Sunteți pe pagina 1din 10

3.

EVIDENCE BASED

34
JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT (e-Journal)

Volume 5, Nomor 1, Januari 2017 (ISSN: 2356-3346)

http://ejournal-s1.undip.ac.id/index.php/jkm

HUBUNGAN POSTUR KERJA DENGAN KEJADIAN KELELAHAN


OTOT PUNGGUNG PADA PEKERJA MEBEL BAGIAN
PENGAMPLASAN DI PT. X JEPARA

Hanifah Ismiarni, Baju Widjasena, Siswi Jayanti


Peminatan Keselamatan dan Kesehatan Kerja, Fakultas Kesehatan Masyarakat
Universitas Diponegoro
Email : hnfhismi@gmail.com

Abstract : Unproper, awkward and unusual postures will increase risk of injury to
the musculoskeletal system. It was found that many workers in the sanding
department of PT. X, Jepara work with awkward postures, such as bending,
twisting, squat, etc, thus giving a heavy postural load to the back muscles.
Therefore, a study was performed to correlation between work posture and back
muscle fatigue on the sanding department of PT. X, Jepara. Number of samples
used in this study were 58 respondents using proportional purposive sampling
method with inclusion criteria of employees who are willing to become
respondents, female and had no physical injuries. Data were collected using QEC
(Quick Exposure Count) to assess posture and using back dynamometer for the
back-muscle fatigue. Results show that workers tend to have high and very high
work posture exposure (mean=71%, median=70%, mode=69%) and back muscles
fatigue tend to be very high (mean= 48,8lbs, median= 50lbs, mode= 31lbs).
Statistical tests were conducted to see the correlation between these two variables
using correlate bivariate Product Moment Pearson test. Study shows that there is
a correlation between work posture and back muscle fatigue (pvalue
= 0.029). Researcher suggested that workers need to balance the work with
stretching, in addition the company needs to support this by creating a supportive
working system.

Keyword : Back muscle, fatigue, Work posture

35
JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT (e-Journal)

Volume 5, Nomor 1, Januari 2017 (ISSN: 2356-3346)

http://ejournal-s1.undip.ac.id/index.php/jkm

PENDAHULUAN Tengah berusia antara 65 tahun


Pesatnya perkembangan pernah menderita nyeri punggung
industri di Indonesia saat ini hasrus dan prevalensinya pada laki-laki
diimbangi dengan Keselamatan dan 18,2% dan pada perempuan
Kesehatan Kerja (K3). Jika 4
13,6%. Jepara merupakan salah
perkembangan perindustrian tidak satu kota di Indonesia yang terkenal
diimbangi dengan K3 maka akan sebagai daerah penghasil
muncul masalah-masalah khususnya furnitureberbahan dasar kayu. Hal ini
kesehatan, salah satu masalah yang diketahui dari pertumbuhan industri
paling umum adalah masalah mebel kayu Jepara dan peningkatan
kelelahan. Kelelahan merupakan penyerapan tenaga kerja.5Jumlah
salah satu risiko dari bahaya industri mebel jati pada tahun 1997
ergonomi yang terjadi di industri- sebanyak 2.439. Menurut Dinas
industri. Ada dua jenis kelelahan Perindustrian Perdagangan Dan
yang dapat terjadi, yaitu kelelahan Koperasi Kabupaten Jepara pada
umum dan kelelahan otot. tahun 2008, jumlah industri pada
Kelelahan otot dapat ditandai tahun 2007 meningkat menjadi
dengan rasa pegal-pegal dan jika 3.710.6 Peningkatan tersebut diikuti
diabaikan dan terjadi secara terus- dengan peningkatan risiko pula,
menerus tanpa pemulihan yang khususnya risiko bagi pekerja mebel.
cukup akan menciderai sistem PT. X merupakan perusahaan
rangka, atau yang sering disebut milik asing yang bergerak di sektor
dengan Musculoskeletal Disorders industri mebel berbahan kayu dan
(MSDs). berlokasi di Kota Jepara. Proses
Banyak data yang menyebutkan produksinya meliputi mengolah hasil
bahwa MSDs adalah salah satu mebel yang didapatkan dari para
faktor risiko dari postur kerja yang pengrajin lokal menjadi furniture siap
salah. Misalnya, penelitian pada jual. Jumlah pekerja yang dimiliki PT.
penjahit di Iran yang menderita nyeri X berjumlah 850 pekerja, lebih dari
punggung bawah, arthosis lutut dan 500 pekerja diantaranya bekerja
gangguan muskuloskeletal pada bagian produksi. Pekerjaan
disebabkan oleh postur yang buruk.1 yang dilakukan meliputi pengolahan
Penelitian lain pada pekerja furniture mebel hampir jadi, mulai dari
di Kendari juga menyebutkan bahwa service, pemberian obat,
ada hubungan antara postur kerja pengamplasan, pengecatan, veneer,
dengan kejadian Low Back Pain wax and glaze, service, dan
(LBP).2 pengepakkan hingga menjadi produk
Data National Safety Council siap jual. Bagian pengamplasan
melaporkan bahwa sakit akibat kerja sendiri memiliki pekerja paling
yang frekuensi kejadiannya paling banyak jika dibandingkan dengan
tinggi adalah sakit atau nyeri pada bagian lain, yaitu sebesar 139
punggung yaitu 22% dari 1.700.000 pekerja.
kasus.3 Sementara, Peneliti telah melakukan
menurutMeliawan dalam Diagnosis pengamatan secara langsung,
dan Tatalaksana Kegawat Daruratan didapatkan ada beberapa pekerja
Tulang Belakang, di Indonesia yang melakukan pekerjaannya
walaupun data epidemiologik dengan postur kerja yang janggal.
mengenai nyeri punggung bagian Khususnya pada bagian
bawah belum ada namun pengamplasan, pekerja butuh
diperkirakan 40% penduduk Jawa

