Sunteți pe pagina 1din 11

Diagnosis dan Tatalaksana Infertilitas

Raditya Karuna Linanda

NIM: 102016046

Email: radityakaruna33@gmail.com

Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana

Alamat Korespondensi : Jalan Arjuna Utara no. 6. Jakarta 11510

Abstrak
Infertilitas merupakan suatu kondisi di mana pasangan suami dan istri yang sudah menikah dan
telah berhubungan seksual secara rutin yaitu sebanyak 2-3 kali seminggu selama satu tahun tanpa
menggunakan alat kontrasepsi namun belum memiliki keturunan. Infertilitas dibagi menjadi
infertilitas primer dan sekunder. Infertilitas dapat disebabkan dari pihak istri maupun suami.
Infertilitas dapat ditimbulkan karena kualitas cairan semen dari suami yang kurang baik ataupun
karena adanya masalah pada istri misalnya seperti adanya masalah hormonal, masalah pada
vagina, ovarium, tuba fallopi, dan juga uterus. Pemeriksaan yang penting dilakukan untuk
mengetahui adanya infertilitas adalah anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang.
Pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan adalah dengan melakukan pemeriksaan ovulasi dan
kadar hormon, hidrosalpingografi, ultrasonografi transvaginal dan analisa cairan semen.
Pemeriksaan tersebut digunakan untuk mengetahui kelainan yang menyebabkan infertilitas.
Beberapa upaya pencegahan dapat dilakukan untuk mengurangi risiko terjadinya infertilitas.
Kata kunci: Infertilitas, ultrasonografi transvaginal, cairan semen
Abstract
Infertility is a condition in which married couples and wives have had sexual intercourse on a
regular basis that is as much as ¬2-3 times a week for one year without using contraception but
have no offspring. Infertility is divided into primary and secondary infertility. Infertility can be
caused by the wife or husband. Infertility can be caused due to the quality of semen from a husband
that is not good or because of a problem with the wife, for example such as hormonal problems,
problems in the vagina, ovary, fallopian tubes and uterus. An important examination to determine
the presence of infertility is history, physical examination and investigation. Investigation that can
be done is to do ovulation and hormone levels, hydrosalpingography, transvaginal
ultrasonography and semen analysis. The examination is used to determine abnormalities that
cause infertility. Some prevention efforts can be made to reduce the risk of infertility.
Keywords: Infertility, transvaginal ultrasonography, semen

1
Pendahuluan
Infertilitas merupakan masalah yang dihadapai oleh pasangan suami istri yang telah menikah
selama minimal satu tahun, melakukan hubungan senggama teratur, tanpa menggunakan
kontrasepsi, tetapi belum berhasil memperoleh kehamilan. Pada prinsipnya masalah yang terkait
dengan infertilitas ini dapat dibagi berdasarkan masalah yang sering dijumpai pada perempuan dan
masalah yang sering dijumpai pada laki-laki. Pendekatan yang digunakan untuk menilai faktor-
faktor yang terkait dengan infertilitas tersebut digunakan pendekatan organik, yang tentunya akan
sangat berbeda antara laki-laki dan perempuan. Faktor tersebut dapat saja merupakan kelainan
langsung organnya, tetapi dapat pula disebabkan oleh faktor lain yang mempengaruhi seperti
faktor infeksi, faktor hormonal, faktor genetik, dan faktor proses penuaan.
Infertilitas dikatakan sebagai infertilitas primer jika sebelumnya pasangan suami istri belum
pernah mengalami kehamilan. Sementara itu, dikatakan sebagai infertilitas sekunder jika pasangan
suami istri gagal untuk memperoleh kehamilan setelah satu tahun pascapersalinan atau pasca
abortus, tanpa menggunakan kontrasepsi apapun.

