Sunteți pe pagina 1din 64

Amar Maruf Nahi Munkar dalam

Komunitas Profesi Dokter


Yusuf Alam Romadhon
USG kepala dan leher
Dokter Wati, dokter umum yang praktik umum di wilayah kecamatan Serba Waras. Sebenarnya
praktiknya tergolong laris untuk kategori dokter umum di wilayah kabupatennya. Enam bulan
terakhir, setelah kursus USG dan investasi pembelian USG ada yang berubah dalam tata cara
praktik pribadinya. Kehadiran USG ternyata dipersepsi oleh masyarakat luas, dokter Wati semakin
teliti dan semakin canggih sehingga dianggap professional dalam praktiknya. Walaupun kehadiran
USG itu berpengaruh terhadap tariff yang diberlakukan kepada pasien.
Dokter saya sakit pusing, sudah berobat ke tiga dokter, ternyata gak sembuh-sembuh.
Disamping pusing juga leher saya cengeng kata mbah Kromo ketika mendapatkan giliran
diperiksa.
O ya.. sudah berapa lama mbah? tanya dokter Wati
Sudah seminggu ini jawab mbah Kromo
Terus sakit kepalanya cekot-cekot atau cengeng mbah? Ada demamnya? tanya dokter Wati
Cekot-cekot dokter, tidak ada demam, malah perutnya yang sebah dan agak mual jawab
mbah Kromo.
Saya periksa dulu mbahmohon mbah bisa berbaring di sana.. kata dokter Wati sambil
mengarahkan tangannya menuju bed yang di sampingnya ada peralatan USG canggih.
Mbah Kromo di tensi, di auskultasi dan diperkusidan terakhir tidak lupa dilakukan USG. Tapi
kali ini yang diUSG di daerah leher dan dahinya.
Sudah mbahsilakan duduk kembali kata dokter Wati
Kemudian dokter Wati menulis resep dan menyerahkan resep itu kepada mbah Kromo.
Ini mbah resepnya. Untuk menebus obat kata dokter Wati
Berapa dokter semuanya tanya mbah Kromo menanyakan tariff pemeriksaan.
Tujuh puluh lima ribu rupiah mbah jawab dokter Wati
Lho kok naik dokter, biasanya kan dua puluh lima ribu rupiah protes mbah Kromo.
Lha kan sekarang pake alat yang canggih memeriksanya sanggah dokter Wati.
..
Kontrak Sosial dokter dan
[1]

masyarakat
permasalahan yang mengancam
profesionalisme dokter
Menurut Budi Sampurna, secara makro adalah
beberapa faktor berikut :
Sistem Pendidikan Kedokteran yg mahal
Sistem Pembiayaan yg fee for service
Sistem Pelayanan Kedokteran yg for profit:
komoditi ekonomi
Sistem liberalisasi pengadaan obat/alkes
Masyarakat yang semakin materialistik
Peraturan yang tidak lengkap
ALASAN MENINGKATNYA
KETIDAKPUASAN PASIEN
MENINGKATNYA PENDIDIKAN DAN
KESADARAN ATAS HAK : ASERTIF
MENINGKATNYA PENGHARAPAN ATAS HASIL
TINDAKAN MEDIS
KOMERSIALISASI & DEPROFESIONALISASI
UPAYA LAYANAN KEDOKTERAN
PENINGKATAN BIAYA LAYANAN :
INTOLERANSI THD KETIDAKSEMPURNAAN
PROMOSI AHLI HUKUM & UUPK
TAN S Y, 1997
bentuk pelanggaran disiplin kedokteran
Tidak kompeten/ cakap
Tidak merujuk
Pendelegasian kepada tenaga kesehatan yang tidak kompeten
Dr/ drg pengganti tidak beritahu ke pasien, tidak punya SIP
Tidak laik praktik (kesehatan fisik & mental)
Kelalaian dalam penatalaksanaan pasien
Pemeriksaan dan pengobatan berlebihan
Tidak memberikan informasi yang jujur
Tidak ada informed consent
Tidak membuat/ menyimpan rekam medik
Penghentian kehamilan tanpa indikasi medis
Euthanasia
Penerapan pelayanan yang belum diterima kedokteran
Penelitian klinis tanpa persetujuan etis
Tidak memberi pertolongan darurat
Menolak/ menghentikan pengobatan tanpa alasan yang sah
Membuka rahasia medis tanpa izin
Buat keterangan medis tidak benar
Ikut serta tindakan penyiksaan
Peresepan obat psikotropik/narkotik tanpa indikasi
Pelecehan seksual, intimidasi, kekerasan
Penggunaan gelar akademik/ sebutan profesi, palsu
Menerima komisi thd rujukan/ peresepan
Pengiklanan diri yg menyesatkan
Ketergantungan NAPZA
STR, SIP, sertifikat kompetensi tidak sah
Imbal jasa tidak sesuai tindakan
Tidak memberikan data/ informasi atas permintaan MKDKI
Hillary Rodham Clinton and Barack Obama :
Making Patient Safety the Centerpiece
of Medical Liability Reform
(New Engl J Med 354;21 www.nejm.org May 25, 2006)

