Sunteți pe pagina 1din 57

ETIKA MENGGUNAKAN

HEWAN PERCOBAAN DALAM


PENELITIAN KESEHATAN
Prof Dr drh Ida Bagus K. Ardana, ,M.Kes
ANGGOTA KOMISI ETIK PENELITIAN KESEHATAN FK
UNUD
2018

DISAMPAIKAN PADA PELATIHAN ETIK FK UNUD TANGGAL 27 AGUSTUS 2018


PERLU DIBACA
ANIMAL MODEL
• Chapter 5
• Animal Models of Viral Diseases (Other than AIDS)
• Andreas Cerny, Isabelle P. Hunziker, Andreas R. Kammer, Irmgard
Pult, and Olivier B. Engler
• Chapter 6
• Transgenetic Models of Prion Diseases
• Karah Nazor and Glenn C. Telling
• Chapter 7
• Animal Models for the Study of Allergy
• Ricki M. Helm
• Chapter 8
• Animal Models for the Study of Helicobacter Infection
• Akira Nishizono and Toshio Fujioka
ANIMAL MODEL
• Chapter 1
• Animal Models in Vaccinology
• Coenraad F.M. Hendriksen
• Chapter 2
• Animal Models for Human Behavior
• Steven J. Schapiro
• Chapter 3
• Animal Models in Biodefense Research
• Mark A. Suckow, Alexander Vasilenko, and Nikolai Tokarevich
• Chapter 4
• Animal Models in AIDS Research
• K. Jagannadha Sastry and Pramod N. Nehete
ANIMAL MODEL
• Chapter 5
• Animal Models of Viral Diseases (Other than AIDS)

• Andreas Cerny, Isabelle P. Hunziker, Andreas R.


Kammer, Irmgard Pult, and Olivier B. Engler
• Chapter 6
• Transgenetic Models of Prion Diseases
• Karah Nazor and Glenn C. Telling
• Chapter 7
• Animal Models for the Study of Allergy
• Ricki M. Helm
ANIMAL MODEL
• Chapter 8
• Animal Models for the Study of Helicobacter
Infection
• Akira Nishizono and Toshio Fujioka
• Chapter 9
• Animal Models for Tropical Parasitic Diseases
• Idle O. Farah, Maina Ngotho, Thomas Kariuki,
Maamun Jeneby, Lawrence Irura, Naomi Maina,
John Kagira, Michael Gicheru, and Jann Hau
ANIMAL MODEL
• Chapter 10
• Animal Models for Muscular Disorders
• Dominic J. Wells

ANIMAL MODEL
• Chapter 11
• Animal Models for Otolaryngological Disorders
• Douglas A. Ross, Jagdeep S. Hundal, Clarence T. Sasaki, Jagdeep S.
Hundal, Linda Bartoshuk, Joseph Santos-Sacchi, and Ilsa R. Schwartz
• Part I: The Nose and Sinuses
• Douglas A. Ross and Jagdeep S. Hundal
• Part II: The Larynx
• Clarence T. Sasaki and Jagdeep S. Hundal
• Part III: Taste
• Linda Bartoshuk
• Part IV: Animal Research in Peripheral Auditory Physiology 255
• Joseph Santos-Sacchi
• Part V: Animal Models of Hearing Loss — The Central Auditory System

• Ilsa R. Schwartz
ANIMAL MODEL
• Chapter 13
• Animal Models for the Study of Pulmonary
Edema
• Göran Hedenstierna and Claes Frostell
PEMANFAATAN HEWAN PERCOBAAN
(drh RITa)

