Sunteți pe pagina 1din 6

Daftar Tarif PPh dan Penghasilan Tidak Kena Pajak (PTKP)

Document Transcript
 1. Daftar Tarif PPh dan Penghasilan Tidak Kena Pajak (PTKP)1.Wajib Pajak
Orang Pribadi Dalam NegeriLapisan Penghasilan Kena Pajak Tarif PajakSampai
dengan Rp. 50.000.000,- 5%Diatas Rp. 50.000.000,- sampai dengan Rp.
250.000.000,- 15%.Diatas Rp. 250.000.000,- sampai dengan Rp. 500.000.000,-
25%Diatas Rp. 500.000.000,- 30%Tarif Deviden 10%Tidak memiliki NPWP (Untuk
PPh Pasal 21) 20% lebih tinggi dari yang seharusnyaTidak mempunyai NPWP untuk
yang dipungut 100% lebih tinggi/potong(Untuk PPh Pasal 23) dari yang
seharusnyaPembayaran Fiskal untuk yang punya NPWP Gratis2. Wajib Pajak Badan
dalam negeri dan Bentuk Usaha TetapTahun Tarif Pajak2009 28% 2010 dan
selanjutnya 25%PT yang 40% sahamnya diperdagangkan di bursa efek 5% lebih
rendah dari yang seharusnyaPeredaran bruto sampai dengan Rp. 50.000.000.000
Pengurangan 50% dari yang seharusnya3. Penghasilan Tidak Kena PajakNo
Keterangan Setahun1. Diri Wajib Pajak Pajak Orang Pribadi Rp. 15.840.000,2.
Tambahan untuk Wajib Pajak yang kawin Rp. 1.320.000,-3. Tambahan untuk seorang
istri yang penghasilannya Rp. 15.840.000,-
 2. digabung dengan penghasilan suami.4. Tambahan untuk setiap anggota
keturunan sedarah Rp. 1.320.000,- semenda dalam garis keturunan lurus serta anak
angkat yang diatnggung sepenuhnya , maksimal 3 orang untuk setiap keluarga4.
Tambahan tarif LainnyaTarif Pajak yang dikenakan atas objek pajak (PBB) adalah =
0,5%Tarif Pajak yang dikenakan atas BPHTB adalah =5Tarif Pajak Pertambahan
Nilai adalah = 10 % Dengan Peraturan Pemerintah menjadi paling rendah = 5%
Dengan Peraturan Pemerintah menjadi paling tinggi = 15 % Atas ekspor barang kena
pajak = 0%Tarif Pajak Penjualan atas Barang Mewah adalahPaling rendah = 10
%Paling tinggi = 75 %Atas ekspor barang kena pajak = 0%Tarif Dan Penerapannya 1.
Pegawai tetap, penerima pensiun bulanan, bukan pegawai yang memiliki NPWP dan
menerima penghasilan secara berkesinambungan dalam 1 (satu) tahun dikenakan tarif
Pasal 17 ayat (1) huruf a Undang-Undang PPh dikalikan dengan Penghasilan Kena
Pajak (PKP). PKP dihitung berdasarkan sebagai berikut: a. Pegawai Tetap:
Penghasilan bruto dikurangi biaya jabatan (5% dari penghasilan bruto, maksimum Rp
6.000.000,00 setahun atau Rp 500.000,00 sebulan); dikurangi iuran pensiun, Iuran
jaminan hari tua, dikurangi Penghasilan Tidak Kena Pajak (PTKP). b. Penerima
Pensiun Bulanan: Penghasilan bruto dikurangi biaya pensiun (5% dari penghasilan
bruto, maksimum Rp 2.400.000,00 setahun atau Rp 200.000,00 sebulan) dikurangi
PTKP. c. Bukan Pegawai yang memiliki NPWP dan menerima penghasilan secara
berkesinambungan: 50 % dari Penghasilan bruto dikurangi PTKP perbulan. 2. Bukan
Pegawai yang menerima atau memperoleh penghasilan dikenakan tarif Pasal 17 ayat
(1) huruf a dikalikan dengan 50% dari jumlah penghasilan bruto untuk setiap
pembayaran imbalan yang tidak berkesinambungan; 3. Peserta kegiatan yang
menerima atau memperoleh penghasilan dikenakan tarif Pasal 17 ayat (1) huruf a
dikalikan dengan jumlah penghasilan bruto untuk setiap kali pembayaran yang
bersifat utuh dan tidak dipecah;
 3.4. Pegawai harian, pegawai mingguan, pemagang, dan calon pegawai, serta
pegawai tidak tetap lainnya yang menerima upah harian, upah mingguan, upah
satuan, upah borongan dan uang saku harian yang besarnya melebihi Rp.150.000
sehari tetapi dalam satu bulan takwim jumlahnya tidak melebihi Rp. 1.320.000,00 dan
atau tidak dibayarkan secara bulanan, maka PPh Pasal 21 yang terutang dalam sehari
adalah dengan menerapkan tarif 5% dari penghasilan bruto setelah dikurangi Rp.
