Sunteți pe pagina 1din 11

TUGAS

PATOLOGI MANUSIA

DISUSUN OLEH

NAMA : AMANCE HARUN RUMODAR

NIM :PO7131017002

TKT : II – A

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA

POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES MALUKU

JURUSAN GIZI

AMBON

2018
PEMBAHASAN

Tugas I

Soal:

1. Konsep Dasar Patologi


Patologi merupakan ilmu yang mempelajari penyakit, meliputi pengetahuan dan
pemahaman dari perubahan fungsi dan struktur pada penyakit, mulai tingkat molekuler
sampai pengaruhnya pada setiap individu. Patologi merupakan subjek yang selalu mengalami
perubahan, penyempurnaan dan perluasan dalam memahami pengetahuan tentang penyakit.
Patologi bertujuan utama untuk mengidentifikasi sebab suatu penyakit, untuk program
pencegahan suatu penyakit. Dalam maka yang paling luas, patologi secara harfiah adalah
biologi abnormal, studi mengenai proses-proses biologic yang tidak sesuai, atau studi
mengenai individu yang sakit atau yang terganggu. Dalam konteks kedokteran manusia,
patologi tidak hanya merupakan ilmu dasar atau teoritik, tetapi juga merupakan spesialis
kedokteran klinis.
2. Istilah-istilah dalam Patologi
1. Biopsi: potongan kecil jaringan yang didapat dari penderita; diperoleh dari eksisi,
endoskopi, sistoskopi, dan hasil operasi.
Ekstirpasi: pengambilan KGB untuk melihat kelainan atau keganasan; sekarang sudah
jarang digunakan.
Kerokan/kuretage: khusus untuk kelainan di endometrium, serviks, dan uterus, misalnya
abortus, mola hidatidosa, kelainan hormonal, karsinoma.
Protokol pengiriman bahan histopatologi:
- Formalin 10% buffer
- Sediaan dimasukkan ke dalam cairan fiksasi dengan kondisi V cairan 10x V jaringan;
agar tidak busuk
- Bila jaringan besar lakukan lamelasi/irisan dengan jarak 1 cm agar cairan masuk ke
dalam jaringan
- Ditutup agar idak tumpah

2. Sitologi --> mencari dan menilai perubahan dari setiap struktur sel yang ditemukan
untuk deteksi kanker, serta kelainan genetik dan hormonal.
Sitologi eksfoliatif : ilmu atau pengetahuan tentang tumpukan sel-sel, yang digunakan
untuk diagnosa dini penyakit kanker.
Eksfoliasi spontan terjadi karena sel dewasa digantikan oleh sel muda sebagai tanda
bahwa sel epitel/jaringan menutupi permukaan.
Dalam pap smear (diambil dari daerah fornix posterior/squamo-columnar junction dengan
alkohol 95% dan pewarnaan papanicolau) ditemukan berbagai macam sel yang berasal
dari berbagai jenis jaringan dalam saluran genitalia wanita. Sediaan tidak representatif
bila:
- terlalu sedikit bahan
- apusan tebal
- terlalu banyak darah
- fiksasi jelek
- tidak ada sel endoservik
Terbagi atas ginekologik dan non ginekologik. Pada ginekologik sediaan diambil dari
apusan dinding lateral vagina 1/3 bagian dalam, endometrium, dan serviks. Pada non-
ginekologik diambil dari sputum, TTB (transthoracal biopsy), cairan lambung, urin (slide
dimasukkan botol dgn alkohol 95%, atau cairan langsung difiksasi alkohol 50% aa), asites
(100-200cc difiksasi dgn alkohol 50%aa), LCS. FNAC (Fine Needle Aspiration
Cytology; fiksasi kering di udara terbuka; fiksasi basah dgn alkohol 95%) digunakan pada
organ superfisial maupun dalam.
3. Ruang Lingkup Patologi

