Sunteți pe pagina 1din 10

KARAKTERISTIK PENDERITA DIABETES MELLITUS TIPE 2 DENGAN

KOMPLIKASI YANG DIRAWAT INAP DI RUMAH SAKIT UMUM DAERAH (RSUD)


GUNUNGSITOLI TAHUN 2015

Maria Margareth Zebua1, Hiswani2, Rasmaliah2


1
Mahasiswa Departemen Epidemiologi FKM USU
2
Dosen Departemen Epidemiologi FKM USU

Jl. Universitas No. 21 Kampus USU Medan, 20155


Email: mariamargaret34@gmail.com

Abstract
Diabetes Mellitus (DM) is a chronic metabolic disease. According to International Diabetes
Federation (2015), global prevalence of DM in adults aged 20-79 years reached 8,8%. Prevalence
in Indonesia according to World Health Organization (2016) reached 7,0%. In North Sumatera,
prevalence of DM was 1,8% in 2013. The purpose of this research is to find out the characteristics
of patients type 2 DM with complications who were hospitalized at Gunungsitoli Hospital in 2015.
This study is descriptive with case series design. The population and sample were 142
people. The data was using secondary data and analyzed by using Chi-Square, Exact Fisher and
Mann-Whitney.
The result showed the proportion of patients with complications of type 2 DM was highest at
the age group 45-54 years is male (41,0%) of all male patients and female (45,7%) of all female
patients, Nias (95,8%), Christiant Protestant (89,4%), civil servants (29,6%), married (80,3%), live
in Gunungsitoli (64,1%), languid/nausea and vomit (31,7%), hypertension (33,1%), the checking
blood plasma glucose (64,1%), the abnormal levels of blood plasma glucose (78,0%), oral
hypoglycemic medicine (78,2%), government cost (97,9%), average length of stay (8 days),
becoming outpatient (84,5%). The statistical resulted, there was no difference between age by the
category of complication (p=1,00), gender by the category of complication (p=0,375), medical
management by the category of complication (p=530), average length of stay by the category of
complication (p=0,620).
It’s suggested for Gunungsitoli Hospital to check blood plasma glucose for the patients of
type 2 DM, and plan a medical management appropriate. The patient of type 2 DM with
complications should control blood glucose regularly, adopt healthy lifestyle and put the treatment
with insulin.

Keywords: Characteristic, Type 2 DM, Gunungsitoli Hospital


Pendahuluan
Penyakit tidak menular merupakan Di Indonesia sendiri, penyakit menular
penyebab kematian yang paling sering di masih merupakan masalah kesehatan yang
sebagian besar negara Amerika, Mediterania penting dan dalam waktu bersamaan morbidi-
Timur, Eropa, Asia Tenggara, dan Pasifik tas dan mortalitas PTM semakin meningkat.
Barat. Dari 56 juta kematian yang terjadi di Hal tersebut menjadi beban ganda dalam
dunia tahun 2012, 68% disebabkan oleh PTM pelayanan kesehatan, sekaligus tantangan
terutama penyakit jantung, diabetes mellitus, yang harus dihadapi dalam pembangunan
kanker, dan penyakit pernapasan kronis. bidang kesehatan di Indonesia. Secara global,
Hampir 82% dari kematian akibat PTM regional dan nasional pada tahun 2030
terjadi di negara-negara berpenghasilan diproyeksikan terjadi transisi epidemiologi
rendah dan menengah (WHO, 2014).

1
dari penyakit menular menjadi penyakit tidak 55-64 tahun (10,3%) dan prevalensi jenis
menular (Kemenkes, 2014). kelamin perempuan lebih tinggi (4,0%)
daripada laki-laki (3,4%).
Penyebab paling utama kematian
akibat PTM secara global pada tahun 2012 Berdasarkan data dari Riskesdas
adalah penyakit kardiovaskular (46,2%), dalam angka Provinsi Sumatera Utara tahun
kanker (21,7%), penyakit sistem pernapasan 2013, prevalensi DM pada umur ≥15 tahun di
termasuk asma dan penyakit paru obstruksi Sumatera Utara yang terdiagnosis sebesar
kronik (10,7%) dan diabetes mellitus (4%). 1,8%. Prevalensi yang tertinggi terdapat di
Keempat penyakit inilah yang berkontribusi Kabupaten Deli Serdang (2,9%) dan diikuti
terhadap 82% kematian akibat penyakit tidak oleh Kota Medan (2,7%), Kota Pematang
menular (WHO, 2014). Siantar (2,2%), Kabupaten Asahan (2,1%)
serta Kota Gunungsitoli (2,1%). Prevalensi
Salah satu PTM yang menjadi masalah
terendah terdapat di Kabupaten Mandailing
di dunia adalah Diabetes Mellitus (DM). DM
Natal (0,3%) (Kemenkes RI, 2013).
adalah penyakit gangguan metabolic menahun
yang lebih dikenal sebagai pembunuh Berdasarkan penelitian Mendrõfa tahun
manusia secara diam-diam atau “silent killer”. 2011 di RSUD Gunungsitoli, proporsi pende-
DM dikenal juga sebagai “mother of disease” rita DM pada kelompok umur ≥45 tahun lebih
yang merupakan induk dari penyakit-penyakit tinggi (82,4%) daripada kelompok umur <45
lain seperti hipertensi, penyakit jantung dan tahun (17,6%) dengan proporsi jenis kelamin
pembuluh darah, stroke, gagal ginjal, dan perempuan lebih besar (53,9%) daripada laki-
kebutaan (Depkes, 2008). laki (46,1%).
