Sunteți pe pagina 1din 8

1.

Pendahuluan

Hidrokortison asetat adalah glukokortikoida yang banyak digunakan


sebagai antiinflamasi lokal akibat dermatitis diindikasikan untuk mengurangi
gejala inflamasi dan manifestasi piuritik pada dermatosis yang bersifat responsive
terhadap kortikosteroid. Menekan reaksi radang pada kulit yang bukan disebabkan
infeksi seperti: eksema, dermatitis alergi, dermatitis seboreik, intertrigo, ruam
“popok” pada bayi, pruritus yang tidak dapat diatasi dengan cara lain.

Obat ini akan dibuat dalam bentuk sediaan salep dikarenakan bahan aktif
yang digunakan praktis tidak larut dalam air sehingga dibuat dalam sediaan
topikal dan menggunakan basis hidrokarbon. Dasar salep hidrokarbon ini dikenal
sebagai dasar salep berlemak, bebas air. Salep ini dimaksudkan untuk
memperpanjang kontak dengan kulit dan bertindak sebagai pembalut/penutup.
Dasar salep ini digunakan sebagai emolien dan sifatnya sukar dicuci, tidak
mengering dan tidak tampak berubah dalam waktu lama. Pemilihan dasar salep
tergantung pada factor-faktor seperti khasiat yang diinginkan, sifat bahan obat
yang dicampurkan, ketersediaan hayati, stabilitas dan ketahanan sediaan. Dalam
hal-hal tertentu perlu menggunakan dasar salep yang kuranng ideal untuk
medapatkan stabilitas yang diinginkan. Misalnya : obat-obat yang mudah
terhidrolisis lebih stabil dalam dasar hidrokarbon daripada yang mengandung air
meskipun obat tersebut lebih efektif dalam dasar yang mengandung air.

2. Farmasi – Farmakologi

a. Sifat Fisiko-Kimia dan rumus kimia obat


I. Sifat Kimia
Sinonim : Metil etilen glikol
Rumus kimia : C3H8O2
Nama kimia : 1,2-propanadiol
CAS : [57-55-6]
Berat molekul : 76,09

Gambar I : Struktur Molekul Hidrokortson Asetat

II. Sifat Kimia

Bentuk : Cairan kental, jernih

Warna : Tidak bewarna

Bau : Tidak berbau

Rasa : agak manis

Kelarutan : Dapat campur dengan air dan dengan etanol (95


%) dan dengan kloroform P, larut dalam 6M bagian
eter P, tidak dapat bercampur dengan eter minyak
tanah P dan dengan minyak lemak.

Bobot/ml : 1,035 g -1,037 g

OTT : reagen pengoksidasi

Indeks bias : 1,431-1,433

Stabilitas : Stabil dalam campuran dengan etanol 95%,


gliserin atau air.

Konstanta dielektrik : 33
b. Farmasi Umum
I. Dosis
Untuk dosis oral hidrokortison tersedia 5-20 mg, untuk parenteral tersedua
25,50 mg/mL (suspense). Untuk sedian topical tersedia 0.1-2%
(krim,salep,lotion) dan tersedia dalam bentuk topical untuk mata adalah 0,2%
(suspense dan salep)

II. Cara Penggunaan


Umumnya dioleskan pada lesi secara tipis 2-4 kali sehari tergantung beratnya
kelainan.

c. Farmakologi Umum
I. Khasiat
Adrenoglukokortikoidum
II. Kegunaan terapi/indikasi dan kontra indikasi
- Indikasi
diindikasikan untuk mengurangi gejala inflamasi dan manifestasi piuritik
pada dermatosis yang bersifat responsive terhadap kortikosteroid.
Menekan reaksi radang pada kulit yang bukan disebabkan infeksi seperti:
eksema, dermatitis alergi, dermatitis seboreik, intertrigo, ruam “popok”
pada bayi, pruritus yang tidak dapat diatasi dengan cara lain.
- Kontra Indikasi
 Penderita yang hipersensitif terhadap hidrokortison
 Inveksi virus.
 Tuberkulosis kulit.
 Pada akne, rosasea, dermatitis perioral dapat memperburuk keadaan.
3. Farmakodinamik:
Hidrokortison adalah antiinflamasi steroid dengan butiran zat aktif
memasuki sel dan membran lysoma sehingga menurunkan mediator yang terlibat
dalam respon antiinflamasi dan mengurangi pelepasan enzim dalam sintesi
prostaglandin.
Hidrokortison mengurangi komponen vaskular dari respon inflamasi dan
meurunkan pembentukan cairan inflamasi dan eksudat seluler. Menurunkan
inflamasi dengan menekan migrasi leukosit polimorfonuklear, dan peningkatkan
permeabilitas kapiler

