Sunteți pe pagina 1din 23

1

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Masa remaja merupakan masa transisi dalam rentang kehidupan
manusia yang menghubungkan masa kanak-kanak dan masa dewasa.
Menurut WHO batasan usia remaja adalah 12 sampai 24 tahun,sedangkan
menurut Survei Kesehatan Reproduksi Remaja Indonesia (SKRRI) tahun
2007, remaja adalah laki-laki dan perempuan yang belum kawin dengan
batasan usia meliputi 15-24 tahun (Wijaya; 2009). Dalam periode ini
terjadi perubahan yang sangat pesat dalam dimensi fisik, mental dan
sosial. Masa ini juga merupakan periode pencarian identitas diri, sehingga
remaja sangat mudah terpengaruh oleh lingkungan. Umumnya proses
pertumbuhan fisik lebih cepat dari perkembangan psikososialnya. Karena
itu seringkali terjadi ketidakseimbangan yang menyebabkan remaja sangat
sensitif dan rawan terhadap stres. Tugas-tugas perkembangan pada masa
remaja yang disertai oleh berkembangnya kapasitas intelektual, stres dan
harapan- harapan baru yang dialami remaja membuat remaja mudah
mengalami gangguan baik berupa gangguan pikiran, perasaan maupun
gangguan perilaku. (IDAI;2008)

Stres merupakan suatu respon fisiologis, psikologis dan perilaku


dari manusia yang mencoba untuk mengadaptasi dan mengatur baik
tekanan internal dan eksternal (stresor). Stresor dapat mempengaruhi
semua bagian dari kehidupan seseorang, menyebabkan stres mental,
perubahan perilaku, masalah-masalah dalam interaksi dengan orang lain
dan keluhan-keluhan fisik (Sriati;2008).
Stres yang berkelanjutan dapat menyebabkan depresi yaitu apabila
sense of control atau kemampuan untuk mengatasi stres pada seseorang
kurang baik (Durand;2006). Menurut Suryo Dharmono, dari Departemen
2

Psikiatri FKUI prevalensi depresi pada wanita 2 kali lebih tinggi


dibanding pria
Stres pada remaja dapat juga disebabkan karena tuntutan dari orang
tua dan masyarakat. Orang tua biasanya menuntut anaknya untuk
mempunyai nilai yang bagus di sekolah, tanpa melihat kemampuan si
anak. Beban berat yang dialami remaja ini dapat menimbulkan berbagai
penyakit seperti sakit kepala, kurangnya nafsu makan, kecemasan yang
berlebihan, dan lain-lain.

Sedangkan kaitannya dengan Stomatitis aftosa rekuren (SAR) atau


lebih dikenali oleh masyarakat awam dengan “sariawan” merupakan salah
satu penyakit yang ulang kambuh pada mukosa mulut yang paling sering
terjadi. SAR merupakan salah satu kasus yang sering dijumpai oleh dokter
gigi diseluruh dunia.

Stomatitis aftosa rekuren (SAR) dapat menyerang siapa saja, tidak


mengenal umur maupun jenis kelamin. Biasanya daerah bagian dalam,
bibir bagian dalam, lidah serta di langit-langit.
Berdasarkan latar belakang stress yang di alami remaja wanita
yang dimana mengakibatkan timbulnya stomatitis aftosa rekuren (SAR)
diatas penulis tertarik untuk mengambil judul “Pengaruh stress terhadap
Stomatitis aftosa rekuren (SAR) pada wanita remaja usia sekolah” Peneliti
mengambil subyek penelitian pada siswi remaja usia sekolah menengah
atas (SMA) di karenakan asumsi dari penulis pada masa masa remaja yang
khususnya duduk di sekolah menengah atas, para siswinya kebanyakan
yang mengalami stress yang di karenakan berbagai kondisi yang di alami
remaja, oleh karena stress yang di alami remaja putri tersebut, dapat
memicu berbagai macam penyakit, salah satunya adalah Stomatitis aftosa
rekuren (SAR).
3

B. Rumusan Masalah
1. Adakah pengaruh antara stress yang di alami oleh para remaja, dengan
penyakit Stomatitis aftosa rekuren (SAR) di kalangan siswi sekolah
menengah atas (SMA)?
2. Bagaimana pengaruh hormon terhadap Stomatitis aftosa rekuren
(SAR) itu sendiri?
3. Mengapa stress yang dapat memicu Stomatitis aftosa rekuren (SAR)
lebih sering terjadi pada remaja wanita usia sekolah?

C. Tujuan Penelitian
1. Tujuan Umum
1. Untuk mengetahui hubungan antara stress dengan penyakit
Stomatitis aftosa rekuren (SAR)
2. Untuk mengetahui faktor-faktor apa saja penyebab stress yang
mempengaruhi terjadinya Stomatitis aftosa rekuren (SAR)

2. Tujuan Khusus

Untuk mengetahui penyebab Stomatitis aftosa rekuren (SAR) dan


hubungannya dengan stress

D. Manfaat Hasil Penelitian


1. Manfaat Hasil Penelitian Bagi Institusi
Agar pihak institusi dapat lebih mudah menindak lanjuti pasien
yang terkena Stomatitis aftosa rekuren (SAR) akibat dari stress itu
sendiri
2. Manfaat Hasil Penelitian Bagi Institusi Lain

Agar institusi dari pihak lain dapat lebih mudah mengembangkan


penelitian stomatitis terhadap stress, yang dimana dasar teori dari
penelitian ini telah dijabarkan oleh penulis
4

3. Manfaat Hasil Penelitian Bagi Peneliti

Agar para penulis dengan mudah mengklarifikasikan berbagai


penyebab stomatitis dan mengetahui penjabaran terhadap hubungan
stress dengan Stomatitis aftosa rekuren (SAR)

4. Manfaat Hasil Penelitian Bagi Pengembangan Ilmu


Agar para pembaca mengerti dan paham tentang bagaimana
pengaruh stress terhadap Stomatitis aftosa rekuren (SAR) itu sendiri.
5

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Stomatitis Aftosa Rekuren (SAR)

Stomatitis Aphtous Reccurent (SAR) atau yang di kalangan awam disebut


sariawan adalah luka yang terbatas pada jaringan lunak rongga mulut. Istilah
recurrent digunakan karena memang lesi ini biasanya hilang timbul. Luka ini
bukan infeksi, dan biasanya timbul soliter atau di beberapa bagian di rongga
mulut seperti pipi, di sekitar bibir, lidah, atau mungkin juga terjadi di tenggorokan
dan langit-langit mulut.

2.1.1 Definisi

SAR merupakan ulser oval rekuren pada mukosa mulut tanpa tanda-tanda
adanya penyakit lain dan salah satu kondisi ulseratif mukosa mulut yang paling
menyakitkan terutama sewaktu makan, menelan dan berbicara. Penyakit ini relatif
ringan karena tidak bersifat membahayakan jiwa dan tidak menular. Tetapi bagi
orang – orang yang menderita SAR dengan frekuensi yang sangat tinggi akan
merasa sangat terganggu. Beberapa ahli menyatakan bahwa SAR bukan
merupakan penyakit yang berdiri sendiri, tetapi lebih merupakan gambaran
beberapa keadaan patologis dengan gejala klinis yang sama. SAR dapat membuat
frustasi pasien dan dokter gigi dalam merawatnya karena kadang-kadang sebelum
ulser yang lama sembuh ulser baru dapat timbul dalam jumlah yang lebih banyak.

