Sunteți pe pagina 1din 9

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Tekanan darah tinggi (hipertensi) adalah suatu peningkatan tekanan darah di


dalam Arteri. Secara umum, hipertensi merupakan suatu keadaan tanpa gejala, dimana
tekanan yang abnormal tinggi didalam arteri menyebabkan peningkatannya resiko
terhadap stroke, aneurisma, gagal jantung, serangan jantung dan kerusakann ginjal.
Sedangkan menurut (Triyanto,2014) Hipertensi adalah suatu keadaan dimana
seseorang mengalami peningkatan tekanan darah diatas normal yang mengakibatkan
peningkatan angka kesakitan (morbiditas) dan angka kematian / mortalitas. Tekanan
darah 140/90 mmHg didasarkan pada dua fase dalam setiap denyut jantung yaitu fase
sistolik 140 menunjukan fase darah yang sedang dipompa oleh jantung dan fase
diastolik 90 menunjukan fase darah yang kembali ke jantung.

Berdasarkan penyebabnya, hipertensi dibagi dalam dua golongan, yaitu


hipertensi primer dan hipertensi sekunder. Hipertensi primer adalah suatu kondisi yang
jauh lebih sering dan meliputi 95% dari hipertensi. Hipertensi ini disebabkan oleh
berbagai faktor, yaitu beberapa faktor yang efek-efek kombinasinya menyebabkan
hipertensi. Hipertensi sekunder, yang meliputi 5% dari hipertensi. Disebabkan oleh
suatu kelainan spesifik pada salah satu organ atau sistem tubuh (Noviyanti,2015).

Data Joint National Committee on Prevention Detection, Evaluation, ans


Treatment on High Blood Pressure VII ” mengungkapkan, penderita hipertensi di
seluruh dunia mendekati angka 1 miliar, artinya 1 dari 4 orang dewasa menderita
hipertensi. Lebih dari separuh atau sekitar 600 juta penderita, tersebar di negara
berkembang, termasuk Indonesia. Angka ini menunjukkan, hipertensi merupakan
masalah seluruh negara di dunia. Data WHO menyebutkan, dari setengah penderita
hipertensi yang diketahui hanya seperempat (25%) yang mendapat pengobatan.
Sementara hipertensi yang diobati dengan baik hanya 12,5 persen (sutomo,2009 ).

Salah satu resiko terjadinya hipertensi adalah penurunan curah jantung.


Penurunan curah jantung didefinisikan sebagai suatu keadaan dimana pompa darah oleh
jantung tidak adekuat untuk mencapai kebutuhan metabolisme tubuh (Wilkinson &
Ahern, 2012).
B. Tujuan Penulisan
1. Tujuan Utama
Untuk mengetahui asuhan keperawatan kepada pasien dengan hipertensi
2. Tujuan Khusus
- Untuk mengetahui tata laksana dari hipertensi
- Untuk mengetahui diagnosa utama dari masalah pasien gangguan hipertensi
- Untuk mengetahui diagnosa yang mungkin muncul dari masalah pasien
gangguan hipertensi
- Untuk mengetahui penanganan keperawatan dari masalah pasien hipertensi
BAB II

TINJAUAN TEORI

A. Definisi

Menurut NANDA (2018-2020) menjelaskan bahwa penurunan curah jantung


adalah ketidakadekuatan volume darah yang dipompa oleh jantung untuk memenuhi
kebutuhan metabolik tubuh (Herdman, et al., 2018).

Curah jantung tergantung dari hubungan yang terdapat antara dua buah
ventrikel yaitu frekuensi jantung dan curah sekuncup. Curah jantung adalah jumlah
darah yang dipompa oleh ventrikel tiap menit. Frekuensi jantung sebagian besar
dibawah pengaturan denyut intrinsik antara saraf otonom serabut parasimpatik dan saraf
simpatik mempengaruhi kecepatan dan frekuensi denyut jantung atau kontraksi impuls.
Pada jantung normal maka pengaruh sistem saraf parasimpatik tampak dominan dalam
mempertahankan kecepatan denyut jantung tetapi jantung yang abnormal maka
pengaruh sistem saraf simpatik yang dominan dalam mempertahankan kompensasi
jantung. Besar curah jantung seseorang tidak selalu sama tergantung pada keaktifan
tubuhnya. Curah jantung akan meningkat pada waktu kerja berat, stres, peningkatan
suhu lingkungan, sedangkanmenurun pada waktu tidur (Syaifuddin, 2006).

