Sunteți pe pagina 1din 12

ASKEP KEPERAWATAN

“Pada pasien asfiksia neonatorum”

Oleh,
MUHAMMAD RIDWAN
A.16.08.035

STIKES PANRITA HUSADA


BULUKUMBA
2018

1
A. Latar belakang
Saat ini angka Kematian ibu dan angka kematian perinatal di Indonesia
masih sangat tinggi, menurut survei demografi dan kesehatan Indonesia. Tahun
2007 AKI sebesar 248 per 100000 kelahiran hidup dan angka kematian perinatal
adalah 26,9% per 1000 kelahiran hidup.(tando, 2012)
Pelayanan kesehatan neonatal harus dimulai sebelum bayi dilahirkan,
masalah pelayanan kesehatan yang diberikan kepada ibu hamil. berbagai bentuk
upaya pencegahan dan penanggulangan dini terhadap faktor-faktor yang
memperlemah kondisi seorang ibu hamil perlu diprioritaskan, seperti gizi rendah,
anemia, dekatnya jarak antara kehamilan dan buruknya hygiene. di samping itu
perlu dilakukan pula pembinaan kesehatan pranatal yang memadai dan
penanggulangan faktor-faktor yang menimbulkan kematian perinatal yang
meliputi perdarahan, hipertensi, BBLR, asfiksia, dan hipotermia.(tando, 2012)
penelitian telah menunjukkan bahwa 5% kematian bayi terjadi dalam
periode neonatal yaitu dalam bulan pertama kehidupan. kurang baiknya
penanganan bayi baru lahir sehat akan menyebabkan kelainan-kelainan yang dapat
mengakibatkan cacat seumur, hidup bahkan kematian.(tando, 2012)
Pada umumnya kelahiran bayi normal cukup dihadiri oleh perawat atau
bidan yang dapat diberi tanggung jawab penuh terhadap keselamatan ibu dan bayi
pada persalinan normal. oleh karena kelainan pada ibu dan bayi dapat terjadi
beberapa saat sesudah selesainya persalinan yang dianggap normal, maka seorang
perawat harus mengetahui dengan segera timbulnya nya perubahan-perubahan
pada ibu dan bayi dan bila perlu memberikan pertolongan seperti penghentian
perdarahan, membersihkan jalan nafas, memberikan oksigen dan nafas
buatan.(tando, 2012)
dengan demikian pernyataan diatas maka penulis ingin mempelajari lebih
lanjut perawatan bayi segera sesudah lahir. (tando, 2012)

2
A. Defenisi
yang dimaksud dengan asfiksia adalah merupakan penyakit yang biasanya
menyerang pada bayi pada saat bayi tersebut dalam proses kelahirannya yang
diakibatkan karena gangguan yang terjadi pada ari-ari atau terdapat pada tali
pusatnya. untuk mengantisipasi permasalahan tersebut maka perlu adanya
pemeriksaan antenatal yang dilakukan secara teratur dan juga pemantauan pada
jantung dan gerakan bayi. (sudarti, 2014)
Asfiksia neonatorum adalah keadaan dimana bayi tidak dapat bernafas
secara spontan dan teratur setelah dilahirkan akibat asfiksia akan bertambah buruk
apabila penanganan bayi tidak dilakukan dengan sempurna.(tando, 2012)
asfiksia adalah kegagalan untuk memulai dan melanjutkan pernapasan
secara spontan dan teratur pada saat bayi baru lahir atau beberapa saat sesudah
lahir. Bayi mungkin lahir dalam kondisi asfiksia (asfiksia primer) atau mungkin
dapat bernapas tetapi kemudian mengalami asfiksia beberapa saat setelah lahir
(asfiksia sekunder) buku asuhan neonatus resiko tinggi dan kegawatan(tando,
2012)

