Sunteți pe pagina 1din 46

Acute Medullary

Compression
(Kompresi Medulla Akut)
ANATOMI KOLUMNA
VERTEBRA
Dikutip dari : Snell RS. Chapter 4 The sinal cord and
ascending and descending Tracts : In Snell RS Clinical
Neuroanatomi 7th edition : Lippicontt William and Wilkin.,
ANATOMI
MEDULA SPINALIS

4
Dikutip dari : Baron BJ et al Cahpter 255 : Spine and spinal cord
trauma, A comprehenship study guide 7ed : New York McGraw
Hill : 2011 Accesed Agustus 2016
Potongan Melintang Medula Spinalis

Bawah lesi Shock spinal


Dikutip dari : Snell RS. Chapter The sinal cord and ascending and descending Tracts : In Snell RS Ckinical
Neuroanatomi 7th edition : Lippicontt Williwm and Wilkin., Philadelphia, 2010 .p. : 114- 83
Dikutip dari : Snell RS. Chapter The sinal cord and ascending and
descending Tracts : In Snell RS Ckinical Neuroanatomi 7th edition :
Lippicontt Williwm and Wilkin., Philadelphia, 2010 .p. : 114- 83
Jalur Asenden = Sensoris

Traktus Spinotalamikus Anterior

Gambaran umum perjalanan serabut saraf sensorik dari system


saraf perifer ke pusat sensorik di korteks Traktus Kolumna
Dikutip dari: Snell RS. Chapter The sinal cord and
Dikutip dari: Snell RS. Chapter The sinal cord and ascending ascending and descending Tracts: In Snell RS Ckinical Dorsalis
and descending Tracts: In Snell RS Ckinical Neuroanatomi 7th
edition: Lippicontt William and Wilkin., Philadelphia, 2010 .p. : Neuroanatomi 7th edition: Lippicontt William and
114- 83
Wilkin., Philadelphia, 2010 .p. : 114- 83 Dikutip dari: Snell RS. Chapter The sinal cord and ascending and descending Tracts: In Snell RS
Ckinical Neuroanatomi 7th edition: Lippicontt William and Wilkin., Philadelphia, 2010 .p. : 114-
83
Jalur Desenden

= Motorik

Dikutip dari: Snell RS. Chapter The sinal cord and


Gambar Traktus Kortiikospinalis ascending and descending Tracts: In Snell RS Traktus Kortikospinalis Anterior
Ckinical Neuroanatomi 7th edition: Lippicontt
William and Wilkin., Philadelphia, 2010 .p. : 1 dan Lateralis
33-184
Supply Darah pada Medula
Spinalis

Lesi akut :
- Sindroma central cord
- Sindroma asa
FISIOLOGI Konduksi pada Saraf
Arus hanya satu arah

depolarisasi

Periode refrakter
Lesi akut : depolarisasi + periode refrakter >>
Penjalaran Impuls dan Aksi
Potensial pada Saraf
PERAN MEDULA SPINALIS

1. Pusat prosesing data


2. Jalur sensoris
3. Jalur motoris
Sistem pyramidal dan ekstrapir
amidal
Beberapa yang berhubungan dengan
trauma medula spinalis
QUADRIPLEGIA :
paralisis/kelumpuhan ekstermitas dan terjadi akibat trauma pada
segmen thorakal 1 (T1) keatas. Kerusakan pada level akan
merusak sistim syaraf otonom khsusnya syaraf simpatis misalnya
adanya gangguan pernapasan.
KOMPLIT QUADRIPLEGIA : adalah gambaran dari hilangnya fungsi
modula karena kerusakan diatas segmen serfikal 6 (C6).
Inkomplit Quadriplegia : 6 (C6).
Respiratorik Quadriplegia : (pentaplagia) adalah kerusakan yang
terjadi pada serfikal pada bagian atas (C1-C4) sehingga terjadi
gangguan pernapasan.
Paraplegia : adalah paralisis ekstermitas bagian bawah, terjadi
akibat kerusakan pada segmen parakal 2 (T2) kebawah
TUMOR

NEOPLASMA :
Tumor metastasis :
payudara 29%,
paru-paru 17%,
limfoma 11%,
myeloma 9%,
kanker prostat dan
sarkoma
ETIOLOGI

Infeksi:

abscess
Osteomyelitis
. MEKANIK / ABNORMALITAS
STRUKTUR: TRAUMA
Osteoporosis
Degenerative joint disease
Kompikasi post tindakan operasi
Kompresi Kompresi Kompresi
akut subakut kronik
beberapa beberapa beberapa
menit sampai HARI sampai bulan hingga
beberapa jam beberapa tahun.
MINGGU

fraktur vertebra protrusi tulang protrusi tulang ke


dengan displace ke cervical, cervical, thoracal
fragmen fraktur, Osteofit atau
thoracal, atau
herniasi diskus spondylosis).
akut, metastasis canal lumbar herniasi diskus
tumor, trauma spinal (osteofit dan hipertrofi
tulang / ligamen atau dari ligamentum
yang spondylosis). flavum.
menyebabkan jarang
PATOMEKANISME