B. Etiologi
Menurut NANDA (2018-2020) Etiologi pada penurunan curah jantung maih
dapam pengebangan sehingga belum ada faktor penyebab pasti dari masalah
keperawatan tersebut.
Konsidisi terkait dari diagnosa keperawatan penurunan curah jantung diantaranya
adalah :
1. Perubahan afterload
2. Perubahan kontraktilitas
3. Perubahan frekuaensi jantung
4. Perubahan irama jantung
5. Perubahan preload
6. Perubahan volume sekuncup

Etiologi dari penurunan curah jantung pada gagal jantung kongestif

menurut Tim Pokja SDKI DPP PPNI (2017), adalah sebagai berikut :
a. Perubahan irama jantung

b. Perubahan frekuensi jantung

c. Perubahan kontraktilitas

d. Perubahan preload

e. Perubahan afterload

C. Batasan Karakteristik
1. perubahan frekuensi/ irama jantung
a. Bradikardia
b. Perubahan EKG
c. Palpitasi jantung
d. Takikardia
2. Perubahan preload
a. Penurunan tekanan vena sentral (CVP)
b. Penurunan pulmonary artery wedge pressure (PAWP)
c. Edema
d. Keletihan
e. Murmur jantung
f. Peningkatan CVP
g. Peningkatan pulmonary artery wedge pressure (PAWP)
h. Distensi vena jugularis
i. Peningkatan berat badan
3. Perubahan afterload
a. Perubahan pada kulit abnormal
b. Perubahan tekanan darah
c. Kulit lembap
d. Penurunan nadi perifer
e. Penurunan resistensi vaskuler paru
f. Penurunan resistensi vaskuler sistemik
g. Dipsnea
h. Peningkatan PVR
i. Peningkatan SVR
j. Oliguria
k. Pengisian kapiler memanjang
4. Perubahan kontraktilitas
a. Bunyi napas tambahan
b. Batuk
c. Penurunan indeks jantung
d. Penurunan fraksi injeksi
e. Penurunan left venticular stroke work index (LVSWI)
f. Penuruna stroke volume index (SVI)
g. Dispnea paroksismal nokturnal
h. Ada bunyi S3
i. Ada bunyi S4
5. Perilaku/ emosi
a. Ansietas
b. Gelisah
D. Patifisiologi
Tekanan darah yang tinggi mengakibatkan aliran darah dalam tubuh memiliki
tekanan yang besar pula, baik dari jantung ke organ maupun dari organ ke jantung. dari
peningkatan tekanan sirkulasi darah tersebut maka mengakibatkan beban kerja jantung
semakin meningkat. Dari peningkatan kerja jantung tersebut akan berpengaruh pada
otot jantung yang membesar sehingga terjadilah hipertrofi ventrikel kiri dari efek kerja
jantung yang semakin meningkat tadi. dari kejadian ini maka akan menimbulkan
penurunan curah jantung.
E. Manifestasi Klinis
Menurut (Tim Pokja SDKI DPP PPNI, 2017) manifestasi klinis dari penurunan
curah jantung yaitu :
a. Perubahan irama jantung
Pasien mengeluh mengalami palpitasi (jantung berdebar), bradikardia/ takikardia
dan terlihat gambaran aritmia pada pemeriksaan EKG.
b. Perubahan preload
Pasien mengeluh lelah, terdapat edema, distensi vena jugularis dan pembersaran
organ hati.
c. Perubahan afterload
Pasien mengalami dyspnea (sesak nafas), tekanan darah menurun, capillary refill
time > 3 detik, produksi urine berkurang (oliguria) dan sianosis.
d. Perubahan kontraktilitas
Pasien mengalami paroxysmal nocturnal dyspnea (PND), kesulitan bernafas dalam
posisi telentang (ortopnea), batuk, terdengar suara jantung (S3 dan S4) dan fraksi
ejeksi menurun.
F. Asuhan Keperawatan Hipertensi dengan Penurunan Curah Jantung

