Sunteți pe pagina 1din 18

MAKALAH KEPERAWATAN MATERNITAS

ASUHAN KEPERAWATAN IBU DENGAN PENYAKIT HERPES

OLEH :

1. INDAH PUTRI SETYARINI 8. KHAERUL ANAS


2. INDRAWAN 9. KHALEDA SANANINGRUM
3. INTANIA FRANSISKA SHOLIHAH 10. KHUMAIROTUL ULYA
4. IRA DWI PRATIWI 11. KRIS MANGESTUNINGSIH
5. IRMA 12. LAILY FATMALASARI
6. IRMALITA WIGATI 13. LATIFAH LELY SEPTIARINI
7. JENY AYU RATRI SAMARA AGNI

PROGRAM STUDI PROFESI NERS

JURUSAN KEPARAWATAN

POLTEKKES KEMENKES SEMARANG

TAHUN 2019
BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

Saat ini, infeksi menular seksual masih menjadi masalah kesehatan maupun

berbagai negara tak terkecuali di Indonesia. Di berbagai negara disebutkan bahwa

pelaksanaan program penyuluhan yang intensif akan menurunkan angka kejadian infeksi

menular seksual atau paling tidak angka kejadiannya relatif tetap. akan tetapi, angka

kejadian di sebagian besar negara masih relatif tinggi untuk kasus infeksi menular seksual

itu sendiri. Akan tetapi upaya Pengendalian komprehensif meliputi upaya promotif,

preventif kuratif dan rehabilitative dengan melibatkan sector seluruh terkait, civil society

organization termasuk swasta dan masyarakat (Fitriani, 2016).

Herpes genital adalah penyakit infeksi menular seksual (IMS) yang disebabkan

virus herpes simpleks tipe 1 (HSV-1) atau tipe 2 (HSV-2). Tipe 1 biasa ditemukan di

daerah mulut (herpes oral) dan tipe 2 disebut herpes genital. Di Amerika sekitar 1 dari 6

orang berusia 14 – 49 tahun menderita infeksi oleh HSV-2. Penularan infeksi lebih sering

terjadi dari laki-laki ke pasangan wanitanya, dibanding dari wanita ke pasangan laki-laki.

Infeksi HSV sering terjadi pada wanita usia reproduktif dan dapat diturunkan

kepada bayi pada saat masa kehamilan, sampai persalinan. Herpes simplex virus

merupakan penyebab penting infeksi pada neonatus dan dapat menyebabkan kematian

atau kecacatan pada bayi yang baru dilahirkan (Djojosugito,2016).

B. RUMUSAN MASALAH

Berdasarkan latar belakang diatas maka dapat dirumuskan masalah sebagai berikut

1. Apa pengertian dari herpes?


2. Apa saja etiologi dari penyakit herpes?

3. Bagaimana tanda dan gejala pada penyakit herpes?

4. Bagaimana patofisiologi dari penyakit herpes?

5. Bagaimana asuhan keperawatan pada ibu dengan penyakit herpes?

C. TUJUAN

1. Untuk mengetahui pengertian dari penyakit herpes.

2. Untuk mengetahui etiologi pada penyakit herpes.

3. Untuk mengetahui tanda gejala penyakit herpes.

4. Untuk mengetahui patofisologi terjadinya penyakit herpes.

5. Untuk mengetahui asuhan keperawatan yang dapat dilakukan pada ibu dengan

penyakit herpes.
BAB II

LANDASAN TEORI

A. Pengertian

Herpes adalah penyakit yang biasanya menyerang area kulit dan mengenai selaput

lendir. Herpes merupakan infeksi kulit kelamin yang disebabkan oleh virus yang

ditularkan melalui hubungan seks. Terkadang ditemukan juga pada mulut penderita

karena yang bersangkutan melakukan oral seks dengan penderita herpes. Ada beberapa

jenis herpes antara lain herpes simpleks, herpes genitalis dan herpes zoster. Herpes

simpleks adalah infeksi akut yang disebabkan oleh herpes simpleks virus (HSV) tipe I

atau tipe II yang ditandai dengan adanya vesikel yang berkelompok di atas kulit yang

sembab dan eritematosa pada daerah dekat mukokutan (Handoko, 2010).

B. ETIOLOGI

Timbulnya penyakit herpes bisa dipicu oleh:

1. HSV tipe 1, menyebabkan demam seperti pilek dengan menimbulkan luka di bibir

semacam sariawan. HSV jenis ini ditularkan melalui ciuman mulut atau bertukar alat

makan seperti sendok – garpu (misalnya suap-suapan dengan teman).

