Sunteți pe pagina 1din 60

PRESENTASI KASUS

TOXOPLASMOSIS
ENCEPHALITIS
PADA HIV/AIDS
OLEH : PUTRI JUNITASARI

Narasumber : dr. Ismi Sp.S


Pembimbing : dr. Sukwanto Gamalyono
dr. Wa Ode Diah

RSUD CIAWI BOGOR


2019
IDENTITAS
Nama : Tn. SBM
No. RM : 00687468
TTL : Bogor, 15/06/1983
Umur : 35 th
Jenis kelamin : laki-laki
Pekerjaan : tidak bekerja
Pendidikan : SMA
Alamat : Kp. Cikareumbi
Agama : Islam
Tgl masuk RSUD Ciawi : 18 februari 2019
Tgl pemeriksaan : 22 februari 2019
ANAMNESIS

Anamnesis dilakukan secara autoanamnesis dan


alloanamnesis pada tanggal 22 februari 2019 di
Teratai A RSUD Ciawi pukul 14.00
Pasien rujukan dari RS MH thamrin dengan
meningioma + TB paru aktif + B20 reaktif
KELUHAN UTAMA
Kelemahan anggota gerak kanan sejak
3 hari SMRS
RIWAYAT PENYAKIT SEKARANG

7 hari 3 hari
SMRS SMRS
7 hari 3 hari
SMRS SMRS
Keluhan disertai Kelemahan anggota
2 minggu muncul putih-putih di gerak kanan. Lemah
SMRS Nyeri kepala hebat, mulut. Nyeri (-) riwayat dirasakan perlahan- Keluhan tidak
nyeri kepala sisi kiri. diare lama (-) lahan. Bicara meracau sadarkan diri
tidak menjalar, nyeri dan susah diajak mendadak, mulut
Demam (+) sejak 2 seperti ditusuk-tusuk berkomunikasi. Kejang mencong ke satu sisi,
minggu, batuk –batuk dan tidak didahului (+) tangan atau kaki makan dan minum
lama sejak 2 minggu, adanya aura. kiri kelojotan, mata tersedak, baal pada
bb turun (+) nafsu Riwayat pandangan mendelik keatas (-) bagian wajah,
makan turun, keringat buram dan pandangan gangguan ingatan,
malam (+) ganda disangkal. muntah menyemprot,
Riwayat jika jalan perubahan perilaku,
menabrak-nabrak (-) riwayat terjatuh tidak
riw gangguan ada.
penghidu (-)
RIWAYAT PENYAKIT SEKARANG

RSUD
Ciawi
Di RS MH
Thamrin Nyeri kepala (+),
lemah anggota gerak
kanan (+), mual (+)
Dirawat selama 5 hari, muntah (+)
dikatakan terdapat
tumor di otak dan
infeksi paru. Mulai
pengobatan paru
sejak tgl 13/2/19,
Bicara pelo (+)
RIWAYAT PENYAKIT DAHULU

Riwayat keluhan serupa sebelumnya disangkal.


Riwayat trauma pada kepala, penyakit hipertensi,
diabetes mellitus, penyakit jantung, penyakit ginjal,
dan stroke disangkal. Riwayat pengobatan rutin
tidak ada.
RIWAYAT PENYAKIT KELUARGA

Riwayat keluhan serupa di keluarga disangkal. Riwayat


keganasan pada keluarga disangkal. Riwayat hipertensi,
diabetes mellitus, penyakit ginjal, dan stroke disangkal.
RIWAYAT KEBIASAAN DAN SOSIAL

15 th lalu 10 th lalu 2 th lalu Saat ini

Merokok 1-2 bks/hari Riwayat NAPZA suntik Riwayat berhubungan Riwayat mempunyai
Alkohol 1-2 (+) seksual dengan sesama peliharaan (kucing)
jenis (+) disangkal, suka
botol/hari
memakan makanan
tidak matang disangkal.
PEMERIKSAAN FISIK
Status Generalis
Keadaan Umum : tampak sakit sedang
Kesadaran : Apatis (GCS : E4M5V3 = 12)
Tanda Vital
Tekanan darah : 110/70 mmHg
Nadi : 82 x/menit, regular, kuat angkat, isi
cukup
Suhu : 36.0 0C
Pernapasan : 22x/menit
Berat Badan : 50kg
Tinggi Badan : 160 cm
BMI : 19,53 (normoweight)
PEMERIKSAAN FISIK