• Penelitian
• Pengembangan Obat dan Vaksin
• Uji coba keamanan, potensi, khasiat dari
obat dan bahan makanan
• Pengembangan diagnostik baru
• Penyedia produk biologis
• Bahan pendidikan (biologi & kedokteran)
PENGGUNAAN HEWAN COBA
Penelitian apa saja ???
1.bidangfisiologi.farmakologi,biokimia,
patologi, komperatif zoologi dan ekologi)
2. Diagnostik
3. Pengamatan tingkah laku hewan
4. Pada balita untuk menguji tingkat
kecerdasan anak.
BABI SEBAGAI HEWAN
COBA
PERKEMBANGAN PEMANFAATAN HEWAN
PERCOBAAN
(Council Report,1989)/ drh. Rita

• Th.1600 : Penemuan sirkulasi darah dan fungsi paru


• Th.1700 : Pengukuran tekanan darah
• Th.1800 : Vaksinasi untuk merangsang kekebalan penyakit menular
• Th.1900 : Penemuan {Ab}; Sistim hormonal
• Th.1920 : Penemuan vitamin; Insulin
• Th,1930 : Mekanisme impulse syaraf; Tumor
• Th.1940 : Perkembangan embrio
• Th.1950 : Aktifitas otot, metabolisme energi, mekanisme pendengaran
• Th.1960 : Penemuan monoklonal [Ab]
• Th.1970 : Fungsi otak; transplantasi antigen
• Th.1980 : Pengembangan hewan transgenik
• Th.1990 : Manipulasi genetik; kloning
KEBIJAKAN
• Peraturan Perundang-undangan Nasional dan
Internasional

• Komisi Etik Penelitian Kesehatan (KEPK) dan


Komisi Pemanfaatan dan Pemeliharaan Hewan
(KPPH)

• Prinsip Dasar Etik Pelaksanaan Penelitian


Kesehatan yang Memanfaatkan Hewan Percobaan
PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN

• NASIONAL:
– Buku Pedoman Nasional Etik Penelitian
Kesehatan, Depkes, edisi 2007 (Kepmenkes
No.1031/Menkes/SK/VII/2005)

• INTERNASIONAL:
– Deklarasi Helsinki, 2000 butir 11 dan 12
Deklarasi Helsinki : ’Ethical Principles for
Medical Research Involving Human Subjects’
butir 11 dan 12 (World Medical Association)
Butir 11
• Penelitian kesehatan yang
mengikutsertakan manusia sebagai
subyek penelitian harus memenuhi
prinsip ilmiah (scientifically sound) .
berdasarkan  kepustakaan ilmiah,
percobaan di laboratorium; dan
dilakukan percobaan pada hewan (bila
diperlukan)
Butir 12
• Keberhati-hatian (caution) yang wajar
harus diterapkan pada penelitian yang
dapat mempengaruhi lingkungan
maupun kesejahteraan hewan yang
digunakan dalam penelitian, dan harus
dihormati (Respect)
respect for animal
DEKLARASI HELSINKI 1964

Disepakati oleh World Medical Association


(WMA) di kota Helsinki tahun 1964 dengan
nama :Ethical Principles for Medical Resarch
Invoving human Subject.
Deklarasi Helsinki diakui sebagai dekomun
utama fundamental dibidang etik penelitian
kesehatan serta memberi pedoman kepada
dokter yg melakukan penelitian kesehatan
klinik dan non-klinik.
Kriteria Penelitian melibatkan manusia
sebagai subjek

 Pengembangan zat atau alat baru tidak


boleh langsung pada manusia (final tube
test), kecuali bila sebelumnya telah diuji
pada hewan coba terlebih dahulu dan
diperoleh kepastiannya mengenai potensi
dan keamanannya (semi final tube test)
CATATAN
HEWAN BUKAN MANUSIA
(Animals are not Human)

