Sunteți pe pagina 1din 10

PENINGKATAN HASIL BELAJAR PKN MELALUI MODEL

PEMBELAJARAN KOOPERATIF JIGSAW


PADA KELAS V SD
BAWAMAI

ARTIKEL PENELITIAN

Oleh:
NYEMAS RINI
NIM F033208060

PROGRAM STUDI S1 PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR


JURUSAN PENDIDIKAN DASAR
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS TANJUNGPURA
PONTIANAK
2018
PENINGKATAN HASIL BELAJAR PKN MELALUI MODEL
PEMBELAJARAN KOOPERATIF JIGSAW
PADA KELAS V SD
BAWAMAI

Nyemas Rini, Sri Utami, Rosnita


Program Studi Pendidikan PGSD FKIP Untan Pontianak
Email :lnyemasrini@yahoo.com

Abstract
This research is based on the situation in the field that there is a problem faced by
teachers in the classroom in the education of civic education. So that, the impact on the
learning outcomes of students who are still low. the common problem in this research is
"whether by using cooperative learning method of jigsaw type can improve the result of
student learning of fifth grade in elementary school bawamai. the purpose of this study is
to describe the improvement of students' learning outcomes in civic education learning in
five elementary schools bawamai Pontianak.
This research uses descriptive method that is problem solving procedure by describing
the state of the object of research at the present moment based on the facts that appear.
the research procedure consists of four stages of planning, implementation, observation,
and reflection. techniques and data collection tools such as direct observation,
measurement, indirect communication, and documentary. Data collection tools are:
observation sheets, test instruments, documents in the form of student data and learning
outcomes, and student satisfaction questionnaire.
In conclusion, based on data of student learning outcomes after applied cooperative
learning model type jigsaw learning, student learning outcomes after applied learning
model of cooperative learning type jigsaw, student learning outcomes have increased
from cycle one to cycle 2. in cycle one success rate achieved 65, 00%. on a two-stage
success rate achieved at 82.00%.

Keyword :Learning Outcomes, Civic Learning, Cooperative Learning Type Jigsaw.

