Sunteți pe pagina 1din 15

MARXISME DAN BURUH INDONESIA KONTEMPORER:

STUDI DIMENSI RELEVANSI DAN INRELEVANSI


PEMIKIRAN SOSIAL-EKONOMI KARL MARX
PADA BURUH PABRIK DI KOTA SURABAYA
Yoseph Fredy Wijaya¹, Wahyu Budi Nugroho²,I NengahPunia
1,2,3
Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Udayana
1 ,2 3
E-mail: dedhyunud@gmail.com , wahyubudinug@yahoo.com , nengah-puniah@yahoo.com

ABSTRACT
This research aims to deepen comprehension about Marxism, especially social and economic
thought of Karl Marx. Karl Marx was a thinker who has a lot of influence on the development of the
community. Social and economic thought of Karl Marx further analyzed to find out the dimensions of
relevance and inrelevance in the life of contemporary laborers. In his study Marx put forward related
alienation inherent in the life of the labourers who were born by the system of capitalism. This
research is a joint research literature study and field study. Data in this research is text related to
Marxism and field data through interviews with workers as informant. As for the results of this
research found that first,Karl Marx social thought includes the alienation of labor on the resulting
products, labour alienation of work activities, alienationlabour over their fellow workers, and religious
alienation;Marxeconomic thought includes alienation of value for use, surplus value, commodity
fetishism, and capital circulation. Secondly, based on field analysis found that Karl Marx thought still
has relevance to the life of laborers in the city of Surabaya. Nevertheless, some of Marx's ideas which
no longer find relevance include Marx's predictions of labor poverty and the collapse of capitalism
because of the movement of laborers.
Keywords: Marxism, Karl Marx, alienation, labor.

PENDAHULUAN sebagaimana ditegaskan Marx dalam pengantar


Berbicaramengenai marxisme A Contribution to the Critique of Political
mengharuskankita berkenalan dengan pemikiran Economy (1859).
seorang tokoh termashyur kelahiran kota Dalam usaha pertarungan terhadap
Trier,Prusia (saat ini Jerman) pada 5 Mei 1818 kapitalisme, Karl Marx hadir dengan perspektif
2
bernama Heinrich Karl Marx (selanjutnya disebut baru, yakni perjuangan kelas. Perjuangan kelas
1 inilah yang kemudian menjadi salah satu metode
Karl Marx/Marx). Substansi pandangan Marx
terletak pada perkembangan masyarakatyang pokok Karl Marx. Munculnya kelas-kelas sosial
ditentukan oleh bidang-bidang produksi, sebagaimana dijelaskan Marx, menunjuk adanya
relevansi secara universal antara pemikiran Marx

2
Franz Mangnis Suseno, op.cit., h. 110-128
1
Frans Magnis Suseno, Pemikiran Karl dan George Lukacs, Dialektika Marxis: Sejarah
Marx: Dari Sosialisme Utopis ke Perselisihan & Kesadaran Kelas, AR-RUZZ Media,
Revisionis, Gramedia, Jakarta, 2003, h.46 Yogyakarta, 2010, h.95-156.
dengan salah satu segmentasi masyarakat petunjuk kaum buruh universal dalam
dalam proses produksi yakni buruh. Dalam teori berpraktek.
3
marxis, buruh adalah kelas proletariat. Di Indonesia sendiri, jejak-jejak marxisme
Secara historis, keterkaitan antara marxisme dapat ditelusuri sejak kemunculan kolonialisme
6
dan buruh di dunia dapat ditelisik dalam dua di Indonesia pada 1870-an. Berkembangnya
dimensi, yakni dimensi teoretis dan dimensi tradisi marxisme di nusantara tidak lepas dari
praksis. Dimensi teoretis mengemuka dalam peran tokoh Henk Sneevlit yang masuk ke
teori materialisme historis-Karl Marx,dengan Indonesia pada tahun 1913, ia adalah pendiri
4
uraiannya tentang sistem kepemilikan. Sistem ISDV (Indische Sociaal-Democtasche
kepemilikan menceburkan manusia dalam Vereeniging) yang bermetamorfosis menjadi
keterasingan.Sementara itu, dimensi praksis partai komunis pertama di Asia yaitu Partai
keterkaitan antara marxisme dan buruh sedunia Komunis Indonesia (PKI). Tan Malaka memiliki
nampak jelas dengan mulai munculnya berbagai posisi penting dalam konteks penyebaran
7
organisasi buruh di Eropa pada pertengahan marxsisme di Indonesia. Bahkan secara
abab ke-19, seiring menguatnya kesadaran historis, pergulatan panjang menuju
5
kelas. kemerdekaan Indonesia 1945 tidak terlepas dari
Terlepas dari pasang surutnya eksistensi pengaruh tradisi marxian yang berkembang saat
8
organisasi buruh dan dinamikanya, satu hal yang itu. Kesuksesan revolusi Bolshevick di Rusia
perlu dicatat bahwa keberadan buruh dan pada tahun 1917 menjadi api yang membakar
gerakannya erat kaitannya dengan marxisme. semangat penyebaran marxisme secara
Marxisme atau pemikiran-pemikiran Karl Marx mengglobal, tak kecuali di Hindia Belanda
adalah pemicu dan ruh penggerak yang (Indonesia). Disinilah Tan Malaka mengemban
menumbuhkan kesadaran kelas buruh untuk peran historis itu; Tan Malaka menjadi pelopor
bangkit, bersatu, serta bergerak untuk melawan penyebaran marxisme yang lebih luas di
segala bentuk ketidakadilan atas dirinya. Peran Indonesia.
marxisme tidak sebatas dogma, tetapi menjadi

