Sunteți pe pagina 1din 14

ASKEP HERNIA

Kamis, 07 Maret 2013

ASKEP HERNIA

ASKEP PADA KLIEN HERNIA

KELOMPOK IV

J Atriani Pallan (0913183)

J Alfrida Benan (0906176)


J Hasni Saranga’ (0923193)

J Kartini Santhy Galung (0928198)

J Lia Rante Payung (07056)

J Margaretha Sulo (0937207)

J Rami Palobo (0949219)

J Serlin Rande (1234567)

J Tetty Avita Efendy (0965235)

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN

(STIKES) TORAJA

2012

Kata Pengantar.................................................................................................

Daftar Isi..........................................................................................................

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang ............................................................................. 1

B. Tujuan .......................................................................................... 1

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

A. Defenisi .......................................................................................... 2

B. Etiologi ......................................................................................... 3

C. Klasifikasi ………………………………………………………... 3

D. Tanda dan Gejala............................................................................. 4

E. Patofisiologi………………………………………………………. 5

F. Penatalaksanaan .............................................................................. 7

G.Pemeriksaan Diagnostik .................................................................. 8

H.Pemeriksaan Penunjang.................................................................... 8
II. KONSEP DASAR KEPERAWATAN

A. Pengkajian .................................................................................... 9

B. Diagnosa Keperawatan ........................................................................... 11

C. Penyimpangan ............................................................................... 15

BAB III PENUTUP

A.Kesimpulan .................................................................................. 16

B.Saran ……………………………………………………………

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Secara umum hernia merupakan proskusi atau penonjolan isi suatu rongga dari berbagai oran
internal melalui pembukaan abnorman atau kelemahan pada otot yang mengelilinginya dan
kelemahan pada jaringan ikat suatu organ tersebut.

B. Tujuan Umum

1. Tujuan Umum

Diharapkan mahasiswa mengetahui tentang askep pada pasien hernia

2. Tujuan Khusus

a. Mahasiswa mengetahui pengertian Hernia

b. Mahasiswa mengetahui penyebab Hernia

c. Mahasiswa mengetahui tanda Gejala Hernia

d. Mahasiswa mengetahui klasifikasi Hernia

e. Mahasiswa mengetahui penatalaksanaan Hernia


BAB II

TINJAUAN PUSTAKAKONSEP MEDIS

A. Defenisi

1. Hernia adalah menonjolnya suatu organ atau struktur organ dan tempatnya yang normal
melalui sebuah defek kongenital atau yang didapat. (Long, 1996 : 246).

2. Hernia adalah suatu keadaan menonjolnya isi usus suatu rongga melalui lubang (Oswari,
2000 : 216).

3. Hernia adalah penonjolan sebuah organ, jaringan atau struktur melewati dinding rongga
yang secara normal memang berisi bagian-bagian tersebut (Nettina, 2001 : 253).

B. Etiologi

Hernia dapat terjadi karena ada sebagian dinding rongga lemah. Lemahnya dinding ini mungkin
merupakan cacat bawaan atau keadaan yang didapat sesudah lahir, contoh hernia bawaan
adalah hermia omphalokel yang terjadi karena sewaktu bayi lahir tali pusatnya tidak segera
berobliterasi (menutup) dan masih terbuka. Demikian pula hernia diafragmatika. Hernia dapat
diawasi pada anggota keluarga misalnya bila ayah menderita hernia bawaan, sering terjadi pula
pada anaknya.

Pada manusia umur lanjut jaringan penyangga makin melemah, manusia umur lanjut lebih
cenderung menderita hernia inguinal direkta. Pekerjaan angkat berat yang dilakukan dalam
jangka lama juga dapat melemahkan dinding perut (Oswari. 2000 : 217).

C. Klasifikasi

1. Menurut/tofografinya : hernia inguinalis, hernia umbilikalis, hernia femoralis dan


sebagainya.

2. Menurut isinya : hernia usus halus, hernia omentum, dan sebagainya.

3. Menurut terlibat/tidaknya : hernia eksterna (hernia ingunalis, hernia serofalis dan


sebagainya).

4. Hernia inferna tidak terlihat dari luar (hernia diafragmatika, hernia foramen winslowi,
hernia obturatoria).
5. Menurut kausanya : hernia congenital, hernia traumatika, hernia visional dan sebagainya.

