Sunteți pe pagina 1din 12

Jurnal Kesehatan Poltekkes Provinsi Bengkulu Volume 3 No.

7 Desember 2016 Page 779


Dukungan keluarga dalam memotivasi pasien untuk melakukan mobilisasi pasca stroke di rumah sakit umum daerah dr. Slamet
Kabupaten Garut (Andri Nugraha, Sulastini, Rika Rahmat)
PENELITIAN
DUKUNGAN KELUARGA DALAM MEMOTIVASI
PASIEN UNTUK MELAKUKAN MOBILISASI PASCA STROKE
DI RUMAH SAKIT UMUM DAERAH (RSUD) DR. SLAMET KABUPATEN GARUT

Andri Nugraha, S.Kep.,Ners., M.Kep1, Sulastini, S.Kep., Ners., M.Kep2,


Rika Rahmat, S.Kep3
1 & 2 Dosen STIKes Karsa Husada Garut,

3. Mahasiswa Program Profesi Ners STIKes Karsa Husada Garut

Email : andrinugraha@outlook.com

ABSTRAK

Jumlah pasien stroke di Indonesia semakin meningkat setiaptahunnya, sekitar 28,5%. Angka
kejadian Stroke hemoragik di Jawa Barat tahun 2011 adalah 745 orang (0,03%). RSUD dr.
Slamet Garut pada tahun 2014 berjumlah 257 orang pasien stroke sedangkan di tahun 2015
bertambah menjadi 335 orang pasien struk ditahun 2016 dari bulan januari sampai bulan
Maret berjumlah 54 orang pasien stroke.
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran dukungan keluarga dalam
memotivasi pasien melakukan mobilisasi di RSUD dr. Slamet kabupaten Garut tahun
2016.Stroke adalah suatu kondisi yang terjadi ketika pasokan darah ke suatu bagian otak tiba-
tiba terganggu. Pendekatan penelitian yang digunakan pada penelitian ini adalah deskriptif.
Sampel yang diambil sebanyak 54 paien pasca stroke dengan teknik pengambilan sampel
menggunakan metode total Sampling. Penelitian ini menggunakan kuesioner sebagai
instrumen. Analisa data yang digunakan univariat.
Hasil penelitian didapatkan sebagian besar responden mendukung melakukan mobilisasi
pasca stroke. Perawat perlu berkolaborasi dengan keluarga dalam pelaksanaan latihan
mobilisasi pasien pasca stroke. Karena selain dapat membantu dalam memandirikan pasien
dan keluarga, dukungan dari keluarga sangat dibutuhkan dalam menambah motivasi pasien
untuk melakukan latihan mobilisasi.

Kata Kunci ; Dukungan keluarga, motivasi melakukan mobilisasi

ABSTRAC

The number of stroke patients in Indonesia is increasing every year, about 28.5%. The
incidence of hemorrhagic stroke in West Java in 2011 was 745 people (0.03%) . Dr. Slamet
Garut in 2014 amounted to 257 stroke patients, while in 2015 increased to 335 patients a
year receipts in 2016 from January to March amounted to 54 stroke patients.
The purpose of this study is to describe the family support in motivating patients to
mobilize in dr. Slamet Garut district 2016. Stroke is a condition that occurs when the blood

Jurnal Kesehatan Poltekkes Provinsi Bengkulu Volume 3 No. 7 Desember 2016 Page 747
Dukungan keluarga dalam memotivasi pasien untuk melakukan mobilisasi pasca stroke di rumah sakit umum daerah dr. Slamet
Kabupaten Garut (Andri Nugraha, Sulastini, Rika Rahmat)

supply to a part of the brain is suddenly interrupted. The research approach used in this
study was descriptive. Samples taken as many as 54 paien post-stroke with a sampling
technique using total sampling method. This study used a questionnaire as an instrument.
Univariate analysis of the data used.
Hasilpenelitiandidapatkan majority of respondents support the mobilization after stroke.
Nurses need to collaborate with the family in the implementation of post-stroke patient
mobilization exercises. Because in addition to helping the patient and family's
independence, the support of the family is needed in increasing the motivation of patients
to perform the exercises of mobilization.