36
JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT (e-Journal)

Volume 5, Nomor 1, Januari 2017 (ISSN: 2356-3346)

http://ejournal-s1.undip.ac.id/index.php/jkm

menyesuaikan posisinya dengan lain diluar responden, dan dari


objek pekerjaannya sehingga sering instansi terkait (Dinas Sosial Tenaga
ditemui pekerja dengan posisi kerja Kerja dan Transmigrasi Kabupaten
yang janggal, seperti menunduk, Jepara), serta referensi-referensi
membungkuk, dan lain-lain. lain.
Ada 154 dari 659 pekerja Analisis data dilakukan
yang diperiksa kesehatannya dengan 2 jenis analisis. Analisis
memiliki keluhan nyeri punggung univariat dilakukan untuk
dan pinggang. Keluhan yang dialami mendeskripsikan masing-masing
seperti pegal-pegal di badan, nyeri variabel dengan tabel ditribusi
punggung, dan nyeri pinggang. frekuensi. Analisis bivariat
Sedangkan kelelahan otot ditandai menggunakan uji Korelasi Product
antara lain oleh tremor atau rasa Moment Pearson dan level of
nyeri yang terdapat pada otot.11 significant (α) 5% untuk mengetahui
Keluhan yang dialami oleh sebagian hubungan antara postur kerja dan
pekerja di PT. X merupakan indikasi kelelahan otot punggung. Apabila ρ
atau gejala yang timbul karena value> 0,05 maka tidak ada
kelelahan, khususnya kelelahan otot. hubungan antara variabel terikat dan
variabel bebas (H0 diterima), apabila
METODE PENELITIAN ρ value ≤ 0,05 maka ada hubungan
Penelitian menggunakan antara variabel terikat dan variabel
jenis penelitian eksplanatory bebas (H0 ditolak).
researchdengan pendekatan cross
sectional. Populasi dalam penelitian HASIL DAN PEMBAHASAN
ini adalah 139 pekerja teknik 1. Analisis Univariat
sampling yang digunakanadalah a. Usia
teknik proportional purposive Tabel 1. Hasil Univariat Usia
sampling dan menggunakan
kriteria inkulisi, diantaranya: Responden Uji Univariat
a. Bersedia menjadi responden Unit Mean Median Modus
b. Berjenis kelamin wanita Alami 33,9 33,5 30
c. Tidak memiliki cidera fisik Sanding 45,94 48 44
atau mengalami Low Back Dempul 38,19 37,5 36
Pain Pengamplasan 39,14 38 46
Sehingga didapatkan jumlah Responden Bagian
sampel minimal 50 orang, dimana 18 Pengamplasan PT. X
responden unit amplas alami, 16 Kekuatan otot pada manusia,
responden unit amplas dempul, dan baik laki-laki maupun perempuan,
16 responden unit amplas sanding. akan mencapai puncak pada umur
Data primer diperoleh melalui 25-35 tahun dan akan semakin
pengukuran postur kerja menurun setelah melewati umur 35
menggunakan QEC yang berisi tahun. Usia yang meningkat akan
lembar observasi dan lembar diikuti dengan proses degradasi dari
kuesioner, pengukuran kelelahan organ sehingga kemampuan organ
otot punggung dilihat berdasarkan menurun dantenaga kerja akan
kekuatan otot punggungnya semakin mudah mengalami
menggunakan back dynamometer. kelelahan otot.3
Data sekunder didapatkan melalui
studi pustaka dari buku, jurnal,
internet, wawancara dengan pihak