Suatu rantai
sekunder
iskemia,
hipoksia,
Komosio, edema, dan
Serabut Saraf
Kontusio, STASIS
EDEMA lesi-lesi
Laserasi, VENA
NEKROSIS hemoragi,
Hemoragi
mengakibatka
n kerusakan
mielin dan
akson.
PATOMEKANISME
2 jam pasca
cedera invasi 6 jam pasca
sel-sel inflamasi cedera
oleh microglia terjadi edema
dan leukosit primer
polimorfonuklea vaskogenik.
r.

4 jam pasca 48 jam terjadi


cedera hampir edema dan
separuh medula nekrotik kros-
spinalis menjadi sektional
nekrotik. pada tempat
cedera.
Patofisologi Kompresi Tumor Medula Spinalis

Kompresi &
Tumor Epidural stasis vena
Interleukin
steroid Prostaglandi NSAID
n

Edema
vasogenik

Defisit
Iskemia
Neurologik
Surgical Aminoacic NMDAreceptor
decompression signal antagonis

Radiotherap
y Edeme
sitotoksik
Recovery
Kanalis kalsium Kerusakan
terbuka permanen
Pendahuluan

Cedera medula spinalis merupakan salah satu


penyebab utama disabilitas neurologis akibat trauma.
Pusat Data Nasional Cedera Medula Spinalis (The
National Spinal Cord Injury Data Research Centre)
memperkirakan ada 10.000 kasus baru cedera medula
spinalis setiap tahunnya di Amerika Serikat.
Angka insidensi paralisis komplet akibat kecelakaan
diperkirakan 20 per 100.000 penduduk, dengan angka
tetraplegia 200.000 per tahunnya.
Kecelakaan kendaraan bermotor merupakan
penyebab utama cedera medula spinalis
Klasifikasi
Cedera medula spinalis dapat dibagi menjadi komplet dan tidak
komplet berdasarkan ada/tidaknya fungsi yang dipertahankan
di bawah lesi
Tabel 1. Tabulasi perbandingan klinik lesi komplet dan
inkomplet
Karakteristik lesi Komplet Lesi inkomplet
Motorik Hilang di bawah lesi Sering (+)
Protopatik (nyeri, suhu) Hilang di bawah lesi Sering (+)
Propioseptik Hilang di bawah lesi Sering (+)
(joint position,
vibrasi)
Sacral sparing negatif positif
Ro. vertebra Sering fraktur, luksasi, Sering normal
atau listesis
Terdapat 5 sindrom utama cedera medula spinalis
inkomplet menurut American Spinal Cord Injury
Association yaitu :

(1) Central Cord Syndrome,


(2) Anterior Cord Syndrome,
(3) Brown Sequard Syndrome,
(4) Cauda Equina Syndrome, dan
(5) Conus Medullaris Syndrome.
Central
Cord
Syndrome
Central Cord Syndrome
biasanya terjadi setelah cedera hiperekstensi. Sering terjadi pada individu
di usia pertengahan dengan spondilosis cervicalis.
Predileksi lesi yang paling sering adalah medula spinalis segmen servikal,
terutama pada vertebra C4-C6.
Sebagian kasus tidak ditandai oleh adanya kerusakan tulang. Mekanisme
terjadinya cedera adalah akibat penjepitan medula spinalis oleh
ligamentum flavum di posterior dan kompresi osteofit atau material diskus
dari anterior
Bagian medula spinalis yang paling rentan adalah bagian dengan
vaskularisasi yang paling banyak yaitu bagian sentral.
Pada Central Cord Syndrome, bagian yang paling menderita gaya trauma
dapat mengalami nekrosis traumatika yang permanen.
Edema yang ditimbulkan dapat meluas sampai 1-2 segmen di bawah dan di
atas titik pusat cedera
Sebagian besar kasus Central Cord Syndrome menunjukkan hipo/
isointens pada T1 dan hiperintens pada T2, yang mengindikasikan adanya
edema
Gambaran khas Central Cord Syndrome

kelemahan yang lebih prominen pada ekstremitas


atas dibanding ektremitas bawah.
Pemulihan fungsi ekstremitas bawah biasanya
lebih cepat, sementara pada ekstremitas atas
(terutama tangan dan jari) sangat sering dijumpai
disabilitas neurologik permanen
Hal ini terutama disebabkan karena pusat cedera
paling sering adalah setinggi VC4-VC5 dengan
kerusakan paling hebat di medula spinalis C6
dengan ciri LMN.
Gambaran klinik dapat bervariasi, pada beberapa
kasus dilaporkan disabilitas permanen yang
unilateral
Anterior
Cord
Syndrome
Pemeriksaan neurologi