3
Maurice Duverger, Sosiologi Politik ,
6
Grafindo, Jakarta, 2010, h. 190, 194, 198. Ekspansi kolonial ke Indonesia pada
4
Karl Marx, Manuskrip III: Kepemilikan abad XVIII awal mulanya sebatas tujuan
Pribadi dan Buruh (dalam Erich Fromm, Konsep ekonomi yaitu mencari rempah-rempah. Tetapi
Manusia Menurut Marx, Pustaka Pelajar, perlu dipahami bahwa kedatangan colonial juga
Yogyakarta, 2001, h.157. diboncengi dengan penyebaran ragam ideology
5
Thomas Meyer, Sosial-Demokrasi seperti agama. Dalam relasi ekonomi tersebut
Dalam Teori dan Praktek: Pengalaman Kaum selanjutnya Indonesia dijadikan sebagai negeri
Sosialis-Demokrat Jerman, Center For Social- jajahan baru oleh para colonial. Maka sajak saat
Democratic Studies (CSDS), Yogyakarta, 2003, itu pulalah praktek eksploitasi atas kaum pribumi
h. 15,30, 45. Ferdinand Lassale (1825-1864): mulai dilancarkan.
7
teoretisi sosialis terkemuka, pendiri dan ketua Prabowo H,Perspektif Marxisme Tan
partai sosialis yang pertama Allgemenr Malaka: Teori Praksis Menuju Republik,
Deutscher Arbeiterverein; gagasannya bahwa Jendela,Yogyakarta, 2002, h. 195.
8
Negara sebagaimana apa adanya saat ini harus Bolshcevick adalah partai
didemokratiskan, tanggungjawab ekonomi dan revulussioner Rusia yang dipimpin Lenin. Partai
sosialnya secara bertahap harus ditingkatkan. ini dalam perjuangannya menjadikan pemikiran
August Bebel (1840-1913) & Wilhem Marx sebagai cita-cita yang dijalankan, dan
Liebknecht (1826-1900) bersama-sama menjadi sejarah mencatat mereka sukses
ketua Partai Sosial-Demokrat Jerman sejak menerjemahkan Marx dalam ide maupun
1875. praktek.
Eksistensi dan konsistensi Tan Malaka pemikiran sosial-ekonomi Karl Marx pada buruh
dalam membumikan marxisme kepada pabrik di kota Surabaya.
masyarakat pribumi dikukuhkannya dengan Sementara itu tujuan penelitian ini sebagai
mengeluarkan konsep tentang MADILOG berikiut:
(Materialisme, Dialektika, Logika). Madilog hadir 1. Memaparkan pemikiran sosial-ekonomi
berangkat dari keprihatinan Malaka terhadap Karl Marx
kaum proletarian yang tersandera oleh takhayul 2. Menemukan dimensi relevansi dan
dan mistis, yang menciutkan nyali melakukan inrelevansi pemikiran sosial ekonomi
perlawanan terhadap imperealis. Madilog adalah Karl Marx pada buruh pabrik di kota
interprestasi Tan Malaka yang sangat jenius Surabaya.
terhadap pemikiran Marx sesuai konteks sosio- KAJIAN PUSTAKA
kultural Indonesia, sebagai upaya pembebasan Beberapa penelitian sebelumnya yang
masyarakat Indonesia dari penindasan kelas pernah dilakukan berkenaan dengan pemikiran
khususnya bagi kelas pekerja atau buruh. Karl Marx antara lain, skripsi berjudul Pemikiran
Lepasdari kondisi umum buruh Indonesia, Karl Marx tentang Ekonomi Perspektif Islam
kota Surabaya sebagai salah satu pusat industri disusun oleh R. Boris Septiyo W, dari Fakultas
di Indonesia memiliki gambaran buruh yang lebih Agama Islam Universitas Muhamadiyah
spesifik. Secara demografis pusat industri di kota Surakarta 2008yang menganalisis pemikiran
Surabaya terlokalisasi di dua tempat yakni di ekonomi Karl Marx dalam pandangan Syariah
9
kawasan Surabaya Industri Estate Rungkut Islam.
(SIER) dan daerah Margumulyo. Kedua kawasan Penelitian selanjutnya yang
tersebut menjadi tempat kegiatan produksi yang mengelaborasi pemikiran Karl Marx disusun oleh
paling banyak memiliki buruh. Selain kedua Rahmat Panjaitan, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu
kawasan sentralisasi industri tersebut, Politik, Universitas Sumatera Utara berjudul
penyebaran pabrik di kota Surabaya juga Pemikiran Karl Marx tentang
menyebar pada hampir seluruh sudut kota 10
Revolusi. Substansinya adalah
Surabaya. Perusahaan-perusahaan tersebut mengedepankan aksi revolusi dalam perjuangan
terdiri atas perusahaan yang berskala nasib buruh, sasarannya adalah sistem lama
internasional, nasional maupun lokal. segera tergantikan yakni tidak adanya dominasi
Serangkaian hal tersebutlah yang kiranya borjuis dalam tatananan sosial dan ekonomi
membuat penulis tertarik mengkaji dimensi negara. Penelitian lain yang menyinggung
relevansi dan inrelevansi pemikiran Marx subjek buruh dilakukan oleh Muhamad Zarfy
(marxisme) dalam sebuah karya Yahya, Jurusan Sosiologi dan Antropologi
ilmiahberjudul:“Marxisme dan Buruh Indonesia Universitas Negeri Semarang tahun 2013
Kontemporer:Studi Dimensi Relevansi dan
Inrelevansi Pemikiran Sosial-Ekonomi Karl 9
R. Boris Septiyo W, skripsi “Pemikiran
Marx pada Buruh Pabrik di Kota Surabaya”. Karl Marx tentang Ekonomi Politik Perspektif
Islam”, Fakultas tas Agama Islam-Universitas
Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah 1; Muhamadiyah Surakarta, 2008.
10
Bagaimna pemikiran sosial-ekonomi Karl Marx Rahmat P. Panjaitan, Skripsi
“Pemikiran Karl Marx Tentang Revolusi”,
(marxisme), 2; Bagaimna relevansi-inrelevansi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik-Universitas
Sumatera Utara, 2010.
dengan judul Profil Buruh Pabrik Teh “2 Tang” di dan memahami kehidupan buruh secara faktual.
Slawi Kabupaten Tegal. Perbedaan pendekatan sudut pandang kajian ini
Dari uraian beberapa skiripsi yang berpengaruh terhadap kesimpulan hasil
dijadikan perbandingan oleh penulis ditemukan penelitian yang tentunya berbeda sesuai konteks
beberapa hal sebagai berikut: Pertama, skripsi penelitian yang dilakukan.
yang disusun oleh R. Boris Septioyo dan METODE
Rahmad Panjaitan memiliki kesamaan dengan Peneliti menggunakan metode penelitian
apa yang dianalisis oleh penulis. Persamaan itu kualitatif dengan berfokus pada penelitian yang
terletak pada pemikiran Marx yang diadopsi bersifat deskriptif-eksplanatif.Penggunaan
untuk menghasilkan pemikiran lain ataupun metode kualitatif dilandasi oleh penelitian yang
untuk menganalisis subjek atau objek lain. mengedepankan interprestasi serta pemaknaan
Kedua, skripsi yang dibuat oleh Muhamad Zarfy data secara komprehensif.Penelitian kualitatif
Yahya mengabil buruh pabrik teh “2 Tang” sebagaimana dipaparkan oleh Creswell adalah
11
sebagai subjek penelitian. Baik yang dilakukan sebagai berikut,
oleh Muhamad Zarfy Yahya dengan yang
dilakukan oleh penulis memiliki konsentarasi “Qualitative research is an inqury
yang sama terkait kondisi faktual kehidupan process of understanding based on
buruh pada pabrik. Penelitian ini kemudian distinct methodological traditions of
mengarah pada pemahaman yang konkrit terkait inquriry that explore a social or human
kehidupan buruh bukan hanya berhenti pada problem. The researcher builds a
pengetahuan yang berdasarkan asumsi complex, holistic picture, analizes word,
melainkan kenyataan lapangan yang bisa report detail views of information, and
dibuktikan secara pasti. Ketiga, perbedaannya conducts the study in a natural setting.”
dengan penulis adalah terkait subjek sandingan
yang digunakan untuk menganalisis marxisme. Selain itu, Moleong mendefenisikan
Penulis mengerucut pada subjek buruh untuk penelitian kualitatif sebagai suatu penelitian
dianalis, subjek yang luput dari perhatian dua ilmiah yang bertujuan untuk memahami suatu
peneliti sebelumnya yaitu saudara Borys Septyo fenomena dalam konteks sosial secara alamiah
dan saudara Rahmad Panjaitan. Hal itu pulalah dengan mengedepankan proses interaksi
yang menguatkan penulis bahwa penelitian ini komunikasi yang mendalam antara peneliti
12
merupakan sesuatu yang baru terutama dalam dengan fenomena yang diteliti.
konteks bahasan soal marxisme dan buruh di Metode deskriptif digunakan untuk
tanah air, khususnya di kota Surabaya. mendeskripsikan berbagai subjek, objek, dan
Sementara itu perbedaannya dengan penelitian situasi khusus yang diteliti. Metode ini berupaya
yang dilakukan oleh Muhamad Zarfy Yahya merangkai kenyataan ke dalam narasi, yakni
terletak pada kajian keilmuan yang berbeda. menguraikan secara teratur masalah, keadaan
Muhamad Zarfy Yahya menggunakan
pendekatan atau pandangan feminisme
11
terhadap buruh sedangkan penulis mendalami HerdiansyahHaris,Metodologi
Penelitian Kualitatif untuk Ilmu-ilmu Sosial,
pemikiran Karl Marx (marxisme) untuk mengenal Salemba Humanika, Jakarta, 2010, h. 8
12
Ibid, h. 9
atau peristiwa sebagaimana adanya, selanjutnya siapa, serta tidak menyadari pula aktivitasnya itu
data tersebut dianalisis dan diinterprestasi. milik siapa. Aktivitas yang seharusnya dimiliki
individu, lalu digunakan untuk diri sendiri dan

HASIL DAN PEMBAHASAN sesama sulit dimaknai.