a. Klinik
Patologi klinik adalah bagian dari ilmu kedokteran klinik yang ikut mempelajari
masalah diagnostik dan terapi, ikut meneliti wujud dan perjalanan penyakit pada seorang
penderita atau bahan yang berasal dari seorang penderita. Untuk itu patologi klinik
merupakan pemeriksaan morfologis, mikroskopis, kimia, mikrobiologis, serologis,
hematologis, imunologis, parasitologis, dan pemeriksaan laboratorium lainnya.
Patologi klinik merupakan cabang dari ilmu patologi, berbeda dari cabang ilmu patologi
lainnya, yaitu patologi anatomi, yang mempelajari mengenai anatomi jaringan yang
terinfeksi.
Ilmu patologi klinik menekankan penelitiannya pada diagnosis, pemulihan, dan
pencegahan berbagai jenis penyakit. Secara umum, pemeriksaan suatu penyakit dideteksi
berdasarakan perubahan berbagai jenis proses biokimia yang berlangsung di dalam tubuh
pasien. Sampel yang umumnya digunakan untuk pemeriksaan di laboratorium adalah
cairan tubuh seperti urine dan darah. Patologi klinik dapat digunakan untuk pemeriksaan
berbagai jenis penyakit hati terinduksi pemakaian obat tertentu, HIV, kanker, deteksi
kelainan pada paru-paru, dan gangguan metabolisme ion besi di dalam tubuh.
Pemeriksaan tersebut pada umumnya melibatkan serangkaian tes berkelanjutan, seperti
analisis mikroskopis, uji imunologis, hematologis, dan radiologis sehingga memakan
waktu yang cukup lama.

b. Anatomi
Patologi Anatomi merupakan bagian dari ilmu patologi yang wajib dipelajari oleh
mahasiswa kedokteran. Pemeriksaan patologi tidak hanya berdasarkan pemeriksaan
jaringan saja melainkan pemeriksaan secara makroskopis.
Definisi Patologi Anatomi adalah spesialisasi medis yang berurusan dengan diagnosis
penyakit berdasarkan pada pemeriksaan kasar, mikroskopik, dan molekuler atas organ,
jaringan, dan sel. Patolog anatomi mendiagnosis penyakit dan memperoleh informasi
yang berguna secara klinis melalui pemeriksaan jaringan dan sel, yang umumnya
melibatkan pemeriksaan visual kasar dan mikroskopik pada jaringan, dengan pengecatan
khusus dan imunohistokimia yang dimanfaatkan untuk memvisualisasikan protein khusus
dan zat lain pada dan di sekeliling sel. Kini, patolog anatomi mulai mempergunakan
biologi molekuler untuk memperoleh informasi klinis tambahan dari spesimen yang
sama.
Secara Umum Patologi Anatomi merupakan ilmu yang bertujuan untuk mendiagnosa
penyakit dengan pemeriksaan kasar, mikroskopik menggunakan bahan kimia, imunologi
dan molekuler terhadap organ, jaringan, dan sel. Dengan tujuan akhir pemeriksaan
mikroskopik (menggunakan mikroskop) sehingga untuk dapat terlihatnya struktur organ,
jaringan dan sel maka spesimen yang berupa organ tubuh atau bagian dari organ tubuh
yang berupa jaringan dan sel harus melalui beberapa tahapan proses.
 Permeriksaan Patologi Anatomi
Adalah Pemeriksaan laboratorium yang dilakukan terhadap jaringan tubuh atau
cairan yang berasal dari tubuh manusia, serta menggunakan metoda tertentu
untuk mendapatkan diagnosis penyakit.