6. Menurut keadaannya : hernia responbilis, hernia irreponibilis, hernia inkarserata, hernia


strangulata.

7. Menurut nama penemunya :

a. Hernia Petit (di daerah lumbosakral)

b. Hernia Spigelli (terjadi pada lenea semi sirkularis) di atas penyilangan rasa epigastrika
inferior pada muskulus rektus abdominis bagian lateral.

c. Hernia Richter : yaitu hernia dimana hanya sebagian dinding usus yang terjepit.

7.Beberapa hernia lainnya :

a. Hernia Pantrolan adalah hernia inguinalis dan hernia femoralis yang terjadi pada satu sisi
dan dibatasi oleh rasa epigastrika inferior.

b. Hernia Skrotalis adalah hernia inguinalis yang isinya masuk ke skrotum secara lengkap.

c. Hernia Littre adalah hernia yang isinya adalah divertikulum Meckeli.

D. Tanda dan Gejala

Umumnya penderita mengeluhkan turun berok, burut atau kelingsir atau menyatakan adanya
benjolan di selakanganya/kemaluan, benjolan itu bisa mengecil atau menghilang, dan bila
menangis mengejan waktu defekasi/miksi, mengangkat benda berat akan timbul kembali. Dapat
pula ditemukan rasa nyeri pada benjolan atau gejala muntah dan mual bila telah ada komplikasi.

Pathways

E. Patofisologi

Defek pada dinding otot mungkin kongenital karena melemahkan jaringan atau ruang luas pada
ligamen inguinal atau dapat disebabkan oleh trauma. Tekanan intra abdominal paling umum
meningkat sebagai akibat dari kehamilan atau kegemukan. Mengangkat berat juga menyebabkan
peningkatan tekanan, seperti pada batuk dan cidera traumatik karena tekanan tumpul. Bila dua
dari faktor ini ada bersama dengan kelemahan otot, individu akan mengalami hernia.

Hernia inguinalis indirek, hernia ini terjadi melalui cincin inguinal dan melewati korda
spermatikus melalui kanalis inguinalis. Ini umumya terjadi pada pria dari pada wanita.

Insidennya tinggi pada bayi dan anak kecil. Hernia ini dapat menjadi sangat besar dan sering
turun ke skrotum.

Hernia inguinalis direk, hernia ini melewati dinding abdomen di area kelemahan otot, tidak
melalui kanal seperti pada hernia inguinalis dan femoralis indirek. Ini lebih umum pada lansia.
Hernia inguinalis direk secara bertahap terjadi pada area yang lemah ini karena defisiensi
kongenital.

Hernia femoralis, hernia femoralis terjadi melalui cincin femoral dan lebih umum pada wanita
dari pada pria. Ini mulai sebagai penyumbat lemak di kanalis femoralis yang membesar dan
secara bertahap menarik peritonium dan hampir tidak dapat dihindari kandung kemih masuk ke
dalam kantung. Ada insiden yang tinggi dari inkar serata dan strangulasi dengan tipe hernia ini

Hernia embilikalis, hernia imbilikalis pada orang dewasa lebih umum pada wanita dan karena
peningkatan tekanan abdominal. Ini biasanya terjadi pada klien gemuk dan wanita multipara
(Ester, 2002 : 53)

Hernia umbilicalis terjadi karena kegagalan orifisium umbilikal untuk menutup (Nettina, 2001 :
253)

Bila tekanan dari cincin hernia (cincin dari jaringan otot yang dilalui oleh protusi usus)
memotong suplai darah ke segmen hernia dari usus, usus menjadi terstrangulasi. Situasi ini
adalah kedaruratan bedah karena kecuali usus terlepas, usus ini cepat menjadi gangren karena
kekurangan suplai darah (Ester, 2002 : 55).

Pembedahan sering dilakukan terhadap hernia yang besar atau terdapat resiko tinggi untuk
terjadi inkarserasi. Suatu tindakan herniorrhaphy terdiri atas tindakan menjepit defek di dalam
fascia. Akibat dan keadaan post operatif seperti peradangan, edema dan perdarahan, sering
terjadi pembengkakan skrotum. Setelah perbaikan hernia inguinal indirek. Komplikasi ini sangat
menimbulkan rasa nyeri dan pergerakan apapun akan membuat pasien tidak nyaman, kompres
es akan membantu mengurangi nyeri (Long. 1996 : 246).

