Sunteți pe pagina 1din 28

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Kanker merupakan salah satu penyebab utama mortalitas di dunia (sekitar 13%
dari seluruh penyebab mortalitas), diperkirakan angka mortalitas sekitar 7,9 juta
kematian pada tahun 2007. Di indonesia kanker menempati peringkat keenam
penyebab kematian sesudah infeksi, kardiovaskuler, kecelakaan lalu lintas, defisiensi
nutrisi, dan penyakit kongenital. Kanker kolorektal merupakan salah satu jenis kanker
yang terjadi pada mukosa kolon di mana penyakit ini mempunyai angka morbiditas
dan mortalitas yang tinggi (Kedokteran et al., 2014).
Letak kanker kolorektal paling sering terdapat pada kolon rektosigmoid. Keluhan
pasien karena kanker kolorektal tergantung pada besar dan lokasi dari tumor.
Keluhan dari lesi yang berada pada kolon kanan dapat berupa perasaan penuh di
abdominal, symptomatic anemia dan perdarahan, sedangkan keluhan yang berasal
dari lesi pada kolon kiri dapat berupa perubahan pada pola defekasi, perdarahan,
konstipasi sampai obstruksi (Ii, 2002).
Mengkonsumsi makanan berlemak, kurang sehat, maupun yang telah diproses
(seperti diawetkan, diasinkan, dan diasap) dapat menyebabkan frekuensi penyakit
kanker usus besar terus meningkat dan kasusnya mendekati kejadian di negara
maju (Namun & Usus, 2010). Pada kebanyakan kasus kanker, terdapat variasi
geografik pada insiden yang ditemukan, yang mencerminkan perbedaan sosial
ekonomi dan kepadatan penduduk, terutama antara negara maju dan berkembang.
Data World Health Organization (WHO) tahun 2008 menempatkan kanker kolorektal
pada urutan keempat setelah kanker paru, kanker lambung dan kanker hati sebagai
penyebab kematian akibat kanker dengan 608.000 kematian.
Di Indonesia sudah mulai banyak data mengenai angka kejadian Kanker
kolorektal (Kedokteran et al., 2014). Menurut Profil Kesehatan Indonesia tahun 2008,
kanker kolorektal di Indonesia berada pada peringkat 9 dari 10 peringkat utama
penyakit kanker pasien rawat inap di seluruh rumah sakit di Indonesia dengan jumlah
kasus sebanyak 1.810 dengan proporsi sebesar 4,92% (Dini, Penat, Kolon, Rektum,
& Zohori, 1986).

1
1.2 Tujuan
1. Dapat mengetahui definisi ca colon
2. Dapat mengetahui etiologi ca colon
3. Dapat mengetahui faktor-faktor berkembangnya infeksi human pappiloma virus
menjadi kanker serviks
4. Dapat mengetahui etiologi dari human pappiloma virus yang menyebabkan kanker
serviks
5. Dapat mengetahui patofisiologi dari human pappiloma virus yang menyebabkan
kanker serviks
6. Dapat mengetahui asuhan keperawatan kanker serviks
7. Dapat mengetahui penatalaksanaan kanker serviks
8. Dapat mengetahui terapi farmakologi dan non farmakologi kanker serviks
9. Dapat mengetahui pemeriksaan penunjang kanker serviks

2
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi Ca Colon


Kanker kolon suatu bentuk keganasan dari masa abnormal / neoplasma yang
muncul dari jaringan ephitel dari kolon (Haryono, 2010). Kanker kolorektal ditunjukan
pada tumor ganas yang ditemukan di kolon dan rektum. Kolon dan rectum adalah
bagian dari usus besar pada sistem pencernaan yang disebut traktus
gastrointestinal. Lebih jelasnya kolon berada di bagian proksimal usus besar dan
rektum dibagian distal sekitar 5 - 7 cm diatas anus. Kolon dan rektum merupakan
bagian dari saluran pencernaan atau saluran gastrointestinal di mana fungsinya
adalah untuk menghasilkan energi bagi tubuh dan membuang zat-zat yang tidak
berguna (Penzzoli dkk, 2007).
Kanker kolorektal merupakan suatu tumor malignant yang muncul pada jaringan
ephitelial dari colon/rectum. Umumnya tumor kolorektal adalah adenokarsinoma
yang berkembang dari polip adenoma (Wijaya dan Putri, 2013).

2.2 Etiologi Ca Colon


Adapun beberapa faktor yang menpengaruhi kejadian kanker kolorektal menurut
(Soebachman, 2011) yaitu:
1. Usia
Risiko terkena kanker kolon meningkat dengan bertambahnya usia.
Kebanyakan kasus terjadi pada orang yang berusia 60 - 70 tahun. Jarang
sekali ada penderita kanker kolon yang usianya dibawah 50. Kalaupun ada,
bisa dipastikan dalam sejarah keluarganya ada yang terkena kanker kolon
juga.
2. Polip
Adanya polip pada kolon, khususnya polip jenis adenomatosa. Jika
polip ini langsung dihilangkan pada saat ditemukan, tindakan penghilangan
tersebut akan bisa mengurangi risiko terjadinya kanker kolon di kemudian
hari.
3. Riwayat kanker
Seseorang yang pernah terdiagnosis mengidap kanker kolon ( bahkan
pernah dirawat untuk kanker kolon ) berisiko tinggi terkena kanker kolon lagi
dikemudian hari. Wanita yang pernah mengidap kanker ovarium ( indung