B. Etiologi dan faktor predisposisi


hipoksia janin yang menyebabkan asfiksia neonatorum terjadi karena
gangguan pertukaran gas serta transpor oksigen dari ibu ke janin sehingga terdapat
gangguan dalam persendiaan oksigen dan dalam menghilangkan karbon
dioksida(tando, 2012)
Gangguan menahun dalam kehamilan dapat berupa gizi ibu yang buruk,
penyakit menahun seperti, penyakit jantung dan lain-lain. Hal ini dapat dicegah
atau dikurangi dengan melakukan pemeriksaan antenatal yang sempurna, sehingga
perbaikan sedini mungkin dapat dilakukan. Faktor-faktor yang timbul dalam
persalinan bersifat mendadak yang dapat menyebabkan asfiksia dan anoreksia
(tando, 2012) adalah :
1. Faktor dari janin

3
gangguan aliran darah dalam tali pusat karena tekanan tali pusat, depresi
pernapasan karena obat-obatan analgetik atau anastesi.
2. Faktor dari pihak ibu :
 Gangguan his
 Hipotensi mendadak
 hipertensi dan eklampsia
 Gangguan mendadak pada plasenta
3. Gangguan hemostasis
pada tingkat permulaan gangguan gas transpor oksigen mungkin hanya
menimbulkan asidosis respiratorik. Bila gangguan berlanjut dalam tubuh
terjadi metabolisme anaerobik. Yang menimbulkan asidosis
metabolik.pada tingkat lebih lanjut terjadi gangguan kardiovaskuler yang
disebabkan oleh:
 Kerja jantung terganggu
 Asidosis metabolik
 Gangguan perdarahan paru

C. Patofiiologi
Bila janin kekurangan O2 dan kadar CO2 bertambah, timbulah rangsangan
terhadap nervus vagus sehingga DJJ (denyut jantung janin) menjadi lambat. Jika
kekurangan O2 terus berlangsung maka nervus vagus tidak dapat dipengaruhi lagi.
Timbulah kini rangsangan dari nervus simpatikus sehingga DJJ menjadi lebih
cepat akhirnya ireguler dan menghilang. Janin akan mengadakan pernafasan
intrauterin dan bila kita periksa kemudian terdapat banyak air ketuban dan
mekonium dalam paru, bronkus tersumbat dan terjadi atelektasis. Bila janin lahir,
alveoli tidak berkembang. (sudarti, 2014)

D. Tanda dan gejala asfiksia (Kasidi, 2018)


1. Tidak bernapas atau nafas megap-megap atau pernapasan lambat (kurang
dari 30 kali per menit)
2. pernapasan tidak teratur, dengkuran atau retraksi (perlakukan dadah)

4
3. tangisan lemah atau merintih
4. warna kulit pucat atau biru
5. tonus otot lemah atau ekstremitas terkulai
6. Denyut jantung tidak ada atau lambat (bradikardia)(kurang dari 100 kali
per menit)
semua bayi yang menunjukkan tanda-tanda asfiksia memerlukan perawatan dan
perhatian segera

E. Menifestasi klinis
Bayi tidak bernapas atau napas megap-megap, denyut jantung kurang dari 100
x/menit, kulit sianosis, pucat, tonus otot menurun, tidak ada respon terhadap
refleks rangsangan (Nule, 2018)

F. Pemeriksaan diagnostic (Nule, 2018)


a. Laboratorium AGD : mengkaji tingkat dimana paru-paru mampu memberikan
O2 yang adekuat.
b. Riwayat penyakit dan pemeriksaan fisik
c. Babygram (photo rongten dada)
d. Ekstrolit darah
e. Gula darah
G. Diagnosis
Diagnosis dibuat dalam persalinan dengan ditemukannya tanda tanda gawat janin.
3 hal yang perlu di dapatkan perhatian (tando, 2012)
1. denyut jantung janin
2. mekonium dalam air ketuban
3. pemeriksaan PH darah janin
1. Denyut Jantung Janin
Frekuensi normal ialah 120 sampai 160 denyutan per menit,
selama his frekuensi ini bisa turun, tetapi diluar his kembali lagi kepada
keadaan semula. Peningkatan kecepatan denyutan jantung umumnya tidak
banyak artinya, akan tetapi apabila frekuensinya turun sampai dibawah