Kepala Leher
Inspeksi : warna normal, jejas (-), massa
1 Kesan normocephal, rambut hitam, 4 (-)
distribusi merata, deformitas (-) Palpasi : trakea di tengah, tidak teraba
massa, KGB tidak teraba membesar,
nyeri tekan (-)
Mata Paru
Inspeksi : simetris statis dinamis, jejas (-), penggunaan
2 Konjungtiva anemis (-)/(-), sklera ikterik (-)/(-
), sekret (-)/(-), enoftalmus (-)/(-),
5 otot bantu napas (-), pelebaran sela iga (-), pola
pernapasan normal
eksoftalmus (-)/(-), edema palpebra (-)/(-) Palpasi : massa (-), ekspansi dada simetris, pelebaran
sela iga (-)
Perkusi : sonor di kedua lapang paru
Auskultasi : suara nafas vesikuler (+ /+), wheezing (-/-),
ronki (-/-)
Telinga Hidung Tenggorokan Jantung
Telinga : normotia, hiperemis (-)/(-), scar (-)/(-), massa (-)/(-), Inspeksi : tidak tampak ictus cordis
3 otthorhea (-)/(-), membran tympani intak +/+ 6 Palpasi : teraba iktus kordis di ICS V 1 jari medial linea
Hidung: deformitas (-), deviasi septum (-), sekret (-)/(-), midclavicula sinistra
rhinorrhea (-)/(-), perdarahan (-)/(-)
Perkusi : batas jantung kanan di ICS IV linea parasternalis
Tenggorokan: terdapat
lesi berbentuk plak di dekstra
lidah warna putih kekuningan tersebar tidak batas jantung kiri di ICS V linea midclavicular sinistra 1 jari
merata (+) medial, pinggang jantung di ICS III linea parasertnal sinistra
Auskultasi : bunyi jantung I,II regular, murmur (-), gallop (-)
PEMERIKSAAN FISIK

Abdomen
Inspeksi : perut datar, tidak tampak scar, massa (-),
1 jejas (-) 4
Auskultasi : BU (+) normal
Palpasi : tidak teraba massa, hepar dan lien tidak
teraba
Perkusi : timpani
Ekstremitas
Atas: Akral teraba hangat, sianosis (-)/(-), ,
2 edema (-)/(-), CRT <3 detik, deformitas (-)/(- 5
).
Bawah: Akral teraba hangat, sianosis (-)/(-),
edema (-)/(-),CRT <3 detik, deformitas (-)/(-)

3 6
PEMERIKSAAN NEUROLOGIS
(22/2/2019)

Saraf-saraf Kranialis

GCS: E4M6V5
N. I : normosmia
TRM Kanan Kiri normosmia
Kaku Kuduk: (-)
N.II Kanan Kiri
Lasegue : > 70° >
70°  Acies Visus: 2/60 2/60
Kernig : > 135° > 135° (keterbatasan ruangan)
Brudzinski I: (-)
Brudzinski II: (-) Funduskopi : tidak dilakukan
PEMERIKSAAN NEUROLOGIS

N. III, IV, VI Kanan Kiri


Kedudukan Bola Mata: Ortoposisi Ortoposisi
N. V Kanan Kiri
Pergerakan Bola Mata:
Ke Nasal normal normal  Cabang Motorik:baik baik
Ke Temporal normal normal  Cabang Sensorik
Ke Nasal Atas normal normal
 Optahalmik :baik
Ke Nasal Bawah normal normal
baik
Ke Temp Atas normal normal
Ke Temp Bawah normal normal  Maxilla :baik
Pupil :Isokhor Isokhor
baik
Bentuk :Bulat, Ø 3mmBulat, Ø 3mm  Mandibularis :baik
Refleks Cahaya Langsung: (+) (+) baik
Refleks Cahaya Konsensual: (+) (+)
Akomodasi : baik baik
PEMERIKSAAN NEUROLOGIS
N. VII
Kanan Kiri  N. VIII
Motorik AD AS
Orbitofrontal: Baik Baik  Rhinne : tidak dilakukan
Motorik  Weber : tidak dilakukan
Orbicularis
 Swabach: tidak dilakukan
orbita : Baik baik
Motorik  N. IX, X
Orbicularis  Motorik : baik/baik
oris : Baik Baik  Sensorik : baik
Pengecap Lidah :Tidak
dilakukan  N. XI Kanan Kiri
 Mengangkat bahu: baik baik
 Menoleh : baik baik
PEMERIKSAAN NEUROLOGIS

 Gerakan Involunter
 Tremor : (-)
N. XII
 Chorea : (-)
Pergerakan Lidah :
 Mioklonik : (-)
Atrofi : (-)
 Distonia : (-)
Fasikulasi : (-)
 Tics : (-)
Tremor : (-)

Sistem Motorik  Trofik : eutrofi
Ekstrimitas atas : 3333/5555  Tonus : normotonus
Ekstrimitas bawah : 3333/5555  Sistem Sensorik
Kesan hemiparese dextra  Proprioseptif : baik
 Eksteroseptif : baik