2. HSV tipe 2, dapat menyebabkan luka di daerah alat vital sehingga suka disebut

genital herpes, yang muncul luka-luka di seputar penis atau vagina. HSV 2 ini juga

bisa menginfeksi bayi yang baru lahir jika dia dilahirkan secara normal dari ibu

penderita herpes. HSV-2 ini umumnya ditularkan melalui hubungan seksual. Virus ini

juga sesekali muncul di mulut. Dalam kasus yang langka, HSV dapat menimbulkan

infeksi di bagian tubuh lainnya seperti di mata dan otak (Fahmi, 2010)
3. Stres fisik/emosional

4. Penekanan sistem kekebalan

C. TANDA DAN GEJALA

1. Bentol berisi cairan yang terasa perih dan panas. Bentolan ini akan berlangsung

beberapa hari. Bintil kecil ini bisa meluas tidak hanya di wajah tapi bisa di seluruh

tubuh. Rasa sakit dan panas di seluruh tubuh yang membuat tidak nyaman ini bisa

berlangsung sampai beberapa hari disertai sakit saat menelan makanan, karena

kelenjar getah bening sudah. Sering terasa gatal yang tidak jelas di sebelah mana.

2. kulit seperti terbakar di bagian tubuh tertentu disertai nyeri di daerah selangkangan

atau sampai menjalar ke kaki bagian bawah. Kulit kering pada daerah yang terinfeksi.

3. Gatal.

4. Sakit pada saat buang air kecil.

5. Keluarnya cairan dari vagina.

6. Munculnya benjolan di selangkangan.

D. CARA PENULARAN

HSV-1 dan HSV-2 dapat ditemukan pada luka bekas gelembung yang pecah,

meski tak selalu demikian. Virus herpes juga bisa terdapat pada lapisan kulit yang tampak

utuh. Penularan herpes simpleks terjadi melalui kontak kulit dengan luka yang

mengandung virus herpes.

Untuk HSV-1 disebarkan melalui sekresi oral atau luka pada kulit, misalnya

melalui aktifitas seperti berciuman, penggunaan bersama sikat gigi atau alat makan.

HSV-1 dapat pula menimbulkan luka di area kelamin selain di daerah mulut dan bibir,

biasa disebut sebagai fever blister. Infeksi HSV-1 di area kelamin disebabkan karena
kontak dari mulut ke genital atau kontak genital ke genital dengan seseorang yang

menderita infeksi HSV-1.

Herpes genital hanya dapat ditularkan melalui kontak seksual antara orang yang

sudah memiliki virus dalam tubuhnya dengan orang yang belum terinfeksi. Kontak

seksual dapat berupa anal, vaginal maupun oral. Penyebaran infeksi dapat terjadi dari

pasangan yang terinfeksi tanpa ada luka dan bahkan tidak menyadari bahwa dirinya

memiliki infeksi virus herpes (Indriatmi, 2010).

E. PATOFISIOLOGI

Virus herpes simpleks disebarkan melalui kontak langsung antara virus

dengan mukosa atau setiap kerusakan di kulit. Virus herpes simpleks tidak dapat

hidup di luar lingkungan yang lembab dan penyebaran infeksi melalui cara selain

kontak langsung kecil kemungkinannya terjadi. Virus herpes simpleks memiliki

kemampuan untuk menginvasi beragam sel melalui fusi langsung dengan membran

sel. Pada infeksi aktif primer, virus menginvasi sel pejamu dan cepat berkembang

dengan biak, menghancurkan sel pejamu dan melepaskan lebih banyak virion untuk

menginfeksi sel-sel disekitarnya. Pada infeksi aktif primer, virus menyebar melalui

saluran limfe ke kelenjar limfe regional dan menyebabkan limfadenopati.

Tubuh melakukan respon imun seluler dan humoral yang menahan infeksi

tetapi tidak dapat mencegah kekambuhan infeksi aktif. Setelah infeksi awal timbul

fase laten. Selama masa ini virus masuk ke dalam sel-sel sensorik yang

mempersarafi daerah yang terinfeksi dan bermigrasi disepanjang aks on untuk

bersembunyi di dalam ganglion radiksdorsalis tempat virus berdiam tanpa

menimbulkan sitotoksisitas atau gejala pada manusia (Syarif, 2010).