1. Pengkajian

Menurut (Herdman & Heather, 2015) pengkajian merupakan tahap pertama yang
paling penting dalam proses keperawatan. Pengkajian dibedakan menjadi dua jenis
yaitu pengkajian skrining dan pengkajian mendalam. Kedua pengkajian ini
membutuhkan pengumpulan data dengan tujuan yang berbeda. Sedangkan dalam hal
pengkajian pada pasien gagal jantung kongestif menggunakan pengkajian mendalam
mengenai penurunan curah jantung, dengan kategori fisiologis dan sub kategori
sirkulasi. Pengkajian dilakukan sesuai dengan tanda mayor penurunan curah jantung
yaitu dilihat dari data subjektifnya yaitu pasien mengalami perubahan irama jantung
berupa palpitasi, perubahan preload berupa lelah, perubahan afterload berupa
dyspnea, perubahan kontraktilitas berupa paroxysmal nocturnal dyspnea (PND),
ortopnea, batuk. Dilihat dari data objektif yaitu pasien mengalami perubahan irama
jantung berupa bradikardia atau takikardia, gambaran EKG aritmia atau gangguan
konduksi, perubahan afterload berupa edema, distensi vena jugularis, Central
Venous Pressure (CVP), meningkat atau menurun, hepatomegali, perubahan
afterload berupa tekanan darah meningkat, nadi perifer teraba lemah, capillary refill
ime >3 detik, oliguria, warna kulit pucat dan atau sianosis, perubahan kontraktilitas
berupa terdengar suara jantung S3 atau S4 dan Ejection Fraction (EF) (Tim Pokja
SDKI DPP PPNI, 2017).

2. Diagnosa keperawatan

Diagnosis keperawatan adalah suatu penilaian kinis mengenai respons klien


terhadap masalah kesehatan atau proses kehidupan yang dialaminya baik yang
berlangsung aktual maupun potensial (Tim Pokja SDKI DPP PPNI, 2017).

Diagnosa keperawatan yang dapat ditegakkan pada hipertensi adalah penurunan


curah jantung. Penurunan curah jantung adalah ketidakadekuatan jantung memompa
darah untuk memenuhi kebutuhan metabolisme tubuh (Tim Pokja SDKI DPP PPNI,
2017).
3. Intervensi

Setelah merumuskan diagnosa dilanjutkan dengan intervensi dan aktivitas


keperawatan untuk mengurangi menghilangkan serta mencegah masalah
keperawatan klien. Tahapan ini disebut perencanaan keperawatan yang meliputi
penentuan prioritas diagnose keperawatan, menetapkan sasaran dan tujuan,
menetapkan kriteria evaluasi serta merumuskan intervensi serta aktivitas
keperawatan. Menurut Nurarif & Kusuma (2015) intervensi untuk pasien dengan
penurunan curah jantung adalah sebagai berikut :

a. Masalah keperawatan : penurunan curah jantung

b. Tujuan keperawatan yaitu setelah dilakukan asuhan keperawatan selama 3 kali 24


jam dengan Nursing Outcome Classification (NOC)(Moorhead, Johnson, Maas,
& Swanson, 2016).

c. Intervensi yang dilakukan untuk mengatasi gangguan pertukaran gas berdasarkan


Nursing Interventions Classification (NIC) Rencana tindakan yang diberikan
pada penurunan curah jantung antara lain :

1) Perawatan Jantung

a) Instruksikan pasien tentang pentingnya untuk segera melaporkan bila merasakan


nyeri dada
b) Evaluasi episode nyeri dada (intensitas, lokasi, radiasi, durasi dan faktor yang
memicu serta meringankan nyeri dada)
c) Monitor EKG adakah perubahan segmen ST, sebagaimana mestinya
d) Lakukan penilaian komprehensif pada sirkulasi perifer (misalnya cek nadi perifer,
edema, pengisian ulang kapiler, warna dan suhu ekstrimitas) secara rutin sesuai
kebijakan agen
e) Monitor tanda-tanda vital secara rutin
f) Monitor disritmia jantung
g) Dokumentasikan disritmia jantung
h) Catat tanda dan gejala penurunan curah jantung
i) Monitor status pernafasan terkait dengan adanya gejala gagal jantung
j) Monitor abdomen jika terdapat indikasi penurunan perfusi
k) Monitor keseimbangan cairan
l) Monitor peacemakaer sebagaimana mestinya
m) Evaluasi perubahan tekanan darah
n) Evaluasi respon pasien terhadap disritmia
o) Kolaborasi dalam pemberian terapi aritmia sesuai kebutuhan
p) Monitor respon pasien terhadap obat antiaritmia
q) Instruksikan pasien tentang pembatasan aktivitas
r) Susun waktu latihan dan istirahat untuk mencegah kelelahan
s) Monitor toleransi aktivitas pasien
t) Monitor sesak nafas, kelelahan, takipnea dan orthopne
4. Implementasi