 Jenis Pemeriksaan Patologi Anatomi


1. Pemeriksaan histopatologi (parafin & potong beku)
2. Pemeriksaan Sitopatologi, Sitologi eksfoliatif (apus vagina, servix,
sputum bilasan /sikatan bronkus), Sitilogi Eksfoliatif jaringan tubuh
(urine, ascites, pleura, cairan kista)
3. Pemeriksaan Histokimia
4. Pemeriksaan Imunopatologi
5. Pemeriksaan autopsi klinik
 Prosedur Pemeriksaan Patologi Anatomi
1. Prosedur Pemeriksaan Patologi anatomi Biasa (memakai blok parafin)
2. Prosedur Pemeriksaan Potong Beku (VC)
3. Prosedur Pemeriksaan Sitologi Eksfoliatif
4. Prosedur Pemeriksaan Sitologi Eksfoliatif jaringan tubuh
5. Prosedur Pemeriksaan Aspirasi
6. Prosedur Pemeriksaan Histokimia
7. Prosedur Pemeriksaan Imunopatologi
8. Prosedur Pemeriksaan Autopsi Klinik
4. Penyakit-penyakit yang Menyebabkan Masalah Gizi
Masalah gizi merupakan hal yang sangat kompleks dan penting untuk segera diatasi.
Terutama karena Indonesia merupakan salah satu negara yang mempunyai permasalahan gizi
paling lengkap. Beberapa penelitian menyebutkan bahwa masalah gizi di Indonesia cenderung
terus meningkat, tidak sebanding dengan beberapa negara ASEAN lainnya seperti Malaysia,
Singapura, dan Thailand.
a. Kurang Vitamin A (KVA)
Kekurangan vitamin A (KVA) merupakan salah satu masalah gizi di Indonesia yang
umum dialami oleh anak-anak dan ibu hamil. Meskipun ini termasuk masalah gizi yang
sudah dapat dikendalikan, kekurangan vitamin A dapat berakibat fatal bila tidak segera
ditangani.
Pada anak-anak, kekurangan vitamin A dapat menyebabkan gangguan penglihatan
hingga kebutaan dan meningkatkan perkembangan penyakit diare dan campak. Sementara
untuk ibu hamil yang kekurangan vitamin A berisiko tinggi mengalami kebutaan atau
bahkan kematian saat persalinan.

Jangan khawatir, kekurangan vitamin A dapat dicegah dengan pemberian kapsul


vitamin A. Kapsul vitamin A diberikan setahun dua kali pada bulan Februari dan
Agustus, sejak anak berumur enam bulan. Kapsul merah (dosis 100.000 IU) diberikan
untuk bayi umur 6-11 bulan dan kapsul biru (dosis 200.000 IU) untuk anak umur 12-59
bulan.

b. Gangguan Akibat Yodium (GAKY)

Tubuh Anda membutuhkan sejumlah iodium untuk membuat zat kimia yang dikenal
sebagai hormon tiroid. Hormon tiroid inilah yang mengendalikan metabolisme dan fungsi
penting tubuh lainnya. Kekurangan iodium atau GAKI (Gangguan Akibat Kekurangan
Iodium) memang bukanlah satu-satunya penyebab kadar tiroid dalam tubuh menjadi
rendah. Namun, kekurangan iodium dapat menyebabkan pembesaran abnormal kelenjar
tiroid, yang dikenal sebagai gondok.

Untuk menanggulangi masalah ini, pemerintah telah mewajibkan semua garam yang
beredar harus mengandung iodium sekurangnya 30 ppm. Bagaimana dengan Anda,
sudahkah menggunakan garam beryodium

c. Anemia

Anemia merupakan kondisi saat tubuh tidak memiliki cukup sel darah merah yang
sehat untuk membawa oksigen ke jaringan tubuh. Masalah kesehatan ini paling banyak
ditemukan pada ibu hamil dengan gejala-gejala berupa rasa lelah, lemah, pucat, detak
jantung tidak beraturan, dan sakit kepala.

d. Kekurangan Energi Protein (KEP)