3
telur), kanker uterus, dan kanker payudara juga memiliki risiko yang lebih
besar untuk terkena kanker kolon.
4. Faktor keturunan / genetika
Sejarah adanya kanker kolon dalam keluarga, khususnya pada keluarga
dekat. Orang yang keluarganya punya riwayat penyakit FAP ( Familial
Adenomatous Polyposis ) atau polip adenomatosa familial memiliki risiko
100% untuk terkena kanker kolon sebelum usia 40 tahun bila FPA-nya tidak
diobati. Penyakit lain dalam keluarga adalah HNPCC ( Hereditary Non
Polyposis Colorectal Cancer ), yakni penyakit kanker kolorektal nonpolip yang
menurun dalam keluarga, atau sindrom Lynch.
5. Penyakit kolitis ( radang kolon ) ulseratif yang tidak diobati.
6. Kebiasaan merokok
Perokok memiliki risiko jauh lebih besar untuk terkena kanker kolon
dibandingkan dengan yang bukan perokok.
7. Kebiasan makan
Pernah diteliti bahwa kebiasaan makan banyak daging merah ( dan
sebaliknya sedikit makan buah, sayuran serta ikan ) turut meningkatkan risiko
terjadinya kanker kolon. Mengapa? Sebab daging merah ( sapi dan kambing )
banyak mengandung zat besi. Jika sering mengonsumsi daging merah berarti
akan kelebihan zat besi.
8. Terlalu banyak mengonsumsi makanan yang mengandung pewarna, apalagi
jika pewarnanya adalah pewarna nonmakanan.
9. Terlalu banyak mengonsumsi makanan makanan yang mengandung bahan
pengawet.
10. Keniasaan mengonsumsi minuman beralkohol, khususnya bir. Usus
mengubah alkohol menjadi asetilaldehida yang meningkatkan risiko terkena
kanker kolon.

2.3 Klasifikasi Ca Colon


Menurut Diyono (2013), tingakatan kanker kolorektal dari duke sebagai
berikut :
1. Stadium 1 : terbatas hanya pada mukosa kolon (dinding rektum dan
kolon).
2. Stadium 2 : menembus dinding otot, belum metastase.
3. Stadium 3 : melibatkan kelenjar limfe.
4. Stadium 4 : metastase ke kelenjar limfe yang berjauhan dan ke
organ lain.

4
2.4 Patofisiologi
Kanker kolon dan rektum (95 %) adenokarsinoma (muncul dari lapisan epitel
usus). Dimulai sebagai polip jinak tetapi dapat menjadi ganas dan menyusup serta
merusak jaringan normal serta meluas kedalam struktur sekitarnya. Sel kanker dapat
terlepas dari tumor primer dan menyebar kebagian tubuh yang lain (paling sering ke
hati) Japaries, 2013.
Pertumbuhan kanker menghasilkan efek sekunder, meliputi penyumbatan
lumen usus dengan obstruksi dan ulserasi pada dinding usus serta perdarahan.
Penetrasi kanker dapat menyebabkan perforasi dan abses, serta timbulnya
metastase pada jaringan lain. Prognosis relativ baik bila lesi terbatas pada mukosa
dan submukosa pada saat reseks dilakukan, dan jauh lebih jelek telah terjadi
mestatase ke kelenjr limfe (Japaries, 2013).
Menurut Diyono (2013), tingakatan kanker kolorektal dari duke sebagai berikut:
1. Stadium 1 : terbatas hanya pada mukosa kolon (dinding rektum
dan kolon).
2. Stadium 2 : menembus dinding otot, belum metastase.
3. Stadium 3 : melibatkan kelenjar limfe.
4. Stadium 4 : metastase ke kelenjar limfe yang berjauhan dan ke
organ lain.
Kanker kolorektal merupakan salah satu kanker usus yang dapat tumbuh
secara lokal dan bermetastase luas. Adapun cara penyebaran ini melalui beberapa
cara. Penyebaran secara lokal biasanya masuk kedalam lapisan dinding usus
sampai keserosa dan lemak mesentrik, lalu sel kanker tersebut akanmengenai organ
disekitarnya.
Adapun penyebaran yang lebih luas lagi didalam lumen usus yaitu melalui
limfatik dan sistem sirkulasi. Bila sel tersebut masuk melalui sistem sirkulasi, maka
sel kanker tersebut dapat terus masuk ke organ hati, kemudian metastase ke orgab
paru-paru. Penyebaran lain dapat ke adrenal, ginjal, kuli, tulang, dan otak. Sel kanker
pu dapat menyebar ke daerah peritoneal pada saat akan dilakukan reseksi tumor
(Diyono, 2013).
Hampir semua kanker kolorektal ini berkembang dari polip adenoma jenis
villous, tubular, dan viloutubular. Namun dari ketiga jenis adenoma ini, hanya jenis
villous dan tubular yang diperkirakan akan menjadi premaligna. Jenis tubular
berstruktur seperti bola dan bertangkai, sedangkan jenis villous berstuktur tonjolan
seperti jari-jari tangan dan tidak bertangkai.

5
Kedua jenis ini tumbuh menyerupai bunga kol didalam kolon sehingga massa
tesebut akan menekan dinding mukosa kolon. Penekanan yang terus-menerus ini
akan mengalami lesi-lesi ulserasi yang akhirnya akan menjadi perdarahan kolon.
Selain perdarahan, maka obstruksi pun kadang dapat terjadi. Hanya saja lokasi
tumbuhnya adenoma tersebut sebagai acuan.
Bila adenoma tumbuh di dalam lumen luas (ascendens dan transversum),
maka obstruksi jarang terjadi. Hal ini dikarenakan isi ( feses masih mempunyai
konsentrasi air cukup) masih dapat melewati lumen tersebut dengan mengubah
bentuk (disesuaikan dengan lekukan lumen karena tonjolan massa). Tetapi bila
adenoma tersebut tumbuh dan berkembang di daerah lumen yang sempit
(descendens atau bagian bawah), maka obstruksi akan terjadi karena tidak dapat
melewati lumen yang telah terdesak oleh massa. Namun kejadian obstruksi tersebut
dapat menjadi total atau parsial (Diyono, 2013).
Secara genetik, kanker kolon merupakan penyakit yang kompleks. Perubahan
genetik sering dikaitkan dengan perkembangan dari lesi permalignan (adenoma)
untuk adenokarsinoma invasif. Rangkain peristiwa molekuler dan genetik yang
menyebabkan transformsi dari keganasan polip adenomatosa. Proses awal adalah
mutasi APC (adenomatosa Poliposis Gen) yang pertama kali ditemukan pada
individu dengan keluarga adenomatosa poliposis (FAP= familial adenomatous
polyposis). Protein yang dikodekan oleh APC penting dalam aktivasi pnkogen c-myc
dan siklinD1, yang mendorong pengembangan menjadi fenotipe ganas (Muttaqin,
2013).