5
100/menit, dan lebih-lebih jika tidak teratur, hal itu merupakan tanda
bahaya.
2. Mekonium Dalam Air Ketuban
Mekonium pada presentasi sungsang tidak ada artinya, akan tetapi
pada prosentase kepala mungkin menunjukkan gangguan oksigenasi dan
terus timbul kewaspadaan. Adanya mekonium dalam air ketuban pada
prosentase kepala dapat merupakan indikasi untuk mengakhiri persalinan
bila hal itu dapat dilakukan dengan mudah.
3. Pemeriksaan pH Pada Janin
Dengan menggunakan amnioskopi yang dimasukkan lewat serviks
dibuat sayatan kecil pada kulit kepala janin dan diambil contoh darah
janin. Darah ini diperiksa pH-nya adanya asidosis menyebabkan turunnya
pH. Apabila pH itu turun sampai dibawah 7,2 hal itu dianggap sebagai
tanda bahaya. Dengan penilaian pH darah janin dapat ditemukan derajat
asfiksia yaitu :

Tabel 1.1. Penilaian pH Darah Janin

NO Hasil Apgar Score Derajat Asfiksia Nilai pH

1. 0–3 Berat < 7,2

2. 4–6 Sedang 7,1 – 7,2

3. 7 – 10 Ringan > 7,2


Sumber : (Nule, 2018)

4. Dengan Menilai Apgar Skor


Cara yang digunakan untuk menentukan derajat asfiksia yaitu
dengan penilaian Apgar Skor. Apgar mengambil batas waktu 1 menit
karena dari hasil penyelidikan sebagian besar bayi baru lahir mempunyai
Apgar terendah pada umur tersebut dan perlu dipertimbangkan untuk
melakukan tindakan resusitasi aktif. Sedangkan nilai Apgar lima menit
untuk menentukan prognosa dan berhubungan dengan kemungkinan

6
terjadinya gangguan neurologik di kemudian hari. Ada lima tanda (sign)
yang dinilai oleh Apgar, yaitu :
Tabel 1.2 Apgar Skor

Tanda-tanda
Nilai = 0 Nilai = 1 Nilai = 2
Vital
1. Appearance Seluruh tubuh bayi Warna kulit tubuh Warna kulit
(warna kulit) berwarna kebiru- normal, tetapi seluruh tubuh
biruan atau pucat tangan dan kaki normal
berwarna kebiruan
2. Pulse (denyut Tidak ada <100 x/ menit >100 x/ menit
jantung)
3. Grimace Tidak ada Menyeringai/ Meringis, menarik,
(Respons meringis batuk, atau bersin
reflek) saat
stimulasiMeringis,
menarik, batuk,
atau bersin saat
stimulasi
4. Activity Lemah, tidak ada Lengan dan kaki Bergerak aktif dan
(tonus otot) gerakan dalam posisi fleksi spontan
dengan sedikit
gerakan

5. Respiration Tidak bernapas Menangis lemah, Menangis kuat,


(usaha terdengar seperti pernapasan baik
bernafas) merintih, pernapasan dan teratur
lambat dan tidak
teratur

Dari kelima tanda diatas yang paling penting bagi jantung karena
peninggian frekuensi jantung menandakan prognosis yang peka. Keadaan akan
memburuk bila frekuensi tidak bertambah atau melemah walaupun paru-paru telah
berkembang. Dalam hal ini pijatan jantung harus dilakukan. Usaha nafas adalah
nomor dua. Bila apnea berlangsung lama dan ventilasi yang dilakukan tidak
berhasil maka bayi menderita depresi hebat yang diikuti asidosis metabolik yang
hebat. Sedang ketiga tanda lain tergantung dari dua tanda penting tersebut.