Kurang Energi Protein (KEP) adalah seseorang yang kurang gizi yang disebabkan
oleh rendahnya komsumsi energi dan protein dalam makanan sehari-hari atau gangguan
penyakit –penyakit tertentu. Anak tersebut kurang energi protein (KEP) apabila berat
badanya kurang dari 80 % indek berat badan/umur baku standar,WHO –NCHS,
(DEPKES RI,1997).
Kurang energi protein (KEP) yaitu seseorang yang kurang gizi yang disebabkan oleh
rendahnya konsumsi energi protein dalam makan sehari-hari dan atau gangguan penyakit
tertentu sehingga tidak memenuhi angka kecukupan gizi (AKG). Kurang energy protein
merupakan keadaan kuang gizi yang disebakan oleh rendahnya konsumsi energi dan
protein dalam makanan sehari-hari sehingga tidak memenuhi angka kecukupan gizi
(Depkes 1999). KEP itu sendiri dapat digolongkan menjadi KEP tanpa gejala klinis dan
KEP dengan gejala klinis. Secara garis besar tanda klinis berat dari KEP adalah
Marasmus, Kwashiorkor, dan Marasmus-Kwashiorkor.
 Jenis-Jenis Kekurangan Energi Protein ( KEP )
a. Kwashiorkor
Kwashiorkor merupakan keadaan kekurangan nutrisi terutama
kekurangan protein. Umumnya keadaan ini terjadi akibat kurangnya asupan
gizi yang sering terjadi di negara berkembang atau pada daerah yang
mengalami embargo politik. Daerah yang sangat terpencil juga merupakan
salah satu faktor terjadinya kondisi kwashiorkor.
Individu yang mengalami kwashiorkor dapat mengalam berbagai macam
manifestasi atau gejala antara lain: penurunan berat badan, penurunan massa
otot, diare, lemah lesu, perut buncit, bengkak pada tungkai, perubahan warna
rambut, dan lain-lain. Seperti yang kita ketahui protein berfungsi dalam
pembentukan enzim-enzim penting dalam tubuh. Kurangnya protein
mengakibatkan kurangnya enzim tersebut. Pada anak kecil seringkali terjadi
intoleransi laktosa akibat enzim pencernaan yang kurang dan hal ini
mengakibatkan terjadinya diare pada anak-anak kurang energi protein. Pada
individu yang mengalami keadaan ini, pemberian makanan haruslah
dilakukan.secara bertahap. Zat makanan pertama yang perlu diberikan adalah
karbohidrat karena karbohidrat merupakan sumber utama pembentukan
energi oleh tubuh. Setelah itu barulah lemak dan protein diberikan.
Penatalaksanaan yang baik akan menyelamatkan nyawa anak tersebut namun
efek gangguan perkembangan anak yang telah terjadi belum tentu akan pulih
dan umumnya akan menetap. Keadaan kwashiorkor merupakan suatu
keadaan bahaya yang dapat menyebabkan kematian oleh karena itu usaha
promotif dan preventif adalah yang utama.
Pencegahan agar anak terhindar dari kwashiorkor adalah cukup mudah, tidak
perlu ada obat-obatan yang wajib dikonsumsi. Pemberian makanan dengan
komposisi yang baik sudah dapat “menjamin” bahwa anak tersebut tidak akan
jatuh ke keadaan kwashiorkor. Karbohidrat harus merupakan sumber energi
yang utama selain lemak (10% asupan), dan protein (12%).

b. Marasmus
Kekurangan energi marasmus merupakan suatu keadaan kekurangan
energi protein akibat rendahnya asupan karbohidrat. Keadaan ini acapkali
ditemukan dan angka kejadiannya mencapai 49% pada kurang lebih 10 juta
anak di bawah 5 tahun yang mengalami kematian di negara berkembang,
sedangkan di negara maju angka kejadiannya tidak begitu tinggi.
Adanya kondisi fisik yang tidak baik merupakan salah satu faktor risiko
terjadinya kekurangan karbohidrat pada anak-anak. Kondisi fisik tersebut
antara lain adalah penyakit jantung bawaan, retardasi mental, penyakit
kanker, infeksi kronis, keadaan yang mengharuskan anak dirawat lama di
rumah sakit. Anak akan tampak lesu dan tidak bersemangat, diare kronis,
berat badan tidak bertambah.
Pemeriksaan untuk mengetahui apakah anak menderita marasmus dapat
dilakukan melalui pengukuran tebal lipat lemak pada lengan atas, perut.
Pemeriksaan ini memiliki keterbatasan karena rata-rata anak berusia di bawah
5 tahun memiliki tebal lipat lemak pada lengan atas yang tidak jauh berbeda.
Penelitian di Nigeria menunjukkan hal yang menarik dimana kadar kolesterol
anak yang menderita marasmus lebih tinggi daripada anak yang menderita
kwashiorkor. Alasan mengapa hal ini dapat terjadi masih belum dapat
dijelaskan dengan baik.
Kekurangan energi protein pada anak-anak merupakan suatu keadaan bahaya
yang perlu dilakukan tindakan segera. Kekurangan energi protein ini
mengakibatkan perubahan komposisi tubuh, perubahan anatomi dan
metabolisme tubuh yang bisa permanen jika tidak ditatalaksana dengan
segera.