1. Pemikiran Sosial-Ekonomi Karl Marx c) Alienasi Buruh atas Aktivitas Kerja

Pemikiran Sosial Karl Marx Jika binatang tidak bisa membedakan

a) Alienasi Buruh atas Produk aktivitasnya dengan dirinya, maka itulah yang

yangDihasilkan membedakannya dengan manusia. Manusia

Relasi antara buruh dan barang hakikatnya bisa membedakan dirinya dan

produksinya ialah ketika buruh menghasilkan aktivitasnya. Manusia itu makhluk aktif dan

barang produksi dan dapat dipergunakan untuk memiliki kesadaran aktif. Tetapi melalui kerja

mereka sendiri, tetapi buruh teralienasi atas manusia menjadi tidak menyadari dirinya

produk yang dihasilkan ketika buruh sebagai seseorang yang aktif dan memiliki
15
menghasilkan barang produksi untuk diberikan kehidupan individu. Kesadaran akan

kepada pemilik modal dan barang tersebut eksistensinya menghilang, yang dimengertinya

memiliki perubahan nilai yang melebihi apa yang adalah bekerja sebagai orientasi dari
13
diterima oleh para buruh. Dalam memproduksi individunya. Padahal kerja bukanlah orientasi.

suatu barang, buruh mengerahkan seluruh d) Alienasi Beragama

tenaga namun apa yang dihasilkan tidaklah Menurut Marx tekanan agama tradisional

berguna baginya. Dengan demikian barang yang pada dunia transenden, non-material dan

dihasilkan oleh buruh berguna bagi orang lain. harapan akan adanya kehidupan setelah

b) Alienasi Buruh terhadap Sesama kematian membantu mengalihkan manusia dari

Buruh penderitaan yang nyata dalam kehidupan

Kerja sesungguhnya memiliki dimensi manusia. Agama merupakan sebuah khayalan,

sosial dan historis. Perwujudan dimensi sosial yang bertujuan sekedar memberi alasan untuk

dan historis itu diungkapkan dalam pola relasi mempertahankan hal-hal yang ada di dalam

dan interaksi sesama buruh. Buruh harus masyarakat berjalan sesuai dengan kepentingan

menyadari sesama buruhnya, memiliki norma penindas. Marx melihat agama sebagai

dan hubungan dalam bekerja dan menemukan penderitaan yang sesungguhnya sekaligus suatu

dirinya sebagai seorang pekerja. Namun protes menentang penderitaan sesungguhnya.

kemudian, buruh teralienasi menentang dirinya, Marx jelas menganggap agama adalah

terasing dari sesama buruh.


14 perwujudan ketertindasan, penderitaan dan

Dalam konteks alienasi ini dapat pembenaran atas tatanan sosial yang ada.

dijelaskan bahwa buruh memproduksi barang Ungkapan “agama adalah candu rakyat” untuk

yang tidak akan menjadi miliknya, ia juga tidak menjelaskan sebuah kondisi dimana agama