TIDAK MEMANUSIAKAN HEWAN

(Do not humanize animals, instead treat


animals humanely)
TIDAK

PROF DONDIN SAYUTI


Transport babi Unwelfare

Wisnu Wardana,2017
PRINSIP DASAR ETIK PELAKSANAAN
PENELITIAN KESEHATAN YANG
MEMANFAATKAN HEWAN
PERCOBAAN
• 3 Pilar Prinsip Penelitian:
– Respect, Beneficence, Justice
• Prinsip Pemanfaatan Hewan: 3R
– Reduction, Replacement, Refinement
• Prinsip Pedoman Internasional dalam
Pemanfaatan Hewan Ketidak nyamanan,
Ketidak senangan, Kesusahan, Rasa
nyeri dan kematian
Tiga pilar Prinsip Etik Penelitian
1. Respect for Animals : Setiap peneliti yg
menggunakan hewan coba harus menhormati
hewan percobaan tersebut
2. Beneficence : Bermanfaat bagi manusia dan
mahluk lain
3. Justice : bersikap adil dalam memanfaatkan
hewan percobaan.
Justice
Contoh sikap tidak adil :
Hewan di bedah berulangkali untuk
menghemat jumlah hewan percobaan
Memakai euthanasia yg menimbulkan rasa
nyeri karena harganya lebih murah
Prinsip Etik Penggunaan Hewan Coba:
3R
1. Reduction : Penggunaan hewan dalam jumlah
sekecil mungkin tetapi memberikan hasil
penelitian yg sahih.
2. Replacement :
 Relatif : mengganti hewan percobaan dg memakai
organ,jaringan hewan dari rumah potong, atau dr orde yg lebih
rendah
 Absolut : mengganti hewan percobaan dg memakai kultur sel
jaringan/tissu culture, program computer
3. Refinement : mengurangi rasa distress dg memakai obat analgetik,
sedativa,anastesi. Atau dg melakukan procedur secara benar oleh
tenaga ahli tehnisi yg terlatih.
III. Prinsip Etik Pemeliharaan/Perlakuan
terhadap Hewan Percobaan : 5F (Freedom).
1. Freedom for hungger dan thirst