37
JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT (e-Journal)

Volume 5, Nomor 1, Januari 2017 (ISSN: 2356-3346)

http://ejournal-s1.undip.ac.id/index.php/jkm

b. Masa Kerja sangat tinggi (≥70%), tinggi (50-


Tabel 2. Hasil Univariat Masa 69%), sedang (40-49%), dan
Kerja Responden rendah (<40%).
Bagaian d. Kelelahan Otot Punggung
Pengamplasan PT. X Tabel 4. Hasil Univariat
Responden Uji Univariat Kelelahan Otot
Unit Mean Median Modus Punggung Responden
Alami 6.08 2 3 Bagian Pengamplasan
Sanding 13.31 15 15 PT.X
Dempul 5.69 4.5
Responden
3
Uji Univariat
Pengamplasan 8.27 5 3 Unit Mean Median Modus
Responden dengan masa 46.3
Alami 35.5 lbs 31 lbs
kerja dengan sikap kerja duduk lbs
lebih dari 5 tahun mempunyai 41.13
Sanding 36 lbs 25 lbs
risiko lebih tinggi terpapar NPB lbs
(Nyeri Punggung Bawah). Hal ini 59.31
Dempul 55 lbs 55 lbs
dikarenakan pembebanan tulang lbs
belakang dalam waktu lama 48.8
Pengamplasan 50 lbs 31 lbs
mengakibatkan rongga diskus lbs
menyempit secara permanen dan Otot yang lelah ditunjukkan
juga mengakibatkan degenerasi oleh kekuatannya yang kurang,
tulang belakang yang akan sehingga waktu laten kontraksi
menyebabkan LBP (Low Back dan melemas menjadi lebih
Pain).7 panjang, kordinasi berkurang,
c. Postur Kerja serta otot gemetar (tremor).9
Tabel 3. Hasil Univariat Postur Salah satu cara untuk
Kerja Responden mengukur kekuatan otot
Bagian Pengamplasan punggung adalah dengan
PT.X meggunakan back dynamometer.
Semakin kecil kekuatan otot
Responden Uji Univariat punggung yang didapatkan dari
Unit Mean Median Modus hasil pengukuran maka
Alami 71.78 71 69 semakin tinggi tingkat kelelahan
seseorang.
Sanding 71,5 73 73 2. Analisis Bivariat
Dempul 69.69 69 69 Tabel 5. Rekapitulasi
Pengamplasan 71.02 70 69 Hasil Analisis Bivariat
Sikap kerja yang tidak Responden Bagian
ergonomis dapat menyebabkan Pengamplasan PT. X
kelelahan dan cedera pada otot.3
QEC menilai gangguan risiko yang
terjadi pada bagian punggung, bahu/
lengan, pergelangan tangan, dan
leher.8
semakin besar skor exposure
yang didapatkan semakin besar
pula risiko mengalami kelelahan
otot punggungnya. Ada 4 kategori
yang dibedakan menurut tingkat
paparan postur kerja yang, yaitu:

38
JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT (e-Journal)

Volume 5, Nomor 1, Januari 2017 (ISSN: 2356-3346)


Kelelahan Otot Punggung
Variabel http://ejournal-s1.undip.ac.id/index.php/jkm
Uji pvalue r ρ

Usia Product Moment Pearson 0.013 -0.348 -

Masa Kerja Rank Spearman 0.009 - -0.367

Postur Kerja Product Moment Pearson 0.029 -0.309 -

39
JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT (e-Journal)

Volume 5, Nomor 1, Januari 2017 (ISSN: 2356-3346)

http://ejournal-s1.undip.ac.id/index.php/jkm

Tabel 6. Crosstab Antara Variabel Postur Kerja dengan Variabel Kelelahan


Otot Punggung pada Responden Bagian Pengamplasan PT. X

Kelelahan Otot Punggung


Total
Eksposur
Sangat Tinggi Tinggi Sedang Rendah
Postur Kerja
F % F % F % F % F %