Keywords : Family support, motivation to exercises of mobilization

PENDAHULUAN adanya perubahan aktifitas gerak yang


tidak optimal kembali (Wijaya, 2015).
Manusia adalah makhluk unik yang Stroke adalah uatupenyakit yang
mempunyai berbagai kebutuhan disebabkanolehpembuluh darah yang
berdasarkan hirarki "Maslow" meliputi tersumbat atau pecahnya pembuluh darah
kebutuhan fisiologis, rasa aman, rasa dalam otakmanusia.Selainitu, Stroke juga
memiliki, harga diri dan aktualisasi, di kategorikansebagai penyakit yang
kebutuhan fisiologis merupakan kebutuhan paling sering menyebabkan kecacatan
yang mewakili system utama subuh, maupunkematian (Auryn, 2007).
misalnya; udara, nutrisi, metabolisme, Angka kejadian Stroke di Dunia
koordinasi, eliminasi dan aktifitas, mencapai 200 per 100.000 penduduk
sedangkan bergerak dan perubahan posisi dalam setahun, sebanyak 52% mengalami
merupakan kebutuhan dasar yang kecacatan permanen, sebanyak 23%
didukung oleh sistem muskuluskeletal mengalami kecacatan ringan dan sebanyak
untuk memenuhi kebutuhan dasar lainnya, 25% dapat menghindari dari kecacatan
bila terdapat gangguan dalam memenuhi setelah melakukan rehabilisasi, untuk
kebutuhan pergerakan dan perubahan menghindari kecacatan pada pasien Stroke
posisi maka kebutuhan dasar lainnya dapat langkah upaya untuk mencegahnya ialah
terganggu (Wijaya, 2015). dengan melakukan Rehabilisasi salah
Masalah kesehatan adalah satunya dengan cara melakukan mobilisasi
tanggung jawab kita bersama, kesehatan dini pada pasien post stroke (Fadilah,
merupakan salah satu bagian pokok dan 2008).
esensial dari kualitas hidup yang Prevalensi stroke di Amerika
bercermin pada pemenuhan kebutuhan Serikat merupakanperingkatke-tiga
dasar manusia, salah satu kesehatan yang penyebab kematian dengan laju intensitas
mengancam adalah stroke, karena stroke yaitusebanyak18-37 % untukkejadian
merupakan penyakit yang bisa stroke pertama dan sebesar 62 %
disembuhkan tapi tidak seutuhnya ditandai untukkejadian stroke berulang. Sebanyak2
juta orang mengalamistroke yang

Jurnal Kesehatan Poltekkes Provinsi Bengkulu Volume 3 No. 7 Desember 2016 Page 748
Dukungan keluarga dalam memotivasi pasien untuk melakukan mobilisasi pasca stroke di rumah sakit umum daerah dr. Slamet
Kabupaten Garut (Andri Nugraha, Sulastini, Rika Rahmat)