6
ASUHAN KEPERAWATAN

2.4 Asuhan Keperawatan Ca Colon


A. PENGKAJIAN
Pada pengkajian akan didapatkan sesuai stadium kanker kolon , keluhan
sangat ditentukan oleh lokasi kanker , tahap penyakit sekarang dan fungsi
segmen usus tempat kanker kolon berlokasi.

 Pengkajian riwayat penyakit sekarang: perubahan kebiasaan defekasi


dan pasase darah dalam feses , gelaja dapat juga mencakup anemia
yang tidak diketahui penyebabnya , anoreksia , penurunan berat
badan dan keletihan.
 Pengkajian riwayat penyakit penting untuk diketahui adanya riwayat
infeksi pada kolon , kanker payudara, rahim atau ovarium .
 Pengkajian riwayat keluarga, terutama pada generasi terdahulu yang
memiliki riwayat kanker .
 Pengkajian kebiasaan yang mendukung peningkatan resiko , seperti
merokok , komsumsi makanan rendah serat atau tinggi lemak dan
protein . perawat juga mengkaji selama ada riwayat penyakit tersebut
apakah disertai adanya penurunan berat badan,\
 Pemeriksaan fisik yang didapatkansesuai dengan manifestasi klinik .
Pada survei umum terlihat lemah , TTV biasanya normal tetapi dapat
berubah sesuai dengan kondisi klinik , pada pemeriksaan fisik fokus
pada area abdomen dan rektum akan didapatkan :
a. Inspeksi : tanda khas didapatkan adanya distensi abdominal ,
pemeriksaan rektum feses akan didapatkan adanya
perubahan bentuk dan warna feses . sering didapatkan
bentuk feses dengan kaliber kecil seperti pita . gejala yang
sering muncul dihubungkan dengan lesi sebelah kanan
adanya nyeri dangkal abdomen dan melena ( feses hitam
seperti ter ) . gejala yang sering dihubungkan dengan lesi
sebelah kiri adalah yang berhubungan dengan obstruksi ( nyeri
abdomen dan kram , penipisan feses , konstipasi , dan distensi
), serta adanya darah merah segar dalam feses.
b. Auskultasi : biasanya normal

7
c. Perkusi : timpani akibat abdominal mengalami
kembung
d. Palpasi : nyeri tekan abdomen pada area lesi .
 Pengkajian dianostik yang dapat membantu adalah dengan
pemeriksaan abdomen dan rektal . Prosedur pemeriksaan diagnostik
paling penting untuk kanker kolonadalah pengujian darah samar ,
enema barium ,proktosigmoidoskopi dan kolonoskopi . sebannyak
60% dari kasus kanker kolorektal dapat diidentifikasidengan
sigmoidoskopi dengan biopsi atau asupan sitologi

B. DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Pemeriksaan informasi b/d adanya intervensi kemoterapi, radioterapi
,rencana pembedahan dam rencanan perawatan rumah
2. Resiko tinggi injuri b/d anemia , pascaprosedur bedah kolektomi.
3. Nyeri b/d kerusakan integritas jaringan , respons pembedahan
4. Gangguan konsep diri ( gambaran diri ) b/d kolostomi permanen
5. Intoleransi aktivitas b/d cepat lelah , kelemahan fisik umum sekunder dari
anemia
6. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b/d intake
makanan yang kurang adekuat
7. Resiko tinggi infeksi b/d adanya port de entree luka pascabedah
8. Kecemasan pasien dan keluarga b/d prognosis penyakit, rencana
pembedahan.

C. INTERVENSI
DX 1: Pemeriksaan informasi b/d adanya intervensi kemoterapi, radioterapi ,
rencana pembedahan, dan rencanan perawatan rumah.
Tujuan : dalam waktu 1 x 24 jam informasi kesehatan terpenuhi .
Kriteria hasil :
- Pasien mampu menjelaskan kembali pendidikan kesehatan yang
diberikan
- Pasien termotivasi untuk melaksanakan penjelasan yang telah
diberikan

8
No Intervensi Rasional
1 Kaji tingkat pengetahuan Tingkat pengetahuan dipengaruhi oleh
pasien tentang prosedur kondisi sosial ekonomi pasien , perawat
diagnostik ,pembedahan menggunakan pendekatan yang sesuai
kolostomi sementara dan dengan kondisi individu pasien . dengan
rencana perawatan rumah mengetahui tingkat pengetahuan
tersebut . perawat dapat lebih terarah
dalam memberikan pendidikan yang
sesuai dengan pasien secara efesien
dan efektif
2 Cari sumber yang Keluarga terdekat dengan pasien perlu
meningkatkan penerimaan dilibatkan dalam pemenuhan informasi
informasi untuk menurunkan resiko misinterpretasi
terhadap informasi yang diberikan
3 Jelaskan tentang terapi Pasien perlu mengetahui bahwa
dengan kemoterapi kemoterapi diberikan sebagai pelengkap
terapi bedah dan terapi radiasi
4 Jelaskan tentang terapi radiasi Pengetahuan tentang karsinoma kolon
walaupun tidak bersifat radiosensitif dan
pada kebanyaan pasien , radiasi
eksternal memberikan efek penyusutan
tumor sehingga akan menambah
semangat pasien untuk melakukan terapi
5 Jelaskan dan lakukan
pemenuhan atau persiapan
pembedahan , meliputi :
- Diskusikan jadwal Pasien dan keluarga haru diberi tahu
pembedahan waktu dimulainya pembedahan , apabila
rumah sakit mempunyai jadwal kamar
operasi yang padat , lebih baik pasien
dan keluarga diberitahukan tentang
banyaknya jadwal operasi yang telah
ditetapkan sebelum pasien