Malpractice suits often result


when an unexpected adverse
outcome is met with a lack of
empathy from physicians and
a withholding of essential
information.
Multi-Causal Theory Swiss Cheese
diagram (Reason, 1991)
Most Common Root Causes of Medical Errors

Communication problems
1. Inadequate information flow
2. Human problems
3. Patient-related issues
4. Organizational transfer of knowledge
5. Staffing patterns/work flow
6. Technical failures
7. Inadequate policies and procedures
(AHRQ Publication No. 04-RG005, December 2003. )
KESALAHAN
dilihat dari sisi hukum
SENGAJA / DOLUS:
DENGAN NIAT / TUJUAN
DENGAN KEPASTIAN AKAN TERJADI
DENGAN KEMUNGKINAN AKAN
TERJADI
KELALAIAN / CULPA:
LATA: Gross Negligence
LEVIS: kecil
MALPRAKTEK
INTENTIONAL (secara sadar)
PROFESSIONAL MISCONDUCTS
NEGLIGENCE
MALFEASANCE, MISFEASANCE,
NONFEASANCE
LACK OF SKILL
DI BAWAH STANDAR KOMPETENSI
DI LUAR KOMPETENSI
PROFESSIONAL MISCONDUCT

PELANGGARAN DISIPLIN PROFESI


PELANGGARAN STANDAR SECARA SENGAJA
(DELIBERATE VIOLATION)
PELANGGARAN PERILAKU PROFESI
PIDANA UMUM:
PEMBOHONGAN (FRAUD / MISREPRESENTASI)
KETERANGAN PALSU
PENAHANAN PASIEN
BUKA RAHASIA KEDOKTERAN TANPA HAK
ABORSI ILEGAL
EUTHANASIA
PENYERANGAN SEKSUAL
LACK OF SKILL
KOMPETENSI KURANG ATAU DI LUAR
KOMPETENSI / KEWENANGAN
SERING MENJADI PENYEBAB ERROR
ATAU KELALAIAN
SERING DIKAITKAN DENGAN
KOMPETENSI INSTITUSI
KADANG DAPAT DIBENARKAN PADA
SITUASI-KONDISI LOKAL TERTENTU
(LOCALITY RULE, LIMITED RESOURCES)
Tuntutan dapat berupa kelalaian
KELALAIAN MEDIK