PENDAHULUAN Salah satu masalah yang dihadapi dunia


Pendidikan merupakan instrumen pendidikan di Indonesia adalah masih
strategis untuk menyiapkan dan rendahnya mutu pendidikan pada setiap
meningkatkan sumber daya manusia (SDM) jenjang dan satuan pendidikan. Rendahnya
yang berkualitas dikemudian hari, yang mutu dan relevansi pendidikan tersebut
berfungsi sebagai investasi masa depan dipengaruhi sejumlah faktor yang belum
suatu bangsa.Pendidikan juga mempunyai mampu menciptakan proses pembelajaran
peranan penting dalam mengembangkan yang berkualitas sehingga mutu pendidikan
aspek fisik, intelektual, religius, moral, belum dapat dimonitor secara objektif dan
sosial, emosi, pengetahuan, dan teratur. Adapun hasil penilaian pendidikan
pengalaman. Sehingga melalui pendidikan belum berfungsi sebagai sarana umpan balik
diharapkan dapat menghasilkan berbagai untuk penyempurnaan proses dan hasil
inovasi, baik dalam bidang pemerintahan, pendidikan. Distribusi guru yang tidak merata
pembangunan nasional, maupun didalam serta daya pendayagunaan yang belum efisien,
berbagai bidang kehidupan lainnya. hasil kinerja guru yang belum optimal, serta
profesionalisme guru yang masih rendah yang
hanya berorientasi pada penguasaan teori, minat dan bakat serta sesuai dengan taraf
hafalan, dan selera guru sehingga meyebabkan perkembangan siswa termasuk memanfaatkan
kemampuan siswa tidak dapat berkembang berbagai sumber dan media pembelajaran
secara optimal dan utuh. Akibatnya proses untuk menjamin efektivitas pembelajaran.
pendidikan menjadi rutin, tidak menarik, dan Dalam pembelajaran yang demikian,
kurang mampu memupuk kreativitas siswa siswa tidak lagi ditempatkan dalam posisi
untuk belajar secara efektif. Konsep mengajar yang pasif sebagai penerima bahan ajaran
yang demikian tuntunannya sangat sederhana, yang diberikan guru, tetapi sebagai subyek
yaitu asal paham informasi yang akan yang aktif melakukan proses berfikir,
diajarkan kepada siswa, maka ia dapat mencari, mengolah, mengurai, menggabung,
dikatakan menjadi seorang guru. Tetapi menyimpulkan, dan menyelesaikan masalah.
menjadi seorang guru bukanlah demikian, Bahan ajar yang dipilih, disusun, dan
mengajar bukan hanya sekedar disajikan kepada siswa oleh guru dengan
menyampaikan materi pelajaran, akan tetapi penuh makna sesuai dengan kebutuhan dan
suatu proses mengubah perilaku siswa sesuai minat siswa serta erat hubungannya dengan
dengan tujuan yang diharapkan. Oleh sebab kenyataan dan kegunaannya dalam kehidupan.
itu dalam proses mengajar diharapkan Dalam proses pembelajaran, khususnya mata
kegiatan yang dapat membimbing siswa agar pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan harus
berkembang sesuai dengan perkembangannya, senantiasa berorientasi pada 4 (empat) pilar
melatih keterampilan motorik maupun pembelajaran yaitu learning to know (belajar
intelektualnya sehingga dapat membentuk untuk tahu), learning to do (belajar untuk
siswa yang memiliki kemampuan inovatif dan melakukan), learning to be (belajar untuk
kreatif. Suryanto dan Hisyam (2000 : 70) menjadi diri sendiri), learning to live together
menyatakan dalam skala mikro proses (belajar bersama dengan orang lain). Dengan
pembelajaran dihampir semua jenjang kata lain Pendidikan Kewarganegaraan
pendidikan hanya memusatkan perhatiannya menuntut terwujudnya pengalaman belajar