Anamnesis

Anamnesa merupakan suatu bentuk wawancara antara dokter dan pasien dengan
memperhatikan petunjuk-petunjuk verbal dan non-verbal mengenai riwayat penyakit si pasien.
Riwayat pasien merupakan suatu komunikasi yang harus dijaga kerahasiaannya yaitu segala hal
yang diceritakan penderita.
Ada 2 jenis anamnesis yang umum dilakukan, yakni Autoanamnesis dan Alloanamnesis
atau Heteroanamnesis. Pada umumnya anamnesis dilakukan dengan teknik autoanamnesis yaitu
anamnesis yang dilakukan langsung terhadap pasiennya. Pasien sendirilah yang menjawab semua
pertanyaan dokter dan menceritakan permasalahannya. Ini adalah cara anamnesis terbaik karena
pasien sendirilah yang paling tepat untuk menceritakan apa yang sesungguhnya dia rasakan1
Untuk individu dewasa, riwayat komprehensif mencakup mengidentifikasi data dan sumber
riwayat, keluhan utama, penyakit saat ini, riwayat kesehatan masa lalu, riwayat keluarga, dan
riwayat pribadi dan sosial. Pasien yang baru dirawat di rumah sakit atau klinik patut dilakukan
pengkajian riwayat kesehatan komprehensif, akan tetapi dalam banyak fasilitas akan lebih tepat
bila dilakukan wawancara yang lebih terfokuskan atau berorientasi masalah yang pelaksanaannya
fleksibel.

2
Dalam kasus ini, dokter melakukan autoanamnesis pada perempuan berumur 23 tahun tersebut.
Riwayat kesehatan yang perlu dikumpulkan meliputi:
(1) Identifikasi data meliputi nama, usia, jenis kelamin, alamat, agama, suku bangsa, pekerjaan,
dan status perkawinan;
(2) Keluhan utama yang berasal dari kata-kata pasien sendiri yang menyebabkan pasien mencari
perawatan;
(3) Penyakit saat ini meliputi perincian tentang tujuh karakteristik gejala dari keluhan utama yaitu
lokasi, kualitas, kuantitas, waktu terjadinya gejala, kondisi saat gejala terjadi, faktor yang
meredakan atau memperburuk penyakit, dan manifestasi terkait (hal-hal lain yang menyertai
gejala);
(4) Riwayat kesehatan masa lalu seperti pemeliharaan kesehatan, mencakup imunisasi, uji
skrining dan penyakit yang diderita pada masa kanak-kanak, penyakit yang dialami saat dewasa
lengkap dengan waktunya mencakut empat kategori yaitu medis, pembedahan, obstetrik, dan
psikiatrik;
(5) Riwayat keluarga yaitu diagram usia dan kesehatan, atau usia dan penyebab kematian dari
setiap hubungan keluarga yang paling dekat mencakup kakek-nenek, orang tua, saudara kandung,
anak, cucu
(6) Riwayat Pribadi dan Sosial seperti aktivitas dan gaya hidup sehari-hari, situasi rumah dan
orang terdekat, sumber stress jangka pendek dan panjang, pekerjaan dan Pendidikan.

(7) Riwayat haid seperti, kapan pertama kali menstruasi, siklus haid HPHT, nyeri atau tidak saat
haid, teratur atau tidak dan berapa lama saat haid berlangsung, selain itu ditanyakan juga tentang
aktifitas seksual, frekuensi melakukan coitus.

Pemeriksaan Fisik
Sebelum melakukan pemeriksaan fisik, selalu didahului dengan melihat keadaan umum
pasien, kesadaran, serta tanda-tanda vital. Lalu dilakukan juga pemeriksaan fisik ginekologi
meliputi inspeksi genitalia luar dan inspeksi di bagian dalam menggunakan speculum. Dilakukan
juga pemeriksaan bimanual untuk menilai uterus atau rahim.
Hasil pemeriksaan:
Pemeriksaan fisik umum dalam batas normal
Pemeriksaan fisik ginekologi:

3
- Inspeksi genitalia luar dalam batas normal
- Inspekulo: Tidak ada darah dan lendir, dan portio licin
Pemeriksaan bimanual:
- Uterus: Ukuran normal
- Adnexa dan parametrium tidak teraba massa

Pemeriksaan Penunjang

UJI POSTCOITAL

Tes postcoital untuk menilai kemampuan sperma untuk menembus lendir serviks. Sperma yang
sehat dapat berenang melalui lendir serviks. Untuk melakukan tes, pasangan disarankan untuk
melakukan hubungan seksual, dan sampel lendir serviks diperoleh 9-24 jam kemudian. Bila
ditemukan >20 sperma yang motil dan kuat dibawah mikroskop dengan pembesaran 400x
menunjukkan hasil positif. Meskipun tes postcoital masih banyak digunakan, namun persyaratan
untuk waktu hubungan seks yang cermat dan pemulihan lendir serviks . Alternatif lain adalah
menilai jarak yang ditempuh sperma melalui lapisan "lendir buatan", biasanya, polimer asam
hialuronat. Tes ini lebih mudah diukur, dan ketika digunakan dalam kombinasi dengan antibodi
antisperma, memberikan informasi serupa.1,2