Menurut Kozier, Erb, Berman, & Snyder (2010), implementasi keperawatan


merupakan sebuah fase dimana perawat melaksanakan rencana atau intervensi yang
sudah dilaksanakan sebelumnya. Berdasarkan terminology NIC, implementasi terdiri
atas melakukan dan mendokumentasikan yang merupakan tindakan khusus yang
digunakan untuk melaksanakan intervensi. Implementasi keperawatan membutuhkan
fleksibilitas dan kreativitas perawat. Sebelum melakukan suatu tindakan, perawat harus
mengetahui alasan mengapa tindakan tersebut dilakukan. Beberapa hal yang harus
diperhatikan diantaranya tindakan keperawatan yang dilakukan harus sesuai dengan
tindakan yang sudah direncanakan, dilakukan dengan cara yang tepat, aman, serta
sesuai dengan kondisi klien, selalui dievaluasi mengenai keefektifan dan selalu
mendokumentasikan menurut urutan waktu. Aktivitas yang dilakukan pada tahap
implementasi dimulai dari pengkajian lanjutan, membuat prioritas, menghitung alokasi
tenaga, memulai intervensi keperawatan, dan mendokumentasikan tindakan dan respon
klien terhadap tindakan yang telah dilakukan (Debora, 2012).

5. Evaluasi

Evaluasi keperawatan menurut Tarwoto & Wartonah (2015), merupakan


tindakan akhir dalam proses keperawatan. Evaluasi dapat berupa evaluasi struktur,
proses dan hasil. Evaluasi terdiri dari evaluasi formatif yaitu menghasilkan umpan balik
selama program berlangsung.
DAFTAR PUSTAKA

Triyanto, Endang. 2014. Pelayanan Keperawatan Bagi Penderita Hipertensi Secara


Terpadu. Yogyakarta: Graha Ilmu

Noviyanti. (2015). Hipertensi : Kenali,Cegah, dan Obati. Yogyakarta : Notebook

Sutomo, Budi. 2009. Diet DASH Natrium untuk Penderita Hipertensi. Diakses
Tanggal 06 Oktober 2019

Wilkinson, J.M., & Ahern N.R.,(2012). Buku Saku Diagnosis Keperawatan Diagnosa
NANDA Intervensi NIC Kriteria Hasil NOC Edisi kesembilan. Jakarta:
EGC.

Syaifuddin, 2006, Anatomi Fisiologi untuk Mahasiswa Keperawatan, Edisi 3, Editor


Monica Ester, Jakarta : EGC

Tim Pokja SDKI DPP PPNI. (2017). Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia
Definisi dan Indikator Diagnostik. Jakarta: Dewan Pengurus PPNI

Herdman, T . H., & Kamitsuru, S. (2015). Diagnosis KeperawatanDefinisi &


Klasifikasi2015-2017 Edisi 10. Jakarta: EGC.

Nurarif .A.H. dan Kusuma. H. (2015). APLIKASI Asuhan Keperawatan Berdasarkan


Diagnosa Medis & NANDA NIC-NOC. Jogjakarta: MediAction.

Debora, Oda (2012). Proses Keperawatan dan Pemeriksaan Fisik. Jakarta : Salemba
Medika

Tarwoto, & Wartonah. (2015). Kebutuhan Dasar Manusia dan Proses Keperawatan.
Jakarta

Herman, T. Heater. 2018. NANDA-1 Diagnosis Keperawatan: Definisi dan Klasifikasi


2018-2020. Jakaera:EGC