pada kemampuan otak kiri peserta didik. yang bersifat utuh memuat belajar kognitif,
Sebaliknya, kemampuan otak kanan kurang belajar nilai dan sikap serta belajar perilaku.
ditumbuh kembangkan secara sistematis. Pendidikan Kewarganegaraan (PKn)
Kondisi itu menyebabkan pendidikan nasional merupakan mata pelajaran dengan visi utama
tidak mampu menghasilkan orang-orang yang sebagai pendidikan demokrasi yang bersifat
mandiri, kreatif, memiiki self awareness, dan multidimensional karena merupakan
orang-orang yang mampu berkomunikasi pendidikan nilai demokrasi, pendidikan moral,
secara baik dengan lingkungan fisik dan sosial pendidikan sosial, dan masalah pendidikan
dalam komunitas kehidupannya. politik. Namun yang paling menonjol adalah
Berdasarkan kondisi di atas khususnya sebagai pendidikan nilai dan moral dalam
SD Bawamai dalam peningkatan hasil belajar proses pembelajaran menuntut terlibatnya
siswa pada pembelajaran PKn kelas V, maka emosional, intelektual, dan sosial dari siswa
gaya belajar dan strategi mengajar guru akan dan guru. Sehingga nilai-nilai itu bukan hanya
turut menentukan pendidikan dan ikut dipahami (bersifat kognitif) tetapi dihayati
mewarnai pembelajaran yang berlangsung (bersifat obyektif) dan dilaksanakan (bersifat
sehingga tercipta kondisi belajar yang perilaku).
kondusif, akrab, dan nyaman dengan kondisi
siswa. Salah satu lembaga pendidikan di
Adapun pengajaran yang baik adalah Indonesia adalah Sekolah Dasar. Pendidikan
pengajaran yang meliputi siswa tentang Sekolah Dasar merupakan bagian dari sistem
bagaimana belajar, bagaimana mengingat, pendidikan nasional yang berperan penting
bagaimana berfikir dan bagaimana dalam usaha mencetak generasi yang
memotivasi diri mereka sendiri. Strategi berkualitas. Pendidikan pada jenjang Sekolah
pembelajaran yang dianggap cocok dengan Dasar dimaksudkan untuk memberikan bekal
kemampuan dasar kepada anak didik berupa Menurut Wina Sanjaya (2006 : 19),
pengetahuan, keterampilan dan sikap sesuai peran guru adalah: “Sebagai sumber belajar,
dengan tingkat perkembangannya, serta fasilitator, pengelola, demonstrator,
mempersiapkan mereka untuk melanjutkan pembimbing, dan evaluator”. Sebagai
pendidikan pada jenjang Sekolah Menengah motivator guru harus mampu membangkitkan
Pertama. motivasi siswa agar aktivitas siswa dalam
Undang-undang No. 20 tahun 2003. proses pembelajaran berhasil dengan baik.
Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana Salah satu cara untuk membangkitkan siswa
untuk mewujudkan suasana belajar dan proses dalam proses pembelajaran adalah dengan
pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengganti model pembelajaran yang selama
mengembangkan potensi dirinya untuk ini tidak diminati lagi oleh siswa, seperti
memiliki, kekuatan spiritual keagamaan, pembelajaran yang dilakukan dengan ceramah
pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, dan tanya-jawab, model pembelajaran ini
ahlak mulia, serta keterampilan yang membuat siswa jenuh dan tidak kreatif
diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa, dan sehingga mengakibatkan hasil belajar
Negara. Kurikulum tingkat satuan pendidikan Pendidikan Kewarganegaraan siswa menjadi
(KTSP) disusun dan di kembangkan rendah.
berdasarkan undang-undang No. 20 tahun Permasalahan pada pembelajaran
2003 tentang sistem pendidikan nasional pasal Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) juga