Menurut World Health Organization Berdasarkan hasil survei pendahuluan
(WHO) tahun 2016, DM terdiri dari 4 tipe yang dilakukan di RSUD Gunungsitoli, pen-
yaitu DM tipe 1, DM tipe 2, DM gestasional, derita DM tipe 2 dengan komplikasi yang
dan gangguan toleransi glukosa. Sebagian dirawat inap di RSUD Gunungsitoli sebanyak
besar penderita DM di dunia merupakan 142 orang pada tahun 2015. Berdasarkan
penderita DM tipe 2. uraian latar belakang diatas, maka perlu
dilakukan penelitian tentang karakteristik
Prevalensi DM secara global tahun
penderita DM tipe 2 dengan komplikasi yang
2014 telah mencapai 8,5% pada orang dewasa
dirawat inap di Rumah Sakit Umum Daerah
diatas usia 18 tahun. Prevalensi yang tertinggi
(RSUD) Gunungsitoli tahun 2015.
terdapat di daerah Mediterania Timur (14%)
dan paling rendah di Eropa (8%) dan Pasifik Perumusan Masalah
Barat (9%) (WHO, 2014). Belum diketahui karakteristik penderita
DM tipe 2 dengan komplikasi yang dirawat
Menurut International Diabetes Fede-
inap di RSUD Gunungsitoli tahun 2015.
ration (IDF) pada tahun 2015, prevalensi
penderita DM di dunia yang berusia antara Tujuan Penelitian
20-79 tahun sebesar 8,8%. Sekitar 75% Mengetahui karakteristik penderita
diantaranya berada di negara dengan pendapa- DM tipe 2 dengan komplikasi yang dirawat
tan rendah dan menengah. Sebanyak 642 juta inap di RSUD Gunungsitoli tahun 2015.
orang di dunia atau satu dari 10 orang yang Tujuan khusus penelitian ini adalah:
berusia 20-79 tahun diperkirakan akan terkena a. Mengetahui distribusi proporsi penderita
DM pada tahun 2040. DM tipe 2 dengan komplikasi berdasarkan
sosiodemografi (umur, jenis kelamin, suku,
Berdasarkan hasil Riskesdas tahun
agama, pekerjaan, status perkawinan, dan
2013, prevalensi DM pada umur ≥15 tahun di
tempat tinggal).
Indonesia berdasarkan wawancara sebesar
b. Mengetahui distribusi proporsi penderita
1,5%. Sedangkan DM terdiagnosis dokter
DM tipe 2 dengan komplikasi berdasarkan
atau gejala sebesar 2,1%. Kelompok umur
keluhan utama.
yang paling tinggi prevalensinya adalah umur
2
c. Mengetahui distribusi proporsi penderita 2015 sebanyak 142 orang. Sampel adalah
DM tipe 2 dengan komplikasi berdasarkan sama dengan populasi (total sampling). Jenis
jenis komplikasi. data yang dikumpulkan adalah data sekunder
d. Mengetahui distribusi proporsi penderita dari kartu status kemudian diolah
DM tipe 2 dengan komplikasi berdasarkan menggunakan komputer dan dianalisa dengan
ada tidaknya pemeriksaan kadar gula darah menggunakan uji Chi-square, uji Exact fisher,
sewaktu dan kadar pemeriksaan. dan uji Mann-whitney serta disajikan dalam
e. Mengetahui distribusi proporsi penderita bentuk narasi, tabel distribusi proporsi,
DM tipe 2 dengan komplikasi berdasarkan diagram bar, dan diagram pie.
penatalaksanaan medis.
Hasil dan Pembahasan
f. Mengetahui distribusi proporsi penderita Distribusi proporsi penderita DM Tipe
DM tipe 2 dengan komplikasi berdasarkan 2 dengan komplikasi berdasarkan umur dan
sumber biaya. jenis kelamin dapat dilihat pada tabel di
g. Mengetahui distribusi proporsi penderita bawah ini:
DM tipe 2 dengan komplikasi berdasarkan Tabel 1 Distribusi Proporsi Penderita DM
lama rawatan rata-rata. Tipe 2 dengan Komplikasi yang
h. Mengetahui distribusi proporsi penderita Dirawat Inap Berdasarkan Umur dan
DM tipe 2 dengan komplikasi berdasarkan Jenis Kelamin di RSUD Gunungsitoli
keadaan sewaktu pulang. Tahun 2015
i. Mengetahui proporsi umur berdasarkan Jenis Kelamin
kategori komplikasi. No Umur (Tahun) Laki-laki Perempuan
j. Mengetahui proporsi jenis kelamin f % f %
berdasarkan kategori komplikasi. 1 ≤ 34 2 3,2 3 3,7
2 35-44 9 14,8 8 9,9
k. Mengetahui proporsi penatalaksanaan 3 45-54 25 41,0 37 45,7
medis berdasarkan kategori komplikasi. 4 55-64 20 32,8 25 30,9
l. Mengetahui proporsi lama rawatan rata- 5 ≥ 65 5 8,2 8 9,9
rata berdasarkan kategori komplikasi. Total 61 100 81 100
Manfaat Penelitian Tabel 1 menunjukkan bahwa proporsi
a. Sebagai bahan masukan dan informasi bagi tertinggi penderita DM Tipe 2 dengan kom-
pihak RSUD Gunungsitoli untuk mengeta- plikasi berdasarkan umur dan jenis kelamin
hui distribusi proporsi penderita DM tipe 2 terdapat pada kelompok umur 45-54 tahun
dengan komplikasi yang dirawat inap yaitu laki-laki 41,0% dari semua penderita
sehingga dapat merencanakan pengobatan laki-laki dan perempuan 45,7% dari semua
dan penanganan yang lebih lanjut. penderita perempuan. Sedangkan kelompok
b. Untuk menambah wawasan penulis terkait umur terendah terdapat pada kelompok umur
permasalahan DM tipe 2 dengan kompli- ≤ 34 tahun yaitu laki-laki 3,2% dari semua
kasi dan sebagai sarana dalam menerapkan penderita laki-laki dan perempuan 3,7% dari
ilmu yang diperoleh selama perkuliahan. semua penderita perempuan. Proporsi
c. Sebagai referensi atau sumber informasi penderita DM tipe 2 pada semua kelompok
bagi pihak lain yang ingin melakukan umur paling banyak pada perempuan.