c. Marasmus kwashiorkor
Pada kekurangan energi marasmus kwashiorkor terdapat kekurangan
energi kalori maupun protein. Mengapa ada anak yang jatuh ke dalam
keadaan kwashiorkor, marasmus, atau marasmus kwashiorkor masih belum
jelas dan masih membutuhkan penelitian yang lebih lanjut. Namun semua
bentuk kekurangan energi protein pada anak-anak ini disebabkan oleh asupan
makanan bergizi yang tidak adekuat atau adanya kondisi fisik tubuh yang
mengakibatkan makanan yang dikonsumsi tidak dapat diserap dan digunakan
oleh tubuh selain adanya keadaan metabolisme yang meningkat yang
disebabkan mungkin oleh penyakit kronis atau penyakit keganasan.
d. Stunting
Stunting merupakan kondisi malnutrisi kronis yang disebabkan oleh
asupan gizi yang kurang dalam waktu cukup lama, umumnya karena
pemberian makanan yang tidak sesuai dengan kebutuhan gizi. Stunting terjadi
mulai dari dalam kandungan dan baru terlihat saat anak berusia dua tahun.
Gejala-gejala stunting di antaranya:
 Postur anak lebih pendek dari anak seusianya
 Proporsi tubuh cenderung normal, tetapi anak tampak lebih muda
atau kecil untuk usianya
 Berat badan rendah untuk anak seusianya
 Pertumbuhan tulang tertunda

Tugas 2

Soal:

1. Gangguan Akibat Kekurangan Energi Protein (KEP) Meliputi


a. Patogenesis
1. Patogenesis Marasmus
Pada keadaan marasmus yang menyolok ialah pertumbuhan yang kurang atau terhenti
disertai atrofi otot dan menghilangnya lemak di bawah kulit. Pada mulanya kelainan
demikian merupakan suatu proses fisiologis. Untuk kelangsungan hidup jaringan,
tubuh memerlukan energi yang dapat dipenuhi oleh makanan yang diberikan.
Kebutuhan ini tidak terpenuhi pada intake yang kurang, karena itu untuk
pemenuhannya digunakan cadangan protein tubuh sebagai sumber energi.
Penghancuran jaringan pada defisiensi kalori tidak saja membantu memenuhi
kebutuhan energi, akan tetapi juga memungkinkan sintesis glukosa dan metabolit
esensial lainnya seperti berbagai asam amino untuk komponen homeostatik. Oleh
karena itu pada marasmus berat, kadang-kadang masih ditemukan kadar asam amino
yang normal, sehingga hati masih dapat membentuk albumin.
2. Patogenesis Kwashiorkor
Pada kwashiorkor yang klasik, gangguan metabolisme dan perubahan sel
menyebabkan edema dan perlemakan hati. Pada penderita defisiensi protein tidak
terjadi katabolisme jaringan yang sangat berlebihan karena persediaan energi dapat
dipenuhi oleh jumlah kalori yang cukup dalam dietnya. Namun kekurangan protein
dalam diet akan menimbulkan kekurangan berbagai asam amino esensial yang
dibutuhkan untuk sintesis. Oleh karena dalam diet terdapat cukup karbohidrat, maka
produksi insulin akan meningkat dan sebagian asam amino dari dalam serum yang
jumlahnya sudah kurang tersebut akan disalurkan ke otot. Berkurangnya asam amino
dalam serum merupakan penyebab kurangnya pembentukan albumin oleh hati,
sehingga kemudian timbul edema.
Perlemakan hati terjadi karena gangguan pembentukan lipoprotein beta sehingga
transport lemak dari hati ke depot lemak juga terganggu dan akibatnya terjadi
akumulasi lemak dalam hati.
b. Etiologi
Penyebab langsung dari KEP adalah defisiensi kalori maupun protein dengan berbagai
gejala-gejala. Sedangkan penyebab tidak langsung KEP sangat banyak sehingga penyakit
ini sering disebut juga dengan kausa multifaktorial. Salah satu penyebabnya adalah
keterkaitan dengan waktu pemberian Air Susu Ibu (ASI) dan makanan tambahan setelah
disapih.
Selain itu, KEP merupakan penyakit lingkungan, karena adanya beberapa factor yang
bersama-sama berinteraksi menjadi penyebab timbulnya penyakit ini, antara lain yaitu
factor diet, factor social, kepadatan penduduk, infeksi, kemiskinan, dan lain-lain. Peran
diet menurut konsep klasik terdiri dari dua konsep. Pertama yaitu diet yang mengandung
cukup energy, tetapi kurang protein akan menyebabkan anak menjadi penderita
kwashiorkor, sedangkan konsep yang kedua adalah diet kurang energy walaupun zat gizi
(esensial) seimbang akan menyebabkan marasmus. Peran factor social, seperti pantangan
untuk menggunakan bahan makanan tertentu yang sudah turun temurun dapat
mempengaruhi terjadinya KEP. Ada pantangan yang berdasarkan agama, tetapi ada juga
pantangan yang berdasarkan tradisi yang sudah turun temurun, tetapi kalau pantangan
tersebut berdasarkan agama, maka akan sulit untuk diatasi. Jika pantangan berdasarkan
pada kebiasaan atau tradisi, maka dengan pendidikan gizi yang baik dan dilakukan
dengan terus-menerus hal ini akan dapat diatasi.
KEP pada dasarnya sangat ditentukan oleh 2 faktor. Factor-faktor yang secara langsung
dapat mempengaruhi terjadinya KEP pada balita adalah makanan dan ada atau tidaknya
penyakit infeksi. Kedua factor ini dipengaruhi oleh kualitas dan kuantitas makanan yang
dimakan oleh seorang anak, antara lain ditentukan oleh beberapa factor penyebab tidak
langsung, yaitu: a) zat-zat gizi yang terkandung di dalam makanan, b) daya beli keluarga,
meliputi penghasilan, harga bahan makanan dan pengeluaran keluarga untuk kebutuhan
lain selain makanan, c) kepercayaan ibu tentang makanan serta kesehatan, d) ada atau
tidaknya pemeliharaan kesehatan termasuk kebersihan, dan e) fenomena social dan
keadaan lingkungan.
Menurut Departemen Kesehatan RI dalam tata buku pedoman Tata Laksana KEP pada
anak di puskesmas dan di rumah tangga, KEP berdasarkan gejala klinis ada 3 tipe yaitu
KEP ringan, sedang, dan berat (gizi buruk). Untuk KEP ringan dan sedang, gejala klinis
yang ditemukan hanya anak tampak kurus. Gejala klinis KEP berat/gizi buruk secara
garis besar dapat dibedakan sebagai marasmus, kwashiorkor dan marasmus-kwashiorkor.
Salah satu sebab yang mengakibatkan terjadinya marasmus adalah kehamilan berturut-
turut dengan jarak kehamilan yang masih terlalu dini. Selain itu marasmus juga
disebabkan karena pemberian makanan tambahan yang tidak terpelihara kebersihannya
serta susu buatan yang terlalu encer dan jumlahnya tidak mencukupi karena keterbatasan
biaya, sehingga kandungan protein dan kalori pada makanan anak menjadi rendah.