Sangat Tinggi 14 51.9 1 3.7 10 37 2 7.4 27 100

Tinggi 6 26.1 5 21.7 11 47.8 1 4.3 23 100

40
JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT (e-Journal)

Volume 5, Nomor 1, Januari 2017 (ISSN: 2356-3346)

http://ejournal-s1.undip.ac.id/index.php/jkm

a. Hubungan antara Usia melakukan postur janggal dalam


dengan Kelelahan Otot bekerja, seperti misalnya
Punggung membungkuk dan memutar
Berdasarkan tabel 5, uji punggung agar dapat melihat
statistik antara variabel usia objek dengan lebih jelas. Postur
dengan variabel kelelahan otot janggal ini juga terjadi dalam waktu
punggung menggunakan uji yang cukup lama, yaitu 8 jam
correlate bivariate Pearson dan perhari dengan sistem kerja 4 jam
diperoleh nilai p=0,013 (p>0,05) kerja 1 jam istirahat lalu dilanjutkan
yang artinya ada hubungan antara lagi bekerja 4 jam sisanya. Ini
usia dengan kelelahan otot berarti pekerja bagian
punggung. Sementara nilai r pengamplasan melakukan
sebesar -0,348 menunjukkan pekerjaan statis dalam durasi yang
kekuatan hubungan yang dimiliki lama, yaitu > 2 jam.
lemah. Pekerja melakukan
b. Hubungan antara Masa Kerja pekerjaan mengamplas dalam
dengan Kelelahan Otot durasi yang lama dan secara
Punggung kontinyu ditambah dengan postur-
Berdasarkan tabel 5, uji postur janggal seperti
statistik antara variabel masa kerja membungkuk dan memutar
dengan variabel kelelahan otot punggung, maka panjang otot
punggung menggunakan uji akan menjadi tetap. Otot-otot yang
correlate bivariate Rank berkontraksi statis tidak mendapat
Spearman. Dari uji tersebut glukosa dan oksigen dari darah,
diperoleh nilai p=0,009 (p>0,05) sehingga harus
yang ada hubungan antara masa menggunakan cadangan-
kerja dengan kelelahan otot cadangan yang ada. Sisa-sisa
punggung. Nilai ρ sebesar -0,367 metabolisme tidak dapat diangkut
menunjukkan kekuatan hubungan keluar melainkan tertimbun.
lemah. Kemampuan berkontraksi
c. Hubungan antara Postur (memendek/ kerja berat &
Kerja dengan Kelelahan Otot memanjang/ kerja ringan) yang
Punggung mengakibatkan terjadinya
Berdasarkan tabel 5, uji 11
kelelahan otot.
statistik antara antara variabel Keadaan ini didukung pula
postur kerja dengan variabel dengan stasiun pekerja yang tidak
kelelahan otot punggung standar. Beberapa pekerja
menggunakan uji correlate menggunakan kaleng cat untuk
bivariatePearson. Diperoleh nilai dudukan yang tidak sesuai dengan
p=0,029 (p>0,05) yang artinya ada antropometri tubuh pekerja
hubungan antara postur kerja sehingga menekan dapat
dengan kelelahan otot punggung. pembuluh darah dan akan
Sementara nilai r sebesar -0,309 menyebabkan terhambatnya aliran
menunjukkan kekuatan hubungan darah sehingga secara tidak
yang lemah. langsung juga akan menghambat
Jenis pekerjaan seperti transfer energi dan oksigen yang
mengamplas menurut hampir dibutuhkan.
seluruh responden membutuhkan
ketelitian sehingga menyebabkan
pekerja secara tidak sadar

41
JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT (e-Journal)

Volume 5, Nomor 1, Januari 2017 (ISSN: 2356-3346)