36 ayat 1.dan 2. Sebagai berikut : terjadi di SD Bawamai Pontianak Kota.
1. Pengembangan kurikulum mengacu pada Permasalahan pembelajaran Pendidikan
standar nasional pendidikan untuk Kewarganegaraan (PKn) ini terlihat dari hasil
wewujudkan tujuan pendidikan nasional. observasi yang dilakukan oleh peneliti pada
2. Kurikulum pada semua jenjang dan jenis tanggal 17 Desember 2016. Berdasarkan hasil
pendidikan dikembangkan dengan prinsip observasi, didapat dokumen berupa data hasil
diversivikasi sesuai dengan satuan belajar siswa kelas VC SD Bawamai
pendidikan, pontensi daerah dan peserta Pontianak Kota .
didik. Mengenai rendahnya hasil belajar
Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) yang
Mata pelajaran Pendidikan diperoleh siswa kelas VC SD Bawamai,
Kewarganegaraan (PKn) merupakan salah disebabkan karena setiap kali berlangsungnya
satu dari beberapa mata pelajaran yang proses pembelajaran Pendidikan
disajikan di Sekolah Dasar. Sesuai dengan Kewarganegaraan (PKn), sebagian besar
Depdiknas (2005 : 33) yang menyatakan siswanya terkesan pasif dan sulit memahami
bahwa, “Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) materi pelajaran yang disajikan.
adalah mata pelajaran yang memfokuskan Berdasarkan data dilapangan seperti
pada pembentukan diri yang beragam dari yang telah dipaparkan di atas, dugaan
segi agama, sosio-kultural, bahasa, usia, suku sementara peneliti terhadap rendahnya hasil
bangsa untuk menjadi warga negara yang belajar Pendidikan Kewarganegaraan (PKn)
cerdas, terampil, dan berkarakter yang yang diperoleh siswa kelas VC SD Bawamai
dilandasi oleh Pancasila dan UUD 1945”. Hal Pontianak Kota disebabkan karena pendekatan
tersebut menyatakan bahwa pembelajaran pembelajaran yang bersifat konvensional pada
PKn masih perlu dimaksimalkan dan proses pembelajaran Pendidikan
mendapat perhatian secara khusus dari semua Kewarganegaraan (PKn), sehingga
elemen yang berhubungan langsung dengan menyebabkan siswa tidak mampu memahami
pendidikan, terutama para guru. Karena para materi pelajaran yang disajikan. Penyebab
gurulah yang setiap hari berinteraksi dengan tersebut akhirnya berdampak pada perolehan
para siswa di sekolah dan untuk mencapai hasil belajar Pendidikan Kewarganegaraan
tujuan ini peranan guru tersebut sangat (PKn) siswa kelas VC SD Bawamai Pontianak
diperlukan. Kota menjadi rendah.
Melihat kondisi rendahnya hasil belajar demikian, model pembelajaran kooperatif tipe
Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) pada jigsaw berpotensi untuk dapat meningkatkan
siswa kelas VC SD Bawamai Pontianak Kota hasil belajar PKn siswa kelas VC SD
tersebut di atas, maka perlu diupayakan cara Bawamai Pontianak Kota. Oleh karena itu,
yang tepat untuk mengatasinya, harapannya berdasarkan permasalahan dan kenyataan di
agar hasil belajar Pendidikan atas, maka perlu diadakan penelitian tindakan
Kewarganegaraan (PKn) siswa dapat kelas dengan judul “Peningkatan Hasil Belajar
meningkat kearah yang lebih baik. Suasana Pendidikan Kewarganegaraan Melalui Model
belajar mengajar yang diharapkan adalah Pembelajaran Kooperatif Tipe Jigsaw Pada
menjadikan siswa sebagai subjek yang Siswa Kelas V Sekolah Dasar Bawamai
berupaya menggali sendiri, memecahkan Pontianak Kota”.
sendiri masalah-masalah dari suatu konsep
yang dipelajari, sedangkan guru lebih banyak METODE PENELITIAN