7
Ada 3 derajat Asfiksia dari hasil Apgar Skor diatas yaitu :
1. Nilai Apgar 7-10, Vigorous baby atau asfiksia ringan.
Bayi dalam keadaan merintih, adanya retraksi sela iga, dengan nafas
takipnea ( >60x/menit), bayi tampak sianosis, adanya pernafasan
cupping hidung, bayi kurang aktifitas, pada pemeriksaan auskultasi
terdapat .ronchi, rales, dan wheezing.
2. Nilai Apgar 4-6 Mild Moderat atau asfiksia sedang.
Pada pemeriksaan fisik akan dilihat frekuensi jantung menurun
menjadi (60 – 80x/menit), usaha nafas lambat, tonus otot baik, bayi
masih bereaksi terhadap rangsangan, bayi sianosis, tidak terjadi
kekurangan O2 yang bermakna selama proses persalinan.
3. Nilai Apgar 0-3, asfiksia berat
Pada pemeriksaan ditemukan frekuensi jantung kecil (
<40x/menit),tidak ada usaha nafas, tonus otot lemah bahkan hampir
tidak ada, bayi tidak dapat memberikan reaksi jika diberikan
rangsangan, bayi pucat, terjadi kekurangan O2 yang berlanjut
sebelum atau sesudah persalinan.(NEONATORUM et al.)

H. komplikasi
Komplikasi yang mungkin muncul akibat asfiksia adalah (Nule, 2018):
a. Sembab Otak
b. Pendarahan Otak
c. Anuria atau Oliguria
d. Hyperbilirubinemia
e. Obstruksi usus yang fungsional
f. Kejang sampai koma
g. Komplikasi akibat resusitasinya sendiri : Pneumothorax

8
Konsep keperawatan

A. Pengkajian
Pengkajian adalah pemikiran dasar dari proses keperawatan yang bertujuan
untuk mengumpulkan informasi atau data tentang pasien agar dapat
mengidentifikasi, mengenali masalah, kebutuhan kesehatan dan keperawatan
pasien baik fisik, mental, sosial dan lingkungan. Dalam tahap pengkajian ini
dibagi menjadi tiga meliputi pengumpulan data, pengelompokan data dan
perumusan masalah. Ada beberapa pengkajian yang harus dilakukan yaitu :
1. Sirkulasi
a. Nadi apikal dapat berfluktuasi dari 110 sampai 180 x/mnt.
b. Tekanan darah 60 sampai 80 mmHg (sistolik), 40 sampai 45
mmHg (diastolik).
c. Bunyi jantung, lokasi di mediasternum dengan titik intensitas
maksimal tepat di kiri dari mediastinum pada ruang intercosta III/
IV.
d. Murmur biasa terjadi di selama beberapa jam pertama kehidupan.
e. Tali pusat putih dan bergelatin, mengandung 2 arteri dan 1 vena.
2. Eliminasi
a. Dapat berkemih saat lahir.
3. Makanan/ cairan
a. Berat badan : 2500-4000 gram
b. Panjang badan : 44 - 45 cm
c. Turgor kulit elastis (bervariasi sesuai gestasi)
4. Neurosensori
a. Tonus otot : fleksi hipertonik dari semua ekstremitas.
b. Sadar dan aktif mendemonstrasikan refleks menghisap selama 30
menit pertama setelah kelahiran (periode pertama reaktivitas).
Penampilan asimetris (molding, edema, hematoma).

9
c. Menangis kuat, sehat, nada sedang (nada menangis tinggi
menunjukkan abnormalitas genetik, hipoglikemi atau efek narkotik
yang memanjang)
5. Pernafasan
a. Skor APGAR : 1 menit s/d 5 menit dengan skor optimal harus
antara 7-10.
b. Rentang dari 30-60 permenit, pola periodik dapat terlihat.
c. Bunyi nafas bilateral, kadang-kadang krekels umum pada awalnya
silindrik thorak : kartilago xifoid menonjol, umum terjadi.
6. Keamanan
a. Suhu rentang dari 36,5º C sampai 37,5º C. Ada verniks (jumlah dan
distribusi tergantung pada usia gestasi).
b. Kulit : lembut, fleksibel, pengelupasan tangan/ kaki dapat terlihat,
warna merah muda atau kemerahan, mungkin belang-belang
menunjukkan memar minor (misal : kelahiran dengan forseps),
atau perubahan warna herlequin, petekie pada kepala/ wajah (dapat
menunjukkan peningkatan tekanan berkenaan dengan kelahiran
atau tanda nukhal), bercak portwine, nevi telengiektasis (kelopak
mata, antara alis mata, atau pada nukhal) atau bercak mongolia
(terutama punggung bawah dan bokong) dapat terlihat. Abrasi kulit
kepala mungkin ada (penempatan elektroda internal)
B. Diagnose keperawatan (PPNI, 2018)
a. Gangguan pertukaran gas b/d ketidakseimbangan ventilasi perfusi dan perubahan
membran alveolar kapiler
b. Menyusui tidak efektif b/d reflek menghisap lemah.
c. hipotermia
d. Resiko infeksi
C. Intervensi
a. Gangguan pertukaran gas b/d ketidakseimbangan ventilasi perfusi dan perubahan
membran alveolar kapiler