2.1.2 Epidemiologi

Prevalensi SAR bervariasi tergantung pada daerah populasi yang di teliti.


Angka prevalensi SAR berkisar 15-25% dari populasi penduduk di seluruh dunia.
Penelitian telah menemukan terjadinya SAR pada dewasa sekitar 2% di Swedia
(1985), 1,9% di Spanyol (2002) dan 0,5% di Malaysia (2000). SAR tampaknya
jarang terjadi di Bedouins Kuwaiti yaitu sekitar 5% dan ditemukan 0,1% pada
masyarakat India di Malaysia. Namun, SAR sangat sering terjadi di Amerika
Utara. Di Indonesia belum diketahui berapa prevalensi SAR di masyarakat, tetapi
dari data klinik penyakit mulut di rumah sakit Ciptomangun Kusumo tahun 1988
sampai dengan 1990 dijumpai kasus SAR sebanyak 26,6%, periode 2003-2004
didapatkan prevalensi SAR dari 101 pasien terdapat kasus SAR 17,3%. SAR lebih
sering dijumpai pada wanita dari pada pria, pada orang dibawah 40 tahun, orang
kulit putih, tidak merokok, dan pada anak-anak. Menurut Smith dan Wray (1999),
SAR dapat terjadi pada semua kelompok umur tetapi lebih sering ditemukan pada
masa dewasa muda. SAR paling sering dimulai selama dekade kedua dari
kehidupan seseorang. Pada sebagian besar keadaan, ulser akan makin jarang
terjadi pada pasien yang memasuki dekade keempat dan tidak pernah terjadi pada
pasien yang memasuki dekade kelima dan keenam.
6

2.1.4 Faktor Predisposisi

Sampai saat ini, etiologi SAR masih belum diketahui dengan pasti. Ulser
pada SAR bukan karena satu faktor saja tetapi multifaktorial yang
memungkinkannya berkembang menjadi ulser. Faktor-faktor ini terdiri dari pasta
gigi dan obat kumur sodium lauryl sulphate (SLS), trauma, genetik, gangguan
immunologi, alergi dan sensitifitas, stres, defisiensi nutrisi, hormonal, merokok,
infeksi bakteri, penyakit sistemik, dan obat-obatan. Dokter gigi sebaiknya
mempertimbangkan bahwa faktor- faktor tersebut dapat memicu perkembangan
ulser SAR.

2.1.4.1 Pasta Gigi dan Obat Kumur SLS

Penelitian menunjukkan bahwa produk yang mengandungi SLS yaitu agen


berbusa paling banyak ditemukan dalam formulasi pasta gigi dan obat kumur,
yang dapat berhubungan dengan peningkatan resiko terjadinya ulser, disebabkan
karena efek dari SLS yang dapat menyebabkan epitel pada jaringan oral menjadi
kering dan lebih rentan terhadap iritasi. Beberapa penelitian telah melaporkan
bahwa peserta yang menggunakan pasta gigi yang bebas SLS mengalami sariawan
yang lebih sedikit. Penurunan ini ditemukan setinggi 81% dalam satu penelitian.
Studi yang sama juga melaporkan bahwa subjek penelitian merasa bahwa
sariawan yang mereka alami kurang menyakitkan daripada pada saat mereka
menggunakan pasta gigi yang menggandung SLS.

2.1.4.2 Trauma

Ulser dapat terbentuk pada daerah bekas terjadinya luka penetrasi akibat
trauma. Pendapat ini didukung oleh hasil pemeriksaan klinis, bahwa sekelompok
ulser terjadi setelah adanya trauma ringan pada mukosa mulut. Umumnya ulser
terjadi karena tergigit saat berbicara, kebiasaan buruk, atau saat mengunyah,
akibat perawatan gigi, makanan atau minuman terlalu panas, dan sikat gigi.
Trauma bukan merupakan faktor yang berhubungan dengan berkembangnya SAR
pada semua penderita tetapi trauma dapat dipertimbangkan sebagai faktor
pendukung.

2.1.4.3 Genetik

Faktor ini dianggap mempunyai peranan yang sangat besar pada pasien
yang menderita SAR. Faktor genetik SAR diduga berhubungan dengan
peningkatan jumlah human leucocyte antigen (HLA), namun beberapa ahli masih
menolak hal tersebut. HLA menyerang sel-sel melalui mekanisme sitotoksik
dengan jalan mengaktifkan sel mononukleus ke epitelium. Sicrus (1957)
berpendapat bahwa bila kedua orangtua menderita SAR maka besar kemungkinan
timbul SAR pada anak-anaknya. Pasien dengan riwayat keluarga SAR akan
menderita SAR sejak usia muda dan lebih berat dibandingkan pasien tanpa
riwayat keluarga SAR.
7

2.1.4.4 Gangguan Immunologi

Tidak ada teori yang seragam tentang adanya imunopatogenesis dari SAR,
adanya disregulasi imun dapat memegang peranan terjadinya SAR. Salah satu
penelitian mungungkapkan bahwa adanya respon imun yang berlebihan pada
pasien SAR sehingga menyebabkan ulserasi lokal pada mukosa. Respon imun itu
berupa aksi sitotoksin dari limfosit dan monosit pada mukosa mulut dimana
pemicunya tidak diketahui. Menurut Bazrafshani dkk, terdapat pengaruh dari IL-
1B dan IL-6 terhadap resiko terjadinya SAR. Menurut Martinez dkk, pada SAR
terdapat adanya hubungan dengan pengeluaran IgA, total protein, dan aliran
saliva. Sedangkan menurut Albanidou-Farmaki dkk, terdapat karakteristik sel T
tipe 1 dan tipe 2 pada penderita SAR.

2.1.4.5 Stres

Stres merupakan respon tubuh dalam menyesuaikan diri terhadap


perubahan lingkungan yang terjadi terus menerus yang berpengaruh terhadap fisik
dan emosi. Stres dinyatakan merupakan salah satu faktor yang berperan secara
tidak langsung terhadap ulser stomatitis rekuren ini. Faktor stres ini akan dibahas
dengan lebih rinci pada subbab selanjutnya.

2.1.4.6 Defisiensi Nutrisi

Wray (1975) meneliti pada 330 pasien SAR dengan hasil 47 pasien
menderita defisiensi nutrisi yaitu terdiri dari 57% defisiensi zat besi, 15%
defisiensi asam folat, 13% defisiensi vitamin B12, 21% mengalami defisiensi
kombinasi terutama asam folat dan zat besi dan 2% defisiensi ketiganya. Penderita
SAR dengan defisiensi zat besi, vitamin B12 dan asam folat diberikan terapi
subtitusi vitamin tersebut hasilnya 90% dari pasien tersebut mengalami perbaikan.
Faktor nutrisi lain yang berpengaruh pada timbulnya SAR adalah vitamin B1, B2
dan B6. Dari 60 pasien SAR yang diteliti, ditemukan 28,2% mengalami
penurunan kadar vitamin-vitamin tersebut. Penurunan vitamin B1 terdapat 8,3%,
B2 6,7%, B6 10% dan 33% kombinasi ketiganya. Terapi dengan pemberian
vitamin tersebut selama 3 bulan memberikan hasil yang cukup baik, yaitu ulserasi
sembuh dan rekuren berkurang. Dilaporkan adanya defisiensi Zink pada penderita
SAR, pasien tersebut diterapi dengan 50 mg Zink Sulfat peroral tiga kali sehari
selama tiga bulan. Lesi SAR yang persisten sembuh dan tidak pernah kambuh
dalam waktu satu tahun. Beberapa peneliti lain juga mengatakan adanya
kemungkinan defisiensi Zink pada pasien SAR karena pemberian preparat Zink
pada pasien SAR menunjukkan adanya perbaikan, walaupun kadar serum Zink
pada pasien SAR pada umumnya normal.
8