penelitian tentang DM tipe 2 dengan
komplikasi. Umur merupakan salah satu faktor
risiko terjadinya DM. DM tipe 2 dapat di-
Metode Penelitian sebabkan oleh adanya degenerasi sel-sel beta
Penelitian bersifat deskriptif dengan akibat penuaan dan akibat kegemukan/
desain case series di RSUD Gunungsitoli, obesitas serta dapat juga disebabkan oleh
yang dilaksanakan bulan Februari-Agustus penurunan fisiologis yang secara dramatis
2016. Populasi penelitian adalah seluruh menurun dengan cepat pada usia setelah 40
penderita DM Tipe 2 dengan komplikasi yang tahun. Penurunan ini akan beresiko pada
dirawat inap di RSUD Gunungsitoli tahun penurunan fungsi endokrin pankreas untuk
3
memproduksi insulin (Riyadi dan Sukarmin, Tabel 2 menunjukkan bahwa penderita
2008). DM tipe 2 dengan komplikasi yang dirawat
inap di RSUD Gunungsitoli tahun 2015
Baik laki-laki maupun perempuan
berdasarkan sosiodemografi adalah proporsi
memiliki risiko yang sama besar untuk meng-
tertinggi berdasarkan suku yaitu Nias (95,8%)
alami DM sampai usia dewasa awal. Setelah
sedangkan yang terendah yaitu Tionghoa
usia 30 tahun, perempuan memiliki risiko
(0,7%). Proporsi tertinggi berdasarkan agama
yang lebih tinggi dibanding laki-laki (Savitri,
yaitu Kristen Protestan (89,4%) sedangkan
2008). Jika dilihat dari faktor risiko, wanita
proporsi terendah yaitu Budha (0,7%). Pro-
lebih berisiko mengalami DM karena secara
porsi tertinggi berdasarkan pekerjaan yaitu
fisik wanita memiliki peluang peningkatan
PNS/TNI/ABRI (29,6%) sedangkan proporsi
indeks masa tubuh yang lebih besar. Sin-
terendah yaitu pendeta (2,1%). Proporsi ter-
droma siklus bulanan atau sindrom premens-
tinggi berdasarkan status perkawinan yaitu
trual dan pasca menopause yang membuat
pada status kawin (80,3%) dan terendah yaitu
distribusi lemak tubuh menjadi mudah ter-
belum kawin (2,8%). Proporsi tertinggi berda-
akumulasi (Damayanti dalam Irawan, 2010).
sarkan tempat tinggal yaitu penderita yang
Distribusi proporsi penderita DM tipe tinggal di Kota Gunungsitoli sebesar 64,1%
2 dengan komplikasi berdasarkan sosiodemo- sedangkan penderita yang tinggal di luar Kota
grafi dapat dilihat pada tabel dibawah ini. Gunungsitoli sebesar 35,9%.
Tabel 2 Distribusi Proporsi Penderita DM Distribusi proporsi penderita DM tipe
Tipe 2 dengan Komplikasi yang 2 dengan komplikasi berdasarkan keluhan
Dirawat Inap Berdasarkan Sosio- utama dapat dilihat pada tabel di bawah ini:
demografi di RSUD Gunungsitoli Tabel 3 Distribusi Proporsi Penderita DM
Tahun 2015 Tipe 2 dengan Komplikasi yang
No Sosiodemografi f % Dirawat Inap Berdasarkan Keluhan
1 Suku/Etnik Utama di RSUD Gunungsitoli Tahun
Nias 136 95,8 2015
Batak 5 3,5 No Keluhan Utama f %
Tionghoa 1 0,7 1 Lemas/Mual-mual dan muntah 45 31,7
2 Agama 2 Nyeri Uluhati 42 29,6
Islam 10 7,1 3 Luka/Abses/Ulkus 36 25,4
Kristen Protestan 127 89,4 4 Nyeri dada/Sesak nafas/Batuk 30 21,1
Kristen Katolik 4 2,8 5 Sakit kepala/Tengkuk 29 20,4
Budha 1 0,7 6 Nyeri perut/Pinggang 21 14,8
3 Pekerjaan 7 Nyeri seluruh tubuh 8 5,6
Tidak Bekerja 7 4,9 8 Sulit bicara dan kejang 4 2,8
PNS/ABRI 42 29,6 9 Mata sakit/Pandangan kabur 4 2,8
Pensiunan 6 4,2 10 Batuk berdarah 2 1,4
Wiraswasta 20 14,1 11 Penurunan kesadaran 2 1,4
Ibu Rumah Tangga 27 19,0 Tabel 3 menunjukkan bahwa proporsi
Petani/Nelayan 37 26,1
penderita DM tipe 2 dengan komplikasi
Pendeta 3 2,1
4 Status Perkawinan berdasarkan keluhan utama tertinggi yaitu
Kawin 114 80,3 lemas/mual-mual dan muntah 31,7%. Lebih
Belum Kawin 4 2,8 dari 80% penderita mengalami keluhan utama
Janda/Duda 24 16,9 berupa lemas, nyeri uluhati, maupun luka/
5 Tempat Tinggal abses/ulkus. Keluhan utama terendah pende-
Kota Gunungsitoli 91 64,1 rita yaitu batuk berdarah dan penurunan kesa-
Luar Kota daran dengan masing-masing proporsi 1,4%.