Analisis Sperma

Pemeriksaan analisis sperma sangat penting dilakukan pada awal pasutri dengan masalah
infertilitas. Beberapa syarat yang harus diperhatikan agar menjamin hasil analisis sperma yang
baik adalah sebagai berikut:
 Lakukan abstinesia (pantangan berhubungan) selama 2-3 hari.
 Keluarkan sperma dengan cara masturbasi
 Hindari penggunaan pelumas pada saat masturbasi
 Hindari penggunaan kondom untuk menampung sperma
 Gunakan tabung dengan mulut yang lebar sebagai tempat penampung sperma
 Tabung sperma harus dilengkapi dengan nama jelas, tanggal, dan waktu pengumpulan
sperma
 Kirimkan sampel secepat mungkin ke laboratorium sperma.

4
 Hindari paparan temperatur yang terlampau tinggi (> 38o) atau terlalu rendah (<15o) atau
menempelkannya ke tubuh sehingga sesuai dengan suhu tubuh.
Kriteria yang digunakan untuk menilai normalitas analisis sperma adalah kriteria normal
berdasarkan kriteria World Health Organization (WHO). Hasil dari analisis sperma tersebut
menggunakan terminologi khusus yang diharapkan dapat menjelaskan kualitas sperma
berdasarkan kensentrasi, mortalitas dan morfologi sperma.3

Tabel 1. Nilai normalitas analisis sperma berdasarkan kriteria WHO3


Kriteria Nilai rujukan normal

Volume 2 ml atau lebih


pH 7,2 atau lebih
Konsentrasi sperma 20 juta per mililiter atau lebih
Jumlah sperma total 40 juta per mililiter atau lebih
Lurus cepat (gerakan yang progresif dalam 25 % atau lebih
60 menit setelah ejakulasi)
Morfologi normal 30% atau lebih
Vitalitas 75% atau lebih yang hidup
Lekosit Kurang dari 1 juta per mililiter

Tabel 2. Terminologi dan Definisi Analisis Sperna Berdasarkan Kualitas Sperma3


Terminologi Definisi

Normozoospermia Ejakulasi normal sesuai dengan nilai rujukan WHO


Oligozoospermia Konsentrasi sperma lebih rendah daripada nilai rujuka WHO
Astenozoospermia Konsentrasi sel sperma dengan motilitas lebih rendah daripada
nilai rujukan WHO
Teratozoospermia Konsentrasi sel sperma dengan morfologi lebih rendah daripada
nilai rujukan WHO
Azospermia Tidak didapatkan sel sperma di dalam ejakulat
Aspermia Tidak teradpat ejakulat

5
Dua atau tiga nilai analisis sperma diperlukan untuk menegakkan diagnosis adanya analisis
sperma yang normal. Namun, cukup banyak melakukan analisis sperma tunggal jika pada
pemeriksaan telah dijumpai hasil analisis sperma normal, karena pemeriksaan analisis sperma
yang ada merupakan metode pemeriksaan yang sangat sensitif. Untuk mengurangi nilai positif
palsu, maka pemeriksaan analisis sperma yang berulang hanya dilakukan jika pemeriksaan analisis
sperma yang pertama menunjukkan hasil yang abnormal. Pemeriksaan amalisis sperma kedua
dilakukan dalam kurun waktu 2-4 minggu.3

Uji Patensi Tuba


1. Hidrotubasi laparoskopi
Patensi tuba dapat dinilai saat laparoskopi. Kanula dimasukkan ke dalam leher rahim, dan
5-20 ml pewarna biru metilen disuntikkan ke dalam rongga rahim. Jika tuba falopii paten,
pewarna dapat terlihat keluar dari ujung setiap tuba. Keuntungan penting dari hidrotubasi
laparoskopi adalah memungkinkan dilakukannya pemeriksaan organ panggul selama
prosedur. Kondisi seperti adhesi panggul dan endometriosis, yang keduanya dapat
mengurangi kesuburan, dapat ditemukan. Kelemahan utama dari laparoskopi adalah
prosedur operasi yang membutuhkan anestesi umum.
2. Histerosalpingografi
Hysterosalpingography adalah visualisasi radiologis dari saluran genital setelah injeksi
media kontras radio-opak melalui serviks. Hysterosalpingography mungkin merupakan tes
tambahan yang berguna pada wanita yang memiliki penyumbatan tuba yang ditunjukkan
pada laparoskopi. Hysterosalpingography memungkinkan lokasi penyumbatan tuba untuk
ditentukan, yang bermanfaat jika operasi dipertimbangkan.
3. Falloposkopi
Kemajuan dalam teknik pencitraan telah memungkinkan pembuatan hysteroscopes yang
cukup kecil untuk dilewatkan ke tuba fallopia. Morfologi tuba dapat langsung dinilai.
Prosedur ini hanya tersedia di pusat-pusat khusus, tetapi dapat dikombinasikan dengan
perawatan operatif untuk meringankan penyumbatan tuba fallopi.4