bertindak sebagai motivator dan fasilitator. Penelitian ini menggunakan jenis
Situasi belajar yang diharapkan di sini adalah Penelitian Tindakan Kelas (Classroom Action
siswa yang lebih banyak berperan (kreatif). Research) yang dilakukan secara kolaboratif
Model pembelajaran yang dimaksud adalah dan partisipatif. Artinya peneliti tidak
model kooperatif tipe jigsaw. melakukan penelitian sendiri, namun
Model pembelajaran kooperatif tipe berkolaborasi atau bekerjasama dengan guru
jigsaw adalah sebuah model belajar kooperatif kelas yang bersangkutan. Kerjasama atau
yang menitik beratkan kepada kerja kelompok kolaborasi antara guru dengan peneliti sangat
siswa dalam bentuk kelompok kecil. Seperti bertujuan untuk menggali dan mengkaji
diungkapkan oleh Anita Lie (2008: 70) model permasalahan nyata yang dihadapi. Penelitian
pembelajaran kooperatif tipe jigsaw ini bersifat kolaborasi. Menurut Suharsimi
merupakan model belajar kooperatif dengan Arikunto, dkk (2009:62) menyatakan bahwa
cara siswa belajar dalam kelompok kecil yang “penelitian tindakan kelas adalah kolaborasi
terdiri dari empat sampai enam orang secara (kerjasama) antara praktisi (guru, kepala
heterogen dan siswa bekerja sama saling sekolah, peserta didik dan lain-lain) dan
ketergantungan positif dan bertanggung peneliti dalam pemahaman, kesepakatan
jawab secara mandiri”. Dalam model tentang permasalahan, pengambilan
pembelajaran kooperatif tipe jigsaw, siswa keputusan yang akhirnya melahirkan
memiliki banyak kesempatan untuk kesamaan (action).”
mengemukakan pendapat dan mengolah Berdasarkan uraian tersebut, maka
informasi yang didapat Metode yang akan digunakan dalam
sehingga meningkatkan keterampilan penelitian ini adalah metode deskriptif. Hadari
berkomunikasi. Anggota kelompok Nawawi (1983:63) mengatakan bahwa:
juga bertanggung jawab terhadap keberhasilan “Metode deskriptif adalahprosedur
kelompok dan ketuntasan bagian materi yang pemecahan masalah yang diselidiki
dipelajari serta dapat menyampaikan denganmenggambarkan/melukiskan keadaan
informasinya kepada kelompok lain. subjek/objek penelitian (seseorang, lembaga,
Pada proses pembelajaran Pendidikan masyarakat dan lain-lain) pada saat sekarang
Kewarganegaan (PKn) dengan menggunakan berdasarkan fakta-fakta yang tampak atau
model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw, sebagaimana adanya”.
siswa akan semakin mudah memahami materi Subjek penelitian ini adalah siswa kelas
PKn yang disajikan oleh guru. Dengan V SD Bawamai Pontianak Kotayang
berjumlah 35 siswa. Penelitian ini akan Menurut Suharsimi Arikunto
diterapkan pada mata pelajaran Pendidikan (2013:137), Penelitian Tindakan Kelas terdiri
Kewarganegaraan (PKn) pokok bahasan atas rangkaian empat kegiatan yaitu :
Menjaga Keutuhan NKRI, semester ganjil perencanaan, pelaksanaan, pengamatan, dan
tahun ajaran 2017/2018.
refleksi.Tahapan-tahapanyangdilaksanakan kolaborator mengevaluasi kelemahan dan
dalam penelitian ini sebagai berikut : kelebihan serta tindakan perbaikan pada
a.Tahapan Perencanaan (planning) siklus berikutnya.
Dalam tahapan ini peneliti dan
kolaborator, menjelaskan tentang apa, Adapun alat pengumpul data yang
mengapa, kapan, dimana, oleh siapa, dan digunakan dalam penelitian ini adalah
bagaimana tindakan tersebut dilakukan. sebagai berikut:
Dalam tahap menyusun rancangan ini a. Lembar Instrument Penilaian Kinerja
