Sunteți pe pagina 1din 7

Ameloblastoma: Tinjauan Pustaka dan Penanganannya

Disusun untuk Memenuhi Tugas Ilmu Kedokteran Klinik

di RSUD Blambangan Banyuwangi

Oleh:

1. Riangga Rosyepetradeni 101611101017

2. Meidi Kurnia Ariani 121611101068

3. Junti Rosa Veryani 121611101093

Pembimbing :

dr. Agus Wahyudi, Sp.B

ILMU KEDOKTERAN KLINIK


FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI
UNIVERSITAS JEMBER

2017
Pendahuluan

Ameloblastoma merupakan tumor odontogenik yang paling umum terjadi, tumor ini
menyerupai bagian epitelial dari benih gigi, bersifat agresif secara lokal, tetapi tidak
bermetastasis. Bisa terjadi pada semua usia tetapi jarang terjadi pada dekade pertama, paling
banyak ditemukan antara usia 30-60 tahun (Cardesa dkk., 2006). Ameloblastoma merupakan
kejadian yang jarang terjadi, jinak, pertumbuhannya lambat, tetapi termasuk neoplasma
odontogenik invasif lokal yang melibatkan mandibula (80%) dan maksila; penanganan
konservatifnya menghasilkan kekambuhan yang tinggi. Secara etimologi, nama
ameloblastoma berasal dari kata old French “Amel” yang berarti enamel; lapisan terluar gigi,
dan Greek word “blastos” yang berarti benih atau tunas (McClary dkk., 2015).

Etiologi

Ameloblastoma diklasifikasikan sebagai tumor odontogenik yang berasal dari sisa


epitelial atau mesenkimal jaringan pembentuk gigi seperti organ enamel, lamina dental,
Hertwig sheath, Malassez, Serres atau epitelial pereduksi enamel(Delong dan Burkhart,
2014).

Patogenesis

Ameloblastoma dapat berupa lesi multilokuler atau unilokuler yang terdiri dari sel
epitel. Ada beberapa tipe Ameloblastoma, meliputi folikuler, plexiform, demoplastik,
achanthomatous, sel basal, sel granular dan pheripheral (Delong dan Burkhart, 2014).

Gambaran Klinis

Ameloblastoma merupakan tumor jinak, tumor agresif yang menekan secara lokal
dengan sifat pola pertumbuhan yang lambat dan dapat tumbuh dengan berbagai perbedaan
yang nyata, dapat menyebabkan perubahanbentuk wajah. Biasanya asimptomatik dan tidak
menyebabkan kelainan pada saraf sensoris.Bangian posterior dari mandibular terlihat
berbeda. Lesi bisa menjadi sangat besar dengan pucakinsidensi terjadi pada dekade kedua dan
ketiga, dan tidak ada hubungannya dengan jeniskelamin.
Perkembangan ameloblastoma dapat menyebabkan asimetri fasial, yang dapat
menjadi indikasi pertama terjadinya tumor. Lesi biasanya asimptomatik, sampai
ditemukannya pada gambaran radiografi. Ameloblastoma ditandai dengan pembengkakan
tanpa rasa sakit, biasanya terjadi pada regio posterior mandibula, dan terdapat ekspansi bukal
dan lingual. Ameloblastoma biasanya menyebabkan resorpsi akar dan gigi menjadi goyang
karena perluasan neoplasma (Delong dan Burkhart, 2014).
Pada gambaran radiografis, lesi dapat terlihat gambaran radiolusen unilokuler
ataumultilokuler berbatas tidak jelas sehingga sulit untuk menentukan ukuran tepatnya.
Bisamenyebabkan ekspansi tulang kortikal bukal dan lingual, bahkan bisa menyebabkan
perforasitulang kortikal. Bisa terjadi pergeseran gigi dan resorsbsi akar meskipun jarang.
Jenisameloblastoma yang desmoplastik ameloblastoma dapat ditemukan di anterior maksila
ataumandibular. Lesi ini berisi jaringan ikat yang padat, yang terlihat lebih opak. Jenis yang
lainyaitu peripheral ameloblastoma, biasanya pada gingiva dan tidak terlihat pada foto
rontgen,kecuali bila terdapat kehilangan tulang alveolar.