150.000,00. Bila dalam satu bulan takwim jumlahnya melebihi Rp.1.320.000,00
sebulan, maka besarnya PTKP yang dapat dikurangkan untuk satu hari adalah sesuai
dengan jumlah PTKP sebenarnya dari penerima penghasilan yang bersangkutan
dibagi 360. 5. Pejabat Negara, PNS, anggota TNI/POLRI yang menerima honorarium
dan imbalan lain yang sumber dananya berasal dari Keuangan Negara atau Keuangan
Daerah dipotong PPh Ps. 21 dengan tarif 15% dari penghasilan bruto dan bersifat
final, kecuali yang dibayarkan kepada PNS Gol. IId kebawah, anggota TNI/POLRI
Peltu kebawah/ Ajun Insp./Tingkat I kebawah. 6. Besar PTKP adalah : Penerima
PTKP Setahun Sebulan Rp Rp untuk diri pegawai 15.840.000 1.320.000 tambahan
untuk pegawai yang sudah menikah(kawin) Rp 1.320.000 Rp 110.000 tambahan
untuk setiap anggota keluarga *) paling banyak 3 Rp 1.320.000 Rp 110.000 (tiga)
orang 7. *) anggota keluarga adalah anggota keluarga sedarah dan semenda dalam
satu garis keturunan lurus, serta anak angkat yang menjadi tanggungan sepenuhnya.
8. Tarif Pasal 17 ayat (1) huruf a Undang-undang Pajak Penghasilan adalah: Lapisan
Penghasilan Kena Pajak Tarif sampai dengan Rp 50 juta 5% diatas Rp 50 juta sampai
dengan Rp 250 juta 15% diatas Rp 250 juta sampai dengan Rp 500 juta 25% diatas
Rp 500 juta 30% 9. Bagi Wajib Pajak yang tidak memiliki NPWP dikenakan tarif 20
% lebih tinggi dari tarif PPh Pasal 17.Contoh Penghitungan Pemotongan PPh Pasal
21 1. Penghasilan Pegawai Tetap yang diterima Bulanan a. Saefudin adalah pegawai
tetap di PT Insan Selalu Lestari sejak 1 Januari 2010. Ia memperoleh gaji beserta
tunjangan berupa uang sebulan sebesar Rp.2.000.000,00 dan membayar iuran pensiun
sebesar Rp. 50.000,00 sebulan. Saefudin menikah tetapi belum mempunyai anak
(status K/0). Penghitungan PPh Ps. 21: Penghitungan PPh Ps. 21 terutang:
 4.Gaji Sebulan = Rp. 2.000.000 Penghasilan bruto = Rp. 2.000.000 Pengurangan:
Biaya Pensiun = 5% x 2.000.000 = Rp. 100.000 Iuran pensiun = Rp. 50.000 (+) Total
Pengurangan = Rp. 150.000 Penghasilan netto sebulan = Rp. 1.850.000 Penghasilan
netto setahun = 12 x 1.850.000 = Rp. 22.200.000 PTKP setahun:  WP sendiri = Rp.
15.840.000  Tambahan WP kawin = Rp. 1.320.000 Total PTKP = Rp. 17.160.000
PKP setahun = Rp. 5.040.000 PPh Ps. 21= 5 % x 5.040.000 = Rp. 252.000 PPh Ps. 21
sebulan = Rp. 21.0002. Penerima pensiun yang dibayarkan secara bulanan a. Teja
status kawin dengan 1 anak pegawai PT. Mulia, pensiun tahun 2005. Tahun 2010Teja
menerima pensiun sebulan Rp. 3.000.000,00. Penghitungan PPh Ps. 21 : Pensiun
sebulan = Rp. 3.000.000 Pengurangan: Biaya Pensiun = 5% x 3.000.000 = Rp.