F. Infeksi HSV pada kehamilan

Infeksi HSV pada kehamilan dapat terjadi secara primer maupun rekuren,

keduanya dapat menyebabkan efek pada janin yang dikandungnya berupa abnormalitas

pada neonatus. Selain itu HSV dapat menyebabkan tampilan klinis yang lebih berat pada

ibu hamil dibandingkan ibu yang tidak hamil.Infeksi primer terutama pada herpes

genitalis dalam kehamilan menimbulkan infeksi yang lebih berat pada neonatus, terlebih

pada penderita yang belum memiliki antibodi terhadap HSV.

Infeksi HSV pada neonatus dapat diperoleh pada saat kehamilan, intrapartum,

atau post partum. Risiko infeksi HSV intrauterin meningkat pada ibu hamil yang

menderita infeksi HSV yang meluas dimana 90% disebabkan oleh HSV-2. Transmisi

virus intrauterin dapat terjadi pada awal kehamilan (sekitar 20 minggu gestasi) dan

menyebabkan abortus, stillbirth, dan anomali kongenital.5 Anomali kongenital tersebut

berupa kelainan mata (chorioretinitis, microphtalmia, katarak), kerusakan neurologis

(kalsifikasi intrakranial, microcephali), growth retardation, dan kelainan perkembangan

psikomotor. Jika infeksi HSV terjadi pada saat intrapartum atau post partum maka dapat

menyebabkan infeksi pada neonatus berupa penyakit HSV yang terlokalisir pada kulit,

mata dan atau mulut (SEM); encephalitis HSV dengan atau kelainan pada kulit, mata,

mulut; dan HSV diseminata berupa disfungsi organ berat dengan mortalitas mencapai

80% tanpa terapi. Tujuh puluh sampai 85% infeksi HSV pada neonatus disebabkan oleh

HSV-2, sedangkan sisanya disebabkan oleh HSV-1 (Djojosugito, 2016).


G. KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN PADA IBU DENGAN PENYAKIT HERPES

SIMPLEKS

1. Pengkajian

a. Anamnesa

1) Identitas klien

Dapat terjadi pada semua orang di semua umur biasanya terjadi pada remaja

dan dewasa muda.

2) Keluhan utama

Gejala yang sering menyebabkan penderita datang ke tempat fasilitas

kesehatan adalah nyeri pada lesi yang timbul dan gatal-gatal pada daerah

sekitar yang terkena.

3) Riwayat Penyakit Sekarang

Penderita merasakan nyeri yang hebat, terutama pada area kulit yang

mengalami peradangan berat dan vesikulasi yang hebat, selain itu juga

terdapat lesi dan penderita juga mengalami demam.

4) Riwayat Kesehatan Lalu

Tanyakan apakah klien pernah mengalami hal yang sama sebelumnya.

5) Riwayat Kesehatan Keluarga

Tanyakan kepada penderita apakah ada anggota keluarga atau teman dekat

yang terinfeksi penyakit yang sama.


b. Pola Fungsi Kesehatan Gordon

1) Persepsi terhadap Kesehatan

Penderita herpes tidak begitu memperhatikan kesehatan tetapi klien juga tidak

melakukan kebiasaan yang bertentangan dengan kesehatanya. Tanyakan

apakah pada saat klien sakit biasanya minum obat dan apabila penyakitnya

tidak sembuh pasien baru pergi ke dokter terdekat.

2) Pola aktifitas latihan

Mandi, berpakaian/berdandan, eliminasi, mobilisasi ditempat tidur, ambulansi,

makan). Tergantung berat dan ringannya penyakit.

3) Pola istirahat tidur

Pada pola istirahat penderita herpes terjadi gangguan susah tidur dikarenakan

rasa nyeri dan rasa gatal.

4) Pola nutrisi metabolik

Pada penderita herpes nafsu makannya terganggu karena jika makan,

penderita herpes merasa mual. Tanyakan terkait intake dan output klien sehari

– hari.

5) Pola eliminasi

Penderita herpes biasanya terdapat nyeri pada saat buang air kecil.

6) Pola kognitif persepsi

Status mental klien sadar, kemampuan membaca lancer, kemampuan interaksi

penderita herpes terganggu karena penyakitnya yang menular, pendengaran

penderita herpes baik, penglihatan penderita herpes mungkin sedikit

berkurang apabila penyakit herpes simplex menyebar ke daerah mata,


manajemen nyeri : penderita herpes mangatasi rasa nyeri dengan

mengkonsumsi obat anti nyeri

7) Pola konsep diri

Tanyakan dan sesuaikan dengan kondisi klien.