JENIS TUNTUTAN YG TERSERING


BUKAN KESENGAJAAN
TIDAK MELAKUKAN YG SEHARUSNYA
DILAKUKAN, MELAKUKAN YG
SEHARUSNYA TIDAK DILAKUKAN OLEH
ORANG2 YG SEKUALIFIKASI PADA
SITUASI DAN KONDISI YG IDENTIK
PROFESIONALISME SEBAGAI
SARANA PENCEGAHAN MALPRAKTIK
PROFESI
A profession is any group sharing a
special body of knowledge, standards of
education and practice, professional
associations, and an ethical framework
based in a social contract that permits a
high degree of self-regulation.
On that view, ethics is an important
descriptor for a profession, but ethics is
not its essential and indispensable
defining feature.
AKUNTABILITAS PROFESI
DIDASARKAN PADA KONTRAK SOSIAL

The
Kontrak antara
contract kelompok
between profesi dengan
professions and
masyarakat
society umum. simple.
is relatively
The
Profesi diberi monopoli
professions dalamamenggunakan
are granted monopoly
keahliannya
over the use dalam
of a pelayanan
body of kpd
knowledge, as well
masyarakat, dengan menimbang
as considerable
otonominya, autonomy,
prestige prestige, and
dan imbalan
financial rewards on the understanding
finansialnya
that
Dan they will guarantee
sebaliknya competence,
profesi harus menjamin
provide
kompetensialtruistic service,
mereka, and conduct
memberikan their
layanan
affairs with morality
yang altruistik, and integrity
berperilaku yang bermoral dan
berintegritas
Cruess SR et al: MJA 2002 177 (4): 208-211
Professionalism
Professionalism is the basis of medicine's
contract with society.
It demands placing the interests of patients
above those of the physician, setting and
maintaining standards of competence and
integrity, and providing expert advice to
society on matters of health.
Essential to this contract is public trust in
physicians, which depends on the integrity
of both individual physicians and the whole
profession
Elements of Professionalism
Altruism is the essence of
professionalism. The best interest of the
patients, not self-interest, is the rule.
Accountability is required at many levels
- to individual patients, society and the
profession
Excellence entails a conscientious effort
to exceed normal expectations and make
a commitment to life-long learning
Elements of Professionalism
Duty is the free acceptance of a commitment to
service.
Honour and integrity are the consistent regard
for the highest standards of behaviour and
refusal to violate ones personal and
professional codes.
Respect for others (patients and their families,
other physicians and professional colleagues
such as nurses, medical students, residents,
subspecialty fellows, and self) is the essence of
humanism"
PROFESSIONALISM
True professionalism means the pursuit
of excellence, not just competence
Professionalism is predominantly an
attitude, not a set of competencies
A real professional is a technician who
cares
Professional is not a label you give
yourself. Its a description you hope
others will apply to you

Maister DH: True Professionalism, The Free Press, 1997


Paul Starr: Professionalism
Cognitive knowledge, the scientific
knowledge and technical dexterity doctors
possess that enables them to diagnose
and treat patients.
Moral component of professionalism,
which requires that the needs of patients
come before the needs of the doctor.
Collegial responsibility for doctors to
monitor one another and to ensure
competence in the profession (peer-
review)
PROFESSIONALISM
COMPETENCE CONDUCT /
KNOWLEDGE AND ATTITUDE
SKILLS EMPATHY
PHYSICAL AND DUTY OF CARE
MENTAL FITNESS COLLEGIAL
RESPONSIBILITY
Threat of Professionalism
At present, the medical profession is
confronted by an explosion of technology,
changing market forces, problems in health
care delivery, bioterrorism, and
globalization.
Physicians are experiencing frustration as
changes in the health care delivery
systems in virtually all industrialized
countries threaten the very nature and
values of medical professionalism.
ANCAMAN PROFESIONALISME
DI INDONESIA

Sistem Pendidikan Kedokteran yg mahal


Sistem Pembiayaan yg fee for service
Sistem Pelayanan Kedokteran yg for
profit: komoditi ekonomi
Sistem liberalisasi pengadaan obat/alkes
Masyarakat yang semakin materialistik
Peraturan yang tidak lengkap
ANCAMAN PROFESI KEDOKTERAN =
PUBLIC MISTRUST