51 35,9
Gunungsitoli
Total 142 100 Keluhan utama yang dialami penderita
DM tipe 2 biasanya bervariasi tergantung
4
jenis komplikasi yang dialami penderita. Dari Hipertensi merupakan salah satu
semua keluhan utama, lemas, nyeri uluhati, komplikasi non-infeksi DM. Penderita DM
dan sakit kepala merupakan keluhan utama cenderung terkena hipertensi dua kali lipat
yang paling sering dirasakan penderita DM dibandingkan dengan mereka yang tidak men-
tipe 2 pada sebagian besar jenis komplikasi. derita DM. Hipertensi merusak pembuluh
Komplikasi infeksi kronis biasanya ditandai darah dan dapat memicu terjadinya serangan
dengan adanya infeksi pada bagian tubuh, jantung, retinopati diabetik, kerusakan ginjal,
terutama paru-paru penderita yang disebabkan atau stroke. Antara 35-75% komplikasi DM
karena kadar glukosa yang tinggi di dalam disebabkan oleh hipertensi. Beberapa faktor
darah penderita sehingga mengganggu fungsi yang terkait dengan terjadinya hipertensi pada
kekebalan tubuh dalam menghadapi masuk- penderita DM antara lain adalah gangguan
nya virus atau bakteri (Ndraha, 2014).Kontrol ginjal, obesitas, pengapuran atau penebalan
glukosa darah diperlukan bagi penderita DM dinding pembuluh darah (aterosklerosis)
tipe 2 dengan infeksi kronis ini untuk memu- (Tandra, 2007). Hipertensi dapat dikurangi
dahkan proses penyembuhannya. Sedangkan melalui penurunan berat badan, olahraga serta
pada komplikasi non-infeksi, keluhan utama penurunan asupan natrium dan konsumsi
biasanya tergantung pada jenis komplikasi alkohol. Jika metode ini tidak efektif, terapi
yang diderita, seperti pada komplikasi PVD dengan medikasi antihipertensi diperlukan
yang biasanya mengalami keluhan utama (LeMone dkk, 2012). Hal ini sesuai dengan
berupa adanya luka yang sukar sembuh pada penelitian penelitian Tampubolon di Rumah
ekstremitas bagian bawah. Sakit Santa Elisabeth Medan tahun 2012-
2013 bahwa proporsi komplikasi tertinggi
Distribusi proporsi penderita DM tipe
pada penderita DM tipe 2 dengan komplikasi
2 dengan komplikasi berdasarkan jenis komp-
yaitu hipertensi sebesar 17,7%.
likasi dapat dilihat pada tabel di bawah ini:
Tabel 4 Distribusi Proporsi Penderita DM Distribusi proporsi penderita DM tipe
Tipe 2 dengan Komplikasi yang 2 dengan komplikasi berdasarkan ada tidak –
Dirawat Inap berdasarkan Jenis nya pemeriksaan kadar GDS dapat di lihat
Komplikasi di RSUD Gunungsitoli pada tabel di bawah ini:
Tahun 2015 Tabel 5 Distribusi Proporsi Penderita DM
No Jenis Komplikasi f % Tipe 2 dengan Komplikasi yang
1 Hipertensi 47 33,1 Dirawat Inap Berdasarkan Ada
2 Neuropati Diabetik 43 30,3 Tidaknya Pemeriksaan Kadar GDS di
3 Peripheral Vascular Disease 37 26,1 RSUD Gunungsitoli Tahun 2015
4 PJK 14 9,9 Pemeriksaan Kadar
5 Nefropati Diabetik 12 8,5 f %
GDS
6 PPOK/Pneumonia 9 6,3 Ada 91 64,1
7 TB Paru 8 5,6 Tidak ada 51 35,9
8 Stroke 5 3,5 Total 142 100
9 Hiperglikemia 2 1,4
10 Retinopati Diabetik 2 1,4 Tabel 5 menunjukkan bahwa proporsi
11 Hipoglikemia 1 0,7 tertinggi penderita DM tipe 2 berdasarkan ada
Tabel 4 menunjukkan bahwa proporsi tidaknya pemeriksaan kadar GDS adalah ada
tertinggi penderita DM tipe 2 dengan kom- pemeriksaan 64,1% sedangkan proporsi tidak
plikasi yang dirawat inap di RSUD Gunung- ada pemeriksaan yaitu 35,9%.
sitoli berdasarkan jenis komplikasi yang di- Pemeriksaan ini tidak dilakukan pada
derita yaitu hipertensi sebesar 33,1%. Hampir semua pasien dengan berbagai alasan salah
90% penderita DM tipe 2 mengalami kom- satunya karena pasien banyak yang dirawat
plikasi berupa hipertensi, neuropati, maupun dalam waktu 1-2 hari dan pemeriksaan hanya
peripheral vascular disease. Jenis komplikasi diwajibkan bagi penderita yang baru terkena
terendah penderita DM tipe 2 yaitu hipogli- DM (pasien baru). Sedangkan pada penderita
kemia sebesar 0,7%.