PEMERIKSAAN NEUROLOGIS

Fungsi Cerebellar dan Koordinasi


Ataxia : (-)
Tes Rhomberg : (-)  Refleks-refleks Fisiologis
Kanan Kiri
Disdiadokinesia : (-)
 Bisep : (+2) (+2)
Jari-Jari : (-)
 Trisep: (+3) (+3)
Jari-Hidung : (-)  Patella: (+3) (+3)
Tumit-Lutut : (-)  Achilles: (+2) (+2)
 Sfingter Ani : Tidak diperiksa
Fungsi Otonom
Miksi : normal
Defekasi : normal
Sekresi Keringat : normal
PEMERIKSAAN NEUROLOGIS

RefleksPatologis Kanan Kiri


Hoffman Tromner: (-) (-)
Babinsky : (-) (+)
Chaddock : (-) (+)
Gordon : (-) (-)
Gonda : (-) (-)
Schaeffer : (-) (-)
Oppenheim : (-) (-)
Klonus Lutut : (-) (-)
Klonus Tumit : (+) (-)
PEMERIKSAAN LABORATORIUM
(14/2/19)
RS MH THAMRIN CILEUNGSI

Laboratorium Hasil Nilai normal Interpretasi


Hemoglobin 10.9 13,2-17,3 MENURUN
Hematokrit 32 45-52 MENURUN
Leukosit 5300 4000-11000 Normal
Trombosit 229000 150.000-440.000 Normal
Eritrosit 3,9 4,5-5,5 Normal
Basophil 0 0-1 Normal
Eosinophil 2 1-3 Normal
Batang 2 2-6 Normal
Segmen 70 50-70 Normal
Limfosit 23 20-40 Normal
Monosit 3 2-8 Normal
Natrium 129 135-147 MENURUN
Kalium 3,9 3,5-5,5 Normal
Chlorida 104 98-104 Normal
PEMERIKSAAN LABORATORIUM
(17/2/19)
RS MH THAMRIN CILEUNGSI

Laboratorium Hasil Nilai normal Interpretasi


LED 69 M<10 F<15 MENINGKAT
Ureum 27 10-80 Normal
Creatinin 0.67 0,75-1,35 Normal
SGOT 17 15-46 Normal
SGPT 14 11-16 Normal
IMUNOLOGY
ANTI HIV REAKTIF (R1) NON REAKTIF ABNORMAL
ANTI HIV REAKTIF (R2) NON REAKTIF ABNORMAL
ANTI HIV REAKTIF (R3) NON REAKTIF ABNORMAL
PEMERIKSAAN LABORATORIUM
(18/2/19)
RSUD CIAWI
Laboratorium Hasil Nilai normal Interpretasi
Hemoglobin 13.9 13,2-17,3 Normal
Hematokrit 40,7 45-52 Normal
Leukosit 5800 4000-11000 Normal
Trombosit 213000 150.000-440.000 Normal
GDS 130 80-120 Normal
SGOT 18 0-50 Normal
SGPT 21 0-50 Normal
Ureum 18,6 10-50 Normal
Creatinin 0,71 0.6-1.3 Normal
Natrium 133 135-145 Normal
Kalium 3,3 3,5-5,3 Normal
Clorida 105 95-106 Normal
hbsAg Non reaktif Non reaktif Normal
HIV rapid REAKTIF NON REAKTIF ABNORMAL
Anti HCV Negatif Negatif normal
CT SCAN KEPALA NON KONTRAS
RS MH THAMRIN CILEUNGSI

EXPERTISE
- Sistem ventrikel lateralis dan ventrikel III simetris, normal
- Tampak lesi hiperdens ringan dengan perifokal oedema
pada vertex cerebri kanan-kiri, masing-masing diameter 4
cm yang berhubungan dengan meninx
- Midline tidak distorsi
- Sistem cisterna, fissura Sylvii dan sulci pada hemisfere
cerebri kanan/kiri normal
- Infra tentorial, kontur batang otak dan kedua hemisfere
cerebelli normal, tidak tampak lesi fokal
- Ventrikel IV digaris tengah, normal
- Tulang-tulang intak
- Sinus-sinus paranasalis cerah
- Mastoid air cells bulbus okuli kanan-kiri normal

Kesan : suspek meningioma


Saran : CT scan kepala dengan kontras
RHONTGEN THORAX
RS MH THAMRIN CILEUNGSI

EXPERTISE
Cor, sinus dan diafragma baik. Aorta baik
Pulmo : tampak fibroinfiltrat pada apex paru kiri
Corakan brnkovaskular kasar
Tulang-tulang dan soft tissue baik