 Tikus :
PAKAN
 Kandungan nutrisi Jenis pakan tikus:
Protein : 20 – 25%, Lemak : 5% Pati : 45-50%
Serat Kasar : 5 %
Abu : 4-5%
Vitamin (A: 4.000 IU/Kg, D:1.000 IU/Kg, E : 30 mg/kg, pa
pantotenat : 8 mg/Kg, B1 : 4 mg/kg,B6 : 3 mg/Kg, B12:
50 mg/Kg, biotin : 10 Ug/Kg, piridoksin : 40-300 Ug/Kg
kolin : 1.000 mg/Kg dan asam linoleat : 3 g/Kg).
 Jenis pakan : Pakan ayam petelur, Pakan tikus dll
 Jumlah makan : 12 grm- 20 gram /hari.
MINUM : Add libitum
1. Freedom for hungger dan thirst
 MENCIT
1. Pakan : Kandungan nutrisi : prot : 20-25 %,
lemak : 10-12%, pati : 45-55 %, Serat kasar :.
Max 4%, Abu : 5-6%. Plus vit A :15.000-20.000
IU/Kg, Vit D: 5.000 IU/kg,Vit E :50 mg/kg,
Asam linoleat : 5-10 g/kg, B1 : 15-20 mg/kg,
vit.B12 : 30 ug/kg dll.
2. Jumlah yg dimakan : 3 g- 5 g per hari.
1. Freedom for hungger dan thirst
Marmut
Pakan : sayuran Plus Vit. C tinggi dan vit
lainnya.dan Serat Kasar 10x lipat dari mkn
hewan lain., asam amino arginin, sistin,dan
metionin.
Komposisi : protein :17-20%, lemak 3-4%, pati :
35-40%, serat kasar : 30 -35% dan Abu : 4-5%-
Jumlah mkn : 20 g – 35 g per hari.
1. Freedom for hungger dan thirst
 Kelinci
Babi
Anjing dan kucing
Ayam dan Itik
.
2.FREEDOM from pain,injury,diseases (bebas
dari rasa nyeri, trauma dan penyakit, )
Caranya :
1) Program promotif
2) Pencegahan penyakit : bioskuriti,vaksinasi
dan medikasi (obat cacing, antibiotik dll)
3) Pengobatan : sesuai penyakitnya
4) Meminimalkan rasa nyeri : analgesik,
anasthesia dan euthanasia
Analgesia dan Anasthesia
o Analgenia :
Xylazin : 1). Mencit dan Tikus : 4-8 mg/kg
bb IM, 10 mg/kg bb IP.
2). Kelinci : 1-5 mg/kg bb IM,SC
3). Satwa primata : 1-2 mg/kg bb IM.
4). Marmut : 3-5 mg/kg bb IM, 5 mg/kg bb IP
Analgesia dan Anasthesia
o Anasthesia
1. Ketamine :
Mencit : 100 – 200 mg/kg bb IP,
200 mg/kg bb IM
Tikus : 44 – 100 mg/kg bb IM,
75 mg/kb bb IP
Marmut : 100- 200 mg/kg bb IM
Kelinci : 44- 50 mg/kg bb IM
Satwa Primata : 20-25 mg/kgbb IM
Analgesia dan Anasthesi
• 2. Kombinasi Ketamine –xylazine:
Mencit : 90-120mg/kg bb (K) IM, 10 mg/kg bb
(X) IM
Tikus : 40-80 mg/kg bb (K) IP
dan 5-10 mg/kg bb (X) IP
Marmut : 40 mg/kg bb (K) IM,
5mg/kgbb (X) SC
Kelinci : 35 mg/kgbb (K)IM ,5mg/kgbb(X)IM
Primata : 10mg/kgbb (K)IM,0,5mg/kgbb(X)IM
EUTHANASIA HEWAN PERCOBAAN
Ada 3 cara euthanasia yg dianjurkan :
 Metode fisik
Metode inhalasi obat bius
Metode Suntikan obat bius
Metode fisik
• Terhadap hewan kecil dianjurkan :
1. Cervical dislocation
2. Suntik dg udara ke dalam pembuluh darah
dosis pd kelinci 5- 10 ml/kg bb
3. Electrokusi : untuk hewan besar.
Metode Kimiawi
• Prinsip menggukanan anasthesia dg dosis 3 x
lipat
EUTHANASIA
• Rodensia :
1. Barbiturate ( diterima)
2. ether (diterima dg syarat)
3. Anasthetikum per inhalasi (diterima)
• Satwa primata :
1.barbitirate (diterima)
2. Anastetikum per inhalasi (diterima dg syarat
• Babi :
1, barbiturate (diterima)
2. Anastetikum per inhalasi
3. Freedom from discomfort (ketidak
senangan)
• Caranya : membuatkan kandang dengan ukuran
yang sesuai dg lingkungan yg nyaman sebagai
tempat tinggal. Seperti suhu: … , kelembaban :
….. Lampu penerangan :…, ventilasi, ….kebersihan
kandang ….. dll
1. Kandang tikus :
2. Mencit : …
3. Kelinci :…
4. Marmut :….
Table Recommended Dry-Bulb Macroenvironmental
Temperatures for Common Laboratory Animals

Dry-Bulb
Animal Temperature
oC oF

Mouse, rat, hamster, gerbil, guinea pig 20-26 68-79


Rabbit 16-22 61-72
Cat, dog, nonhuman primate 18-29 64-84
Farm Animal, poultry 16-27 61-81

Prof dondin sayuti


Free from discomfort

vs

Prof Dondin Sayuti


4. Freedom from Fear and Distres
(ketakutan dan kesusahan)
• Caranya :
1. Memberi kondisi (lingkungan, perlakuan)
kandang yg nyaman.
2. memberikan masa adaptasi dan latihan
sebelum diberiperlakuan.
3. Personil menangani hewan coba yang
profesional
5. Express Natural behavior
(Mengekspresikan tingkah laku alami)
• Memberikan ruang dan fasilitas yg sesuai
(pengayaan lingkungan yg sesuai dg biologi dan
tingkah laku species) : mencari mkn, .dll
• Memberikan sarana untuk kontak sosial (bagi
species yg bersifat sosial) : pengandangan
berpasangan atau berkelompok. Memberikan
kesempatan untuk prooming, mating, bermain dll
• Program pengayaan lingkungan (environmental
dan Enrichment).
Group housing when
ever possible

Enrichment devices for Nesting materials


rodents: Igloo, nest etc.