10
1. Letakkan bayi terlentang dengan alas yang data, kepala lurus, dan
leher sedikit tengadah/ekstensi dengan meletakkan bantal atau selimut
diatas bahu bayi sehingga bahu terangkat 2-3 cm
2. Bersihkan jalan nafas, mulut, hidung bila perlu.
3. Observasi gejala kardinal dan tanda-tanda cyanosis tiap 4 jam
4. Kolaborasi dengan tim medis dalam pemberian O2 dan pemeriksaan
kadar gas darah arteri.
b. Hipotermia.
1. Letakkan bayi terlentang diatas pemancar panas (infant warmer)
2. Singkirkan kain yang sudah dipakai untuk mengeringkan tubuh, letakkan
bayi diatas handuk / kain yang kering dan hangat.
3. Observasi suhu bayi tiap 6 jam.
4. Kolaborasi dengan team medis untuk pemberian Infus Glukosa 5% bila
ASI tidak mungkin diberikan.
c. Menyusui tidak efektif b/d reflek menghisap lemah.
1. Lakukan observasi BAB dan BAK jumlah dan frekuensi serta
konsistensi.
2. Monitor turgor dan mukosa mulut.
3. Monitor intake dan out put.
4. Beri ASI sesuai kebutuhan.
5. Lakukan kontrol berat badan setiap hari.
e. Resiko infeksi
1. Lakukan teknik aseptik dan antiseptik dalam memberikan asuhan
keperawatan
2. Cuci tangan sebelum dan sesudah melakukan tindakan.
3. Pakai baju khusus/ short waktu masuk ruang isolasi (kamar bayi)
4. Lakukan perawatan tali pusat dengan triple dye 2 kali sehari.
5. Jaga kebersihan (badan, pakaian) dan lingkungan bayi.
6. Observasi tanda-tanda infeksi dan gejala cardinal
7. Hindarkan bayi kontak dengan sakit.
8. Kolaborasi dengan tim medis untuk pemberian antibiotik.
9. Siapkan pemeriksaan laboratorat sesuai advis dokter yaitu pemeriksaan
DL, CRP

11
Daftar pustaka

KASIDI, N. P. S. A. D. 2018. Gambaran Asuhan Keperawatan pada Bayi Asfiksia


Neonatorum dengan Gangguan Pertukaran Gas di Ruang Pendet RSUD
Mangusada Badung Tahun 2018. Jurusan Keperawatan 2018.
NEONATORUM, T. A., RAHMAWATI, D., HARMEN, E. A., YUSAR, L. N., UTARI, N. D.,
NURMAN, S., AISYAH, S., PADANG, P. K. R. & PADANG, P. D. K. TUGAS MATA
KULIAH KEPERAWATAN ANAK.
NULE, M. 2018. Asuhan Keperawatan Pada Bayi Ny. E. N Dengan Asfiksia Sedang Di
Ruangan NICU RSUD. Prof DR. W. Z Johanes Kupang.
PPNI, T. P. S. D. 2018. standar diagnosa keperawatan indonesia.
SUDARTI 2014. PATOLOGI.
TANDO, N. M. 2012. ASUHAN KEBIDANAN NEONATUS.

12