2.1.4.7 Hormonal

Pada wanita, sering terjadinya SAR di masa pra menstruasi bahkan banyak
yang mengalaminya berulang kali. Keadaan ini diduga berhubungan dengan
faktor hormonal. Hormon yang dianggap berperan penting adalah estrogen dan
progesteron. Dua hari sebelum menstruasi akan terjadi penurunan estrogen dan
progesteron secara mendadak. Penurunan estrogen mengakibatkan terjadinya
penurunan aliran darah sehingga suplai darah utama ke perifer menurun dan
terjadinya gangguan keseimbangan sel-sel termasuk rongga mulut, memperlambat
proses keratinisasi sehingga menimbulkan reaksi yang berlebihan terhadap
jaringan mulut dan rentan terhadap iritasi lokal sehingga mudah terjadi SAR.
Progesteron dianggap berperan dalam mengatur pergantian epitel mukosa mulut.

2.1.4.8 Infeksi Bakteri

Graykowski dan kawan-kawan pada tahun 1966 pertama kali menemukan


adanya hubungan antara bakteri Streptokokus bentuk L dengan lesi SAR dengan
penelitian lebih lanjut ditetapkan bahwa Streptokokus sanguis sebagai penyebab
SAR. Donatsky dan Dablesteen mendukung pernyataan tersebut dengan
melaporkan adanya kenaikan titer antibodi terhadap Streptokokus sanguis 2A
pada pasien SAR dibandingkan dengan kontrol.

2.1.4.9 Alergi dan Sensitifitas

Alergi adalah suatu respon imun spesifik yang tidak diinginkan


(hipersensitifitas) terhadap alergen tertentu. Alergi merupakan suatu reaksi
antigen dan antibodi. Antigen ini dinamakan alergen, merupakan substansi protein
yang dapat bereaksi dengan antibodi, tetapi tidak dapat membentuk antibodinya
sendiri. SAR dapat terjadi karena sensitifitas jaringan mulut terhadap beberapa
bahan pokok yang ada dalam pasta gigi, obat kumur, lipstik atau permen karet dan
bahan gigi palsu atau bahan tambalan serta bahan makanan. Setelah berkontak
dengan beberapa bahan yang sensitif, mukosa akan meradang dan edematous.
Gejala ini disertai rasa panas, kadang-kadang timbul gatal-gatal, dapat juga
berbentuk vesikel kecil, tetapi sifatnya sementara dan akan pecah membentuk
daerah erosi kecil dan ulser yang kemudian berkembang menjadi SAR.

2.1.4.10 Obat-obatan

Penggunaan obat nonsteroidal anti-inflamatori (NSAID), beta blockers,


agen kemoterapi dan nicorandil telah dinyatakan berkemungkinan menempatkan
seseorang pada resiko yang lebih besar untuk terjadinya SAR.
9

2.1.4.11 Penyakit Sistemik

Beberapa kondisi medis yang berbeda dapat dikaitkan dengan kehadiran


SAR. Bagi pasien yang sering mengalami kesulitan terus-menerus dengan SAR
harus dipertimbangkan adanya penyakit sistemik yang diderita dan perlu
dilakukan evaluasi serta pengujian oleh dokter. Beberapa kondisi medis yang
dikaitkan dengan keberadaan ulser di rongga mulut adalah penyakit Behcet’s,
penyakit disfungsi neutrofil, penyakit gastrointestinal, HIV-AIDS, dan sindroma
Sweet’s.

2.1.4.12 Merokok

Adanya hubungan terbalik antara perkembangan SAR dengan merokok.


Pasien yang menderita SAR biasanya adalah bukan perokok, dan terdapat
prevalensi dan keparahan yang lebih rendah dari SAR diantara perokok berat
berlawanan dengan yang bukan perokok. Beberapa pasien melaporkan mengalami
SAR setelah berhenti merokok.

2.1.3 Gambaran Klinis

Gambaran klinis SAR penting untuk diketahui karena tidak ada metode
diagnosa laboratoriam spesifik yang dapat dilakukan untuk menegakkan diagnosa
SAR. SAR diawali gejala prodormal yang digambarkan dengan rasa sakit dan
terbakar selama 24-48 jam sebelum terjadi ulser. Ulser ini menyakitkan, berbatas
jelas, dangkal, bulat atau oval, tertutup selaput pseudomembran kuning keabu-
abuan, dan dikelilingi pinggiran yang eritematus dan dapat bertahan untuk
beberapa hari atau bulan. Tahap perkembangan SAR dibagi kepada 4 tahap yaitu:

1. Tahap premonitori, terjadi pada 24 jam pertama perkembangan lesi SAR.


Pada waktu prodromal, pasien akan merasakan sensasi mulut terbakar
pada tempat dimana lesi akan muncul. Secara mikroskopis sel-sel
mononuklear akan menginfeksi epitelium, dan edema akan mulai
berkembang.

2. Tahap pre-ulserasi, terjadi pada 18-72 jam pertama perkembangan lesi


SAR. Pada tahap ini, makula dan papula akan berkembang dengan tepi
eritematus. Intensitas rasa nyeri akan meningkat sewaktu tahap pre-
ulserasi ini.

3. Tahap ulseratif akan berlanjut selama beberapa hari hingga 2 minggu. Pada
tahap ini papula-papula akan berulserasi dan ulser itu akan diselaputi oleh
lapisan fibromembranous yang akan diikuti oleh intensitas nyeri yang
berkurang.
10

4. Tahap penyembuhan, terjadi pada hari ke - 4 hingga 35. Ulser tersebut


akan ditutupi oleh epitelium. Penyembuhan luka terjadi dan sering tidak
meninggalkan jaringan parut dimana lesi SAR pernah muncul. Semua lesi
SAR menyembuh dan lesi baru berkembang. Berdasarkan hal tersebut
SAR dibagi menjadi tiga tipe yaitu stomatitis aftosa rekuren tipe minor,
stomatitis aftosa rekuren tipe mayor, dan stomatitis aftosa rekuren tipe
herpetiformis.

2.1.3.1 SAR Tipe Minor

Tipe minor mengenai sebagian besar pasien SAR yaitu 75% sampai
dengan 85% dari keseluruhan SAR, yang ditandai dengan adanya ulser berbentuk
bulat dan oval, dangkal, dengan diameter 1-10 mm, dan dikelilingi oleh pinggiran
yang eritematous. Ulserasi dari tipe minor cenderung mengenai daerah-daerah
non-keratin, seperti mukosa labial, mukosa bukal dan dasar mulut. Ulserasi biasa
tunggal atau merupakan kelompok yang terdiri atas 4-5 ulser dan akan sembuh
dalam waktu 10-14 hari tanpa meninggalkan bekas jaringan parut.

2.1.3.2 SAR Tipe Mayor

Tipe mayor diderita 10%-15% dari penderita SAR dan lebih parah dari
tipe minor. Ulser biasanya tunggal, berbentuk oval dan berdiameter sekitar 1-3
cm, berlangsung selama 2 minggu atau lebih dan dapat terjadi pada bagian mana
saja dari mukosa mulut, termasuk daerah-daerah berkeratin. Ulser yang besar,
dalam serta bertumbuh dengan lambat biasanya terbentuk dengan bagian tepi yang
menonjol serta eritematous dan mengkilat, yang menunjukkan bahwa terjadi
edema. Selalu meninggalkan jaringan parut setelah sembuh dan jaringan parut
tersebut terjadi karena keparahan dan lamanya ulser.

