Sunteți pe pagina 1din 18

RHINITIS ALERGI

RADITYA KARUNA LINANDA 102016046


SKENARIO 2

Seorang perempuan berusia 20 tahun datan dengan keluhan pilek


ANAMNESIS

• Pilek sejak 1 bulan, setiap hari, sudah sering kecil


• Ayah pasien juga sering pilek dulunya
• Tersumbat ketika malan hari
• Ada lendir berwarna kunging dan encer
• Terdapat bersin terutama malam hari
PEMERIKSAAN FISIK

• Telinga: membrane timpani retraksi +|+


• Hidung: konka pucat +|+, secret +|+ dan encer
PEMERIKSAAN PENUNJANG

• In Vitro: • In Vivo:
• Hitung eosinofi dalam darah • Skin End-point Titration
• Pemeriksaan IgE total • Intracutaneus Procative Diutional
• Pemeriksaan sitologi hidung Food Test
ANATOMI HIDUNG
DIFFERENTIAL DIAGNOSIS

• Rhinitis simpleks • Rhinitis Vasomotor

• Penyebabnya ialah beberapa jenis virus • Pada rhinitis vasomotor, gejala sering
serperti rhinovirus.,myxovirus, virus dicetuskan oleh berbagai rangsangan non-
coxsackie dan virus ECHO spesifik
• Timbul bersin berulang-ulang, hidung • Kelainan ini memiliki gejala yang mirip
tersumbat dan ingus encer, yang biasanya dengan rhinitis alergi namun gejala yang
disertai dengan demam dan nyeri kepala. dominan adalah hidung tersumbat,
Mukosa hidung tampak merah dan bergantian kiri dan kanan, tergantung pada
membengkak posisi pasien.

• Tidak ada terapi spesifik untuk rhinitis


• Tatalaksana rhinitis vasomotor adalah
dengan menghindari stimulus/faktor
simpleks, selain istirahat dan pemberian obat-
pencetusnya, serta memberikan obat-obat
obat simtomatis
simtomastis,
WORKING DIAGNOSIS

• Rhinitis Allergi
• Rinitis alergi adalah penyakit inflamasi yang disebabkan oleh reaksi alergi pada pasien atopi yang
sebelumnya sudah tersensitisasi dengan alergen yang sama serta dilepaskannya suatu mediator
kimia ketika terjadi paparan ulangan dengan alergen spesifik tersebut (Von Pirquet, 1986).
Definisi menurut WHO ARIA (Allergic Rhinitis and its Impact on Asthma) tahun 2001 adalah
kelainan pada hidung dengan gejala bersin-bersin, rinore, rasa gatal dan tersumbat setelah
mukosa hidung terpapar alergen yang diperantarai oleh IgE.
EPIDEMIOLOGI

Prevalensi rinitis di dunia saat ini mencapai 10-25% atau lebih dari 600 juta penderita dari
seluruh etnis dan usia. Di Amerika Serikat, lebih dari 40 juta warganya menderita rhinitis
alergi. Rinitis alergi pada anak lebih sering terjadi pada anak laki-laki dibandingkan anak
perempuan, sedangkan pada dewasa prevalensi rinitis alergi laki-laki sama dengan
perempuan. Sekitar 80% kasus rhnitis alergi berkembang mulai usia 20 tahun. Insidensi rinitis
alergi pada anak-anak 40% dan menurun sejalan dengan usia.Di Indonesia belum ada angka
yang pasti, tetapi di Bandung prevalensi rinitis alergi pada usia 10 tahun ditemukan cukup
tinggi (5,8%).
ETIOLOGI

• Berdasarkan cara masuknya allergen dibagai menjadi


• Alergen inhalan,
• Alergen ingestan
• Alergen injektan
• Alergen kontaktan
PATOFISIOLOGI