6
Infertilitas

Infertilitas dapat didefinisikan sebagai kegagalan untuk mencapai kehamilan dalam 1 tahun dari
hubungan seks tanpa kondom yang teratur tanpa adanya patologi reproduksi yang diketahui.
Kondisi ini dapat diklasifikasikan lebih lanjut sebagai infertilitas primer, di mana tidak pernah
kehamilan sebelumnya. Infertilitas sekunder adalah suatu kondisi di mana pasangan, yang
sebelumnya pernah hamil dan mungkin berakhir dengan keguguran, kehamilan ektopik atau aborsi
yang ditimbulkan. Fekundabilitas adalah probabilitas mencapai kehamilan dalam satu siklus
menstruasi tunggal dan fekunditas adalah probabilitas mencapai kelahiran hidup dalam satu siklus
tunggal. Fekundabilitas wanita normal diperkirakan 20 hingga 25%. Atas dasar perkiraan ini,
sekitar 90% pasangan seharusnya hamil setelah 12 bulan melakukan hubungan seks tanpa kondom.
Infertilitas mempengaruhi sekitar 10% hingga 15% pasangan usia reproduksi.5

Etiologi

Infertilitas pada Perempuan

Dengan bertambahnya usia, wanita menjadi kurang subur. Ada banyak penyebab infertilitas.
Kadang-kadang, kegagalan untuk hamil dapat disebabkan oleh kombinasi dari faktor dibawah.
Namun, dalam sekitar 30% kasus, tidak dapat ditemukan penyebab yang jelas.

1. Infertilitas yang tidak dapat dijelaskan 28%


2. Infertilitas faktor pria 21%
3. Gangguan ovulasi 18%
4. Penyakit tuba 14%
5. Endometriosis 6%
6. Masalah coital 5%
7. Faktor serviks 3%

Faktor lain yang mungkin berperan termasuk kondisi medis kronis seperti diabetes, epilepsi dan
penyakit tiroid dan usus.1,2

Infertilitas pada Pria

7
Seperti pada wanita, kesuburan pria juga diperkirakan menurun seiring bertambahnya usia,
meskipun sampai sejauh mana tidak jelas. Kemungkinan penyebab infertilitas pria meliputi:

1. Masalah dengan saluran yang membawa sperma


2. Disfungsi ereksi
3. Masalah ejakulasi
4. Orkitis sebelumnya
5. Infeksi bakteri yang menyebabkan jaringan parut dan tersumbat di dalam epididimis saat
bergabung dengan vas
6. Terapi medis sebelumnya seperti pemakaian obat-obatan, radioterapi atau operasi
7. Masalah genetik
8. Penyakit kronis seperti diabetes
9. Obat-obatan.

Epidemiologi

Infertilitas adalah permasalahan yang terjadi secara global, WHO memperikirakan sekirat
60 juta hingga 80 juta pasangan di seluruh dunia saat ini menderita infertilitas. Angka infertilitas
bervariasi disetiap wilayah tetapi diperkirakan infertilitas terjadi pada 8% - 12% pasangan
diseluruh dunia. Infertilitas di negara maju berkisar antara 3,5% - 16,7% dan di negara berkembang
berkisar antara 6,9% - 9,3%. Perbedaan angka ini diperkirakan karena perbedaan tingkat sosial
ekonomi antara negara berkembang dan negara maju. Angka pasti mengenai prevalensi infertilitas
primer dan sekunder sejauh ini masih belum pasti, tetapi sudah ada beberapa penelitian mengenai
prevalensi infertilitas primer dan sekunder. Pada penelitian yang dilakukan di Moroko, ditemukan
infertilitas primer sebanyak 67,37% dan infertilitas sekunder sebanyak 32,63%. Penelitian yang
dilakukan di satu rumah sakit di Iran juga menunjukkan infertilitas primer lebih banyak daripada
infertilitas sekunder dengan persentase sebanyak 69,5% untuk infertilitas primer dan 30,5% untuk
infertilitas sekunder.5