5
yang sudah mempunyai riwayat DM maka OHO 78,2% yang diikuti oleh pengobatan
pemeriksaan yang dilakukan yaitu pemeriksa- dengan Insulin 19,0% dan terendah yaitu
an kadar gula darah puasa (GDP). Sehingga dengan OHO+Insulin 2,8%.
menyebabkan pemeriksaan GDS tidak dilaku- Pengobatan dengan perencanaan makan
kan pada semua penderita DM yang dirawat (diet) masih merupakan pengobatan utama
inap di RSUD ini. tetapi penambahan obat oral atau insulin
Distribusi proporsi penderita DM tipe masih diperlukan. OHO digunakan berdasar -
2 dengan komplikasi berdasarkan kadar GDS kan masih adanya fungsi sel beta pankreas.
dapat dilihat pada tabel di bawah ini Apabila kadar glukosa pasien menjadi tidak
Tabel 6 Distribusi Proporsi Penderita DM responsive terhadap obat antidiabetik oral,
Tipe 2 dengan Komplikasi yang maka pasien harus menggunakan insulin
Dirawat Inap Berdasarkan Kadar (Soegondo dkk, 2009).
Pemeriksaan GDS di RSUD Gunung-
sitoli Tahun 2015 Hal ini sesuai dengan penelitian
Pemeriksaan Kadar Lumban Gaol (2015) di Rumah Sakit Martha
f % Friska Medan bahwa proporsi penatalaksana-
GDS
Normal 20 22,0 an medis tertinggi bagi penderita DM yaitu
Tidak Normal 71 78,0 OHO sebesar 84,2%.
Total 91 100
Distribusi proporsi penderita DM tipe
Tabel 6 menunjukkan bahwa dari 91 2 dengan komplikasi berdasarkan sumber
penderita DM tipe 2 dengan komplikasi yang biaya dapat dilihat pada tabel di bawah ini
dilakukan pemeriksaan kadar GDS terdapat Tabel 8 Distribusi Proporsi Penderita DM
kadar tidak normal 78,0% dan kadar normal Tipe 2 dengan Komplikasi yang
22,0%. Dirawat Inap Berdasarkan Sumber
Biaya di RSUD Gunungsitoli Tahun
Kadar GDS merupakan salah satu 2015
kriteria dalam mendiagnosa seseorang No Sumber Biaya f %
menderita DM atau tidak. Kadar gula darah 1 Biaya Sendiri 3 2,1
yang mencapai > 200 mg/dl dan disertai Biaya Pemerintah
2 139 97,9
dengan gejala klasis DM, sudah cukup untuk (BPJS/ASKES)
mendiagnosa seseorang terkena DM. Kadar Total 142 100
GDS normalnya berkisar antara 82-110 Tabel 8 menunjukkan bahwa proporsi
mg/dl, kecuali segera setelah makan dapat tertinggi sumber biaya yang digunakan
mencapai 140 mg/dl. penderita DM tipe 2 dengan komplikasi
Distribusi proporsi penderita DM selama perawatan di rumah sakit yaitu biaya
tipe 2 dengan komplikasi berdasarkan pemerintah (BPJS/ASKES) 97,9% sedangkan
penatalaksanaan medis dapat di lihat pada biaya sendiri sebesar 2,1%. Hal ini berkaitan
tabel di bawah ini dengan pekerjaan penderita yang sebagian
Tabel 7 Distribusi Proporsi Penderita DM besar merupakan PNS sehingga lebih memilih
Tipe 2 dengan Komplikasi Berdasar- untuk menggunakan biaya pemerintah
kan Penatalaksanaan Medis di RSUD (BPJS/ASKES) untuk membayar biaya
Gunungsitoli Tahun 2015 perawatannya.
Penatalaksanaan
No f % Hal ini sesuai dengan penelitian
Medis
1 OHO 111 78,2 Sinaga (2004-2008) di RSUD Dr. Djasamen
2 Insulin 27 19,0 Saragih Pematangsiantar bahwa proporsi
3 OHO+Insulin 4 2,8 penderita DM tertinggi pada sumber biaya
Total 142 100 BPJS/ASKES yaitu 65,8% yang berhubungan
Tabel 7 menunjukkan bahwa proporsi dengan pekerjaan penderita yang lebih banyak
tertinggi berdasarkan jenis pengobatan yaitu pada PNS/BUMN yaitu 33,9%.

6
Distribusi proporsi penderita DM tipe Tabel 10 Distribusi Proporsi Penderita DM
2 dengan komplikasi berdasarkan lama Tipe 2 dengan Komplikasi yang
rawatan rata-rata dapat dilihat pada tabel di Dirawat Inap Berdasarkan Keadaan
bawah ini Sewaktu Pulang di RSUD Gunung-
Tabel 9 Distribusi Proporsi Penderita DM sitoli Tahun 2015
Tipe 2 dengan Komplikasi yang Dira- Keadaan
No f %
wat Inap Berdasarkan Lama Rawa - Sewaktu Pulang
tan Rata-rata di RSUD Gunungsitoli 1 PBJ 120 84,5
Tahun 2015 2 PAPS 10 7,1
Lama Rawatan Rata-rata (hari) 3 Di Rujuk 7 4,9
Mean 8,13 4 Meninggal 5 3,5
SD (Standar Deviation) 9,59 Total 142 100
95% Confidence Interval 6,54 - 9,72 Tabel 10 menunjukkan bahwa pro-
Minimum 1 porsi tertinggi penderita DM tipe 2 dengan
Maksimum 58 komplikasi berdasarkan keadaan sewaktu
Tabel 9 menunjukkan bahwa Lama pulang yaitu Pulang Berobat Jalan (PBJ)
rawatan rata-rata penderita DM tipe 2 dengan 84,5% kemudian diikuti oleh Pulang Atas
komplikasi yang dirawat inap di RSUD Permintaan Sendiri (PAPS) 7,0%, Di Rujuk
Gunungsitoli tahun 2015 adalah 8,13 (8 hari). 4,9% dan Meninggal 3,5%.