peneliti ini peneliti bersama kolaborator Guru (IPKG) 1 yang sudah
menentukan titik atau fokus peristiwa yang dimodifikasisesuai dengan menggunakan
perlu mendapat perhatian khusus untuk Model Pembelajaran Kooperatif Tipe
diamati, kemudian membuat instrumen Jigsaw
pengamatan untuk membantu peneliti b. Lembar Instrument Penilaian Kinerja
merekam fakta yang terjadi selama penelitian Guru (IPKG) 2 yang sudah dimodifikasi
berlangsung. sesuai dengan menggunakan Model
b.Tahapan Pelaksanaan (Acting) Pembelajaran Kooperatif Tipe Jigsaw
Tahap ke-2 dari penelitian tindakan adalah c. Lembar soal siswa berupa tes tertulis
pelaksanaan yang merupakan implementasi dalam bentuk soal essay.
atau penerapan isi rancangan, yaitu
penerapan tindakan di dalam kelas. HASIL PENELITIAN DAN
c.Tahap Pengamatan (Observing)Pada tahap PEMBAHASAN
ke-3, yaitu tahap pengamatan yang dilakukan Hasil Penelitian
oleh pengamat. Ketika peneliti melakukan Penelitian ini merupakan penelitian
tindakan, kolaborator yang bertugas sebagai tindakan kelas yang dirancang dua siklus.
pengamat memberikan catatan-catatan dari dimana tiap siklusnya terdiri dari rencana
pelaksanaan pembelajaran yang terjadi agar tindakan. pelaksanaan tindakan. observasi
memperoleh data yang akurat untuk dan evaluasi serta refleksi dan setiap
perbaikan siklus berikutnya. siklusnya terdiri dari dua pertemuan yakni
d.Tahap Refleksi (Reflecting) pertemuan I dan pertemuan II.
Tahap ke-4 merupakan kegiatan untuk Data yang dikumpulkan dalam
mengemukakan kembali apa yang sudah penelitian ini terdiri dari data hasil observasi
dilakukan. Kegiatan refleksi ini sangat tepat yang dilakukan dengan melihat KBM siswa
dilakukan ketika peneliti sudah selesai selama pembelajaran berlangsung dari siklus
melakukan tindakan, kemudian bersama I sampai siklus II dan data yang diperoleh
kolaborator mendiskusikan hal-hal yang dari angket kepuasan siswa yang diperoleh
sudah berjalan dengan baik dan mana yang setelah siklus II berakhir.
belum. Pada tahap ini peneliti bersama
Tabel 1
Hasil Observasi Kemampuan guru dalam Menyusun RPP Siklus I dan II
Skor
No Aspek Penilaian
Siklus I Siklus II
A Perumusan Tujuan Pembelajaran 3,66 4,00
B Pemilihan dan Pengorganisasian Materi Ajar 3,66 3,66
C Pemilihan Sumber Belajar / Media Pembelajaran 4,00 4,00
D Skenario / Kegiatan Pembelajaran 3,75 3,87
E Penilaian Hasil Belajar 3,33 4,00
Jumlah Total Skor 18,07 19,21
Rata-Rata Skor 3,61 3,84
Tabel di atas menunjukan hasil
penilaian kemampuan guru dalam Kemampuan guru melaksanakan
merencanakan pembelajaran dilihat dari nilai pembelajaran padaSiklus I dan II
akhir dan nilai rata-rata yang diperoleh
peneliti dari siklus I ke siklus II mengalami Untuk melihat hasil observasi terhadap
peningkatan. Peningkatan tersebut pada kemampuan guru dalam
siklus I hasil nilai akhir yang didapat peneliti melaksanakanpembelajaran menggunakan
yaitu 18.07 dengan nilai rata-rata 3,61. Pada menggunakan Model Pembelajaran
siklus II, hasil nilai akhir yang didapat Kooperatif Tipe Jigsaw
peneliti naik menjadi 0,23 dengan nilai rata- dapat di lihat pada tabel 2 berikut ini
rata 3,84.
Tabel 2
Hasil Observasi Kemampuan Guru dalam Pelaksanaan Pembelajaran
Skor
No Aspek yang Diamati
Siklus I Siklus II
1 Kegiatan Awal
Fase I 3,5 4,00
2 Kegiatan Inti
Fase II 3,5 3,75
Fase III 3,33 3,83
Fase IV 3,5 3,5
Fase V 4,00 4,00
3 Kegiatan Akhir
Fase VI 3,66 3,50
Rata-Rata Skor 3,54 3,69