Kesan : TB paru aktif kiri


ELEKTROKARDIOGRAM
RS MH THAMRIN CILEUNGSI

EXPERTISE
Kesan :
Sinus rhythm, HR 60x, normoaxis, pemanjangan PR interval
(-), LBBB (-), RBBB (-), LVH (-), RVH (-), Q patologis (-) ST
elevasi (-), T inversi (-)
RESUME

Tn. SBM usia 35 th datang dengan keluhan kelemahan anggota gerak


kanan sejak 3 hari smrs. Keluhan disertai demam, batuk, bb turun,
keringat malam, nafsu makan turun sejak 2 minggu smrs. keluhan disertai
nyeri kepala hebat sejak 7 hari SMRS, kejang tangan atau kaki kiri (+).
Riwayat NAPZA 10 th lalu, riwayat berhubungan seksual dengan sesama
jenis 2 th lalu. Dari pemeriksaan fisik didapatkan kesadaran apatis GCS
E4M5V3. pemeriksaan neurologis motorik 3333/5555 ekstrimitas superior
dan inferior, refleks patologis (+). Pada pemeriksaan penunjang
laboratorium didapatkan HIV reaktif, rhontgen thorax kesan TB paru kiri
aktif, dan CT scan kepala non kontras didapatkan lesi hiperdens ringan
dengan perifokal oedema pada vertex cerebri kanan-kiri.
DIAGNOSA

- MENINGIOMA DD/ TOXOPLASMOSIS


- TB PARU
- B20
TATALAKSANA (RS MH THAMRIN)

IVFD Nacl 0.9% + ondancetron 4 mg + rativol 30 mg  20 tpm


Ceftriaxone 1x2 gr IV
Ranitidine 2x50 mgIV
Dexametasone 4x5 mg IV
Citicoline 3x500 mg IV
Betahistine 3x1 PO
Sanfuliq 2x1 PO
Isoniazid 1x400 mg PO
Pirazinamid 1x1000 mg PO
Rifampisin 1x450 mg PO
TATALAKSANA (IGD RSUD CIAWI)

dr. Jaga IGD Konsul dr. Lydia Sp.S

IVFD Ringer laktat 20 tpm Advice


Ceftriaxone 1x2 gr IV Therapi lanjut
Ranitidine 2x50 mg IV
Dexametasone 4x5 mg IV
Citicoline 3x500 mg IV
Betahistine 3x6 mg PO
PROGNOSIS