150.000 (-) (Maksimum diperkenankan Rp. 200.000) Penghasilan Netto sebulan =
Rp. 2.850.000 Penghasilan Netto setahun = Rp. 34.200.000 PTKP (K/1) = Rp.
18.480.000 PKP = Rp. 15.720.000 PPh Ps. 21 setahun = 5% x 15.720.000 = Rp.
786.000 PPh Ps. 21 sebulan = (Rp. 786.000 : 12) = Rp. 65.5003. Pegawai tetap
menerima bonus, gratifikasi, tantiem, Tunjangan Hari Raya atau tahun baru, premi
dan penghasilan yang sifatnya tidak tetap, diberikan sekali saja atau sekali setahun. a.
Ikhsan Alisyahbani adalah pegawai tetap di PT Tiurmas Lampung Indah. Ia
memperoleh gaji bulan Desember sebesar Rp. 2.500.000,00 menerima THR sebesar
Rp. 1.000.000,00 dan membayar iuran pensiun sebesar Rp. 50.000,00 sebulan. Ikhsan
Alisyahbani menikah tetapi belum mempunyai anak (status K/0). PPh Pasal 21 atas
gaji dan THR: Penghasilan Bruto setahun = 12 x 2.500.000 = Rp. 30.000.000 THR =
Rp. 1.000.000 Jumlah Penghasilan Bruto = Rp. 31.000.000 Pengurangan:  Biaya
Jabatan = 5% x 31.000.000 = Rp. 1.550.000  Iuran pensiun = 12 x 50.000 = Rp.
600.000  Total Pengurangan = Rp. 2.150.000 Penghasilan netto setahun = Rp.
28.850.000 PTKP (K/0) setahun = Rp. 17.160.000
 5.PKP setahun = Rp. 11.690.000 PPh Ps. 21 terutang = 5% x 11.690.000 Rp.
584.500 PPh Pasal 21 atas gaji Penghasilan Bruto setahun = 12 x 2.500.000 = Rp.
30.000.000 Pengurangan:  Biaya Jabatan = 5% x 30.000.000 = Rp. 1.500.000 
Iuran pensiun = 12 x 50.000 = Rp. 600.000  Total Pengurangan = Rp. 2.100.000
Penghasilan netto setahun Rp. 27.900.000 PTKP (K/0) setahun = Rp. 17.160.000 PKP
setahun = Rp. 10.740.000 PPh Ps. 21 terutang = 5% x 10.740.000 Rp. 537.000 PPh
Pasal 21atas gaji dan THR – PPh Pasal 21 atas gaji: = Rp. 584.500– Rp.537.000 = Rp.
47.5004. Penerima Honorarium atau Pembayaran lain. a. Saputra (memiliki NPWP)
memberikan ceramah pada lokakarya dan menerima honorarium Rp 1.500.000,00.
Saputra juga memiliki sumber penghasilan lainnya. Penghitungan PPh Pasal 21 : Tarif
Pasal 17 ayat (1) huruf a x (50% x jumlah penghasilan bruto ) = 5% x (50% x
Rp1.500.000,00) = Rp37.500,005. Komisi yang dibayarkan kepada penjaja barang
dagangan atau petugas dinas luar asuransi. a. Hendra seorang penjaja barang
dagangan hasil produksi PT Jaya dan berstatus bukan pegawai, dalam bulan Januari
2010 menerima komisi sebesar Rp4.000.000,00. Hendra tidak memiliki sumber
penghasilan lainnya. Penghitungan PPh 21 : Tarif Pasal 17 ayat (1) huruf a x [(50% x
jumlah penghasilan bruto ) - PTKP perbulan]: = 5% x [(50% x Rp4.000.000,00) - Rp
1.320.000,00] = Rp 34.000,006. Honorarium atau imbalan lainnya kepada peserta
kegiatan (pendidikan pelatihan magang). a. Febri sebagai peserta magang menerima
honor sebesar Rp3.500.000,00. PPh Pasal 21 yang terutang : Tarif Pasal 17 ayat (1)
huruf a x jumlah penghasilan bruto = 5% x Rp3.500.000,00 = Rp175.000,007.