Human interactions

Enrichment
Devices for NHP

Prof dondin sayuti


Natural behavior of burrowing & hiding
PERILAKU BABI
The Council for International Organizations of
Medical Sciences (CIOMS, 1985)
Menetapkan :
 ‘INTERNATIONAL GUIDING PRINCIPLES FOR BIOMEDICAL
RESEARCH INVOLVING ANIMAL’

11 Prinsip Pedoman Internasional


penelitian kesehatan yang
memanfaatkan hewan coba
11 PRINSIP
1. Kemajuan ilmu, pengembanagn pengobatan
(manusia dan hewan)  memanfaatkan hewan percobaan.

2. Model matematika, simulasi komputer dan penggunaan


jaringan biologis (in-vitro) bisa digunakan apabila diperlukan.

3. Pemanfaatan hewan percobaan dilakukan, jika memang bermanfaat


untuk kepentingan kesehatan manusia, dan kemajuan ilmu
kedokteran atau ilmu hayati.

4. Spesies hewan percobaan yang digunakan : harus tepat, jumlah


minimal, kualitas baik.
5. Perlakukan hewan percobaan sebagai hewan yang
mempunyai perasaan.

6. Mekanisme perawatan dengan baik  gunakan teknik


yang sesuai  menyenangkan / tidak menimbulkan stress, dan
rasa nyeri.

7. Menyadari bahwa tindakan yang menyebabkan nyeri pada


manusia juga akan menimbulkan nyeri pada hewan percobaan
terutama vertebrata.

8. Perlakuan yang menimbulkan nyeri tidak boleh dilakukan pada


hewan percobaan dalam kondisi tidak di bius walaupun dalam
kondisi paralise.
9. Apabila pada akhir perlakuan / penelitian hewan
percobaan mengalami nyeri yang hebat  harus di
euthanasia.

10. Kondisi lingkunagn hewan percobaan yang


digunakan  harus baik dan dalam pengawasan
dokter hewan atau petugas yang berpengalaman
dan terlatih dalam penanganan hewan percobaan
di laboratorium

11. PI atau Penanggung Jawab laboratorium


yang menggunakan hewan percobaan 
bertanggung jawab atas semua prosedur terhadap
hewan percobaan.
HEWAN MODEL UNTUK
STUDI PENYAKIT
 Struke :
1. Ischemia dan infack otak : babi
2. Hemoragi intrakranial /hemoragi serobral: tikus strain WKY
(hypertensi)
 Arterosklerosis : babi, Unggas, tikus
 Rematoid Artritis : Anjing (lumpuh,poliartritis spontan,
tikus, babi,
 DM : anjing …. DM spontan. Anjing …DM percobaan dg
alloksan 50 mgr/kg, sterptozotocin 30 mg/kg iV… rusak sel
beta pankreas cepat dan efektif. Tikus/mencit obesitas
 Gangguan asam Urat (Gout): primata, burung, reptil,ayam
 Kolesterol : monyet, babi. Tikus tidak cocok.
Penyakit viral
 Dengue : monyet
Influenza : Primata
Herpes : monyet
Virus gastroenteritis : kuda
Hepatitis viral : anjing, primata, bebek,tikus
 Leukemia virus : kucing.
(mitruka,et.al.1976).
Penyakit parasitik dan bakteri
• Ascariasis : Tikus
• Malaria :Unggas
• Salmonellosis : mencit
• Tetanus : mencit