Pada kontak pertama dengan allergen atau tahap sensitisasi, makrofag atau monosit yang berperan sebagai
sel penyaji (Antigen Presenting Cell/APC) akan menangkap allergen yang menempel di permukaan mukosa
hidung.
Setelah diproses, antigen akan membentuk fragmen pendek peptide dan bergabung dengan molekul HLA
kelas II membentuk komplek peptide MHC kelas II (Major Histocompatibility Complex) yang kemudian
dipresentasikan pada sel T Helper (Th0). Kemudian sel penyaji akan melepas sitokin seperti interleukin 1
(IL1) yang akan mengaktifkan Th0 untuk berproliferasi menjadi Th1 dan Th2. Th2 akan menghasilakan
berbagai sitokin seperti IL3, IL4, IL5, dan IL13. IL4 dan IL13 dapat diikat oleh reseptornya di permukaan sel
limfosit B, sehingga sel limfosit B menjadi aktif dan akan memproduksi IgE. IgE di sirkulasi darah akan masuk
ke jaringan dan diikat oleh reseptor IgE di permukaan sel mastosit atau basofil (sel mediator) sehingga kedua
sel ini menjadi aktif.
Proses ini disebut sensitisasi yang menghasilkan sel mediator yang tersensitisasi. Bila mukosa yang sudah
tersensitisasi terpapar dengan allergen yang sama, maka kedua rantai IgE akan mengikat allergen spesifik dan terjadi
degranulasi (pecahnya dinding sel) mastosit dan basofil dengan akibat terlepasnya mediator kimia yang sudah
terbentuk (Preformed Mediators) terutama histamine. Selain itu juga dikeluarkan Newly Formed Mediators, antara lain
prostaglandin D2 (PGD2), Leukotrein D4 (LTD4), Leukotrein C4 (LTC4), bradikinin, Platelet Activating Factor (PAF)
dan berbagai sitokin. Inilah yang disebut sebagai reaksi alergi fase cepat (RAFC).2
Histamine akan merangsang reseptor H1 pada ujung saraf vidianus sehingga menimbulkan rasa gatal pada hidung dan
bersin-bersin. Histamine juga akan menyebabkan sel mukosa dan sel goblet megalami hipersekresi dan permeabilitas
kapiler meningkat sehingga terjadi rinorea. Gejala lain dalah hidung tersumbat akibat vasodilatasi sinusoid. Selain
histamine merangsang ujung saraf vidianus, juga menyebabkan rangsangan pada mukosa hidung sehingga terjadi
pengeluaran Inter Cellular Adhesion Molecule 1 (ICAM1).2
Pada RAFC, sel mastosit juga akan melepaskan molekul kemotaktik yang menyebabkan akumulasi sel eusinofil dan
noutrofil di jaringan target. Timbulnya gejala hiperaktif atau hiper responsive hidung adalah akibat peranan eosinofil
dengan mediator inflamasi dari granulnya seperti ECP, EDP, MBP, EPO. Pada fase ini, selain factor spesifik (allergen),
iritasi oleh faktor non spesifik dapat memperberat gejala seperti asap rokok, bau yang merangsang, perubahan cuaca,
dan kelembaban udara yang tinggi.
KLASIFIKASI

• Klasifikasi rhinitis alergi dibagi mnennjadi


• Rhinitis alergi musiman (hay fever)
• Rhinitis alergi sepanjang tahun (perennial)
GEJALA KLINIS

Awitan gejala timbul cepat setelah paparan allergen dapat berupa bersin, mata atau palatum
yang gatal berair, rinore, hidung gatal, hidung tersumbat. Pada mata dapat menunjukkan gejala
berupa mata merah, gatal, conjungtivitis, mata terasa terbakar, dan lakrimasi. Pada telinga bisa
dijumpai gangguan fungsi tuba, efusi telinga bagian tengah
PENCEGAHAN

• Rhinitis alergi musiman • Rhinitis alergi sepanjang tahun


• Gunakan AC. • Menghindarkan alergen penyebab dapat dicapai dengan
mengisolasi pasien dari alergen,
• Hindari menggunakan kipas angin yang menarik
• Tutupi bantal dan kasur dengan penutup tungau debu.
udara dari luar.
• Singkirkan karpet; langsung ke ubin atau lantai kayu yang
• Untuk mengeringkan bahan cucian Jangan keras. Gunakan karpet dan cuci daerah itu sesering mungkin
menggantungnya di luar. dengan air yang sangat panas.

• Segera setelah Anda dari luar rumah, ganti pakaian • Jauhkan hewan peliharaan dari kamar tidur.
Anda dengan yang (relatif) bebas debu.
TATALAKSANA

• Idealnya adalah dengan menghindari kontak dengan allergen penyebabnya


• Medikamentosa:
• Antihistamain generasi-1 dan generasi-2
• Kortikosteroid dipilih bila gejala terutama sumbatan hidung akibat respons fase lambat tidak
berhasil diatasi
• Antikolinergik topical

• Operatif
• Imunoterapi
KOMPLIKASI

• Polip hidung
• Otitis media efusi yang sering residif terutama pada anak-anak
• Sinusitis paranassa
KESIMPULAN

Rinitis alergi adalah penyakit inflamasi yang disebabkan oleh reaksi alergi pada pasien atopi
yang sebelumnya sudah tersensitisasi. Dimana rhinitis alergi dibagi menjadi rhinitis alergi
musiman dan tahunan. Gejala klinisnya adalah bersin berulang pada pagi hari, keluar ingus
(rinore) yang encer dan banyak, hidung tersumbat, hidung dan mata gatal, yang kadang-
kadang disertai dengan banyak keluar air mata. Tatalaksana pertama untuk rhinitis alergi
adalah dengan menghindari bahan pencetus alergi, setelah itu dapat diberikan obat”an,
operasi, serta immunoterapi.