Tabel di atas menunjukan hasil Hasil belajar siswa pada Siklus I dan II
penilaian kemampuan guru dalam Pengambilan data melalui observasi
melaksanakan pembelajaran dilihat dari nilai hasil belajar bertujuan untuk mengetahui
akhir dan nilai rata-rata yang diperoleh nilai hasil belajar siswa selama proses
peneliti dari siklus I ke siklus II mengalami pembelajaran PKn denganmenggunakan
peningkatan. Peningkatan tersebut pada Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Jigsaw
siklus I hasil nilai akhir yang didapat peneliti Pengamatan dilakukan pada siswa
rata-rata 3,54. Pada siklus II, hasil nilai akhir kelas V SD Bawamai yang berjumlah 35
yang didapat peneliti naik menjadi 3,69. siswa. Hasil Observasi hasil belajar siswa
pada siklus I dan II dapat di lihat pada tabel 3
berikut ini:
Tabel 3
Hasil Observasi Belajar Siswa Siklus I dan II Kelas V SD Bawamai
No Kondisi Belajar Skor
Siklus I Siklus II

Jumlah 1950 2420


Nilai rata-Rata 69,64 86,42

Pembahasan Penelitian pertemuan adalah 3 jam pelajaran atau 3 x 35


Pelaksanaan penelitian pada siklus I ini menit ( 105 menit). Materi pelajaran yang
terdiri dari dua kali pertemuan. Pertemuan I disampaikan adalah Perjuangan
dilaksanakan pada hari selasa tanggal Mempertahankan Kemerdekaan dengan
09November 2017. Lamanya waktu adalah 3 Pokok Bahasan Menghargai Jasa Tokoh-
jam pelajaran atau 3 x 35 menit ( 105 menit ). tokoh Perjuangan dalam Mempertahankan
Materi pelajaran yang disampaikan adalah Kemerdekaan.
tentang Negara Kesatuan Republik Indonesia Pada indikator memprentasikan hasil
(NKRI) kerja kelompok ini dilihat dari pengamatan
Memahami Pentingnya keutuhan peneliti dengan menggunakan lembar
NKRI.Pada pertemuan II dilakukan pada observasi yang tersedia. Tingkat belajar
tanggal 16November 2017. Lamanya waktu siswa dalam memprentasikan hasil kerja
adalah adalah 3 jam pelajaran atau 3 x 35 kelompok mengalami peningkatan, yaitu dari
menit ( 105 menit ). Materi pelajaran yang prosentase siklus I 95.72% meningkat pada
disampaikan adalah memahmi tujuan dan siklus II menjadi 100%.
fungsi wilayah NKRI . Berdasarkan Berdasarkan data yang diperoleh dari
kesepakatan antara peneliti dan guru pembelajaran sebelum tindakan ( base line)
kolaborator tentang kelebihan dan siklus I dan siklus II, maka dapat
kekurangan yang terjadi pada siklus I disimpulkan bahwa hasil belajar siswa
mengenai penerapan model pembelajaran mengalami peningkatan yang sebelumnya
kooperatif tipe Jigsaw. Maka segala hasil belajar siswa hanya 20.09% meningkat
kekurangan yang terjadi pada siklus I akan pada siklus I menjadi 58.41% dan meningkat
diperbaiki dan ditingkatkan pada siklus II kembali pada siklus II menjadi
Pelaksanaan penelitian pada siklus II 81.16%.Berdasarkan data mengenai hasil
dimulai pada hari Selasa tanggal. 24 belajar siswa, setelah pembelajaran
November 2017 dan Sebagai subjek Kooperatif Learning tipe Jigsaw dari
penelitian adalah siswa kelas V SD Bawamai pembelajaran sebelum tindakan sampai
Pontianak Kota yang terdiri dari 35 orang dengan siklus II juga mengalami
siswa dimana 15 orang laki-laki dan 20 orang peningkatan. yang sebelumnya nilai rata-rata
perempuan. hasil belajar siswa hanya sebesar 49.00
Pelaksanaan pembelajaran pada siklus meningkat pada siklus I 65.00 dan
II ini terdiri dari dua kali pertemuan. meningkat kembali pada siklus II menjadi
Pertemuan I dilakukan pada tanggal 24 72.50. Sedangkan data yang terdapat
November 2017. Lama pertemuan adalah 3 mengenai angket kepuasan siswa belajar
jam pelajaran atau 3 x 35 menit ( 105 menit). dengan penerapan model pembelajaran
Materi pelajaran yang disampaikan adalah kooperatif learning tipe Jigsaw digunakan
Perjuangan Mempertahankan Kemerdekaan . untuk memverifikasi atau mendukung dan
Pada Pertemuan II dilakukan pada hari untuk meyakinkan data yang diperoleh
sabtu tanggal 28 November 2017. Lama melalui observasi siklus I dan siklus II
SIMPULAN DAN SARAN dipahami oleh teman kelompok,
Simpulan mempersentasikan hasil kerja kelompok
Berdasarkan hasil Penelitian dalam pembelajaran Pkn di kelas V
Tindakan Kelas (PTK) dapat disimpulkan Sekolah Dasar .
sebagai berikut. 2. Penerapan model pembelajaran
1. Penerapan model pembelajaran Kooperatif Learning Tipe Jigsaw pada
Kooperatif Learning Tipe Jigsaw pada pembelajaran PKn siswa kelas V SD
pembelajaran PKn siswa kelas V SD terbukti mampu meningkatkan hasil
Bawamai Pontianak Kota terbukti belajar siswa, yaitu dari prosentase siklus
mampu meningkatkan hasil belajar I sebesar 65.24% meningkat pada siklus
siswa, yaitu dari prosentase siklus I II menjadi 81.91% meningkat sebesar
sebesar 62.00% meningkat pada siklus II 16.67%. Hasil kegiatan belajar siswa
menjadi 81.59% meningkat sebesar meliputi: Mempersiapkan diri untuk
19.59%. Hasil kegiatan belajar siswa mengikuti pembelajaran, menanggapi
meliputi: berinteraksi dengan guru dan pertanyaan yang diberikan
siswa yang lain dalam pembelajaran, memperhatikan dengan tekun kegiatan
menyimak penjelasan guru,dalam pembelajaran dalam pembelajaran PKn.
bertanya. mencatat hal-hal animasi, sebaiknya selain mengukur hasil
penting,diskusi kelompok, mengerjakan belajar siswa juga mengukur
tugas, menjelaskan materi yang belum kepercayaan diri dan minat belajar siswa.