menyadari barang tersebut akan menjadi milik sebagai ilusi yang bisa meringankan penderitaan
tetapi tidak menghilangkan hal-hal yang
13
Karl Marx, Manuskrip I: buruh yang
15
teralienasi Ira Iramanto (terj.), naskah-
14
SunyotoUsman, Sosiologi: sejarah, naskahekonomidanfilsafattahun 1844, Hasta
teoridanmetodologi, Cired, Yogyakarta, 2004, h. Mitra, Jakarta, h. 69- 80.
37
menyebabkan penderitaan itu. Pada bagian menghasilkannya. Inilah yang dinamakan
18
inilah Marx menuntun kelas buruh melakukan alienasi nilai guna.
16
perjuangan kelas dengan jalan revolusi. b) Nilai Lebih
Pemikiran Ekonomi Karl Marx Nilai lebih merupakan akumulasi nilai
a) Alienasi Nilai Guna produksi dalam jangka waktu tertentu dengan
Teori alienasi nilai guna secara biaya atau upah yang dinikmati buruh serta
gamblang dijelaskan oleh Marx dalam analisis biaya pemulihan tenaga kerja yang telah
tentang eksploitasi kapitalis. Untuk memahami diberikannya. Dalam konteks nilai upahan ini
alienasi nilai guna, Marx memasukkan nilai Marx menyetujui bawasannya upah harus
17
tukar sebagai pembandingnya. Nilai tukar diberikan kepada buruh dengan asas
memiliki posisi berharga dalam sistem kapitalis. kesesuaian. Artinya, upah diberikan kepada
Nilai tukar bahkan dipandang sebagai sesuatu buruhsesuai dengan waktu dan tenaga yang
yang diutamakan daripada nilai guna. Dasarnya dikeluarkan buruh dalam proses produksi.
adalah untuk mendapatkan keuntungan lebih Namun dalam kondisi praksis dipraktekkan di
meski dalam situasi ekonomi yang tidak stabil. dalam industri justru melahirkan kontradiksi dan
Sementara itu, nilai guna adalah nilai suatu resistensi dari asas “kesesuaian” tersebut.
barang untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan Praktek ini dilandasi oleh konsensus pemilik
manusia. Artinya semakin besar suatu barang modal bahwa tenaga kerja buruh dipandang
19
dibutuhkan manusia maka semakin tinggi pula sebagai komoditas yang telah dibelikan oleh
nilai guna barang tersebut. Sebaliknya, jika pemilik modal, maka waktu dan tenaga tersebut
barang tersebut tidak dibutuhkan oleh manusia praksis menjadi milik majikan dan dipergunakan
maka nilai guna barang tersebut adalah nihil. sesukanya. Dengan demikian buruh tidak lagi
Nilai guna tergantung dari macam barang dan memiliki kuasa dan kebebasan atas dirinya.
kebutuhan di dalam masyarakat. Nilai guna tidak inilah yang kemudian dinamakan Marx sebagai
20
ditentukan oleh waktu yang diperlukan untuk “nilai lebih”—buruh teralienasi dari nilai lebih.
c) Fetisisme Komoditas atau Manipulasi
Nilai Benda
Karx Marx menjelaskan konsep soal
16
Daniel L. Pals, Seven Theoris of 21
fetisisme (manipulasi nilai benda) untuk
Religion; darianimisme E.B. Tylor, materialisme
Karl Marx, hinggaantropologibudayaC. Geertz, menjelaskan komoditas sebagai suatu realitas
Qalam, Yogyakarta, 2001, h. 224. eksternal. Komoditas memiliki nilai ekonomi
Revolusiadalahwujudperubahansosialyang
palingspektakuler, sebagai realitas objektif independen yang
sebagaitandaperpecahanmendasardalam proses berada di luar aktor. Substansinya menurut Marx
historis,
bagaimanapembentukanulangmasyarakat lama terkait fetisisme adalah sesuatu yang dibuat atau
menjadimasyarakatbarudengantidakmeninggalk
anapapundarikondisisebelumnya.
18
LebihjelasnyabacaNurSahydSantoso, MA., Anthony Brewer, op.cit., h. 69, 99-100
19
Negara Marxist danRevolusi Proletariat, Ibid., h. 121-123.
PustakaPelajar, Jakarta, h. 135 Komoditiataukomoditasmerupakansesuatuyangd
17
Frederik Engels, alihbahasaOey Hay apatditukarkandalamrupabarangatauuang.
20
Djoen, EdyCahyono (editor), tentang Das Kapital Ibid., h. 64-65
21
Marx, judulasli: On Marx’s Capital, Oey’s Marshal Berman,
Renaissance, Hasta Mitra, Yogyakarta, 2007, h. BerpetualangDalamMarxisme,
62 PustakaPromothea, Surabaya, 2002, h. 49-70
dihasilkan oleh manusia untuk digunakan oleh Surabaya. Informan I mengalami hal ini: ia
manusia; akan tetapi barang tersebut justru berlatar belakang pendidikan hukum, namun
dipujaoleh manusia bahkan dianggapnya bekerja pada perusahaan BUMN produksi obat-
22
sebagai dewa.. obatan. Dalam konteks ilmu yang didapatinya
d) Sirkulasi Modal semasa kuliah, sudah jelas ia bekerja
Sirkulasi modal adalah konsep yang menghasilkan produk yang bukan menjadi
digunakan Marx dalam mengungkap keahliannya. Bekerja pada bidang yang tidak
ketimpangan yang begitu besar antara kaum sama dengan latar belakang disiplin ilmu jelas
proletar dan kaum borjuis. Sirkulasi modal ini sebuah keterpaksaan. Informan I mengakui
menunjukkan bagaimana pemiskinan terjadi bahwa ia bekerja pada perusahaan obat-obatan
pada orang yang yang hanya memiliki modal tersebut bukan kehendaknya dari awal, tetapi
kecil dan proses penimbunan harta yang hanya karena keterpaksaan dan mengambil
meningkat pada pemilik modal besar. Ada dua peluang untuk mendapatkan upah. “Saat itu
bentuk sirkulasi modal pada sistem kapitalis saya membaca koran, dan salah satu
yaitu C1-M-C2 untuk orang miskin dan M1-C-M2 perusahaan BUMN bidang farmasi mebutuhkna
23
untuk kaum kapitalis. karyawan, iseng-iseng saja saya melamar.
Relevansi dan Inrelevansi Pemikiran Sosial- kebetulan baru tamat, biar gak ngangur saya
Ekonomi Karl Marx pada Buruh Pabrik di kota coba” (wawancara Informan I, 2015). Pernyataan
Surabaya ini menunjukan bahwa informan I sama sekali
Dalamuraianiniakandijelaskananalisispe tidak memiliki kebanggaan secara pribadi
mikiransosial-ekonomi Karl Marx bekerja di bidang farmasi. Informan II, bekerja
berdasarkanhasilwawancaradenganinforman: pada pabrik suku cadang otomotif. Ketika
Pemikiran Sosial Karl Marx peneliti bertanya apakah Informan II dapat
a)Alienasi Buruh atas Produk yang mengakses barang yang mereka hasilkan? Ia
Dihasilkan menjawab bahwa: “Kami tidak bisa
Dalam ekonomi politik Marxis dijelaskan mendapatkan langsung dari perusahaan, kalo
bahwapekerja meletakkan hidupnya ke dalam mau ya dibeli di luar, bukan di perusahaan ini.
24
objek pekerjaan, inilah yang membelenggu Jika kami lihat, harga di pasaran jauh lebih
buruh oleh produk yang dihasikannya sendiri. mahal dibandingkan dengan hasil produksi, aku
Hal ini tercermin dalam kehidupan buruh di kota pastikan yang namanya perusahaan pasti akan

22 mendapatkan keuntungan yang sangat besar”


Gejalafetismesangatjelasdalaminterak
sisocsalmasyarakarat modern.Masyarakat yang (wawancara Informan II, 2015). Pernyataan
menjadikanteknologisebagaikebutuhanmendasar Informan II ini menunjukkan keterasingannya
dalaminteraksi,
misalnyadenganadanyaberbagaikomunitasdeng dari produk yang dihasilkan. Sebagai buruh
anberbagaiklasifikasikepemilikanbarang- upahan, ia tidak menikmati hasil pekerjaanya.
barangtekhnologi, misalnyakomunitas “motor
gede”, mobil sport dan lain-lain.Artinyainteraksi Produk suku cadang otomotif yang dihasilkannya
social dalam bekerja adalah milik pemilik pabrik
masyarakatterbatasdantertataolehkepemilikanbe
nda. otomotif tempat ia bekerja.
23
Anthony Brewer., op.cit h. 104, 134, Informan III,bekerja di pabrik roti. “Jika kami
141
24 mau menikmatinya,ya kami harus belinya di luar,
Eugene Kemenka, The Portable Karl
Marx, Penguin Books, 1983, h. 126-127
tidak bisa makan seenaknya disini”( wawancara Informan IV dengan upah yang diterimanya.
informan III, 2016). Kondisi keterasingan buruh Informan IV sama sekali tidak menunjukan
dari produk yang dihasilakan sangat mudah dan protes kenapa ia “dipisahkan” dari barang yang
jelas dirasakan Informan III. Informan III bekerja, diproduksinya tetapi soal ketidakadilan yang
menghasilkan roti dalam ragam rasa, roti didapatinya. Fakta ini menunjukan bahwa
tersebut dinikmati oleh konsumen karena sangat informan IV juga mengalami alienasi dari produk
lezat, namun ia sendiri justru tidak merasakan yang dihasilkan buruh sebagaimana
enaknya seperti apa, kecuali ia membelinya diungkapkan Karl Marx. Marx menjelaskan
menggunakan uang sendiri. Informan III bekerja bahwa ketika manusia bekerja didorong oleh
menghasilkan roti dengan tangannya sendiri, keinginan di luar dirinya maka di situlah letak
tetapi ia baru bisa merasakannya jika dibeli dari keterasingan manusia.
uang upahan bekerja menghasilkan roti tersebut. Informan V,bekerja pada perusahaan ikan
Kenyataan ini sangat nyata menunjukan kemasan yang sarat akan target. Dalam hal
keterasingan buruh atas produk yang buruh teralienasi dari produk yang dihasilkan
dihasilkannya sebagaimana yang ditegaskan juga sangat nyata terlihat dalam kehidupan kerja
Marx terkait alienasi buruh. Informan V. “Barang-barang yang overproduksi,
Informan IV,pemutusan hubungan kerja. atau tidak dipasarkan akan dibuang. Tidak bisa
Kondisi lebih tragis dialami oleh informan IV kami ambil, kalau mau harus dibeli” (wawancara
yaknikehilangan pekerjaan setelah kontraknya informan V, 2016). Pernyataan Informan V
diakhiri oleh perusahaan tempat ia bekerja. tersebut menunjukkan betapa buruh tidak
Kehilangan pekerjaan otomatis kehilangan memiliki kepentingan atas barang yang mereka
pendapatan karena upah yang diterimanya dari hasilkan. Bahkan produk yang tidak dipakai
perusahaanmenjadi topangan kehidupan sehari- sekalipun tidak memiliki nilai untuk kehidupan
25
hari. Ketika ia di PHK, Informan IV melakukan buruh. Informan V dan buruh lainnya telah
protes kepada perusahaan. Hal ini menunjukan menghabiskan banyak waktu dan tenaga untuk
ketergantungan yang sangat kuat terhadap menghasilkan produk yang mereka sendiri tidak
pekerjaannya dalam mempertahankan hidup. bisa menikmati. Apakah informan V merasa
Protes yang dilakukan Informan IV dan teman- menyesal barang yang dihasilkannya terbuang?
temannya atas PHK oleh perusahaan Informan V mengakui bahwa “Barang-barang
sebenarnya bukan karena Informan IV merasa yang rusak itu kan resiko perusahaan,itu
kehilangan pekerjaan atau kehilangan objek tanggungjawab perusahaan, kami tidak berhak
yang ia produksi melainkan kehilangan untuk itu. Jadi kenapa kami yg
pendapatan untuk menopang hidup. Jelaslah menyesal?”,tegasnya. Artinya, Informan V tidak
antara informan IV dan barang yang memiliki kebanggaan ataupun penghargaan
dihasilkannya dalam produksitidak memiliki terhadap produk yang mereka hasilkan sendiri.
ikatan kuat, ikatan yang ada adalah antara Kebanggaan dan penyesalan itu adalah punya

