemukan pada pemeriksaan ini
membutuhkan evaluasi dan manajemen lanjutan dengan laparoskopi atau ultrasonografi
pelvis. Pemeriksaan lain yang dapat dilakukan adalah histeoroskopi. Pemeriksaan ini
bertujuan untuk melihat kondisi uterus dengan menggunakan alat endoskopi yang
dimasukkan melalui serviks.6

Ovarian Reserve Testing

Ovarian reserve merujuk pada pemeriksaan kualitas dan kuantitas oosit. Pemeriksaan
ini sebaiknya dilakukan pada pasien yang berusia diatas 35 tahun atau pasien yang memiliki
riwayat menstruasi yang tidak normal sehingga menimbulkan kecurigaan penurunan fungsi
ovarium lebih dini. Pemeriksaan dilakukan dengan mengukur kadar hormon FSH pada awal
siklus menstruasi, biasanya pada siklus hari ke-2 hingga ke-4, peningkatan kadar FSH hingga
lebih dari 10 IU/L menunjukkan adanya penurunan kualitas oosit dan adanya infertilitas.6

Pemeriksaan kadar anti mullerian hormon adalah salah satu pemeriksaan yang paling
baik untuk memprediksi cadangan ovarium. Anti mullerian hormon adalah hormon yang
diproduksi oleh folikel, semakin banyak folikel yang dimiliki seseorang, maka semakin tinggi
anti mullerian hormon yang terukur. Menurunnya kadar anti mullerian hormon adalah
pertanda bahwa kandungan folikel semakin sedikit dan semakin tinggi kemungkinan
infertilitas.6

Hitung folikel antral (folikel kecil) dapat dilakukan dengan menggunakan alat
ultrasound. USG Vaginal adalah cara terbaik dan paling akurat untuk menghitung jumlah
folikel kecil. Folikel kecil yang dihitung adalah folikel yang memiliki diameter sebesar 2-
10mm. Pemeriksaan ini bertujuan untuk memperkirakan jumlah folikel yang nantinya
berpotensi untuk berkembang menjadi ovum yang siap dibuahi.6

Tata Laksana

Tata laksana untuk kasus infertilitas meliputi tata laksana invasif dan non-invasif, tata
laksana terhadap pria berbeda dengan wanita. Tata laksana non-invasif untuk wanita yang
pertama adalah konseling. Dari konseling ini akan dianjurkan untuk melakukan hubungan sex
dengan pasangan secara teratur sebanyak 2-3 kali seminggu, hentikan merokok, batasi
konsumsi alkohol tidak lebih dari 1-2 unit seminggu, tidak mengonsumsi zat adiktif, lakukan
diet jika mengalami obesitas (BMI > 29). Suplementasi asam folat sebanyak 0,4 mg dapat
diberikan untuk mencegah defek sistem saraf (5 mg bila sebelumnya sudah memiliki anak
dengan gangguan saraf atau pada wanita yang sedang dalam pengobatan epilepsi). Vaksinasi
rubella bisa seronegatif kemudian hindari kehamilan sebulan kedepan setelah vaksinasi.
Tangani permasalahan psiko-seksual bila ada.7

Berikutnya dapat dilakukan induksi ovulasi pada wanita dengan disfungsi ovulatori,
dilakukan stimulasi yang terkontrol untuk menginduksi pematangan folikel. Inseminasi
intrauterin dapat dilakukan pada infertilitas yang tidak diketahui penyebabnya. Cara terakhir
dapat dengan melakukan surogasi atau ibu pengganti tatapi Indonesia melarang penggunaan
cara ini.7

Cara invasif adalah dengan melakukan prosedur pembedahan, bedah tuba secara
laparoskopik dapat memperbaiki patensi tuba misalnya apabila terdapat sumbatan pada tuba
maka sumbatan tersebut dapat disingkirkan dengan pembedahan. Pembedahan dengan
hysteroskopi untuk menangani permasalahan pada uterus, misalnya untuk pembedahan polip
uterus. Fertilisasi in vitro juga salah satu cara yang mulai sering digunakan saat ini untuk
infertilisasi yang tidak diketahui penyebabnya.7

Untuk pria, tata laksana non-invasif juga terdiri dari konseling, dianjurkan untuk
melakukan hubungan seksual teratur sebanyak 2-3 kali dalam seminggu, hentikan merokok,
batasi konsumsi alkohol 3-4 unit dalam seminggu, tidak menggunakan obat-obatan adiktif,
mengenakan celana dalam dan celana yang tidak ketat, hindari hal-hal yang menyebabkan
suhu testis meningkat, dan tangani masalah psikoseksual jika ada. Bisa dilakukan juga
inseminasi intra uterin, inseminasi dari donor sperma, dan yang terakhir adopsi. Tindakan
invasif berupa tindakan bedah untuk merestorasi patensi duktus deferens apabila pasien
pernah melakukan vasektomi.7

Prognosis

Kesimpulan