8) Pola koping dan toleransi stress

9) Pola seksual reproduksi

Penderita herpes merasa terganggu dengan pola seksual reproduksinya.

Karena penderita herpes mengalami penyakit genital herpes.

10) Pola peran hubungan

Hubungan dengan keluarga, teman dan tetangga terganggu karena

penyakitnya yang menular.

11) Pola nilai dan kepercayaan

c. Pemeriksaan fisik pada klien herpes simpleks

1) Tanda-tanda vital:

Suhu : > 37 C (Hipertermi)

Nadi : > 100x/menit (Takikardi)

TD : systole >139 mmHg, diastole >89 mmHg

Pernafasan : 16 – 24x/menit

2) Pemeriksaan fisik

Keadaan umum klien bergantung pada luas, lokasi timbulnya lesi, dan

daya tahan tubuh klien. pada kondisi awal/saat proses peradangan terjadi.

Pada pengkajian kulit, ditemukan adanya yang nyeri ,edema di sekitar lesi,

dan dapat pula timbul ulkus pada infeksi sekunder. Pada pemeriksaan
genitalia pada wanita, daerah yang perlu diperhatikan adalah labia mayor dan

minor, klitoris, introitus vagina, dan serviks. Jika timbul lesi, catat jenis,

bentuk, ukuran / luas, warna, dan keadaan lesi. Palpasi kelenjar limfe regional,

periksa adanya pembesaran. Pada beberapa kasus dapat terjadi pembesaran

kelenjar limfe regional.

Untuk mengetahui adanya nyeri, kita dapat mengkaji respon individu

terhadap nyeri akut secara fisiologis atau melalui respon perilaku. Secara

fisiologis terjadi diaphoresis, peningkatan denyut jantung, peningkatan

pernapasan, dan peningkatan tekanan darah. Lakukan pengukuran nyeri

dengan menggunakan skala nyeri 0-10 untuk orang dewasa.

2. Analisa Data

Data Etiologi Masalah keperawatan

DS : Pasien mengatakan Agen cidera biologis Nyeri

daerah sekitar vagina

terasa nyeri dan sakit saat

BAK.

DO : ada vesikel/ lesi di

sekitar labia mayora,

berwarna merah, suhu : 37

°C

DS : Pasien mengatakan Penurunan immunologis Kerusakan integritas kulit

daerah sekitar vagina

terasa nyeri dan sakit saat


BAK.

DO : ada vesikel/ lesi di

sekitar labia mayora,

berwarna merah, suhu : 37

°C

DS : klien mengatakan Penurunan imunitas Resiko infeksi

daerah vagina terasa gatal

dan panas.