Ketidakpercayaan
public perceptionmasyarakat terjadi apabila
that medicine failed to
masyarakat menilai
self-regulate in abahwa profesi
way that cankedokteran
guarantee
gagal melakukan and
competence, swa-regulasi yang
that it put its menjamin
own interest
kompetensi, dan meletakkan kepentingannya di
above that of patients and the public
atas kepentingan pasien
Atau
medicine has protected
bila kedokteran incompetent
melindungi anggotanyaoryg
unethical
tidak kompetencolleagues in the
dan tidak etis name
atas namaof
collegiality
kolegialitas

Cruess SR et al: MJA 2002 177 (4): 208-211


Re-visiting
Meetings among the European Federation
of Internal Medicine, the American College
of PhysiciansAmerican Society of
Internal Medicine (ACPASIM), and the
American Board of Internal Medicine
(ABIM) have confirmed that physician
views on professionalism are similar in
quite diverse systems of health care
delivery
Charter on
Medical Professionalism
Fundamental Principles:
Principle of primacy of patient welfare
Principle of patient autonomy
Principle of social justice

Annals of Internal Medicine, Vol 136 Issue 3, 5 Feb 2002


http://www.annals.org/cgi/content/full/136/3/243
Professional Responsibilities

Commitment to professional competence


Commitment to honestly with patient
Commitment to patient confidentiality
Commitment to maintaining appropriate
relations with patients
Commitment to improving quality of care
Professional Responsibilities

Commitment to improving access to care


Commitment to a just distribution of finite
resources
Commitment to scientific knowledge
Commitment to maintaining trust by
managing conflict of interest
Commitment to professional responsibilities

Please visit : www.professionalism.org


Mampukah Profesionalisme
mencegah malpraktik?
Professionalism
Altruism

Respect for
Accountability
others

Honor and
Excellence
Integrity

Duty
PERLUNYA PRAKTIK KEDOKTERAN
DIATUR
ETIKA PERILAKU
DISIPLIN PROFESI
HUKUM PUBLIK
Eh disini tertulis bahwa
kejadian kesalahan medis di
rumah sakit ini sangat tinggi Oh, pantesan,
katanya gue di-
histerektomi

Paul Barach, MD, MPH, Univ of Miami Medical School


APA KATA UNDANG2
Pasal 55 ayat (1) UU No 23 tahun 1992
tentang Kesehatan : setiap orang berhak
atas ganti rugi akibat kesalahan atau
kelalaian yang dilakukan tenaga
kesehatan.
Pasal 50 UU No 29 tahun 2004 tentang
Praktik Kedokteran : dokter dan dokter
gigi berhak memperoleh perlindungan
hukum sepanjang melaksanakan tugas
sesuai dengan standar profesi dan
standar prosedur operasional.
MINIMAL DOKTER HARUS
SEPERTI APA?
DOKTER JANGAN MELAKUKAN:
KESALAHAN
KELALAIAN
TAK SESUAI STANDAR PROFESI
TAK SESUAI S.O.P.

ITULAH YG DISEBUT BOTTOM LINE ETHICS


BELUM CUKUP UNTUK SEORANG PROFESIONAL,
HARUS DITAMBAH DENGAN KEPEDULIAN
KEPADA PASIEN DAN PROFESI
PRAKTIK KEDOKTERAN YG
DIANJURKAN