mempunyai kecacatan, dari angka ini juga merupakan faktor yang menonjol
sebanyak40% memerlukan bantuan dalam dalam mempercepat proses penyembuhan
kehidupan sehari-hari (Iskandar, 2007). dan pemulihan post stroke, banyak
Jumlah pasien stroke di Indonesia keuntungan yang bisa diraih dari latihan,
setiap tahunnya terus mengalami mobilisasi dini juga merupakan
peningkatan, sekitar 28,5% pasien stroke kebijaksanaan untuk secepat mungkin
di Indonesia meninggal dunia,dengan membimbing penderita keluar dari tempat
kejadian Stroke iskemik lebih sering tidurnya (Soelaiman, 2008). '
ditemukan dibandingkan Stroke Mobilisasi dini pada pasien stroke
hemoragik. Dari studi rumah sakit yang dilakukan setelah keadaan pasien membaik
dilakukan di Medan pada tahun 2001, dan kondisi telah stabil maka mobilisasi
sebanyak12 rumah sakit jumlahpasien dini dapat dilakukan secepatnya ditempat
yang dirawat 1263 kasus, yang terdiri dari tidur, mobilisasi harus dimulai sedini
821kasus stroke iskemik dan 442 kasus mungkin sejak serangan pertama stroke
stroke hemoragik, dan orang yang keterlambatan akan memberikan hasil
meninggal sebanyak 201 kasus (15,91%) yang kurang baik, selama tidak akut
terdiri dari 98 (11,93%) Stroke iskemik program mobilisasi dapat dimulai 24
dan 103 (23,30%) Stroke hemoragik sampai 36 jam setelah serangan stroke dan
(Nasution, 2007). dilakukan oleh perawat atau keluarga
Angka kejadian Stroke hemoragik pasien (Soelaiman, 2008).
di Jawa Barat tahun 2011 adalah 745 orang Penanganan fisik terapi pasca
(0,03%) sama dengan angka tahun 2010. stroke adalah kebutuhan mutlak bagi
Prevalensi tertinggi tahun 2011 adalah di pasien untuk dapat meningkatkan
Kota Jakarta sebesar 1,34% (267 orang). kemampuan gerak dan terapinya, berbagai
Sedangkan prevalensi Strokenon metode intervensi fisioterapi telah terbukti
hemoragik pada tahun 2011 sebesar 0,09% memberikan manfaat besar dalam
(2.782 orang), sama dengan prevalensi mengembalikan gerak, fungsi pada pasien
tahun 2010. Prevalensi tertinggi adalah di pasca stroke, Semangat dan motivasi
Kota Jakarta sebesar 3,45% (1,675 orang) pasien untuk berlatih sangat membantu
(Dinkes Jabar, 2011).Di RSUD dr. Slamet mempercepat proses pemulihan peranserta
Garut pada tahun 2014 berjumlah 257 keluarga dalam memotivasi untuk
orang pasien stroke sedangkan di tahun melakukan latihan, merawat dan
2015 bertambah menjadi 335 orang pasien mendampingi pasien juga sangat
stroke ditahun 2016 daribulan januari membantu keberhasilan program terapi
sampai bulan Maret berjumlah 54 orang yang diberikan kemampuan anggota
pasien stroke (Rekamedik RSUD dr. keluarga dalam memberikan dukungan dan
Slamet Garut). penanganan sangat baik bagi pemulihan
Pasien stroke harus dilakukan pasien keluarga memiliki waktu relatif
mobilisasi dini karena salah satu dampak lebih banyak dibanding tenaga kesehatan
kurangnya melakukan mobilisasi dapat sehingga apabila pemahaman anggota
mengakibatkan kekakuan otot dan sendi, keluarga tentang penanganan pasien stroke
dekobitus, nyeri pundak, pneumonia, dan maka akan menghasilkan proses
stress (Iskandar, 2007). Mobilisasi dini pembelajaran sesuai motorik yang salah,

Jurnal Kesehatan Poltekkes Provinsi Bengkulu Volume 3 No. 7 Desember 2016 Page 749
Dukungan keluarga dalam memotivasi pasien untuk melakukan mobilisasi pasca stroke di rumah sakit umum daerah dr. Slamet
Kabupaten Garut (Andri Nugraha, Sulastini, Rika Rahmat)

