Sunteți pe pagina 1din 11

SEJARAH RUMAH

SAKIT di INDONESIA
 Rumah Sakit berasal dari bahasa asing hospital/ hospitalium berarti tamu

 Abad ke-6 sebelum masehi di India dan Mesir, Ceylon (437 SM) dan Raja Asoka

(273-232 SM) yang membangun 18 rumah sakit. Kala itu konsep pengobatan
dan perawatan pasien dilakukan secara sederhana. Di Turki perawatan orang
sakit dilaksanakan di tempat ibadah dengan kombinasi magis.

 Rene Theophile Hyacinthe Laenec (1816) menemukan stetoskop.

 Rumah sakit berkembang di Eropa mulai Roma (390), Lyons (542), Paris (660),

Inggris (1084), Berlin (1070) sampai London dengan RS Santo Bartholomeus


(1137), yang umumnya dikaitkan dengan gereja dan sebagai tempat pengasingan
pasien penyakit menular seperti lepra atau kusta.
 Florence Nightingle (1854) dikenal istilah western medicine yang

mengkombinasikan dapur dengan kebersihan lingkungan dan

individu, membuat perkembangan pesat rumah sakit di Canada

dan benua Amerika.

 Tercatat rumah sakit di Mexicocity (1524), Quebec (1839),

Manhattan Island (1663), Philadelphia General Hospital dengan

“operating theater” yang kini menjadi museum rumah sakit.


 Penemuan teknologi kedokteran seperti ether (Crawford Long
1842) sebagai obat anestesi
 Chloroform (Sir James Simpson 1847)
 Prinsip antiseptik (Lister 1873)
 Steam sterilisasi (Bergman 1886)
 Sarung tangan karet (Helsped 1890)
 Penemuan bakteri (Koch 1880)
 Penemuan X-ray (1895)
 Physical therapy/penyinaran (1893) membuat revolusi
perkembangan rumah sakit dan meningkatkan jumlah tindakan
operasi ribuan kali.
 Menurut seorang ahli sejarah ekonomi (Purwanto, 1996), pelayanan rumah

sakit di Indonesia telah dimulai sejak awal keberadaan VOC pada dekade ketiga

abad XVII.

 Sekitar abad ke-19, dibangun poliklinik dan tempat perawatan bagi anggota

angkatan bersenjata yang menderita sakit atau luka-luka. Berdiri rumah sakit

militer di tempat pemusatan tentara kolonial seperti Jakarta, Semarang, dan

Surabaya.

 Rumah Sakit juga dibangun dalam rangka mengatasi jarak pelayaran yang jauh

dari Eropa ke Indonesia tetapi tidak didukung fasilitas medis yang baik.
 Boomgard (1996) menyatakan bahwa sejarah rumah sakit di
Indonesia tidak dapat dipisahkan dari perkembangan ilmu
kedokteran Barat di Asia yang berlangsung sejak tahun 1649, ketika
seorang ahli bedah bernama Caspar Schamberger berada di Edo (saat
ini Tokyo) untuk mengajarkan ilmu bedah kepada orang Jepang.

 Masa ini merupakan awal dari beralihnya sistem tradisional


kesehatan di Asia yang mengacu pada sistem Cina dan berubah
menjadi sistem Belanda (Akira, 1996). Pengalihan ini berjalan secara
lambat.
 Ketika Jepang mulai menjajah Indonesia, seluruhnya diambil alih.

 Tenaga Belanda digantikan tenaga medis dan paramedis Indonesia

tetapi jabatan kepala rumah sakit dipegang oleh dokter Jepang.

 Penanganan, pemilikan dan pengelolaan semua rumah sakit beralih

menjadi satu jenis yaitu Rumah Sakit Pemerintahan Pendudukan.

 Pendidikan kedokteran ditutup, tetapi tahun 1943 dibuka kembali,

pendidikan perawatan diperpendek.


 Pada zaman kemerdekaan: pola perawatan, pemilikan, dan

pengelolaan beralih kembali mirip zaman kolonial.

 Umumnya kuratif dan otonom, dikelola dan berkembang

sendiri sesuai kebijakan pengelola/pemiliknya.


 Terjadi beberapa perubahan pengorganisasian dan pengaturan rumah

sakit, sampai akhirnya terbentuk model perumahsakitan yang

diharapkan.

 Orientasi pelayanan kesehatan telah berkembang menjadi lebih

preventif sampai rehabilitatif dari yang dulunya hanya bersifat

kuratif.

 Sedang dari segi fungsi juga telah berkembang lebih lengkap dari

pengobatan, perawatan, pendidikan sampai tempat penelitian.


 Tahun 1951: mengatur perawatan, pembagian kelas dan daftar makanan. Rumah Sakit

Pemerintah ditetapkan kelas II, III dan IV, yang dibagi lagi kelas IVa untuk yang bayar,

IVb kurang mampu dan IVc gratis. Rumah sakit swasta seluruhnya ditetapkan kelas I.

 Tahun 1953: rumah sakit swasta juga ditetapkan melayani untuk orang miskin,

diberlakukan sistem rujukan pada tahun 1972 dengan membagi rumah sakit atas kelas A,

B, C, D dan E /Khusus.

 Rumah sakit di lingkungan angkatan bersenjata tahun 1977 ditetapkan tingkat I, II, III

dan IV. Rumah sakit swasta juga ada tingkatan pratama, madya dan utama, dengan

kategori kepemilikan yayasan atau badan keagamaan.