DARI SISI ETIK DAN HUKUM


BUKAN SEKEDAR TIDAK MALPRAKTIK
UPAYA DUNIA KEDOKTERAN
LAW REFORM:
MEMASTIKAN PROFESIONAL MEDIS KOMPETEN,
WENANG, ETIS, DAN SESUAI STANDAR
SYSTEM REFORM:
PATIENT SAFETY, CLINICAL GOVERNANCE, RISK
MANAGEMENT, CLINICAL PATHWAYS, SISTEM
PEMBIAYAAN YANDOK, dll
ATTITUDE REFORM:
CHARTER ON MEDICAL PROFESSIONALISM,
GOOD MEDICAL PRACTICE, PENDIDIKAN ETIK &
HUMANIORA DI FK, PENDISIPLINAN
UU PRAKTIK KEDOKTERAN
SEBAGAI BAGIAN DARI REFORMASI
HUKUM

DIUNDANGKAN TGL 6 OKT 2004


MULAI BERLAKU TGL 6 OKT 2005
BERTUJUAN:
PERLINDUNGAN PASIEN
MENINGKATKAN MUTU LAYANAN MEDIS
KEPASTIAN HUKUM BAGI MASYARAKAT
DAN DOKTER
UU PRAKTIK KEDOKTERAN
SEBAGAI BAGIAN DARI REFORMASI HUKUM

1. KONSIL KEDOKTERAN INDONESIA


SEBAGAI BADAN REGULASI, KHUSUSNYA
NON-IJIN PRAKTIK
WEWENANG KKI
TERIMA DAN CABUT REGISTRASI
MENGESAHKAN STANDAR KOMPETENSI
PENGUJIAN PERSYARATAN REGISTRASI
MENGESAHKAN PENERAPAN CABANG ILMU
PEMBINAAN
PENCATATAN DR/DRG YG DIBERI SANKSI
UU PRAKTIK KEDOKTERAN
SEBAGAI BAGIAN DARI REFORMASI HUKUM

2.MENGATUR TENTANG SIAPA YG


BERHAK PRAKTIK KEDOKTERAN:
LULUS PENDIDIKAN KEDOKTERAN YG SESUAI
DENGAN STANDAR PENDIDIKAN
SERTIFIKAT KOMPETENSI DARI KOLEGIUM
SURAT TANDA REGISTRASI (KKI, NASIONAL)
SURAT IJIN PRAKTIK (DINKES, KAB/KOTA)
CONT. PROFESSIONAL DEVELOPMENT (O.P.)
DIPERBARUI SECARA PERIODIK (5 TAHUN)
UU PRAKTIK KEDOKTERAN
SEBAGAI BAGIAN DARI REFORMASI HUKUM

3.MENGATUR TENTANG BAGAIMANA


PELAKSANAAN PRAKTIK KEDOKTERAN:
HUBUNGAN PASIEN-DOKTER
INFORMED CONSENT
REKAM MEDIK
RAHASIA KEDOKTERAN
STANDAR: PELAYANAN, PROFESI, S.O.P.
HAK DAN KEWAJIBAN
KENDALI MUTU DAN BIAYA
PEMBINAAN, DISIPLIN, PIDANA
UU PRAKTIK KEDOKTERAN
SEBAGAI BAGIAN DARI REFORMASI HUKUM