- Persiapan administrasi Pasien sudah menyelesaikan

9
dan informed consent administrasi dan mengetahui secara
finansial biaya pembedahan. Pasien
sudah mendapat penjelasan tentang
pembedahan kolektomi atau kolostomi
oleh tim bedah dan menandatangai
informed consent
- Konfirmasi kepada
pasien tentang Perawat menginformasikan penjelasan
penjelasan yang telah ahli bedah tentang akan dilakukannya
dijelaskan oleh ahli kolostomi , hal ini penting dilakukan
bedah karna pada beberapa pasien bisa terkejut
pascabedah terdapat anus buatan pada
dinding perut yang memberikan
manisfestasi sedih pada pasien
6 - Lakukan pendidikan Manfaat dari intruksi preoperatif telah
kesehatan praoperatif dikenal sejak lama , setiap pasien
diajarkan sebagi seorang individu ,
dengan mempertimbangkan segala
keunikan ansietas , kebutuhan dan
harapan harapannya .

- Programkan intruksi yang Jika sesi penyuluhan dilakukan beberapa


didasarkan pada hari sebelum pembendahan , pasien
kebutuhan individu mungkin tidak ingat tentang apa yang
direncanakan dan telah dikatakan , jika intruksi diberikan
diimplementasikan pada terlalu dekat dengan waktu pembedahan
waktu yang tepat , pasien mungkin tidak dapat
berkonsentrasi atau belajar karena
ansietas atau efek dari medikasi
praanestasi
7 Beritahu persiapan
pembedahan meliputi :
- Persiapan intestinal Pada persiapan untuk pembedahan ,
penting untuk menghindari pengiritasi
kolon , biasanasensitif dan rentang
terhadap perforasi . pagi hari sebelum

10
pembedahan lakukan pemberian laktasif
salin ringan dan pemberian dengan hati-
hato enema pembersih mungkin cukup
diberikan pada pasien.

- Persiapan puasa Puasa dilakukan minimal 6-8 jam


sebelum dilakukan pembedahan

- Persiapan kulit Tujuan dari persiapan kulit preoperatif


adalah untuk mengurangi sumber bakteri
tanpa mencederai kulit
8 Pencukuran daerah operasi Pencukuran area operasi dilakukan
apabila protokol lembaga atau ahli bedah
mengharuskan kulit untuk dicukur ,pasien
diberitahukan tentang prosedur
mencukur . dibaringkan dalam posisi
nyaman , dan tidak memajan bagian
yang tidak perlu .
9 Beritahu persiapan Istirahat merupakan hal yang penting
pembedahan , meliputi : untuk menyembuhkan normal
Persiapan istirahat dan tidur .kecemasan tentang pembedahan dapat
dengan mudah menunggu kemampuan
untuk istirahat atau tidur

10 Ajarkan aktifitas pada Salah satu tujuan dari askep preoperatif


postoperasi meliputi : adalah untuk mengajarkan pasien caraa
- Latihan nafas diafragma untuk mningkatkan ventilasi paru dan
oksigenisasi darah setelah anestasi
umum.hal ini dicapai dengan
memperagakan pada pasien bagaimana
melakukan nafas dalam , nafas lambat
dan bagaimana menghembuskan napas
dengan lambat . pasien diletakkan dalam
posisi duduk untuk memberikan ekspansi
paru yang maksimal
11 Ajarkaan akttifitas pada

11
postoperasi Tujuan peningkatan pergerakan tubuh
- Latihan tungkai secara hati-hati pada pascaoperatif
adalah untuk memperbaiki sirkulasi ,
untuk mencegah stasis vena , dan untuk
menunjang fungsi pernapasan yang
optimal.
Pasien ditunjukkan bagaimana cara
berbalik dari satu sisi khe sisi lainnya dan
cara untuk mengambil posisi lateral
.posisi ini akan digunakan pada
pascaoperatif dan dipertahankan setiap 2
jam
12 Beritahu pasien dan keluarga Pasien akan mendapat manfaat bila
kapan pasien sudah bisa mengetahui kapan keluarga mendapat
dikunjungi manfaat bila mengetahui kapan keluarga
dan temannya dapat berkunjung setelah
pembedahan
13 Beri informasi tentang Manajemen nyeri dilakukan untuk
manajemen nyeri keperawatan meningkatkan kontrol nyeri pada pasien
14 Berikan informasi pada pasien Keterlibatan keluarga dan pasien dalam
dan keluarga akan menjalani melakukann perawatan rumah
perawatan rumah , meliputi : pascabedah dapat menurunkan resiko
komplikasi dan dapat meningkatkan
kemandirian dalam melakukan masalah
yang sedang dihadapi.

