Sunteți pe pagina 1din 4

Amanat “Demi Masa”

Senin, 18 Februari 2013

Upacara Senin ini cukup istimewa. Tentu, petugas upacaranya adalah AKSEL (Anak KElas
Sepuluh Lima). Dengan bangga, daku deklarasikan (hehe…) mereka adalah adik-adik
didikku yang kusayang (selain X6). Rencananya, aku ingin datang lebih pagi. Namun kondisi
tak mampu mendukung itu.

Daku memang datang lebih awal dari minggu kemarin. Jika Senin malang itu daku mesti
‘diteriaki’ Pak Satpam, sekarang tidak. Daku melangkah penuh gelora. Dan, minggu kemarin
daku sedikit diuntungkan karena ternyata upacara dimulai agak siang, beda sekitar 15 menit
dari sekarang. Hebat!

Daku (masih belum bosan) berbaris di jajaran paling depan. Sempat kulirik semua petugas
upacara. Sang Penjemput Pembina; Rezza, Pembawa Teks Pancasila; Grias, Pembawa
Acara; Neng Fitria, Pengibar Bendera; Lina, Novi dan Rizkia, Pembaca UUD 1945; Shofi,
Pemimpin Upacara; Khaerul Anwar dan Pembaca Do’a; Agung. Sedangkan pemimpin
oubade serta tim oubadenya adalah perpaduan antara anggota AKSEL dengan tim oubade
sekolah dari kelas X. Cakep! Kuacungi jempol pada petugas pengibar bendera, mereka
membalasnya dengan sama-sama mengacungkan jempol. Dalam hati, aku mengharapkan
kelancaran upacara tersebut…

Daku sempat ingat ketika Senin kemarin anak-anak AKSEL sempat memberi ide lain untuk
upacara bendera.

“Cieh, minggu depan AKSEL bakal jadi petugas euy!” kataku sebelum memulai belajar,
begitu melihat daftar petugas TUB di papan tulis. Nampaknya sebelum aku masuk, mereka
telah merundingkan hal tersebut.

“Miss, buat upacara, rencananya kita mau pake Bahasa Inggris!” celetuk diantara mereka.
Yang lain ramai-ramai menyahut,

“Fio yang mau jadi pembawa acaranya!”

“Keren, Miss!”

“Miss yang jadi pembinanya!”


“Lho???”

“Wali kelas kita kan gak bisa Bahasa Inggris, Miss!”

Aku mengernyitkan dahi, “Itu ide siapa?”

Fiona yang menjawab, “Anak kelas XII, Miss.”

“Teteh gak setuju,” responku membuat kelas senyap, “Upacara bendera kan sejatinya
meningkatkan nasionalitas kita terhadap Negara. Lha, kalo prosesnya aja memakai bahasa
asing, tentu itu kurang pas, kan? Keren sih, tapi… Bahasa Indonesia aja deh menurut Teteh
mah.”

Waktu itu daku sangat yakin mereka menyerap apa maksudku. Jadinya daku hanya memberi
saran pada mereka untuk tampil lebih baik dari sebelum-sebelumnya, khususnya pada saat
acara vital, yakni pengibaran bendera merah-putih. Daku menyebutkan contoh penampilan-
penampilan yang baik dari masing2 petugas terdahulu. Dan, aku sangat berharap mereka
adalah kolaborasi dari penampilan2 baik tersebut. Aamiin…

Well, kembali ke upacara Senin sekarang!

Rentetan prosesi upacara dimulai. Pembina upacara diisi oleh wali kelas mereka, Pak Edi,
guru PKN. Tiba saat pengibaran bendera. Rizkia mengisi posisi kiri, Novi di tengah dan Lina
di posisi kanan. Usai Lina membentangkan bendera dan berseru, “Bendera, siap!”, tim
oubade segera mengalunkan lagu kebangsaan yang dibanggakan. Jujur, dari sekian petugas
upacara, suara tim oubade AKSEL tersebutlah yang paling padu. Nyanyian lagu “Indonesia
Raya” pun sangat berbarengan dengan berkibarnya bendera di puncak tiang. “Sukses!”
pikirku.

Tiba amanat. Pak Edi mula2 memberi ucapan terima kasih kepada petugas upacara, guru2,
staf TU, praktikan dan semua peserta upacara. Sungguh kalimat sederhana namun penuh
apresiasi!

“Amanat kali ini terinspirasi dari dua lagu. Yang pertama dari lagu yang dibawakan oleh grup
nasyid asal Malaysia, Raihan, yaitu ‘Demi Masa’. Serta satu lagu lagi dari H. Rhoma Irama
berjudul ‘5 sebelum 5’. Lagu-lagu tersebut pun ternyata ter-ilhami oleh surat Al-Ashr dan
sebuah hadist Nabi. Ya, tentang waktu! Tentang bagaimana kita menggunakan waktu se-
efektif dan se-efisien mungkin untuk meraih kesuksesan hidup,” tutur beliau membuka
amanat.

Lagi-lagi, w a k t u. Pembahasan itu, saking pentingnya, sampai diabadikan dalam salahsatu


surat Alqur’an. Daku pribadi selalu tertarik dengan topik tersebut. Betapa manajemen waktu
adalah salahsatu unsur penting dalam meraih keberhasilan hidup: dunia-akhirat.