4.MEMBENTUK MAJELIS KEHORMATAN


DISIPLIN KEDOKTERAN INDONESIA
LINGKUP: DISIPLIN PROFESI
DIANTARA ETIK PROFESI DGN HUKUM PIDANA
SIFAT:
REAKTIF: BERDASARKAN PENGADUAN
SANKSI:
PERINGATAN
RE-EDUKASI
REKOMENDASI PENCABUTAN STR / SIP
PIDANA 5 TH / DENDA 150 JUTA (Ps 77-78)
BERTINDAK SEOLAH-OLAH DOKTER
PIDANA 3 TH / DENDA 100 JUTA (Ps 75-76)
WNI, PRAKTIK TANPA STR
WNA, PRAKTIK TANPA STR SEMENTARA/
BERSYARAT
PRAKTIK TANPA SIP
PIDANA 1 TH / DENDA 50 JUTA (Ps 79)
TIDAK PASANG PAPAN PRAKTIK
TIDAK BUAT REKAM MEDIS
TIDAK PENUHI KEWAJIBAN DOKTER
PIDANA 10 TH / DENDA 300 JUTA (Ps 80)
MEMPEKERJAKAN DOKTER TANPA SIP
BILA KORPORASI: TAMBAH 1/3 + CABUT IJIN
DAPATKAH UU PRADOK
MENJAMIN DISIPLIN?
UNDANG-UNDANG HANYA MEMBUAT
KULITNYA, ISINYA HARUS DIKELOLA
OLEH MASYARAKAT PROFESI
INGAT: SELAIN KOMPETENSI,
DIPERLUKAN JUGA ETIK-INTEGRITAS
DAN COLLEGIAL RESPONSIBILITIES
DIPERLUKAN : PERATURAN, BYLAWS,
DAN UPAYA PENEGAKANNYA
PERATURAN PELAKSANAAN
PERATURAN KONSIL:
Fungsi & Tugas KKI
Fungsi, Tugas, Wewenang KK / KKG
Pemilihan tokoh masy. Sbg anggota
Tata Kerja KKI
Tata cara Registrasi
Kewenangan dokter / dokter gigi
Tata cara pemilihan Pimpinan MKDKI
Prosedur pengaduan, pemeriksaan dan
pembuatan putusan MKDKI
PERATURAN PELAKSANAAN

PER-PRES:
Tata Cara Pengangkatan anggota KKI
PERMENKES:
Surat Ijin Praktik
Pelaksanaan Praktik
Aturan tentang Standar Pelayanan
Persetujuan Tindakan Medik
Rekam Medis
Rahasia Kedokteran
PERANGKAT LUNAK LAIN:
STANDAR PENDIDIKAN
STANDAR & UJIAN KOMPETENSI
STANDAR PERILAKU (Etik & Disiplin)
STANDAR PELAYANAN (Clinical Guidelines)
STANDAR PROSEDUR OPERASIONAL
PEDOMAN PEMBINAAN & PENGAWASAN
PEDOMAN KENDALI MUTU, BIAYA, AUDIT
MEDIS

SEBAGIAN BESAR HARUS DISIAPKAN OLEH ORGANISASI PROFESI


PERATURAN KONSIL 1/2005
KEWAJIBAN REGISTRASI
PERSYARATAN REGISTRASI
LULUSAN D.N., LULUSAN L.N., WNA
PROSEDUR PERMINTAAN REGISTRASI
DOKTER LAMA: DINKES KAB/KOTA KKI
DOKTER BARU: DINKES PROP KKI
SPESIALIS: ROPEG DEPKES- KKI (??)
WEWENANG PEMILIK S.T.R.
STR BAGI PESERTA PPDS
REGISTRASI ULANG
PERMENKES 512 / 2007
KEWAJIBAN MEMILIKI SIP
PERSYARATAN MEMPEROLEH SIP, tanpa Masa
Bhakti
PENGECUALIAN 3 T.P.:
R.S. PENDIDIKAN: JEJARING
JEJARING PELAYANAN RS PEMERINTAH
INSIDENTIL & PERTOLONGAN
PENUGASAN DINKES KAB/KOTA
SIP KOLEKTIF BAGI PESERTA PPDS
CO-ASS BEKERJA BERDASARKAN DELEGASI
PERAWAT / BIDAN MEMILIKI KEWENANGAN
HANYA ATAS 3 HAL: TERPENCIL, DELEGASI, &
DARURAT
PERSETUJUAN TINDAKAN
KEDOKTERAN
TINDOK HARUS DISETUJUI PASIEN,
SETELAH DIBERI PENJELASAN:
DIAGNOSIS DAN TATA CARA TINDIK
TUJUAN TINDIK
ALTERNATIF DAN RISIKO
RISIKO DAN KOMPLIKASI YG MUNGKIN
PROGNOSIS TINDIK
PERSETUJUAN : LISAN/ TERTULIS
TINDOK RISIKO TINGGI: TERTULIS
SELANJUTNYA: PERATURAN MENTERI
REKAM MEDIS
WAJIB MEMBUAT REKAM MEDIS
HARUS SEGERA DIBUAT, DIBUBUHI
NAMA, WAKTU, TTD PETUGAS
REKAM MEDIS MILIK DOKTER /
SARKES, ISINYA MILIK PASIEN
HARUS DISIMPAN SBG RAHASIA
SELANJUTNYA PERATURAN MENTERI
RAHASIA KEDOKTERAN