Penghasilan atas Upah Harian. a. Erfin (tidak memiliki NPWP) pada bulan Agustus
2010 bekerja sebagai buruh harian pada PT Dayat Harini Perkasa. Ia bekerja sehari
sebesar Rp 200.000,00. Penghitungan PPh Pasal 21 terutang : Upah sehari Rp
200.000,00 Batas Upah harian yang Tidak di potong PPh Rp 150.000,00
 6.PKP Sehari Rp 50.000,00 PPh Pasal 21 Sehari = (5% x 120%*) x Rp 50.000,00
Rp 3.000,00 (* karena Erfin tidak memiliki NPWP maka tarifnya 20% lebih tinggi
dari Tarif Pasal 17 ayat (1) huruf a atau 5% x 120% = 6%)PengertianPajak Bumi dan
Bangunan (PBB) adalah Pajak Negara yang dikenakan terhadap bumi dan atau
bangunanberdasarkan Undang-undang nomor 12 Tahun 1985 tentang Pajak Bumi dan
Bangunan sebagaimana telah diubahdengan UndangUndang nomor 12 Tahun
1994.PBB adalah pajak yang bersifat kebendaan dalam arti besarnya pajak terutang
ditentukan oleh keadaan objek yaitubumi/tanah dan atau bangunan. Keadaan subjek
(siapa yang membayar) tidak ikut menentukan besarnya pajak.Objek PBBObjek PBB
adalah “Bumi dan atau Bangunan”:1. Bumi: Permukaan bumi (tanah dan perairan)
dan tubuh bumi yang ada di pedalaman serta laut wilayah Indonesia. Contoh: sawah,
ladang, kebun, tanah, pekarangan, tambang.2. Bangunan: Konstruksi teknik yang
ditanam atau dilekatkan secara tetap pada tanah dan atau perairan. Contoh: rumah
tempat tinggal, bangunan tempat usaha, gedung bertingkat, pusat perbelanjaan,
emplasemen, pagar mewah, dermaga, taman mewah, fasilitas lain yang memberi
manfaat, jalan tol, kolam renang, anjungan minyak lepas pantai.Objek Pajak Yang
Tidak Dikenakan PBBObjek pajak yang tidak dikenakan PBB adalah objek yang :1.
Digunakan semata-mata untuk melayani kepentingan umum dibidang ibadah, sosial,
kesehatan, pendidikan dan kebudayaan nasional yang tidak dimaksudkan untuk
memperoleh keuntungan, seperti mesjid, gereja, rumah sakit pemerintah, sekolah,
panti asuhan, candi.2. Digunakan untuk kuburan, peninggalan purbakala atau yang
sejenis dengan itu.3. Merupakan hutan lindung, suaka alam, hutan wisata, taman
nasional, tanah penggembalaan yang dikuasai oleh desa, dan tanah negara yang belum
dibebani suatu hak.4. Digunakan oleh perwakilan diplomatik berdasarkan asas
perlakuan timbal balik.5. Digunakan oleh badan dan perwakilan organisasi
internasional yang ditentukan oleh Menteri Keuangan.Subjek Pajak dan Wajib
PajakSubjek Pajak adalah orang pribadi atau badan yang secara nyata:mempunyai
suatu hak atas bumi, dan atau;memperoleh manfaat atas bumi, dan atau;memiliki
bangunan, dan atau;menguasai bangunan, dan atau;memperoleh manfaat atas
bangunanWajib Pajak adalah Subjek Pajak yang dikenakan kewajiban membayar
pajak.
 7.Cara Mendaftarkan Objek PBBOrang atau Badan yang menjadi Subjek PBB
harus mendaftarkan Objek Pajaknya ke Kantor Pelayanan Pajak (KPP)atau Kantor
Pelayanan Penyuluhan dan Konsultasi Perpajakan (KP2KP) yang wilayah kerjanya
meliputi letak objektersebut, dengan menggunakan formulir Surat Pemberitahuan
Objek Pajak (SPOP) yang tersedia gratis di KPP atauKP2KP setempat.Dasar
Pengenaan PBBDasar pengenaan PBB adalah “Nilai Jual Objek Pajak (NJOP)”.