F. Penatalaksanaan

1. Pada hernia inguinalis lateralis reponibilis maka dilakukan tindakan bedah efektif karena
ditakutkan terjadi komplikasi.
2. Pada yang ireponibilis, maka diusahakan agar isi hernia dapat dimasukkan kembali. Pasien
istirahat baring dan dipuasakan atau mendapat diit halus. Dilakukan tekanan yang kontinyu pada
benjolan misalnya dengan bantal pasir. Baik juga dilakukan kompres es untuk mengurangi
pembengkakan. Lakukan usaha ini berulang-ulang sehingga isi hernia masuk untuk kemudian
dilakukan bedah efektif di kemudian hari atau menjadi inkarserasi.

3. Pada inkerserasi dan strangulasi maka perlu dilakukan bedah darurat.

4. Tindakan bedah pada hernia ini disebut herniotomi (memotong hernia dan herniorafi
(menjahit kantong hernia). Pada bedah efektif manalis dibuka, isi hernia dimasukkan,kantong
diikat dan dilakukan “bassin plasty” untuk memperkuat dinding belakang kanalis inguinalis.

Pada bedah darurat, maka prinsipnya seperti bedah efektif. Cincin hernia langsung dicari dan
dipotong. Usus dilihat apakah vital/tidak. Bila tidak dikembalikan ke rongga perut dan bila tidak
dilakukan reseksi usus dan anastomois “end to end”.

a. Hernia yang terstrangulasi atau inkarserata dapat secara mekanis berkurang. Suatu
penokong dapat digunakan untuk mempertahankan hernia berkurang. Penyokong ini adalah
bantalan yang diikatkan ditempatnya dengan sabuk. Bantalan ditempatkan di atas hernia setelah
hernia dikurangi dan dibiarkan ditempatnya untuk mencegah hernia dan kekambuhan. Klien
harus secara cermat memperhatikan kulit di bawah penyokong untuk memanifestasikan
kerusakan (Long, 1996 : 246)

b. Perbaikan hernia dilakukan dengan menggunakan insisi kecil secara langsung di atas area
yang lemah. Usus ini kemudian dikembalikan ke rongga perintal, kantung hernia dibuang dan
otot ditutup dengan kencang di atas area tersebut. Hernia diregion inguinal biasanya diperbaikan
hernia saat ini dilakukan sebagai prosedur rawat jalan. (Ester,2002 : 54)

G. Pemeriksaan Diagnostik

Pemeriksaan diameter anulus inguinalis.

H. Pemeriksaan Penunjang

1. Sinar X abdomen menunjukkan abnormalnya kadar gas dalam usus/ obstruksi usus.

2. Hitung darah lengkap dan serum elektrolit dapat menunjukkan hemokonsentrasi


(peningkatan hematokrit), peningkatan sel darah putih dan ketidak seimbangan elektrolit.

I. Konsep Dasar Keperawatan

A. Pengkajian Keperawatan

v Aktivitas/istirahat
· Gejala :

o Riwayat pekerjaan yang perlu mengangkat berat, duduk, mengemudi dan waktu lama

o Membutuhkan papan/matras yang keras saat tidur

o Penurunan rentang gerak dan ekstremitas pada salah satu bagian tubuh

o Tidak mampu melakukan aktivitas yang biasanya dilakukan.

· Tanda : Atrofi otot pada bagian tubuh yang terkena gangguan dalam berjalan

v Eliminasi

· Gejala : konstipasi dan adanya inkartinensia/retensi urine

v Integritas Ego

· Gejala : ketakutan akan timbulnya paralisis, ansietas, masalah pekerjaan financial keluarga

· Tanda : tampak cemas, depresi, menghindar dari keluarga

v Neurosensori

· Gejala : kesemutan, kekakuan, kelemahan dari tangan/kaki

· Tanda : penurunan reflek tendon dalam, kelemahan otot, hipotonia. Nyeri tekan/spasme
otot paravertebralis, penurunan persepsi nyeri

v Kenyamanan

· Gejala : nyeri seperti tertusuk pisau, yang akan semakin memburuk dengan adanya batuk,
bersin, defekasi, nyeri yang tidak ada hentinya, nyeri yang menjalar ke kaki, bokong,
bahu/lengan, kaku pada leher.(Doenges, 1999 : 320-321)