- Ajarkan cara merawat Pasien dianjurkan melindungi kulit


stoma peristoma dengan mencuci area tersebut
menggunakan sabun ringan .
memberikan barier kulit proefektid
disekitar stoma , dan mengamankannya
dengan melekatkan kantung drainase .
bedak nistatin dapat ditebarkan
sedikitpada kulit peristoma bila terdapat
iritasi atau pertumbuhan jamur . kulit
dibersihkan dengan perlahan

12
menggunakan sabun ringan dan waslap
lembap serta lembut
Sabun bertindak sebagai agen abrasif
ringan untuk mengangkat residu enzim
dari tetesan fekal . selama kulit
dibersihkan . kasa dapat digunakan
untuk menutupi stoma atau tampon
vagina dapat dimasukkan dengan
perlahan untuk mengabsorpsi kelebihan
drainase
- Ajarkan cara membuat
kantung dan memasang Stoma diukur untuk menentukan ukuran
kantung drainase kantung yang tepat ,pada kondisi klinik
banyak bungkus es panjang yang dapat
digunakan sebagai kantung stoma .
untuk membuat bundaran atau cincin
penahan perawat bisa mengidentifikasi
bekas selang infus , sedangkan untuk
mengikat atau menfiksasi kantung bisa
memodifikasi kasa gulung
Lubang Kantung harus sekitar 0.3 cm
lebih besar dari stoma kulit harus
dibersihkan sesuai prosedur diatas .
bundaran peristoma dipasang , iritasi
kulit ringan memerlukan taburan bedak
sebelum kantung diletakkan
15 Ajarkan cara mengirigasi Stoma pada abdomen tidak mempunyai
kolostomi otot kontrol volunter sehingga
pengosongannya dapat terjadi pada
interval waktu yang tidak teratur .
pengaturan pasase materi fekal dicapai
dengan irigasi kolostomi atau
membiarkan usus mengevakuasi secara
alami tanpa irigasi.
Perawat memperagakanpada awal
pertama dilakukan irigasi biarkan pasien

13
dan keluarga memperhatikan dan
bertanya
16 - Anjurkan mengonsumsi Diet tinggi serat dapat meningkatkan
diet serat tinggi pasase feses sehingga konsistensi feses
lembek padat berbentuk dan mudah
serta tidak menstimulasi apabila
melewati lumen intestinal pascabedah

- Anjurkan untuk Makanan yang menyebabkan bau dan


menghindari makanan gas berlebihan dihindari , makanan ini
yang bisa meningkatkan termasukkol , telur , ikan , kacang polong
bau feses dan produk selulosa seperti kacang
tanah
- Anjurkan untuk intervensi
pencegahan Hal-hal yang dapat dilakukan untuk
menurunkan resiko meliputi :
- Berhenti merokok , merokok
telah jelas dikaitkan dengan
resiko tinggi kanker usus
- Minum aspirin setiap hari , tetapi
karena terhadap potensi efek
samping , hal ini tidak dianjurkan
untuk semua orang bicaralah
dengan dokter terlebih dahulu
- Terlibat dalam aktifitas fisik
setiap hari
- Makanlah berbagai jenis buah
dan sayuran setiap hari
- Anjurkan untuk -
semampunya melakukan Beberapa agen nyeri farmakologik
manajemen nyeri biasanya memberikan reaksi negatif
nonfarmakologi pada saat pada gastrointeritis
nyeri muncul
17 Anjurkan kunjungan berkala Kunjungan tindak lanjut harus minimal
pascabedah mencakup hal sebagai berikut :
- Colonscopy dala waktu 3 bulan

14
sekali
- Colonscopy 1 tahun pembedahan
dan setiap 3 tahun setelah itu
- Tes untuk okultisme darah dalam
feses setiap tahun diikuti oleh
kolonscopi jika hasil tes positif
- Pengukuran tingkat
carcinoembryonic antigen (CEA)
untuk menguji kambuhnya kanker
setelah operasi
18 Anjurkan untuk masuk Hidup dengan kondisi kanker
kelompok pendukung dan memberikan banyak tantangan baru .
konseling baik untuk pasien dan keluarga . pasien
mungkin mempunyai banyak
kekhawatarin tentang bagaimana kanker
akan berpengaruh anda dan kemampuan
anda untuk normal hidup , yaitu untuk
merawat keluarga dan rumah anda ,
untuk menyimpan pekerjaan anda , dan
untuk melanjutkan persahabatan dan
aktivitas yang anda nikmati . banyak
orang merasa cemas dan depresi .
beberapa orang merasa marah dan kesal
.orang lain merasa tak berdaya dan kalah
Banyak orang dengan kanker sangan
dibantudengan berbicara kepada orang
lain yang menderita kanker , berbagi
keprhatinan dengan orang lain yang telah
mengalami hal yang sama dapat sangat
menenangkan
19 Diskusikan pola fungsi seksual Pasien dengan pasangannya ddilakukan
dalam membina pola seksual pasca
kolostomi.
Beberapa pasien mungkin mengajukan
pertanyaan tentang aktifitas sexsualnya
secara langsung atau memberi petunjuk

15
tak langsung mengenaii rasa takut
mereka .
Beberapa individu dapat memandang
pembedahan sebagai perusakan dan
suatu ancaman terhadap sesksualitas
mereka beberapa mereka takut impoten ,
sementara itu , yang lain
mengekspreisikan kekhawatiran
terhadap bau dan adanya kebocoran dari
kantung selamaaktivitas sexsual .
anjurkan posisi sesksual alternatif , serta
metode stimulasi alternatif untuk
memuaskan keinginan seksual
20 Berikan motivasi dan Intervensi untuk meningkatkan keinginan
dukungan moral pasien dalam pelaksananan prosedur
pengembalian fungsi pascabedah
kolostomi

DX 2: Resiko nyeri b/d pasca prosedur reseksi kolon.