2.1.3.3 SAR Tipe Herpetiformis

Istilah herpetiformis pada tipe ini dipakai karena bentuk klinisnya (yang
dapat terdiri dari 100 ulser kecil-kecil pada satu waktu) mirip dengan
gingivostomatitis herpetik primer, tetapi virus-virus herpes tidak mempunyai
peran etiologi pada SAR tipe herpetiformis. SAR tipe herpetiformis jarang terjadi
yaitu sekitar 5%-10% dari kasus SAR. Setiap ulser berbentuk bulat atau oval,
mempunyai diameter 0,5- 3,0 mm dan bila ulser bergabung bentuknya tidak
teratur. Setiap ulser berlangsung selama satu hingga dua minggu dan tidak akan
meninggalkan jaringan parut ketika sembuh

2.1.5 Diagnosa

Diagnosis SAR didasarkan pada anamnesa dan gambaran klinis dari ulser.
Biasanya pada anamnesa, pasien akan merasakan sakit dan terbakar pada
mulutnya, lokasi ulser berpindah-pindah dan sering berulang. Harus ditanyakan
sejak dari umur berapa terjadi, lama (durasi), serta frekuensi ulser. Setiap
hubungan dengan factor predisposisi juga harus dicatat. Pada pemeriksaan fisik
11

dapat ditemukan ulser pada bagian mukosa mulut dengan bentuk yang oval
dengan lesi ±1 cm yang jumlahnya sekitar 2-6. Pemeriksaan tambahan diperlukan
seperti pemeriksaan sitologi, biopsi, dan kultur bila ulser tidak kunjung sembuh.

2.1.6 Perawatan

Dalam upaya melakukan perawatan terhadap pasien SAR, tahapannya adalah :

1. Edukasi bertujuan untuk memberikan informasi mengenai penyakit yang


dialami yaitu SAR agar mereka mengetahui dan menyadarinya.

2. Instruksi bertujuan agar dapat dilakukan tindakan pencegahan dengan


menghindari faktor-faktor yang dapat memicu terjadinya SAR.

3. Pengobatan bertujuan untuk mengurangi gejala yang dihadapi agar pasien


dapat mendapatkan kualitas hidup yang menyenangkan.

Tindakan pencegahan timbulnya SAR dapat dilakukan diantaranya dengan


menjaga kebersihan rongga mulut, menghindari stres serta mengkonsumsi nutrisi
yang cukup, terutama yang mengandung vitamin B12 dan zat besi. Menjaga
kebersihan rongga mulut dapat juga dilakukan dengan berkumur-kumur
menggunakan air garam hangat atau obat kumur. SAR juga dapat dicegah dengan
mengutamakan konsumsi makanan kaya serat seperti sayur dan buah yang
mengandung vitamin C, B12, dan mengandung zat besi.

Karena penyebab SAR sulit diketahui maka pengobatannya hanya untuk


mengobati keluhannya saja. Perawatan merupakan tindakan simtomatik dengan
tujuan untuk mengurangi gejala, mengurangi jumlah dan ukuran ulkus, dan
meningkatkan periode bebas penyakit. Bagi pasien yang mengalami stomatitis
aftosa rekuren mayor, perawatan diberikan dengan pemberian obat untuk
penyembuhan ulser dan diinstruksikan cara pencegahan. Bagi pasien yang
mengalami SAR akibat trauma pengobatan tidak diindikasikan. Pasien yang
menderita SAR dengan kesakitan yang sedang atau parah, dapat diberikan obat
kumur yang mengandung benzokain dan lidokain yang kental untuk
menghilangkan rasa sakit jangka pendek yang berlangsung sekitar 10-15 menit.
Bagi menghilangkan rasa sakit yang berlangsung sehingga enam jam, dapat
diberikan zilactin secara topikal. Zilactin dapat lengket pada ulser dan membentuk
membran impermeabel yang melindungi ulser dari trauma dan iritasi lanjut. Dapat
juga diberikan ziladent yang juga mengandung benzokain untuk topikal analgesia.
Selain itu, dapat juga menggunakan larutan betadyne secara topikal dengan efek
yang sama. Dyclone digunakan sebagai obat kumur tetapi hanya sebelum makan
dan sebelum tidur. Aphthasol merupakan pasta oral amlexanox yang mirip dengan
zilactin yang digunakan untuk mengurangi rasa sakit dengan membentuk lapisan
pelindung pada ulser. Bagi mempercepat penyembuhan ulser, glukokortikoid,
baik secara oral atau topikal adalah andalan terapi. Topikal betametason yang
mengandung sirup dan fluocinonide ointment dapat digunakan pada kasus SAR
yang ringan. Pemberian prednison secara oral ( sampai 15 mg / hari) pada ksaus
12

SAR yang lebih parah. Hasil terapeutik dalam dilihat dalam satu minggu.
Thalidomide adalah obat hipnotis yang mengandung imunosupresif dan anti-
inflamasi. Obat ini telah digunakan dalam pengobatan stomatitis aftosa rekuren
mayor, sindrom Behcet, serta eritema nodosum. Namun, resiko pada teratogenesis
telah membatasi penggunaannya. Klorheksidin adalah obat kumur antibakteri
yang mempercepatkan penyembuhan ulser dan mengurangi keparahan lesi SAR.
Selain itu, tetrasiklin diberikan sesuai dengan efek anti streptokokus, tetrasiklin
250mg dalam 10 cc sirup direkomendasikan sebagai obat kumur, satu kali sehari
selama dua minggu. Levamisol telah dianjurkan sebagai perawatan yang mungkin
untuk SAR, namun oleh karena efek samping immunostimulatornya, pemakaian
obat ini kurang diindikasikan. Pemberian obat-obatan tertentu yang tidak
diperbolehkan hanya dapat merusak jaringan normal disekeliling ulser dan bila
pemakaiannya berlebihan maka akan mematikan jaringan dan dapat memperluas
ulser.

2.2 Peranan Faktor Stres

Stres adalah stimulus atau situasi yang menimbulkan distres dan


menciptakan tuntutan fisik dan psikis pada seseorang. Stres membutuhkan koping
dan adaptasi. Sindrom adaptasi umum atau teori Selye, menggambarkan stres
sebagai kerusakan yang terjadi pada tubuh tanpa mempedulikan apakah penyebab
stres tersebut positif atau negatif. Respons tubuh dapat diprediksi tanpa
memerhatikan stresor atau penyebab tertentu (Isaacs, 2004).

Stres adalah reaksi/respons tubuh terhadap stresor psikososial (tekanan


mental/beban kehidupan). Stres dewasa ini digunakan secara bergantian untuk
menjelaskan berbagai stimulus dengan intensitas berlebihan yang tidak disukai
berupa respons fisiologis, perilaku, dan subjektif terhadap stres; konteks yang
menjembatani pertemuan antara individu dengan stimulus yang membuat stres;
semua sebagai suatu sistem (WHO, 2003; 158).

