Sunteți pe pagina 1din 9

TUGAS TEKNOLOGI FARMASI SEDIAAN PADAT

Disusun oleh : Amar Maruf


Kelas : 3 Fa 1
NPM :11161003

SEKOLAH TINGGI FARMASI BANDUNG


JL. SOEKARNO HATTA NO 754 CIBIRU BANDUNG
1. Jelaskan dan uraikan berbagai bentuk jenis sediaan padat untuk kuratif-preventif-promotif
pada era pelayanan kesehatan semesta (UHC) !
Jawab :
a. Tablet
Tablet adalah sediaan adat mengandung bahan obat dengan atau tanpa bahan
pengisi. Berdasarkan metode pembuatan, dapat digolongkan sebagai tablet cetak dan
tablet kempa. Sebagian besar tablet dibuat dengan cara pengempaan dan merupakan
bentuk sediaan yang paling banyak digunakan. Tablet kempa dibuat dengan
memberikan tekanan tinggi pada serbuk atau granul menggunakan cetakan baja. Tablet
dapat dibuat dalam berbagai ukuran, bentuk dan penandaan permukaan tergantung pada
desain cetakan. Tablet cetak dibuat dengan cara menekan massa serbuk lembab dengan
tekanan rendah ke dalam lubang cetakan. Kepadatan tablet tergantung pada ikatan
kristal yang terbentuk selama proses pengeringan selanjutnya dan tidak tergantung pada
kekuatan tekanan yang diberikan. (Farmakope Indonesia Ed. V hal. 57)
Jenis-jenis tablet:
- Tablet triturate; merupakan tablet cetak atau kempa berbentuk kecil, umumnya
silendris, digunakan untuk memberikan jumlah terukur yang tepat untuk peracikan
obat.
- Tablet hipodermik; adalah tablet cetak yang dibuat dari bahan yang mudah larut atau
melarut sempurna dalam air, harus steril dan dilarutkan terlebih dahulu sebelum
digunakan untuk injeksi hipodermik.
- Tablet sublingual; digunakan dengan cara meletakkan tablet dibawah lidah sehingga
zat aktif diserap secara langsung melalui mukosa mulut, diberikan secara oral atau
jika diperlukan ketersedian obat yang cepat seperti tablet nitro gliserin.
- Tablet bukal; digunakan dengan cara meletakkan tablet diantara pipi dan gusi
segingga zat aktif diserap secara langsung melalui mukosa mulut.
- Tablet effervescence; dibuat dengan cara dikempa, selain zat aktif tablet
mengandung campuran asam (asam sitrat, asam-asam tartrat) dan natrium
bikarbonat yang jika dilarutkan dalam air akan menghadilkan karbon dioksida.
Tablet disimpan dalam wadah tertutup rapat atau dalam kemasan tahan lembab dan
pada etiket tertera informasi bahwa tablet ini tidak untuk ditelan.
- Tablet kunyah (chewable); tablet dimaksudkan untuk dikunyah, meninggalkan
residu dengan rasa enakdalam rongga mulut. Diformulasikan untuk anak-anak,
terutama formulasi multivitamin, antasida dan antibiotik tertentu. Dibuat dengan
cara dikempa, pada umumnya menggunakan manitol, sorbitol, dan sukrosa sebagai
bahan pengikat atau pengisi serta mengandung bahan pewarna dan bahan pengaroma
untuk meningkatkan penampilan dan rasa.
b. Kapsul
Kapsul adalah sediaan padat yang terdiri dari obat dalam cangkang keras atau
lunak yang dapat larut. Cangkang umumnya tervuat dari gelatin; tetapi dapat juga
terbuat dari pati atau bahan lain yang sesuai. (Farmakope Indonesia Ed. V hal. 49)
c. Suppositoria
Suppositoria adalah sediaan padat dalam berbagai bobot dan bentuk, yang
diberikan melalui rektal, vagina atau uretra. Umumnya meleleh, melunak atau melarut
pada suhu tubuh. (Farmakope Indonesia Ed. V hal. 55)
d. Serbuk
Serbuk adalah campuran kering bahan obat atau zat kimia yang dihaluskan,
ditujukan untuk pemakaian oral atau untuk pemakaian luar. (Farmakope Indonesia Ed.
V hal. 54)