Tujuan : Dalam waktu 2 x 4 jam pascaintervensi reseksi kolon ,pasien tidak
mengalami injury
Kriteria Hasil :
- TTV dalam batas normal
- Kondisi kepatenan selang dada optimal
- Tidak terjadi infeksi pada insisi
No INTERVENSI RASIONAL
1 Kaji faktor-faktor yang Pascabedah pasien sksn terdapat
meningkatkan resiko injuri drain pada tubuh pasien ,
keterampilan keperawatan kritis
diperlukan agar pengkajian vital dapat
sistematis dilakukan
2 Monitor adanya komplikasi Perawat memonitor adanya
pascabedah komplikasi pascabedah seperti
kebocoran dari sisi anastomosis
,prolaps stoma , perforasi , retraksi
stoma , impaksi fekal dan iritasi kulit ,

16
serta komplikasi paru yang
dihubungkan dengan bedah abdomen
. abdomen dipantau terhadap tanda
kembalinya peristaltik dan kaji
karakteristik feses
3 Bantu ambulasi diri Pasien yang menjalani kolostomi
dibantu turun dari tempat tidur pada
hari pertama pascaoperatif dan
didorong untuk mulai berpartispasi
dalam menghadapi kolostomi
4 Beri perhatian khusus pada Pasien lansia dapat mengalami
pasien usia lanjut penurunan penglihatan sampai
beberapa derajat dan kerusakan
pendengaran , serta kesulitan
melakuakan keterampilan yang
memerlukan koordinasi motorik halus
. oleh karenanya , membantu pasien
memegang alat ostomi pada periode
preoperatif dan simulasi pembersihan
kulit pariostomal , serta irigasi stoma
akan membantu pasien .
Jatuh akibat ketidaksengajaan sering
terjadi pada lansia . oleh karena itu ,
penting untuk memastikan apakah
pasien dapat berjalan tanpa bantuan
ke kamar mandi
5 Pertahankan status homodinamik Pasien akan mendapat cairan
yang optimal intravena sebagai pemeliharaan
status hemodinamik
6 Monitor kondisi selang nasogastrik Secara umum pasien pasca-
esofagektomi akan terpasang selang
nasogastrik . perawat berusaha untuk
tidak mengubah posisi . menggangkat
, memanipulasi , atau mengirigasi
selang kecuali memang diperlukan
untuk terapi

17
7 Kolaborasi untuk pemberian Antibiotik menurunkan resiko infeksi
antibiotik pascabedah yang akan menimbulkan reaksi
inflamasi lokal dan dapat
memperlama proses penyembuhan
pasca-funduplikasi lambung

DX 3: Nyeri b/d intestinal , respon pembedahan


Tujuan : dalam waktu 2 x 24 jam pasca bedah nyeri berkurang atau
berpartisipasi
Kriteria Hasil :
- Secara subjektif pernyataan nyeri berkurang atau beradaptasi
- Skala nyeri 0-1 ( 0-4 )
- TTV dalam batas normal ,wajah pasien rileks
No INTERVENSI RASIONAL
1 Jelaskan dan bantu pasien Pendekatan dengan menggunakan
dengan tindakan pereda nyeri relaksasi dan nonfarmakologi lainnya
nonfarmakologi dan noninvasif telah menunjukkan keefektifan dalam
mengurangi nyeri
2 Lakukan manajemen nyeri
keperawatan , meliputi :
- Kaji nyeri dengan Pendekatan PQRST dapat secara
pendekatan PQRST komprehensif menggali kondisi nyeri
pasien , apabila pasien mengalami
skala nyeri 3 ( 0-4) , keadaan ini
merupakan yang perlu perawat
waspadai karena memberikan
manifestasiklinik yang bervariasi dari
- Beri oksigen nasal apabila komplikasi pascabedah reseksi kolon
skala nyeri ≥ 3 ( 0-4)
Pemberian oksigen dilakukan untuk
memenuhi kebutuhan oksigen pada
saat pasien mengalami nyeri
- Istirahatkan pasien pada pascabedah yang dapat mengganggu
saat nyeri muncul kondisi hemodinamik

Istirahatkan secara fisiologis akan

18
- Atur posisi fisiologis menurunkan kebutuhan oksigen yang
diperlukan untuk memenuhi
kebutuhan metabolisme basal

Pengaturan posisi semiflower dapat


- Ajarkan teknik relaksasi membantu merelaksasi oto-otot
pernafasan dalam pada abdomen pascabedah sehingga dapat
saat nyeri muncul menurunkan stimulas nyeri dari luka
pascabedah
- Ajarkan teknik distraksi
pada saat nyeri Meningkatkan intake oksigen
sehingga akan menurunkan nyeri
- Lakukan manajemen sekunder dari penurunan oksigen
sentuhan lokal

Distraksi dspst menurunkan stimulus


internal

Manajemen sentuhan pada saat nyeri


berupa sentuhan dukungan psikologis
dapat membantu menurunkan nyeri
3 Tingkatkan pengetahuan tentang :
sebab-sebab nyeri dan
menghubungkan berapa lama
nyeri akan berlangsung
4 Kolaborasi dengan tim medis
untuk pemberian :
- Analgetik melalu intravena Analgetik diberikan untuk membantu
menghambat stimulus nyeri ke pusat
persepsi nyeri dikonteks serebri
sehingga nyeri berkurang

DX 4: Resiko tinggi kurang nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b/d intake
makanan yang kurang adekuat

19
Tujuan : setelah 3 x 24 jam pada pasien nonbedah dan setelah 7 x 24 jam
pascabedah , intake nutrisi dapat optimal dilaksanakan
Kriteria Hasil :
- Pasien dapat menunjukkan metode menelan makanan yang tepat
- Terjadi penurunan gejala refluks esofagus , meliputi : odinofagia berkurang ,
pirosis berkurang , RR dalam batas normal 12-20 x /menit
- Berat badan pada hari ke 7 pascabedah meningkat 0,5 kg
No INTERVENSI RASIONAL
1 Intervensi nonbedah
- Anjurkan pasien makan dengan perlahan dan Makanan dapat
mengunyah makanan dengan seksama lewat dengan
mudah kelambung
- Sajikan makanan dengan cara yang menarik
Mebanntu
merangsang nafsu
- Fasilitasi pasien memperoleh diet biasa dengan makan
kandungan serat tinggi
Kandungan serat
tinggi dapat
membentuk
massa feses yang
optimal dan
menurunkan
kondisi
- Pantau intake dan output anjurkan untuk diverkulosis
timbang berat badan secara periodik menjadi
divertikulitis ,
komponen buah-
buahan dan
sayuran dapat
meningkatkan
asupan serat
tinggi