Stres menurut Hans Selye dalam buku Hawari (2001) menyatakan bahwa
stres adalah respon tubuh yang sifatnya nonspesifik terhadap setiap tuntutan
beban atasnya. Bila seseorang setelah mengalami stres mengalami gangguan pada
satu atau lebih organ tubuh sehingga yang bersangkutan tidak lagi dapat
menjalankan fungsi pekerjaannya dengan baik, maka ia disebut mengalami
distres. Pada gejala stres, gejala yang dikeluhkan penderita didominasi oleh
keluhan-keluhan somatik (fisik), tetapi dapat pula disertai keluhan-keluhan psikis.
Tidak semua bentuk stres mempunyai konotasi negatif, cukup banyak yang
bersifat positif, hal tersebut dikatakan eustres.

2.2.1 Stres dan Stresor

Dalam ilmu psikologi stres diartikan sebagai suatu kondisi kebutuhan


tidak terpenuhi secara adekuat, sehingga menimbulkan adanya
13

ketidakseimbangan. Taylor (1995) mendeskripsikan stres sebagai pengalaman


emosional negatif disertai perubahan reaksi biokimiawi, fisiologis, kognitif dan
perilaku yang bertujuan untuk mengubah atau menyesuaikan diri terhadap situasi
yang menyebabkan stres. Dalam menghadapai stres seseorang dapat mengadakan
penyesuaian diri secara efektif yaitu bersifat objektif, resional, dan efektif. Setiap
orang mempunyai cara-cara penyesuaian diri yang khusus terhadap stres yang
dialami, yang tergantung dari kemampuan, pengaruh lingkungan, pendidikan dan
pengembangan diri. Faktor-faktor yang dapat menimbulkan stres disebut stresor.
Stresor adalah semua kondisi stimulasi yang berbahaya dan menghasilkan reaksi
stres, misalnya jumlah semua respons fisiologik nonspesifik yang menyebabkan
kerusakan dalam sistem biologis. Stress reaction acute (reaksi stres akut) adalah
gangguan sementara yang muncul pada seorang individu tanpa adanya gangguan
mental lain yang jelas, terjadi akibat stres fisik dan atau mental yang sangat berat,
biasanya mereda dalam beberapa jam atau hari. Kerentanan dan kemampuan
koping (coping capacity) seseorang memainkan peranan dalam terjadinya reaksi
stres akut dan keparahannya.

Beberapa tipe stresor yaitu :

a) Fisikokimia : lingkungan eksternal misalnya perubahan iklim dan


cuaca, polusi, bencana dan zat kimia.

b) Sosial : lingkungan sosial misalnya lingkungan hidup seperti


pekerjaan, rumah, pendidikan, dan hubungan antara
manusia.

c) Biologis : lingkungan internal yaitu beberapa perubahan yang


terjadi di dalam tubuh. Misalnya penyakit, cedera,
kelelahan, dan lain-lain.

d) Psikis :kondisi psikologis seperti perkara yang menyenangkan


dan tidak menyenangkan.

2.2.2 Tipe Kepribadian Yang Rentan Terkena Stress

. 1) Ambisius, agresif dan kompetitif (suka akan persaingan).

. 2) Kurang sabar, mudah tegang, mudah tersinggung dan marah 
(emosional).

. 3) Kewaspadaan berlebihan, kontrol diri kuat, percaya diri berlebihan 
(over


confidence)

. 4) Cara bicara cepat, bertindak serba cepat, hiperaktif, tidak dapat diam.

. 5) Bekerja tidak mengenal waktu (workaholic).


14

. 6) Pandai berorganisasi, memimpin dan memerintah (otoriter).

. 7) Lebih suka bekerja sendirian bila ada tantangan.

. 8) Kaku terhadap waktu, tidak dapat tenang (tidak rileks), serba tergesa-

gesa.

. 9) Mudah bergaul (ramah), pandai menimbulkan perasaan empati dan 
bila


tidak tercapai maksudnya mudah besikap bermusuhan.

. 10) Tidak mudah dipengaruh, kaku (tidak fleksibel).

. 11) Bila berlibur pikirannya ke pekerjaannya, tidak dapat santai.

. 12) Berusaha keras untuk dapat segala sesuatunya terkendali.

2.2.3 Tahapan Stress

Gejala-gejala stres pada diri seseorang seringkali tidak disadari karena


perjalanan awal tahapan stres timbul secara lambat, dan baru dirasakan bilamana
tahapan gejala sudah lanjut dan mengganggu fungsi kehidupannya sehari-hari
baik di rumah, di tempat kerja ataupun pergaulan lingkungan sosialnya. Dr.
Robert J. an Amberg (1979) dalam penelitiannya terdapat dalam Hawari (2001)
membagi tahapan-tahapan stres sebagai berikut :

 Stres tahap I

Tahapan ini merupakan tahapan stres yang paling ringan dan biasanya
disertai dengan perasaan-perasaan sebagai berikut: 1) Semangat bekerja besar,
berlebihan (over acting); 2) Penglihatan “tajam” tidak sebagaimana biasanya; 3)
Merasa mampu menyelesaikan pekerjaan lebih dari biasanya, namun tanpa
disadari cadangan energi semakin menipis.

 Stres tahap II

Dalam tahapan ini dampak stres yang semula “menyenangkan”


sebagaimana diuraikan pada tahap I di atas mulai menghilang, dan timbul
keluhan-keluhan yang disebabkan karena cadangan energi yang tidak lagi cukup
sepanjang hari, karena tidak cukup waktu untuk beristirahat. Istirahat yang
dimaksud antara lain dengan tidur yang cukup, bermanfaat untuk mengisi atau
memulihkan cadangan energi yang mengalami defisit. Keluhan- keluhan yang
sering dikemukakan oleh seseorang yang berada pada stres tahap II adalah sebagai
berikut: 1) Merasa letih sewaktu bangun pagi yang seharusnya merasa segar; 2)
Merasa mudah lelah sesudah makan siang; 3) Lekas merasa capai menjelang sore
hari; 4) Sering mengeluh lambung/perut tidak nyaman (bowel discomfort); 5)
Detakan jantung lebih keras dari biasanya (berdebar-debar); 6) Otot-otot
punggung dan tengkuk terasa tegang; 7) Tidak bisa santai.
15

 Stres Tahap III

Apabila seseorang tetap memaksakan diri dalam pekerjaannya tanpa


menghiraukan keluhan-keluhan pada stres tahap II, maka akan menunjukkan
keluhan-keluhan yang semakin nyata dan mengganggu, yaitu: 1) Gangguan
lambung dan usus semakin nyata; misalnya keluhan “maag”(gastritis), buang air
besar tidak teratur (diare); 2) Ketegangan otot-otot semakin terasa; 3) Perasaan
ketidaktenangan dan ketegangan emosional semakin meningkat; 4) Gangguan
pola tidur (insomnia), misalnya sukar untuk mulai masuk tidur (early insomnia),
atau terbangun tengah malam dan sukar kembali tidur (middle insomnia), atau
bangun terlalu pagi atau dini hari dan tidak dapat kembali tidur (Late insomnia);
5) Koordinasi tubuh terganggu (badan terasa oyong dan serasa mau pingsan).

Pada tahapan ini seseorang sudah harus berkonsultasi pada dokter untuk
memperoleh terapi, atau bisa juga beban stres hendaknya dikurangi dan tubuh
memperoleh kesempatan untuk beristirahat guna menambah suplai energi yang
mengalami defisit.