yang hal ini justru akan memperlambat menimbulkan konflik, frustasi dan rasa
perkembangan proses perkembangan gerak bersalah dalam keluarga (Pratama,
pasien (Sitorus, 2009). 2011).Fungsi dan bentuk dukungan
Kata motivasi berasal dari kata keluarga diantaranya adalah dukungan
motif yang berarti kekuatan yang terdapat informasional, penilaian, instrumental dan
dalam diri individu, yang menyebabkan emosional (Stiadi, 2008).
individu tersebut bertindak atau berbuat. keluarga adalah salah satu faktor
Motif tidak dapat diamati secara langsung, yang mempengaruhi perjalanan penyakit,
namun dapat diartikan sebagai dalam kekambuhan dan prognosisnya
tingkah laku, yang berbentuk memberikan dankeluarga berperansangatpenting dalam
energi atau tenaga, rangsangan, pemeliharaan /rehabilitasi anggota
ataudorongantimbulnya suatu tingkah laku keluarga yang menderita suatu penyakit
tertentu (Uno, 2008). (Effendi, 2008). Pembinaan kesehatan
Motivasi juga merupakan akibat keluarga ditujukan kepada upaya
dari interaksi seseorang dengan situasi menumbuhkan perubahan sikap dan
tertentu yang dihadapinya, sehingga perilaku yang akan meningkatkan
terdapat perbedaan dalam kekuatan kemampuan keluarga untuk mengatasi
motivasi yang ditunjukan oleh seseorang masalah kesehatan dengan dukungan dan
dalam menghadapi situasi tertentu bimbingan tenaga profesional menuju
dibandingkan dengan orang lain dalam kehidupan keluarga yang sehat (Depkes,
menghadapi situasi yang sama, motivasi 2010).
dapat bersumber dari dalam diri individu Anggota keluarga memandang
atau disebut motivasi intrinsik dan dapat bahwa orang yang bersikap mendukung
pula bersumber dari luar individu itu akan selalu memberikan pertolongan dan
sendiri atau disebut motivasi ekstrinsik bantuan jika adaanggotakeluarga yang
(Siagian, 2007). mengalamisakit, diperlukan,dan yang tidak
Faktor-faktor yang mempengaruhi mendukung akan bersifat pasif dan lambat
motivasi pasien untuk melakukan dalam memberikan bantuan atau
mobilisasi dini terbagi dalam dua kategori pertolongan pada anggota keluarga yang
diantaranya adalah yang pertama faktor membutuhkan bantuan. (Efensi,
intrinsik meliputi pengetahuan, motivasi, 2008).BentukdukungankeluargayaituDuku
dan sikap, kedua adalah faktor ekstinsik ngan informasional meliputi pemberian
meliputi dukungan tenaga kesehatan dan nasehat, usulan, saran, petunjuk, dan
dukungan keluarga (Notoatmodjo, 2007). pemberian informasi, dukungan
Dukungan keluarga adalah faktor penghargaan meliputi pemberian
yang berpengaruhterhadap kesembuhan bimbingan umpan balik, menengahi
pasien, penerimaan keluarga terhadap pemecahan masalah, memberikan support,
penderita yang sakit,dan keluarga penghargaan, dan perhatian, dukungan
memandang pasien sebagai orang yang instrumental meliputi bantuan makan dan
mempunyai keterbatasan dalam hidupnya minum, istirahat, pinjaman uang dan
karena berobat akan membutuhkan waktu menolong dalam pekerjaan, dukungan
yang akan mengurangi waktu pasien dalam emosional meliputi dukungan yang
melakukan aktifitas sosial sehingga diwujudkan dalam kepercayaan, perhatian,

Jurnal Kesehatan Poltekkes Provinsi Bengkulu Volume 3 No. 7 Desember 2016 Page 750
Dukungan keluarga dalam memotivasi pasien untuk melakukan mobilisasi pasca stroke di rumah sakit umum daerah dr. Slamet
Kabupaten Garut (Andri Nugraha, Sulastini, Rika Rahmat)