QUO AD VITAM
DUBIA AD BONAM

QUO AD FUNCTIONAM
DUBIA AD BONAM

QUO AD SANATIONAM
DUBIA AD BONAM
FOLLOW UP
FOLLOW UP (19/2/2019)
S O A P
Nyeri kepala (+), TSS, apatis GCS E4M5V3 - Obs Advice dr. Lidya Sp.S Advice dr. Dian Sp.P
muntah (+) TD 140/80 mmHg, HR penurunan - pro NGT diit cair 6x200 cc - Therapi OAT diberikan
83x/menit RR 20x/menit T - Pasang DC malam
sehabis minum 36,3C SaO2 99%
kesadaran ec
- Raber Sp.PD dan Sp.P
OAT, lemah CA -/- SI -/- pupil isokor SOL dd/ - Cek IgG, IgM, TORCH Advice dr. Devi Sp.PD
anggota gerak Bj I-II reguler murmur (-) toxoplasmosis - O2 3 lpm - Cotrimoxazole 1x960 mg
kanan (+) gallop (-) - B20 + infeksi - IVFD Nacl 0.9% + - Nystatin 3x1 cc
kejang (-) Vesikuler +/+ rh-/- wh -/- oportunistik dexketoprofen 50 mg/8 - Fluconazole 1x300 mg
BU (+) normal supel - TB paru on jam selanjutnya 1x150 mg (14
Akral hangat +/+ crt - Inj. Ceftriaxone 2x2 gr IV hari)
<3detik edema -/-
OAT
- Inj. Metronidazole 3x500 - Px CD4, HbsAg, anti
Motorik kesan hemiparese - Candidiasis mg IV HCV
dextra, babinski (-/+) oral - Inj. Dexametasone 4x5
mg IV Advice dr. Bertha
- Inj kutoin 2x100 mg - Terapi sesuai Sp.S dan
dalam NS 100 cc Sp.PD
- Inj. Citicoline 3x500 mg IV - Persiapan ARV 27/2/19
- In. PCT 3x1 gr IV (k/p) - Prx CD4, IgG, IgM anti
- Konsul Sp.PD dan Sp.P toxo
- MST 2x1
FOLLOW UP (20/2/2019)
S O A P
Nyeri kepala TSS, CM GCS E4V5M6 - SOL Advice dr. Devi Sp.PD
berkurang TD 110/60 mmHg, HR dd/toxoplasm - Terapi lanjut
87x/menit RR 20x/menit T
(+),lemah 36,3C SaO2 99%
osis
Advice dr. Hari Sp.S
anggota gerak CA -/- SI -/- pupil isokor encephalitis - Px toxoplasma
kanan(+), mual Bj I-II reguler murmur (-) - B20 + infeksi - Lain-lain teruskan
(-), muntah (-), gallop (-) oportunistik - KIE keluarga
kejang (-) Vesikuler +/+ rh-/- wh -/- - TB paru on
BU (+) normal supel OAT
Akral hangat +/+ crt
<3detik edema -/-
- Candidiasis
Motorik 3333/5555 sup/inf oral
babinski (-/+)
FOLLOW UP (21/2/2019)
S O A P
Gatal-gatal (+) TSS, CM GCS E4V5M6 - SOL Advice dr. Devi Sp.PD
di, nyeri kepala TD 100/70 mmHg, HR dd/toxoplasm - Terapi lanjut
83x/menit RR 20x/menit T - Cetirizine 1x10 mg
berkurang (+), 36,3C SaO2 99%
osis
- Diit bubur
lemah anggota CA -/- SI -/- pupil isokor encephalitis
gerak kanan (+), Bj I-II reguler murmur (-) - B20 + infeksi Advice dr. Ismi Sp.S
kejang (-) gallop (-) oportunistik - Dexametasone tapp off besok 3x5 mg IV (per
Vesikuler +/+ rh-/- wh -/- - TB paru on 3 hari)
BU (+) normal supel OAT - Fisioterapi
Akral hangat +/+ crt - Therapi lain lanjut
<3detik edema -/-
- Candidiasis
Motorik kesan hemiparese oral Advice dr. Bertha
dextra, babinski (-/+) - Teruskan
- Rencana ARV 27/2/19
- Prx CD4
FOLLOW UP (22/2/2019)
S O A P
Gatal-gatal (+) TSS, CM GCS E4V5M6 - Toxoplasmosi Advice dr. Devi Sp.PD Advice dr. Theresia Sp.
sulit BAB, nyeri TD 100/70 mmHg, HR s encephalitis - Konsul Sp.KK KFR
88x/menit RR 20x/menit T - Microlax supp 0-0-1 - Latih ROM
kepala (-), 36,3C SaO2 99%
- B20 + infeksi
- Mobilisasi bertahap
tangan dan kaki CA -/- SI -/- pupil isokor oportunistik Advice dr. Ismi Sp. S
kanan lebih bisa Bj I-II reguler murmur (-) - TB paru on - Dexametasone 3x5 mg
digerakkan dari gallop (-) OAT (turun per 3 hari)
sebelumnya (+), Vesikuler +/+ rh-/- wh -/- - Candidiasis - MST k/p sakit kepala
kejang (-) BU (+) normal supel oral - Citicoline 2x500 mg
Akral hangat +/+ crt - Therapi lain lanjut
<3detik edema -/-
- Hiponatremia
- CT scan kepala + kontras
Motorik 3333/5555 sup/inf
babinski (-/+) Advice dr. Bertha
- Therapi sama
- Persiapan ARV 27/2/19

Lab 22/2/19 Advice dr. Fajriwan Sp.P


Ureum 28,5 - Terapi lanjutkan
Kreatinin 0,72
FOLLOW UP (23/2/2019)
S O A P
Tangan dan kaki TSS, CM GCS E4V5M6 - Toxoplasmosi Advice dr. Maula Sp.S
kanan lemas TD 100/70 mmHg, HR s encephalitis - Terapi lanjutkan
88x/menit RR 20x/menit T - Menunggu CT scan
(+), Kejang (-), 36,3C SaO2 99%
- B20 + infeksi
nyeri kepala (-), CA -/- SI -/- pupil isokor oportunistik Advice dr. Devi Sp.PD
demam (-) Bj I-II reguler murmur (-) - TB paru on - Terapi lanjut
gallop (-) OAT
Vesikuler +/+ rh-/- wh -/- - Candidiasis
BU (+) normal supel oral
Akral hangat +/+ crt
<3detik edema -/-
Motorik 3333/5555 sup/inf
babinski (-/+)
PEMERIKSAAN LABORATORIUM
Laboratorium
(23/2/19)
Hasil Nilai normal Interpretasi
CD4 82 410-1590 sel/µL MENURUN
CD4% 6,0 31-60% MENURUN
SEROLOGI/IMUNOLOGI
TOXO IgM 0,36 Non reaktif <0,50 NON REAKTIF
Grayzone 0,50-0,59
Reaktif > 0,60
TOXO IgG 589,2 Non reaktif < 1,6 REAKTIF
Grayzone 1,6-3,0
Reaktif > 3,0
Rubella IgM 0,21 Non reaktif <1,2 NON REAKTIF
Grayzone 1,2 -1,59
Reaktif > 1,6
Rubella IgG 29,0 Negatif <0,9 POSITIF
Equivocal 0,9-1,1
Positif > 1,1
CMV IgM 0,12 Non reaktif <0,85 NON REAKTIF
Grayzone 0,85-0,99
Reaktif > 1
CMV IgG 833,5 I REAKTIF
FOLLOW UP (24/2/2019)