Keadaan perumahan dan lingkungan yang kurang sehat juga dapat menyebabkan
penyajian yang kurang sehat dan kurang bersih. Demikian juga dengan penyakit infeksi
terutama saluran pencernaan. Pada keadaan lingkungan yang kurang sehat, dapat terjadi
infeksi yang berulang sehingga menyebabkan anak kehilangan cairan tubuh dan zat-zat
gizi sehingga anak menjadi kurus serta turun berat badannya.
Kwashiorkor dapat ditemukan pada anak-anak yang setelah mendapatkan ASI dalam
jangka waktu lama, kemudian disapih dan langsung diberikan makan seperti anggota
keluarga yang lain. Makanan yang diberikan pada umumnya rendah protein. Kebiasaan
makan yang kurang baik dan diperkuat dengan adanya tabu seperti anak-anak dilarang
makan ikan dan memprioritaskan makanan sumber protein hewani bagi anggota keluarga
laki-laki yang lebih tua dapat menyebabkan terjadinya kwashiorkor. Selain itu tingkat
pendidikan orang tua yang rendah dapat juga mengakibatkan terjadinya kwashiorkor
karena berhubungan dengan tingkat pengetahuan ibu tentang gizi yang rendah.
c. Hasil Laboratorium (LAB)
Dalam mengetahui status gizi, diperlukan baku standar untuk mengetahui apakah
seseorang menderita gizi buruk atau tidak. Dalam skenario, ada 4 indikator untuk
mengetahui status gizi, yaitu berat badan, kadar Hb, kadar protein dan kadar albumin.
1. Kadar Hb normal anak: 11-14 gr/dL. Dalam skenario didapat hasil 10.1 gr/dL.
Berarti dibawah batas normal
2. Kadar protein normal: 6-8 gr/dL. Dalam skenario didapat hasil 6.2 gr/dL. Berarti
berada di ambang batas normal
3. Kadar albumin normal 1 tahun: 3,6-5 gr/dL. Dalam skenario didapat hasil 2.3
gr/dL. Berarti berada dibawah batas normal
4. Berat badan normal usia 1 tahun: 7.7-12 kg. Dalam skenario didapat berat badan
5.900 gram atau setara 5,9 kg. Berarti berat badan dibawah berat badan normal.
Dalam kg Z score < -3 SD artinya menderita gizi buruk
d. Gambaran Klinik
Gejala klinis Balita KEP berat/Gizi buruk Untuk KEP ringan dan sedang, gejala klinis
yang ditemukan hanya anak tampak kurus. Gejala klinis KEP berat/gizi buruk secara
garis besar dapat dibedakan sebagai marasmus, kwashiorkor atau
marasmickwashiokor.Tanpa mengukur/melihat BB bila disertai oudema yang bukan
karena penyakit lain adalah KEP berat/gizi buruk tipe kwashiorkor.
a. Kwashiokor
1. Oudema,umumnya seluruh tubuh,terutama pada pada punggung kaki
(dorsum pedis )
2. Wajah membulat dan sembab
3. Pandangan mata sayu
4. Rambut tipis, kemerahan seperti warna rambut jagung, mudah dicabut
tanpa rasa sakit,rontok
5. Perubahan status mental, apatis dan rewel
6. Pembesaran hati
7. Otot mengecil(hipotrofi), lebih nyata bila diperiksa pada posisi berdiri
atau duduk
8. Kelainan kulit berupa bercak merah muda yang meluas dan berubah
warna menjadi coklat kehitaman dan terkelupas
9. Sering disertai penyakit infeksi, umumnya akut,anemia dan diare.
c. Marasmus
1. Tampak sangat kurus,tinggal tulang terbungkus kulit
2. Wajah seperti orang tua
3. Cengeng rewel
4. Kulit keriput,jaringan lemak subkutis sangat sedikit sampai tidak ada
(pakai celana longgar )
5. Perut cekung
6. Iga gambang
7. Sering disertai penyakit infeksi( umumnya kronis berulang), diare kronis
atau konstipasi/susah buang air.
d. Marasmic Kwasiorkor
Gambaran Klinik yang merupakan Campuran dari Beberapa gejala Klinik
kwashiorkor dan Marasmus,disertai Edema yang Mencolok.
e. Penatalaksanaan
Prinsip dasar penatalakasana pengobatan rutin yang dilakukan pada penderita KEP
berat/gizi buruk adalah:
1. Atasi/cegah hipoglikemia.
2. Atasi/cegah hipotermia.
3. Atasi/cegah dehidrasi.
4. Koreksi gangguan keseimbangan elektrolit.
5. Obati/cegah infeksi.
6. Mulai pemberian makanan.
7. Fasilitasi tumbuh kejar (catch up growth).
8. Koreksi defisiensi nutrien mikro.
9. Lakukan stimulasi sensorik dan dukungan emosi/mental.
10. Siapkan dan rencanakan tindak lanjut setelah sembuh.

Referensi:

https://id.wikipedia.org/wiki/Patologi_anatomi

Shadily, Hassan. Ensiklopedi Indonesia. Ichtiar Baru-Van Hoeve dan Elsevier Publishing Projects.
Jakarta, 1984. Hal.

Medical College of Wisconsin". Diakses tanggal 24-07-2011.

Clinical Pathology Overview". Diakses tanggal 24-07-2011.

Journal of Clinical Pathology". Diakses tanggal 24-07-2011.


https://id.wikipedia.org/wiki/Patologi_anatomi

Menkes: Ada Tiga Kelompok Permasalahan Gizi di Indonesia.


http://www.depkes.go.id/article/print/2136/menkes-ada-tiga-kelompok-permasalahan-gizi-di-
indonesia.html. Diakses pada 11 Januari 2018.

Kementerian Kesehatan RI. 2013. Riset Kesehatan Dasar 2013. Jakarta.

Micronutrient Deficiencies. http://www.who.int/nutrition/topics/vad/en/. Accessed 11/1/2018.

Stunting. http://adoptionnutrition.org/what-every-parent-needs-to-know/common-nutrient-
deficiencies/stunting/. Accessed 11/1/2018.