http://ejournal-s1.undip.ac.id/index.php/jkm

KESIMPULAN dan risiko postur kerja


1. Sistem kerja di PT. X adalah tinggi sebanyak 23
bekerja dari senin-jumat responden dengan rata-rata
dengan jam kerja delapan skor postur 71, dan median
jam per hari, dengan sistem 70.
empat jam bekerja, satu jam 4. Sebagian besar responden
istirahat, empat jam bekerja. mengalami tingkat kelelahan
PT. X tidak menerapkan otot punggung sedang (21
sistem shift dan lembur responden) dan
dalam sistem kerjanya. Sifat sangat tinggi (20
pekerjaan pada bagian responden) dengan rata-
pengamplasanadalah rata 48,8 lbs, dan median
pekerjaan statis dan banyak 50 lbs.
responden yang melakukan 5. Ada hubungan antara
postur janggal saat sedang postur keja dengan
mengamplas seperti kelelahan otot punggung
membungkuk dan memutar pada pekerja bagian
punggung. pengamplasan PT. X,
2. Karakteristik Responden Jepara.
PT. X, Jepara berisiko
berdasarkan usianya (rata- SARAN
rata 39 tahun, median 38 1. Bagi Tenaga Kerja
tahun) dan kurang berisiko a. Menghindari gerakan tiba-
berdasarkan masa kerjanya tiba setelah bekerja dalam
(rata-rata 8,3 tahun, median waktu yang lama.
5 tahun). Dimana b. Membiasakan aktivitas fisik
responden unit amplas atau olahraga ringan seperti
alami memiliki usia (rata- berenang atau jalan kaki
rata 33,9 tahun, median untuk melatih kekuatan otot.
33,5 tahun) dan masa kerja 2. Bagi perusahaan
(rata-rata 6,1 tahun, median a. Memberipelatihan
3 tahun) kurang berisiko, mengenaipengenalan
responden postur kerjakepada
unit amplas sanding beberapa pekerja (misalnya
memiliki usia (rata-rata 45,9 pekerja bagian K3) agar
tahun, median 48 tahun) dapatmenambah
dan masa kerja (rata-rata pengetahuan pekerja
13,3 tahun, median 15 mengenai postur kerja yang
tahun) berisiko, dan baik dan diharapkan dapat
responden unit amplas mengkomunikasikan
dempul memiliki usia (rata- informasi dari pelatihan
rata 38,2 tahun, median tersebut secara langsung
37,5 tahun) berisiko dan atau tidak langsung melalui
masa kerja (rata-rata 5,7 media seperti display dan
tahun, median 4,5 tahun) sebagainya yang difasilitasi
kurang berisiko oleh perusahaan.
3. Responden memiliki risiko b. Melarang pekerja duduk di
postur kerja sangat tinggi kaleng cat saat sedang
sebanyak 27 responden bekerja atau membunyikan
bel atau memberi tanda

42
JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT (e-Journal)

Volume 5, Nomor 1, Januari 2017 (ISSN: 2356-3346)

http://ejournal-s1.undip.ac.id/index.php/jkm

setiap 2 jam sekali sebagai Preparation of The Study and


pengingat bagi pekerja untuk Methodology Guidelines
melakukan stretching. c. CTRAD. CTRAD. Bogor,
Perusahaan menyediakan Indonesia; 2007. 29 p.
waktu selama kurang lebih 5- 6. Dinas Perindustrian
10 menituntuk pekerja Perdagangan dan Koperasi
melakukan stretchingsecara Kabupaten Jepara. Industri
bersama yang akan Kayu di Jepara. Jepara; 2008.
dicontohkan oleh pekerja K3 7. Pratiwi D. Beberapa Faktor
yang telah mendapat yang Berpengaruh Terhadap
pelatihan di masing-masing Keluhan Nyeri Punggung
unit. Bawah pada Penjual Jamu
d. Memberi sandaran pada Gendong. J Promosi Kesehat
tempat duduk pekerja Indones. 2009;4:63–7.
sebagai langkah awal 8. Stanton AE. Handbook of
perbaikan stasiun kerja. Human Factors and
e. Mengevaluasi postur dan Ergonomics Methods. USA:
kelelahan setelah dilakukan CRC Press; 2005.
perubahan di tempat kerja. 9. Soedirman SP. Kesehatan
3. Bagi Peneliti Lain Kerja Dalam Perspektif
Melakukan penelitian terkait Hiperkes dan Keselamatan
dengan antropometri dan Kerja. Jakarta: Erlangga; 2014.
perancangan stasiun kerja bagi 10. Waters TR, Bhattacharya A.
pekerja bagian pengamplasan PT. PhysiologicalAspectsof
X, Jepara. Neuromuscular Function.
Occupation. Bhattacharya, A.
DAFTAR PUSTAKA & McGlothlin, J. D. Marcel
1. Aghili, Moslemi MM, et al. Dekker Inc; 1996.
Evaluation of Musculoskeletal
Disorders in Sewing Machine
Operators of a Shoe
Manufacturing Factory in Iran.
2012;62
2. Widjaya MP, Aswar H,
Pala’langan S. Faktor-Faktor
yang Berhubungan dengan
Kejadian Low Back Pain pada
Pekerja Furniture. 2014;
3. Tarwaka D. Ergonomi untuk
Keselamatan, Kesehatan
Kerja dan Produktivitas.
Jakarta: Uniba Press; 2004.
4. Meliawan S. Diagnosis dan
Tatalaksana HNP Lumbal.
Diagnosis dan Tatalaksana
Kegawat Daruratan Tulang
Belakang. Jakarta; 2009;62–
87.
5. Roda J-M CP. The Case of
TheJeparaNetwork:

43