2. Jelaskan dan uraikan satu sediaan padat dari berbagai jenis pada era UHC dengan catatan
harus memiliki data uji disolusi (berdasarkan monografi FI V) serta termasuk dalam daftar
catalog obat secara elektronik kemenkes !
Jawab :
Ketokonazol merupakan zat antijamur sintetik golongan azol yang merupakan turunan
imidazol. Ketokonazol praktis tidak larut dalam air dan ketersediaan hayati melalui rute
oral sangat beragam tergantung dari kondisi pH saluran pencernaan. Dispersi padat di
evaluasi dengan uji kelarutan, uji disolusi, kristalinitas, dan morfologinya.
Uji disolusi juga dilakukan pada tablet yang mengandung dispersi padat. Uji disolusi
juga dilakukan pada sediaan tablet yang mengandung dispersi padat formula optimum dan
campuran fisiknya yang dibuat dengan metode kempa langsung. Sediaan tablet yang
mengandung dispersi padat juga menunjukkan peningkatan persen terdisolusi. Proses
tabletasi mempengaruhi disolusi dispersi padat sehingga terjadi penurunan jumlah yang
terdisolusinya. Pembentukan dispersi padat ketokonazol dengan Eudragit® E 100 dan
gliserol dapat meningkatkan kelarutan dan disolusi ketokonazol. Pembuatan dispersi padat
yang dilakukan tidak efektif untuk meningkatkan disolusi ketokonazol dari sediaan tablet.
3. Jelaskan tahap !
Jawab :
a. Preformulasi (sifat fisika dan kimia dari zat aktif dan zat tambahan)
 Zat aktif
Dexamethasone (FI Edisi V halaman 268-270)

Nama lain : 9-Fluoro-11 ,17,21-trihidroksi-16 -metilpregna-1,4diena-3,20-


dion [50-02-2]
Rumus Kimia : C22H29FO5
Tablet Deksametason mengandung deksametason C22H29FO5, tidak kurang dari
90,0% dan tidak lebih dari 110,0% jumlah yang tertera pada etiket.
Pemerian Serbuk hablur; putih sampai praktis putih; tidak berbau; stabil di udara.
Melebur pada suhu lebih kurang 250º disertai peruraian.
Sifat fisika kimia : praktis tidak larut dalam air.
Identifikasi:
Uapkan 10 ml ekstrak metanol dari tablet yang diperoleh dari Larutan uji pada
Penetapan kadar, di atas tangas uap hingga kering dan larutkan residu dalam 1 ml
kloroform P. Totolkan 10 µl larutan ini dan 20 µl larutan Deksametason BPFI dalam
kloroform P mengandung 500 µg per ml, pada lempeng kromatografi lapis tipis yang
dilapisi dengan 0,25 mm campuran silika gel P. Lakukan kromatografi dalam Fase
gerak A seperti tertera pada Penetapan Kadar Steroid Tunggal <641>. Beri tanda pada
permukaan fase gerak, amati bercak dengan cahaya ultraviolet 254 nm harga Rf bercak
utama yang diperoleh dari Larutan uji sesuai dengan Larutan baku.
Wadah dan penyimpanan : wadah dan tertutup baik.
 Zat Tambahan
A. Amilum
Ø Menurut Excipient: 523
Amilum merupakan salah satu bahan yang paling sering digunakan sebagai pemecah.
Tablet pada konsentrasi 3-15 % b/b, bagaimanapun dapat di kompres dengan baik dan
cenderung untuk meningkatkan capping.
Ø Menurut pengantar bentuk sediaan farmasi: 263
Mekanisme amilum sebagai bahan penghancur tablet telah diamati bahwa pecah-pecahnya
permukaan tablet terjadi dimana kelompok-kelompok butir-butir amilum terdapat maka tablet
pecah mungkin hasil dari hidrasi kelompok hidroksi molekul amilum, menyebabkan
terpisahnya keluar. Jika amilum digunakan 5% umumnya cocok untuk membantu
penghancuran, tetapi sampai kira-kira 15 % dapat dipakai untuk memperoleh daya hancur yang
lebih cepat.
Ø Menurut martindale: 1275
Amilum juga dimaksukkan dalam banyak tablet sebagai agen penghancur.