NJOP ditetapkan per wilayah berdasarkan keputusanMenteri Keuangan dengan
mendengar pertimbangan Bupati/Walikota serta memperhatikan :1. harga rata-rata
yang diperoleh dari transaksi jual beli yang terjadi secara wajar;2. perbandingan harga
dengan objek lain yang sejenis yang letaknya berdekatan dan fungsinya sama dan
telah diketahui harga jualnya;3. nilai perolehan baru;4. penentuan Nilai Jual Objek
Pajak pengganti.Nilai Jual Objek Pajak Tidak Kena Pajak (NJOPTKP)NJOPTKP
adalah batas NJOP atas bumi dan/atau bangunan yang tidak kena pajak. Besarnya
NJOPTKP untuksetiap daerah Kabupaten/Kota setinggi-tingginya Rp 12.000.000,-
dengan ketentuan sebagai berikut :1. Setiap Wajib Pajak memperoleh pengurangan
NJOPTKP sebanyak satu kali dalam satu Tahun Pajak.2. Apabila Wajib Pajak
mempunyai beberapa Objek Pajak, maka yang mendapatkan pengurangan NJOPTKP
hanya satu Objek Pajak yang nilainya terbesar dan tidak bisa digabungkan dengan
Objek Pajak lainnya.Dasar Penghitungan PBBDasar penghitungan PBB adalah Nilai
Jual Kena Pajak (NJKP).Besarnya persentase NJKP adalah sebagai berikut :1. Objek
pajak perkebunan adalah 40%2. Objek pajak kehutanan adalah 40%3. Objek pajak
pertambangan adalah 40%4. Objek pajak lainnya (pedesaan dan perkotaan): apabila
NJOP-nya≥ Rp1.000.000.000,00adalah 40% apabila NJOP-nya <
Rp1.000.000.000,00 adalah 20%Tarif PBBBesarnya tarif PBB adalah 0,5%Rumus
Penghitungan PBBRumus penghitungan PBB = Tarif x NJKP1. Jika NJKP = 40% x
(NJOP - NJOPTKP) maka besarnya PBB = 0,5% x 40% x (NJOP-NJOPTKP) = 0,2%
x (NJOP-NJOPTKP)2. Jika NJKP = 20% x (NJOP - NJOPTKP) maka besarnya PBB
= 0,5% x 20% x (NJOP-NJOPTKP)
 8.= 0,1% x (NJOP-NJOPTKP)Tempat Pembayaran PBBWajib Pajak yang telah
menerima Surat Pemberitahuan Pajak Terutang (SPPT), Surat Ketetapan Pajak (SKP)
danSurat Tagihan Pajak (STP) dari KPP Pratama atau disampaikan lewat Pemerintah
Daerah harus melunasinya tepatwaktu pada tempat pembayaran yang telah ditunjuk
dalam SPPT yaitu Bank Persepsi atau Kantor Pos dan Giro.Saat Yang Menentukan
Pajak TerutangSaat yang menentukan pajak terutang adalah adalah keadaan Objek
Pajak pada tanggal 1 Januari. Dengandemikian segala mutasi atau perubahan atas
Objek Pajak yang terjadi setelah tanggal 1 Januari akan dikenakanpajak pada tahun
berikutnya.Contoh:A menjual tanah kepada B pada tanggal 2 Januari 2010.
Kewajiban PBB Tahun 2010 masih menjadi tanggung jawabA. Sejak Tahun Pajak
2011 kewajiban PBB menjadi tanggung jawab B. Perubahan atas Objek Pajak yang
terjadisetelah tanggal 1 Januari akan dikenakan pajak pada tahun berikutnya.Lain-
lainUndang-Undang Nomor 12 Tahun 1985 tentang Pajak Bumi dan Bangunan
(Lembaran Negara Republik IndonesiaNomor 68, Tambahan Lembaran Negara
Republik Indonesia Nomor 3312) sebagaimana telah diubah denganUndang-Undang
Nomor 12 Tahun 1994 tentang Perubahan atas UndangUndang Nomor 12 Tahun 1985
tentangPajak Bumi dan Bangunan (Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 62,
Tambahan Lembaran Negara RepublikIndonesia Nomor 3569) yang terkait dengan
peraturan pelaksanaan mengenai Perdesaan dan Perkotaan masihtetap berlaku sampai
dengan tanggal 31 Desember 2013, sepanjang belum ada Peraturan Daerah tentang
PajakBumi dan Bangunan yang terkait dengan Perdesaan dan Perkotaan.