Sunteți pe pagina 1din 5

1.

Keberhasilan posyandu telah memberikan manfaat bagi masyarakat dan kader


antara lain:
1. Bagi Masyarakat.
a. Memperoleh kemudahan untuk mendapatkan informasi dan pelayanan
kesehatan dasar, berkaitan dengan penurunan AKI, AKB dan AKABA
b. Memperoleh layanan secara profesional dalam pemecahan masalah kesehtan
terutama terkait kesehatan ibu dan anak.
c. Efisiensi dalam mendapatkan pelayanan kesehatan dasar terpadu dan
pelayanan sosial; dasar sektor lain yang terkait.
2.Bagi Kader, Pengurus Posyandu dan tokoh Masyarakat.
a. Mendapatkan informasi terlebih dahulu tentang upaya kesehatan yang
terkait dengan penurunan AKI, AKB dan AKABA
b. Dapat mewujudkan aktualisasi dirinya dalam membantu mesyarakat
menyelesaikan masalah kesehatan terkait dengan penurunan AKI, AKB dan
AKABA.
3. Bagi Puskesmas.
a. Optimalisasi fungsi Puskesmas sebagai pusat penggerak pembangunan
berwawasan kesehatan, pusat pemberdayaan masyarakat, pusat pelayanan
program primer dan pusat pelayanan kesehatan masyarakat primer.
b. Dapat lebih spesifik membantu masayarakat dalam pemecahan masalah
kesehatan sesuai kondisi setempat.
c. Mendekatkan akses pelayanan kesehatan dasar pada masyarakat.
4. Bagi sektor lain.
a. Dapat lebih spesifik membantu masyarakt dalam pemecahan masalah
kesehatan dan sosial dasar lainnya, terutama yang terkait dengan upaya
penurunan AKI, AKB dan AKABA sesuai kondisi setempat
b. Meningkatkan efisiensi melalui pemberian pelayanan secara terpadu
sesuai dengan tugas pokok dan fungsi (tupoksi) masing – masing sektor.

2.Pelayanan tambahan yang di berikan


1.Posyandu lanjut usia
pelayanan kesehatan di kelompok usia lanjut meliputi pemeriksaan kesehatan fisik
dan mental emosional. Kartu Menuju Sehat (KMS) usia lanjut sebagai alat pencatat
dan pemantau untuk mengetahui lebih awal penyakit yang diderita (deteksi dini) atau
ancaman masalah kesehatan yang dihadapi dan mencatat perkembangannya dalam
Buku Pedoman Pemeliharaan Kesehatan (BPPK) usia lanjut atau catatan kondisi
kesehatan yang lazim digunakan di Puskesmas.
Menurut Depkes RI (2003), tujuan umum dibentuknya Posyandu lansia secara garis
besar untuk meningkatkan derajat kesehatan dan mutu kehidupan usia lanjut untuk
mencapai masa tua yang bahagia dan berdaya guna dalam kehidupan keluarga dan
masyarakat sesuai dengan keberadaannya. Sedangkan tujuan khusus pembentukan
posyandu lansia antara lain :

1. Meningkatkan kesadaran para usia lanjut untuk membina sendiri kesehatannya;

2. Meningkatkan kemampuan dan peran serta keluarga dan masyarakat dalam


menghayati dan mengatasi kesehatan usia lanjut;
3. Meningkatkan jenis dan jangkauan pelayanan kesehatan usia lanjut;

4. Meningkatkan mutu pelayanan kesehatan usia lanjut.

Sasaran dan Jenis Pelayanan Kesehatan Posyandu LansiaMenurut Pedoman


Pembinaan Kesehatan Usia Lanjut Bagi Petugas Kesehatan I Kebijaksanaan Program
(Depkes RI (2000), sasaran pelaksanaan pembinaan kelompok usia lanjut dibagi
menjadi dua antara lain ;

1. Sasaran Langsung, meliputi Pra lansia (usia 45 – 59 tahun), Lansia (usia 60 – 69


tahun) dan Lansia risiko tinggi (usia > 70 tahun)

2.Sasaran Tidak Langsung, antara lain a). Keluarga lansia; b). Masyarakat lingkungan
lansia; c). Organisasi sosial yang peduli terhadap pembinaan kesehatan lansia; d).
Petugas kesehatan yang melayani kesehatan lansia; e). Petugas lain yang menangani
kelompok lansia; dan f). Masyarakat luasSedangkan jenis pelayanan kesehatan pada
Posyandu Lansia menurut Depkes RI (2003), dikelompokkan sebagai berikut:

Sedangkan jenis pelayanan kesehatan pada Posyandu Lansia menurut Depkes RI


(2003), dikelompokkan sebagai berikut:

a. Pemeriksaan aktivitas kegiatan sehari-hari (activity of daily living)


meliputi kegiatan dasar dalam kehidupan seperti makan atau minum,
berjalan, mandi, berpakaian, naik turun tempat tidur, buang air besar
atau kecil dan sebagainya;
b. Pemeriksaan status mental. Pemeriksaan ini berhubungan dengan
mental emosional, dengan menggunakan pedoman metode 2 menit.
Pemeriksaan status mental dilakukan karena proses mental lansia
sudah mulai dan sedang menurun. Misalnya mereka mengeluh sangat
pelupa, kesulitan dalam menerima hal baru, juga merasa tidak tahan
dengan tekanan, perasaan seperti ini membentuk mental mereka seolah
tertidur dengan keyakinan bahwa dirinya sudah terlalu tua untuk
mengerjakan hal tertentu sehingga mereka menarik diri dari semua
bentuk kegiatan;
c. Pemeriksaan status gizi melalui penimbangan berat badan dan
pengukuran tinggi badan dan dicatat pada grafik indeks massa tubuh
(IMT);
d. Pengukuran tekanan darah dengan menggunakan tensimeter dan
stetoskop serta perhitungan denyut nadi selama satu menit;
e. Pemeriksaan hemoglobin menggunakan Talquist, Sahli atau
Cuprisulfat;
f. Pemeriksaan adanya gula dalam air seni sebagai deteksi awal adanya
penyakit gula (diabetes mellitus);
g. Pemeriksaan adanya zat putih telur (protein) dalam air seni sebagai
deteksi awal adanya penyakit ginjal;
h. Pelaksanaan rujukan ke puskesmas bilamana ada keluhan atau
ditemukan kelainan pada pemeriksaan butir a sampai g;
i. Penyuluhan bila dilakukan di dalam maupun di luar kelompok dalam
rangka kunjungan rumah dan konseling kesehatan dan gizi sesuai
dengan masalah kesehatan yang dihadapi oleh individu dan atau
kelompok lansia;
j. Kunjungan rumah oleh kader disertai petugas bagi anggota kelompok
lansia yang tidak datang, dalam rangka kegiatan perawatan kesehatan
masyarakat (Public Health Nursing).

Kegiatan lain yang dapat dilakukan sesuai kebutuhan dan kondisi setempat yaitu:

1. Pemberian Makanan Tambahan (PMT) penyuluhan sebagai contoh


menu makanan dengan memperhatikan aspek kesehatan dan gizi lansia
serta menggunakan bahan makanan yang berasal dari daerah tersebut;
2. Kegiatan olahraga antara lain senam lansia, gerak jalan santai dan lain
sebagainya untuk meningkatkan kebugaran (Depkes RI, 2003).

3. Factor yang mempengaruhi kedatangan ibu ke posyandu

1.untuk mendapatkan imunisasi dan program-program yang di berikan di posyandu.

2.Pekerjaan.

Menurut Nursalam dan Pariani (2001), bahwa bekerja umumnya merupakan kegiatan
yang menyita waktu dan dengan bekerja ibu-ibu akan mempunyai pengaruh terhadap
keluarga, dari kondisi itu dapat dilihat jika seseorang tidak bekerja memungkinkan
kurangnya lingkup pergaulan. Sehinnga kunjungan menjadi tidak rutin karena
kesibuka bekerja.

3.pendidikan

Dikatakan sebagai salah satu syarat mutlak untuk berpartisipasi. Pendidikan dianggap
dapat mempengaruhi sikap hidup seseorang terhadap lingkungannya, suatu sikap yang
diperlukan bagi peningkatan kesejahteraan seluruh masyarakat. Jika seorang ibu atu
keluarga memiliki pendidikan yang tinggi maka dia juga akan memiliki kesadaran
kesehatan yang tinggi pula.

4.Jarak
Jarak posyandu dengan tempat tinggal yang dekat memungkinkan ibu-ibu untung
datang dan mengikuti kegiatan posyandu.

Mengapa Tidak Datang Ke Posyandu?