empati, kepedulian, mendengarkan dan Populasi pada penelitian ini seluruh


didengarkan (Sugiharto, 2014). pasien stroke di RSUD dr. Slamet
Hasil studi pendahuluan yang kabupaten Garut dalam tiga bulan terakhir
penulis lakukan dengan cara wawancara yaitu sebanyak 54 orangpasienpasca
kepada perawat ruangan yang sedang stroke.Teknik sampling yang digunakan
bertugas menyatakan bahwa perawat dalam penelitian ini adalah total sampling,
menyarankan dan menginstruksikan pada yaitu: carapengambilan sampel dengan
keluarga agar melakukan mobilisasi pada mengambil semuaanggota populasi
pasien post stroke seperti miring kanan, menjadi sampel, yaitusebayak 54 orang.
miring kiri dan membolehkan keluarga Variabel pada penelitian ini adalah:
agar melakukan pemijatan pada pasien Dukungan keluarga (dukungan emosional,
stroke, dan hasil pengamatan penulis pada dukungan penilaian, dukungan
saat itu perawat hanya menyarankan dari instrumental dan dukungan informasional).
menginstruksikan saja tidak melakukan Penelitian ini dilaksanakan
mobilisasi pada pasien dengan alasan diRuangPerawatan RSUD dr. Slamet
keterbatasan petugas dalam merawat kabupaten Garut. Waktu pengumpulan
pasien di ruangan. Sedangkan studi data dilaksanakan pada bulan
pendahuluan pada 7 orang anggota Agustustahun 2016.
keluarga dari 7 pasien stroke menyatakan
5 keluarga tidak memahami apa yang Peneliti menggunakan instrumen
harus dilakukannya selelah pasien berupa kuesioner yang didapat dari
memasuki masa pemulihan dari strokenya respoonden langsung, adapun kuesioner
dan 2 orang anggota keluarga lainnya untuk status dukungan keluarga
menyatakan setelah pulih dari strokenya menggunakan skala likert dengan 5 option
keluarga langsung mengajak pasien untuk : 5 sangat setuju 4 setuju 3 kurang setuju 2
melakukan gerakan-gerakan minimal agar tidak setuju 1 sangat tidak setuju. Pada
seluruh tubuhnya cepat kembali pulih variabel dukungan keluarga diukur dengan
terutama pada sendi tangan dan kaki. skala Likert. Jawaban setiap item yang
digunakan dalam skala Likert ini
METODE PENELITIAN mempunyai gradasi dari pernyataan positif
yaitu sangat setuju (SS) diberi nilai 4,
Metode penelitian yang di gunakan setuju (S) diberi nilai 3, untuk tidak setuju
pada penelitian ini adalah deskriptif, yaitu (TS) diberi nilai 2, dan sangat tidak setuju
suatu penelitian yang dilakukan untuk (STS) diberi nilai 1. Kemudian sebaliknya
memberikan gambaran yang lebih detail untuk pernyataan negatif, sangat setuju
mengenai suatu gejala atau penomena (SS) diberi nilai 1, setuju (S) diberi nilai 2,
(Hidayat, 2008). Adapun tujuan penelitian tidak setuju (TS) diberi nilai 3, dan sangat
ini adalah untuk mengetahui gambaran tidak setuju (STS) diberi nilai 4.
dukungan keluarga dalam memotivasi
pasien melakukan mobilisasi pasca stroke Intrumen yang digunakan
di RSUD Dr. Slamet Kabupaten Garut menggunakan uji validitas dan reliabilitas
tahun 2016". instrumen peneliti menggunakan Alpha
Cronbach dengan hasil uji reabilitas

Jurnal Kesehatan Poltekkes Provinsi Bengkulu Volume 3 No. 7 Desember 2016 Page 751
Dukungan keluarga dalam memotivasi pasien untuk melakukan mobilisasi pasca stroke di rumah sakit umum daerah dr. Slamet
Kabupaten Garut (Andri Nugraha, Sulastini, Rika Rahmat)

sebesar 0,960, dengan ketentuan semakin


mendekati angka satu maka instrument
semakinr reliabel.

HASIL PENELITIAN
Hasilgambaran dukungan keluarga dalam memotivasi pasienuntuk melakukan
mobilisasi pascastroke dirumahsakitumumdaerah (rsud) dr. slamet kabupaten garut di
jelaskan pada tabel dibawah ini :

Tabel 1
Distribusi Frekuensi Dukungan Keluarga Dalam Memotivasi Pasien Melakukan
Mobilisasi Pasca Stroke Di RSUD dr. Slamet Kabupaten Garut Tahun 2016

Dukungan Keluarga Frekuensi Persen (%)

Mendukung 42 77,8

Tidak Mendukung 12 22,2

Total 54 100

Berdasarkan tabel 1 diatas, sebagian besar responden sebanyak 42 orang (77,8%)


mendukung melakukan mobilisasi pasca stroke dan sebagian kecil responden sebanyak 12
orang (22,2%) tidak mendukung melakukan mobilisasi pasca stroke.