B. Povidon
Ø Menurut Excipient: 611
Meskipun povidon digunakan dalam berbagai sediaan farmasi, povidon utamanya
digunakan dalam bentuk sediaan padat, pada permukaan tablet, larutan povidon digunakan
sebagai pengikat pada proses granulasi basah.
Ø Menurut Lachman: 778
Penggunaan povidon dalam farmasi (biasanya K-30) adalah sebagai bahan pengikat atau
penyalut tablet.
Ø Menurut Library@UNAIR
Untuk memperbaiki kompersibilitas dexamethason digunakan bahan pengikat PVP K-30
(povidon) yang mempunyai kemampuan yang besar dalam mengikat serbuk deksametason,
yang tidak kohesif dalam metode digunakan adalah granulasi basah yang akan meningkatkan
bobot jenis secara keseluruhan sehingga menghasilkan campuran dengan sifat alir yang baik
dan homogen.
C. Talk
Ø Menurut Excipient: 551
Talk secara umum digunakan pada sediaan padat oral sebagai pelicin, pelincir dan pengisi.
Ø Menurut R.voight: 205
Talk mempunyai tiga keunggulan antara lain dapat berfungsi sebagai bahan pengatur aliran,
bahan pelicin dan bahan pemisah hasil cetakan. Talk terdiri dari kristal berbentuk papan datar,
yang sangat mudah meluncur pada saat terjadinya gesekan, dimana masih terjadi lagi distribusi
berbentuk datar lainnya.
Ø Menurut Lachman: 703
Sebagian besar bahan-bahan sebagai bahan pelincir juga berfungsi anti lekat, kecuali bahan
pelincir yang larut dalam air. Talk, magnesium stearat dan kanji beserta derivat. Derivat kanji
mempunyai sifat-sifat anti lengket.

D. Laktosa
Ø Menurut Excipient: 387
Laktosa secara umum digunakan dalam sediaan farmasi sebagai sebuah pengisi kapsul oral
dan sediaan tablet.
Ø Menurut R.Voight: 202
Bahan pengisi pada tablet yang umum digunakan adalah jenis amilum dan laktosa.
Ø Menurut Lachman: 690
Laktosa juga merupakan bahan pengsisi yang paling banyak dipakai karena tidak bereaksi
dengan hampir semua bahan obat, baik digunakan dalam bentuk hidrat atau anhidrat.
e. Magnesium stearat
Ø Menurut Rowe,dkk: 404
Magnesium stearat dapat digunakan sebagai pelincir tablet dengan karakteristik sangat
halus, berwarna putih cerah, butir-butir kasar serbuk tidak tidak.
Ø Menurut Agoes: 209
Magnesium stearat merupakan lubrikan yang paling efektif dan digunakan secara luas.
Ø Menurut Swarbich: 3655
Magnesium stearat memperpanjang penghancuran dan waktu disolusi.
b. Formulasi
Deksametason dibuat dalam bentuk tablet supaya lebih mudah dibawa kemana-
mana karena merupakan sediaan oral yang lebih ringan dan harganya ekonomis. Selain
itu Deksametason memberikan efek secara cepat dan tidak menimbulkan iritasi
lambung ketika penyerapannya.
c. Karakteristik
Deksametason merupakan salah satu obat yang memiliki onset cepat namun
durasi singkat tindakan. Deksametason juga adalah glukokortikoid sintetik dengan
aktivitas imuno supresan dan anti inflamasi serta anti histamin (alergi).
d. Prosedur Pembuatan