 Stres Tahap IV

Gejala stres tahap IV, akan muncul: 1) Untuk bertahan sepanjang hari saja
sudah terasa amat sulit; 2) Aktivitas pekerjaan yang semula menyenangkan dan
mudah diselesaikan menjadi membosankan dan terasa lebih sulit; 3) Yang semula
tanggap terhadap situasi menjadi kehilangan kemampuan untuk merespons secara
memadai (adequate); 4) Ketidakmampuan untuk melaksanakan kegiatan rutin
sehari-hari; 5) Gangguan pola tidur disertai dengan mimpi-mimpi yang
menegangkan; Seringkali menolak ajakan (negativism) karena tiada semangat dan
kegairahan; 6) Daya konsentrasi daya ingat menurun; 7) Timbul perasaan
ketakutan dan kecemasan yang tidak dapat dijelaskan apa penyebabnya.

 Stres Tahap V

Bila keadaan berlanjut, maka seseorang itu akan jatuh dalam stres tahap V,
yang ditandai dengan hal-hal sebagai berikut: 1) Kelelahan fisik dan mental yang
semakin mendalam (physical dan psychological exhaustion); 2) Ketidakmampuan
untuk menyelesaikan pekerjaan sehari-hari yang ringan dan sederhana; 3)
Gangguan sistem pencernaan semakin berat (gastro- intestinal disorder); 4)
Timbul perasaan ketakutan, kecemasan yang semakin meningkat, mudah bingung
dan panik.

 Stres Tahap VI

Tahapan ini merupakan tahapan klimaks, seseorang mengalami serangan panik


(panic attack) dan perasaan takut mati. Tidak jarang orang yang mengalami stres
tahap VI ini berulang dibawa ke Unit Gawat Darurat bahkan ICCU, meskipun
16

pada akhirnya dipulangkan karena tidak ditemukan kelainan fisik organ tubuh.
Gambaran stres tahap VI ini adalah sebagai berikut: 1) Debaran jantung teramat
keras; 2) Susah bernapas (sesak dan megap-megap); 3) Sekujur badan terasa
gemetar, dingin dan keringat bercucuran; 4) Ketiadaan tenaga untuk hal-hal yang
ringan; 5) Pingsan atau kolaps (collapse).

Bila dikaji maka keluhan atau gejala sebagaimana digambarkan di atas


lebih didominasi oleh keluhan-keluhan fisik yang disebabkan oleh gangguan faal
(fungsional) organ tubuh, sebagai akibat stresor psikososial yang melebihi
kemampuan seseorang untuk mengatasinya.

2.2.4 Pengukuran Tingkat Stress

Tingkat stres adalah hasil penilaian terhadap berat ringannya stres yang
dialami seseorang (Hardjana, 1994). Tingkatan stres ini diukur dengan
menggunakan Depression Anxiety Stress Scale 42 (DASS 42) oleh Lovibond &
Lovibond (1995). Psychometric Properties of The Depression Anxiety Stress
Scale 42 (DASS) terdiri dari 42 item. DASS adalah seperangkat skala subyektif
yang dibentuk untuk mengukur status emosional negatif dari depresi, kecemasan
dan stres. DASS 42 dibentuk tidak hanya untuk mengukur secara konvensional
mengenai status emosional, tetapi untuk

proses yang lebih lanjut untuk pemahaman, pengertian, dan pengukuran


yang berlaku di manapun dari status emosional, secara signifikan biasanya
digambarkan sebagai stres. DASS dapat digunakan baik itu oleh kelompok atau
individu untuk tujuan penelitian.

Tingkatan stres pada instrumen ini berupa normal, ringan, sedang, berat,
sangat berat. Psychometric Properties of The Depression Anxiety Stress Scale 42
(DASS) terdiri dari 42 item, yang dimodifikasi dengan penambahan item menjadi
49 item, penambahannya dari item 43-49 yang mencakup 3 subvariabel, yaitu
fisik, emosi/psikologis, dan perilaku. Jumlah skor dari pernyataan item tersebut,
memiliki makna 0-29 (normal); 30-59 (ringan); 60-89 (sedang); 90-119 (berat);
>120 (Sangat berat).

2.2.5 Respon Stres

Menurut Selye (1956), General Adaptation Syndrome (GAS) merupakan


salah satu teori yang paling banyak diterima mengenai stres dan dampaknya
terhadap tubuh manusia. Ketika tubuh bertemu stresor, penyesuaian terjadi dalam
upaya tubuh mendapatkan kembali keseimbangannya (homeostatis). Pada tahap
pertama GAS, terjadinya reaksi alarm. Setiap trauma fisik atau mental akan
memicu reaksi yang segera dalam menghambat stres. Akibat dari sistem imun
tubuh yang pada awalnya tertekan, tingkat normal daya tahan tubuh akan menurun
menyebabkan tubuh lebih rentan terhadap infeksi dan penyakit. Jika stres yang
17

dihadapi ringan dan tidak berlangsung lama, tubuh akan kembali normal dan pulih
dengan cepat. Pada tahap kedua GAS, terjadinya resistensi atau adaptasi tubuh
akibat dari stresor yang tidak dapat diatasi. Akhirnya, tubuh beradaptasi terhadap
stres dan cenderung menyebabkan tubuh lebih tahan terhadap penyakit. Pada
keadaan ini, sistem imun bekerja lebih supaya dapat mengikuti kebutuhan yang
diharapkan. Sering kali individu merasa bahwa telah berhasil mengatasi efek stres
dan tubuh mereka kebal terhadap efek stres. Pada tahap ketiga GAS, terjadinya
kelelahan yaitu tubuh telah kehabisan energi dan daya tahan tubuh. Tubuh
mengalami kelelahan adrenal yang hebat dari segi mental, fisik dan emosi.
Apabila adrenal semakin berkurang, terjadinya penurunan kadar gula darah
menyebabkan penurunan toleransi terhadap stres, kelelahan mental dan fisik yang
terus berkembang maka tubuh tidak berdaya, dan timbulnya penyakit. Bagi
mendukung asumsi ini, Mcnally telah melakukan penelitian dan ditemukan SAR
pada responden yang mengalami tingkat stres yang tinggi.

2.2.3 Stres dan Stomatitis Aftosa Rekuren

Telah beberapa dekade dilakukan penelitian empiris klinis yang


menunjukkan bahwa faktor psikis mempunyai peranan dalam terjadinya penyakit
SAR. Genco et.al. (1998) menuliskan stres jalur umum dari terjadinya sejumlah
penyakit kronik, salah satu bagian tubuh yang dapat dipengaruhi oleh stres adalah
rongga mulut. Beberapa peneliti telah membuktikan adanya hubungan yang
signifikan antara stresor psikologis dengan pengaruh sistem imun, dimana respon
imun tubuh dapat dimodulasi oleh stresor psikologis. Pada kondisi stres,
hipotalamus memicu aktivitas sepanjang aksis HPA (hypothalamus-pituitary-
adrenal cortex). Aderenal korteks mengeluarkan kortisol yang menghambat
komponen dari respon imun. Kortisol ini akan melepaskan glukokortikoid dan
katekolamin yang akan menyebabkan penurunan produksi INF-γ (sitokin tipe 1)
dan meningkatkan produksi IL-10 dan IL-4 (sitokin tipe 2) yang akan memicu
terjadinya perubahan keseimbangan sitokin tipe 1/tipe 2 yang lebih ke arah respon
tipe 2. Namun, penelitian terbaru menyatakan bahwa disregulasi dari
keseimbangan sitokin tipe 1/tipe 2 inilah yang memainkan peranan penting dalam
menghubungkan pengaruh stres terhadap sistem imun. Dalam upaya
menghasilkan homeostatis akibat stres sering menghasilkan kondisi patologis
terhadap tubuh. Stres akibat stresor psikologis dapat mengakibatkan perubahan
tingkat molekul pada berbagai sel imunokompeten. Berbagai perubahan tersebut
dapat mengakibatkan keadaan patologis pada sel epitel mukosa rongga mulut,
sehingga sel epitel lebih peka terhadap rangsangan. Menurut penelitian Mcnally,
menunjukkan kebanyakan orang yang menderita ulser mempunyai level stres
yang meningkat. Sedangkan pasien yang menderita ulser pada waktu stres, maka
ulser akan menjadi lebih parah, dan pada beberapa studi telah dilaporkan ada
hubungan diantara keduanya. Dengan meningkatnya stresor seiring perkembangan
zaman, maka prevalensi SAR yang berhubungan dengan stresor psikologis dapat
diduga akan lebih tinggi.