Lama rawatan tersingkat adalah 1 hari dan Penderita DM yang PBJ terdapat 120
terlama adalah 58 hari. orang dengan lama rawatan yang bervariasi,
Penderita DM tipe 2 dengan kompli- mulai dari 1 hari sampai 58 hari, 64 orang
kasi yang dirawat inap di RSUD Gunungsitoli diantaranya memiliki lama rawatan kurang
selama 1 hari terdapat 10 orang (7%) dan dari 5 hari. Penderita yang menerima
semuanya bertempat tinggal di Kota Gunung- penatalaksanaan medis OHO ada 95 orang,
sitoli dan menerima penatalaksanaan medis insulin 21 orang, dan OHO+insulin 4 orang.
berupa OHO. Sumber biaya yang digunakan Sedangkan komplikasi yang dialami penderita
penderita yaitu 9 orang menggunakan biaya yaitu non-infeksi 109 orang dan infeksi kronis
pemerintah dan 1 orang menggunakan biaya 15 orang.
sendiri. Untuk keadaan sewaktu pulang, 5 Hal ini sesuai dengan penelitian
orang yang pulang berobat jalan, 3 orang Lumban Gaol (2015) di Rumah Sakit Martha
pulang atas permintaan sendiri, dan 2 orang Friska Medan bahwa proporsi keadaan
yang meninggal. 9 orang dari penderita ini sewaktu pulang tertinggi penderita DM yaitu
mengalami komplikasi non-infeksi dan 1 pulang berobat jalan sebesar 71,3%.
orang mengalami komplikasi infeksi kronis
yaitu TB paru. Distribusi umur berdasarkan kategori
komplikasi penderita DM tipe 2 dengan
Penderita DM tipe 2 dengan kompli- komplikasi dapat dilihat pada tabel di bawah
kasi yang dirawat inap selama 58 hari ada 1 ini
orang dengan umur 42 tahun dan bertempat Tabel 11 Distribusi Proporsi Umur Penderita
tinggal di Kota Gunungsitoli. Penderita ini DM Tipe 2 dengan Komplikasi yang
mengalami komplikasi non-infeksi yaitu PVD Dirawat Inap Berdasarkan Kategori
dan menerima penatalaksanaan medis berupa Komplikasi di RSUD Gunungsitoli
OHO. Selama dirawat, penderita mengguna- Tahun 2015
kan biaya pemerintah dan keadaan pulang Umur
berobat jalan. Kategori > 45 Total
No ≤ 45 tahun
Komplikasi tahun
Distribusi proporsi penderita DM tipe f % f % f%
2 dengan komplikasi berdasarkan keadaan Infeksi
1 3 17,6 14 82,4 17 100
sewaktu pulang dapat dilihat pada tabel Kronis
2 Non-infeksi 27 21,6 98 78,4 125 100
berikut ini
7
Tabel 11 Menunjukkan bahwa pro- infeksi pada laki-laki yaitu 41,6% sedangkan
porsi penderita DM tipe 2 dengan komplikasi pada perempuan 58,4%.
infeksi kronis terdapat 17,6% pada kelompok Analisis statistik dengan mengguna-
umur ≤ 45 tahun sedangkan pada kelompok kan uji chi-square diperoleh nilai p=0,375
umur >45 tahun terdapat 82,4%. Proporsi berarti secara statistik tidak ada perbedaan
penderita DM tipe 2 dengan komplikasi non- yang bermakna antara jenis kelamin penderita
infeksi pada kelompok umur ≤ 45 tahun DM tipe 2 dengan komplikasi berdasarkan
adalah 21,6% sedangkan pada kelompok kategori komplikasi. Hal ini menunjukkan
umur >45 tahun yaitu 78,4%. bahwa kejadian DM tipe 2 pada jenis kelamin
Hal ini menunjukkan bahwa penderita laki-laki dan perempuan dapat terjadi kompli-
DM tipe 2 dengan komplikasi pada umumnya kasi infeksi kronis maupun non-infeksi.
terjadi pada usia dewasa akhir, sesuai dengan Distribusi penatalaksanaan medis
teori bahwa salah satu faktor risiko terjadinya berdasarkan kategori komplikasi penderita
DM adalah umur. Semakin bertambahnya DM tipe 2 dengan komplikasi dapat dilihat
umur maka penderita DM tipe 2 dengan pada tabel di bawah ini
komplikasi semakin tinggi. Tabel 13 Distribusi Proporsi Penatalaksanaan
Berdasarkan hasil uji chi-square Medis Penderita DM Tipe 2 dengan
terdapat 1 sel (25%) yang memiliki nilai Komplikasi yang Dirawat Inap di
expected kurang dari 5 sehingga uji dengan RSUD Gunungsitoli Tahun 2015
Penatalaksanaan
menggunakan chi-square tidak dapat Medis
Kategori Total
dilanjutkan. Uji dengan menggunakan exact No
Komplikasi OHO Insulin
fisher di dapatkan nilai nilai p=1,00 berarti f % f % f %
secara statistik tidak ada perbedaan yang 1 Infeksi Kronis 12 70,6 5 29,4 17 100
bermakna antara umur penderita DM tipe 2 2 Non-infeksi 99 79,2 26 20,8 125 100
dengan komplikasi berdasarkan kategori Tabel 13 menunjukkan bahwa bahwa
komplikasi. Hal ini menunjukkan bahwa proporsi penderita DM tipe 2 dengan
kejadian DM tipe 2 pada kelompok umur ≤45 komplikasi infeksi kronis terdapat 70,6%
dan >45 tahun dapat terjadi komplikasi yang menerima penatalaksanaan medis OHO
infeksi kronis maupun non-infeksi. dan 29,4% insulin. Sedangkan pada
Distribusi jenis kelamin berdasarkan komplikasi non-infeksi terdapat 79,2% yang
kategori komplikasi penderita DM tipe 2 menerima penatalaksanaan medis OHO dan
dengan komplikasi dapat dilihat pada tabel di 20,8% insulin.