Beberapa alas an yang sering dikemukakan ibu yang tidak datang ke
piosyandu antara lain :
1. Jumlah balita yang terdapat di dalam keluarga, mempengaruhi kunjungan
ibu ke posyandu, dimana keluarga yang memiliki jumlah balita sedikit maka
ibu akan lebih sering datang ke posyandu. Akan sangat sulit bagi ibu
membawa beberapa anak sekaligus ke posyandu. Kalaupun ibu mau datang
ke posyandu, biasanya yang dibawa adalah anak terkecil yang belum
mendapat imunisasi lengkap. Kadangkala ibu sama sekali tidak datang ke
Posyandu walaupun ada bayinya yang belum mendapat imunisasi, dengan
alasan banyak pekerjaan yang harus diselesaikan, anaknya yang rewel,
rumah berantakan, dan sebagainya.
2. Tingkat pengetahuan keluarga, dimana keluarga yang memiliki
pengetahuan tentang kesehatan, tanda, dan gejala sehubungan dengan
pertumbuhan anggota keluarganya, maka keluarga tersebut akan segera
melakukan tindakan untuk meminimalkan dampak yang lebih buruk lagi
terhadap kondisi anggota keluarganya. Semakin terdidik keluarga maka
semakin baik pengetahuan keluarga tentang kesehatan.
3. Faktor geografi, dimana letak dan kondisi geografis wilayah tersebut.
Kondisi geografis diantaranya jarak dan kondisi jalan ke tempat pelayanan
kesehatan sangat berpengaruh terhadap keaktifan membawa balitanya ke
posyandu.
4. Dukungan keluarga terdekat / suami। Ibu atau pengasuh balita akan aktif
ke posyandu jika ada dorongan dari keluarga terdekat. Dukungan keluarga
sangat berperan dalam memelihara dan mempertahankan status gizi balita
yang optimal. Keluarga merupakan sistem dasar dimana perilaku sehat dan
perawatan kesehatan diatur, dilaksanakan, dan diamankan, keluarga
memberikan perawatan kesehatan yang bersifat preventif dan secara
bersama-sama merawat anggota keluarga. Keluarga mempunyai tanggung
jawab utama untuk memulai dan mengkoordinasikan pelayanan yang
diberikan oleh para professional perawatan kesehatan.
5. Usia Ibu. Umur merupakan salah satu sifat karakteristik tentang orang
yang sangat utama. Umur mempunyai hubungan dengan tingkat
keterpaparan, besarnya risk serta sifat resistensi. Perbedaan pengalaman
terhadap masalah kesehatan/penyakit dan pengambilan keputusan
dipengaruhi oleh umur individu tersebut. Ibu-ibu muda (usia 18-24 tahun)
yang masih awam tentang posyandu dan imunisasi (punya anak pertama)
biasanya rajin datang ke posyandu karena masih penasaran akan kegiatan di
posyandu. Akan tetapi ibu muda lainnya tampak enggan ke posyandu
karena mereka lebih asik dengan kegiatannya sendiri atau ngobrol bersama
teman-temannya. Seiring dengan bertambahnya usia, dan anaknya tumbuh
dan berkembang, ibu akan mengetahui betapa pentingnya kesehatan anak.
Sehingga ibu akan berupaya mengimunisasikan anaknya sampai lengkap।
6. Pekerjaan ibu. Kerja merupakan sesuatu yang dibutuhkan oleh manusia. Kebutuhan
itu bisa bermacam-macam, berkembang, dan berubah, bahkan seringkali tidak
disadari oleh pelakunya. Seseorang bekerja karena ada sesuatu yang hendak
dicapainya, dan orang berharap bahwa aktivitas kerja yang dilakukannya akan
membawanya kepada sesuatu keadaan yang lebih memuaskan dari pada keadaan
sebelumnya. Bagi pekerja wanita, mereka adalah ibu rumah tangga yang sulit lepas
begitu saja dari lingkungan keluarga. Wanita mempunyai beban dan hambatan lebih
berat dibandingkan rekan prianya. Dalam arti wanita harus lebih dulu mengatasi
urusan keluarga, suami, anak dan hal-hal yang menyangkut urusan rumah tangganya,
termasuk urusan imunisasi anaknya. Sebagai Ibu yang baik, sekalipun dia bekerja, dia
harus tetap memperhatikan kesehatan anaknya, termasuk dalam menjamin pemberian
imunisasi anka secara lengkap.