2.2.4 Perawatan
18

Perawatan pasien SAR yang berhubungan dengan stres psikologis, dapat


dilakukan dengan mengurangi tingkat stres yang diamati, dengan cara konseling
dan psikoterapi pada kasus SAR yang parah dan dukungan sosial teman atau
keluarga pada kasus yang kurang parah. Menurut Janicki (1971), konseling dan
psikoterapi kelihatannya mempunyai efek terhadap seringnya dan rekurensi dalam
mengurangi terjadinya SAR. Selain itu, beberapa penelitian menunjukkan bahwa
dukungan sosial mempunyai efek pendukung sistem imun.

2.3 Remaja

2.3.1 Pengertian Pubertas

Istilah pubertas digunakan untuk menyatakan perubahan biologis yang


meliputi morfologi dan fisiologi yang terjadi dengan pesat dari masa anak ke
masa dewasa, terutama kapasitas reproduksi yaitu perubahan alat kelamin dari
tahap anak ke dewasa. Sedangkan yang dimaksud dengan istilah adolesen, dulu
merupakan sinonim dari pubertas, sekarang lebih ditekankan untuk menyatakan
perubahan psikososial yang menyertai pubertas. Walaupun begitu, akselerasi
pertumbuhan somatik yang merupakan bagian dari perubahan fisik pada pubertas,
disebut sebagai pacu tumbuh adolesen (adolescent growth spurt). Penggunaan
istilah untuk menyebutkan masa peralihan dari masa anak dengan masa dewasa,
ada yang memberi istilah : puberty (Inggris), puberteit (Belanda), pubertas
(Latin), yang berarti kedewasaan yang dilandasi oleh sifat dan tanda-tanda kelaki-
lakian. Ada pula yang menggunakan istilah adulescentio (Latin) yaitu masa muda.
Istilah Pubescence yang berasal dari kata pubis yang dimaksud pubishair atau
rambut di sekitar kemaluan. Dengan tumbuhnya rambut itu suatu pertanda masa
kanak-kanak berakhir dan menuju kematangan/kedewasaan seksual (Rumini,
2004).

2.3.2 Batasan Usia Remaja

Dalam tumbuh kembangnya menuju dewasa, berdasarkan kematangan


psikososial dan seksual, semua remaja akan melewati tahapan berikut : 1) Masa
remaja awal/dini (Early adolescence): umur 11-13 tahun; Masa remaja
pertengahan (Middle adolescence): umur 14-16 tahun; 3) Masa remaja lanjut
(Late adolescence): umur 17-20 tahun.

Tahapan ini mengikuti pola yang konsisten untuk masing-masing individu.


Walaupun setiap tahap mempunyai ciri tersendiri tetapi tidak mempunyai batas
yang jelas, karena proses tumbuh kembang berjalan secara berkesinambungan.

Batasan masa remaja dari berbagai ahli memang sangat bervariasi, di sini
dapat diajukan batasan: Masa remaja adalah masa peralihan dari masa anak
dengan masa dewasa yang mengalami perkembangan semua aspek/fungsi untuk
memasuki masa dewasa.

Hurlock (1990:184) menggunakan istilah masa puber namun ia


19

menjelaskan bahwa puber adalah periode tumpang tindih, karena mancakup


tahun-tahun akhir masa kanak-kanak dan tahun-tahun awal masa remaja.
Pembagiannya sebagai berikut : 1) Tahap prapuber yaitu bagi wanita 11-13 tahun
dan pria 14-16 tahun; 2) Tahap puber yaitu wanita 13-17 tahun dan pria 14-17
tahun 6 bulan; 3) Tahap pasca puber yaitu wanita 17-21 tahun dan pria 17 tahun 6
bulan-21 tahun.

Jadi, Hurlock membedakan antara wanita dan pria, namun kedua jenis
memerlukan kurun usia puber selama 4 tahun. Dikatakan periode tumpang tindih
karena dua tahun akhir masa anak-anak akhir dan dua tahun awal masa remaja
awal sehingga disebut pula periode unik.

Tinjauan psikologis yang ditujukan pada seluruh proses perkembangan


remaja dengan batas usia 12 sampai dengan 22 tahun. Maka selanjutnya dari
perkembangan kurun waktu dapat disimpulkan : 1) Masa praremaja kurun
waktunya sekitar 11 sampai dengan 13 tahun bagi wanita dan pria sekitar 12
sampai dengan 14 tahun; 2) Masa remaja awal sekitar 13 sampai dengan 17 tahun
bagi wanita dan bagi pria 14 sampai dengan 17 tahun 6 bulan; 3) Masa remaja
akhir sekitar 17 sampai dengan 21 tahun bagi wanita dan bagi pria sekitar 17
tahun 6 bulan sampai dengan 22 tahun.

2.3.3 Perkembangan Mental Masa Pubertas dan Remaja (11-19 tahun).

Dalam masa ini terjadi proses pematangan seksual dan hal ini diperlukan
untuk membentuk ciri-ciri kelakuan dalam pergaulan antara anak-anak berlainan
jenis kelamin. Selain proses ini, juga persamaan hak dari orang tua merupakan hal
yang penting. Persamaan hak ini membawa perubahan terakhir dalam
keseimbangan antara keadaan masih tergantung dengan kemampuan berdiri
sendiri.

Hubungan dengan teman-teman sebaya penting dan baik, karena hubungan


ini memberikan rasa aman dan kepastian kepada seorang remaja dan merupakan
hubungan yang tidak diperoleh di dalam rumah. Seorang remaja yang sedang
dalam suasana memberontak terhadap orang tuanya, mengetahui bahwa ia tidak
mau melaksanakan apa yang sebenarnya harus ia lakukan. Dengan demikian,
seorang remaja dapat memperluas pengetahuan dan pandangannya, tetapi juga
dapat mengubah kelakuan yang masih kekanak-kanakan menjadi kelakuan yang
lebih sesuai dengan norma yang semestinya.

Perkembangan digunakan untuk menunjukkan bertambahnya keterampilan


dan fungsi yang kompleks. Seseorang berkembang dalam pengaturan
neuromuskuler, berkembang dalam mempergunakan tangan kanannya dan
terbentuk pula kepribadiannya. Maturasi dan diferensiasi sering dipergunakan
sebagai sinonim untuk perkembangan.

2.3.4 Tugas Perkembangan Remaja


20

Setiap tahun perkembangan akan terdapat tantangan dan kesulitan-


kesulitan yang membutuhkan suatu keterampilan untuk mengatasinya. Pada masa
remaja, mereka dihadapkan pada dua tugas utama, yaitu :

. 2.1.4.1 Mencapai ukuran kebebasan atau kemandirian dari orang tua.