Pada kasus-kasus mielopati, pemeriksaan


status neurologi lokal merupakan hal yang
sangat penting.
Pemeriksaan status neurologis lokalis pada
pasien cedera medula spinalis mengacu
pada panduan dari American Spinal Cord
Injury Association/ AISA
Klasifikasi dibuat berdasar rekomendasi AISA,
A: untuk lesi komplet, sampai dengan E: untuk
keadaan normal
PEMERIKSAAN PENUNJANG
FOTO POLOS
vertebra servikal:
Tiga posisi standar
anteroposterior
lateral,
odontoid

vertebra thorakal
dan lumbal:
posisi AP dan lateral
.
Radiologis
MRI
Pada kasus-kasus yang tidak menunjukkan
kelainan radiologis, pemeriksaan lanjutan
dengan CT Scan dan MRI sangat dianjurkan
Tatalaksana

Tujuan terapi :
Terapi pada cedera medula spinalis terutama
ditujukan untuk meningkatkan dan
mempertahankan fungsi sensoris dan
Motoris.
Farmakologi
Non farmakologi

Terapi

Metilprednisolon dosis tinggi merupakan satu-


satunya terapi farmakologik yang terbukti efektif

Tindakan rehabilitasi medik merupakan kunci utama


dalam penanganan pasien cedera medula spinalis.

Fisioterapi, terapi okupasi, dan bladder training pada


pasien ini dikerjakan seawal mungkin.

Terapi okupasional terutama ditujukan untuk


memperkuat dan memperbaiki fungsi ekstremitas
atas, mempertahankan kemampuan aktivitas hidup
sehari-hari/ activities of daily living (ADL)..
REHABILITASI
PENATALAKSANAAN

FARMAKOLOGIK
kortikosteroid (metilprednisolon)
30
tirilazad, senyawa non-
glukokortikoid, sebagai
neuroprotektor yang berfungsi
dapat memberikan efek
pencegahan terhadap penggunaan
metilprednisolon yang terlalu
lama.
Hall, E. 2011. Antioxidants Therapies for Acute Spinal Cord Injury. Neurotherapeutics, 8, 152-67.
Sorenson, P., Helweg-Larsen, S., Mouridsen, H. & Hansen, H. 1994. Effect of high-dose
dexamethasone in carcinomatous metastatic spinal cord compression treated with
radiotherapy: a randomized trial. Eur J Cancer A, 30, 22-27
KONTROL dan PENCEGAHAN

Olah Raga
Kontrol berat badan

Edukasi:
cara mengangkat beban
yang benar
PROGNOSIS

Pasien dengan cedera medula spinalis komplet


hanya memiliki kemungkinan 5% untuk membaik.

Pada cedera komplet yang menetap lebih dari 72


jam, maka hampir tidak ada kemungkinan untuk
kembali pulih.

Sindroma cedera inkomplet memiliki prognosis yang


jauh lebih baik.

Penyebab kematian utama pada pasien dengan


cedera medula spinalis adalah pneumonia, emboli
paru, septikemia
THANK YOU

FOR YOUR ATTENTION


PROGNOSIS

Derajat fungsi neurologis pada saat diagnosis


dan mulainya mendapat penanganan adalah
faktor terpenting untuk menentukan derajat
perbaikan fungsi.
Pemberian iv kortikosteroid dapat diberikan
untuk mengurangi edema dan meningkatkan
fungsi neurologis sambil menentukan
diagnosis pasti yang diderita oleh pasien.
Algoritma penanganan kompresi
medulla akut

Sprigings, D. C. & Chambers, J. B. 2010. Acute medicine: a practical guide to the management of medical emergencies, John Wiley and Sons.
Sensoris protopatik
Asal inervasi Dermatom
C2-C4 Dermatom occiput sampai bagian belakang
leher
C5-T1 Lengan sampai jari-jari
T2-T12 Bagian dada dan axilla, beberapa titik penting :
T4 papila
mamae, T10 umbilicus, T12 groin
L1-L5 Tungkai
S1-S5 Tumit, bagian belakang tungkai, regio perineal
Treatment Goal

Pain Control
Reduce/Prevent nerve damage
Avoid Complications
High Dose Corticosteroids
Radiation Therapy
Biphosphates ( to reduce pathological
fractures and bone pain)