Berguna dalam
mengukur

20
keefektifan nutrisi
dan dukungan
cairan
2 Intervensi dengan pembedahan
- Berikan diet prabedah Diet tinggi kalori ,
rendah residu
biasanya diberikan
beberapa hari
sebelum
pembedahan , bila
waktu dan kondisi
pasien
memungkinkan
Apabila tidak
terdapat situasi
- Kaji kondisi dan toleransi gastrointestinal pasca kegawatdaruratan
reseksi kolon , tindakan
praoperatif
dilakukan serupa
dengan
pembedahan
abdomen
umumnya

Parameter penting
adalah dengan
- Lakukan perawatan mulut melakukan
auskultasi bising
usus . apabila
didapatkan bising
usus artinya fungsi
gastrointestinal
sudah pulih
pasca-anastesi
umum
Kembalinya diet

21
ke pola normal
- Lakukan kolaborasi dengan ahli gizi jenis nutrisi berlangsung
yang akan digunakan pasien sangat cepat
sedikitnya 2 liter
cairan/hari
dianjurkan

Intervensi ini untuk


menurunkanresiko
infeksi oral

Ahli gizi harus


terlibat dalam
penentuan
komposisi dan
jenis makanan
yang akan
diberikan sesuai
dengan kebutuhan
individu

DX 5: Resiko tinggi infeksi b/d adanya port de entree dari luka pembedahan
Tujuan : dalam waktu 12 x 24 jam tidak terjadi infeksi , terjadi perbaikan pada
integritas jaringan lunak
Kriteria Hasil :
- Jahitan dilepas pada hari khe 12 tanpa adanya tanda-tanda infeksi
dan peradangan pada area luka pembedahan
- Leukosit dalam batas normal
- TTV dalam batas normal

No INTERVENSI RASIONAL
1 Kaji jenis pembedahan dan Mengidentifikasi kemajuan atau
apakah adanya order khusus dari penyimpangan dari tujuan yang diharapkan
tim dokter bedah dalam
melakukan perawatan luka
2 Buat kondisi balutan dalam Kondisi bersih dan kering akan menghindari

22
keadaan bersih dan kering kontaminasi komensal dan akan
menyebabkan respons inflamasi lokal , serta
akan memperlama penyembuhan
3 Lakukan perawatan luka
- Lakukan perawatan luka Perawatan luka sebaiknya tidak setiap hari
steril pada hari kedua untuk menurukan kontak tindakan dengan
pasca bedah dan diulang luka yang kondisi steril sehingga mencegah
setiap 2 hari sekali pada kontaminasi kuman keluka bedah
luka abdomen
- Lakukan perawatan luka Drain pascabedah merupakan material yang
pada sekitar drain menjadi jalan masuk kuman . perawat
melakukan perawatan luka setiap hari atau
disesuaikan dengan kondiai pembalut drain ,
apabila kotor maka harus diganti

- Bersihkan luka dan Pembersihan debris dan kuman sekitar luka


drainase dengan cairan dengan mengoptimalkan kelebihan dari
antiseptik jenis iodine iodine providum sebagai antiseptik dan
providum dengan cara dengan arah dari dalam keluar sehinga
dengan cara swobbing dari dapat mencegah kontaminasi kuman
arah dalam keluar kejaringan luka
4 Bersihkan bekas sisa iodine Antiseptik iodine providum mempunyai
providium dengan alkohol 70 % kelemahan dalam menurunkan proses
atau normal salin dengan cara epilesasi jaringan sehingga memperlambat
swobbing dari arah dalam keluar pertumbuhan luka , maka harus dibersihkan
dengan alkohol atau normal salin
5 Tutup luka dengan kain kasa steril Penutupan secara menyeluruh dapat
dan tutup dengan plester adhesif menghindari kontaminasi dari benda atau
yang menyeluruh menutupi kasa udara yang bersentuhan dengan luka bedah
6 Angkat drainase pascabedah Pelepasan sesuai indikasi bertujuan untuk
sesuai pesanan medis menurunkan resiko infeksi
7 Kolaborasi penggunaan antibiotik Antibiotik injeksi diberikan selamatiga hari
pascabedah yangkemudian dilanjutkan
antibiotik oral sampai jahitan dilepas.
Peran perawat mengkaji adanya reaksi dan
riwayat alergi antibiotik , serta memberikan

