Sunteți pe pagina 1din 6

Hafizhotun Nisa 1210617021

Mochamad Fahriza 1210617052


Abdul Chaer (2003: 307) : Ketaksaan adalah gejala
kegandaan makna akibat tafsiran gramatikal yang berbeda,
yang umumnya terjadi pada bahasa tulis.

Ambiguitas atau ketaksaan sering diartikan sebagai


kata yang bermakna ganda atau mendua arti. (Anggraeni,
2012, “Semantik Bahasa Indonesia”)
Menurut Abdul Wahab (1995: 108):
a. Kesamaran acuan.
b. Ketidakpastian makna.
c. Kurangnya kekhususan dalam makna suatu butir.
d. Lepasnya hubungan pengkhususan makna butir leksikal.
Menurut Ullmann (dalam Pateda, 2001: 202; Djajasudarma, 1999:
54):
a. Ambiguitas tingkat fonetik.
Contohnya: kapan emas kawinnya?
a. Ambiguitas tingkat leksikal.
Contohnya: anak jaksa Ahmad meninggal.
a. Ambiguitas tingkat gramatikal.
Contohnya: penidur, orang tua, dan pergi!
Chaer (2009:105) menyebutkan redundansi adalah terlebih-
lebih hanya penggunaan unsur sekmental dalam satu bentuk ujaran.
Anggraeni (dalam diktat Semantik Bahasa Indonesia, 2012)
sering mengartikan Redudansi sebagai berlebih-lebihan pemakaian
unsur segmenta dalam suatu bentuk ujaran
Keefektifan suatu kalimat, makna berbeda karena ada penonjolan
pelaku, infomarsi sama saja
Ketegasan suatu makna dan informasi
-Bola ditendang iza
-Bola ditendang oleh iza

-Jagalah kebersihan supaya agar bersih


-Jagalah kebersihan agar bersih

Semantik: kalimat beda, makna pasti berbeda.