4. Farmakoterapi
Hidrokortison dengan penyerapan bervariasi menurut aplikasi anatomi
yang berkisar 1 % di lengan bawah kulit, 26-29 % di membran mukosa. Faktor-
faktor yang mempengaruhi peneterasi, yaitu konsentrasi, anatomi, usia, dan
kondisi kulit.
Tingkat plasma hidrokortison di menit ke 90 turun menjadi 50 %, waktu paruh
biologis hidrokarbon adalah 8-12 jam.

5. Toksisitas
- Efek samping dan toksisitas
Pada penderita yang sensitif dapat timbul reaksi seperti: rasa terbakar, gatal,
kekeringan, atropi kulit serta infeksi sekunder. Selain itu ada beberapa tingkat efek
sampingnya, yaitu :

 Efek Epidermal Penipisan epidermal yang disertai dengan peningkatan aktivitas


kinetik dermal,suatu penurunan ketebalan rata-rata lapisan keratosit, dengan
pendataran darikonvulsi dermo-epidermal. Efek ini bisa dicegah dengan
penggunaan tretino intopikal secara konkomitan. Inhibisi dari melanosit, suatu
keadaan seperti vitiligo, telah ditemukan. Komplikasi ini muncul pada keadaan
oklusi steroid atau injeksi steroid intrakutan.
 Efek Dermal Terjadi penurunan sintesis kolagen dan pengurangan pada substansi
dasar. Gangguan ini menyebabkan terbentuknya striae dan keadaan vaskulator
dermal yang lemah akanmenyebabkan mudah ruptur jika terjadi trauma atau
terpotong. Pendarahan intradermalyang terjadi akan menyebar dengan cepat untuk
menghasilkan suatu blot hemorrhage. Nantinya akan terserap dan membentuk
jaringan parut stelata, yang terlihat seperti usiakulit prematur.
 Vitiligo Inhibisi dari melanosit, suatu keadaan seperti vitiligo, telah
ditemukan.Komplikasi ini muncul pada keadaan oklusi steroid atau injeksi steroid
intrakutan.
 Efek Vaskular Efek ini termasuk Vasodilatasi yang terfiksasi. Kortikosteroid pada
awalnya menyebabkanvasokontriksi pada pembuluh darah yang kecil di
superfisial. Fenomena rebound. Vasokontriksi yang lama akan menyebabkan
pembuluh darahyang kecil mengalami dilatasi berlebihan, yang bisa
mengakibatkan edema,inflamasi lanjut, dan kadang-kadang pustulasi.
 Ketergantungan atau Rebound: sindrom penarikan kortikosteroid adalah kejadian
sering terlihat, juga disebut “Sindrom Kulit Merah”. Penghentian total steroid
adalah wajib dan, sementara reversibel, dapat menjadi proses yang
berkepanjangan dan sulit diatasi
 Dermatitis Terlalu sering menggunakan steroid topikal dapat menyebabkan
dermatitis. Penarikan seluruh penggunaan steroid topikal dapat menghilangkan
dermatitis.
 Dermatitis perioral: Gangguan ini adalah berupa ruam yang terjadi di sekitar
mulut dan daerah mata yang telah dikaitkan dengan steroid topikal.
 Efek pada mata. Tetes steroid topikal yang sering digunakan setelah operasi mata
tetapi juga dapat meningkatkan tekanan intra-okular (TIO) dan meningkatkan
risiko glaukoma, katarak, retinopati serta efek samping sistemik
 Tachyphylaxis: Perkembangan akut toleransi terhadap aksi dari obat setelah dosis
berulang tachyphylaxis signifikan dapat terjadi dari hari ke hari 4 terapi.
Pemulihan biasanya terjadi setelah istirahat 3 sampai 4 hari. Hal ini
mengakibatkan terapi seperti 3 hari, 4 hari libur, atau satu minggu pada terapi, dan
satu minggu off terapi.
 Efek samping lokal: Gangguan ini termasuk hipertrikosis wajah, folikulitis,