bawah ini Berdasarkan hasil uji chi-square
Tabel 12 Distribusi Proporsi Jenis Kelamin terdapat 1 sel (25%) yang memiliki nilai
Penderita DM Tipe 2 dengan expected kurang dari 5 sehingga uji dengan
Komplikasi yang Dirawat Inap menggunakan chi-square tidak dapat
Berdasarkan Kategori Komplikasi di dilanjutkan. Uji dengan menggunakan exact
RSUD Gunungsitoli Tahun 2015 fisher di dapatkan nilai nilai p=0,530 berarti
Jenis Kelamin secara statistik tidak ada perbedaan yang
Kategori Total
No Komplikasi Laki-laki Perempuan bermakna antara umur penderita DM tipe 2
f % f % f % dengan komplikasi berdasarkan kategori
Infeksi
1 9 52,9 8 47,1 17 100 komplikasi.
Kronis
2 Non-infeksi 52 41,6 73 58,4 125 100 Distribusi lama rawatan rata-rata
Tabel 12 menunjukkan bahwa pro- berdasarkan kategori komplikasi penderita
porsi penderita DM tipe 2 dengan komplikasi DM tipe 2 dengan komplikasi dapat dilihat
infeksi kronis pada laki-laki yaitu 52,9% pada tabel di bawah ini
sedangkan pada perempuan 47,1%. Proporsi
penderita DM tipe 2 dengan komplikasi non-
8
Tabel 14 Distribusi Perbedaan Lama Rawatan d. Proporsi penderita DM tipe 2 dengan
Rata-rata Penderita DM Tipe 2 komplikasi berdasarkan pemeriksaan kadar
dengan Komplikasi yang Dirawat GDS diperoleh 64,1% yang melakukan
Inap Berdasarkan Kategori pemeriksaan, dengan proporsi kadar GDS
Komplikasi di RSUD Gunungsitoli yang tidak normal 78,0%.
Tahun 2015
e. Proporsi penderita DM tipe 2 dengan kom-
Lama Rawatan Rata-rata
Kategori
(hari)
plikasi berdasarkan jenis penatalaksanaan
No
Komplikasi medis diperoleh proporsi tertinggi pada
f Mean SD
1 Infeksi Kronis 17 5,06 2,08 penderita yang diberikan OHO 78,2%.
2 Non-infeksi 125 8,54 10,13 f. Proporsi penderita DM tipe 2 dengan
komplikasi berdasarkan sumber biaya di-
Tabel 14 menunjukkan bahwa dari peroleh proporsi tertinggi yang berobat
142 penderita DM tipe 2 dengan komplikasi dengan biaya pemerintah 97,9%.
terdapat 17 orang penderita komplikasi g. Lama rawatan rata-rata penderita DM
infeksi kronis yang memiliki lama rawatan dengan komplikasi adalah 8,13 (8 hari).
rata-rata selama 5,06 (5 hari). Sedangkan h. Proporsi penderita DM tipe 2 dengan
penderita non-infeksi memiliki lama rawatan komplikasi berdasarkan keadaan sewaktu
rata-rata selama 8,54 (9 hari). pulang diperoleh proporsi tertinggi pada
Analisis statistik dengan mengguna- penderita DM yang pulang berobat jalan
kan uji Mann-Whitney Test diperoleh nilai yaitu 84,5%.
p=0,620 berarti secara statistik tidak ada i. Tidak ada perbedaan bermakna umur
perbedaan yang bermakna antara lama rawa- berdasarkan kategori komplikasi pada
tan rata-rata berdasarkan kategori komplikasi. penderita DM tipe 2 dengan komplikasi
Hal ini menunjukkan bahwa penderita DM (p=1,00).