WAJIB SIMPAN RAHASIA


KEDOKTERAN
DAPAT DIBUKA:
KEPENTINGAN KESEHATAN PASIEN
PERMINTAAN PENEGAK HUKUM DALAM
RANGKA PENEGAKAN HUKUM
PERMINTAAN PASIEN
PERUNDANG-UNDANGAN
LEBIH LANJUT: PERATURAN MENTERI
KENDALI MUTU / BIAYA
WAJIB MENYELENGGARAKAN
KENDALI MUTU DAN BIAYA
DAPAT DISELENGGARAKAN AUDIT
MEDIS
PEMBINAAN DAN PENGAWASAN OLEH
ORG PROFESI
PATIENT SAFETY ORIENTED
BUKAN UNTUK PENGHUKUMAN
HAK DOKTER
PERLINDUNGAN HUKUM SEPANJANG
SESUAI STANDAR PROFESI & S.O.P
MELAKSANAKAN SESUAI S.P & S.O.P
MEMPEROLEH INFO YG JUJUR &
LENGKAP DARI PASIEN/KELUARGA
MENERIMA IMBALAN JASA
KEWAJIBAN DOKTER
BERI YANMED SESUAI S.P. & SOP,
SERTA KEBUTUHAN MEDIS PASIEN
MERUJUK BILA TAK MAMPU
MERAHASIAKAN
PERTOLONGAN DARURAT, KECUALI
BILA YAKIN ADA ORANG LAIN YG
BERTUGAS DAN MAMPU
MENAMBAH IPTEKDOK
HAK PASIEN
MEMPEROLEH PENJELASAN
MEMINTA PENDAPAT KEDUA
MENDAPAT PELAYANAN SESUAI
KEBUTUHAN MEDIS
MENOLAK TINDAKAN MEDIS
MENDAPATKAN ISI REKAM MEDIS
KEWAJIBAN PASIEN
BERI INFO YG LENGKAP DAN JUJUR
MEMATUHI NASIHAT DAN PETUNJUK
MEMATUHI KETENTUAN SARKES
MEMBERI IMBALAN JASA
REFORMASI PERILAKU ?
KODE ETIK PROFESI
PEDOMAN DISIPLIN (Perkonsil)
PEDOMAN PRAKTIK YG BAIK (KKI)
CHARTER ON MEDICAL
PROFESSIONALISM (USA & UE)
GOOD MEDICAL PRACTICE (Inggris)
HUKUM ADMINISTRATIF
HUKUM PIDANA
REFORMASI SISTEM ?
SISTEM PENDIDIKAN KEDOKTERAN
SISTEM PENDIDIKAN SPESIALISASI
SISTEM PELAYANAN KEDOKTERAN DAN
SISTEM PEMBIAYAANNYA
SISTEM PERIJINAN DAN PENGAWASAN
SARYANKES
SISTEM & BUDAYA SAFETY
SISTEM PELAPORAN KASUS DAN ANALISIS
SISTEM PENGADUAN / KELUHAN
MASYARAKAT
KESIMPULAN
Praktik yang baik adalah praktik yang
sesuai dengan peraturan perundang-
undangan:
Kompeten dan berwenang
Sikap profesional:
Sesuai etika dan standar
Patuh pada disiplin profesi
Kepatuhan kepada Profesionalisme akan
mencegah malpraktik