Tabel 2
Distribusi Frekuensi Aspek Emosional Keluarga dalam Memotivasi Pasien Melakukan
Mobilisasi Pasca Stroke
Persentase(%)
Dukungan Emosional Frekuensi

Mendukung 31 57,4

Tidak Mendukung 23 46,6

Total 54 100

Tabel 2 dibawah ini menggambarkan tentang Gambaran Aspek Emosional keluarga


hampir setengah responden sebesar 31 (57,4 %) orang mendukung dan kurang dari setengah
responden yaitu sebesar 23 orang (46,6%) yang tidak mendukung mobilisasi pasien pasca
stroke.

Tabel 3

Jurnal Kesehatan Poltekkes Provinsi Bengkulu Volume 3 No. 7 Desember 2016 Page 752
Dukungan keluarga dalam memotivasi pasien untuk melakukan mobilisasi pasca stroke di rumah sakit umum daerah dr. Slamet
Kabupaten Garut (Andri Nugraha, Sulastini, Rika Rahmat)

Distribusi Frekuensi Aspek Penilaian Keluarga dalam Memotivasi Pasien Melakukan


Mobilisasi Pasca Stroke

Persentase(%)
Dukungan Penilaian Frekuensi

Mendukung 31 57,4

Tidak Mendukung 23 46,6

Total 54 100

Pada tabel 3 dapat diketahui bahwa lebih dari setengah responden sebanyak 31 orang
(57, 4) yang mendukung pasien pasca stroke dari segi aspek penilaian dan hampir setengah
responden yaitu sebanyak 23 orang (46,6 %) yang tidak mendukung.

Tabel 4
Distribusi Frekuensi Aspek Instrumental Keluarga dalam Memotivasi Pasien
Melakukan Mobilisasi Pasca Stroke

Presentase(%)
Dukungan Instrumental Frekuensi

Mendukung 24 44.4

Tidak Mendukung 30 55,6

Total 54 100

Pada tabel 4. diperoleh informasi bahwa hampir setengah responden keluarga yang
mendukung yaitu sebanyak 24 orang (44.4%) terhadap pasien pasca stroke serta lebih dari
setengah responden sebanyak 30 orang (55,6 %) keluarga yang tidak mendukung terhadap
mobilisasi pasien pasca stroke.

Tabel 5
Distribusi Frekuensi Aspek Informasional Keluarga dalam Memotivasi Pasien
Melakukan Mobilisasi Pasca Stroke

Persentase(%)
Dukungan Informasional Frekuensi

Mendukung 33 61,1

Tidak Mendukung 21 38,9

Jurnal Kesehatan Poltekkes Provinsi Bengkulu Volume 3 No. 7 Desember 2016 Page 753
Dukungan keluarga dalam memotivasi pasien untuk melakukan mobilisasi pasca stroke di rumah sakit umum daerah dr. Slamet
Kabupaten Garut (Andri Nugraha, Sulastini, Rika Rahmat)

Total 54 100

Berdasarkan tabel 5 diatas, sebagian besar responden sebanyak 33 orang (61,1%)


mendukung melakukan mobilisasi pasca stroke dalam aspek informasional dan sebagian kecil
responden sebanyak 21 orang (38,9%) tidak mendukung melakukan mobilisasi pasca stroke
dalam aspek informasional