S O A P
Tangan dan kaki TSS, CM GCS E4V5M6 - Toxoplasmosi Advice dokter jaga
kanan lemas (+) TD 100/70 mmHg, HR s encephalitis - Therapi lanjut
88x/menit RR 20x/menit T
sulit BAB, nyeri 36,3C SaO2 99%
- B20 + infeksi
kepala (-), CA -/- SI -/- pupil isokor oportunistik
tangan dan kaki Bj I-II reguler murmur (-) - TB paru on
kanan lebih bisa gallop (-) OAT
digerakkan dari Vesikuler +/+ rh-/- wh -/- - Candidiasis
sebelumnya (+), BU (+) normal supel oral
Akral hangat +/+ crt
kejang (-) <3detik edema -/-
- Hiponatremia
Motorik 3333/5555 sup/inf
babinski (-/+)
FOLLOW UP (25/2/2019)
S O A P
Tangan dan kaki TSS, CM GCS E4V5M6 - Toxoplasmosi Advice dr. Siti Solikhah Sp.P
kanan lemas (+) TD 100/70 mmHg, HR s encephalitis Terapi lanjut
88x/menit RR 20x/menit T
Nyeri kepala (-), 36,3C SaO2 99%
- B20 + infeksi
Advice dr. Hari Sp.S
kejang (-) CA -/- SI -/- pupil isokor oportunistik Terapi lanjut
pasien ingin Bj I-II reguler murmur (-) - TB paru on KIE keluarga
pulang gallop (-) OAT Raber dr. Bertha
Vesikuler +/+ rh-/- wh -/- - Candidiasis
BU (+) normal supel oral Advice dr. Bertha
Akral hangat +/+ crt - Persiapan ARV 27/2/19
<3detik edema -/-
- Hiponatremia
- CD4 82 (6%)
Motorik 3333/5555 sup/inf - Usul primet load
babinski (-/+) - Clindamycin

Advice dr. Devi Sp.PD


Terapi lanjut
CT SCAN KEPALA KONTRAS
(25/2/19)
DIAGNOSA

DIAGNOSA DIAGNOSA DIAGNOSA DIAGNOSA


KLINIS TOPIS ETIOLOGIS KERJA

HEMIPARESE LESI INFEKSI - HEMIPARESE


DEXTRA, SUBKORTEKS DEXTRA,
CEPHALGIA CEPHALGIA EC.
TOXOPLASMOSIS
ENCEPHALITIS
- TB PARU ON OAT
- HIV/AIDS (B20) +
INFEKSI
OPORTUNISTIK
- CANDIDIASIS ORAL
TINJAUAN PUSTAKA
DEFINISI

Ensefalitis Toksoplasmosis
Infeksi Oportunistik  Penyakit yang disebabkan oleh
 Infeksi oleh patogen yang infeksi protozoa Toxoplasma gondii
biasanya tidak bersifat invasif didalam sist saraf manusia.
namun dapat menyerang tubuh  Parasit intraseluler yang
saat kekebalan tubuh menurun, menyebabkan infeksi asimptomatik
seperti pada orang yang terinfeksi pada 80% manusia sehat, tetapi
HIV/AIDS menjadi berbahaya pada penderita
HIV/AIDS
Agarwal, S.G., Powar, R.M., Tankhiwale, S., Rukadikar, A. Study of apportunistic infections in HIV-AIDS
patients and their co-relation with CD4+ cell count. Int J Curr Microbial App Sci. 2015; 4(6): 848-61
EPIDEMIOLOGY

>70 juta orang terinfeksi


HIV dan sekitar 35 juta
orang meninggal dunia
karena HIV.

Ensefalitis
toksoplasmosis  angka
kematian yang sangat
tinggi
KLASIFIKASI

HISTOPLASMOSIS
PNEUMONIA KANDIDIASIS
PNEUMOCYSTIS MUKOKUTANEUS

ENSEFALITIS DIARE KRIPTOSPORID


OKSOPLASMOSIS

CYTOMEGALOVIRUS (CMV)
TUBERCULOSIS

Agarwal, S.G., Powar, R.M., Tankhiwale, S., Rukadikar, A. Study of apportunistic infections in HIV-AIDS
patients and their co-relation with CD4+ cell count. Int J Curr Microbial App Sci. 2015; 4(6): 848-61
ETIOLOGY