25 pemilik perusahaan.
PHK
(PemutusanHubunganKerja)smerupakantindaka b) Alienasi Buruh terhadap Sesama
nsepihakperusahaan yang Buruh
memberhentikankaryawandaripekerjaannya.
Kondisiinimenyebabkanseseorangkehilanganpek
erjaandanjugapendapatan.
Uraian alienasi buruh terhadap sesama mau bercanda ya, nanti jam istirahat. Jam
buruh berangkat dari pemahaman bahwa kerja,kerja” (wawancara Informan IV, 2016).
pekerjaan memiliki dimensi historis dan sosial. Informan IV mengatakan bahwa ketika bekerja
Dimensi historis dan sosial itu menegaskan pembicaraan yang terjalin seadanya terkait
bahwa manusia harus menyadari pekerjaannya denganpekerjaan. Tetapi,Informan IV memiliki
dan memaknai pekerjaannya itu dalam persatuan yang cukup kuat di luar jam kerja.
kehadiran dengan sesama. Buruh harus bisa Mereka berafiliasi dengan gerakan buruh
saling berkomunikasi, memahami apa yang sehingga memberikan kesempatan kepada
dikerjakan dan bersosialisasi secara nyata mereka untuk berdiskusi terkait dengan situasi
dengan sesama buruh. Observasi peneliti di kota perusahaan, dan situasi yang dialamiburuh..
Surabaya menunjukan fakta diantaranya, Informan V pun menyempurnakan
Informan I:“Kami saling mengenal di luar jam pengakuan dari empat informan sebelumnya.
kerja, beberapa diantaranya saya berteman baik, Informan V mengatakan“Ibaratnya kami bekerja
namun tidak semua. Ada juga yang tidak saya bertarung dengan waktu, harus dimaksimalkan
kenal” (wawancara Informan I, 2015).Demikian untuk bekerja. Interaksi dengan yang lain, nanti.
penuturan dari Informan I terkait relasinya Sehabis kerja. Disini biasanya, banyak teman
sesama buruh tempat ia bekerja. Bawasannya ngumpul buat ngobrol”(wawancara Informan V,
ketika bekerja tidak ada banyak hal yang bisa 2016). Mengabdikan hidup untuk menghasilkan
dibiacarakan selain bekerja, mereka mengenal di barang yang diingikan perusahaan itulah yang
luar jam kerja. Selanjutnya,Informan II dimaksudkan oleh Informan V bertarung dengan
mengatakan“Interaksi sewajarnya saja, tidak ada waktu. Jam kerja memiliki nilai yang sangat
waktu yang banyak untuk saling bercengkrama, besar bagi perusahaan. Dari kelima pernyataan
kita dituntut untuk memaksimalkan delapan jam informan tersebut, simpulannya adalah buruh
kerja. Selepas itu, yah pulang ke rumah masing- pabrik di kota Surabaya mengalami alienasi
masing. Bertemu pun saling sapa terhadap sesama buruh.
saja”(wawancara Informan II, 2015). Singkatnya, c)Alienasi Buruh atas Aktifitas Kerja
ketika melakukan pekerjaan, buruh sepenuhnya Informan I mengakui bahwa ia bekerja untuk
dikuasai oleh pemilik perusahaan.Kondisi yang mengisi waktu, agar tidak mengangur, dan
sama juga dialami oleh Informan III, ia berkata mendapatkan uang. Pernyataan ini
“kalau kita ngobrol sama teman, nanti kami menerangkan situasi batiniah Informan I yang
dapat teguran Dek, ngobrol yah sebatas apa tidak peduli apa yang ia kerjakan, bagaimana
yang dibuat saat itu”(wawancara Informan III, situasi kerjanya, melainkan ia berorientasi pada
2016). Ketika untuk berbicara dengan sesama uang yang akan didapatkan. Jelas bahwa
buruh dalam pekerjaan dianggap sebagai aktivitas kerja yang dialaminya seperti
pelanggaran, maka tampak nyata bahwa terabaikan. Sementara itu, Informan II justru
dimensi sosial dari kepribadian buruh telah memiliki pengalaman yang cukup sulit.
diambil menjadi kepunyaan pemilik perusahaan. Kegagalannyaberkali-kali dalam mencari
Lebih lanjut, hal yang sama dirasakan oleh pekerjaan sempat membuatnya kehilangan
Informan IV:“Kerja disini ada bagian-bagiannya, harapan. Lalu, ketika ia diterima bekerja ia
kita kerjakan apa yg menjadi bagian kita. Kalau sangat senang, dengan begitu ia mendapatkan
uang. Informan II berkali-kali mengutarakan d) Alienasi Beragama
pandangannya bahwa ia adalah hasil dari “Semakin orang menyerahkan dirinya pada
kegagalan sistem pendidikan di Indonesia. Tuhan, akan semakin sedikit yang tersisa untuk
26
Infoman II merasa pendidikan di SMK dirinya”, demikian menurut Marx . Dalam
membentuknya menjadi manusia yang hanya artian, buruh menyerahkan hidupnya kepada
bisa dipekerjakan: Tuhan, tetapi kini hidupnya beserta segenap
problematika yang ada dalam hidupnya bukan
“Aku rasakan, kalau aku salah satu korban lagi menjadi milik buruh, melainkan milik Tuhan.
sistem pendidikan di Indonesia. Mengapa Berdasarkanhasil wawancara dengan informan
aku katakan sebagai korban? Karena buruh di kota Surabaya, peneliti mendapatkan
selama pendidikan di SMK aku didik untuk informasi diantaranya Informan I menganggap
menjadi pekerja,” ungkapnya (wawancara hidup ini sebagai takdir yang dijalani. “Bung,
Informan II, 2016). yang penting juga jangan melupakan
Ketika manusia dididik untuk menjadi pekerja Tuhan”(wawancara Informan I, 2015).
agar bisa hidup, saat itulah kemerdekaan atas Pernyataan inidisampaikan oleh informan untuk
dirinya mulai dikikis. Lebih lanjut, Informan III menjawab pertanyaan peneliti bagaimana beliau
mengungkapkan kegelisahannya bahwa: “Begini memaknai setiap tekanan atau kondsi tidak
Dek, hidup ini butuh uang, apa-apa semuanya menyenangkan dalam bekerja. Informan I
uang. Kalau tidak bekerja, mau hidup menyakini dengan mendekatkan diri kepada
bagaiamana” (wawancara inorman III).Dari Tuhan segala persoalan akan terjawab.
pernyataan tersebut tampak jelas bahwa Kenyataan seperti inilah yang tidak disepakati
Informan III merisaukan kehidupannya dan Karl Marx. Informan II pun mengungkapkan hal
keluarga jika tidak bekerja. yang hampir sama; “yang namanya takdir pasti
Hal yang sama dirasakan oleh Informan IV, sudah ada yang atur Mas, serahkan pada yang
peristiwa PHK yang dilakukan oleh perusahaan Di Atas,” imbuhnya.Segala hal yangdijalaninya