miliaria, ulkus kelamin, dan granuloma infantum gluteale.
 Penggunaan jangka panjang mengakibatkan Scabies Norwegia, sarkoma Kaposi,
dan dermatosis yang tidak biasa lainnya.
 Jamkhedkar Preeta dkk tahun 1996 pernah melakukan studi untuk mengevaluasi
keamanan dan tolerabilitas fluticasone ini dalam terapi eksim dan psoriasis.
Fluticasone propionate 0.05% dibandingkan dengan krim betamethasone valerate
0,12%. Ada 107 pasien yang menyelesaikan studi, 61 menderita psoriasis dan 46
menderita eksim.
 Secara efikasi dan afinitas, fluticasone propionate maupun betamethasone valerate
menunjukkan hasil yang setara. Penipisan kulit, setelah dilakukan ultrasound atau
biopsi tidak signifikan dibandingkan placebo dalam terapi lebih dari 8 minggu,
dengan sekali terapi sehari. Fluticasone propionate sama sekali tidak
menimbulkan efek samping sistemik berupa supresi HPA-axis.
 Studi untuk menilai efek samping penggunaan fluticasone propionate, dalam hal
ini supresi HPA-axis, dilakukan oleh Hebert dkk dari University of Texas-
Houston Medical School. Studi dilakukan pada anak-anak (3 bulan-6 tahun)
penderita dermatitis atopik skala luas, yakni hampir 65% permukaan kulit
mendapat terapi. Penilaian studi adalah absennya supresi adrenal dengan
pemberian fluticasone propionate 0,05%. Ternyata tidak ada perbedaan signifikan
dalam kadar kortisol rata-rata, sebelum dan setelah terapi. Pada pasien usia 3
bulan, fluticasone tidak berimbas pada fungsi HPA axis serta tidak menyebabkan
penipisan kulit meskipun diberikan fluticasone secara ekstensif.
 Kortikosteroid topikal tidak seharusnya dipakai sewaktu hamil kecuali dinyatakan
perlu atau sesuai oleh dokter untuk wanita yang hamil. Percobaan pada
hewanmenunjukkan penggunaan kortikosteroid pada kulit hewan hamil akan
menyebabkan abnormalitas pada pertumbuhan fetus. Percobaan pada hewan tidak
ada kaitan dengan efek pada manusia, tetapi mungkin ada sedikit resiko apabila
steroid yang mencukupi diabsorbsi di kulit memasuki aliran darah wanita hamil.
Oleh karena itu, penggunaan kortikosteroid topikal pada waktu hamil harus
dihindari kecuali mendapat nasehat daridokter untuk menggunakannya. Begitu
juga pada waktu menyusui, penggunaankortikosteroid topikal harus dihindari dan
diperhatikan. Kortikosteroid juga hati-hati digunakan pada anak-anak.

6. Penyelidikan/penelitian yang telah/pernah di lakukan orang lain

Pada salah satu jurnal yang ada yaitu Kortikosteroid topical sering
digunakan pada DA di Amerika Serikat untuk DA fase akut. Terapi kortikosteroid
untuk DA bersifat sfektif, relative cepat, ditoleransi dengan baik, mudah
digunakan, dan harganya tidak semahal terapi alternative lainnya. Untuk pasien
ini diberikan kortikosteroid topical potensi lemah dengan persentasi 1% dengan
pertimbangan kulit anak-anak yang masih tipis.
Daftar Pustaka :

 Depkes RI. 1995. Farmakope Indonesia Jilid IV. Jakarta : Depkes RI


 Luis Uva et all, Mechanisms of Action of Topical Corticosteroids in Psoriasis.
Universita ́ria de Dermatologia, Faculdade de Medicina de Lisboa, 2012
 Charles L. Sprung, MD Djillali et all, Hydrocortisone Therapy for Patients with
Septic Shock. The New England Journal Of Medicine. 2008.