Gambar 1. Ameloblastoma Multikistik (Oral Radiology, Principles and Interpretation oleh


White dan Pharoah 2014)

Gambar 2. Ameloblastoma Unikistik (Oral Radiology, Principles and Interpretation oleh


White dan Pharoah 2014)
Gambaran histopatologis ameloblastoma bermacam-macam, sehinggga pengambilan
sampel jaringan yang adekuat sangat diperlukan. Ameloblastoma yang tidak berkapsul
biasanya memperlihatkan pertumbuhan yang infiltratuf ke jaringan disekitarnya. Sel basal di
epitel terdiri dari sel kolumnar dan hiperkromatik. Inti sel terletak menjauh dari membrane
basalis. Dua jenis ameloblastoma yang sering ditemukan adalah folikular dan plexiform
(Cardesa dkk., 2006).

Gambar 3.Daerah epitelial luas dengan struktur spindel epitelium disertai daerah stroma cair
merupakan tipikal ameloblastoma plexiform(Pathology of the Head and Neck
oleh Cardesa dkk 2006).

Gambar 4. Ameloblastoma folikular. Tumor terdiri dari pulau-pulau epitel dengan kehilangan
inti oedematus dan tepi dikelilingi sel palisade (Pathology of the Head and Neck
oleh Cardesa dkk 2006).

Gambar 5. Ameloblastoma Unikistik. Tumor terdiri dari cyst-lining epithelium yang


menunjukkan gambaran tipikal ameloblastoma (Pathology of the Head and
Neck oleh Cardesa dkk 2006).
Penatalaksanaan
Pembedahan adalah pengobatan standar untuk ameloblastoma.Secara historis, terdiri
dari dua pilihan bedah: '' konservatif '' vs ''radikal''. Yang pertama melibatkan enukleasi /
kuretase rongga tulang, sementara yang terakhir melibatkan operasi radikal dengan margin
yang sesuai dengan batas tumor. Keuntungan enukleasi adalah prosedur rawat jalan yang bisa
dilakukan oleh banyak penyedia layanan karena tidak memerlukan rekonstruksi, tetapi data
tentang enukleasi sederhana menunjukkan kekambuhan tingkat 60-90%(McClary dkk.,
2015).
Pilihan bedah 'radikal' adalah standar perawatan untuk ameloblastoma dan termasuk
reseksi blok dengan batas tulang 1-2 cm dan rekonstruksi tulang langsung untuk membantu
berbicara dan menelan. Batas tulang didefinisikan sebagai jarak dari margin radiografi
diprediksi bebas penyakit dan secara onkologis aman untuk melakukan osteotomi (McClary
dkk., 2015).
Perawatan ameloblastomaprinsipnya berupa pengambilan secara adekuat pada bagian
tepi jaringan sehat yang tidak terlibat. Pada ameloblastomaperipheral, eksisi sederhana
merupakan perawatan yang memadai. Ameloblastoma unikistik dengan berbatas cyst lining,
enukleasi merupakan terapi yang adekuat. Pengambilan ameloblastoma yang adekuat pada
kasus yang terjadi pada maksila yang tumbuh ke postero-kranial susah dilakukan karena
dapat berakibat fatal (Cardesa dkk., 2006).
Pada prinsipnya penatalaksanaan ameloblastoma adalah pengangkatan tumor secara
total, tanpa melupakan teknik, penatalaksanaannya tergantung pada kemungkinan untuk
merusak tulang dan terjadinya kekambuhan. Untuk jenis unikistik ameloblastoma
penatalaksanaan yang dianjurkan adalah enukleasi dan kuretase. Tetapi, kuretase pada tulang
yang terkena ameloblastoma saat ini tidak dianjurkan karena resiko untuk menemukan benih
ameloblastoma yang lebih dalam didalam tulang atau dalam jaringan didekatnya. Sementara
enukleasi saja juga harus dihindari untuk lesi yang sangat besar karena fraktur patologis dapat
terjadi. Tingkat kekambuhan antara 15%-35% telah dilaporkan untuk ameblastoma tipe
unikistik yang diterapi dengan enukleasi dan kuretase saja. Lebar tepi tulang yang
ditinggalkan yang direkomendasikan adalah antara 1.0-1.5 cm untuk tipe unikistik
ameblastoma (Sunwoo dkk., 2015).
Sebelum tahun 1980an, diyakini bahwa ameloblastomatahan terhadap radiasi. Meski
beberapa penelitian telah melaporkan pada radiasi ajuvan untuk margin positifdan berulang
dan ameloblastoma tidak dapat diobati, serta hasilnya buruk(McClary dkk., 2015).
Prognosis
Prognosis untuk ameloblastoma tergantung pada usiapasien, ukuran tumor, tingkat
penyakit, lokasi,dan tipe histologis. Tingkat kekambuhan bergantung dari kecukupan margin
dan keterlibatan struktur vital (dasar tengkorak, orbit, sinus paranasal). Ameloblastoma pada
maksila lebih agresif dalam hal tingkat penyakit dan kekambuhan, karena kerapuhan tulang
kortikal rahang atas memberikan hambatan yang lebih lemah untuk penyebaran tumor. Selain
itu, kekambuhan dan reoperasi dapat menyebabkan peningkatan risiko komplikasi bedah.
Kekambuhan setelah perawatan konservatif diyakini akibat dari persistensi penyakit, yang
tumbuh perlahan di dalam rongga yang sebelumnya dievakuasi dan mungkin butuh beberapa
dekade untuk kembali hadir. Standar '' radikal '' reseksi bedah menunjukkan hasil yang jauh
lebih baik. Rekurensi telah dilaporkan dari 1 sampai 45 tahun setelah enukleasi(McClary
dkk., 2015).
Ameloblastoma, jika tidak diobati, bisa tumbuh menjadi sangat besarukuran dan
menimbulkan risiko jalan nafas dan kelainan metabolik. Selain itu, dilaporakan dapat
metastasis ameloblastoma ke paru-paru berhubungan dengan paraneoplastic sindrom yang
menyebabkan hiperkalsemia, namun kejadian ini 1% dari populasi (McClary dkk., 2015).