Transmisi Toxoplasma gondii  melalui


kucing (pejamu definitif)
Ookista dieksresikan melalui kotoran
kucing  infeksius  menginfeksi pejamu
intermediet melalui tanah, air dan
makanan

Centers for Diseases Control and Prevention. Toxoplasmosis. Available


at: http://www.cdd/parasites/toxoplasmosis/biology.html
PATOFISIOLOGI
1.Th1 (eliminasi patogen
Target utama HIV  intraseluler, autoimunitas 1.Th2 (respon imun thd
limfosit T  spesifik organ, menghasilkan
sitokin IFN-Y) 
parasit ekstraseluler,
(imunodefisiensi) dan
menginduksi berbagai
(imunosupresi)  rentan meningkatkan aktivitas
fagositik makrofag dan sel penyakit alergi)
infeksi oportunistik
mikroglial.

Th folikuler (berinteraksi T regulatori 1.Th17 (pertahanan pejamu


dengan sel B spesifik antigen (mmpertahankan melawan patogen ekstraseluler
pd jar. Limfoid sekunder, toleransi imunologis seperti bakteri dan jamur,
mempertahankan integritas sawar
meningkatkan afinitas terhadap antigen, epitel usus)  mengganggu
antibody, maturasi dan menurunkan respon integritas mukosa usus 
diferensiasi sel B jadi sel imun setelah patogen meningkatkan permeabilitas produk
memori dan sel palsma mikroba  mudah infeksi
tereliminasi)

Okoye, A.A., Picker, L.J., CD4+ T cell depletion in HIV infection: mechanisms of immunological failure.
Immunol Rev. 2013; 254(1): 54-64
PATOFISIOLOGI

Penghancuran oleh
HIV

Terganggunya produksi
limfosit T

Efek bystander dari


pembetukan sinsitium
Limfosit CD4+ ↓↓↓↓
Perubahan
permeabilitas membran
Imunodefisiensi dan Normal CD4+ 500-
imunosupresi 1600 sel/μL darah
Disfungsi mitokondria

Rentan terhadap
Penghancuran oleh sel
infeksi oportunistik
CD4+ <200 sel/μL 
T sitotoksi spesifik HIV
hampir seluruhnya
terkena IO
Okoye, A.A., Picker, L.J., CD4+ T cell depletion in HIV infection: mechanisms of immunological failure.
Immunol Rev. 2013; 254(1): 54-64
CLINICAL MANIFESTATIONS

HEADACHE FEVER
1 Gejala utama 50%
4 Gejala utama 40-50%

CONFUSION AND DROWSINESS SEIZURES


2 Gejala penyerta 20%
5 Focal atau generalized seizures 15-30%

MOTOR WEAKNESS LANGUAGE DISTURBANCE DEVELOP


3 Hemiplegi atau hemiparese gejala utama 75%
6 Speech disturbance

Guidelines for Prevention and Treatment of Opportunistic Infections inHIV-Infected Adults and
Adolescents. Recommendations from CDC, the National Institutes of Healths, and the HIV Medicine
Association of the Infectious Diseases Society of America. 2009/ vol. 58
DIAGNOSIS

Diagnosis presumtif  gejala klinis neurologi + nilai CD4+


<200sel/μL
CT scan contrast is the first line for imaging due to speed
and availability  multiple ring enhancing lesions
MRI more sensitive
Serology  IgG and IgM toxoplasma  IgG (+) dan IgM (-
). Titer puncak IgG dalam 1-2 bulan setelah infeksi
Lumbar puncture  CSF glucose typically normal with
raised protein in around 50%, detected PCR (polyemrase
chain reaction)
Brain biopsy  CT guided needle biopsy  detection
laboratories  multiple basophilic dot-like parasites can be
seen in cysts
TREATMENT

Guidelines for Prevention andTreatment of


Opportunistic Infections in HIV-Infected Adults and
Adolescents. 2017 Available at
http://aidsinfo.nih.gov/guidelines
TREATMENT

Guidelines for Prevention


andTreatment of Opportunistic
Infections in HIV-Infected Adults and
Adolescents. 2017 Available at
http://aidsinfo.nih.gov/guidelines
TREATMENT

ADJUVANT THERAPY
Steroids  not be used routinely  is a severe mass effect
 dexametasone start 2-4 mg every 6 hours and tappering
off of days-weeks. Guidelines for Prevention and Treatment of Opportunistic
Infections inHIV-Infected Adults and Adolescents.
Anticonvulsants  should be administered who have Recommendations from CDC, the National Institutes of
Healths, and the HIV Medicine Association of the
history of seizures  profilaksis (-) Infectious Diseases Society of America. 2009/ vol. 58
PREVENTIF

Guidelines for Prevention


andTreatment of Opportunistic
Infections in HIV-Infected Adults
and Adolescents. 2017 Available
at
http://aidsinfo.nih.gov/guidelines
PREVENTION