membuatnya menderita. Di tengah kebutuhan sekarang sebagai kehendak Tuhan.Lagi-lagi,
ekonomi yang semakin melambung, apa yang diungkap Marx terkait alienasi
pendapatannya justru hilang karena tidak beragama menjadi terbukti pada
memiliki pekerjaan. Protes yang disampaikan ke kehidupanburuh pabrik di kota Surabaya.
perusahaan bertujuan agar ia dipekerjakan Informan IIIdalam bahasa yang berbeda tetapi
kembali di perusahaan, apa pun pekerjaannya dengan substansi sama mengatakan bahwa ia
akan dilakukan selama itu menghasilkan uang. sering mengeluh kepada Tuhan, namun harus
Informan V pun mengalami hal yang sama; dijalani sebagai konsekuensi hidup. Di sisi
bahwa tujuannya bekerja adalah mendapatkan lain,Informan IV dan Informan V tidak
uang. Informan V bersedia bekerja penuh waktu memberikan penjelasan secara rinci terkait soal
selama bisa mendapatkan uang lebih banyak, batiniah.
meskipun itu dengan sendirinya memberikan Informan IVlebih jauh melihat bahwa
beban yang lebih tinggi dalam bekerja sekaligus kondisi ini diciptakan oleh sistem yangberkuasa,
menegasikan keberadaannya sebagai makhluk
sosial. 26
John Raines, Marx Tentang agama,
Teraju, Bandung, 2003, h. 156
keterpurukan kaum buruh karena sengaja Informan III, seorang ibu yang bekerja di pabrik
diciptakan; “yang miskin semakin dimiskinkan, roti dengan tuntutan target produksi hingga
dan yang kaya semakin kaya, inilah sistem yang tingkat kehati-hatian yang sangat tinggi
dibangunkapitalis”, imbuhnya.Sementara itu, mengingat barang yang mereka produksi adalah
Informan V mengungkapkan situasi tekanan makanan. Fakta alienasi nilai guna tercermin
sebagai fenomena yang wajar dan mutlak dalam dalam kenyataan bahwa roti yang dihasilkannya
dunia kerja. “Pekerjaan apa puntekanan itu bukan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-
mutlak ada, jalani saja”, tegasnya. hari, melainkan mendapatkan upah. Ia tidak
Pemikiran Ekonomi Karl Marx memberi makanan roti kepada suami dan anak-
a) Alienasi Nilai Guna naknya, melainkan memberikan nasi yang ia beli
Kondisi keterasingan (alienasi nilai guna) dari uang hasil upahan.
ini sangat nyata dalam kehidupan kaum buruh di Sementara, Informan IV Buruh di-PHK.
Surabaya. Informan I, dengan latar belakang Pemutusan hubungan kerja yang dilakukan oleh
pendidikan ilmu hukum bekerja pada pihak perusahaan yang berlokasi di kawasan
perusahaan obat, bukan karena ia SIER kepada Informan IV dan rekan-rekannya
membutuhkan obat melainkan ia bekerja karena berujung pada aksi protes yang dilancarkan para
sekedar mengisi waktu (agar tidak menganggur) buruh. Informan IV merupakan korban praktek
dan mendapatkan uang. Informan II, pemuda sistem outsourcing yang ada dalam sistem
asal Cirebon dan berlatar pendidikan SMK perburuhan tanah air. Terjadinya PHK tersebut
bahkan ketika di bangku sekolah ia sudah tentunya dilatari oleh perhitungan nilai tukar.
merisaukan tentang dimana tempat ia akan Mengurangi jumlah tenaga kerja dapat
bekerja saat tamat sekolah. mengurangi biaya produksi, beban perusahaan
Kerisauan Informan II ini terkait tempat ia semakin berkurang. Berkurangnya beban biaya
bekerja menunjukkan betapa ia tidak tahu harus perusahaan di sisi lain menambah beban hidup
menghasilkan apa yang ia butuhkan melainkan Informan IV dan rekan-rekannya yang di-PHK.
harus bekerja dimana untuk menghasilkan uang. Oleh karena itu, aksi demostrasi yang dilakukan
Pada fakta ini, jelas Informan II sudah semata-mata karena buruh kehilangan upah
dikategorikan dalam konteks alienasi nilai guna. bukan karena ia kehilangan barang yang
Lebih lanjut, setelah berkali-kali gagal diterima diciptakannya. Bagi Informan IV, barang yang
perusahaan, ia bekerja pada perusahaan suku diproduksinya sama sekali tidak memiliki nilai
cadang otomotif di Surabaya. Informan II sangat guna, tetapi memiliki nilai tukar yang sangat
senang karena nantinya ia akan mendapatkan penting. Inilah fakta alienasi nilai guna buruh di
upah. Orientasi mendapatkan upah ini jelas kota Surabaya.
menunjukan bahwa informan II lebih Kondisi alienasi nilai guna buruh di kota
mengharapkan nilai tukar dari pada nilai guna Surabaya dipertegas oleh fakta Informan V; ia
dari pekerjaannya. Tenaga dan kemampuannya bekerja pada perusahaan pengolahan ikan, ikan-
dalam menghasilkan barang ditukar dengan ikan yang mengalami keterlambatan pengiriman,
uang sebagai upah yang ia terima dari bekerja. atau dipasarkan dan melampaui waktu akan
Hal ini juga sangat jelas menunjukkan dibuang, tegas informan IV. Fakta ini
keterasingan nilai guna pada Informan II. menunjukkan bahwa nilai guna barang-barang
tersebut sangat nihil, ketika diproduksi tetapi dihasilkan sangat banyak. Buruh bertahan hidup
tidak dipakai. Artinya, ketika nilai pakai suatu dengan uang Rp 117.115,00 setiap hari untuk
barang sudah hilang, maka buruh akan membiayai segala keperluan diri maupun
mengalami alienasi nilai guna. Berdasarkan membiayai keluarganya. Jika melihat fakta ini,
analisis, sangat jelas disimpulkan bahwa buruh sangat mudah untuk disimpulkan bahwa dari sisi
di kota Surabaya memiliki relevansi yang jelas upah buruh mengalami nilai lebih. Demikian pun
dengan pemikiran sosial-ekonomi Karl Marx dari sisi eksplotasi jam kerja, dari keseluruhan
berupa alienasi nilai guna. informan mengakui ada berbagai praktek
b) Nilai Lebih tentang jam kerja loyalitas yang diberikan
Peneliti menganalisis temuan alienasi nilai kepada perusahaan, misalnya antara tiga puluh
lebih pada buruh di kota Surabaya baik pada menit hingga satu jam kerja. Di sini sisi alienasi
Informan I, Informan II, Informan III, Informan IV nilai lebih sebagaimana diutarakan Marx terbukti.