tipe 2 yang mengalami komplikasi infeksi j. Tidak ada perbedaan bermakna antara jenis
kronis maupun komplikasi non-infeksi tidak kelamin berdasarkan kategori komplikasi
menjadikan lama rawatan berbeda. pada penderita DM tipe 2 dengan kom-
plikasi (p=0,375)
Kesimpulan dan Saran
k. Tidak ada perbedaan bermakna antara
1. Kesimpulan
penatalaksanaan medis berdasarkan kate-
a. Proporsi penderita DM tipe 2 dengan kom-
gori komplikasi pada penderita DM tipe 2
plikasi berdasarkan sosiodemografi, pro-
dengan komplikasi (p=0,530)
porsi tertinggi pada kelompok umur 45-54
l. Tidak ada perbedaan bermakna lama
tahun dengan proporsi laki-laki 41,0% dari
rawatan rata-rata berdasarkan kategori
semua penderita berjenis kelamin laki-laki
komplikasi pada penderita DM tipe 2
dan perempuan 45,7% dari semua pen-
dengan komplikasi (p=0,620)
derita berjenis kelamin perempuan, suku
Nias 95,8%, agama Kristen Protestan 2. Saran
89,4%, pekerjaan PNS 29,6%, status a. Kepada pihak rumah sakit diharapkan agar
perkawinan yaitu kawin 80,3% dan tempat selalu melakukan pemeriksaan kadar gula
tinggal di Kota Gunungsitoli 64,1%. darah pada semua pasien DM tipe 2
b. Proporsi penderita DM tipe 2 dengan dengan komplikasi yang dirawat inap agar
komplikasi berdasarkan keluhan utama dapat menilai status glikemik jangka
diperoleh proporsi tertinggi pada penderita panjang dan kepatuhan pasien dalam
DM yang mengalami keluhan Lemas/ mengontrol gula darahnya, merencanakan
Mual-mual dan muntah 31,7%. penatalaksanaan medis yang sesuai, serta
c. Proporsi penderita DM tipe 2 dengan meningkatkan tindakan perawatan bagi
komplikasi berdasarkan jenis komplikasi pasien yang memiliki kadar GDS yang
diperoleh proporsi tertinggi pada penderita tidak normal untuk memperkecil risiko
DM dengan komplikasi Hipertensi 33,1%. terjadinya komplikasi lebih lanjut. Bagi
penderita dengan komplikasi hipertensi
9
agar dianjurkan untuk melakukan penurun- Mendrofa, I., 2011. Karakteristik Penderita
an berat badan, olahraga serta penurunan DM dan Pengetahuan Penderita DM
asupan natrium dan konsumsi alkohol Tentang Kontrol Kadar Gula Darah di
ataupun dengan medikasi antihipertensi RSUD Gunungsitoli Periode Juni-
bila diperlukan. September 2011. Karya tulis ilmiah
b. Kepada penderita DM tipe 2 dengan mahasiswa Fakultas Kedokteran USU
komplikasi agar rutin melakukan pemerik- Ndraha, S., 2014. Diabetes Mellitus Tipe 2
saan kadar gula darah, melakukan diet dan Tatalasksana Terkini. Departemen
yang dianjurkan, menerapkan pola hidup Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran
sehat, dan menggunakan insulin dalam Universitas Krida Wacana, Jakarta.
pengobatan untuk memperkecil risiko http://cme.medicinus.co/file.php/1/LEAD
gagal ginjal. ING_ARTICLE_Diabetes_Mellitus_Tipe
Daftar Pustaka _2_dan_tata_laksana_terkini.pdf
Departemen Kesehatan RI, 2008. Pedoman Savitri, R., 2008. Diabetes: Cara
Pengendalian Diabetes Mellitus dan Mengetahui Gejala Diabetes dan
Penyakit Metabolik. Jakarta. http://perp
Mendeteksinya Sejak Dini. PT. Bhuana
ustakaan.depkes.go.id:8180/bitstream/12 Ilmu Populer, Jakarta
3456789/1358/1/BK2008-Sep13.pdf
Soegondo, S., 2009. Farmakoterapi pada
International Diabetes Federation, 2015.
Pengendalian Glikemia Diabetes
Diabetes Atlas Seventh Edition. http:// Mellitus Tipe 2. Dalam: Aru W,
www.diabetesatlas.org/component/attach Bambang S, Idrus A, Marcellus S. K, Siti
ments/?task=download&id=116 S, editors, Ilmu Penyakit Dalam, Jilid III,
Irawan, D., 2010. Prevalensi dan Faktor Edisi V. Interna Publishing, Jakarta.
Risiko Kejadian Diabetes Mellitus Tipe Tampubolon, E., 2015. Karakteristik
2 di Daerah Urban di Indonesia. Tesis
Penderita Diabetes Mellitus Tipe 2
FKMUI. Jakarta
dengan Komplikasi yang Dirawat Inap
Kemenkes RI, 2014. Profil Kesehatan di Rumah Sakit Santa Elisabeth
Indonesia Tahun 2013. Jakarta. http://w Medan Tahun 2012-2013. Skripsi
ww.depkes.go.id/download.php?file=dow Mahasiswa FKM USU
nload/pusdatin/profil-kesehatan- Tandra, H., 2007. Segala Sesuatu Yang
indonesia/ profil-kesehatan-indonesia-
Harus Anda Ketahui Tentang
2013.pdf Diabetes. Gramedia Pustaka Utama,
______., 2013. Riset Kesehatan Dasar 2013. Jakarta.
Jakarta. WHO, 2014. Global Status Report on
______., 2013. Riskesdas Dalam Angka Noncommunicable Diseases 2014.
Provinsi Sumatera Utara Tahun 2013. http://apps.who.int/iris/bitstream/10665/1
Jakarta. 48114/1/9789241564854_eng.pdf
LeMone, P., Burke, K.M., Bauldoff, G., 2012. ______, 2016. Diabetes Fact Sheets.
Buku Ajar Keperawatan Medikal http://www.who.int/mediacentre/factshee
Bedah, Ed.5, Vol.2. EGC, Jakarta. ts/fs312/en/.
Lumban Gaol, R., 2015. Karakteristik ______. Global Report On Diabetes.
Penderita Penyakit Diabetes Mellitus http://apps.who.int/iris/bitstream/10665/2
dengan Komplikasi yang Dirawat Inap 04871/1/9789241565257_eng.pdf?ua=1
di Rumah Sakit Martha Friska Tahun
2014. Skripsi Mahasiswa FKM USU

10