Preventing recurrence
1. Patients should be advised not to eat
1. Patients who have completed initial
undercooked red meat or raw
therapy for TE should be
shellfish, to wash their hands after
administered lifelong suppresive
handling soil and not to change cat
therapy
litter trays
2. Combination of pyrimethamine +
2. Cotrimoxazole prophylaxis for PCP
sulfadiazine + leucovorin is highly
can provide some primary protection
effective as suppressive therapy for
against toxoplasmosis
patients with TE

Guidelines for Prevention and Treatment of Opportunistic Infections inHIV-Infected Adults and
Adolescents. Recommendations from CDC, the National Institutes of Healths, and the HIV Medicine
Association of the Infectious Diseases Society of America. 2009/ vol. 58
PROGNOSIS

- Angka harapan hidup 5 tahun meningkat mulai dari


7% pada masa pre-ART, menjadi 18% pada masa
ART awal, hingga mencapai 65% pada masa ART
kombinasi yang efektif.
- Pemberian ART dapat menurunkan risiko infeksi
oportunistik (IO) dan sebaliknya pemberian
kemoprofilaksis dan vaksinasi spesifik IO dapat
membantu menurunkan kecepatan perkembangan
HIV dan meningkatkan angka harapan hidup

Masur, H., Read, S.W., Opportunistic infections and mortality: still room for improvement. J
Infect Dis. 2015; 212(9): 1348-50
PEMBAHASAN
MENGAPA PASIEN DIDIAGNOSA
TOXOPLASMOSIS ENCEPHALITIS?

ANAMNESIS
Demam sejak 2 minggu SMRS, Nyeri kepala sejak 7 hari SMRS,
kelemahan anggota gerak kanan dan kejang fokal sejak 3 hari
SMRS.

PEMERIKSAAN
PEMERIKSAAN FISIK PENUNJANG
Kesadaran apatis GCS E4M5V3 CT scan kepala non kontras
Motorik 3333/5555 superior dan didapatkan lesi hiperdens ringan
inferior dengan perifokal oedema pada vertex
Refleks patologis babinski (-/+) cerebri kanan-kiri.
Chaddock (-/+) CT scan kepala kontras didapatkan
kesan terdapat multiple ring
MENGAPA PASIEN DIDIAGNOSA HIV/AIDS
(B20)?

ANAMNESIS
Riwayat NAPZA suntik 10 th lalu, riwayat hubungan seksual
sesama jenis 2 th lalu

PEMERIKSAAN
PEMERIKSAAN FISIK PENUNJANG
Didapatkan tanda-tanda infeksi Laboratorium HIV rapid reaktif
oportunistik yang menunjang ke arah CD4+  82 sel/µL
diagnosis
BAGAIMANAPENATALAKSANAAN PADA
PASIEN INI?

TOXOPLASMOSIS
ENCEPHALITIS

Terapi sudah sesuai dengan Guideline. Pasien sudah diberikan terapi profilaksis
primer dengan pilihan obat dan dosis yang tepat. Pemberian terapi adjuvant sudah
sesuai.

HIV/AIDS (B20)

Terapi rencana ARV diberikan minimal 2 minggu setelah pengobatan TB (infeksi


oportunistik yang pertama diobati)  rencana terapi sudah sesuai
BAGAIMANA PROGNOSIS PADA PASIEN
INI?

QUO AD VITAM
DUBIA AD BONAM

QUO AD FUNCTIONAM
DUBIA AD BONAM

QUO AD SANATIONAM
DUBIA AD BONAM
REFERENCES
1. Agarwal, S.G., Powar, R.M., Tankhiwale, S., Rukadikar, A. Study of apportunistic
infections in HIV-AIDS patients and their co-relation with CD4+ cell count. Int J
Curr Microbial App Sci. 2015; 4(6): 848-61
2. Okoye, A.A., Picker, L.J., CD4+ T cell depletion in HIV infection: mechanisms of
immunological failure. Immunol Rev. 2013; 254(1): 54-64
3. Guidelines for Prevention and Treatment of Opportunistic Infections inHIV-Infected
Adults and Adolescents. Recommendations from CDC, the National Institutes of
Healths, and the HIV Medicine Association of the Infectious Diseases Society of
America. 2009/ vol. 58
4. Centers for Diseases Control and Prevention. Toxoplasmosis. Available at:
http://www.cdd/parasites/toxoplasmosis/biology.html
5. Masur, H., Read, S.W., Opportunistic infections and mortality: still room for
improvement. J Infect Dis. 2015; 212(9): 1348-50
6. Guidelines for Prevention andTreatment of Opportunistic Infections in HIV-Infected
Adults and Adolescents. 2017 Available at http://aidsinfo.nih.gov/guidelines