8
Tatalaksana

Pembedahan tuba

Ketika penyakit tuba telah dikonfirmasi, patensi tuba dapat diperbaiki dengan operasi. Hasil
terbaik diperoleh ketika operasi dilakukan oleh operator yang terlatih dalam teknik ini,
menggunakan mikroskop operasi. Pembedahan dapat dilakukan secara laparoskopi, atau sebagai
prosedur terbuka. Tujuan pembedahan adalah mengembalikan patensi dan mobilitas tuba. Namun,
pemulihan patensi tuba tidak menjamin kehamilan, karena fungsi tuba (mis. Pergerakan silia)
mungkin telah hancur atau terganggu secara permanen.6

Intrauterine Isemination (IUI)

IUI melibatkan prosedur laboratorium yang memisahkan sperma yang bergerak cepat dari sperma
yang lebih lambat atau tidak bergerak. Sperma yang bergerak cepat kemudian ditempatkan ke
dalam rahim wanita, dekat dengan waktu ovulasi, ketika sel telur dilepaskan dari ovarium di tengah
siklus bulanan. Sebelum IUI, sangat penting bahwa tuba fallopi terbukti paten. IUI dapat dilakukan
dengan atau tanpa menggunakan obat kesuburan.1,2

In vitro Fertilization

Teknik ini melibatkan pembuahan oosit manusia ‘in vitro’. Telur dipanen dari folikel ovarium
yang berdiameter sekitar 20 mm (mis. Segera sebelum ovulasi). Telur-telur tersebut kemudian
ditempatkan dalam media kultur, dalam inkubator, dan dibuahi beberapa jam kemudian.
Gonadotrofin biasanya digunakan untuk meningkatkan jumlah oosit preovulasi yang tersedia
untuk pengumpulan. Penggunaan analog GnRH memungkinkan kontrol yang lebih baik dari waktu
pengumpulan telur. Indikasi dilakukannya in vitro fertilization adalah pada saat, tingkat
subfertilitas pria yang kecil, misalnya, ketika jumlah sperma rendah sehingga pembuahan tidak
mungkin, infertilitas yang tidak dapat dijelaskan penyebabnya ketika anatomi dan fungsi tampak
normal, dan semua penyebab infertilitas yang dapat diatasi telah dieliminasi.6

9
Pencegahan

Pencegahan yang dapat dilakukan untuk menurunkan risiko terjadinya infertilitas adalah hindari
mengonsumsi rokok dan alkohol, mengurangi stres karena stres dapat mengganggu terjadinya
ovulasi, jaga kebersihan dan jangan bergonta-ganti pasangan karena akan meningkatkan risiko
terkena penyakit menular seksual yang dapat berpengaruh terhadap infertilitas, hindari memijat
bagian perut apabila sakit atau nyeri pada saat menstruasi.2,3

Kesimpulan

Infertilitas dapat didefinisikan sebagai kegagalan untuk mencapai kehamilan dalam 1 tahun dari
hubungan seks tanpa kondom yang teratur tanpa adanya patologi reproduksi yang diketahui. Untuk
mendiagnosis infertilitas dapat dilakukan beberapa pemeriksaan penunjang seperti, uji postcoital,
analisis sperma, uji patensi tuba. Tatalaksana yang diberikan berupa pembedahan tuba, intrauterine
isemination, in vitro fertilization, namun tatalaksana berikut diberikan sesuai dengan penyebab
dari infertilitas pasien.

10
Daftar Pustaka

1. Bain CM, Burton K, Mcgavigan CJ. Gynecology illustrated. Elsevier. New York: 2011. h.
358-65.
2. Mala YM, Gupta MM, Batra S. case discussion in obstetrics & gynecology. Jaypee brothers
Medical Publishers. New Delhi: 2011. h. 220-5.
3. Manuaba IBG. Kepaniteraan klinik obstetri dan ginekologi. Penerbit Buku Kedokteran
EGC. Jakarta: 2004. h. 29-31.
4. Benson RC, Pernoll ML. Buku saku obstetri & ginekologi. Penerbit Buku Kedokteran
EGC. Jakarta: 2009. h. 687

5. Wiknjosastro H. Infertilitas. Ilmu kandungan. Edisi ke-3. PT Bina Pustaka Sarwono


Prawirohardjo. Jakarta: 2011. h. 424-35.
6. Mansjoer A, Triyanti K, Savitri R, Wardhani WI, Setiowulan W. Infertilitas. Kapita selekta
kedokteran. Edisi ke-3. Media Aesculapius Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.
Jakarta: 2001. h.389.

11