dan Informan V dengan rumusan sebagai
berikut: c)Fetisisme atau Manipulasi Nilai Benda
UMK: HK: JK Keberadaan suatu benda hasil produksi
Ket: UMK (Upah Minimum kota yang dianggap independen berada di luar aktor
Surabaya tahun 2016 = 3.045.000 yang menciptakannya adalah sebuah manipulasi
HK (Jumlah Hari Kerja untuk mengonstruksi nilai suatu barang dan
dalam sebulan) = 26 hari kerja menegasikan peran aktor yang menciptakannya.
JK (Jumlah Jam Kerja Barang dilihat sebagai fakta objektif yang
dalam satu hari) = 8 jam kerja memiliki nilainya sendiri, tanpa melihat proses
Maka : 3.045.000: 26 = kemunculannya. Dalam konteks buruh dan
117.115,00 : 8 = 14.639,00 rupiah produksi, buruh tidak dilihat sebagai aktor
Berdasarkan perhitungan tersebut, dapat penting menghasilkan barang produksi, tetapi
dijelaskan bahwa secara umum upah yang memiliki realitas yang berbeda dari barang yang
27
diterima oleh masing-masing informan sebesar diproduksi . Seharusnya dalam nilai pekerjaan,
Rp 3.045.000 (UMK kota Surabaya 2016) setiap barang yang dihasilkan mesti dilihat sebagai
bulannya. Dalam satu bulan buruh bekerja keberhasilan aktor yang menciptakannya.
selama 26 hari (dikurangi satu hari libur setiap Faktanya adalah baik atau buruknya sebuah
minggu), maka UMK dibagi jumlah hari kerja, barang akan dinilai pada nilai objektif barang
buruh mendapatkan upah sebesar Rp tersebut, tetapi bukan siapa aktor yang
117.115,00 setiap hari. Upah harian ini pun menciptakan barang tersebut. Dari seluruh
dibagi delapan jam kerja dalam sehari maka informan yang diteliti, oleh menunjukan bahwa
buruh akan mendapatkan upah sebesar Rp informan tidak memiliki relasi yang cukup kuat
14.639,00 setiap jam. antara mereka dengan barang hasil produksi.
Praktis, Informan I, Informan II, Informan Informan I misalnya bekerja menghasilkan obat,
III, Informan IV, dan Informan V hanya tetapi mujarabnya obat tersebut ketika
mendapatkan upah sebesar Rp 14.639,00 setiap menyembuhkan penyakit tidak akan dianggap
jam, sementara tenaga yang mereka keluarkan sebagai keberhasilan Informan I, melainkan
begitu besar, sedangkan produksi yang
27
Ibid, h.156
dilihat sebagai keberhasilan obat tersebut. mendapatkan upah dalam bentuk uang (M),
Demikian pun Informan II dengan barang uang tersebut digunakan oleh Informan I untuk
otomotif yang dihasilkannya. Ia sama sekali tidak membeli kebutuhan hidup sehari-hari (C2). Hal
memiliki kepentingan atas barang teersebut, yang sama pula terjadi pada Informan II,
tetapi di pasaran barang tersebut memiliki nilai Informan III, Informan IV dan Informan V.
yang sangat besar. Informan III yang bekerja Dialektikanya sama, yakni menjual tenaga yang
menghasilkan roti, yang akan dinilai adalah dianggap sebagai komoditas (C1), mendapatkan
lezatnya roti tersebut yang dinikmati oleh uang (M) dan membeli komiditas baru (C2)
konsumen. Nilai baiknya ada pada objek roti, berupa barang yang dibutuhkan. Hal berbeda
bukan pada cara kerja pembuat rotinya. terjadi pada perusahaan yakni mereka membeli
Informan IV dan Informan V pun mengalami hal tenaga dari buruh dengan memberikan upah
yang sama. Hasil produksi mereka terabaikan (M1), tenaga buruh digunakan semaksimal
dari tenaga dan jam kerja yang mereka mungkin bahkan dieksploitasi untuk
keluarkan. Substansinya adalah, ketika buruh menghasilkan barang produksi (C), lalu barang
tidak memiliki kuasa atas barang yang dihasilkan hasil produksi tersebut di jual ke pasar dengan
dan barang tersebut dipandang sebagai sesuatu mendapatkan keuntungan berupa uang (M2).
yang berada di luar buruh bahkan barang Hukum yang terjadi adalah M2 akan lebih besar
tersebut disembah, maka di sinilah manipulasi dari M1 pada perusahaan, sedangkan pada
nilai benda terhadap kehidupan buruh sangat buruh tidak terjadi perubahan yang signifikan.
relevan sebagaimana dijelaskan Marx. KESIMPULAN
d) Sirkuit Modal
Berdasarkan hasil pengkajian dan analisis
Karl Marx menggunakan dua rumusan
peneliti dalam skripsi berjudul Marxisme dan
untuk menentukan sirkulasi modal di dalam
Buruh Indonesia Kontenmporer: Studi Dimensi
kehidupan masyarakat. Rumusan pertama
Relevansi dan Inrelevansi Pemikiran Sosial-
adalah C1-M-C2 untuk masyarakat proletar.
Ekonomi Karl Marx pada Buruh Pabrik di kota
Rumusan kedua adalah M1-C-M2 untuk kelas
Surabaya, setidaknya ditemukan beberapa hal
masyarakat borjuasi. Dalam konteks kehidupan
yang menjadi simpulan dalam penelitian ini
buruh saat ini, sirkulasi modal yang terjadi pada
antara lain di bawah ini:
kaum buruh adalah rumusan yang pertama yaitu
Pertama, beberapa pemikiran sosial-
C1-M-C2 (C = Komoditas, M = Uang).
ekonomi Karl Marx tidak pernah usang dan
Sementara rumusan M1-C-M2 adalah rumusan
senantiasa hidup sesuai zaman. Salah satu
yang digunakan oleh pemilk modal atau
pemikiran Karl Marx yang sangat relevan sampai
perusahaan. Rumusan ini menjelaskan bahwa
saat ini adalah soal “manifesto ekonomi-politik
buruh menjual komoditas (tenaga) untuk
marxis”, di mana di dalam tulisan ini peneliti
menghasilkan uang yang ia terima dari bekerja,
menyebutnya sebagai “pemikiran sosial dan
uang tersebut digunakan untuk membeli barang
ekonomi Karl Marx”. Perbedaan penyebutan ini
baru yang dibutuhkan dalam kehidupan sehari-
hanya bersifat teks, tetapi secara esensi peneliti
hari. Berdasarkan temuan di lapangan, dapat di
menegaskan tetap sama dan tidak menyimpang.
jelaskan bahwa Informan I, menjual tenaga (C1)
Esensinya adalah soal alienasi buruh. Di sinilah
dengan bekerja pada perusahaan untuk
peneliti menegaskan soal keaslian cara berpikir
peneliti secara akademis. Argumentasi kerja buruh mengalami banyak tekanan atau