. 2.1.4.2 Membentuk identitas untuk tercapainya integrasi dan kematangan



pribadi.

Tugas perkembangan masa remaja:

. 2.1.4.3 Memperluas hubungan antar pribadi dan berkomunikasi secara lebih


dewasa dengan teman sebaya dari kedua jenis kelamin.

. 2.1.4.4 Memperoleh peranan sosial.

. 2.1.4.5 Menerima keadaan tubuhnya dan menggunakan secara efektif.

. 2.1.4.6 Memperoleh kebebasan emosional dari orang tua.

. 2.1.4.7 Mencapai kepastian akan kebebasan dan kemampuan berdiri 
sendiri.

. 2.1.4.8 Memiliki dan mempersiapkan diri untuk suatu pekerjaan.

. 2.1.4.9 Mempersiapkan diri untuk perkawinan dan kehidupan 
berkeluarga.

. 2.1.4.10 Mengembangkan dan membentuk konsep-konsep moral.

Erickson meninjau perkembangan kepribadian dari segi psikososial


tertentu yang harus diatasi oleh anak itu agar dapat melewati stadium selanjutnya
dengan atau tanpa konflik. Ia membagi stadium perkembangan manusia dalam 8
masa, yaitu: 1) Basic trust vs mistrust (oral sensory-infancy); 2) Autonomy vs
shame and doubt (muscular anal-early childhood/toddler); 3) Initiative vs guilt
(locomotor genital-later childhood/pre-school age); 4) Industriousness vs sense of
inferioriy (latency school age); 5) Identity formation vs diffusion (puberty-
adolescence); 6) Intimacy vs isolation (dewasa muda); 7) Procreation/generativy
vs self absorption (dewasa); 8) Ego integrity vs despair (maturitas).

Anak kelas 1 SMP berada pada masa tumpang tindih yaitu Industriousness
vs sense of inferioriy (latency school age) dengan Identity formation vs diffusion
(puberty-adolescence). Pada stadium Industriousness vs sense of inferiory
(latency school age), sosialisasi anak lebih luas lagi dengan orang di luar
keluarganya. Pengaruh mereka memungkinkan kesempatan identifikasi lagi yang
dapat menghambat, mengubah atau menambah tingkah laku yang telah terbentuk
sebelumnya; juga kesempatan memperoleh keterampilan makin luas. Keinginan
anak untuk berhasil dalam belajar, berbuat dan berkarya sangat besar, tetapi bila ia
gagal maka akan terbentuk perasaan inferior dan inadekuat. Identifikasi lebih
banyak pada orang tua dengan seks yang sama, jadi perlu sekali hubungan erat
21

dengan mereka atau substitut (seks yang sama) agar si anak lebih menetapkan
maskulinitas atau feminitas. Dalam masa ini juga cita-cita (ideals) mulai
terbentuk.

Identity formation vs diffusion (puberty-adolescence), di dalam masa ini


termasuk masa pubertas, saat maturasi alat kelamin terjadi. Secara emosional
banyak terjadi variasi besar antara alam perasaan, pandangan dan hubungan.
Dependensi pada orang tua dan keinginan untuk kembali (tidak meninggalkan)
kepada masa anak, terbentur keinginan dan kemampuan

untuk menjadi independen sehingga menimbulkan konflik. Dorongan


instingtual yang makin besar, harus disesuaikan dengan larangan keluarga dan
masyarakat. Ia sangat prihatin terhadap penilaian dirinya sendiri. Ia sedang dalam
masa pembentukan suatu identitas diri, yang identitas biologis dan psikologisnya
harus disesuaikan dengan pekerjaan, keluarga dan peranan sosial.

2.3.5 Remaja wanita Usia Sekolah dan Stres

Tingkat stres yang tinggi dalam remaja wanita telah banyak dilaporkan,
bahkan di masa remaja merupakan masa yang mengalami tingkat stres tertinggi.
Akar dari terjadinya stres ini masih belum diketahui tetapi beberapa penelitian
menyatakan kemungkinan berasal dari pengalaman sewaktu proses pembelajaran
sebagai seorang anak sekolah. Menurut penelitian yang diterbitkan, menemukan
bahwa sumber stres terjadi pada remaja wanita usia sekolah . Tingginya tingkat
stres yang dirasakan dikalangan remaja wanita usia sekolah sering dikaitkan
dengan gejala fisik, tekanan psikologis, kelelahan karir, dan kelelahan
emosi.Beberapa penelitian menyatakan bahwa wanita remaja usia sekolah sering
mengalami gejala stres, ansietas yang lebih tinggi daripada populasi umum,
tingkat depresi yang tinggi, dan mengalami sensitivitas interpersonal. Diantara
faktor pencetus yang paling tinggi terjadinya stres adalah beban tugas, tekanan
prestasi, ujian, takut gagal, dan keyakinan diri. Stres khusus yang dilaporkan
dalam beberapa penelitian meliputi banyak faktor antaranya berkaitan dengan
kepaniteraan klinik, manajemen pasien seperti pasien terlambat atau tidak tampil
sebagaimana yang dijanjikan, kebutuhan untuk memenuhi akademik dan
persyaratan klinis, interaksi dengan rekan mahasiswa, dosen dan staf pendukung,
hubungan dengan teman dan keluarga, takut mengalami kegagalan, dan ketakutan
menghadapi orang tua setelah mengalami kegagalan. Perbedaan jenis kelamin
juga telah dilaporkan, mahasiswa wanita sering mengalami stres yang lebih tinggi
daripada mahasiswa laki-laki. Masalah yang sering ditemukan pada mahasiswa
wanita adalah berkaitan dengan kepercayaan diri, memperoleh keterampilan klinis
dan memenuhi persyaratan akademik. Selain itu, pengaruh orangtua dalam
terjadinya stres juga memainkan peranan penting. Orangtua yang tidak dapat
memenuhi impian mereka untuk menjadi dokter gigi akan mencoba memenuhinya
melalui anak-anak mereka. Dalam banyak kasus, anak-anak dipaksa untuk
mempelajari bidang yang bukan pilihan mereka. Penelitian menunjukkan bahwa
22

mahasiswa seperti ini akan mengalami tingkat stres yang lebih tinggi daripada
mahasiswa yang mempelajari bidang yang merupakan pilihan mereka. Tingginya
tingkat stres dapat mengakibatkan prestasi akademik mahasiswa kedokteran gigi
menurun. Oleh karena itu, mengetahui pemicu terjadinya stres dikalangan
mahasiswa kedokteran gigi adalah amat penting dalam upaya untuk meningkatkan
kualitas lingkungan belajar di seluruh fakultas kedokteran gigi.
23

BAB III
KERANGKA KONSEP DAN HIPOTESIS PENETITIAN

STOMATITIS AFTOSA WANIAT REMAJA


REKUREN (SAR) USIA SEKOLAH

GAMBARAN FAKTOR
KLINIS PREDISPOSISIS

PASTA GIGI
DAN OBAT KUMUR
SAR SAR SAR
MAYOR MINOR HERPETIFORMIS TRAUMA

GENETIK

STRESS GANGGUAN
DAN SAR IMUNOLOGI

STRESS

RESPON DEFISIENSI
STRESS NUTRISI

HORMONAL

INFEKSI
BAKTERIN
ALERGI DAN
SENSITIFITAS

OBAT OBATAN

PENYAKIT
SISTEMIK

MEROKOK