DAFTAR RUJUKAN

Abimayu,Soli.(2006).StrategiPembelajaran MC. Kenny, Cs (2002). What is


.Jakarta: Depdiknas Cooperative Learning? Journal
Agus Suprijono. (2010). Coveratif Learning acces 30 maret 2011
Teori dan Aplikasi PAIKEM. (http//www.csudh. edu/SOE/CL-
Yogyakarta:Multi Pressindo. Network/What is) CL html
Anitah, dkk. (2008). Strategi Pembelajaran. Mulyasa, E. 2004. “Kurikulum Berbasis
Universitas Terbuka: Jakarta. Kompetensi:Konsep,Karakteris
Anita, Lie. 2002. ”Cooperative Learning : tik, danImplementasi”. Bandung
Mempraktikan Cooperative : PT. Remaja Rosdakarya.
Learning di Ruang-ruang Kelas”. Nana Sudjana. (2009).Penilaian Hasil
Jakarta : PT. Gramedia. Proses Belajar Mengajar.
Dep.Diknas. (2003). Kurikulum 2004. Bandung:Remaja Rosdakarya.
Jakarta: Depdiknas. Purwanto.(2008). Evaluasi Hasil
Dep.Diknas. (2008), Peraturan Menteri Belajar.Yogyakarta:Pustaka
Pendidikan Nasional, Jakarta : Belajar.
Departemen Pendidikan Nasional.
Dimyanti. 2006. Belajar dan Pembelajaran. Sardiman, A.M. 2004. ”Inetaksi dan
Jakarta: Rineka Cipta. Motivasi Belajar
Djamarah. 2005. Strategi Belajar Mengajar. Mengajar”.Jakarta : PT. Raja
Jakarta: Rineka Cipta. Grafindo Persada.
I.G.A.K Wardani, dkk. (2002). Penelitian Slameto. (2010). Belajar dan Faktor-faktor
Tindakan Kelas. Jakarta: yang mempengaruhinya. Jakarta
Universitas Terbuka. : Rineka Cipta.
Slavin, E Robert. (1995). Cooperatif
Isjoni. (2011). Cooperative Learning Learning Theory. Research and
Efektivitas Pembelajaran Practise (Second Edition).
Kelompok.Bandung: ALFABET Massachussets: Ally & Bacon.
Sugiyono. (2009). Metode Penelitian Trianto. (2007). Model Peembelajaran
Pendidikan Pendekatan Terpadu dalam Teori dan
Kuantitatif, Kualitatif dan R & Praktek.Jakarta :Prestasi Pustaka
D. Bandung : Alfabeta. Publisher.
Sudjana, dkk. 1989. Pedoman Udin S. Winataputra,dkk. (2008). Teori
Praktek Mengajar. Bandung; Belajar dan Pembelajaran.
Depdikbud. Jakarta:Universitas Terbuka
Suharsimi Arikunto. (2006). Penelitian Widyantini. (2006). Pembelajaran dengan
Tindakan Kelas. Jakarta: Bumi Pendekatan Kooperatif.
Aksara. Yogyakarta: Depdiknas.
Supardi. 2006. ”Penelitian Tindakan Yatim Riyanto .(2010).Paradigma Baru
Kelas”.Jakarta : Bumi Akasara.