23
antibiotik sesuai pesanan dokter

DX 6: Kecemasan b/d prognosis penyakit , misinterpretasi informasi


Tujuan : dalam waktu 1 x 24 jam pasien secara subjektif melaporkan rasa cemas
berkurang
Kriteria Hasil :
- Pasien mampu mengungkapkan perasaannya kepada perawat
- Pasien dapat mendemontrasikan keterampilan pemecahan masalaahnya dan
perubahan koping yang digunakan sesuai situasi yang dihadapi
- Pasien dapat mencatat penurunan kecemasan/ketakutan dibawah sadar
- Pasien dapat rileks dan tidur/istirahat dengan baik
No INTERVENSI RASIONAL
1 Monitor respons fisik , seperto Digunakan dalam mengevaluasi derajat/tingkat
kelemahan , perubahan tanda- kesadaran/konsentrasi , khususnya ketika
tanda vital , gerakan yang melakukan kominkasi verbal .pada kondisi
berulang-ulang serta catat klinik , pasien biasanya merasa sedih sedih
kesesuaian verbal dan nonverbal akibat diagnosis penyakit dan rencana
selama komunikasi pembedahan .
2 Anjurkan pasien dan keluarga Memberikan kesempatan untuk berkonsentrasi
untuk mengungkapkan dan , kejelasa dari rasa takut dan mengurangi
mengekspresikan rasa takutkan cemas yang berlebihan
3 Berikan dukungan prabedah Hubungan emosional yang baik antar perawat
dan pasien akan memperngaruhi penerimaan
pasien dengan pembedahan , aktif mendengar
semua khekawatiran dan keprihatinan pasien
adalah bagian penting dari evaluasi praoperatif
.
Keterbukaan mengenai tindakan bedah yang
akan dilakukan ,pilihan anastesi , daj
perubahan atau kejadian pascaoperatif yang
diharapkan akan menghilangkan banyak
ketakutan tak berdasar terhadap anastesi
4 Bantu pasien meningkatkan citra Perubahan yang terjadi pada citra tubuh dan
tubuh dan beri kesempatan pasien gaya hidup sering sangat mengganggu , oleh
mengungkapkan perasaannya karena itu pasien memerlukan dukungan
empatis dalam mencoba menyesuaikannya,

24
oleh karena stoma ditempatkan pada
abdomen , pasien dapat berfikir bahwa setiap
orang akan melihat ostomi. Perawat dapat
membantu mengurangi ketakutan ini dengan
memberikan informasi aktual tentang prosedur
pembedahan dam pembentukan , serta
penatalaksanaan ostomi.
5 Hadirkan pasien yang pernah Berdiskusi dengan individu yang berhasi
dilakukan kolostomi menghadapi kolostomi sering membantu
menurunkan kecemasan pasien prabedah
6 Berikan privasi untuk pasien dan Memberi waktu untuk mengekspresikan
orang terdekat perasaan menghilangkan cemas dan prolaku
adaptasi , adanya keluarga dan teman-teman
yang dipilih pasien melayani aktivitas dan
pengalihan akan menurunkanperasaan
terisolasi
7 Kolaaborasi : Meningkatkan relaksasi dan menurunkan
Beriksn anticemas sesuai kecemasan
kondisinya , contohnya diazepam

25
BAB III
STUDI KASUS

3.1 Kesimpulan
Human papillomavirus (HPV) adalah virus yang paling sering dijumpai pada
penyakit menular seksual dan diduga berperan dalam proses terjadinya kanker,
kanker serviks menduduki peringkat pertama kematian pada wanita akibat penyakit
keganasan ini. Gejala klinis yang timbul akibat kanker serviks antara lain:
pendarahan pada vagina, keputihan, lesi pada daerah genetalia, diagnosa dapat di
tegakkan dan didukung oleh anamnesis dan pemeriksaan fisik yang menunjang,
contohnya seperti: metode skrining seperti VIA (visual inspection with dilute solution
of acetic acid) dan Pap Smear (papanicolaou smear) dapat dilakukan untuk

26
mendeteksi kelainan sitologi pada sel epitel skuamosa. Tindakan kolposkopi dan
biopsi dilakukan jika hasil skrining menunjukkan kecurigaan ke arah keganasan.

3.2 Saran
Demikian makalah yang kelompok kami buat, semoga dapat bermanfaat bagi
pembaca. Apabila ada saran dan kritik yang ingin di sampaikan, silahkan
sampaikan kepada kami. Dan apabila ada terdapat kesalahan kata mohon dapat
mema'afkan dan memakluminya, karena kami adalah hamba Allah yang tak
luput dari salah khilaf, Alfa dan lupa.

27
DAFTAR PUSTAKA

Dini, D., Penat, D. A. N., Kolon, K., Rektum, D. A. N., & Zohori, A. (1986). ini terjadi.
Ii, B. A. B. (2002). BAB I, 1–42.
Kedokteran, J., Kesehatan, D. A. N., Violita, F., Hubungan, I. De, Sinar, P., Dengan, M., …
Matatula, F. (2014). RESOURCE-LIMITED UNDERGRADUATE MEDICAL
KARAKTERISTIK KANKER KOLOREKTAL Wahyuni Syukuriah Tatuhey , Helfi
Nikijuluw , Josepina Mainase Program Studi Pendidikan Dokter Fakultas Kedokteran
Universitas Pattimura, 4(Mm).
Namun, S., & Usus, K. (2010). Kanker Usus – Memahami Kanker pada usus, 1–5.
Setiawati, D. (2014). Human Papilloma Virus Dan Kanker Serviks, 450–459.
Tjhay, F. (2011). RISIKO INFEKSI HUMAN PAPILLOMA VIRUS ( HPV ), 10(1), 24–30.
World Health Organization (WHO). 2013. Bulletin of The World Health Organization 2012;
90: 478-478A.
Wulandari, A.S. 2010. Pengertian Dan Pemahaman Resiko Ca Cervix Pada Wanita
Usia Subur Di Indonesia. Universitas Wijaya Kusuma. Surabaya.
Yayasan Kanker Indonesia (YKI). 2011. www.yayasan kanker indonesia.com.
Yayasan Peduli Kanker Serviks Indonesia (YPKSI).2011. www.yayasan peduli kanker
serviks indonesia.

Diyono. (2013). Keperawatan Medikal Bedah Sistem Pencernaan. Jakarta : EGC

Haryono, R. (2012). Keperawtan Medikal Bedah Sisrem Pencernaan. Yogyakarta: Gosyen


Publishing.

Japaries, Willie (2012). Buku Ajar Onkologi Klinis Edisi 2. Jakarta : EGC
Mutaqqin, Arif (2013). Aplikasi Asuhan Keperawatan Medikal Bedah Gangguan
Gastrointestinal. Jakarta : Salemba Medika

Soebachman, Agustina (2011). Awas 7 Kanker paling Mematikan. Yogyakarta : Syura Media
Utama.

28