PEMBAHASAN
Berdasarkan hasil penelitian, yang sangat kuat pada penderita untuk
sebagian besar responden sebanyak 42 mengekspresikan sesuatu, akan
orang (77,8%) mendukung melakukan mendorong kemampuannya berbicara dan
mobilisasi pasca stroke dan sebagian kecil bergerak/bertindak (Setiadi, 2009).
responden sebanyak 12 orang (22,2%) Pasca serangan stroke sangatlah
tidak mendukung melakukan mobilisasi penting dilakukan latihan pergerakan pada
pasca stroke. daerah yang terserang pasien stroke
Dukungan keluarga sangat sangatlah lama dalam perawatan salah satu
diperlukan dalam proses kesembuhan diantaranya perlu dukungan dari keluarga
pasien, yang mana anggota keluarga untuk latihan pergerakan. Dengan
memberikan dorongan atau motivasi dukungan keluarga, pasien pasca serangan
kepada anggota keluarganya yang stroke dapat lebih tenang dan termotivasi
mengalami kelemahan, cacat, atau sedang untuk melakukan latihan pergerakan
mengalami suatu penyakit dengan (Maryadi, 2007).
merawat baik masalah nutrisi, latihan, Dukungan keluarga harus
istirahat maupun pemeliharaan kesehatan dilakukan secara langsung olehanggota
(Setiadi, 2008). keluarga terdekatnya, seperti anak-cucu
Pasien dengan poststroke karena, kualitas komunikasi dan interaksi
merupakan suatu kondisi yang harus secara psikologis sulit digantikan oleh
mendapat perhatlan khusus yang mana orang lain, jika keluarga berkeinginan
peran perawat sangat menentukan yang kuat untuk merehabilitasi fungsi
kesembuhan pasien, salah satu diantaranya bicara dan senso-motoriknya akan
mengkondisikan dan memotivasi pasien mempercepat kesembuhan pasien (Setiadi,
untuk segera melakukan mobilisasi sesuai 2010).
dengan jadwal yang telah ditentukan
(Brunner & Sudarrt, 2010).
Dukungan keluarga sangat penting PENUTUP
bagipasien karena proses penyembuhan
pasien stroke memerlukan waktu relatif Hasil penelitian dan pembahasan,
lama, maka perlu pengertian dan dapat ditarik suatu kesimpulan sebagaian
kesabaran yang dalam dari semua pihak, besar responden mendukung melakukan
terutama keluarga, pihak keluarga mobilisasi pasca stroke, lebih dari
diharapkan setiap saat mengajak bicara setengah responden mendukung
dan berinteraksi dengan pasien melakukan mobilisasi pasca stroke dalam
strokekarena secara psikologis, motivasi aspek emosional, lebih dari setengah

Jurnal Kesehatan Poltekkes Provinsi Bengkulu Volume 3 No. 7 Desember 2016 Page 754
Dukungan keluarga dalam memotivasi pasien untuk melakukan mobilisasi pasca stroke di rumah sakit umum daerah dr. Slamet
Kabupaten Garut (Andri Nugraha, Sulastini, Rika Rahmat)

responden mendukung melakukan <Diperolehpadatanggal 14 Januari


mobilisasi pasca stroke, lebih dari 2016>].
setengah responden tidak mendukung
Effendi, Nasrul. 2008.
melakukan mobilisas ipasca stroke dalam
DasarDasarKeperawatanKesehat
aspek instrumental, sebagaian besar anMasyarakat. Jakarta: EGC.
responden mendukung melakukan
mobilisasi pasca stroke dalam aspek Fadilah, (2008), Kejadian Stroke di Dunia,
informasional. http.Stroke-angka-kejadian-di-
dunia/13/2008.(Diaksespadatangg
Perawat di harapkan memberikan al 5 Januari 2016).
pendidikan kesehatan kepada keluarga
tentang pelaksanaan latihan mobilisasi Hidayat, A. Aziz Alimul. 2008.
pada pasien pasca stroke. Karena MetodePenelitianKeperawatanda
nTeknikAnalisa Data (Cetakan
dukungan dari keluarga sangat dibutuhkan
Ke-2). Jakarta: SalembaMedika.
dalam menambah motivasi pasien untuk
melakukan pelatihan mobilisasi, selain itu Iskandar, (2007),
dapa tmembantu dalam memandirikan PanduanPraktisPencegahandanP
pasien dan keluarga. engobatan Stroke, Jakarta PT
BhuanaIlmuPopulerKelompokGr
amedia.
DAFTAR PUSTAKA Nasution, (2007), Stroke
BerencanaPeredaranDarah di
Arikunto, S. ,2006. Otak, Jakarta, BalaiPustaka
ProsedurPenelitianSuatuPendekat FKUI.
anPraktek. EdisiRevisi V, Jakarta
:RinekaCipta. Notoatmojo, (2007),
IlmuKesehatanMasyarakatPrinsi
AbinSyamsudinMakmun (2008), p-PrinsipDasar,Cetakan ke-4,
SosiologiKesehatanBeberapaKon RinekaCipta Jakarta.
sepBesertaAplikasinya, FKMUI,
GajahmadaUniv Press. Nursalam, (2007),
KonsepdanPenerapanMetodologi
Anwar Amiruddin,R. (2010). PenelitianIlmuKeperawatanPedo
HipertensidanFaktorResikonyaD manSkripsi Thesis
alamKajianEpidemiologi.Makasa danInstrumenPenelitianKeperaw
r : FKM UNHAS. atan,SalembaMedika Jakarta.