DO : terdapat lesi terbuka

di daerah labia mayora

pada klien berwarna

kemerahan, 37 ° C

3. Diagnosa keperawatan

a. Nyeri berhubungan dengan proses inflamasi virus

b. Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan penurunan immunologis

c. Resiko infeksi berhubungan dengan penurunan imunitas


4. Intervensi Keperawatan

Diagnosa Rencana keperawatan

Keperawatan
Tujuan dan Kriteria Hasil Intervensi

1. Nyeri Akut NOC: pain control NIC : management pain

berhubungan Setelah dilakukan tindakan 1. Lakukan pengkajian nyeri

dengan agen keperawatan selama 2x24 secara komprehensif termasuk

cidera biologis jam Pasien tidak mengalami lokasi, karakteristik, durasi,

nyeri, dengan kriteria hasil: frekuensi, kualitas dan faktor

1. Mampu mengontrol nyeri presipitasi

2. melaporkan bahwa nyeri 2. Observasi reaksi nonverbal

berkurang dengan dari ketidaknyamanan

menggunakan 3. Bantu pasien dan keluarga

manajemen nyeri untuk mencari dan

3. Mampu mengenali nyeri menemukan dukungan

4. Menyatakan rasa nyaman 4. Kontrol lingkungan yang dapat

setelah nyeri berkurang mempengaruhi nyeri seperti

5. Tanda vital dalam suhu ruangan, pencahayaan

rentang normal dan kebisingan

6. Tidak mengalami 5. Kurangi faktor presipitasi

penurunan nafsu makan nyeri

6. Kaji tipe dan sumber nyeri

untuk menentukan intervensi


7. Ajarkan tentang teknik non

farmakologi: napas dala,

relaksasi, distraksi, kompres

hangat/ dingin

8. Berikan analgetik untuk

mengurangi nyeri

9. Berikan informasi tentang

nyeri seperti penyebab nyeri,

berapa lama nyeri akan

berkurang dan antisipasi

ketidaknyamanan dari

prosedur

10. Monitor vital sign sebelum

dan sesudah pemberian

analgesik pertama kali

2. Kerusakan NOC : NIC : Pressure Management

integritas kulit Tissue Integrity Skin and 1. Anjurkan pasien untuk

berhubungan Mucous Membranes menggunakan pakaian yang

dengan Setelah dilakukan tindakan longgar

penurunan keperawatan selama 2x24 2. Hindari kerutan pada tempat

imunologis jam kerusakan integritas tidur

kulit pasien teratasi dengan 3. Jaga kebersihan kulit agar

kriteria hasil: tetap bersih dan kering


1. Integritas kulit yang baik 4. Mobilisasi pasien (ubah posisi

bisa dipertahankan pasien) setiap dua jam sekali

(sensasi,elastisitas, 5. Monitor kulit akan adanya

temperatur,hidrasi, kemerahan

pigmentasi) 6. Oleskan lotion atau

2. Tidak ada luka/lesi pada minyak/baby oil pada derah

kulit yang tertekan

3. Perfusi jaringan baik 7. Monitor aktivitas dan

4. Menunjukkan mobilisasi pasien

pemahaman dalam proses 8. Monitor status nutrisi pasien

perbaikan kulit dan 9. Memandikan pasien dengan

mencegah terjadinya sabun dan air hangat

sedera berulang 10. Kaji lingkungan dan

5. Mampu melindungi kulit peralatan yang menyebabkan

dan mempertahankan tekanan

kelembaban kulit dan 11. Observasi luka : lokasi,

perawatan alami dimensi,kedalaman

6. Menunjukkan terjadinya luka,karakteristik,warna

proses penyembuhan luka cairan, granulasi, jaringan

nekrotik, tanda-tanda infeksi

lokal, formasi traktus

12. Ajarkan pada keluarga

tentang luka dan perawatan


luka

13. Kolaburasi ahli gizi

pemberian diet, vitamin

14. Cegah kontaminasi feses dan

urin

15. Lakukan tehnik perawatan

luka dengan steril

16. Berikan posisi yang

mengurangi tekanan pada

luka

3. Resiko Tinggi NOC Pertahankan teknik aseptif

Infeksi 1. Immune Status 1. Batasi pengunjung bila

berhubungan 2. Knowledge : perlu

dengan penurunan Infectioncontrol 2. Cuci tangan setiap sebelum

imunitas 3. Risk control dan sesudah tindakan

Setelah dilakukan tindakan keperawatan

keperawatan selama 2x24 3. Gunakan baju, sarung

jam pasien tidak mengalami tangan sebagai alat

infeksi dengan kriteria pelindung

hasil: 4. Ganti letak IV perifer dan

1. Klien bebas dari tandadan dressing sesuai dengan

gejala infeksi petunjuk umum

2. Menunjukkan 5. Gunakan kateter intermiten


kemampuan untuk untuk menurunkan infeksi

mencegah timbulnya kandung kencing

infeksi 6. Tingkatkan intake nutrisi

3. Jumlah leukosit dalam 7. Berikan terapi antibiotik

batas normal 8. Monitor tanda dan gejala

4. Menunjukkan perilaku infeksi sistemik dan local

hidup sehat 9. Inspeksi kulit dan membran

mukosa terhadap

kemerahan, panas, drainase

10. Monitor adanya luka


DAFTAR PUSTAKA

Djojosugito, Fauzia. 2016. Infeksi Herpes Simpleks Dalam Kehamilan. Jurnal Ilmu Kedokteran,
Jilid 10, Nomor 1, Maret 2016, Hal. 1-4
Ronny P. Handoko. 2010. Buku Ajar Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin : Herpes Simpleks.
Jakarta: Balai Pustaka FKUI. Ed 6. Hal 380.
Sjaiful Fahmi. 2010. Buku Ajar Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin : Infeksi Menular Seksual.
Jakarta: Balai Pustaka FKUI. Ed 6. Hal 363-64.
Fitriani S. 2016. Promosi Kesehatan. Yogyakarta: Graha Ilmu,.
Syarif. 2010. Buku Ajar Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin: Fisiologi Kulit. Jakarta: Balai Pustaka
FKUI. Ed 6. Hal 7-9.
Lukman Hakim, Sjaiful Fahmi, Hans Lumintang, Namyo Hutapea, Wresti Indriatmi, 2010.
Infeksi Menular Seksual. Jakarta: FKUI.Edisi 3. Hal 167-170.