pendukung peneliti terkait hal ini adalah melihat dieksploitasi,tetapi hasilnya bisa mengubah
apa yang dijelaskan Marx terkait alienasi yang kehidupan kaum buruh. Selanjutnya, simpulan
mendera kehidupan sosial masyarakat dan fakta Marx tentang kematian kapitalisme terbukti
ekonomi masyarakat. Pemikiran sosial Karl Marx sangat keliru.
meliputi; alienasi buruh atas produk yang Sampai saat ini perekonomian global
dihasilkan, alienasi buruh terhadap sesama sangat kental dengan praktek kapitalisme
buruh, alienasi buruh atas aktivitas kerja dan dengan meningkatnya industri-industri yang
alienasi beragama. Kelima komponen tersebut mengandalkan teknologi. Ramalan Marx tentang
masih hadir di dalam nuansa kehidupan sosial runtuhnya kapitalisme kemudian diganti
kaum buruh saat ini. Sementara itu, pemikiran sosialisme sangat tidak relevan dengan
ekonomi Karl Marx meliputi; alienasi nilai guna, kenyataan saat ini.Dengan demikian, dapat
nilai lebih, fetisisme atau manipulasi nilai benda, disimpulkan pula bahwa beberapa dimensi
serta sirkulasi modal. Keempat komponen pemikiran Marx menemui inrelevansinya di era
tersebut ada di dalam fakta ekonomi kaum kontemporer.
buruh.
Kedua, berdasarkan analisis data yang DAFTAR PUSTAKA
dilakukan disimpulkan bahwa pemikiran sosial Buku:
dan ekonomi Karl Marx secara menyeluruh Adams, Cindy. 1984. Soekarno:
memiliki relevansi dengan kehidupan kaum PenyambungLidah Rakyat. Jakarta:
GunungAgung.
buruh di kota Surabaya dalam konteks alienasi.
Bakker, Anton &Zubair, C.Ahmad. 1990.
Artinya, jika menelisik kehidupan buruh dalam MetodePenelitianFilsafat. Yogyakarta:
soal keterasingan sebagaimana dijelaskan Marx, Kanisius.
seluruh informan mengalami situasi alienasi. Berman, Marshal. 2002.
BerpetualangDalamMarxisme.
Ketiga, Marx dalam simpulannya soal Surabaya: PustakaPromothea.
alienasi buruh menyebut bahwa: 1) Buruh Boangmanalau, B. Singkop. 2008. Marx-
semakin hari akan mengalami kemelaratan Dostoievsky-Nietzche. Yogyakarta: AR-
Ruzz Media.
karena eksplotasi kapitalisme, 2) Marx juga
Brewer, Anthony. 1999. KajianKritis
menjelaskan bahwa buruh akan bergerak, DasKapital. Jakarta: Teplok Press.
meruntuhkan kapitalisme. Melihat fakta pada
Cahyono, Edy (editor). 2007. Tentang Das
buruh di kota Surabaya, apa yang diramalkan Capital Marx. Yogyakarta: Hasta Mitra.
Karl Marx tersebut terbukti gagal. Kenyataannya, Duverger, Maurice. SosiologiPolitik. Jakarta:
Grafindo.
buruh bekerja untuk mendapatkan upah
Fromm, Erich. 2001. KonsepManusiaMenurut
sehingga bisa bertahan hidup. Pekerjaan yang
Marx. Yogyakarta: PustakaPelajar.
dilakukan oleh keseluruhan informan sangat
Herdiansyah, Haris. 2010.
membantu dalam memenuhi kebutuhan hidup MetodologiPenelitianKualitatifuntukIlmu-
ilmuSosial. Jakarta: SalembaHumanika.
sehari-hari.
Kemenke, Eugene. 1982. The Portable Karl
Sebaliknya, ketika buruh diberhentikan
Marx. London: Penguin Books.
dari pekerjaannya, dapat membuatnya melarat.
Krasnoff, Larry. 2008. Hegel Phenomenology of
Dengan kata lain, meskipun di dalam dinamika Spirit. Cambridge: Cambridge University
Press.
Iramantoro, Ira (editor). 2006. Naskah- Lauren, Maria Theresa. 2013. PengantarUntuk
naskahEkonomidanFilsafattahun 1844. WTO and Maldevelopment. Asian Pacific
Jakarta; Hasta Mitra Research and Network (APRN).
Lenin, V.I. 2000. Negara danRevolusi. Wolf, Robert Paul. 1982. The Analytics of
Jakarta: Fuspad. TheLabour Theory of Value in David
Ricardo & Karl Marx. Midwest studi in
Mandel, Ernest. 2006. Tesis-
philosophy, Vol. 7
TesisPokokMarxisme. Jakarta: Resist Book.
Publikasiinstitusi:
Marx and Engels. 2005. KeluargaSuci.
Jakarta: Hasta Mitra. Woods, Alland and Ted Grant. 2006. Reasont
and Revolt Marxim. London: Institute of
Meyer, Thomas. 2003. Sosial-
Research and empowerment.
DemokrasidalamTeoridanPraktek:
PengalamanKaumSosialis- Skripsi:
DemokratJerman. Yogyakarta: CSDS.
R. Boris Septio W. 2008. Skripsi: Pemikiran Karl
Palms, L. Daniel. 2001. Seven Theory of Marx TentangEkonomiPolitikPerspektif
Religion: darianimisme E.B. Tylor, Islam. Fakultas Agama Islam,
Materialisme Karl Marx, UniversitasMuhamadiyah Surakarta
hinggaAntropologiBudayaC.Greetz.
RahmadPandjaitan. 2010. Pemikiran Karl Marx
Yogyakarta: Qalam.
TentangRevolusi.
Prabowo,H. 2002. PerspektifMarxisme Tan FakultasIlmuSosialdanIlmuPolitikUnivers
Malaka: TeoriPraksisMenujuRepublik. itas Sumatera Utara.
Yogyakarta: Jendela.
MuhamadZarfyYahya.2013. ProfilBuruhPabrik “2
Raines, Jhon. 2003. Marx Tentang Agama. TANG” di
Bandung: Teraju. SlawiKabupatenTegal.JurusanSosiologi
UniversitasNegeri Semarang.
Ramli, M Andy. 2006. PetaPemikiran Karl Marx
(Materialism Website:
DialektisdanMaterialismeHistoris).
“KerjaKonkretdanKerjaabstrak”
Yogyakarta: PT. Lkis.
http://indoprogress.com/lbr/?=484diaks
Ritzer, George dan Goodman, J. Douglas. 2004. espada 5 september 2015
TeoriSosiologi Modern. Jakarta:
Naskah:
Kencana.
Undang-undangRepublik Indonesia No. 13
Scacht, Richard. 2005. Alienasi. Yogyakarta:
Tahun 2003 TentangtenagaKerja.
Jalasutra.
Peraturan Pemerintah (PP) No 78. Tahun
Suryajaya, Martin. 2013. Asal-
2015 tentang pengupahan
usulKekayaandalamIlmuEkonomi Dari
AristotelessampaiAmartya Sen. Peraturan Gubernur Jawa Timur No. 68 Tahun
Yogyakarta: Resist Book 2015 Tentang UMK di Jawa Timur
tahun 2016
Suseno, M.Frans. 2003. Pemikiran Karl Marx:
Dari
SosialismeUtopiskePerselisihanRevision
is. Jakarta: Gramedia
SuyantodanSutinah (ed). 2005.
MetodePenelitianSosial. Jakarta: Kencana.
Usman, Suyoto. 2004. Sosiologi: Sejarah,
TeoridanMetodologi. Yogyakarta: Cired.
Jurnal:
Ismail, Indriaty&Basir Z.K Mohamad.2012. Karl
Marx
dankonsepPerjuanganKelas.Internationa
l Journal of Islamic Thought.Vol.I