“Orang pintar, sukses dan berhasil bukanlah orang yang kutu buku, berkaca mata tebal atau
menghabiskan waktunya dengan belajar. Sehingga dia selalu menggunakan alasan belajar
untuk tidak bermain, tidak bersosialisasi, tidak membantu orang tua, dst. Kesuksesan orang
itu bisa dilihat dari kesuksesan dia menggunakan waktu. Sejauh mana kualitas dia
mengisi waktu yang ada. Dia bisa me-menej waktu belajar, waktu beribadah, waktu
refreshing, waktu bergaul, dsb.

Makhluk Allah itu ada yang cenderung kepada kebaikan dan menolak mentah-mentah
keburukan, yakni malaikat. Ada juga yang sebaliknya, cenderung pada keburukan dan
menolak mentah-mentah kebaikan, yakni syetan. Sedangkan manusia itu unik, kita ada
diantaranya. Bisa cenderung pada kebaikan, bisa juga cenderung pada keburukan…

Siswa pasti sudah tahu kalau mendengarkan ceramah maulid itu baik, tapi ada aja yang
‘melarikan diri’ ke kantin. Siswa juga pasti sudah tahu kalau bolos pelajaran itu buruk, tapi
ada aja yang tetap melakukannya. Kenapa itu? Salahsatunya, tentu dia kurang tahu betapa
waktu itu sangat berharga. Salah mengisinya, salah juga akibatnya.”

Daku menunduk, meresapi semua untaian amanat ‘emas’ itu. Tentu hal itu bukan lagi hal
aneh yang baru daku dengar, namun semuanya serasa menjadi ‘alarm’ bahwa waktu itu terus
melaju, tak peduli kita mengisinya dengan apa. Daku jadi teringat pada adik-adik didikku.
Daku pernah berkata mereka,

“Waktu adalah hal yang paling sombong. Sekeras apapun kita menyerunya untuk
kembali, dia tak akan pernah menoleh bahkan terus berlari.”

Selanjutnya beliau meneruskan amanat dengan sebuah cerita inspiratif dari seorang
pengusaha sukses, pemilik Sarinah,

“Beliau itu bermodal nekad ke kota. Tanpa tahu kondisi, beliau membawa satu truk telur
untuk dijual. Namun, harapan tidak sesuai dengan kenyataan. Telur tersebut tidak laku dan
busuk. Nah, jika hal itu menimpa kita, mungkin yang ada dalam pikiran kita adalah
membuangnya. Namun beliau berbeda. Waktu itu tengah musim penerimaan mahasiswa baru,
yakni ospek. Lewat seorang kenalan, beliau memberi usul peserta ospek membeli telur busuk
10 butir/orang. Akhirnya usul tersebut disetujui dan telur busuknya pun ludes terjual…”
Ketika menceritakan hal itu, mentari membelalakkan matanya. Kehangatan berubah sedikit
gerah. Dan, seorang temanku yang kepanasan menyenggol, “Topik amanatnya masih tentang
waktu, ‘kan?”

Pembina melanjutkan sekaligus menjawab rasa heran teman PPL-ku,

“Lihatlah! Betapa orang sukses itu memanfaatkan waktu sebagai peluang, atau kesempatan
emas yang akan jarang kita dapatkan. Nah, sekarang mumpung kalian masih muda dan
memiliki fisik serta mental yang masih segar… yang rajinlah belajar, rajinlah menghapal
Alquran, lanjutkanlah sekolah ke jenjang tinggi, sebelum datang masa seperti bapak; t u
a.”

Penyampaian amanat pun selesai. Selanjutnya tim oubade menyanyikan salahsatu lagu
nasional yang liriknya, menurutku, keren. Ya, walau sempat ada isu bahwa nada lagunya
adalah hasil plagiat lagu Rusia. Wallaahu a’lam lah… Yang jelas ‘Indonesia Pusaka’
dinyanyikan dengan cukup syahdu:

Indonesia tanah air beta


Pusaka abadi nan jaya
Indonesia sejak dulu kala
Slalu dipuja-puja bangsa
Di sana tempat lahir beta
Dibuai, dibesarkan bunda
Tempat berlindung di hari tua
Tempat akhir menutup mata

Upacara pun selesai. Ketika pengumuman-pengumuman, Pak Pembina OSIS langsung


mengambil alih. Beliau mengumumkan bahwa pada Selasa, 19 Februari 2013, SMAN 1
Kadugede akan dijadikan tempat diselenggarakannya lomba MTQ se-Kabupaten Kuningan.
Di sela-sela pengumuman tersebut, nampak Pak Guru LH siap2 mengumumkan juara
kebersihan kelas. Tetapi…

“Silakan kelas XI dan XII bubar, kecuali kelas X,” Sang Pembina OSIS tidak melihat Pak
Taryo, sang guru LH, rupanya.

Kelas X tersebut ditugaskan memakai baju batik, baju adat, baju muslim dst untuk esok
maramaikan pawai MTQ. Khusus bagiku dan rekan-rekan PPL hanya memakai jas
almamater. Hum… Jika ingat masa SMA dulu, daku sering ‘kabur’ dari kerumunan pawai
atau hiking. Namun untuk pawai besok, tentu hal itu akan terasa berat. Heuheu… [#RD]