Metode granulasi basah:


a. Disediakan alat dan bahan
b. Ditimbang dan dicampur dexamethason 500 mg, amilum 20 mg, dan laktosa 61 mg
c. Ditambahkan cairan pengikat povidon sebanyak 6 mg yang dilarutkan dalam etanol
d. Diayak campuran yang lembab dengan ayakan 6-12
e. Dikeringkan granul pada suhu 40o-60o
f. Ditambahkan talk 12 mg, amilum 10 mg, dan magnesium stearat 18 mg
g. Dikempa granul menjadi tablet
h. Dimasukkan tablet kedalam wadah dan diberi etiket obat
i. Dimasukkan brosur dan etiket kedalam wadah

e. Uji Disolusi (FI Edisi V halaman 626)


Media disolusi: 500 ml larutan asam klorida P (1 dalam 100)
Alat tipe 1: 100 rpm
Waktu : 45 menit
Larutan baku Siapkan seperti Larutan baku tertera pada Penetapan Kadar
Steroid <631> menggunakan Deksametason BPFI. Ekstraksi sejumlah alikuot setara
dengan 200 µg deksametason, tiga kali, tiap kali menggunakan 15 ml kloroform P
kumpulan ekstrak kloroform di atas tangas hingga kering, dinginkan, larutkan sisa
dalam 20 ml etanol P. Lakukan Prosedur seperti tertera pada Penetapan kadar steroid
<631>, kecuali diamkan dalam gelap selama 45 menit. Hitung bagian terlarut dalam
mg, deksametason, C22H29FO5 dengan rumus:
C adalah kadar Deksametason Fosfat BPFI dalam µg per ml Larutan baku; V
adalah volume alikot yang diektraksi dengan kloroform dalam ml; AU dan AS berturut-
turut adalah serapan Larutan uji dan Larutan baku. Toleransi Dalam waktu 45 menit
harus larut tidak kurang dari 70% (Q) C22H29FO5, dari jumlah yang tertera pada etiket.

f. Profil Disolusi
Disolusi merupakan proses dimana suatu bahan kimia atau bahan obat menjadi
terlarut dalam suatu pelarut dalam suatu sistem biologis. Pelarutan atau disolusi obat
dalam media air merupakan suatu bagian penting sebelum kondisi absorbsi sistemik
(Shargel, dkk., 1999)
Proses disolusi partikel padat mencakup dua proses. Pertama, molekul yang
terdapat pada antarmuka padat-cair akan terlarut dan terlepas dari permukaan padat.
Kedua, molekul yang terlarut akan berdifusi dari antarmuka ke dalam bulk larutan.
Tahap pertama secara umum jauh lebih cepat daripada tahap kedua. Oleh karena itu
pada steady state dari proses disolusi, konsentrasi dari zat terlarut pada antarmuka
adalah sama atau mendekati kelarutannya.
Disolusi merupakan proses kinetik, sehingga cerminan prosesnya dapat diamati
dari jumlah zat aktif yang terlarut ke medium sebagai fungsi waktu (Fudholi, 2013).
Penggambaran proses yang terjadi selama disolusi dapat dilihat pada persamaan Noyes
Whitney berikut ini:

Atau

W adalah berat zat aktif yang terlarut dalam medium selama waktu t, sehingga
dW/dt adalah kecepatan disolusi zat aktif. D adalah koefisien difusi zat yang terlarut
dalam medium yang digunakan, S adalah luas kontak muka zat aktif-medium, h adalah
tebal lapisan tipis (film-difusi), sedangkan Cs adalah konsentrasi dalam keadaan
saturasi, yang besarnya sama dengan kelarutan zat aktif tersebut dalam medium. Harga
C menunjukkan konsentrasi zat aktif terlarut pada saat t. Apabila berat zat terlarut
dinyatakan dalam konsentrasi sebagai dC/dt, maka persamaan akan berubah dengan
menyertakan faktor volume medium (V).