Post Operasi

Ø Status Pernapasan

· Frekuensi, irama dan ke dalaman

· Bunyi napas

· Efektifitas upaya batuk

Ø Status Nutrisi

· Status bising usus, mual, muntah

Ø Status Eliminasi
· Distensi abdomen pola BAK/BAB

· Kenyamanan

· Tempat pembedahan, jalur invasif, nyeri, flatus

· Kondisi Luka

· Keadaan/kebersihan balutan

· Tanda-tanda peradangan

· drainage

Ø Aktifitas

· Tingkat kemandirian dan respon terhadap aktivitas

B. Diagnosa Keperawatan dan Intervensi

1. Nyeri (khususnya dengan mengedan) yang berhubungan dengan kondisi hernia atau
intervensi pembedahan.

v Hasil : Indikator objektif seperti meringis tidak ada/menurun.

v Intervensi :

a. Kaji dan catat nyeri, perhatikan lokasi, intensitas (skala 0 – 10) dan faktor
pemberat/penghilang

b. Beritahu pasien untuk menghindari mengejan, meregang, batuk dan mengangkat benda
yang berat.

c. Ajarkan pasien pemasangan penyokong skrotum/kompres es yang sering diprogramkan


untuk membatasi edema dan mengendalikan nyeri.

d. Pantau tanda-tanda vital

e. Berikan tindakan kenyamanan, misal gosokan punggung, pembebatan insisi selama


perubahan posisi, lingkungan tenang.

f. Berikan analgesik sesuai program.

o Rasional :

a. Nyeri insisi bermakna pada pasca operasi awal, diperberat oleh pergerakan, batuk, distensi
abdomen, mual.
b. Intervensi diri pada kontrol nyeri memudahkan pemulihan otot/jaringan dengan
menurunkan tegangan otot dan memperbaiki sirkulasi

c. Perdarahan pada jaringan, bengkak, inflamasi lokal atau terjadinya infeksi dapat
menyebabkan peningkatan nyeri insisi.

d. Respon autonemik meliputi perubahan pada TD, nadi dan pernapasan yang berhubungan
dengan keluhan/penghilang nyeri. Abnormalitas tanda vital terus menerus memerlukan evaluasi
lanjut.

e. Memberikan dukungan relaksasi, memfokuskan ulang perhatian, meningkatkan rasa


kontrol dan kemampuan koping.

f. Mengontrol/mengurangi nyeri untuk meningkatkan istirahat dan meningkatkan kerjasama


dengan aturan terapeutik

2. Resiko tinggi terhadap kekurangan volume cairan berhubungan dengan hemoragi

v Intervensi :

a. Pantau tanda-tanda vital dengan sering, perhatikan peningkatan nadi, perubahan TD


postural, takipnea, dan ketakutan. Periksa balutan dan luka dengan sering selama 24 jam
terhadap tanda-tanda darah merah terang atau bengkak insisi berlebihan

b. Palpasi nadi perifer. Evaluasi pengisian kapiler, turgor kulit, dan status membran mukosa.

c. Perhatikan adanya edema

d. Pantau masukan dan haluaran (mencakup semua sumber : misal emesis, selang,
diare),perhatikan haluaran urine

e. Pantau suhu

f. Tinjau ulang penyebab pembedahan dan kemungkinan efek samping pada keseimbangan
cairan.

g. Berikan cairan, darah, albumin, elektrolit sesuai indikasi.

v Rasional :

a. Tanda-tanda awal hemorasi usus dan/ atau pembentukan hematoma yang dapat
menyebabkan syok hipovotemik

b. Memberikan informasi tentang volume sirkulasi umum dan tingkat dehidrasi


c. Edema dapat terjadi karena pemindahan cairan berkenaan dengan penurunan kadar
albumen serum/protein.

d. Indikator langsung dari hidrasi/perjusi organ dan fungsi. Memberikan pedoman untuk
penggantian cairan

e. Demam rendah umum terjadi selama 24 – 48 jam pertama dan dapat menambah
kehilangan cairan

f. Mengeksaserbasi cairan dan kehilangan elektrolit

g. Mempertahankan volume sirkulasi dan keseimbangan elektrolit.