DahlanSopiudin, (2010). Potter Patricia, Et All, (2006), Buku Ajar


StatistikUntukPenelitian. Fundamental Keperawatan,
Bandung RhinekaCipta Konsep, Proses
danPraktik.AlihbahasaKomala
Depkes, Sari Renata, Et All,
2010.KesehatanKeluargadanPeng PenerbitBukuKedokteran, EGC.
olahanStatistik.Dalam
[http://www.depkes.jabarprov.go.i Purwanto, Heri. 2009.
d/index.php?mod=pubDataStatisti PengantarPrilakuManusiaUntuk
k&idMenuKiri=31&idKategori=1 Keperawatan. Jakarta: EGC.

Jurnal Kesehatan Poltekkes Provinsi Bengkulu Volume 3 No. 7 Desember 2016 Page 779
Dukungan keluarga dalam memotivasi pasien untuk melakukan mobilisasi pasca stroke di rumah sakit umum daerah dr. Slamet
Kabupaten Garut (Andri Nugraha, Sulastini, Rika Rahmat)

SumberLaporanTahunan RSUD dr.


Rekamedik RSUD dr. Slamet Garuttahun SlametTahun 2015
2016
SumberLaporanBulanan RSUD dr.
Rico J. Sitorus (2009), Faktor- SlametTahun 2016
faktorResiko Yang
MempengaruhiKejadian Stroke Soelaiman, (2007),
PadaUsiaMudaKurang Dari 40 BencanaPeredaranDarah di
Tahun, Semarang, Undip. Otak, Bali Penerbit FKUI,
Jakarta.
Ridwan, 2012.
[http://Ridwanudin.wordpress.co Sutanto.2010. CekalPenyakit Modern
m/2008/05/12/konsep- Hipertensi,Stroke,Jantung,Koleste
pengertian- roldan Diabetes (Gejala-
stroke<Diperolehpadatanggal 11 gejala,PencegahandanPengendali
Januari 2016>]. an)Yogyakarta :Andi Offset.

Sastroasmoro. 2006. Uno, Hamzah B. 2008.


StatistikUntukPenelitian. Bandung : CV TeoriMotivasidanPengukurannyaAn
Alfa Beta. alisis di BidangPendidikan (Cetakan
Ke-4). Jakarta: PT. BumiAksara.
Siagian, Sondang P. 2006.
TeoriMotivasidanAplikasinya VirzaraAuryn, (2007),
(Cetakan ke-3). Jakarta: MengenaldanMemahami Stroke,
RinekaCipta. AR-RUZZ Media Group.

Setiadi , 2008. Konsepdan Proses Wijaya, (2015), Stroke MasalahKesehatan


KeperawatanKeluarga.Yogyakar Yang HarusDiperhatikan
ta :GrahaIlmu. http://www.yayasanstrokeindonesia.com
STIKes Karsa Husada Garut. 2015.
2/11/2015 (Diaksespadatanggal 5 Januari
Panduan Pennyusunan Karya
Tulis Ilmiah/Skripsi. Garut. 2016)

Sudarmoko, Arif. 2010.


TetapTersenyumMelawanHiperte
nsi. Yogyakarta :Atma Media
Press.

Sugiharto,
(2007).AsuhanKeperawatanKelu
argadenganPendekatanKeperaw
atanTranskultural.Jakarta : EGC.

Sugiyono. 2011. StatistikUntukPenelitian.


Bandung : CV Alfa Beta.

SumberLaporanTahunan RSUD dr.


SlametTahun 2014

Jurnal Kesehatan Poltekkes Provinsi Bengkulu Volume 3 No. 7 Desember 2016 Page 780