Kesimpulan
Ameloblastoma adalah tumor jinak mandibula dan rahang atas,dengan kecenderungan
untuk invasi lokal dan memiliki risiko kekambuhan. Pada prinsipnya penatalaksanaan
ameloblastoma adalah pengangkatan tumor secara total. Enukleasi sederhana tidak berperan
dalam pengelolaan ameloblastoma. Perawatan di luar eksisi lokal yang luas, sulitdikaitkan
dengan morbiditas pasien yang signifikan. Selain itu, meskipun radioterapi telah dicoba
berulang atau kasus yang tidak bisa dioperasi, penelitian menunjukkan keefektifannya tidak
jelas.Mengingat kelangkaan penyakit dan keterbatasan pengalaman dengan perawatan
sistemik, peran mereka tetap tidak terpenuhi, dan sampai saat ini, sedikit yang diketahui
tentang dasar-dasar molekuler dari ameloblastoma.
Daftar Pustaka
1. Cardesa A., Slootweg P. J., Gale Nina, Franchi A. 2006. Pathology of the Head and
Neck. 110-112.
2. Delong Leslie dan Burkhart W. Nancy. 2014. General and Oral Pathology for the
Dental Hygienist 2nd Ed. Library of Congress Cataloging: Philadelphia.
3. McClary A. C., West R. B., McClary A. C., Pollack J. R., Fischbein N. J., Holsinger
C. F., Sunwoo J., Colevas D., Sirjani D. 2015. Ameloblastoma: a Clinical Review and
Trends in Management. Eur Arch Otorhinolaryngol.
4. White S. C., dan Pharoah M. J. 2014.Oral Radiology, Principles and
Interpretation.British Dental Journal.