3. Resiko tinggi terhadap perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan
dengan ketidakmampuan mencerna/makan-makanan

v Intervensi :

a. Tinjau faktor-faktor individual yang mempengaruhi kemampuan untuk mencerna/makan


makanan, misal : status puasa, mual.

b. Aukultasi bising usus palpasi abdomen. Catat pasase flatus.

c. Identifikasi kesukaan/ketidaksukaan diet dari pasien. Anjurkan pilihan makanan tinggi


protein dan vitamin C

d. Berikan cairan IU, misal : albumin. Lipid, elektrolit

v Rasional :

a. Mempengaruhi pilihan intervensi

b. Menentukan kembalinya peristaltik (biasanya dalam 2 – 4 hari)

c. Meningkatkan kerjasama pasien dengan aturan diet, protein/vitamin C adalah kontributor


utama untuk pemeliharaan jaringan dan perbaikan. Malnutrisi adalah faktor dalam menurunkan
pertahanan terhadap infeksi

d. Memperbaiki keseimbangan cairan dan elektrolit. Inflamasi usus, erosi mukosa,infeksi

C. PENYIMPANGAN

BAB III

PENUTUP
A. Kesimpulan

Hernia adalah penonjolan dari isi perut dalam rongga normal melalui lubang yang kongenital
ataupun didapat. Hernia dapat terjadi karena lubang embrional yang tidak menutup atau
melebar, atau akibat tekanan rongga perut yang meninggi.Tindakan bedah pada hernia ini
disebut herniotomi (memotong hernia dan herniorafi (menjahit kantong hernia). Pada bedah
efektif manalis dibuka, isi hernia dimasukkan,kantong diikat dan dilakukan “bassin plasty” untuk
memperkuat dinding belakang kanalis inguinalis.

B. Saran

kami menyarankan agar masyarakat lebih sadar dan dapat mengawasi anggota keluarga akan
penyakit hernia yang terjadi karena sebagian dinding rongga lemah yang merupakan cacat
bawaan atau keadaan yang didapat sesudah lahir.

Kami berharap makalah ini dapat menjadi tambahan referensi pengetahuan mengenai penyakit
hernia.

DAFTAR PUSTAKA

Kapita Selekta Kedokteran. Edisi II. Medica Aesculaplus FK UI. 1998.

Keperawatan Medikal Bedah. Swearingen. Edisi II. EGC. 2001.

Keperawatan Medikal Bedah. Charlene J. Reeves, Bayle Roux, Robin Lockhart. Penerjemah Joko
Setyono. Penerbit Salemba Media. Edisi I. 2002.

Brunner & Suddarth, 2002, Keperawatan Medikal Bedah Edisi 8 Vol. 1, EGC, Jakarta.

Barbara C. Lag, 1996, Keperawatan Medikal Bedah Bagian I dan 3, Yayasan TAPK Pengajaraan,
Bandung.

Mansjoer, Arif dkk., 2001, Kapita Selekta Kedokteran Edisi 3 Jilid I, Medica Aesculapius FKUI,
Jakarta.

R. Syamsuhidayat & Wim de Jong, 2001, Buku Ajar Ilmu Bedah Edisi Revisi, EGC, Jakarta.

Patrick, et all. Medical Surgical Nursing (Pathophysiological Concepts). Second Edition, J.B.
Lippincott Company. Spokane Washington. 1991. Page 1644.

Sandra M. Nettina. The Lippincott (Manual of Nursing Practice) Sixth Edition, Lippincott.
Philadelphia New York. 1996. Part II page 506 – 507, 524 – 525.

Diposkan oleh kasaga nurse di 22.41

Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke FacebookBagikan ke Pinterest

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Beranda

Langganan: Poskan Komentar (Atom)

Arsip Blog

▼ 2013 (1)

▼ Maret (1)

ASKEP HERNIA

Mengenai Saya

Foto Saya

kasaga nurse

Lihat profil lengkapku


Template Picture Window. Diberdayakan oleh Blogger.